Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Sunday, 25 March 2018

Mengapa Guru Harus Menulis...???


§  Prolog: Awal Mula Menulis


Menulis itu mudah tapi susah. Dibilang mudah tapi terkadang susah untuk mengawalinya. Tapi kalau sudah berani mengawali kata pertama yang ditulis, maka akan terasa mudahnya. Akan tetapi dibilang susah juga sebenarnya itu salah karena dikatakan susah karena tidak mau mengawali dan mencoba untuk menulis kata pertama. Karena kata-kata pertama yang kita tulis sebenarnya itulah yang menjadi pemicu dan inisiator yang akan meningkatkan langkah kita untuk meneruskan kata-kata selanjutnya. Mungkin menulis sama halnya dengan sebuah presentasi. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan dan suksesnya presentasi berada di 5-7 detik pertama. Sama halnya dengan menulis yang terletak juga di kata pertama yang ditulis. Kata-kata pertama itulah kunci utama yang akan membuka, menerobos dan menembus rangkaian kata-kata, kalimat, hingga paragraf selanjutnya.

Tapi bagaimana mau mulai menulis, kalau sama sekali tidak punya ide untuk memunculkan kata-kata pertama itu, sudah bingung, dicampur lagi dengan adanya kebuntuan berpikir di jalan yang buntu. Selain itu, terkadang juga muncul rasa bingung tidak bisa membuat kata-kata yang indah, putus asa di tengah jalan lantaran pikirannya mentok, gagasannya kurang bermutu, tidak mampu mencairkan suasana yang enak dibaca dan tidak percaya diri dengan apa yang dituliskannya. Itulah sekelumit permasalahan yang terjadi dan dirasakan oleh penulis pemula. Hal ini juga seperti yang aku rasakan juga tatkala mau memulai untuk menulis dan menjadi penulis pemula.

Pada awal sebelum aku menyukai dunia tulis menulis, aku hanya bisa bermimpi dan menganggap menulis itu sesuatu yang sebenarnya mudah tapi juga susah. Padahal sudah ada ide-ide yang bagus dan cemerlang menurutku tapi aku bingung dari mana aku memulai menulisnya. Akhirnya aku hanya bisa bermimpi dan bermimpi ingin menulis tapi tak pernah terlaksana. Aku bermimpi tulisanku dimuat di suatu majalah tertentu atau memenangkan suatu ajang perlombaan hasil karya menulisku. Ternyata waktu itu aku hanya bisa bermimpi tanpa ada aksi. Tanpa mau mencoba dan berusaha untuk memulai menulis apa yang sebenarnya sudah ada dalam benakku waktu itu.

Ditambah lagi kesibukan aktivitasku yang tak kunjung henti (kuliah, praktikum dan kegiatan organisasi) telah menidurkanku dari mimpi-mimpi untuk menulis itu. Sejak pertama kali aku menjadi mahasiswa, aku memimpikan akan menjadi seorang penulis terutama menulis sebuah karya tulis ilmiah dan menjadi juara dalam ajang tersebut. Itulah impianku sejak pertama kali menjadi mahasiswa dan sebenarnya juga sudah sejak dari SMA tapi belum pernah terlaksana sama sekali. Hingga aku sudah duduk di semester 4 pun belum terealisasikan sama sekali. “Bagaimana Aku bisa menulis kalau tidak mau mencobanya sama sekali?” Itulah pertanyaan besar yang aku lontarkan ke diriku sendiri.


§  Kekuatan Menulis Dan Sejarah Orang-Orang Besar Karena Menulis

          “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer, Novelis Indonesia)

Ungkapan pepatah fenomenal dari Pramoedya Ananta Toer tersebut tentu sudah sangat sering kita dengar. Jika kita cermati maknanya memang ada benarnya juga. Kata-katanya tentu membuat kita tersentak dan tersengat untuk melakukan aktivitas yang bernama “menulis”. Pastinya kata-kata tersebut bukan asal kata, tapi memang sudah mewakili perasaan dari pembuatan ungkapan tersebut. Mungkin tidak hanya beliau yang merasakan betapa dahsyatnya manfaat dari menulis. Manfaat yang dirasakan tidak hanya bagi penulis semata tapi juga pembaca seantero jagat raya yang membaca tulisan tersebut pasti akan merasakan buah hasil dari apa yang kita baca tersebut.

Kenapa sih kita harus menulis? Mengapa orang-orang besar yang terkenal juga rata-rata melahirkan karya terbaiknya. Tentunya masing-masing punya “strong reason” tersendiri. Kenapa mereka menulis? Apa yang menyebabkan Ahmad Fuadi terkenal dengan karya Man Jadda wajada dalam bukunya “Negeri 5 Menara”?  Kenal  dengan Inspirator Sukses Mulia? Penulis buku berjudul “ON”, “Kubik Leadership” dan buku-buku best seller lainnya. Iya, betul Pak Jamil Azzaeni namanya. Beliau adalah motivator, trainer, sekligus penulis buku juga. Tahukah kalian dengan Novelis No. 1 Indonesia? Beliau sudah menerbitkan puluhan novel Bestseller dan sudah difilmkan juga, salah satunya “Ketika Cinta Bertasbih”. Betul, Kang Abik atau nama lengkapnya Habiburrahman El-Shirazy. 

Siapakah  tokoh  ustadz yang terkenal dengan Spiritual Entrepreneur dengan konsep sedekah? Betul, beliau adalah Ustadz Yusuf Mansur, juga telah menulis dan menerbitkan puluhan buku. Tahukah kalian dengan penulis buku-buku parenting dan urusan rumah tangga? Benar, Asma Nadia namanya. Beliau juga telah menerbitkan puluhan buku. Begitu juga dengan Helvy Tiana Rosa, sastrawan dan penulis novel inspiratif. Dua penulis hebat yang kakak-beradik (Helvy dan Asma) ini telah melahirkan puluhan buku best seller dan beberapa diantaranya sudah difilmkan seperti Ketika Mas Gagah Pergi, Assalamualaikum Beijing, Duka Sedalam Cinta dan sebagainya.

Menulis juga menjadi senjata ampuh bagi para pencari ilmu, sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan “ikatlah ilmu dengan menulis”. Menulis telah menjadi mesin penyimpan ilmu yang tak pernah hilang ditelan zaman, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Imam Ghozali, Ibnu Taimiyyah, Imam Syafi’i, dan para cendekiawan muslim lainnya. Walaupun orangnya telah tiada tapi karya-karya para tokoh ulama tersebut sampai sekarang menjadi referensi dan rujukan bagi umat manusia. Apa yang mereka (para cendekiawan muslim dan tokoh-tokoh ilmuwan lainnya) wariskan kepada generasi zaman ini? Iya, betul sekali. Mereka mewariskan ilmu-ilmu pengetahuan lewat karya-karya tulisan mereka berupa buku. Sebagai penyemangat cermati kata-kata dahsyat ini: “Satu peluru hanya menembus satu kepala, namun satu TULISAN mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala” (Sayyid Quthb). Itulah alasan mereka menulis.

§  Mengapa Guru Harus Menulis...???

Belajar dari orang-orang besar seperti disebutkan di atas, maka bagi seorang guru pun bisa mengikuti jejak seperti mereka. Lalu pertanyaannya, mengapa guru harus menulis? Tentunya menulis disini bukan hanya menulis RPP, silabus maupun perangkat pembelajaran lainnya. Kalau menulis perangkat tersebut merupakan tugas (sudah menjadi keharusan bagi guru). Ada beberapa alasan kenapa guru harus menulis, diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.    Sebagai bahan refleksi guru pembelajar
    Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang profesional. Sebagai guru pembelajar, tak ada kata berhenti dalam belajar. Guru bisa merefleksikan dirinya melalui goresan tulisan tentang kegiatan pembelajarannya yang telah dilakukan, bisa harian maupun mingguan. Refleksi diri sebagai ulasan tentang apa yang telah dilakukannya dalam proses kegiatan belajar mengajar dan menulis rencana pembelajaran ke depannya. Menulis bisa menjadi terapi diri untuk memperbaiki kualitas guru tersebut.
2.    Berkarya lewat tulisan
     Selain sebagai bahan refleksi, menulis bagi guru merupakan kesempatan untuk berkarya dan berkreatifitas di dalam membuat media pembelajaran maupun best practice lainnya. Guru yang berkarya lewat tulisan akan menjadikan dirinya untuk terus berinovasi mencari terobosan baru di dalam pembelajaran yang dia lakukan. Kemudian dari pembelajaran tersebut bisa menjadi bahan tulisan baginya. Bisa juga bersumber dari masalah maupun kendala yang dihadapi selama menjadi guru dan problematika kehidupan sekolah lainnya juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi guru tersebut untuk berkarya menghasilkan tulisan yang menginspirasi orang lain.
3.    Mengikat ilmu dan pengalaman
    Setiap guru pasti memiliki pengalaman dan pastinya selalu haus dengan ilmu pengetahuan agar produktifitasnya tetap terjaga. Maka salah satu cara untuk mengikat ilmu dan pengalaman tersebut adalah dengan menulis. Seperti yang pernah disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib “ikatlah ilmu dengan menulis”. Disinilah pentingnya menulis bagi guru akan mampu mengikat ilmu dan pengalaman yang pernah diraih oleh guru tersebut. Pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi ilmu baru yang bisa diabadikan melalui tulisan yang bermakna dan berbobot.
4.    Menjadi teladan bagi siswa
     Guru yang rajin menulis dan menghasilkan karya tulis terbaiknya akan menjadi inspirasi dan teladan bagi para peserta didiknya. Goresan pena yang dihasilkan oleh guru tersebut bisa memotivasi siswa untuk ikut berkarya dan mengikuti jejak guru tersebut. Karena dengan tulisan tersebut siswa bisa tersengat motivasinya untuk melakukan suatu hal yang bisa dilakukan oleh siswa tersebut. Tidak hanya siswa saja, tulisan yang dibuat oleh guru juga bisa menjadi contoh bagi guru-guru lainnya di dalam mengelola dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan berdasarkan tulisan yang dibuat guru.
5.    Sebagai inovasi pembelajaran
     Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan semata, tapi seorang guru juga dituntut harus bisa berinovasi di dalam pembelajarannya. Salah satu cara yang harus ditempuh adalah melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang mana diawali dengan membuat rencana PTK tersebut yang dituangkan dalam tulisan. Membuat inovasi pembelajaran melalui PTK maupun metode yang lainnya akan sangat berguna jika bisa didokumentasikan juga lewat tulisan. Nantinya tulisan hasil best practice tersebut juga bisa menjadi rujukan bagi guru-guru yang lainnya.

§  Keterkaitan Menulis Dan Membaca.
  Menulis dan membaca ibarat dua sahabat sejati yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Kedua hal tersebut ibarat sekeping logam yang selalu beriringan kemanapun berada. Mari sejenak kita cermati ungkapan berikut:

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru, membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin ku jumpai sambil bermain di lengkung pelangi.”
(Abdurrahman Faiz, putra Helvy Tiana Rosa, remaja yang begitu
mencintai membaca dan sudah menulis buku sejak kanak-kanak).

Ungkapan tersebut memang benar sekali. Bahwa membaca itu banyak sekali manfaatnya. Dan membaca ini merupakan amunisi bagi para penulis. Begitu juga yang aku rasakan hingga saat ini. Kalau ditanya sejak kapan Aku suka dengan buku? Mungkin jawabannya adalah sejak masih duduk di tingkat dasar yaitu Madrasah Ibtidaiyyah (MI). Bukankah ada pepatah Arab yang mengatakan juga “Khoiru jaliisin fii zamani, kitaabun” (Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah BUKU). Sejak saat itulah pertemuanku dimulai. Bahkan hobi ini pun berlangsung hingga duduk di bangku SMA. Seringkali pinjam buku di perpustakaan sekolah hampir tiap minggu pasti pinjam 1-3 buku. Walaupun gak dibaca semua, tapi setidaknya bisa menambah referensi. Selain di perpustakaan sekolah, waktu itu juga sering meminjam buku di perpustakaan daerah.

Iya, kalau diceritain pasti akan panjang jalan ceritanya. Yang jelas banyak sekali manfaat yang aku dapatkan setelah membaca buku-buku tersebut. Singkat cerita, kembali ke buku pertamaku yang terbit itu membuatku semakin PeDe untuk mengikuti kompetisi menulis lainnya. Satu demi satu karya buku antologiku pun juga bertambah. Ternyata menulis itu memang mudah. Dan menulis tak kan bisa mengalir indah tanpa adanya banyak membaca. Kalau kurang membaca, maka kita akan menjadi miskin ilmu. Sebaliknya kalau kita banyak membaca, tentu kita akan bertambah wawasan dan pengetahuan kita. Itulah sepenggal pengalaman yang aku rasakan bahwa membaca dan menulis keduanya merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.



Epilog: Teruslah Menulis!

"Jika aku adalah MEMBACA, dan kamu adalah MENULIS. Maka, kita adalah LITERASI". Dua sejoli (membaca dan menulis) adalah senjata ampuh yang bisa merubah sumber daya manusia, menajamkan pengetahuan dan meraih kesuksesan.

  Habis membaca terbitlah menulis. Tulisan itu pun akan senantiasa bersinar menerangi bacaan. Begitulah pepatah yang tepat bagi kedua pasangan sejati (membaca dan menulis) yang tak bisa dipisahkan karena keduanya selalu beriringan.

    Kekuatan membaca yang telah kita serap akan meningkatkan keterampilan dalam menulis. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu juga dengan menulis, tulisan yang kita tulis tak lepas dari bacaan yang telah kita baca sebelumnya.
   
    Jenis atau genre buku yang kita baca pun akan mempengaruhi cita rasa tulisan yang kita hasilkan. Menulis dengan hati akan sangat berarti dibandingkan hanya menulis dengan emosi.  “Scripta manent, verba volent” yang berarti apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Pepatah latin ini pun menjadi visi bagi sebuah tulisan yang telah tergoreskan pena.

  “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya” (Michael Crichton, penulis novel “Jurassic Park”)

     Jika ingin umur panjang, menulislah!
     
      Salam Literasi

      Iin Amrullah
      #EduWriter

* Resume materi kuliah SGI Online (Selasa, 27 Februari 2018)

Saturday, 24 February 2018

Membuat Program Literasi Kelas



Tulisan ini merupakan resume materi yang saya sampaikan dalam sharing session online via whatsapp grup KGCL SUMUT (Komunitas Guru Cerdas Literasi Sumatera Utara). Kegiatan yang bertemakan “Membuat Program Literasi Kelas” ini dilaksanakan pada Sabtu, 17 Februari 2018. Berikut ini adalah materi, pembahasan dan diskusi dalam sharing session tersebut.

SESI 1: SESI PEMAPARAN

Assalamualaikum Bapak/Ibu guru pembelajar SGI KGCL SUMUT.
Gmn kabarnya? Semoga senantiasa sehat semua y.

Terima kasih sblmnya kpd bu lili yg mngundang utk bergabung di grup ini. Spt yang diinfokan sblmnya kali ini saya akan sharing session tentang literasi dengan tema membuat program literasi kelas. Sebelumnya saya sedikit share video tentangliterasi dari kemdikbud. Dalam video tersebut, disebutkan bahwa salah satu keterampilan utuh abad 21 yang dibutuhkan adalah memiliki kemampuan literasi dasar yang baik, yaitu bagaimana menerapkan keterampilan inti untuk kegiatan sehari-hari.

Apa itu literasi? Tentunya Bapak/Ibu disini pastinya sudah tahu semua tentang hal tersebut. Sebagaimana dijelaskan dlm infografis tsb, ada 6 komponen dalam literasi dasar ini, yaitu kemampuan baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, budaya, dan kewarganegaraan.

Jenis Literasi yang dipahami dalam Gerakan Literasi Sekolah, yaitu:

1.      Literasi Dasar (Basic Literacy), literasi jenis ini bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan menghitung.

2.      Literasi perpustakaan (Library Literacy), lebih lanjut setelah memiliki  kemampuan dasar maka literasi perpustakaan untuk mengoptimalkan. Literasi perpustakaan yang ada antara lain menunjukkan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan non fiksi

3.      Literasi media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui banyak  sekali bentuk media yang berbeda, menyerupai media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

4.      Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami  kelengkapan yang meliputi teknologi menyerupai peranti keras (hardware),  peranti lunak (softweare), serta budipekerti dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat mencapai teknologi untuk menceak, mempresentasikan, dan mengakses internet.

5.      Literasi Visual (Visual Literacy), yaitu pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi yang menyebarkan kemampuan dan kebutuhan berguru dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat.

Sebelum ke materi inti saya share juga video tentang Gerakan Membaca 15 menit. Video tutorial tentang pojok baca dari kemdikbud ini bisa jadi acuan jg buat bapak/ibu mnerapkn di kelas.

Untuk membuat program literasi di kelas harus sinkron dengan program literasi sekolah. Tentunya hal tersebut disesuaikan dgn visi misi sekolah, dukungan kepala sekolah dan semua civitas akademika yang ada. Jika semua dukungan ada ditambah sarana prasarana penunjang maka kberhasipan literasi jg bisa berjalan maksimal. Jadi alurnya buat program literasi sekolah (sesuai kesepakatan). Selain program yg dijelasin di video tsb, ada beberapa program literasi di kelas diantaranya adalah
1. Poster afirmasi
2. Display kelas
3. Token ekonomi
4. Pojok Baca
5. Bedah buku
6. Membaca buku 15 menit sebelum belajar
*Dan program2 lainnya disesuaikan dgn kondisi sekolah dan kemampuan guru mengelola kelasnya

Sdkt saya share jg beberapa program yg pernah saya lakukan





Foto tersebut adalah contoh beberapa afirmasi positif yg pernah saya buat saat penempatan di Halmahera Utara. Karena berada di daerah terpencil buatlah yang sederhana dan mudah dibuatnya. Afirmasi ini tujuannya utk memotivasi anak2 utk gemar membaca dan belajar pd umumnya





Tabungan Prestasi Kelas 6 SDN Fitako, Kec. Loloda Kepulauan
(Rencana Aturan Pemberian Reward dan Sistem Token Ekonomi)


Ketentuan Tabungan Prestasi:
1.      Pemberian reward and punishment dalam Tabungan Prestasi ini terdiri atas dua macam kriteria, yaitu:
-          Buku putih, sebagai buku reward (apresiasi)
-          Buku merah, sebagai buku punishment
2.      Pemberian reward and punishment terbagi dalam dua kategori, yaitu penilaian individu dan penilaian kelompok
3.      Pemberian reward dilakukan saat berlangsungnya pembelajaran dengan pemberian bintang prestasi di dalam buku putih dan akan dihitung tiap bulan untuk diberikan penghargaan (hadiah)
4.      Ketentuan pemberian reward individu adalah:
-          Siswa aktif dalam kelas (berani bertanya, berbicara dan menyampaikan pendapatnya)
-          Siswa yang mendapatkan nilai (ulangan/quis) terbaik
-          Siswa yang paling disiplin
5.      Ketentuan pemberian reward kelompok adalah:
-          Kelompok yang paling kompak
-          Kelompok yang aktif (berani bertanya atau memberikan pendapatnya)
-          Kelompok yang kreatif
-          Kelompok yang menjawab dengan benar
6.      Ketentuan pemberian sanksi/punishment:
-          Datang terlambat
-          Membuat gaduh di kelas
-          Mencontek
-          Mengganggu teman
7.      Pemberian sanksi berupa sanksi lisan dan sanksi tertulis (dalam buku merah)

Program Literasi Cangarlis

Kegiatan ini diberi nama Literasi “Cangarlis” yang merupakan singkatan dari membaca-mendengar-menulis. Sesuai dengan namanya, kegiatan ini terdiri atas 3 aktivitas yaitu membaca, mendengar, dan menulis. Kegiatan ini dilakukan pada saat jam pelajaran berlangsung yaitu dengan materi pengembangan diri berupa program literasi yang diikuti oleh siswa-siswi kelas 5 dan kelas 6 SDN Fitako.

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan, yel-yel masing-masing kelas, apersepsi dan penyampaian motivasi tentang pentingnya membaca, kenapa harus membaca? Pertanyaan ini saya ajukan kepada anak-anak yang hadir. Saya juga menyampaikan sedikit pengalaman menulis saya yang mengantarkan berbagai prestasi lewat menulis. Pengalaman ini saya sampaikan untuk memacu anak-anak untuk suka membaca dan menulis. Untuk menentukan anak membaca buku, saya menggunakan spidol yang diputar di atas lantai. Jika spidol berhenti, maka tutup anak spidol yang menghadap ke anak tersebut yang mendapat giliran untuk membaca. Anak-anak saya bebaskan memilih satu judul bacaan dari buku Makmal pendidikan yang berjudul “Celoteh Anak di Langit Jampang”. Saat ada anak yang membaca, siswa yang lainnya mendengarkan dengan seksama.

Setelah selesai membaca, saya memberikan tepuk keren sebagai apresisasi bagi pembaca dan dilanjutkan dengan bertanya (mengulas kembali apa yang sudah dibaca oleh pembaca). Saya mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tentang bacaan yang baru saja dibaca oleh temannya. Saya juga mengaitkan bacaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Setelah itu spidol kembali diputar dan jika berhenti pada tutup spidol yang menghadap ke anak, maka giliran dia yang menjadi pembaca berikutnya, dan seterusnya. Setelah membaca dan saling mendengarkan, kegiatan selanjutnya adalah menulis. Saya menyuruh semua anak menulis sesuai dengan kesukaan masing-masing. Saya memberikan kebebasan kepada anak untuk berkreativitas dan saya memberikan alternatif tema yang bisa ditulis seperti tentang cita-cita, sekolah, keluarga, desa Fitako, pantai, laut, dan sebagainya.



SESI II : Sesi Diskusi & Tanya Jawab

Beberapa pertanyaan yang diajukan peserta diantaranya adalah:
1.      Kegiatan token ekonomi itu bagaimana ya guru..?

2.      Apakah 6 komponen literasi itu diterapkan utk semua tingkatan, tk, sd, smp dan sma. Mohon contoh afirmasi positif utk tkt TK?

3.      Apakah kegiatan literasi harus sinkron dengan visi misi serta di dukung sekolah baru bisa berhasil guru. Sementara literasi yang saya terapkan kurang ada penunjang sarana dan prasarana

4.      Guru iin maaf sy ketinggalan. Ini sy mau tanya gambarny kurang jelas. Itu kertasnya diwarnai anak2 dulu ya?  Yg putih itu sudah ditempel dulu atau sblmnya terpisah? Trus yg reward kelompok,  apakah kelompoknya sudah ditetapkan nama2nya dari awal?  Jadi klompok itu terus yg dipakai stiap pmbelajaran? Mohon dicerahkan..

5.      Kebanyakan kami ingin berkreasi tetapi terkadang sekolah kurang memfasilitasi, kendalanya tak ada dana, sementara kami juga masih statusnya honor jadi gimana solusinya Guru. Yang bagian merancang progrmnya, dng biaya minim, tp bisa diterpkn dikls dn diskolah td guru..

Mau tahu jawabannya apa? Nah, simak ulasan jawabannya sebagai berikut:
Jawaban dari pertanyaan di atas yaitu:
1.      Token ekonomi itu adalah salah satu bentuk  stimulus prestasi dgn menggunakan point2 tertentu.  Kalau secara pengertian seperti ini: Token Economies merupakan suatu wujud modifikasi perilaku yang dirancang untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku yang tidak diinginkan dengan pemakaian Tokens (tanda-tanda). Individu menerima token cepat setelah mempertunjukkan perilaku yang diinginkan. Token itu dikumpulkan dan yang dipertukarkan dengan suatu obyek atau kehormatan yang penuh arti. Contohnya spt ini token  ekonomi yg saya buat berjudul tabungan prestasi. Jadi intinya smcm reward and punishment. Bentuknya bisa disesuaikn dgn kreativitas yg guru buat

2.    Utk komponen 6 jenis literasi tsb dimulai SD hingga SMA. Itu kondisi idealnya. Sbgmna sesuai dgn kurikulum 2013 dimana siswa hrs memiliki kemampuan 4C dan bisa memecahkn soal2 yg HOTS. Dulu kbtln saya pernah ngelola n mjd tim perintis PAUD ketika baru lulus S1. Nah utk afirmasi PAUD/TK bentuknya adalah gambar2 yg menarik, misal tentang alam, sains, tumbuhan, hewan, dll disesuaikan dgn tingktn bljar mrk. Utk PAUD baiknya dgn sistem sentra, spt sentra sains alat peraga sains, sentra cooking dgn mainan peralatan masak2, dan sentra2 yg lainnya. Dulu di PAUD yg saya rintis ada sekitar 8 sentra. Dan kita juga hrs buat aturan mainnya. Adapun utk TK, KB atau PAUD jenis literasinya tdk semua dari 6 jenis ini. Tp bisa dari salah satu hingga 3 jenis literasi tsb. Lebih baiknya dgn mnggunakan sistem  sentra

3.       Iya betul. Kegiatan literasi sekolah sebaiknya harus sinkron dgn visi-misi sekolah dan kalau bisa ada tim pengurus literasi tersendiri agar tercapai tujuan dari penerapan literasi tsb. Tp biasanya sekolah terbentur dgn anggaran dana yg minim. Nah disinilah diperlukan kreativitas guru utk merancang program literasi yg mudah dilakukan, biaya terjangkau dan bisa diterapkan baik di kelas maupun di sekolah scr umumnya

4.      Iya pak. Jadi kita sbg guru hnya bikin pola dan aturan2nya. Anak2 yg mewarnai dan membuat buku tabungannya.

Iya utk kelompoknya dibuat heterogen dan ditetapkan di awal ajaran baru. Tp bisa berlaku 2-3 bulan saja. Tp klo saya selama 1 semester trs ntar di akhir smster ada reward buat yg terbaik.

Iya baiknya kelompok tsb dipakai trs dlm pembelajaran. Tp klo ganti kelompoknya hrs bikin token yg lain. Iya pake origami jg bisa. Dulu saya buat di kelas lain jg ada yg pakai origami. Krn saya dulu megang 3 kelas jadi saya bikin 3 token dgn desain yg berbeda

5.      Iya bu, hal spt itu memang banyak dialami guru2. Dulu wkt saya penempatan SGI di halmahera jg spt itu kondisinya. Kepala sekolah kurang mendukung program2 yg saya buat. Tp saya tetap jalankan program2 yg saya buat meski sering berbeda pendpt dgn beliau. Bahkan pernah wkt itu ada lomba di kecamatan yg hrs nyeberang pulau, kepsek tdk kasih izin dgn alasan tdk ada dana. Akhirnya saya galang dana ke masyarakat atas seizin kepala desa.

Dlm sekolah lain pun saya lihat spt itu. Guru2 ingin kreatif tp terkadang terkndala dana maupun dukungan dari kepsek atau yg lainnya. Jika kondisinya spt ini saran saya jalankan saja program yg kita buat. Tp bikinlah yg minim dana atau memanfaatkan sumber daya yg ada di sekolah tsb


Closing Statemen malam ini

"Jika AKU adalah MEMBACA, dan KAMU adalah MENULIS, maka KITA adalah LITERASI. Dua sejoli (membaca dan menulis) adalah senjata ampuh untuk meningkatkan kualitas manusia dan pendidikan

Sama halnya jika ingin memajukan sekolah, maka literasi harus dijalankan agar tercapai tujuan pendidikan tersebut. Mulai dari program literasi sekolah hingga literasi kelas diperlukan sinergi dan kerja sama antara guru, kepala sekolah, orangtua dan semua elemen yang ada di sekolah tersebut. Dan guru menjadi ujung tombak dalam penerapan literasi di kelas. Maka diperlukan kreativitas dan teruslah menjadi guru pembelajar.

Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang profesional. Sebagai guru pembelajar (baik guru PNS, honorer maupun kontrak), tak ada kata berhenti dalam belajar. Tiada hari tanpa menimba dan menambah ilmu dari sumber mana saja. Setiap selesai pembelajaran senantiasa melakukan refleksi diri, perenungan dan evaluasi diri. Sudahkah kita menjadi guru yang terbaik dan berkualitas bagi peserta didik?

Sebagai pengajar, sudahkah kita mengajar dengan baik, menerapkan strategi pembelajaran yang tepat dan menyenangkan bagi mereka? Bagaimana manajemen kelas yang sudah kita terapkan, display kelas, suasana kelas hingga materi yang kita sampaikan, sudah lebih baikkah? Pengajaran yang kita lakukan sudahkah terencana dengan baik sesuai RPP yang kita buat? Sebagai pendidik, sudahkah kita mendidik mereka dengan hati yang tulus? Karena guru adalah pengajar, pendidik, pemimpin dan teladan bagi para peserta didiknya.


SALAM LITERASI

Terima kasih atas kesempatan untuk sharing dan diskusi bersama di grup ini

Iin Amrullah
#EduWriter

Jika masih ada pertanyaan atau yang ingin didiskusikan bisa dishare di grup ini atau bisa japri atau kunjungi ke medsos saya:
IG: @iin_amrullah
Website: www.kang-amrul.com


Challenge untuk materi Membuat Program Literasi Kelas:
1. Membuat resume tentang materi malam ini
2. Membuat afirmasi positif buat di kelas yang berhubungan dengan literasi

*Resume yg sudah dibuat posting di FB/IG.
*Begitu juga utk afirmasi yg sudah dibuat. Lalu difoto afirmasi tsb dan posting di FB/IG dan tag-in ke:

FB: 1.Iin Amrullah Aldjaisya (tapi sudah full pertemanan🙏)
2. Neng Vera Novita
3. Lili Gusni
4. Ali Sakti Rambe

IG: @iin_amrullah

email: vera.novita@ymail.com

hastag:
#KGCLSUMUT
#SekolahGuruIndonesia
#GuruPemimpin
#SalamLiterasi