Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bΓͺte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Tuesday, 10 October 2017

Lesson Study Guru Daerah 3T

Foto: Dokumentasi Kegiatan Lesson Study Tim SGI Halmahera Utara

Kondisi guru di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (Daerah 3T) bisa dibilang ‘seperti telur diujung tanduk’. Mengapa demikian? Di satu sisi para guru 3T ini dituntut untuk mengajar, mendidik dan membimbing peserta didiknya secara profesional, kreatif dan menyenangkan. Akan tetapi, di sisi lain mereka dihadapkan dengan kondisi daerah yang terisolir, sarana prasarana kurang memadai, buku terbatas, akses informasi dan teknologi sangat minim. Ketika guru di perkotaan sudah menggunakan teknologi 4G, lain halnya dengan guru daerah 3T merasakan 1G pun tidak bisa karena belum adanya sinyal di daerah tersebut. Selain itu, guru di daerah 3T juga kurang mendapatkan akses untuk meningkatkan pedagogik­-nya (ilmu atau seni menjadi guru). Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran di daerah 3T.

Masalah lain yang dihadapi guru daerah 3T adalah kurang aktifnya Kelompok Kerja Guru (KKG). Padahal kita tahu bahwa KKG merupakan wadah bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Sebagaimana Menurut Direktorat Profesi Pendidik, KKG (Kelompok Kerja Guru) merupakan wadah atau forum kegiatan profesional bagi para guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah di tingkat gugus atau kecamatan yang terdiri dari beberapa guru dari beberapa sekolah. Akan tetapi apa jadinya jika KKG di suatu daerah tidak berjalan maksimal? Salah satu contohnya seperti yang terjadi di Loloda Kepulauan. KKG di kecamatan tersebut tidak aktif. Hal ini berdasarkan pengalaman penulis saat bertugas sebagai aktivis Sekolah Guru Indonesia (SGI) di Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara (2014-2015).

Loloda Kepulauan merupakan daerah 3T yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. KKG yang ada di Loloda Kepulauan kondisinya andilau (antara dilema dan galau). Hal ini bukan tanpa sebab. Kenapa KKG disana vakum? Pertama, karena UPT Pendidikan Kecamatan Loloda Kepulauan hanya dikelola oleh satu orang. Kedua, karena faktor kondisi geografis kepulauan, dalam satu kecataman wilayahnya terbagi menjadi 4 pulau dan terpisahkan oleh lautan. Inilah tantangan medan bagi masyarakat kepulauan. Permasalahan guru di Loloda Kepulauan tidak hanya itu saja, guru-guru di wilayah kecamatan tersebut juga rata-rata berlatar belakang lulusan D2 dan berstatus honorer. Bahkan masih ada juga guru yang hanya lulusan SMA. Padahal menurut Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mempersyaratkan guru untuk memiliki kualifikasi akademik minimum S1/D4, memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, serta memiliki sertifikat pendidik.

Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas guru di daerah 3T dengan kondisi KKG yang tidak aktif diperlukan strategi lain, salah satunya adalah melalui Lesson Study. Apa itu Lesson Study? Secara bahasa, Lesson study berarti kaji pembelajaran. Menurut Rudi Hermawan (2009) Lesson Study adalah suatu model peningkatan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Di Indonesia, lesson study telah diterapkan di tiga daerah yaitu Malang, Yogyakarta dan Bandung sejak tahun 2006 (Firman, 2007). Konsep dan praktek lesson study ini pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah Jugyou (instruction = pengajaran, atau lesson = pembelajaran) dan kenkyuu (research = penelitian, atau study = kajian). Lesson study dalam penerapannya bisa dilakukan di tiap sekolah atau gabungan beberapa gugus sekolah. Dalam praktiknya, kegiatan Lesson Study terdiri atas 3 tahapan utama, yaitu tahap persiapan (Plan), pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). Ketiga tahapan ini direncanakan, dilaksanakan dan direfleksikan secara bersama-sama oleh suatu komunitas lesson study.

Berdasarkan pengalaman penulis saat menerapkan lesson study di Loloda Kepulauan, kegiatan tersebut cukup efektif dan menarik perhatian bagi guru-guru pembelajar. Kegiatan tersebut diikuti oleh guru-guru perwakilan tiap sekolah dasar se-Kecamatan Loloda Kepulauan. Kegiatan tahap pertama adalah perencanaan yang terdiri atas sosialisasi, perencanaan dan pembentukan Komunitas Lesson Study Loloda Kepulauan (Komunitas Guru Pembelajar).  Para guru yang mengikuti kegiatan ini merasa senang karena dapat menambah wawasan mereka dan bisa sharing dengan guru-guru yang lain. Pada tahap pertama ini memutuskan rencana bersama tentang sebuah rencana pembelajaran dengan menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan menetapkan satu guru model sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar. Dalam lesson study ini guru modelnya dari aktivis SGI.

Tahapan kedua dalam lesson study adalah tahap pelaksanaan. Kegiatan Lesson Study Loloda Kepulauan dilaksanakan di SDN Dama. Dalam pelaksanaannya dilakukan di dua ruangan yang terbuka satu aula. Ruangan pertama sebagai kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan guru modelnya sebagai subjek pengajar. Sementara ruangan kedua yang berada di belakang sebagai ruang observer. Guru model melakukan KBM di kelas dengan siswa-siswa, sementara guru-guru peserta komunitas lesson study lainnya berada di belakang bertugas mengobservasi semua kegiatan belajar mengajar dari awal pembukaan hingga penutupan. Para guru observer ini dibekali dengan lembar observasi guru mengajar dan lembar evaluasi catatan siswa dan guru yang sedang melakukan pembelajaran di kelas.

Tahapan ketiga dalam lesson study adalah refleksi. Tahapan ini dilakukan usai kegiatan belajar mengajar guru model. Setelah selesai KBM semua siswa pulang sedangkan guru model beserta guru-guru yang lain melakukan refleksi pembelajaran. Refleksi diawali dari guru model terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan refleksi dari semua guru yang hadir sebagai observer. Masing-masing guru observer tersebut memberikan masukan, evaluasi dan penilaian terhadap guru model selama berlangsungnya pembelajaran. Dalam tahap ini terjadi diskusi yang cukup menarik antara guru observer yang saling memberikan masukan untuk perbaikan, mulai dari RPP, metode pembelajaran di kelas, manajemen kelas dan semua aktivitas selama pembelajaran. Kegiatan refleksi ini semata-mata bukan menilai guru model, akan tetapi semua refleksi berupa masukan, kritikan dan saran-saran tersebut juga buat masing-masing guru itu sendiri. Usai melakukan refleksi bersama dan diskusi yang cukup panjang, semua peserta komunitas lesson study ini merumuskan kegiatan lesson study untuk pertemuan berikutnya.

Demikian penerapan lesson study yang pernah penulis lakukan saat bertugas di Maluku Utara. Melalui kegiatan lesson study tersebut para guru daerah 3T bisa belajar, berkarya dan meningkatkan kualitas keguruannya. Tentunya hal tersebut sangat membantu mereka dalam mengembangkan pembelajarannya di sekolah masing-masing. Sebelum melakukan lesson study tersebut, penulis dan tim SGI sebelumnya telah melakukan TFT (Training for Teacher) berupa materi tentang pedagogik, model pembelajaran, hingga manajemen kelas. Dalam praktek pelaksanaannya lesson study ini bisa berselang-seling dengan TFT tentang suatu materi yang dibutuhkan oleh guru-guru di daerah tersebut. Dalam penerapannya, lesson study dapat dilaksanakan dalam satu sekolah, kelompok sekolah, maupun kelompok guru yang tergabung dalam KKG. Sebagaimana menurut Rudi Hermawan (2009) Suatu sekolah dapat melaksanakan school based lesson study, jika banyaknya guru mata pelajaran sejenis atau serumpun minimal 3 (tiga) orang, untuk mata pelajaran yang akan diterapkan lesson study. Mereka dapat secara rutin bersama dan berkelanjutan dalam melaksanakan lesson study, baik dalam perencanaan (plan), implementasi (do) dan observasi serta refleksi (see) pada suatu mata pelajaran tertentu.

Penerapan lesson study untuk meningkatkan kualitas guru di daerah 3T tentunya harus didukung oleh semua pihak mulai dari kepala sekolah, UPT hingga dinas pendidikan setempat. Karena tugas mencerdaskan generasi bangsa adalah tugas kolektif semua elemen pendidikan mulai dari sekolah, masyarakat hingga pemerintah pusat. Sementara guru adalah aktor utama yang bergerak langsung bertatap muka dengan peserta didiknya. Guru daerah 3T sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam kehidupan peserta didiknya harus senantiasa berbenah diri meningkatkan kualitas pedagogiknya sebagai guru pembelajar. Adanya ruang belajar berupa lesson study ini bisa menjadi sarana saling belajar bersama diantara guru-guru daerah 3T. Oleh karena itu, sumber daya guru harus senantiasa ditingkatkan kualitasnya agar tercipta pembelajaran yang paripurna. Bangga jadi guru, guru berkarakter, menggengam Indonesia.

Sunday, 27 August 2017

Dua Rasa Tujuh Asa: Refleksi Tanpa Henti


Tumbuh itu pasti, soal kuantitas. Seperti halnya usia yang berkurang. Apakah juga dibarengi dengan meningkatnya kualitas diri? Maka, jangan hanya tumbuh (secara kuantitas), tapi barengi juga dengan berkembang (meningkatnya kualitas). Berkembang secara akal, kedewasaan dan pola pikir. Jernihkan nurani, segarkan hati dan beningkan prasangka baik (khusnudhon) dalam menghadapi setiap persoalan. Berkembang keimanan dan ketakwaan dalam setiap langkah hidup. Berkembang fikriyah dan ruhiyahnya. Teruslah bersyukur, berbenah, bergerak dan berkarya. Bismillah. Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah.
Sebelumnya melalui untaian kata yang masih banyak khilaf ini, perkenankan diri pribadi ini mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua sahabat dan rekan sekalian atas ucapan, do'a dan harapannya. Semoga kebaikan juga menyertai sahabat sekalian. Karena tidak ada balasan kebaikan, selain kebaikan pula. Maka, teruslah tingkatkan saldo kebaikan kita. Mohon maaf bagi yg belum dibales ucapannya. “Selamat menempuh (fase) hidup baru” ujar pria kelahiran Tegal ini. “Teruslah menjadi pribadi pembelajar sejati”, seru hati memantapkan. Kalau disederhanakan lagi, “lakukanlah refleksi tanpa henti” kata organ detoksifikasi ini dengan penuh optimis.
Seperti saat mengendarai motor, jangan hanya fokus menatap ke depan. Sesekali juga harus menengok spion (melihat ke belakang). Lihat kanan-kiri sewajarnya juga. Begitu pun dengan kehidupan kita sehari-hari. Karena hidup adalah perjalanan, sudahkah sampai ke tujuan? Sudahkah menemukan hasil atas jerih payah yang telah dilakukan selama ini? Sudahkah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat? Jika belum, maka coba tengok sekali lagi kaca spion selama perjalanan setahun yang lalu. Lihatlah sejenak dengan diri ini sejak 12 purnama yang lalu hingga detik ini. Manakah yang lebih besar bobotnya antara manfaat (kebaikan) yang dilakukan dengan mudhorot (keburukan) yang diperbuat? “Astaghfiullah...” ucap nurani membisikanku.
Jika tepat setahun yang lalu (27/08/2016) diri ini meghadiri acara Awarding Gramedia Reading Comunity Competition (GRCC) 2016 di Gedung Teater A Perpustakaan RI mewakili Komunitas Saung Ilmu. Maka, untuk hari ini (27/08/2017) berada dalam barisan bersama para pemuda-pemudi hebat seantero negeri dalam acara Indonesia Youth Festival Forum (IYEF) Camp yang diselenggarakan oleh tim SGI (Sekolah Guru Indonesia) angkatan 21. Melewati perjalanan sejak kemarin siang dari Depok, Jakarta, lalu ke Bogor. Penuh rasa dan penuh sensasi yang menggetarkan hati hingga sore hari di hari ini ditutup dengan berkunjung ke sekolah lama dan bertemu dengan anak-anakku disana. Rasanya complicated dibuatnya.


Oke, tak perlu panjang kali lebar lagi menuangkan sebait unek-unek yang dari tadi pagi berseliweran di antara synaps dan ganglion dalam otakku ini. Sejenak diri ini teringat kembali dengan petuah pengingat diri. "Khaasibuu, qobla an tukhaasaabuu" begitu nasihat Sahabat Umar ini tiba-tiba teringat. Hisablah (dirimu), sebelum engkau dihisab (kelak). Introspeksi diri. Evaluasi diri. Syukuri. Mantapkan. Bismillah. Cemerlangkan diri menatap masa depan. Karena hari ini adalah hari dimana munculnya sebuah ide bernama “Dua Rasa, Tujuh Asa”. Apa itu? Secara filosofi sebenarnya sudah tersirat pada dua kata yang dibold (dicetak tebal), yaitu dua dan tujuh.
Dua rasa yang saling berlawanan (bertolak belakang atau berantonim), tapi selalu datang beriringan. Seperti yang terjadi dalam diri setiap insan. Setiap langkah perjalanan hidup selalu menghadirkan suka-duka, pahit-manis, susah-senang dan aneka lawan kata lainnya. Satu tahun telah berlalu, bulan demi bulan terus berjalan dan hari demi hari terus silih berganti. Lantas apa yang sudah saya lakukan selama ini? Apa yang telah saya perbuat? Apa yang sudah saya kontribusikan? Apakah langkah hidupku sudah dalam koridor yang benar? Ahh, rasanya begitu banyak beraneka macam pertanyaan yang ingin ditanyakan dalam diriku yang penuh dengan salah dan khilaf ini.

Dibalik dua rasa yang berantonim tadi, juga ada lagi dua rasa yang selalu bersama-sama. Yaitu Dua rasa yang saling berpasangan. Dua rasa tersebut adalah SYUKUR dan SABAR. Satu hal yang pasti adalah syukuri manakala mendapat suatu kebahagiaan atau kenikmatan yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Iya itulah yang harus selalu lisan ini ucapkan, hati ini rasakan dan perbuatan ini amalkan dengan penuh kesyukuran kepada-Nya. Alhamdulillah wasyukurillah. Temannya syukur adalah sabar. Sabar manakala mendapat suatu cobaan dalam hidup, halangan, rintangan dan problematika hidup lainnya yang terkadang menguras tenaga da pikiran. Tapi, manakala ada rasa sabar maka akan ada kelapangan dada dalam menyikapi setiap badai permasalahan yang datang. Sabar bukan berarti diam, tapi harus sabar yang aktif, sabar yang kreatif dan sabar yang inovatif dalam menemukan solusi atas problematika tersebut. Ishbiru washobiru waroobithu.

             Tentang pencapaian dalam hidup, apakah hanya sekedar tumbuh? Atau juga berkembang selama ini? Sungguh sangat rugi jika selama ini hanya tumbuh saja, bertambah secara usia, bertambah berat badannya atau bertambah tingginya. Iya, jika hanya itu saja, maka sungguh merugi. Tumbuh harus dibarengi dengan berkembang secara kualitas. Karena perkembangan berbeda dengan pertumbuhan, tapi keduanya berjalan seiringan. Perkembangan adalah soal kedewasaan, kematangan berpikir, ketakwaan yang meningkat dan yang jelas kualitas yang meningkat. Kualitas diri, kualitas iman, kualitas fikriyah, dan kualitas ruhiyah kita. Resapi, renungi, hayati dan refleksikan dalam diri dan hati nurani yang terdalam. Bismillah, laa khaula walaa quwwata illa billah.

Memasuki gerbang ke-27 ini jadi teringat dengan coretan-coretan lama yang sudah pernah ditulis sebelumnya. Gimana kabar mimpi-mimpiku? Gimana kabar target dan capaian yang ingin diraih? Tak terasa hampir dua bulan ini berada di tempat berjuang yang baru. Proses aklimatisasi masih berlangsung. Menganalisis diri memang perlu banyak perenungan. Belajar, berkarya dan berkontribusi. Menjadi pembelajar adalah terus mengevaluasi diri, kembangkan dan tingkatkan terus menerus. Insya Allah tekad itu akan terus menyala, semangat ini akan terus membara, cerminan diri hari ini pancarkan visi masa depan. Maka, sebagai pembelajar teruslah “ukur diri” dan “ukir prestasi” untuk meraih 7 asa yang ingin diraih dalam usia ke-27 ini. Apa saja ketujuh asa tersebut? (Tertulis dalam buku diariku....hehehe).

Inspirasi tanpa titik. Refleksi tanpa henti. Ganbareba, zettai dekiru....!! Percayalah semakin banyak amanah, akan menjadikan diri ini semakin profesional. Semakin banyak kesibukan, menjadikan kita semakin pandai mengelola waktu. Jadi, teruslah bertumbuh dan berkembang. Pantaskan diri, mantapkan pribadi untuk menggapai ridho-Nya. Let’s go Kang Amrul....!!! @^,^



Jakarta Timur, 27 Agustus 2017









Monday, 3 July 2017

Jalin Silaturahim, Pererat Ukhuwah


Kuah opor dicampur ketupat
Biar sedap tambahin caysim
Siapa yang ingin rezekinya berlipat
Rajin-rajinlah bersilaturahim

“Barangsiapa ingin ditambahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung tali silaturahim”. Begitulah hadits yang menerangkan tentang keutamaan silaturahim. Mengapa kita harus bersilaturahim?

Banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari silaturahim. Tentunya silaturahim hendaknya dilakukan bukan hanya saat lebaran saja, akan tetapi dilakukan setiap saat di bulan lainnya. Karena dengan silaturahim akan menjadikan kokohnya sebuah keluarga, eratnya persaudaraan, yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi lebih erat dan yang belum kenal menjadi lebih akrab.

Seperti tahun-tahun sebelumnya di lebaran hari kedua ini kegiatanku adalah menghadiri acara Halal Bi Halal Keluarga Besar Bani H. Abdurrahman (keluarga besar dari ibuku). Tentunya tujuan utama kegiatan ini adalah mempererat tali silaturahim diantara keluarga besarku yang jumlahnya sudah ratusan ini.

Dari para sepuh, canggah, kakek, buyut, uwa, paman, cucu, cicit hingga keponakan berkumpul bersama dalam kegiatan HBH ini. Dari bapak, ibu, remaja, dewasa, hingga anak-anak ikut serta dalam kegiatan yang penuh kebersamaan ini. Setiap tahun keluarga besar ini jumlahnya terus bertambah dan bertambah karena ada yang menikah dan ada yang punya anak. Makanya event tahunan seperti ini harus terus dilakukan untuk menjalin silaturahim dan mempererat ukhuwah diantara kita semua.

Foto: sambutan mewakili pihak remaja (pemuda)

===============================================================


Makan siang di warung padang
Paling enak minumnya es krim
Siapa yang ingin umurnya panjang
Maka perbanyaklah silaturahim

Tidak hanya dipanjangkan umurnya, tapi juga diluaskan rizkinya. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim”. Begitulah pentingnya menjaga silaturahim dan masih banyak manfaat yang lainnya.

Silaturahim mampu mendekatkan keluarga yang jauh. Yang jauh menjadi dekat, yang awalnya belum kenal menjadi lebih akrab dan yang sudah dekat menjadi semakin erat. Apalagi jika keluarga besar itu terus bertambah banyak personilnya seiring perkembangan jumlah keluarga tiap tahun terus meningkat. Karena ada yang menikah dan juga ada yang melahirkan anak.

Itulah yang saya rasakan lagi saat moment Halal Bi Halal Keluarga Besar Bani K.H. Ibrahim (keluarga dari ayah) yang tahun ini diadakan ke-18 kalinya. Sudah 18 tahun berganti rumah tiap tahunnya antara keluarga turki (turunan kidul) yang pegunungan dengan keluarga utara yang perkotaan. Meski belum semuanya lengkap hadir, moment HBH seperti ini menambah kehangatan dan kebersamaan bulan lebaran.

Keluarga yang di desa dan keluarga yang di kota yang jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan (jika lengkap semua) berduyun-duyun datang di tempat ini. Mulai dari kakek, nenek, simbah, bibi, paman, uwa, lilik, buyut, cucu, cicit hingga para ponakan berkumpul semua dalam moment silaturahim ini. Semoga silaturahim ini terus terjaga dan bisa istiqomah. Rencana selanjutnya dari saya pribadi mau membuat buku profil Bani KH. Ibrahim beserta silsilahnya.

Foto: kali ini menjadi master of ceremony (mc)
https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f7f/1/16/1f60a.png

===============================================================



Jalan-jalan ke pantai widuri
Kalau panas minumlah es krim
Jika ingin umur panjang & banyak rizki
Maka perbanyaklah silaturahim

Lagi-lagi soal silaturahim yang banyak manfaatnya ini. Silaturahim tidak hanya kepada keluarga dan sanak famili terdekat saja, tapi juga kepada guru, ustadz, saudara, teman dan sahabat yang pernah bersama kita. Silaturahim mempertemukan sejuta rindu yang telah lama terpisahkan oleh ruang dan waktu

Silaturahim membuat ukhuwah akan terus merekah indah. Tali persaudaraan akan terus terikat menawan. Meski telah lama tak berjumpa, silaturahim hadir dengan membawa ragam cerita dan bernostalgia bersama. Mengenang masa-masa saat menjadi santri di pesantren ini.

Di jerambah ini terkenang kebersamaan saat mengaji dulu. Di madrasah teringat akan kegiatan belajar mengajar dan menimba ilmu kala itu. Belum lagi di bilik asrama yang telah menjadi tempat perjuangan dengan rekan-rekan santri yang lainnya. Halaman, kantor, lapangan, warung bu Atin, masjid agung dan semua tempat yang kita lalui dulu mempunyai kesan yang menawan. Rasanya ingin kembali memutar kenangan saat menjadi santri dulu.

Menjadi santri telah menjadikan para alumninya kokoh menghadapi kehidupan di masyarakat. Menjadi santri membuat pribadi mandiri, dan memahami arti hidup dan menebar kebaikan lewat jalan dakwah. Menjadi santri telah menjadikan alumninya bermanfaat dimana pun berada. Menjadi apapun profesinya, alumni santri mampu berpijak dengan prinsip yang diembannya untuk menjadi khoirunnas anfa'uhum linnas.

Foto: Halal Bi Halal Himpunan Alumni Santri Salafiyah Kauman Pemalang

===============================================================



Jika ingin air bersih dalam sumur
Untuk mengambilnya butuh tenaga
Jika ingin banyak rizki & panjang umur
Maka teruslah silaturahim dijaga

Silaturahim memang banyak manfaatnya. Selain kepada keluarga, sanak famili, guru hingga tetangga yang harus terus dijaga silaturahimnya, juga kepada kawan-kawan lama kita. Sahabat-sahabat yang dulu pernah satu sekolah bersama kita juga harus tetap kita jalin silaturahim dengan mereka.

Karena sudah lama tak berjumpa dengan mereka rasanya ada banyak perubahan dalam diri mereka. Meski sebagian sudah ada yang menikah dan berkeluarga tetapi moment reuni adalah kegiatan yang mampu membuat kita kembali bernostalgia mengenang masa-masa saat sekolah dulu bersama-sama.

Meski masing-masing sudah punya ragam kesibukan dan pekerjaan yang berbeda-beda pertemuan saat reuni atau perkumpulan sederhana ini mampu melahirkan spirit baru untuk menapaki jejak hidup selanjutnya. Saling berbagi cerita, berbagi pengalaman hidup dan bertukar pikiran dalam balutan canda tawa bersama mereka adalah sebuah ukiran kisah yang terjadi saat moment silaturahim alumni ini.

Terus berjuang sahabat-sahabatku. Untuk yang sudah berkeluarga semoga semakin sakinah mawadah warohmah dan dikaruniai keturunan yang sholeh-sholehah. Untuk yang masih jomblo semoga segera dipertemukan dengan jodoh terbaiknya...
https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f7f/1/16/1f60a.png😊
https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f7f/1/16/1f60a.png😊https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f7f/1/16/1f60a.png😊 Aamiin yaa robbal'alamin.
.
.
#JalinSilaturahim
#PereratUkhuwah

Sunday, 28 May 2017

Rahasia Dibalik Petir & Bakteri


Hujan selalu menghadirkan berjuta perasaan. Terlebih saat kabut hitam itu juga mendendangkan suara menggelegar. Aku duduk termenung di depan bilik asrama bambu. Kenapa setiap hujan turun terkadang diiringi juga dengan petir yang menyambar? Bagaimana bisa terjadi kilatan cahaya dan dentuman keras itu? Apa fungsi petir diciptakan? Bukankah cukup dengan hujan untuk menyuburkan tanaman? Lalu bagaimana dengan petir?
.
.
Rasa penasaran dan teka-teka tentang petir akhirnya terjawab saat saya membaca buku "Belajar Mikrobiologi dengan Petunjuk Al-Qur'an". Rasanya tepat sekali dengan kondisi saat sedang membaca buku tersebut bertepatan juga dengan suasana hujan yang diiringi pekikan petir. Lalu apa hubungannya petir dengan bakteri? Mari simak penjelasan singkatnya.
.
.
Penjelasan tentang petir dijelaskan dalam Al-Qur'an pada Surat Ar-Ra'd (guruh) ayat 12: "Dia yang memperlihatkan kilat kepada kamu, mebimbulkan ketakutan dan pengharapan, dan Dia yang mengadakan awan tebal". Berdasarkan ayat tersebut petir dibalik suaranya yang menakutkan, tapi ternyata juga menimbulkan harapan pada manusia.
.
.
Terkait bagaimana proses terjadinya petir secara ilmiah cukup panjang penjelasannya. Nah, ternyata dibalik gelegar suara petir yang menimbulkan rasa ketakutan ternyata petir juga menimbulkan terhantarnya gas nitrogen (N2) ke permukaan tanah. Semakin tinggi frekuensi kejadian petir, maka akan semakin banyak menghantarkan nitrogen ke permukaan tanah.
.
.
Unsur nitrogen adalah unsur hara makro esensial yang diserap tanaman dlm proses pertumbuhannya. Nah, gas nitrogen tersebut saat ke tanah akan difiksasi (diikat) oleh mikroorganisme (bakteri) tanah. Inilah kaitannya antara petir dan bakteri. Bakteri penambat N ini bersimbiosis dgn akar tanaman. Menurut Suprio Guntoro (penulis buku tersebut) bakteri-bakteri tersebut bekerja secara kolektif (berjamaah), sistematis, rapi dan konsisten. Keberadaan bakteri penambat N tersebut menyebabkan ketersediaan nitrogen dalam tanah terjamin, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan subur.
.
.
Itulah penjelasan singkat rahasia dibalik peran petir dan bakteri secara ilmiah berdasarkan petunjuk dari Al-Qur'an. Mari kita senantiasa mentadaburi Al-Qur'an.


Kota Hujan, 2 Ramadhan 1438 H / 28 Mei 2017

Saturday, 27 May 2017

Latih Adaptif, Agar Ramadhan Produktif


Tak terasa bulan yang dirindukan telah datang. Ramadhan namanya. Gimana rasanya? Senang atau sedih dengan hadirnya bulan puasa ini? Setiap kesan pertama harusnya menghadirkan perasaan yang istimewa. Gimana puasa di hari pertama kali ini? Lancar kan? Tidak ada kendala yang menghadang bukan? Sudah bikin target-targetan yang ingin diraih di bulan spesial ini belum? Pokoknya hari pertama itu pasti seru dan banyak pertanyaan. Tentunya kalau ngomongin soal puasa, yang harus pertama dilakukan adalah “adaptasi” menghadapi kebiasaan baru yaitu tidak makan dan tidak minum dari pagi hingga sore. Kenapa harus adaptasi?

Oya sebelumnya bagi yang belum tahu adaptasi, arti sederhananya adalah penyesuaian diri. Mengapa harus menyesuaikan diri (adaptasi). Iya, karena kita menghadapi hari yang tidak seperti biasanya, bukan? Tak hanya adaptasi dengan menahan lapar dan dahaga saja, tapi juga harus penyesuaian diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Karena dalam hadits pun sudah diingatkan bahwa banyak orang puasa tapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja, kenapa bisa terjadi?? Karena meski secara fisik puasa, tapi melakukan hal-hal yang dapat mengurangi esensi puasa itu sendiri, contohnya ghibah, dll. Bicara perihal adaptasi ini sangat penting sekali untuk menghadapi tempat baru, suasana baru, kondisi baru atau bulan baru seperti bulan Ramadhan yang teramat spesial ini. Sebelum bicara tentang adaptasi ini lebih jauh, mari kita sejenak belajar “adaptif” dari tanaman tomat.

Belajar Adaptif dari Tanaman Tomat

"Bukan yang terkuat yang mampu bertahan,
melainkan yang paling adaptif dalam merespons perubahan"
 (Charles Darwin dalam teori Survival of the fittestnya).


Sama seperti tanaman tomat dan mungkin juga dialami oleh tanaman lain. Kali ini saya ingin sedikit cerita tentang tanaman tomat yang saya pelihara saat ini. Mulai dari semai waktunya sama. Ditanam pada tanggal yang sama. Tumbuh di lahan tanah yang sama, yaitu depan asrama tempat tinggalku sekarang. Perlakuan diberi pupuk yang sama, yaitu saya kasih pupuk kandang (kotoran kambing). Saat musim panas dan jarang hujan, sorenya saya siram dengan air yang sama yaitu air kolam ikan yang berada persis di sebelahnya ini. Akan tetapi dalam berbunga dan berbuah tak sama.

            Begitu juga dengan kesuburan tanaman bernama ilmiah Solanum lycopersicum ini juga berbeda-beda. Meski perlakuan sama, tapi ada yang mudah layu saat kondisi panas menyengat. Ada juga yang tetap subur dan kokoh menghadapi cuaca tersebut. Kalau secara "tumbuh", semuanya tumbuh. Walaupun ada yang terhambat, ada yang lebat dan ada juga yang layu. Pun sama halnya dengan "berkembang"nya juga beda-beda. Itulah kehidupan tanaman tomat, meski menghadapi musim yang sama, berada di tempat yang sama, dan tinggal di tanah yang sama, tapi kehidupan subur dan segarnya berbeda. Inilah yang dinamakan adaptasi.

Tumbuh dan berkembang memang berbeda parameter. Bertumbuh itu soal kuantitas, sedangkan berkembang itu lebih ke kualitas. Dari pertumbuhan dan berkembangan tanaman tomat ini kita bisa ambil banyak pelajaran tentang adaptasi. Kemampuan adaptif tomat menjadi kunci keberhasilan bertumbuh & berkembang hingga menghasilkan buah yang siap untuk dipanen. Sama halnya dengan kehidupan kita. Kemampuan "adaptif" sangat diperlukan bagi diri kita dimana pun kita tinggal, kita bekerja dan kita hidup di lingkungan mana pun. Teruslah tingkatkan adaptif kita agar tetap produktif dalam berkarya. Lalu apa kaitannya adaptasi dengan Ramadhan yang sudah tiba ini? Mari kita simak pembahasan selanjutnya.

Agar Ramadhan Lebih Produktif

Kembali ke pokok bahasan kita tentang adaptasi di bulan Ramadhan. Ilustrasi tanaman tomat tadi hanya sebagai gambaran saja tentang pentingnya memiliki kemampuan adaptasi dalam hidup. Kenapa kita harus beradaptasi di bulan puasa? Sebagaimana kita ketahui bersama, saat kita puasa maka energi yang kita miliki jumlahnya terbatas. Maka kita harus pandai mengelolanya. Biasaya saat kondisi puasa, tubuh kita mudah mengantuk dan lelah secara fisik. Nah, disitulah kita harus beradaptasi. Tidak hanya tubuh saja yang harus beradaptasi, tapi kebiasaan dan pola hidup ita juga harus beradaptasi dalam beraktivitas seperti biasanya.

Meski kondisi kita sedang berpuasa, produktivitas kita harus tetap fight. Bukan banyak tidur dan banyakin diam tak bergerak hanya untuk menanti waktu berbuka tiba. Tapi tetap melakukan hal-hal seperti biasanya saat kondisi normal di 11 bulan sebelumnya. Disinilah kita harus pandai beradaptasi dengan bulan yang agung ini. Berikut ini ada tips-tips cara kita beradaptasi agar Ramadhan kita tetap produktif, yaitu:

1.      Buat target amal yaumi
Saat kita berpuasa, jangan sampai mengendurkan semangat kita dalam melakukan amal yaumi (ibadah harian) kita. Justru kalau bisa bertambah dan meningkat dibandingkan hari-hari biasanya, misalnya kalau biasanya baca Al-Qur’an cuma 3 lembar, saat Ramadhan minimal 1-2 juz / hari, sholat tahajud misalnya targetnya 4 rakaat tiap hari, sholat dhuha misalnya ditarget 4 rakaat per hari. Dan amalan sunnah lainnya. Kenapa harus dibuat target minimal? Agar kita menjadi terarah dan terjadwal dalam menjalani aktivitas selama Ramadhan. Buat target yang sederhana, tidak memberatkan dan kita enjoy bisa melaksanakan dengan baik target tersebut

2.      Buat target pencapaian sesuai passion kita
Selain membuat target amalan yaumi, kita juga perlu membuat target aktivitas lainnya yang sesuai dengan hobi dan passion kita. Misalnya: membaca buku targetnya 20 lembar per hari, meresensi buku seminggu sekali, menulis satu lembar per hari, membuat desain tiap hari, merancang eksperimen, dan lain-lain yang sesuai dengan bakat yang kita punya. Kenapa harus ditarget? Agar lebih terarah dan kita bisa mengisi waktu-waktu luang kita selama Ramadhan tersebut. Buat target yang simple dan kita bisa mengerjakannya secara konsisten

3.      Manajemen diri dengan baik
Ini adalah kunci utamanya. Jika kita ingin Ramadhan kita lebih produktif, maka kita harus pandai memanajemen diri kita dan manajemen waktu kita selama berpuasa tersebut. Manajemen diri mulai sehabis sahur hingga berbuka puasa, bahkan sampai malam sehabis sholat terawih. Kapan waktunya istirahat, menghadiri kajian, membantu orangtua, membaca buku dan aktivitas lainnya perlu kita atur dan kita manage agar puasa kita tetap berkualitas. Produktif tidaknya kita selama Ramadhan bergantung pada manajemen diri yang kita terapkan. Mumpung masih di hari pertama ini sudahkah kita memanagenya dengan baik? Sudahkah membuat targetan yang ingin dicapai selama 30 hari berpuasa ini? Jika belum, segeralah dibuat karena masih ada 29 hari lagi. Selamat beraktivitas menjalani puasa dengan penuh semangat dan tetap produktif.


Kota Hujan, 1 Ramadhan 1438 H (27 Mei 2017 M)

Thursday, 11 May 2017

Profil Guru Inspiratif 25 Finalis Literacy Awards


The mediocre teacher tells. The good teacher explains.
The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.
(Guru biasa, memberitahu. Guru baik, menjelaskan.
Guru ulung, memperagakan. Guru hebat, menginspirasi)
<<< William Arthur Ward >>>

Setiap pertemuan lahirkan sejuta kenangan yang tak bisa dilupakan. Pertautan antara rasa, gelora bahagia, dan untaian kebersamaan di bilik asrama SMP Cendekia Baznas ini masih saja terbersit dalam sanubariku. Apakah engkau dan kalian juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan ini? Hehe. Rasa-rasanya susah diungkapkan dengan deretan aksara ataupun diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin hanya hati yang bisa merasakan indahnya pertemuan diantara para guru inspiratif tersebut. Itulah secarik kesan yang membekas selama mengikuti rangkaian kegiatan Literacy Awards yang digelar oleh BAZNAS dan Republika ini.

            Seperti biasa kalau baru pertama ketemu, hal yang dilakukan adalah kenalan. Sembari ngobrol dan bertukar pengalaman, para finalis ini pun mengeluarkan oleh-oleh berupa makanan khas daerahnya masing-masing. Gazebo tak beratap yang berada di depan asrama SMP Baznas ini menjadi tempat nongkrong para guru inspiratif ini menghabiskan malam pertama kedatangan. Suasana malam Kota Hujan kala itu tampak bersahabat. Cuaca cerah ditemani oleh pancaran rembulan dan beberapa bintang menambah khidmat obrolan seru diantara para finalis tersebut.  

Aku merasa bersyukur bisa bertemu dengan para guru hebat ini. Guru-guru hebat dari berbagai jenjang mengajar, mulai dari pengajar TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Bahkan ada juga yang masih mahasiswa tapi sudah mengajar, hingga yang sudah berpengalaman menjadi guru sudah puluhan tahun. Mengapa mereka dikatakan guru-guru yang hebat? Seperti kata William Arthur Ward di atas, yaitu “The great teacher inspires”. Guru yang hebat adalah guru yang menginspirasi. Guru hebat adalah guru pembelajar yang senantiasa belajar dan mengembangkan kualitas dirinya. Karena bagi guru pembelajar, sepanjang hidupnya adalah belajar. Minal mahdi ilal lahdi. Long life education. Belajar sepanjang hayat.

Dalam kesempatan emas ini aku dipertemukan dengan para pendidik hebat, para guru pembelajar, dan guru pejuang yang menjadi finalis Literacy Award. Berasal dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke. Beda logat, beda dialek, tapi kalau sudah ngobrol jadi satu rasa yang asyik. Ingin tahu seperti apakah sosok para guru inspiratif tersebut? Para finalis ini sebelumnya telah melewati babak seleksi yang sangat ketat yaitu berupa membuat resensi buku “Ayah... Kisah Buya Hamka” dan membuat program inspiratif yang terisnpirasi dari buku karya Irfan Hamka tersebut. Berikut ini adalah profil singkat dengan program yang dibuat oleh 25 finalis tersebut.

1.      Ahmad Rusaidi
Akrab disapa dengan panggilan pak Arus (Ahmad-Rusaidi). Guru SMA asal Bantaeng, Sulawesi Selatan ini membuat program literasi berjudul “Sudut Baca As-Syifa”. Tujuannya yaitu mengoptimalisasi komunitas taman bacaan masyarakat yang dikelolanya. Terutama melalui cara-cara kreatif menambah sumber bacaan sehingga pengunjung tidak merasa bosan dan selalu ingin datang untuk mendapatkan hal baru.

2.      Ampuh Sejati
Guru muda yang masih berstatus mahasiswa ini juga menjadi pendidik di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Pria kelahiran Banjarnegara ini mengusulkan program literasinya berjudul “Madrasah Ayah”. Program ini hadir untuk mewadahi para ayah dan calon ayah menuju keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah dan barokah. Kegiatan ini dilaksanakan secara online dan offline dengan peserta yang terdiri atas dua kelompok, yaitu calon ayah yang belum menikah dan ayah yang sudah menikah namun belum memiliki anak

3.      Amna Wati
Guru SMA yang terletak di Kota Lhokseumawe ini menyusun program literasinya berjudul “Read Land”, yaitu sebuah taman baca nyaman yang dihiasi berbagai hiasan hasil kreasi tangan. Program ini bertujuan untuk mengajak, merangkul, sekaligus membuka pikiran generasi Sukma Bangsa Aceh menjadi jiwa yang mantap melangkah. Goresan karya tulisan guru muda ini bisa dibaca dan diakses selengkapnya dengan mengunjungi blognya: www.amnawatiamna91.blogspot.com

4.      Arifin
Guru SMP Negeri 255 Jakarta ini membuat program literasi berjudul “Kompetisi Gerakan Literasi”. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa SMP se-Jakarta, yang merupakan sebuah program membaca, meresensi dan mempresentasikan buku-buku karya Buya Hamka. Melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), guru Bahasa Inggris ini ingin sosok Buya Hamka dan karyanya menginspirasi guru dan siswa agar menjadi generasi yang gemar literasi.

5.      Asep Saeful Azhar
Guru SD Muhammadiyah Bandung ini membuat program literasi bertajuk “Catatan Harianku”.  Yaitu sebuah buku harian (diary) yang dibuat untuk membantu anak menjalankan kegiatan harian dengan baik. Tulisan guru sastrawan ini bisa dinikmati di www.asepazhar.blogspot.co.id

6.      Dian Riski Lestari
Guru SMAS Perguruan Cikini ini memiliki program literasi berjudul “Kampanye Baca Qur’an”. Sebuah program inspirasi memberantas buta huruf Qur’an pada remaja melalui kegiatan kampanye baca Qur’an di jalan saat Car Free Day (CFD), baca Qur’an di taman dan workshop tajwid. Alumni FE UNJ ini merupakan guru kreatif yang mengajar prakarya dan kewirausahaan.

7.      Dedi Sasmito Utomo
Guru SMKN 1 Kras, Kab. Kediri ini membuat program literasi berjudul “Taman Literasi”. Yaitu taman bacaan anak dan keterampilan (taman literasi), tempat anak-anak melakukan berbagai kegiatan mengasah keterampilan mulai dari membaca, membatik dan kegiatan lainnya.

8.      Desi Triyani
Guru SD SMART School Al-Haamidiyah Jagakarsa Jakarta Selatan ini membuat “Project Film Pendek Tokoh Islam” sebagai program literasinya. Project ini merupakan sebuah program yang terintegrasi dengan pembelajaran. Siswa belajar mengenai cinematografi sederhana, setelah sebelumnya melakukan studi pustaka dari tokoh Islam inspiratif pilihannya. Tulisan guru muda inspiratif ini bisa diakses di blognya: www.valuejourney.wordpress.com

9.      Elys
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Binjai ini mengusulkan “Sekolah Menulis Kreatif” sebagai program literasinya. Sebuah program pelatihan menulis yang memiliki target menerbitkan satu buku antologi cerpen dan puisi bersama yang mengangkat satu tema spesifik tentang lokalitas budaya Binjai.

10.  Fitra Syaifullah
Guru SD asal Binjai, Sumatera Utara ini membuat program “Care and Share Garden” dalam Literacy Awards kali ini. Kebub berbagi dan peduli. Program inspirasi berupa pengelolaan kebun oleh siswa kelas IV-VI yang hasilnya dibagikan untuk para sivitas akademika sekolah tersebut.

11.  Hakkin Nizar
Teman satu kamar saya dan satu perjuangan bersama sebagai guru di SMA Plus Liwaul Furqon Bogor. Guru pengampu pelajaran fisika ini mengusulkan program “Young Leaders”. Yaitu program pembentukan karakter dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan bagi siswa yang bertolak pada 2 kegiatan yaitu Workshop Leadership dan Philantropy Leadership. Untuk membaca goresan karyanya bisa dinikmati di www.hakkin-nizar.blogspot.com

12.  Henny Tahura
Guru SMPN 1 Binjai ini membuat program “Pelatihan Menulis Inspiratif” yang menjadi finalis dalam Literacy Awards kali ini. Program tersebut bertujuan untuk mengasah kemampuan siswa dalam berkarya bagi siswa SMP yang akhirnya menghasilkan satu antologi cerpen bersama sebagai salah satu goal dari program ini.

13.  Heru Budi S
Guru SMA Pembangunan Satu (Pesat) Bogor ini membuat program “Literasi Jurnalis Pelajar Islam”. Sebuah inspirasi program berupa kegiatan Workshop sehari selama 6 jam untuk mencetak jurnalis pelajar Islam yang handal sebagai juru dakwah di mading, media sosial dan media massa. Materi workshop terdiri dari 2 jam tentang menulis itu menyenangkan dan bernilai dakwah, 2 jam langsung praktek menulis dan 2 jam diskusi membahas hasil tulisan

14.  Karlina Aprimasyita
Guru SD asal Lampung ini menyusun program literasi berjudul “Gerakan Baca Qur’an dan Salim Ayah”. Gerakan baca Qur’an sebelum tidur dan salim ayah dipersembahkan untuk anak pemulung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah Bakung di Bandar Lampung. Gerakan untuk memulai mengenal Qur’an dan membangun hubungan anak-ayah melalui mencium tangan (salim) sebelum aktivitas. Goresan aksara karya guru muda ini bisa dibaca di www.jagoanhamster.blogspot.co.id

15.  Laily Nurtawajjuh
Guru yang satu ini merupakan kakak setingkatku di Sekolah Guru Indonesia (SGI). Saya SGI 6, sedangkan mbak Laily SGI 4. Aktivis SGI yang kini menjadi fasilitator program SMT (School of Master Teacher) SGI di wilayah Lombok membuat program literasi berjudul “Pustaka Masjid”. Sebuah program yang berupaya menghidupkan masjid melalui fasilitas perpustakaan. Goresan pena karyanya bisa dibaca di blognya: www.senseipetualang.xyz

16.  Maya Septina
Guru Bahasa Inggris MAN 21 Jakarta Utara ini membuat program literasi dengan judul “Writing is My Need” yang bertujuan untuk melejitkan kecerdasan literasi siswa menuju MAN 21 emas. Program pembiasaan membaca bagi siswa yang dilakukan secara bertahap setiap hari

17.  Maulana Firdaus
Mahasiswa tingkat akhir sekaligus sudah mengajar juga di Pesantren Man Ana Bogor ini memiliki program literasi berjudul “Pengembangan Hidroponik”. Program kewirausahaan pertanian ini bersinergi dengan petani di lingkungan sekolah. Sebelumnya program hidroponik ini sudah dikembangkan di sekolah tempat guru muda ini mengajar. Penggunaannya sampai saat ini baru sebatas untuk konsumsi warga sekolah.

18.  Muhammad Hairul
Guru SMPN 1 Klabang Bondowoso, Jawa Timur ini menyusun program literasi berjudul “Reading Emergency Zone (REZ)” yang bertujuan untuk membangun budaya literasi di lingkungan sekolahnya. REZ merupakan areal membaca darurat yakni memanfaatkan lokasi istirahat siswa di sekolah dengan memberikan berbagai bacaan ringan. Lokasi REZ memanfaatkan gazebo yang sudah ada dan tempat-tempat strategis yang sering digunakan siswa-siswi berkumpul. “Dalam dunia literasi, dosa guru bila tidak menyediakan bacaan berkualitas, dan dosa siswa bila tidak membacanya”

19.  Prima Rafika
Guru SMA IT Nurul Fikri Depok ini memiliki program literasi berjudul “One Month One Book” atau disingkat OMOB, yaitu membaca buku biografi pahlawan nasional. Setelah membaca biografi, siswa diwajibkan untuk membuat resensi atau sinopsis buku yang telah dibaca. Setelah itu, dua orang siswa berbagi hikmah di depan teman-temannya dari buku yang telah dibaca dan masing-masing siswa tersebut juga menempelkan daun pada pohon literasi.

20.  Rizki Aji Hertantyo
Guru SMA Future Gate Bekasi ini membuat program literasi “Sekolah Berbagi, Tetangga Terhargai”. Sebuah program berbagi bagi mereka yang melintas di depan sekolah yang membutuhkan. Program ini terinspirasi dari kisah Buya Hamka yang mengajak tukang susu dan tukang pisang berbuka bersama di rumah mereka.

21.  Risyca Nova Pujiastuti
Alumni jurusan biologi UIN Syarif Hidayatullah ini merupakan seorang guru SD yang kepala sekolahnya adalah ayahnya sendiri. Guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SDN Depok Baru ini membuat program literasi berjudul “Library Corner”, yaitu pojok perpustakaan di dalam kelas yang dilengkapi dengan sticky notes, pesan kesan yang ditempel di dinding untuk memotivasi siswa. Untuk mengetahui goresan karyanya bisa mengunjungi blognya: www.antararisycadantweety.blogspot.co.id

22.  Siti Zulaedah
Pegawai honorer yang menjadi humas Institut Pertanian Bogor ini memiliki program literasi berjudul “IPB Mengajar”. Program ini ditujukan bagi 17 anak yatim dan 10 dhuafa yang berada di lingkungan rumah untuk meningkatkan kualitas keagamaan (memahami Qur’an) dan kualitas pendidikan. Sedangkan tenaga pengajarnya juga melibatkan beberapa mahasiswa IPB sebagai volunternya. Peraih Kartini Masa Kini Baznas 2017 ini juga aktif menulis di blognya: www.zulehumas.blogspot.co.id

23.  Tri Haryanto
Guru muda asal Tulungagung, Jawa Timur ini memiliki program literasi berjudul “Sadhajiwa” yang merupakan sebuah forum sastra yang telah dimulai sejak Februari 2017. Keberadaan paguyuban ini diharapkan mampu menaungi serta mendorong minat baca tulis masyarakat, utamanya mengenai kesusastraan dan kebudayaan nasional

24.  Titis Sekti W
Pendidik PAUD ABA Nurul Hidayah Surakarta ini membuat program literasi berjudul “Sekolah Orang Tua dan Program Cerita Ayah”. Sebuah program edukasi kepengasuhan dan pelibatan ayah melalui kewajiban membaca buku cerita pada anak sebelum tidur.

25.  Iin Amrullah (Pemilik blog ini, hehe)

Guru Biologi dan Pembina KIR SMA Plus Liwaul Furqon Bogor ini membuat program literasi berjudul “Coaching Literasi Santri”. Bentuk kegiatan ini terdiri atas 3 jenis yaitu workshop literasi, khalaqoh literasi dan literasi award bagi santri di lingkungan sekolah. Goresan aksara lainnya dan secarik inspirasi pena dari pemilik nama pena Kang Amrul ini bisa dibaca di blog ini: www.kang-amrul.com