Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 21 September 2020

Review Buku "Jungkir Balik Pers"



Judul Buku : Jungkir Balik Pers

Penulis : Nasihin Masha

Penerbit : Republika Penerbit

Jumlah halaman : xxiv + 187 hlm

Isi review:

Hanya liputan yang kuat dan editing yang matang yang akan menjadikan semua tulisan bernyawa, bertenaga dan akhirnya menginsipirasi. Begitu salah satu poin yang diulas sang penulis buku ini. Ulasan yang menarik, dibumbui dengan data-data empirik dan disampaikan dengan diksi yang renyah khas jurnalistik.

Sesuai dengan judulnya "Jungkir Balik Pers", buku ini memberikan gambaran nyata tentang kompleksitas persoalan yang dihadapi dunia pers, baik di dunia maupun di Indonesia. Mulai dari sejarah pers dari masa ke masa, hingga  situasi pers di tengah masa pandemi ini.

Prolog buku ini diawali dengan pendahuluan yang cukup panjang tentang pers di Era Post Truth. Diawali dengan perkembangan media di era reformasi, terjadi booming media. Mulai dari munculnya tabloid hingga berkembangnya media cetak. Seiring dengan munculnya internet, media cetak mulai menderita dengan menjamurnya media online. Pers terdisrupsi medsos. Banyak media cetak yang gulung tikar, ada yang mengurangi jumlah halaman cetaknya, bahkan ada yang menutupnya. Masa pandemi memperhebat penderitaan pers

Membuat media di era digital jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan di era media cetak. Gambaran terhadap masa depan pers juga diulas dalam buku ini. Di masa depan teknologi bisa mengungguli manusia. Jika di masa lalu homo Sapiens berhasil menaklukkan dunia, maka di masa depan manusia menjadi tak dominan ketika big data menjadi paradigma, menggantikan humanisme.

Perkembangan media di dunia juga menjadi ulasan menarik dalam buku ini. Penulis menceritakan hasil pengalaman perjalanannya sewaktu mengikuti program Internasional Visitor Leadership bidang media cetak atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Pada bagian ini terbagi menjadi 3 judul tulisan yang berisikan tentang perkembangan media di Amerika yang dilengkapi dengan data-data pendukungnya.

Jurnalisme unggul hanya lahir dari pelatihan yang ketat, disiplin yang kuat, wawasan yang dalam, keteguhan sikap, independensi, dan keterampilan tinggi. Tradisi tak lahir seketika. Ia lahir dari keseharian di rel jurnalisme sejati. Butuh wartawan-wartawan andal dan berkarakter. Untuk bisa survive di tengah arus teknologi ini, media harus bisa beradaptasi dan membuat inovasi atau terobosan baru yang relevan sesuai dengan kebutuhan zaman.

 

#bukurepublika

#OMOB_RRS

#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare

Thursday, 17 September 2020

Guru Kreatif, Pelita di Tengah Pandemi Covid-19

Ruang-ruang kelas itu kini menjadi sunyi. Tak ada lagi aktivitas peserta didik di setiap sudut sekolah. Padahal PTS (Penilaian Tengah Semester) saja waktu itu belum dimulai. Anak-anak boardingschool terpaksa harus dipulangkan lebih awal sebelum waktunya liburan tiba. Pulang bukan untuk berlibur, tapi dipindahkan belajarnya dari rumah masing-masing. Siswa tetap melakukan learning from home atau belajar dari rumah. Para guru pun tidak diwajibkan berangkat ke sekolah lagi, tapi harus tetap bekerja dari rumah atau work from home. Guru mengajar dari rumah, dan siswa juga tetap belajar dari rumah masing-masing. Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Sesuai anjuran pemerintah, masyarakat dihimbau untuk belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan melakukan ibadah di rumah masing-masing.

Kegiatan pembelajaran tak lagi dilakukan secara klasikal atau tatap muka langsung di ruang kelas, tapi dilakukan secara virtual dalam jaringan (daring). Kehadiran guru kreatif di tengah pandemi Covid-19 ini sangat dibutuhkan. Karena harus menghadapi situasi yang baru, guru pun harus kreatif dalam menerapkan strategi pembelajarannya. Kenapa guru harus kreatif? Karena guru adalah aktor utama dalam pembelajaran. Keberlangsungan proses pembelajaran kunci utamanya ada di tangan guru. Guru yang kreatif adalah guru yang bisa survive di tengah pandemi dan mampu beradaptasi menggunakan berbagai metode pembelajaran. Sebagaimana sebuah ungkapan berikut: “bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang PALING ADAPTIF dalam merespon perubahan”, begitu penjelasan teori Survival of The Fittest yang dibangun Charles Darwin. Sama halnya dengan pembelajaran jarak jauh, diperlukan guru yang kreatif dan adaptif dalam menerapkan pembelajarannya.

Demi keberlangsungan pembelajaran jarak jauh guru kreatif harus berinovasi dan mencoba metode yang baru sesuai kondisi yang ada. Guru dituntut harus menguasai berbagai aplikasi pembelajaran yang menggunakan teknologi. Mau gak mau guru kreatif harus mempelajari aplikasi pembelajaran daring tersebut sebelum diterapkan kepada peserta didiknya. Guru kreatif sebagai guru pembelajar harus menguasi berbagai macam aplikasi/media pembelajaran daring. Pelajari secara otodidak bisa melalui youtube, mengikuti webinar yang diadakan oleh institusi tertentu. Bagi guru kreatif, tak ada kata terlambat karena jiwanya terus bersemangat dalam belajar. Salah satunya Webinar “Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kemdikbud RI. Salah satu poin penting dari webinar tersebut adalah tentang mengelola pembelajaran adaptif, fleksibel dan akomodatif. Hal ini bisa dilakukan jika guru itu kreatif, terus belajar dan terus berinovasi dalam pembelajarannya.

Guru kreatif adalah guru pembelajar yaitu guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang professional. Mempelajari hal baru adalah sebuah keharusan bagi guru kreatif. Pembelajar sejati adalah spirit juangnya yang tak pernah padam. Meski berada dalam situasi yang sulit, guru harus tetap berjuang mencerdaskan anak bangsa. Meski raga terpisahkan oleh jarak dan ruang yang berbeda, guru kreatif akan terus berkreasi dalam melaksanakan amanahnya. Meski jauh di mata, namun dekat di hati. Karena guru kreatif adalah pelita di tengah pandemi. Kehadirannya ibarat pelita yang memancarkan ilmu pengetahuan bagi peserta didiknya. Maju terus guru kreatif, sang pembangun insan cendekia. Bangga jadi guru. Guru berkarakter. Menggenggam Indonesia.


#CerdasBerkarakter, 

#BlogBerkarakter, 

#SeruBelajarKebiasaanBaru, 

#BahagiaBelajardiRumah 


Thursday, 30 April 2020

Sedekah Berbuah Berkah



Jalan-jalan ke pasar ikan
Jangan lupa membeli nila
Siapa yang suka menebar kebaikan
Akan dibalas dengan kebaikan pula

Berbuat baik itu mudah, tetapi terkadang berat untuk melakukannya. Ringan diucapkan, tapi sulit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perlu dibiasakan sejak kecil. Perlu dilatih setiap hari agar bisa menjadi karakter yang melekat dalam diri. Tanpa pembiasaan, akan sulit diterapkan. Padahal banyak sekali manfaatnya jika kita menebar kebaikan kepada sesama. Dengan kebaikan yang kita tebarkan, orang lain bisa merasakan kebahagiaan yang tak terkira dan kebermanfaatan yang tak terukur harganya. Dari mana memulainya? Mulai dari diri sendiri. Mulai dari keluarga sendiri. Orangtua harus menjadi teladan bagi anaknya dalam pendidikan karakter #BerbuatBaik ini.

Menebar kebaikan ibarat menanam tanaman. Seperti pepatah Arab yang berbunyi: “Man yazro’ yahsud” yang artinya siapa yang menanam, akan menuai yang ditanam. Begitu juga dengan menebar kebaikan, kita tidak akan rugi jika kita rajin menebar kebaikan (dalam bentuk apapun), justru akan mendapatkan balasan kebaikan melebihi yang kita tebarkan tersebut. Kenapa kita harus menebar kebaikan? Mungkin terkadang terbersit pertanyaan seperti ini dalam hati kita. Berikut ini ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang berbuat baik dan bisa menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut.
1.      “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Baqarah : 195)
2.      “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (Q.S. Ar-Rahman: 60)
3.      “Barangsiapa yang berbuat kebaikan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Q.S. Az-Zalzalah: 7-8)
4.      “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-A’raf: 56)
5.      “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri” (Q.S. Al-Isra: 7)

6.      “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan) oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 261)

Dari keenam ayat tersebut semoga bisa menjadi motivasi yang kuat bagi kita untuk tetap istiqomah menebar kebaikan dimanapun kita berada. Dengan menebar kebaikan, manfaatnya tidak hanya kita rasakan di dunia saja tapi juga di akhirat kelak.

Apa saja contohnya? Banyak sekali perbuatan yang bisa kita lakukan dalam rangka #MenebarKebaikan. Mulai dari hal yang terkecil seperti senyum kepada orang lain, berkata yang baik, sopan santun, membantu orang lain, bersedekah / berdonasi, memuliakan tamu, memuliakan tetangga dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Melalui tulisan ini, saya tidak akan menjelaskan terlalu panjang tentang contoh-contoh tersebut. Tapi saya akan sedikit bercerita tentang salah satu contoh saja dari aktivitas mulia bernama #MenebarKebaikan, yaitu tentang sedekah. Cerita ini berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami dan saya rasakan sendiri.

Sedekah adalah hal yang paling mudah kita lakukan dalam rangka membantu orang lain yang membutuhkan. Sedekah paling sederhana adalah senyum. Sebagaimana hadits nabi: “Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqotun” yang artinya senyummu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh. Dengan tersenyum akan melahirkan hubungan yang baik dan harmonis. Senyuman adalah energi yang terpancar dari hati yang bersih. Saat kita tersenyum kepada orang lain, maka akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman di hati orang tersebut. Tersenyum tentu sangat mudah kita lakukan bukan? Asalkan tidak senyum sendiri saja di kala sendirian, hehe.

Sedekah juga merupakan salah satu amalan yang pahalanya tidak akan terputus meskipun orangnya telah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Rasulullah yang berbunyi: "Jika seseorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh." (HR. Muslim). Saya pertama kali mendengar hadits ini waktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu saya pun hafal tentang hadits ini, tapi hingga saya remaja masih jarang mempraktekkan sedekah tersebut. Kalau pun sedekah, terkadang hanya sedikit sekali nominal yang disedekahkan. Padahal orangtuaku sudah banyak mengajarkan dan mencontohkan sedekah kepada orang lain.

Ini Ceritaku Tentang #SedekahBerbuahBerkah

Setelah saya banyak belajar menimba ilmu agama dan berkaca dari pengalaman, ternyata sedekah itu memang banyak manfaatnya. Saat kita rajin bersedekah (berapa pun nominalnya dan dalam bentuk apapun), saya merasakan mendapatkan kebahagiaan dalam bentuk yang beragam. Kebahagian tersebut bisa dalam bentuk ketenangan batin, kesempatan, prestasi atau kemudahan dalam hal yang tak terduga. Salah satunya seperti kisah yang saya alami berikut ini.

Kisah ini saya alami pada tahun 2014 silam. Saat itu saya sedang bertugas sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) di Halmahera Utara. Saat pengabdianku di daerah terpencil tersebut memasuki purnama ke-10 (April 2014), aku memenangkan sebuah perlombaan menulis juara 1 dan mendapatkan hadiah dari panitia. Saat itu saya bertekad untuk menyedekahkan sebagian dari hadiah tersebut kepada salah satu guru honorer yang ada di sekolahku bertugas. Pada saat yang bersamaam juga, aku sedang mendaftar sebuah ajang pelatihan leadership tingkat nasional yang bernama Forum Indonesia Muda (FIM). Sebelumnya saya pernah mendaftar FIM saat masih kuliah yaitu pada tahun 2011 dan 2012, tapi keduanya gagal.

Mungkin dengan sedikit sedekahku kepada guru honorer tersebut bisa sedikit membantu beban hidupnya. Saat saya memberikan uang kepada guru honorer yang bernama Sulaeman Palias tersebut, beliau mengucapkan terima kasih dan tersimpul aura bahagia di wajah beliau. Kenapa saya memberikannya kepada beliau? Karena beliau merupakan guru honorer yang paling tua di tempatku bertugas. Dan selama interaksiku dengan beliau, beliau merupakan guru yang paling aktif meskipun beliau digaji minim yang terkadang dikasihnya 3-6 bulan sekali baru dicairkan. Tentang kisah guru honorer tersebut sampai saya buatkan tulisan khusus dengan judul: “Guru Teladan itu Bernama Eman”. Tulisan tersebut juga dimuat di koran Malut Post waktu itu.

Singkat cerita, pada bulan berikutnya tibalah pengumuman FIM yang dinanti-nanti. Waktu itu bertepatan dengan jadwalku untuk mengirimkan laporan bulanan ke kota Ternate. Butuh waktu 10 jam naik kapal dari tempatku bertugas menuju ke Ternate. Saya  membuka pengumuman hasil FIM tersebut dan ternyata alhamdulillah saya dinyatakan lolos.

Alhamdulillah, luar biasa dahsyat! Dengan sedekah, rejeki melimpah. Tentunya ditambah keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Awal mula sudah bertekad 15% dari hadiah prestasi menulis, aku sedekahkan kepada salah satu guru honor di tempatku bertugas. Tiada balasan kebaikan selain kebaikan pula. Kemarin ada kejutan dari kepsek dan beberapa warga. Kali ini, hati ini terasa berbunga-bunga seperti mimpi. Alhamdulillah, dari 7394 pendaftar aku termasuk yang lolos 130 orang untuk FIM 17. Ikhtiar, tekad dan sedekah” begitulah ungkapan rasa yang saya update di facebook kala pertama kali dinyatakan lolos sebagai peserta FIM-17.

Apakah lolos FIM-17 ini karena sedekah itu? Wallahu a’lam. Disini saya sama sekali tak bermaksud untuk pamer, tapi melalui tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman bahwa sedekah itu memang dahsyat. Sebenarnya jika diceritakan tentang sedekah dan kaitannya masuk FIM ini ceritanya panjang. Apa yang kita berikan, itulah yang kita dapatkan. Sekali lagi bulan yang penuh dengan kejutan ini adalah bukan kebetulan semata, tapi semua ini sudah diskenariokan oleh Sang Sutradara kehidupan ini, yaitu Allah SWT. Tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan apakah positif akan berangkat ke Jakarta? Bagaimana dengan ongkosnya? Oke, iya! Tetap berangkat walaupun dengan uang pribadi. Uang tak masalah, tapi ilmu dan kesempatan ini jangan disia-siakan. “Opportunity is NO WHERE, but opprtunity is NOW HERE”, pikirku waktu itu. Mau gak mau saya juga harus cuti dari tugasku sebagai relawan SGI. Waktu itu sebelumnya saya mengajukan proposal dana ke manajemen SGI untuk berangkat ke Jakarta nanti, tapi ternyata tidak bisa memberikan bantuan dana. Oke, tak masalah, karena waktu itu motivasiku untuk ikut FIM adalah belajar, meningkatkan kualitas diri,  skill leadership, menambah relasi, dan tentunya pengalaman yang pastinya bakalan seru.

Singkat cerita semua biaya transport kapal, mobil dan pesawat ditanggung sendiri untuk ikut FIM. Aku harus melewati 3 jalur (laut, udara, darat). Kapal dari Loloda Kepulauan-Ternate (12 jam), tiket pesawat Ternate-Jakarta PP, Bandara Soeta-Taman Wiladatika. Oke, berangkat dari Indonesia Timur menuju Indonesia Barat. Ada cerita menarik saat aku berangkat FIM-17 ini. Kejadian ini terjadi saat aku berada di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Karena waktu itu saya bawa banyak buku hampir 30 kg padahal jatah bagasi hanya 20 kg. Buku-buku ini adalah titipan teman dan sebagian punyaku juga yang akan dibawa pulang terlebih dahulu ke Bogor. Over bagasi 12 kg (belum termasuk ransel), seharusnya dikenai biaya tambahan 540.000. Tapi kali ini GRATIS”. Saya sangat kaget waktu petugas bandara bilang seperti itu kepadaku. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Yang pasti, ini juga bukanlah kebetulan semata. Tapi, semua ini adalah skenario dan kehendak-Nya”. Apakah hal ini juga efek dari sedekahku kepada guru honorer? Wallahu a’lam. Itulah kebahagiaan yang tak disangka-sangka datangnya.

Entah kenapa rasanya, senangnya luar biasa bisa ikut FIM. Walau kebanyakan pesertanya adalah mahasiswa S1 tingkat 2-3. Kegiatan FIM ini berbeda dengan event-event nasional yang pernah aku ikuti. Walau secara konten hampir sama dengan kegiatan leadership camp yang pernah aku ikuti, tapi di FIM ini sangat berbeda. Yang khas dari FIM adalah rasa kekeluargaannya dan semangat berkolaborasinya untuk membangun bangsa. Itu yang aku rasakan selama berlangsungnya kegiatan FIM-17.

Siapa yang berbuat baik untuk orang lain, maka dia adalah berbuat baik untuk dirinya sendiri. In ahsantum, ahsantum li’anfusikum. Kalau pepatah Cina mengatakan “jika ingin bahagia seumur hidup, maka tanamlah SDM dan bantu orang lain”. Itulah salah satu materi menarik dari Pak Eri Sudewo dan dr. Jose Rizal Jurnalis. Tak cukup itu saja, pemateri-pemateri FIM-17 adalah tokoh-tokoh hebat yang berkarakter. Sebut saja orangnya seperti Jamil Azzaeni, Renald Kasali, Imam Gunawan, Bambang Wijayanto, Jimly Assidliki, Helvy Tiana Rosa, Erik Elson dan masih banyak lainnya, serta alumni-alumni FIM yang telah sukses Berjaya dan berkiprah dengan passionnya masing-masing.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan
yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”




Sunday, 29 December 2019

Rajut Kolaborasi Membangun SDM Unggul dan Produktif


Kualitas sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan masa depan bangsa. SDM yang unggul dan berdaya saing akan mengantar Indonesia
sejajar dan disegani bangsa lain
(B.J. Habibie – Presiden ke-3 Indonesia)


Sumber daya manusia merupakan aset penting bagi suatu bangsa. Maju atau mundurnya sebuah peradaban bangsa kunci utamanya adalah memiliki sumber daya manusia yang unggul. Menurut Ratonggi Siregar (2017) kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi syarat mutlak untuk melaksanakan pembangunan. Setiap manusia dituntut kompetensi individunya untuk berinovasi guna memacu pembangunan ekonomi di segala bidang. Meningkatkan kualitas SDM merupakan investasi manusia jangka panjang, karena setiap orang menempuh jalur pendidikan tidak secara otomatis menjadikan dirinya berkualitas. Masih diperlukan proses dalam dunia kerjanya menuju ke jenjang yang lebih ahli atau berkualitas.

Mengingat begitu pentingnya kualitas sumber daya manusia tersebut, pemerintah Indonesia saat ini mencanangkan visi pembangunan sumber daya manusia. SDM Unggul menjadi prioritas utama pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat memberikan pidato pertamanya setelah resmi dilantik sebagai Presiden periode 2019 – 2024. Beliau menyampaikan 5 poin utama yang akan dikerjakan selama 5 tahun ke depan. Poin pertama adalah pembangunan SDM akan menjadi prioritas utama. Membangun SDM yang terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengundang talent-talent global untuk bekerja sama dengan pemerintah. Kerja sama dengan industri juga penting dioptimalkan serta penggunaan teknologi yang mempermudah jangkauan ke seluruh pelosok negeri (https://www.setneg.go.id).

Pembangunan sumber daya manusia menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia bila mencermati data yang dikeluarkan Bank Dunia, dimana pada tahun 2018 Bank Dunia menyebutkan bahwa kualitas SDM Indonesia berada di peringkat 87 dari 157 negara. Sementara itu, di tahun yang sama, Business World memaparkan bahwa peringkat daya saing SDM Indonesia berada di ranking 45 dari 63 negara. Peringkat ini masih kalah dari dua negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia yang masing-masing berada diperingkat 13 dan 22 (Eddy Cahyono S., 2019). Berdasarkan data peringkat tersebut, sudah seharusnya kita berbenah diri dan mengevaluasi kinerja yang sudah dilakukan, setelah itu diperlukan adanya kolaborasi yang solid antara pemerintah dengan semua pihak terkait untuk merumuskan kebijakan dan program yang tepat untuk meningkatkan indeks kualitas SDM tersebut.

Minimal ada empat kebijakan pokok dalam upaya peningkatan sumberdaya manusia (SDM), yaitu : (1) Peningkatan kualitas hidup yang meliputi baik kualitas manusianya seperti jasmani, rohani, dan kejuangan, maupun kualitas kehidupannya seperti perumahan dan pemukiman yang sehat; (2) Peningkatan kualitas SDM yang produktif dan upaya pemerataan penyebarannya; (3) Peningkatan kualitas SDM yang berkemampuan dalam memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai IPTEK yang berwawasan lingkungan, serta (4) Pengembangan pelantara yang meliputi kelembagaan dan perangkat hukum yang mendukung peningkatan kualitas SDM. Secara oprasional, upaya peningkatan kualitas SDM dilaksanakan melalui berbagai sektor pembangunan, antara lain sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, kependudukan, tenaga kerja, dan sektor-sektor pembangunan lainnya (Mulyadi S, 2003:2). Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, tak bisa hanya dengan mengandalkan satu sektor pembangunan saja (misalnya hanya sektor pendidikan), akan tetapi harus bersinergi dan menjalin kolaborasi dengan sektor-sektor yang lainnya. Tidak hanya tugas pemerintah, tapi semua elemen masyarakat harus turut serta membangun SDM sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Untuk mewujudkan “SDM UNGGUL, INDONESIA PRODUKTIF” menurut penulis yang paling utama adalah melalui PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS. Untuk mewujudkan pendidikan berkualitas bukan cuma tugas Kemendikbud semata, tapi harus didukung oleh pihak-pihak lain mulai dari keluarga yang literat, lembaga pendidikan (sekolah hingga perguruan tinggi), masyarakat yang peduli dan dukungan stakeholder. Semua elemen tersebut harus saling bersinergi dan berkolaborasi dalam mencapai visi tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan aspirasi, harapan, dan saran kepada pemerintah yang baru untuk mewujudkan visi Indonesia (Pembangunan Sumber Daya Manusia) sebagai berikut:

1.     Penguatan Pendidikan Literasi Keluarga

Keluarga merupakan ujung tombak pembangunan karakter bagi setiap anak dan menjadi tempat pertama pendidikan penguatan sumber daya manusia itu terbentuk. Ibarat bangunan, keluarga adalah pondasi awal dalam membentuk karakter seseorang. Bahkan Presiden Joko Widodo dalam pidatonya mengatakan bahwa keluarga dan lembaga pendidikan menempati peran sentral dalam pendidikan bagi anak-anak. Sebagaimana tercantum dalam infografis berikut ini:

Sumber: https://www.validnews.id/Infografis-Mencetak-SDM-Unggul-Indonesia-OQ
Apa saja yang harus dilakukan keluarga agar mampu menjadi tempat penguatan pendidikan karakter dan membangun SDM unggul dari rumah? Ada beberapa saran dari penulis untuk menjadikan keluarga yang literat bagi anak-anaknya, yaitu:

  1. Menjadi orangtua yang literat
Karena orangtua adalah teladan bagi anak-anaknya, maka orangtua harus menjadi contoh terbaik dan panutan utama bagi anak-anaknya. Hal ini harus dimulai sejak pertama kali menikah. Antara suami dan istri harus memiliki kekompakkan dalam hal pendidikan di keluarganya. Pasangan suami tersebut harus memiliki visi-misi pendidikan keluarga, program literasi keluarga, suka membaca, pola pengasuhan dan harus senantiasa mengupgrade diri dengan mengikuti seminar parenting misalnya. Sejatinya orangtua juga harus menjadi orangtua pembelajar yang rajin menuntut ilmu dan mengembangkan kualitas dirinya. Karena dari orangtua yang berkualitas, akan melahirkan anak-anak yang berkualitas pula. Sesuai dengan didikan dan pengasuhan dari orangtua literat tersebut.

  1. Memiliki perpustakaan keluarga
Sebagai orangtua yang literat sudah seharusnya memiliki koleksi-koleksi buku yang dibutuhkan anak-anaknya. Orangtua harus menyisihkan uangnya guna membeli kebutuhan buku bacaan bagi anak-anaknya di rumah. Orangtua harus mampu sedikit demi sedikit membeli buku, hingga akhirnya memiliki perpustakaan keluarga sendiri. Memang tak mudah untuk membangun perpustakaan keluarga, karena sebagaimana kita ketahui harga buku anak-anak memang sangat mahal harganya. Bagi orangtua literat, hal tersebut bukanlah kendala yang berarti, karena saat ini kita bisa membeli buku anak-anak yang harganya bisa jutaan dengan cara sistem arisan buku dengan keluarga yang lain. Inilah salah satu solusi untuk bisa membeli buku dengan sistem arisan. Atau bisa juga membeli buku dalam jumlah satuan, misalnya rutin 1 bulan membeli 2-3 buku.

  1. Mendampingi anak-anak belajar di rumah
Orangtua harus mengalokasikan waktu khusus untuk mendampingi anak-anak saat belajar. Bisa dengan membacakan buku cerita atau dongeng untuk anak-anak dan aktivitas lainnya. Orangtua harus bisa mengatur anak-anak kapan untuk belajar, kapan untuk bermain dan kapan untuk waktunya istirahat. Terlebih di zaman teknologi saat ini tantangannya adalah dalam penggunaan gadget pada anak-anak. Orangtua harus bisa membatasi anak-anak dalam menggunakan gadget atau gawai. Seperti kebijakan Kemendikbud tentang literasi dalam keluarga. Literasi yang kuat dan disiplin dalam keluarga dilakukan dengan gerakan 1820. Gerakan literatif yang digagas oleh Kemendikbud ini mengajak masyarakat mengurangi pemakaian gawai pada pukul 18:00 sampai 20:00 WIB. Waktu kebersamaan dalam rumah diintensifkan untuk berbagi bersama keluarga dalam bentuk bermain dan belajar bersama.

2.     Akses Pendidikan Berkualitas Secara Merata

Faktor utama yang menjadi kunci penentu peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah dari pendidikan yang berkualitas (baik pendidikan formal, non-formal maupun informal). Sebagaimana kita ketahui kebijakan pendidikan di Indonesia terus berganti kurikulum seiring dengan bergantinya menteri. Tentu hal tersebut disesuaikan dengan kondisi dan situasi perubahan zaman yang terus berkembang. Akan tetapi penulis sedikit mengkritisi perubahan kurikulum yang silih berganti akan tetapi belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh guru Indonesia. Seperti yang dialami oleh rekan-rekan guru yang berada di daerah terpelosok, terpencil, dan terluar. Penulis pernah berkesempatan bertugas sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa ditempatkan di Loloda Kepulauan, Kab. Halmahera Utara (2014-2015). Saat itu guru-guru di kepulauan tersebut mengaku belum paham KTSP (belum pernah ada pelatihan), tiba-tiba sudah ganti Kurikulum 2013. Bahkan buku-bukunya pun masih ada yang menggunakan KBK. Belum lagi sarana prasarana yang masih sangat minim dan terbatas. Ini hanya salah satu potret sebagai gambaran belum meratanya akses pendidikan yang berkualitas di semua penjuru wilayah Indonesia.

Semoga saja untuk perbaikan ke depannya, setiap pergantian kurikulum pendidikan di Indonesia bisa dipahami secara merata oleh seluruh guru Indonesia baik di perkotaan, pedesaan hingga daerah terpencil. Tentunya harus diadakan pelatihan yang menyeluruh, buku penunjang yang tercukupi dan kelengkapan sarana-prasarana yang lainnya juga terpenuhi. Sehingga pendidikan berkualitas bisa merata hingga pelosok dan melahirkan generasi (SDM) yang unggul sesuai dengan target yang kita inginkan. Terlebih kepada menteri pendidikan yang baru, menjadi harapan bagi semua guru di seluruh penjuru Indonesia. Penulis sebagai seorang guru sangat sepakat dengan konsep “Merdeka Belajar” yang dicanangkan oleh Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Bapak Nadiem Makarim). Empat kebijakan pendidikan “merdeka belajar” tersebut seperti dalam infografis berikut ini:

Sumber: Kemendikbud/Grafis: SENO (https://mediaindonesia.com/read/detail/277224-kaji-asesmen-pengganti-un)

Khususnya berkaitan dengan keseharian guru adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Saya sangat sepakat dengan konsep RPP yang baru yaitu guru bebas memilih, membuat, menggunakan dan mengembangkan format RPP menjadi satu lembar saja. Hal tersebut bisa meringankan beban kerja guru dan bisa membuat guru menjadi kreatif dan inovatif dalam membuat dan mengembangkan RPP. Selain empat kebijakan pokok “merdeka belajar” tersebut, penulis mengusulkan program lain yang harus ditingkatkan lagi khususnya untuk guru yaitu program pengembangan kompetensi guru (pelatihan, dan workshop guru agar diperbanyak lagi) dan program beasiswa bagi guru untuk lanjut studi S2 (khususnya bagi guru honorer).


Peningkatan kompetensi guru harus terus ditingkatkan. Karena guru merupakan aktor utama dalam lembaga pendidikan (sekolah) yang berinteraksi langsung dengan peserta didik. Guru yang berkualitas, akan melahirkan generasi yang berkualitas juga. Oleh karena itu forum-forum pengembangan kompetensi guru seperti KKG dan MGMP harus terus dihidupkan dan diaktifkan. Kenyataan di lapangan selama ini di kegiatan KKG/MGMP di wilayah pelosok atau pedesaan bisa dibilang redup. Hal tersebut terjadi karena banyak hal, seperti masalah pendanaan, kurang mendapat dukungan dari sekolah, kurangnya SDM, vakumnya UPTD setempat, dan kendala-kendala lainnya. Berbeda dengan di wilayah perkotaan, kegiatan KKG/MGMP masih berjalan, kegiatan seminar pendidikan atau pun pelatihan bisa dijangkau dengan mudah. Inilah yang masih menjadi PR semua pemangku kebijakan.

Selain belum meratanya program peningkatan kapasitas guru tersebut, perlu diadakannya juga beasiswa untuk guru khususnya guru honorer. Beasiswa untuk melanjutkan S1 maupun untuk melanjutkan S2 keguruan khususnya bagi guru-guru daerah terpencil dan pedesaan maupun program beasiswa bagi guru yang berprestasi. Program beasiswa tersebut bisa kesempatan untuk lanjut kuliah, untuk mengikuti kegiatan PPG maupun kegiatan untuk study banding dalam rangka peningkatan kompetensi guru.

3.     Reformasi Program Pengembangan Guru (Belajar dari Finlandia)
Berkaitan dengan program pengembangan guru tersebut, penulis mengusulkan untuk mengadopsi beberapa hal dari sistem pendidikan Finlandia yang bisa diterapkan di Indonesia. Siapa yang tak kenal dengan Finlandia? Negara kecil asal Nokia ini terkenal dengan julukan negara dengan ‘pendidikan terbaik dunia’. Finlandia telah berhasil mereformasi sistem pendidikannya dari yang dulunya tak dikenal dan tidak efisien kini menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam hal pendidikannya. Selain itu, Finlandia juga dikenal sebagai negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi. Apa alasannya dan mengapa Finlandia bisa meraih gelar tersebut? Kita semua tahu bahwa pendidikan adalah elemen penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Berkaca dari Finlandia, kita bisa belajar dan menimba ilmu tentang kemajuan negara tersebut yang berawal dari pendidikannya. Salah satu faktor yang menjadi fokus perbaikan pendidikan di Finlandia adalah ‘program pendidikan guru’nya. Mengapa guru?
Guru adalah profesi paling bergengsi dan paling kompetitif di Finlandia. Guru menjadi profesi nomor satu bagi kalangan orang-orang muda Finlandia. Menurut Pasi Sahlberg, Ph.D (Pakar Pendidikan Finlandia dan Internasional) orang-orang Finlandia memandang guru sebagai profesi prestisius dan mulia, sejajar dengan dokter, pengacara dan ekonom. Hal tersebut lebih karena sebab-sebab moral dari pada kepentingan dan imbalan materi atau karir. Lalu, apa yang membuat “menjadi guru” sebagai pekerjaan top bagi mereka? Pasi Sahlberg dalam bukunya yang berjudul “Finnish Lessons: Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak ala Finlandia” mengemukakan tiga alasan. Pertama dan yang paling penting adalah tempat guru bekerja memungkinkan mereka memenuhi misi moral mereka. Kedua, pendidikan guru yang kompetitif dan menantang (karena syarat untuk menjadi guru SD (Sekolah Dasar) saja harus bergelar master/S2). Ketiga, tingkat penghasilan bukan motivasi utama untuk guru.
Semua guru di Finlandia harus memiliki gelar master / S2. Sebagaimana kualifikasi guru yang dipersyaratkan di Finlandia adalah guru TK (sarjana/S1), guru SD (master / S2), guru Sekolah Terpadu / Peruskoulu (master / S2), guru SMP (master / S2), dan guru SMA (master / S2). Disini terlihat jelas, bahwasanya guru harus benar-benar profesional sesuai dengan bidang kemampuannya dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Tugas guru tidak hanya mengajar dan berhenti pada tataran S1 saja, akan tetapi menjadi guru pembelajar, dan guru riset. Menurut Ann Lieberman (Senior Scholar, Stanford University) fokus reformasi pendidikan Finlandia adalah pada program pendidikan guru. Mereka yang berprofesi sebagai guru tidak hanya terus mengajar, tetapi banyak yang melanjutkan studi, bukan untuk melepaskan profesi ini, melainkan untuk belajar lebih banyak dan berkontribusi lebih banyak kepada profesi.
Sederhananya guru-guru Finlandia adalah guru pembelajar, guru riset dan guru pemimpin. Bahkan pemimpin adalah guru. Karena kebanyakan sekolah di Finlandia, kepala sekolah adalah seorang guru berpengalaman yang sudah teruji kompetensi kepemimpinan dan kepribadiannya. Di banyak sekolah, kepala sekolah juga memegang sejumlah kelas kecil untuk ia ajar setiap minggunya. Kepemimpinan pedagogik adalah salah satu bidang kunci dalam kepemimpinan sekolah yang profesional di Finlandia. Menurut Martti Hellstrom (Kepala Sekolah di Sekolah Aurora, Kota Espoo), menjadi kepala sekolah bukan seperti menjadi administrator atau pelatih sebuah klub olahraga. Seorang kepala sekolah bertanggung jawab atas sebagian dari sebuah sistem sosial yang kompleks yang terus menerus berubah. Tanpa pengalaman sebagai guru, akan sangat sulit untuk berhasil memenuhi amanat pekerjaan ini.
Selain keunggulan guru, banyak faktor lain yang telah berkontribusi pada ketenaran sistem pendidikan Finlandia, seperti adanya Sekolah Terpadu 9 tahun (Peruskoulu) untuk semua anak, kurikulum modern yang berfokus pada pembelajaran, perhatian sistematis kepada siswa-siswa berkebutuhan khusus yang beragam serta otonomi lokal dan tanggung jawab bersama. Reformasi sekolah terpadu (Peruskoulu) memicu pengembangan tiga aspek tertentu dalam sistem pendidikan Finlandia, yang belakangan telah terbukti berperan penting dalam menciptakan sistem pendidikan berkinerja tinggi. Ketiga aspek tersebut yaitu:
a) Pertama, prinsip berkesempatan sama (equal opportunity principle) yaitu menerima semua siswa tanpa memandang domisili, latar belakang sosial ekonomi dan minatnya.
b)  Kedua, bimbingan karier dan konseling menjadi bagian wajib dalam kurikulum sekolah terpadu di semua sekolah. Bimbingan dan konseling ini membantu siswa dalam menentukan arah pendidikan dan masa depan mereka, seperti melanjutkan ke sekolah atas umum, melanjutkan ke sekolah kejuruan atau mencari kerja.
c)  Ketiga, Peruskoulu menuntut guru-guru untuk profesional dan kreatif dalam mengajar siswa yang kemampuannya beragam.
Demikian beberapa ulasan tentang sistem pendidikan yang ada di Finlandia mengenai kebijakan tentang guru dan sekolah terpadu. Dari beberapa poin yang dibahas di atas tersebut, jika ada yang bisa diterapkan di Indonesia mari kita terapkan. Tentunya pemangku kebijakan (dalam hal ini Kemendikbud) juga tengah mengkaji beberapa gebrakan kebijakan baru di bidang pendidikan selain konsep “merdeka belajar” yang sudah dibahas sebelumnya.
    
4.     Kepedulian Masyarakat dan Dukungan Stakeholder

Untuk membangun sumber daya unggul tak cukup dilakukan oleh keluarga dan lembaga pendidikan saja. Akan tetapi butuh kepedulian masyarakat dan dukungan stakeholder terkait. Kepedulian masyarakat misalnya dengan adanya taman baca masyarakat, balai pelatihan kerja, bimbingan belajar dan lembaga-lembaga lainnya yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Apabila dalam suatu daerah belum memiliki TBM (Taman Baca Masyarakat) atau pun perpustakaan desa, maka perlu diusulkan ke pihak kelurahan atau balai desa setempat misalnya dengan mengalokasikan dana ADD (Alokasi Dana Desa) untuk membangun TBM maupun perpustakaan desa. Disinilah diperlukan adanya gotong royong bersama dalam membangun SDM Unggul dari masyarakat.

Dukungan stakeholder dalam rangka membangun SDM Unggul pun sangat dibutuhkan. Seperti yang dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin).  Menurut Bona Ventura (dimuat dalam https://ekbis.sindonews.com/) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang terampil dan berpendidikan untuk menjawab kebutuhan pasar ekonomi di era digital. SDM unggul juga diharapkan dapat menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Berkaitan dengan hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia 2019 yang telah menghasilkan 18 rumusan rekomendasi dari pengusaha untuk memperkuat dunia usaha dan perekonomian nasional (https://kadin.id/news-event/news-detail/643/perkuat-dunia-usaha-ini-hasil-rapimnas-kadin-2019) pada poin ke-7 berbunyi “Kadin menjadi motor kegiatan vokasi dan dikoordinasikan antara kementerian/lembaga terkait” penulis mengusulkan 2 hal kepada Kadin yaitu sebagai berikut:

a)  Merintis dan mendampingi SMK berbasis kearifan lokal (local wisdom) sebagai percontohan usaha yang berkelanjutan. Sebagai contoh SMK di kepulauan mendirikan SMK Bahari yang berfokus pada keahlian di bidang pelayaran dan kelautan. Kadin bekerjasama dan mendorong lembaga/kementerian terkait untuk mendampingi usaha yang dirintis oleh SMK percontohan tersebut.

b) Kadin bersama kementerian terkait mengadakan kerjasama dan pendampingan program bagi keberlanjutan kegiatan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) khususnya PKM-K (Kewirausahaan) dan PKM-KC (Karya Cipta) yang dibuat oleh mahasiswa agar bisa dilakukan pembinaan dan follow up lebih lanjutnya. Karena biasanya selama ini hasil karya PKM yang dibuat oleh mahasiswa berhenti usai program tersebut selesai dan tidak ada keberlanjutan.


      

Sumber Referensi:

1.    Bona Ventura. 2019. Kadin Dorong SDM Unggul, Jadikan Ekonomi Kreatif Sebagai Tulang Punggung. https://ekbis.sindonews.com/read/1456957/34/kadin-dorong-sdm-unggul-jadikan-ekonomi-kreatif-sebagai-tulang-punggung-1573205564

2.   Eddy Cahyono S. 2019. Pembangunan Sumber Daya Manusia Menuju Indonesia Unggul. https://www.setneg.go.id/baca/index/pembangunan_sumber_daya_manusia_sdm_menuju_indonesia_unggul

3. Humas Kemensetneg. 2019. SDM Unggul Menjadi Prioritas Utama Jokowi. https://www.setneg.go.id/baca/index/sdm_unggul_menjadi_prioritas_utama_jokowi
4.      Mulyadi S. 2003. Ekonomi Sumberdaya Manusia. Jakarta: PT. Rajagafindo Persada.

5.  Pasi Sahlberg. 2014. Finnish Lessons: Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak ala Finlandia. Penerjemah: Ahmad Muchlis. Cetakan: I, Mei 2014 Penerbit: Kaifa


7.      Ratonggi Siregar. 2017. Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan Nasional. Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 http://semnasfis.unimed.ac.id e-ISSN: 2549-5976 p-ISSN: 2549-435X 378



Monday, 18 November 2019

Piala ke-4 Darto



Bulan lalu (Oktober) Darto, Bilal dan Gilang berhasil meraih juara 2 di ajang kompetisi biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara berkelompok. Tadinya sudah mau tutup buku di semester pertama ini. Akan tetapi melihat peluang ada informasi lomba olimpiade biologi lagi di Bandung, akhirnya kita ikut serta lagi dalam ajang Bioaction 2019 ini.

Kepastian ikut serta dalam event ini adalah tepat di hari terakhir pendaftaran (12/11/2019), karena nunggu konfirmasi dari Waka Kesiswaan dan Kepsek terlebih dahulu. Sore harinya langsung daftar ke panitia, booking mobil ke yayasan dan searching informasi penginapan di Bandung. Darto, Bilal dan Gilang pun terpilih untuk berangkat mengikuti lomba tersebut. Karena mereka yang paling on-fire diantara anggota Biologi Club lainnya.

Babak penyisihan dimulai. Mereka bertiga pun sangat bersemangat mengikuti event ini. Mereka harus bersaing ketat dengan peserta lain se-Jawa Barat, DKI dan Banten. Kali ini lombanya adalah individu dan hanya terdiri 2 babak (penyisihan dan final). Yang masuk final hanya dipilih 10 orang yang nilainya paling tinggi. Alhamdulillah Darto dan Gilang masuk final. Persis seperti final Bioaction 2017 lalu (saat itu juga Fathi dan Darto yang masuk final). Babak final berbentuk soal responsi dan praktikum. Salah satu praktek yang baru dilakukan pertama kali oleh Darto dan Gilang adalah membedah kodok. Yang bikin heboh adalah Darto membedah kodok sampai hancur kodoknya, wkwk. Walau demikian Darto dan Gilang tetap optimis dalam babak final tersebut.

Pengumuman pemenang pun tiba. Rasanya bercampur aduk penuh penasaran. Alhamdulillah, akhirnya M. Rizki Windarto kembali menorehkan prestasi sebagai JUARA 2 di ajang Olimpiade Biologi Biaction 2019 UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Prestasi ini mengulang kembali prestasi Bioaction 2017 yang lalu. Selamat Darto, torehan prestasi Darto ini merupakan piala ke-4 yang dia peroleh dari kelas X hingga kelas XII ini. Untuk Gilang dan Bilal tetap semangat, masih banyak peluang kalian di waktu mendatang. Keep spirit do the best.

#DatangDenganObsesi
#PulangMembawaPrestasi

Monday, 29 April 2019

Mendidik Karakter Butuh Konsistensi


“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki
(Bung Hatta)

Akhir-akhir ini masalah karakter menjadi sorotan semua pihak. Baik di lingkungan sekolah, keluarga, hingga masyarakat umum. Bahkan di media sosial pun kerap kali kita lihat postingan tentang problematika karakter tersebut. Kenapa krisis karakter menjadi trending topik? Sebenarnya apa itu karakter? Mengapa karakter itu menjadi penting bagi semua orang? Menurut Erie Sudewo (penulis buku Character Building) kualitas manusia ditentukan oleh 2K yaitu kompetensi dan karakter. Kompetensi bicara tentang kecerdasan (peningkatan diri), sedangkan karakter bicara tentang perilaku (perbaikan diri). Kompetensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan tugas, sedangkan karakter adalah sejumlah sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari, untuk menjalankan peran sesuai amanah dan tanggung jawab. Kompetensi ibarat bangunan, sementara karakter adalah pondasinya.

Sebagaimana kita ketahui dalam penilaian pembelajaran di sekolah ada 3 hal yang harus dinilai oleh guru yaitu kognitif (pengetahuan), skill (keterampilan) dan afektif (sikap). Kognitif erat kaitannya dengan kecerdasan seseorang meliputi penguasaan pengetahuan. Sebagaimana quote Bung Hatta di atas, kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Semakin tekun dan giat belajar maka kecerdasan bisa bertambah. Skill (keterampilan) seseorang dapat ditingkatkan dengan banyak latihan. Semakin banyak berlatih, maka kita akan semakin terampil. Lain halnya dengan afektif (sikap), tak cukup  diajarkan dengan lisan semata, tapi harus dipraktekkan setiap hari dalam kondisi apapun. Afektif inilah yang disebut dengan karakter. Contohnya adalah jujur, disiplin, amanah, tanggung jawab dan sebagainya.

            Nilai kognitif dan skill bisa dibilang gampang kita dapatkan dengan cara banyak belajar, banyak membaca dan banyak berlatih. Akan tetapi untuk nilai afektif (sikap) seseorang tidak hanya menjadi nilai baik atau buruk saja, tapi akan menjadi karakter yang melekat bagi peserta didik tersebut tidak hanya di sekolah saja akan tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hingga pasca lulus dari sekolah tersebut. Tentang pentingnya karakter ini, presiden pertama RI Ir. Soekarno pernah mendapat nasihat dari rektornya. Saat wisuda Bung Karno, Rektor Technische Hoogeschool (sekarang ITB) mengatakan “Tuan Soekarno, suatu saat ijazah ini bisa robek dan hancur. Ia tidak kekal. Ingatlah satu-satunya kekuatan yang dapat hidup terus dan kekal adalah KARAKTER dari seseorang. Ia akan tetap dalam hidup hati rakyat, sekalipun orangnya sudah mati”.

            Tujuan dari sekolah tentu tidak hanya sekedar mendapatkan nilai raport atau ijazah semata. Begitu juga saat kuliah tujuannya tidak hanya mengejar IPK dan gelar di ijazah untuk urusan mencari pekerjaan. Yang jauh lebih penting dari proses pendidikan baik di rumah, sekolah hingga di perguruan tinggi adalah terbentuknya karakter yang kuat dalam diri seseorang, seperti jujur, tanggung jawab, amanah, disiplin dan sebagainya. Karakter yang kuat tersebut tak bisa tumbuh begitu saja dalam diri seseorang. Karena pendidikan karakter butuh proses yang berkesinambungan. Terbentuknya ‘karakter’ dalam diri seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keluarga, pendidikan, sekolah, teman dan lingkungan sekitar. 

            Mendidik karakter anak (siswa) sangat dibutuhkan keteladanan karakter dari orang-orang di sekitarnya.  Karena cara terbaik mendidik karakter adalah dengan karakter pula, yaitu keteladanan dan contoh perilaku terbaik. Sebagaimana menurut Ida S. Wijayanti (penulis buku “Medidik Karakter dengan Karakter”) mengatakan bahwa mendidik karakter dengan karakter mensyaratkan pula pendidik berkarakter, yang berfungsi sebagai pihak paling berpengaruh yang memotori pembangunan karakter anak. Pendidikan karakter tak cukup dengan teori, tapi justru hanya efektif jika dengan contoh. Artinya jika berharap menghasilkan anak berkarakter, kita sebagai orangtua dan guru harus terlebih dahulu menerapkannya untuk diri sendiri.

Mendidik karakter memang bukan perkara mudah, karena banyak godaan dan tantangannya. Oleh karenanya butuh keistiqomahan dalam menerapkan karakter tersebut. Dalam konteks pendidikan karakter di sekolah butuh sinergi dan kekompakkan dari semua civitas akademika yang ada di sekolah tersebut. Mulai dari visi-misi sekolah hingga budaya sekolah untuk pembelajaran karakter yang diinginkan. Mulai dari pembelajaran di kelas, penerapan dalam lingkungan sekolah hingga pembiasaan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Mendidik karakter memang proses perbaikan diri yang tak pernah usai, oleh karena itu butuh konsistensi dalam mengamalkannya. Karena mendidik karakter adalah proses perbaikan diri sepanjang hayat.