Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bΓͺte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Sunday, 26 November 2017

Secantik (Curug) Bidadari


Setiap jejak perjalanan selalu melahirkan kesan yang menawan. Seperti hiking kali ini. Two tumbs for this waterfall. Air terjun (curug) yang berlokasi di Bojong Koneng, Sentul, Bogor ini memang eksotis. Namanya juga unik yaitu curug bidadari. Tapi, sepanjang mata memandangi curug ini tak ada tanda-tanda kenampakan bidadarinya, hehe.

Curug bidadari ini memiliki tinggi sekitar 40an meter. Kurang tahu persisnya berapa, karena tadi aku tidak mengukurnya😁. Uniknya curug ini berada di tebingan batu yang tinggi menjulang dan dikelilingi oleh bebukitan yang hijau berkilau. Ijo royo-royo, kalau kata orang Jawa. Suasananya yang asri dan sejuk menambah daya pikat tersendiri.

Desiran air dari atas tebing yang turun ke bawah punya tekanan yang cukup kencang. Sekilas tampak seperti selendang besar berwarna putih yang melambai-lambai. Hal tersebut juga memunculkan desiran angin yang kencang saat jatuh ke dasar curug. Kedalaman dasar curug berkisar sekitar 50 cm dan banyak bebatuan di tepinya. Karena tekanan dan hembusan angin bersamaan cipratan derasnya air curug membuat sensasi dingin merasuk ke tubuh.

Persis di depan curug ini terdapat dua tebing batu besar. Akan tetapi pengunjung dilarang naik ke atas bebatuan tebing tersebut. Tepat di depan bebatuan tersebut juga terdapat kolam renang cukup besar dengan air berasal dari curug tersebut. Kolam renang tersebut juga terdapat seluncuran roll coaster dan menyewakan pelampung juga. Di sekitarnya juga terdapat saung-saung yang disewakan. Bagi yang ingin terapi ikan, di lokasi wisata ini pun tersedia.

Air selain menjadi kebutuhan pokok manusia, ternyata wisata air juga menjadi tempat refreshing yang selalu menarik. Sebut saja mulai dari tempat air yang alami seperti laut, sungai, danau dan air terjun adalah sentra wisata favorit manusia dari jaman baheula hingga jaman now. Tak kalah menariknya wisata air yang buatan seperti waterboom atau pun kolam renang juga punya magnet daya tarik tersendiri.

Piknik atau bertualang ke alam merupakan salah satu kebutuhan manusia. Refreshing sejenak menghilangkan penat. Menghirup udara segar sebentar dari kesibukan aktivitas yang ada. Bertamasya ke alam terbuka juga menjadi sarana bertafakur dan bertadabur alam. Refreshing sejenak merupakan kebutuhan vitamin bagi sel-sel tubuh kita.

Terlebih bagi siswa boardingschool, yang terbiasa tinggal di asrama. Mereka seringkali merasakan kejenuhan dengan rutinitas yang ada, tapi itulah pendidikan yang harus mereka lalui. Maka piknik sejenak merupakan salah satu hal yang disukai mereka. Begitu sampai di tempat wisata, ekspresi bahagia terhias dari aura wajah mereka. Bagi mereka, hiking ke curug pun menjadi multivitamin yang lezat rasanya.

Tak hanya siswanya, gurunya pun sama. Butuh vitamin refreshing sejenak. Siswanya liburan, gurunya pun ikut liburan. Siswanya hiking, gurunya pun ikut hiking. Tidak hanya sekedar liburan, kegiatan hiking juga menjadi kegiatan yang mengakrabkan kekeluargaan satu dengan yang lainnya

Oke guys, bagi kalian yang penasaran dengan kecantikan (curug) bidadari tersebut, silahkan langsung datang saja ke TKP. Sampai jumpa lagi di jejak petualangan berikutnya. Kemana pun kita bertamasya ke tempat mana pun, jangan lupa buang sampah pada tempatnya. Jangan tinggalin atau buang sampah sembarangan yah.

Karena hari ini juga bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia (11 November 2017), yuk kita jaga dan lestarikan pepohonan yang ada di bumi ini. Satu pohon, berjuta-juta oksigen dihasilkan. SAVE Our TREE... SAVE Our FOREST....!!!

Saturday, 25 November 2017

Lentera Hati Guru Pembelajar


Menjadi guru itu pilihan atau nasib? Prioritas menjadi guru bukanlah pilihan banyak orang. Memilih profesi menjadi guru karena gaji tinggi, mungkin menjadi pilihan banyak cagur (calon guru). Tetapi, untuk menjadi guru karena panggilan hati atau passion mungkin sudah jarang kita temui di zaman ‘guru bersertifikasi’ seperti sekarang ini. Padahal guru adalah aset bangsa yang sangat strategis. Guru adalah arsitek peradaban. Begitulah salah satu pepatah penting yang melekat pada guru (sang pembangun insan cendekia). Keberhasilan seorang guru adalah ketika telah berhasil memberikan hati dan kepribadiannya dalam mendidik siswa-siswinya. Tapi, sudahkah menjadi guru yang terbaik bagi peserta didik? Karena tugas seorang guru bukan hanya sekedar mengajar materi dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’. Mendidik karakter, membimbing dengan penuh kasih sayang, dan membina peserta didik dengan penuh ketulusan juga merupakan tugas dari seorang guru.

            Sejak diberlakukannya undang-undang guru dan dosen oleh pemerintah, profesi guru menjadi favorit pilihan banyak orang. Mungkin karena tunjangan dan gaji yang cukup menjanjikan, walau harus berjuang setengah mati dengan meraih gelar sertifikasi terlebih dahulu. Lalu bagaimana dengan nasib para guru honorer? Mereka yang telah bertahun-tahun mengabdi menjadi guru tak bisa menyandang gelar bergengsi tersebut. Memang, guru PNS dan guru honorer ibarat sekeping uang logam yang saling bertolakbelakang dalam hal tunjangan. Padahal sama-sama berprofesi sebagai guru dengan jumlah jam mengajar yang sama. Lantas, manakah yang paling punya andil besar antara guru PNS atau guru honorer dalam mendidik peserta didiknya? Jawabannya ada di hati masing-masing guru tersebut. Perbedaan guru PNS dengan guru honorer bukan pada gaji, tapi “hati”lah yang menjadi pembedanya. Bukan pula pada besarnya tunjangan yang tinggi, akan tetapi mendidiknya karena panggilan hati dan mengajarnya dengan sepenuh cinta, itulah guru pembelajar sejati.

Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang profesional. Sebagai guru pembelajar (baik guru PNS, honorer maupun kontrak), tak ada kata berhenti dalam belajar. Tiada hari tanpa menimba dan menambah ilmu dari sumber mana saja. Setiap selesai pembelajaran senantiasa melakukan refleksi diri, perenungan dan evaluasi diri. Sudahkah kita menjadi guru yang terbaik dan berkualitas bagi peserta didik? Sebagai pengajar, sudahkah kita mengajar dengan baik, menerapkan strategi pembelajaran yang tepat dan menyenangkan bagi mereka? Bagaimana manajemen kelas yang sudah kita terapkan, display kelas, suasana kelas hingga materi yang kita sampaikan, sudah lebih baikkah? Pengajaran yang kita lakukan sudahkah terencana dengan baik sesuai RPP yang kita buat? Sebagai pendidik, sudahkah kita mendidik mereka dengan hati yang tulus? Karena guru adalah pengajar, pendidik, pemimpin dan teladan bagi para peserta didiknya.

            Kendala guru pembelajar antara di desa dan di kota tentu berbeda dari segi kualitas, sarana dan prasarana pendukung. Terlebih bagi guru yang berada di daerah terpencil. Akan tetapi daya juang guru-guru di daerah terpencil juga patut kita apresiasi. Sebagai contoh saya ingin menceritakan salah satu sosok guru pembelajar yang pernah saya temui saat bertugas di Loloda Kepulauan, Halmahera Utara (2014-2015). Sosok guru pembelajar tersebut bernama Suleman Palias (60 tahun). Guru yang akrab disapa dengan Pak Guru “Eman” ini merupakan guru honorer di SDN Fitako, Kecamatan Loloda Kepulauan. Di usianya yang sudah menjadi kakek, beliau masih semangat untuk terus mengabdikan diri sebagai seorang guru. Pria tamatan Sekolah Rakyat (SR) dan SMP Dorume ini mengawali karirnya sebagai guru honorer di SDN Dama selama 7 tahun. Meski hanya bergelar tamatan SMP, beliau menjadi guru di SDN Fitako sejak tahun 2003 hingga sekarang.

            “Menjadi guru adalah hobi dan kesukaan saya” jawab Pak Eman saat ditanya alasannya menjadi guru. Rupanya jiwa pendidik sudah begitu melekat dalam hatinya. Pak Eman adalah guru paling tua di SDN Fitako, akan tetapi beliau juga sangat disiplin dan gigih dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Beliau selalu masuk mengajar sesuai jadwal, kecuali jika sakit yang mengharuskan tidak masuk. Selalu menjalankan tugas sesuai amanah, dan komitmen dalam mengajar adalah prinsip hidup beliau selama menjadi guru. Sebagai guru honor, gaji beliau bisa dibilang tak seberapa, akan tetapi semangat, ulet dan komitmennya sebagai guru sangat luar biasa. Itulah sosok guru pembelajar bernama Pak Guru “Eman” yang patut kita tiru semangat juangnya. Dari Pak Eman kita banyak belajar tentang komitmen, cinta dan passion menjadi guru. Semoga kita yang berprofesi sebagai guru bisa mengambil nilai-nilai positif dari beliau.

            Menjadi guru pembelajar harus terus dihidupkan dalam sanubari hati yang terdalam. Meski dihadapkan dalam kondisi yang serba terbatas, nilai juang guru sebagai guru pembelajar harus senantiasa menyala. Keterbatasan bukanlah sebuah hambatan, akan tetapi menjadi daya picu untuk terus berbenah diri meningkatkan kualitas guru tersebut. Guru pembelajar adalah gurunya manusia. Seperti yang dikatakan oleh Munif Chatib, “Gurunya Manusia” yaitu guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas, akan berintrospeksi apabila ada siswa yang tidak memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar sebab mereka sadar, profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan pengembangan kompetensi.

Semoga semua guru (baik guru PNS, honorer maupun kontrak) baik di sekolah negeri maupun swasta bisa menjadi guru pembelajar yang senantiasa melakukan refleksi diri dalam menjalankan tugas mulianya tersebut. Evaluasi diri dan perbaiki diri dengan senantiasa meningkatkan kompetensi dan profesionalitas dalam mengemban amanahnya. Refleksi diri agar bisa menjadi Gurunya Manusia. Jangan jadi guru, jika malas mengajar. Jangan jadi guru, jika malas datang ke sekolah. Karena menjadi guru itu butuh tekad, ketulusan hati dan komitmen yang tinggi dalam membimbing para peserta didiknya. Karena guru menjadi kunci utama penentu keberhasilan pendidikan di negeri ini. Kalau bukan guru, siapa lagi? Bahagialah menjadi guru, karena setiap langkahnya menjadi amal yang mulia. Bangga jadi guru. Guru berkarakter, menggenggam Indonesia.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Esai Guru yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Jabar untuk memperingati Hari Guru Nasional 2017

Resume Materi “Writer Teachers”


Melalui blog ini saya ingin berbagi resume materi yang saya sampaikan dalam sharing session yang diadakan oleh Komunitas Guru Cerdas Literasi SGI Learning Community (Ahad, 19 November 2017). Berikut tulisan selengkapnya.

Ceritaku: Awal Mula Menulis

Menulis itu mudah tapi susah. Dibilang mudah tapi terkadang susah untuk mengawalinya. Tapi kalau sudah berani mengawali kata pertama yang ditulis, maka akan terasa mudahnya. Akan tetapi dibilang susah juga sebenarnya itu salah karena dikatakan susah karena tidak mau mengawali dan mencoba untuk menulis kata pertama. Karena kata-kata pertama yang kita tulis sebenarnya itulah yang menjadi pemicu dan inisiator yang akan meningkatkan langkah kita untuk meneruskan kata-kata selanjutnya. Mungkin menulis sama halnya dengan sebuah presentasi. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan dan suksesnya presentasi berada di 5-7 detik pertama. Sama halnya dengan menulis yang terletak juga di kata pertama yang ditulis. Kata-kata pertama itulah kunci utama yang akan membuka, menerobos dan menembus rangkaian kata-kata, kalimat, hingga paragraf selanjutnya.

Tapi bagaimana mau mulai menulis, kalau sama sekali tidak punya ide untuk memunculkan kata-kata pertama itu, sudah bingung, dicampur lagi dengan adanya kebuntuan berpikir di jalan yang buntu. Selain itu, terkadang juga muncul rasa bingung tidak bisa membuat kata-kata yang indah, putus asa di tengah jalan lantaran pikirannya mentok, gagasannya kurang bermutu, tidak mampu mencairkan suasana yang enak dibaca dan tidak percaya diri dengan apa yang dituliskannya. Itulah sekelumit permasalahan yang terjadi dan dirasakan oleh penulis pemula. Hal ini juga seperti yang aku rasakan juga tatkala mau memulai untuk menulis dan menjadi penulis pemula.

Pada awal sebelum aku menyukai dunia tulis menulis, aku hanya bisa bermimpi dan menganggap menulis itu sesuatu yang sebenarnya mudah tapi juga susah. Padahal sudah ada ide-ide yang bagus dan cemerlang menurutku tapi aku bingung dari mana aku memulai menulisnya. Akhirnya aku hanya bisa bermimpi dan bermimpi ingin menulis tapi tak pernah terlaksana. Aku bermimpi tulisanku dimuat di suatu majalah tertentu atau memenangkan suatu ajang perlombaan hasil karya menulisku. Ternyata waktu itu aku hanya bisa bermimpi tanpa ada aksi. Tanpa mau mencoba dan berusaha untuk memulai menulis apa yang sebenarnya sudah ada dalam benakku waktu itu.

Resep Menulis 5W + 1 H

1. What is Writing?
         Goresan kata-kata berpola SPOK
         Ekspresi rasa dan cerita
         Menuangkan ide/gagasan/pendapat
         Mengimajinasikan pemikiran
         Menyebarkan buah kebaikan (kisah si burung pipit, seekor penyu dan sebatang pohon kelapa) NB: kisah ini saya dapatkan pertama kali saat mengikuti workshop menulis bersama Tere Liye

2. Why? Mengapa saya menulis?
         Karena hobi
         Memberikan sebuah pandangan
         Menyampaikan pesan lewat tulisan

3. When?
         Kapan saja bisa, saat sedang ada masalah, dapat kabar gembira, dll (diari)
         Saat sedang kondisi enjoy
         Saat menemukan ide/solusi dari sebuah masalah

4. Where?
         Dimana saja bisa
         Cari tempat yang tenang dan nyaman
         Di tempat yang sejuk dan sunyi

5. Who?
         Semua orang bisa menjadi penulis
         Syaratnya:
            a. Ada kemauan dan niat
            b. Berlatih dan berusaha

6. How....?
         Pahami dulu jenis-jenis tulisan
         Langsung dipraktekkin
         Tips menulis itu ada 3 kata yaitu: MENULIS....MENULIS....MENULIS......


Bagaimana caranya menggali ide?
Ada banyak sumber untuk menggali ide/gagasan yaitu berdasarkan pengalaman pribadi, media cetak & elektronik, lingkungan sekitar, observasi ke lokasi tertentu, diskusi dan wawancara dengan narasumber/pakar tertentu. 


Bagaimana cara mengasah kemampuan menulis? 
Sebenarnya caranya sama dengan syarat Semua Bisa Jadi Penulis, yaitu:
Pertama: Menulis...!
Kedua: Do Write...!!
Ketiga: Uktub..!!! = Tulislah...!!! 


Tips tambahan untuk mengasah kemampuan menulis, yaitu:
1.      Sering berlatih
Membiasakan diri untuk menulis. Pasti bisa! Pasti Teyeng! Update status aja bisa, berkicau di twitter aja sanggup, mengerjakan laporan praktikum aja gampang, apalagi menulis?

2.      Banyak membaca
Seorang penulis pasti tak lepas dari membaca. Membaca dan menulis adalah dua sejoli yang tak bisa dipisahkan. Membaca adalah amunisi yang canggih, senjata yang tepat untuk bisa menulis. Seorang Lisa See lewat tokoh Paman Lu, dalam novelnya berjudul Snow Flower berkata, “ Bacalah seribu buku, maka kata-kata akan mengalir seperti sungai ”. Membaca yang utama memang dari buku, jurnal, majalah, internet atau bentuk tertulis lainnya. Tapi jika yang tidak suka membaca dalam bentuk buku, bisa lakukan membaca dengan melihat film, membaca situasi atau peristiwa tertentu, membaca lingkungan, membaca travelling dan membaca alam semesta yang begitu luas ini.

3.     Bertanya dan berdiskusi dengan teman yang ahli dalam menulis.
Belajarlah kepada mereka yang sudah berpengalaman lebih dulu. Minta dikoreksi, dan dibimbing dalam proses penulisannya. Bisa juga dengan membaca karya orang tersebut dan berdiskusi dengannya.

4.      Mengikuti lomba menulis (LKTI, essay, dan lain-lain), pilih yang paling disukai dan diminati.
Manfaatkan peluang emas jika ada lomba, karena dengan mengikuti lomba kita akan tahu sejauh mana kemampuan menulis kita. Walau masih pemula tidak apa-apa, itu sebagai sarana melatih kemampuan kita. Gagal/kalah tak masalah, namanya aja belajar. Kalau tips dari saya begini: cari lomba sebanyak mungkin, cari yang gratis tapi hadiahnya lumayan gede dan pilih yang paling mudah, paling kita sukai dan paling kita anggap mampu mengerjakannya.

5.     Jangan pernah bosan menghadapi kegagalan, nikmati saja prosesnya. 
Karena kegagalan adalah guru terbaik untuk mengevaluasi kekurangan tulisan yang kita tulis. Jika kita gagal/kalah dan tak pernah lolos dalam lomba menulis, jangan sedih, jangan menyerah. Kita evaluasi diri, evaluasi tulisan kita kekurangannya apa. Kembali minta masukan dan saran kepada yang sudah berpengalaman, minta dikoreksi sebelum dikirim ke panitia lomba, banyak baca lagi, ikut workshop/pelatihan tentang menulis, setelah itu action dan teruslah berkarya.


========================================================


Sesi Tanya Jawab

1.      Yulisthina: Bgmn sekiranya jika kita memiliki tulisan dan dianggap bagi diri kita sndiri itu sdh tulisan terbaik namun ternyata di mata org2 karya kita tdk bagus
1. Bgmn menyikapinya???
2. Adakah tolak ukur atau standar tertentu yg dpt digunakan sbg acuan untuk menilai tulisan itu sdh layak atau belum?

Jawaban:

Masalah ini sering dialami oleh semua penulis baik pemula maupun yg sdh profesional bu. Saya pun dulu sering mengalaminya.
1. Cara menyikapinya adalah minta bantuan orang lain (teman dekat atau siapa pun) utk membaca tulisan yg kita buat. Minimal 3 orang. Mintain tanggapan dari mrk. Ini yg paling mudah dilakukan. Dan kita hrs terbuka jg mnerima masukan darinya

2. Apakah ada tolak ukur atau standarnya? Iya ada. Tergantung jenis tulisannya bu. Tentunya yg paling mudah dicermati adalah dari diksi (pilihan katanya), gaya bahasa yg digunakan, dan enak tidaknya dibacanya. Sama kayak meracik sebuah masakan. Tentu tergantung selera. Ditentukan dari bumbu yg kita racik tsb

2.      Louis Ifka: intrupsi bertanya: tolong saran apa yg harus sy lakukan: ketika ad ide menulis dlm otak kita sudah punya gambaran jelas tetapi ketika mulai do write macet? gmn solusi?

Jawaban:

Masalah ini jg sering terjadi. Saat sdh ada ide dlm otak, tp saat mau menulis macet. Tak bisa berkata2 atau bingung mau menulis apa. Bagaimana langkah selanjutnya setelah menemukan ide? Kiat-kiat setelah menemukan ide (khusunya jika mau buat karya tulis atau essay) adalah: 1). Cari referensi tambahan  2). Observasi langsung tentang materi yg ingin kita buat. 3).Menyusun outline / map maping  4).Berdiskusi dengan orang lain 5).Istirahat sejenak juga perlu. 6).Atau cari tempat dan suasana yg lain

3.      Miah Gunawan: Saya mau tanya, bagaimana cara kita untuk memunculkan suatu ide cerita yg tidak klise dan bagaimana cara mendapatkan elaborasi kata yg tepat dlm suatu tulisan?

Jawaban:

§  Sebelum membuat tulisan, kita buat peta konsepnya dulu bu atau mind mapping tentang cerita yg akan kita buat. Dibuat garis besarnya dulu dari alur, setting, dll. Sehingga utk memunculkan ide cerita yg tdk klise sdh ditentukan sejak awal tadi. Kalau sudah dibuat 3-5 paragraf, baca lagi dan lakukan editing sesekali. Atau kalau saya lanjut aja mengalir menulis apa saja yg terpikirkan di otak. Baru ntar editing di belakang.

§  Utk melakukan elaborasi kata juga perlu banyak latihan bu. Dan sering aja menulis. Kalau sekali dibuat lamgsung save dulu, atau boleh juga corat coret dulu di buku baru diketik. Yang penting harus kaya diksi dan gaya bahasa yg menarik sesuai cerita yg kita buat

4.      Nala: bagaimana cara mudah  menentukan poin pertama yg menarik untuk mengawali sebuah tulisan? terlebih jika tema besarnya sudah ditentukan, saya terkadang sering terjebak pada paragraf2 awal.

Jawaban:

Pilih sudut pandang yang spesial. Ada banyak bentuknya bu. Tergantung konsep ceritanya mau seperti apa. Utk poin pertama hrs yg unik dan menarik. Misal pakai perumpamaan, quote, atau yg lainnya disesuaikn jenus tulisannya. Tulislah apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan itu yg paling mudahnya. Saya akan berikan salah satu contohnya

5.      Ali: Apa yang Guru Iin paparkan diawal tadi memang mewakili semua perasaan orang yang mau memulai menulis terutama saya. Yang menjadi kendala terbesar bagi saya adalah konsultasi dengan para penulis senior atau ahlinya untuk mengkritisi apa yang sudah saya tulis.. Apalagi kita sama² tahu untuk interaksi langsung dengan orang² yang sudah terkenal itu susah kalau tanpa ada penghubung terlebih dahulu. Ditambah Lingkungan tempat saya berada sangat tidak mendukung. Juga link/atau jaringan saya yang sangat terbatas bahkan bisa di bilang tidak ada. Akhirnya kadang apa yang menjadi keluh kesah saya, opini dan tulisan (meskipun ala kadannyaπŸ˜‚πŸ˜‚) hanya di upload di fb.. Sementara kita tahu di fb itu sangat jarang kita mendapatkan kritikan  yg sesuai dgn yg kita harapkan, yg ada terkadang komentar² alay yg datang. Bagaimana kira² solusinya guru.?? 

Jawaban:

Kalau boleh tahu guru Ali dari mana asalnya? Menurut saya tdk masalah diposting di FB, yg penting disampaikan dengan menarik. Boleh jg klo ada posting di blog atau website pribadi. Jika ditmpt tinggal guru ali ada komunitas penulis boleh gabung disana, atau boleh cari teman yg bisa diajak buat diskusi bersama

6.      Nur Fadilah: Bagaimana membuat ending yg menarik guru terutama pada cerita guru?
Jawaban:
Membuat ending yg menarik sama spt membuat awal yg menarik bu. Yg penting ending itu harus nyambung dengan awal, dan tengah agar jd satu kesatuan yg utuh. Saya kasih contoh tulisan yg pernah saya buat judulnya menghukum dengan hati berikut ini paragraf akhirnya (ending)nya.....

Permasalahan siswa tak selamanya harus diselesaikan dengan cara hukuman fisik. Berilah hukuman yang mendidik bagi siswa-siswi kita tatkala mereka berbuat kesalahan. Kalau saat kita mengajar dan mendidik mereka harus dengan hati, maka menghukum anak (saat mereka salah) juga harus dengan hati. Saya jadi teringat dengan pendapatnya Setiawan dalam bukunya yang berjudul Anak Juga Manusia, mengatakan bahwa “anak bukan barang yang dipesan dari katalog yang disertai buku panduan. Dia adalah titipan Tuhan yang sudah sepatutnya diperlakukan dengan baik. Anak juga bukan robot yang tinggalplug and play. Dia punya hati dan perasaan, karena anak juga manusia”. Iya, karena anak juga punya hati dan perasaan, maka masukilah dunia dan hati mereka supaya riang gembira. Jika hukuman fisik terus dilakukan kepada siswa tentu akan berdampak pada kondisi psikologis mereka. Oleh karenanya, ketika anak (siswa-siswi) kita bermasalah, hukumlah dengan hati.


7.      Aminah: Ketika menulis suka bingung dalam penulisan kata yg tepat.. Bagaimana solusinya guru??
Jawaban:
Cari padanan kata (sinonimnya) bu. Usahakan dalam satu paragraf kaya akan diksi. Caranya dg mencari sinonim kata dari kata tsb. Usahakan tdk ada pengulangan kata yg sama dlm paragraf kecuali kata penghubung

8.      Khatimatul Wilda: Bagaiman cara memuncul rasa ingin menulis "sehingga menjadi hobi" guru?
Jawaban:
Untuk memunculkan rasa ingin menulis (saya sebutnya passion atau hasrat) atau dlm bahasa kerrennya lentera hati πŸ˜…. Sehingga mjd hobi adalah dengan menyukainya terlebih dulu. Karena dgn suka/senang maka kita akan jd hobi. Sama spt saat kita berhobi main bulu tangkis misalnya. Kenapa hobi dg olahraga tsb? Tentu salah satu alasannya karena suka/senang. Kedua, enjoy dan menikmati. Ketiga, alasan lain misalnya ingin berbagi manfaat lewat tulisan yg kita buat.

Kalau kata trainer, motivator dan inspirator SuksesMulia pak Jamil Azzaeni: "bila ingin menjadi seorang yang expert (ahli): pilihlah kegiatan yang Anda KUASAI, Anda CINTAI, dan mengHASILkan". Prestasi terbaik adalah tujuan akhir yang hendak kita tuju, sementara expert adalah alat untuk mencapai tujuan itu

========================================================

Closing statement untuk sharing session ini:

" Jika aku adalah MEMBACA, dan kamu adalah MENULIS. Maka, kita adalah LITERASI.
Dua sejoli (membaca dan menulis) adalah senjata ampuh yang bisa merubah sumber daya manusia, menajamkan pengetahuan dan meraih kesuksesan.
Habis membaca terbitlah menulis. Tulisan itu pun akan senantiasa bersinar menerangi bacaan. Begitulah pepatah yang tepat bagi kedua pasangan sejati (membaca dan menulis) yang tak bisa dipisahkan karena keduanya selalu beriringan.

Kekuatan membaca yang telah kita serap akan meningkatkan keterampilan dalam menulis. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu juga dengan menulis, tulisan yang kita tulis tak lepas dari bacaan yang telah kita baca sebelumnya.

Jenis atau genre buku yang kita baca pun akan mempengaruhi cita rasa tulisan yang kita hasilkan. Menulis dengan hati akan sangat berarti dibandingkan hanya menulis dengan emosi.  “Scripta manent, verba volent” yang berarti apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Pepatah latin ini pun menjadi visi bagi sebuah tulisan yang telah tergoreskan pena.

Menulis juga menjadi senjata ampuh bagi para pencari ilmu, sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan “ikatlah ilmu dengan menulis”. Menulis telah menjadi mesin penyimpan ilmu yang tak pernah hilang ditelan zaman, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Imam Ghozali, Ibnu Taimiyyah, Imam Syafi’i, dan para cendekiawan muslim lainnya. Walaupun orangnya telah tiada tapi karya-karya para tokoh ulama tersebut sampai sekarang menjadi referensi dan rujukan bagi umat manusia.

Jika ingin umur panjang, menulislah!

Salam Literasi

Iin Amrullah
#EduWriter


Monday, 6 November 2017

Atasi Masalah, Jangan Marah!


Ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya tentang Anak spesial bernama Jabar Alam. Ketika ada anak bermasalah, dan ingin menyelesaikan problem tersebut, "jangan marah!". Itulah kesimpulan yang bisa diambil atas problem solving kasus anak yang cukup menguras energi selama sebulan ini.

Menjadi detektif, psikolog hingga jenderal dan tentunya belajar menjadi orang tua. Tak mudah memang, dunia remaja dan abg memang tak luput dari problematika yang complicated.
Saya jadi teringat dengan pesan Ayah Edy dalam buku terbarunya yang berjudul "Menjawab Problematika Orangtua ABG dan Remaja". Beliau mengatakan: jangan marah! Ya, ingat selalu: jangan MARAH. Mengapa orang tua tidak boleh marah saat anaknya bermasalah? Karena marah hanya akan membuat anak jadi tertutup. Bila ia sudah tertutup, kita takkan tahu sejauh mana tentang masalah tersebut sebenarnya. Teknik kedua menurut Ayah Edy, buat anak terbuka pada kita dengan menceritakan kisah kita sendiri atau biasa disebut dengan teknik PACING (menyamakan).

Hari ini aku baru nyadar, ternyata yang dilakukan Umi Is (ketua yayasan LF) juga seperti itu. Jangan marah! Pendekatan dari hati ke hati. Aku belajar banyak dari Umi Is yang juga merupakan psikolog. Dan aku pun baru nyadar kalo upaya yang telah dilakukan Umi Is, kepsek dan aku juga selama ini adalah dengan teknik PACING juga. Owh, itulah kenapa orang tua (ayah ibu) diminta datang hari ini. Sekali lagi arti kehadiran sangatlah berarti. Hadir memberi energi, memantulkan spirit dan bagian dari sebuah perhatian.

Terkait jangan marah ini, Rasul pun pernah mengingatkan dalam haditsnya. ".... Laa taghdob, faroddada miroo ron, laa taghdob...! Jangan marah, Rasul mengulanginya berkali-kali, "jangan marah!". Redaksi hadits selengkapnya aku agak lupa. Tapi intinya tentang "jangan marah ".
Aku belajar banyak dari kasus ini. Belajar menjadi guru, wali kelas dan orang tua. Belajar menjadi psikolog, jenderal, detektif dan problem solver.

Kita boleh lelah, tapi jangan pernah menyerah dan jangan pernah putus asa ketika ditimpa masalah. Kalau melihat latar belakang anak spesial bernama Alam ini, banyak sekali hikmah yang bisa diambil.

Berlatar belakang suram sewaktu SMPnya, bergaul dengan anak punk dan terjerumus dunia jalanan. Ijazah SMPnya pun paket B.

Tapi sekarang perkembangannya cukup drastis, sudah hafal 2,5 juz. Walau dia masih minder, kurang pede, merasa tidak bisa mengikuti pelajaran dan hafalan. Sikapnya yang cenderung introvert, tapi punya jiwa sosial yang tinggi. Itulah potensinya. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.

Gara-gara HP, dia berbohong. Ketahuan merokok lewat telusuri Facebooknya. Tapi dia tidak mau mengakuinya. Sampai akhirnya dia kabur dari asrama dan meninggalkan sepucuk surat.
"Sorry semuanya, gw pergi dulu untuk beberapa hari, untuk menyelesaikan masalah ini. Entah dikeluarin apa gak! Gue lagi mau sendiri dulu. Jaga diri luh baik-baik. Jangan luh kangen gue. Gue bukan sahabat luh yang bisa nerima apa adanya!!! " begitu ujarnya dalam selembar kertas yang ditinggalkan di kamar asramanya.

Hampir 3 hari gak ada kabar, ditelpn Hpnya aktf tp ga diangkat. Disms ga dibales. Orang tuanya tentu panik. Aku pun terus berkoordinasi dengan orang tuanya. Dia sekarang dimana? Makannya gimana? Tidurnya dimana? Pertanyaan yg dirasakan oleh orang tuanya.
Setelah hampir 5 hari gak ada kabar. Dia pulang ke rumah. Hanya beberapa jam saja, makan, dan mandi lalu pergi lagi, cerita ibunya. Dia kabur lagi. Entah kemana? Ayahnya marah sekali.
...........

Bersambung.......






Bogor, 6 November 2015

Sunday, 5 November 2017

Mengukir Prestasi di Ajang Bioaction


Setiap pencapaian berawal dari proses yang kita lakukan. Bermula dari niat. Diasah dengan lapisan tekad yang membaja. Tak lupa juga dipupuk dengan ikhtiar dan kegigihan dalam berusaha. Adapun juara atau prestasi adalah bonusnya. Penghargaan adalah apresiasi atas jerih payah yang telah kita perbuat. Seperti kata pepatah: “sebuah hasil tak kan pernah mengkhianati proses”. Satu lagi yang harus dipegang saat menghadapi proses perjuangan, yaitu bertemanlah dengan sabar dan istiqomah, karena itulah salah satu katalis mimpi.

Setangkai Ekspresi Bernama Bahagia
Raut muka Darto tampak berseri-seri. Aura sumringah bercampur haru bahagia tak bisa dibendungnya tatkala namanya disebut oleh MC sebagai Juara Harapan 1. Siswa yang masih duduk di bangku kelas X ini terlihat kaget bercampur senang saat mendengar pengumuman tersebut. Tangannya terlihat mengepal ke udara dan mengeluarkan ekspresi seperti kejatuhan durian. Ini adalah ekspresi kedua kalinya. Sebelumnya, saat dirinya dinyatakan masuk finalis 10 besar, Darto pun terlihat kaget bercampur bahagia. Seperti mendapatkan rejeki yang tak diduga-duga. Sebagai gurunya, aku pun langsung mengucapkan selamat dan berjabat tangan erat menyemangatinya.
Hal ini bukan tanpa alasan dan diluar dugaan. Karena sejak berangkat dari Depok ke Bandung, Darto terlihat agak pesimis mengikut event kali ini. Dia mengatakan belum banyak persiapan yang dilakukannya. “Pusing Stadz, belum banyak yang dipelajari” begitu katanya. Walau demikian, tetapi dia tak kenal menyerah. “Ustadz, ntar boleh makan permen karet kan saat mengerjakan soal?” tanyanya kepadaku. “Biar gak pusing” tambahnya. Silahkan saja asalkan diperbolehkan panitia, jawabku. Rupanya sejak grand opening Darto sudah memakan permen karet dan sesekali meniupkannya. Saat berlangsungnya sesi pembukaan, dia masih baca-baca buku sembali mengunyah permen karetnya. Sesekali bertanya juga kepadaku yang berada persis di sampingnya.
Ekspresi yang sama juga tergambarkan dalam raut wajah Fathi. Rasa dag dig dug berdetak kencang menghiasi rona mukanya. Berbeda dengan Darto yang terkesan seperti agak pesimis, sejak awal berangkat Fathi tampak paling optimis diantara ketiga siswaku yang mengikuti Bioaction (Biologi Annual Competition) yang diselenggarakan oleh HMJ Biologi UIN Sunan Gunung Jati ini. Aura mukanya tampak berseri-seri bercampur bahagia tatkala namanya disebut sebagai JUARA 2 dalam kompetisi tersebut. Siswa kelas XI IPA 1 ini terlihat percaya diri dan optimis saat mengikuti babak penyisihan. Akan tetapi saat babak final Fathi menuturkan ada beberapa soal yang berbentuk ujian praktek ini ada yang tidak diketahuinya. Saat mendengar bahwa yang juara 1 total nilainya hanya berselisih 1 poin dengan dirinya, dia langsung mengulas kembali soal yang tidak mampu dijawabnya kepadaku. Yaitu soal praktek yang berupa hati ditetesi dengan H2O2. Soal inilah yang berkali-kali dia ulas dan tanyakan kepadaku.



Berbeda halnya dengan  Darto dan Fathi, siswaku yang satu lagi bernama Daffa belum berhasil dalam ajang kali ini. Padahal menurut penilaianku sebelumnya, Daffa adalah yang paling unggul diantara Fathi dan Darto. Saat masa seleksi tim olimpiade biologi, Daffa nilainya tertinggi. Juga dalam diskusi, Daffa juga tampak yang paling jago dalam penguasaan materi. Tapi, dalam kompetisi ini Daffa belum maksimal sepertinya. Dia menuturkan saat babak penyisihan ada beberapa soal yang tidak diisi dan terlihat tidak yakin juga dengan jawabannya. Saat Darto dan Fathi dinyatakan masuk finalis 10 besar (sementara dirinya tidak), Daffa tetap tegar dengan raut wajah agak sedikit sedih. Seketika itu juga aku memberikan suport dan memberikan dorongan yang sama seperti yang aku lakukan kepada Darto dan Fathi.  

Alhamdulillah wasyukurilah atas prestasi kalian bertiga hari ini (4/11/2017). Capaian prestasi hari ini adalah daya pemicu untuk melejitkan prestasi berikutnya. Kobarkan terus kicauan semangat yang kan menemani jejak langkah kalian di masa mendatang. Bentangkanlah spirit itu seperti saat kita berdiri di atas ruangan aula Fakultas Saintek UIN Bandung ini. Jangan lupa yang paling utama adalah SYUKURI atas torehan ini. Bersyukur dengan sepenuh hati. Tetap pegang erat ilmu padi. Jadilah pembelajar sejati. Semoga teman-teman yang lain juga ikut tersengat motivasinya. Satu lagi yang harus diingat, faidza 'azamta fatawakkal 'alallah. Keep spirit do the best....!!!

Seperti sebait petuah motivasi yang digelorakan saat grand opening acara Bioaction ini. Acara Biology Annual Competition ini dibuka dengan penuh semangat membara lewat sambutan-sambutan shohibul hajat (panitia). Salah satunya tentang filosofi bangun tidur menurut Dr. Tri Cahyanto, M.Si dalam sambutannya selaku Kajur Biologi UIN Bandung. Beliau menuturkan filosofi bangun tidur ada dua, yaitu "bangun tidur, lalu tidur lagi melanjutkan mimpi" atau "bangun tidur kemudian bangkit dan mengejar mimpi". Tentu jika ingin berhasil maka pilihlah opsi kedua. Itulah sepercik energi tentang mimpi. Dan itulah yang Daffa, Darto dan Fathi pilih hingga mengikuti kompetisi di Bandung ini. Ketiganya mengatakan bahwa event ini merupakan event pertama kalinya yang diikutinya semenjak duduk di bangku SMA.

Berbekal Obsesi, Berbuah Prestasi


"Datang dengan Obsesi, Pulang Membawa Prestasi" (jargon SMA Ibnu Hajar Boarding School). Jargon ini terpampang di setiap sudut sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA IHBS. Tidak hanya berlaku untuk siswa, tapi juga jargon untuk guru, satpam, OB, dan seluruh civitas akademika IHBS lainnya. Jargon tersebut memang bukan sekedar kata-kata. Asalkan dilandasi dengan niat dan tekad yang kuat. Tak cukup sampai disitu, perlu juga ikhtiar dan usaha yang serius. Bersungguh-sungguh. Man jadda wa jada. Kalau bahasa Sundanya "lamun keyeng, tangtu pareng"

Alhamdulillah sebaris lapisan tekad itu pula yang terpancar dari kedua siswaku ini dalam mengikuti ajang kali ini. Selamat. Congratulation. Baarokallah buat Fathi Marsha At-Taqi (XI IPA 1) yang meraih JUARA 2 dan M. Rizqi Windarto (X IPA 2) meraih JUARA HARAPAN 1 dalam ajang Olimpiade Biologi BIOACTION (Biology Annual Competition) UIN Sunan Gunung Jati Bandung. Semoga menjadi pemicu untuk terus berprestasi dan berkarya di ajang kompetisi selanjutnya. Semog menjadi pemantik semangat juga buat rekan-rekan siswa yang lainnya. Berangkat dari Depok berbekal dengan obsesi. Pulang dari Bandung, membawa prestasi. Alhamdulillah wasyukurillah. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Teruslah Belajar, Teruslah Berkarya

Melalui tulisan ini perkenankan ucapan hatur nuhun sedayana. Syukron katsir jazakumulloh khoir. Terima kasih banyak kepada semua panitia Bioaction yang telah menyambut baik kehadiran kami dan sukses dalam penyelenggaraan event Bioaction kali ini. Semoga semakin maju dan semoga tahun depan bisa lebih banyak lagi peserta yang ikut dan lebih besar lagi tingkat nasional. Aamiin.... Pertemuan singkat di kampus UIN Bandung ini mengingatkanku saat masa perjuangan di bangku kuliah dulu, hehe. Ada banyak hal berharga tentang silaturahim (seperti yang dipaparkan oleh Kajur Biologi UIN Bandung) saat sambutannya dan pembelajaran berharga dalam kegiatan ini.

Kalau kata Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah itu Candu : “setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Setiap buku adalah ilmu”. Begitu pun dalam event Bioaction ini. Secara harfiah, ajang Bioaction ini merupakan event kompetisi, namun secara makna event tersebut adalah habitat ilmu. Sama halnya seperti sekolah. Event tersebut, panitia penyelenggara, peserta yang ikut hingga pembimbing yang mendampingi adalah guru sekaligus sumber ilmu yang bisa kita petik hikmah dari balik event tersebut.

Terakhir sebagai penutup, saya pribadi mengucapkan SELAMAT kepada para peserta dan guru pendamping yang lainnya. Kalian semua adalah juara. Bagi yang menang teruslah berkarya. Bagi yang belum menang, teruslah berkarya. Bagi panitia dan bagi guru pendamping, teruslah berkarya. Sebagaimana quote berikut ini:

“Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya”
(Michael Crichton, penulis novel “Jurassic Park” )


#EduWriter


Cipayung, 5 November 2017