Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Tuesday, 26 August 2014

Malaria vs Suwanggi: Antara Dokter dan Dukun?


Sepucuk surat datang dari salah seorang penumpang kapal kayu. Maklum, karena di pulau ini tarada (tidak ada) signal, maka kami pergunakan komunikasi lewat surat menyurat ketika ada urusan penting. Surat yang membuat kaget seketika di tengah-tengah acara Hajatan Umum yang sedang berlangsung di Dama, pusat kecamatan Loloda Kepulauan. Semua terdiam tatkala aku membacakan surat yang datang dari sahabatku, Sipat. Semua kaget, tersentak dan menunjukkan muka terkejut. Suasana yang tadinya meriah, berubah menjadi hening seketika.

            “Menurut hasil analisa mantri (sebutan untuk bidan desa) setempat, aku positif terserang malaria! Tekanan darah hanya 60 / 90. Kemarin sudah dikasih infus sama mantri, tapi setelah dicek ternyata infus tersebut sudah kadaluarsa 2 bulan. Akhirnya infus tersebut terpaksa dilepas. Ternyata mantri di desa ini juga dikenal sebagai pemabuk” demikian pesan penting yang ada dalam surat tersebut. Tanpa berfikir panjang, dorang (kami) langsung memutuskan untuk menjemput saudari seperjuangan dorang yang ada di Dedeta. Kalau kondisinya seperti itu, mau ga mau dia harus dibawa ke puskesmas setempat untuk segera diobati lebih lanjut.

            Sebuah katinting (motor laut) yang sudah menjadi langganan dorang, langsung bergegas menuju lokasi. Kecepatan katinting yang biasanya lambat, kini agak sedikit berjalan cukup kencang untuk menempuh perjalanan dari Pulau Doi menuju Dedeta, Pulau Panjang. Semua mata penumpang katinting ini terlihat berbinar-binar menandakan rasa was-was dan cemas. Desiran ombak yang bergelombang tak menyurutkan langkah kami melintasi lautan Loloda Kepulauan ini. Tiba-tiba aku jadi teringat dengan sebuah pesan Bung Hatta yang pernah disampaikan oleh Pak Agung, “sesungguhnya yang mengancam hidupku bukanlah malaria, tapi kesepian”. Malaria dan kesepian memang menjadi ancaman ketika di daerah penempatan. Tapi, kini malaria telah benar-benar datang, maka jangan sampai kesepian itu datang menghampiri saudariku yang terserang malaria. Karena sebuah kehadiran dan kebersamaan dalam sebuah tim, pasti akan menjadi obat penawar kesepian dan mampu membangkitkan semangat perjuangan.

            Sampai juga di tepi pantai Dedeta. Dorang langsung bergegas menuju tempat tinggal Sipat. Kondisinya sama seperti yang dia utarakan dalam surat yang dorang terima. Saat dorang datang, dia sedang berbaring istirahat sembari membaca buku. Ibu angkatnya lagi pergi ke kota. Bapak angkatnya juga sedang pergi ke kebun. Dia di rumah ditemani adik dan tetangga kampungnya. Aku dan Vauzi pergi ke rumah kepala desa untuk meminta izin membawa Sipat untuk diperiksa di puskesmas kecamatan atau rumah sakit kota yang ada di Ternate. Sementara teman-temanku yang lain berkoordinasi dengan keluarga dan tetangga yang ada di rumahnya Sipat. Tak lama kemudian, kepala desa dan guru SD setempat juga datang di kediamannya Sipat.

            “Menurut analisa dukun desa, Ibu Sipat ini terkena Suwanggi (sejenis roh jahat), jadi harus diobati dulu dengan obat kampung oleh dukun desa tersebut” ujar Pak Kepala Desa Dedeta. Harusnya kalau orang baru, jangan bermain terlalu jauh di pantai yang ada di ujung desa, tambahnya. “Warga di desa ini ketika sakit, lebih percaya ke dukun dibandingkan ke dokter” ujar salah seorang warga. Terjadi diskusi yang cukup lama antara dorang, kepala desa dan warga desa setempat tentang maksud dorang untuk membawa Sipat berobat ke puskesmas yang harus menyeberangi pulau. Mereka bersikukuh untuk mengobati Sipat dengan dukun desa. Aku mencoba memberikan penjelasan ilmiah tentang penyakit malaria yang  harus segera diobati oleh dokter atau bidan. Tapi mereka tetap pada pendiriannya. “Kita kan sama-sama ingin Ibu Sipat sembuh, tapi alangkah baiknya jika diobati di dukun dulu, baru esok dibawa ke rumah sakit atau puskesmas” tegas pak Kades.

            Awalnya kami sempat menerima usulan mereka untuk mengheningkan suasana yang cukup pelik. Waktu sudah memasuki dhuhur, kami pun bergegas untuk sholat terlebih dahulu. Dorang selaku tim SGI Halut juga sempat berdiskusi, karena ini menyangkut akidah dan keyakinan kita. Warga disini memang masih percaya dengan dukun, tapi jangan sampai kita juga terbawa oleh kemauan mereka. Itulah masalah utamanya. Sebisa mungkin kita harus tetap membawa dia ke puskesmas atau rumah sakit. Terjadi diskusi lagi yang cukup lama antara dorang, kepala desa, kepala sekolah (ayah angkat Sipat) dan warga desa setempat. Keputusannya diserahkan ke saya (selaku ketua tim) dan Sipat sendiri. Hati masyarakat sudah lunak dan keputusannya Ibu Sipat boleh dibawa ke rumah sakit atau puskesmas. Pada prinsipnya “katakanlah yang hak (benar), meski itu pahit”. Karena sebuah kebenaran harus dikatakan dengan sebenarnya dan perlu kesabaran untuk melunakkan hati masyarakat dalam memutuskan setiap perkara.



Merawat Tradisi Di Ujung Negeri

            
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan dan pendiri bangsa (founding father) kita. Mereka tidak hanya menumpahkan darah perjuangannya untuk bumi pertiwi dengan jiwa dan raganya. Lebih dari itu, mereka juga mewariskan semangat dan meninggalkan tradisi yang perlu kita jaga dan lestarikan keberadaannya. Tradisi yang bukan hanya sekedar seremonial belaka, tapi juga kaya akan makna. Di tengah era globalisasi yang semakin modern dan canggih, keberadaan sebuah tradisi ibarat telur diujung tanduk. Kalau bukan para generasi muda yang melestarikannya, siapa lagi? Karena jika dibiarkan liar tanpa dirawat dengan baik, maka tunggu saja waktu kemusnahannya. Ibarat tanaman, jika tidak dirawat dengan baik, jika tidak dikasih pupuk dan tidak disiram dengan air maka akan mati. Begitu halnya dengan tradisi, jika tidak dirawat, jika tidak dilestarikan, maka akan hilang dengan sendirinya.

Provinsi Maluku Utara memiliki banyak tradisi yang diwariskan secara turun temurun. “Nenek moyangku seorang pelaut”, pepatah ini cukup populer di telinga kita. Lantas, apakah para cucunya (generasi muda) sekarang juga seorang pelaut? Mengingat Negara kita 70% adalah laut (luas wilayah lautan kurang lebih 3.257.357 km2). Ternyata diantara lautan luas itu terdapat banyak pulau yang memiliki tradisi yang masih dijaga keberadaannya. Salah satunya adalah Loloda Kepulauan, salah satu daerah terpencil yang ada di Halmahera Utara. Wilayah kepulauan ini terbagi atas 4 pulau yaitu Pulau Doi, Pulau Panjang, Pulau Tuakara dan Pulau Tobo-Tobo. Pasca lebaran Idul Fitri, kepulauan ini memiliki tradisi unik yang disebut dengan “Hajatan Umum”. Konon katanya, tradisi ini hanya ada di Loloda Kepulauan yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Tradisi ini diadakan seminggu pasca lebaran idul fitri.

Saat lebaran tiba, kepulauan ini bisa dibilang cukup sepi dan sunyi. Akan tetapi seminggu kemudian, satu minggu pasca lebaran daerah kepulauan ini ramai dikunjungi orang. Warga setempat yang merantau ke kota, berduyun-duyun pulang kampung pada saat menjelang Hajatan Umum tiba. Bahkan warga kota juga datang ke kepulauan ini untuk menyaksikan tradisi unik ini. Bisa dibilang tradisi ini seperti memiliki magnet tersendiri karena mampu menjadi pemersatu masyarakat untuk saling berinteraksi dan bersilaturahmi dari desa ke desa, dari rumah ke rumah. Dengan menggunakan Katinting (perahu kecil) mereka melintasi pulau demi pulau yang ada di Loloda Kepulauan. Walau jarak yang jauh, tak menyurutkan mereka untuk mengunjungi kepulauan ini pada saat Hajatan Umum tiba.

“Hajatan Umum” merupakan tradisi lebaran ketupat masyarakat Loloda Kepulauan yang terdiri atas berbagai macam kegiatan seperti Khataman Qur’an, Cukur Rambut Bayi, Khitan Kampung, Pertunjukan Silat Kampung, Pertandingan Sepakbola dan Pesta Rakyat (tari-tarian daerah khas Maluku). Acara ini digelar dari pagi sampai malam. Acara pagi bertempat di masjid, acara siang bertempat di pelataran halaman yang luas, sore di lapangan dan malam juga di pelataran halaman yang luas. Selain acara-acara khusus seperti ini, warga juga berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain. Pertunjukkan yang paling ditunggu-tunggu warga dan tamu yang hadir adalah silat kampung. Pertunjukkan ini diiringi juga dengan gendang dan gong setiap kali ada yang menampilkan aksi silatnya. Aturan main silat ini adalah tidak boleh menggunakan kaki, dan yang membuat silat ini ramai adalah apabila yang mempermainkannya adalah menampilkan adegan-adegan lucu. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga orangtua juga ikut berpartisipasi menampilkan aksi silatnya.
Pesilat SGI vs Pesilat Dedeta


Penampilan silat kampung ini tidak hanya oleh warga desa setempat saja, warga desa lain juga berunjuk gigi memperagakan silat dengan jurus-jurus andalannya masing-masing. Inilah yang menjadikan tradisi ini terus digemari oleh masyarakat. Dan yang tak ketinggalan adalah tari-tarian daerah, seperti Tari Lalayon, dan Tari Tide-tide. Kedua tarian khas Maluku ini sangat digemari oleh warga. Anak-anak hingga orangtua jago bermain tarian ini. Selain hajatan umum, kedua tarian ini juga kerap ditampilkan dalam acara-acara lain seperti pernikahan dan acara-acara adat lainnya. Inilah yang membuat tradisi ini terus digemari. Karena para orangtua masih senantiasa mengajarkan dan mengenalkan tradisi-tradisi ini kepada anak-cucu mereka. Meski arus globalisasi kian menggerus perubahan zaman, tapi semangat mereka tak pernah padam dalam merawat tradisi yang ada di pelosok negeri ini.


Dari Loloda Kepulauan: “Indonesia Bangkit”

Bersama Camat Loloda Kepulauan sehabis upacara HUT RI Ke-69

17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka nusa dan bangsa. Hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeeekaaa. Sekali merdeka, tetap merdeka! Selama hayat masih dikandung badan. Kita tetap setia…! tetap sedia, mempertahankan Indonesia. Kita tetap setia…!, tetap sedia, membela negara kita” lirik lagu nasional berjudul ‘Hari Merdeka’ ini bergema mengguncang Loloda Kepulauan dalam acara Semarak Lomba HUT RI Ke-69.

            Kegiatan ini merupakan acara yang digelar oleh Tim Sekolah Guru Indonesia (SGI) – Dompet Dhuafa daerah penempatan Halmahera Utara yang bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Loloda Kepulauan. Kegiatan yang bertemakan “Indonesia Bangkit” ini berlangsung selama 3 hari (Jum’at-Minggu, 15-17 Agustus 2014) dan dibuka secara resmi oleh Camat Loloda Kepulauan, Budiman H. Modim. Kegiatan Semarak Lomba HUT RI Ke-69 ini terdiri atas perlombaan untuk anak-anak dan dewasa. Ada 6 macam lomba-lomba tingkat SD/MI Se-Kecamatan Loloda Kepulauan yaitu: Lomba Tarian Lalayon, Lomba Tarian Tide-tide, Lomba Paduan Suara (Lagu Nasional), Lomba Peraturan Baris Berbaris (PBB), Lomba Puisi, dan Lomba Pidato. Sedangkan untuk lomba tingkat dewasa terdiri atas Lomba Poco-Poco dan Lomba Gerak Jalan tingkat Kecamatan Loloda Kepulauan.

Kegiatan ini diawali dengan rapat bersama antara SGI, Pemerintah Kecamatan Loloda Kepulauan dan Pemerintah Desa Dama. Dari hasil rapat memutuskan ada lomba-lomba tingkat anak-anak dan dewasa. Untuk ketentuan lomba, petunjuk teknis, jadwal kegiatan dan peraturan lomba dibuat oleh tim SGI, sedangkan surat edaran dan permintaan delegasi peserta dibuat oleh Camat Loloda Kepulauan. Untuk peserta lomba-lomba tingkat SD/MI Se-Kecamatan Loloda Kepulauan diikuti oleh 8 delegasi (SD/MI) dari 7 desa yaitu: SDN Tobo-Tobo, SD GMIH Dowonggila, SDN Fitako, SDN Dedeta, SDN Dagasuli, SDN Dama, MI Al-Basyariah Dama dan SDN Salube. Sedangkan peserta lomba gerak jalan dan poco-poco diikuti oleh siswa-siswi SMP-SMA dan perwakilan masing-masing desa yang ada di Kecamatan Loloda Kepulauan.

“Lautan luas itu, dicuri orang. Untuk bisa makan ikan, aku harus beli pada orang asing. Padahal lautan luas itu milikku! Ironi memang, katanya 69 tahun lalu gema proklamasi mengguncang Indonesia. Tapi, nyatanya Indonesia (belum) merdeka. Pendidikan di tempatku masih tertinggal. Kampungku, layaknya kota mati. Tak ada listrik, tak ada sinyal” petikan puisi karya Siti Fatimah ini bergema menggelora semua warga Loloda Kepulauan. Puisi yang berisi kritik sosial yang membangun ini begitu menyentuh hati warga masyarakat agar sadar akan kondisi dan potensi yang mereka miliki. Karena pada akhir puisi ini berisi ajakan untuk bangkit dari keterpurukan yang ada. Puisi tersebut ditutup dengan kata-kata: “Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan. Itulah tekad kita. Mari kita bersatu, untuk Indonesia lebih maju…!”

Saya teringat apa yang dikatakan presiden pertama Indonesia, Soekarno “Beri saya 1000 orangtua, maka akan aku cabut Semeru dari akarnya! Beri saya 10 pemuda, maka akan aku goncang dunia!” Tidakkah kita sadar, bahwa pemuda-pemuda yang dimaksud adalah kita? Pemuda Loloda. Jika memang dunia terlalu luas untuk kita goncang, maka minimal mari goncang tanah kelahiran tercinta kita, Loloda Kepulauan! Dengan apakah kita goncang dunia (goncang Loloda) wahai pemuda? Dengan karya kita, dengan prestasi terbaik kita sebagai putra daerah. Kita tunjukkan bahwa kita punya komitmen dan kesungguhan untuk memajukan daerah kita. Petikkan teks pidato ini juga bergemuruh dalam Lomba Pidato Berteks yang diikuti oleh siswa-siswi SD/MI se-Kecamatan Loloda Kepulauan ini. Isi pidato mengandung pesan-pesan penting bagi pemuda Loloda Kepulauan sebagai generasi bangsa.


Satu demi satu masing-masing peserta menampilkan penampilannya dengan penuh semangat. Warga masyarakat pun sangat antusias dalam menyaksikan gelaran acara ini. Setelah melewati lomba demi lomba dan persaingan yang sangat ketat, dewan juri memutuskan untuk para pemenang lomba-lomba tersebut yaitu:  Lomba Pidato (Juara 1 Rezali Dariopa dari SDN Dedeta, Juara 2 Rusnia Ishak dari SDN Dama dan Juara 3 M. Fajri AR. Lahani dari SDN Tobo-Tobo). Lomba Puisi (Juara 1 Safria Mahmud dari SDN Fitako, Juara 2 Mutmainnah Putri Lukman dari SDN Salube dan Juara 3 Asra Moh. Rafsan Din dari SDN Dedeta). Juara Lomba Tarian Lalayon (Juara 1 SDN salube. Juara 2 SDN Dagasuli, dan Juara 3 SDN Fitako). Juara Lomba Tarian Tide-tide (Juara 1 SDN Dagasuli, Juara 2 SDN Tobo-tobo, dan Juara 3 SDN Salube). Juara Lomba Peraturan Baris Berbaris (Juara 1 SDN Dedeta, Juara 2 SDN Dagasuli dan Juara 3 SD GMIH Dowonggila). Juara Lomba Paduan Suara (Juara 1 SD GMIH Dowonggila, Juara 2 SDN Dagasuli dan Juara 3 SDN Salube). Acara ini ditutup dengan pembagian hadiah, pementasan seni para juara dan ditutup secara resmi oleh camat Loloda Kepulauan.

Menjaring Semangat Pemuda di Pantai Goha

Saat mengisi Training Motivasi Sentral Pelajar Fitako
Jika ditanya “PEMUDA”, maka jawablah dengan kata “SAYA PASTI BISA”. Yel-yel ini bergelora di tepi pantai saat aku mengisi sebuah training motivasi kepada pemuda Loloda Kepulauan. Karena pemuda itu identik dengan kata semangat, maka sudah semestinya menampilkan ekspresi optimis. Seperti pesan Hasan Al-Banna yang begitu menggetarkan hati, “jika mereka bertanya tentang semangat. Maka, jawablah bahwa bara itu masih bersemayam di dalam dadaku! Bahwa tekad itu masih membara di dalam diriku. Bahwa semangat itu masih hidup di dalam jiwaku. Katakan itu pada orang-orang yang ragu akan kemampuan dirimu. Karena impianmu saat ini adalah kenyataan hari esok”.

Siapakah sosok pemuda itu? Apakah para pemuda itu seperti yang diucapkan oleh Ir. Soekarno, “Beri aku 1000 orang tua maka akan aku cabut Semeru dari akarnya, tapi beri aku 10 orang pemuda maka akan aku goncangkan dunia”. Inilah pesan penting Sang Proklamator untuk generasi bangsa (khususnya pemuda) dalam hal ini adalah pelajar dan mahasiswa Fitako, Kecamatan Loloda Kepulauan. Dengan cara apa kita menggoncangkan dunia? Tanyaku dengan nada tinggi. Dengan karya dan prestasi kita, dengan belajar yang giat dan menjadi generasi yang bermanfaat kelak untuk membangun Loloda Kepulauan yang saat ini masih tertinggal.

Tingkat pendidikan Loloda Kepulauan (Provinsi Maluku Utara) berada di peringkat 27 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Inilah tugas kalian. Sebagai pelajar dan mahasiswa harus bisa mengejar ketertinggalan ini. Apakah kita sudah merdeka? Tanyaku. Kalian rela melihat orang asing mengambil kekayaan alam di pulau ini. Sebut saja kapal-kapal besar mereka mengambil ikan berton-ton, pasir besi dikeruk tiap hari, dan pertambangan. Saya juga menyampaikan tentang kondisi pendidikan  di tanah air secara umum dan menyampaikan juga tentang pendidikan maju seperti yang ada di Negara Jepang, mulai dari Restorasi Meiji dan kebijakan Jepang yang mengutus para pemudanya untuk belajar ke luar negeri (Eropa dan Amerika) untuk menimba ilmu disana. Hasilnya, bisa kita lihat saat ini Jepang mampu menjadi Negara yang maju berawal dari sebuah pendidikan.

“Iqro (bacalah..!)’ itulah pesan pertama dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5 (surat pertama  yang diturunkan). “Siapa yang ingin mendapatkan dunia, dengan ilmu. Siapa yang ingin mendapatkan akhirat, juga dengan ilmu. Dan siapa yang ingin mendapatkan keduanya (dunia-akhirat), juga dengan ilmu”. Itulah beberapa dalil tentang perintah menuntut ilmu. Tentang pentingnya pendidikan. Karena pendidikan merupakan cara yang terbaik untuk memanusiakan manusia. Kemajuan sebuah bangsa berawal dari pendidikan.


Kebangkitan sebuah pemuda pun berawal dari pendidikan. Dan inilah sebuah langkah nyata yang dilakukan oleh sekelompok pemuda Fitako yang tergabung dalam Sentral Pelajar Fitako (SALAFI) Desa Fitako dengan menggelar training motivasi di tepi Pantai Goha Desa Fitako. Kegiatan ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengukuhkan para anggota dan membuka cakrawala berpikir para anggotanya yang terdiri dari pelajar SD, SMP, SMA dan mahasiswa. Seusai menyampaikan materi dilakukan sesi diskusi. Pada sesi ini cukup banyak yang bertanya, akan tetapi mengingat waktu dan masih ada pemateri yang lain, maka hanya dibatasi 5 pertanyaan dalam satu pemateri. Acara pamungkas sebagai penutup adalah pengukuhan anggota Sentral Pelajar Fitako (SALAFI). Dalam sesi acara ini semua peserta yang hadir membentuk lingkaran dan ditengahnya dinyalakan api unggun. Sambil ketua umum berorasi, yang lain menyanyikan lagu syukur bersama-sama. Setelah itu semua peserta mengucapkan sumpah pemuda secara bersama-sama. Dan ditutup dengan do’a dan saling berjabat tangan antar peserta.