Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Saturday, 28 November 2015

Orientasi Kampus UNJ, Gali Minat Siswa Lanjut Studi


Meski Ujian Nasional SMA masih jauh di mata, tapi persiapan dan rencana untuk menghadapi dunia pasca lulus SMA harus dipersiapkan sekarang juga. Mau kemana setelah lulus SMA? Jika kuliah menjadi pilihan pertama, pertanyaan selanjutnya adalah mau pilih jurusan apa? Di kampus mana? Bagaimana usaha yang harus dipersiapkan oleh siswa? Kenapa harus kuliah? Bagaimana system pembelajaran yang ada di kuliah? Apakah sama dengan sistem pembeljaran di SMA? Begitulah kurang lebih sekelumit pertanyaan yang dirasakan oleh anak kelas 3 SMA. Sama halnya dengan yang dirasakan oleh siswa kelas XII SMA Plus Liwaul Furqon. Oleh karena itu untuk menjawab kegelisahan itu, SMA Plus Liwaul Furqon melakukan kegiatan orientasi perguruan tinggi bagi siswa kelas XII.

Kegiatan Orientasi Kampus ini dilakukan di Kampus Universitas Negeri Jakarta yaitu bekerjasama dengan BEM UNJ. Kegiatan orientasi ini dilaksanakan pada hari Kamis, 5 November 2015. Anak-anak kelas XII IPA SMA Plus Liwaul Furqon didampingi oleh guru wali kelasnya datang ke kampus UNJ dan disambut baik oleh rekan-rekan BEM UNJ. Kegiatan ini diawali dengan perkenalan antara mahasiswa pengurus BEM UNJ dan siswa-siswa LF. Setelah itu dilanjut dengan sesi diskusi. Syahril, Syahiidah dan 3 rekan timnya selaku perwakilan BEM UNJ memaparkan sekilas tentang kampus UNJ, jumlah fakultas dan jurusan yang ada di UNJ, tahapan seleksi masuk, kegiatan kemahasiswaan, beasiswa yang ada, prestasi dan semua sendi kehidupan mahasiswa secara detail. Pemaparan ini dilakukan melalui sarasehan dialog interaktif. Siswa-siswa LF secara bergantian menanyakan hal-hal tentang dunia perkuliahan. Perwakilan BEM UNJ yang berasal dari beberapa fakultas ini berbagi pengalaman mengenai system pembelajaran di kampus, tips-tips menjadi mahasiswa, persiapan seleksi masuk, aktivitas perkuliahan, pengalaman organisasinya selama di kampus hingga peran mahasiswa dalam kehidupan di Indonesia secara luasnya.

Setelah dialog interaktif dan diskusi, para siswa LF ini diajak keliling seputar kampus UNJ yaitu mengunjungi beberapa fakultas yang ada, ruang kuliah melihat aktivitas mahasiswa yang sedang kuliah di kelasnya, kegiatan mahasiswa di pendopo kegiatan mahasiswa, pameran, pertunjukan musik dan berkeliling ke beberapa lokasi yang ada di UNJ. Sembari berkeliling, para siswa LF juga melakukan tanya jawab seputar hal-hal yang ada di benaknya. Melalui kegiatan seperti ini para siswa jadi terbuka wawasannya tentang kehidupan dunia kampus yang pastinya sangat berbeda dengan dunia SMA. Mulai dari sistem akademiknya, aturan pembelajarannya, kegiatan mahasiswanya, rutinitasnya hingga peran mahasiswa sebagai agent of change, control sosial dan iron stocknya.

Belajar itu tak melulu di dalam kelas saja. Alam, lingkungan dan sekitar kita adalah media pembelajaran yang bisa kita jadikan sebagai tempat belajar. Kalau kata Roem Topatimasang (dalam bukunya ‘Sekolah itu Candu’) mengatakan bahwa “setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Setiap buku adalah ilmu”. Begitu juga dengan kegiatan orientasi kampus yang dilakukan bersama BEM UNJ ini. Banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan dari kegiatan ini. Siswa-siswa LF jadi terbuka wawasannya tentang dunia kampus. Tentunya menjadikan mereka mulai memetakan potensi, jurusan yang akan dipilih, kegiatan mahasiswa yang akan mereka ikuti dan yang paling penting adalah kesiapan mereka menyambut dunia kampus nanti. Secara tidak langsung kegiatan orientasi kampus ini juga menggali minat siswa untuk memantaskan diri dan memantapkan rencana untuk lanjut studi ke perguruan tinggi.


Asah Mental Siswa melalui Lomba


Siswa LF kembali tampil dalam ajang kompetisi. Kali ini adalahn mengikuti ajang lomba pidato 3 bahasa yang diadakan oleh Ummul Quro Bogor. Kegiatan ini berbentuk kompetisi-kompetisi pelajar dalam berbahasa Indonesia, Inggris, dan Arab melalui berpidato. Diharapkan dari  kegiatan ini mampu melahirkan pelajar-pelajar Indonesia yang berwawasan luas, memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, serta mampu bersaing di tengah tantangan globalisasi.

Peserta lomba pidato (Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris) adalah pelajar tingkat SMP (sederajat) dan SMA (sederajat) . Tema lomba  pidato ini adalah:
a.    Peran Pemuda Dalam Menciptakan Kerukunan Antar Umat Beragama
b.    Peran Budaya Islam Dalam Pendidikan Indonesia (Pidato Bahasa Indoensia)
c.    Peran Pondok Pesantren Dalam Memajukan Negara (Pidato Bahasa Arab dan Inggris)


Siswa LF yang mewakili ikut berpartisipasi dalam lomba pidato 3 bahasa ini adalah Arthadipta Fatlullah Igaprhama (Lomba Pidato Bahasa Indonesia), Abuya Rohman (Lomba Pidato Bahasa  Arab), dan Naufal  Sholahudin (Lomba Pidato Bahasa Inggris). Lomba ini dilaksanakan pada hari Ahad, 1 November 2015

Thursday, 26 November 2015

Ketemu Guru Inspirator di Gramedia


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Rasanya seperti kejatuhan durian runtuh. Padahal sore itu bukanlah hujan durian, melainkan hujan beneran, hehe. Tepatnya pada Rabu, 4 November 2015 Kota Bogor diserbu pasukan H2O. Walau hujan deras menghadang di tengah perjalanan, aku tetap melaju di atas sepeda motor menuju ke Gramedia Bogor yang terletak di Botanical Square. Hunting cemilan otak, itulah tujuanku untuk beli jajan “buku” di Gramedia. Aku berjalan berkeliling mencari buku yang menarik. Tak lama setelah saya melewati tempat favorite di Gramedia yang sering aku tuju adalah bagian Buku Pendidikan dan Pengembangan Diri. Tak lama berseling, aku melihat sosok orang yang sepertinya aku kenal. Aku pun langsung mendekati orang tersebut.

 “Ini Pak Jamil atau bukan yah?” pikirku dalam hati dengan nada penasaran. Aku coba perhatikan berkali-kali. Aku tatap baik-baik dari kejauhan. Eh, ternyata memang benar. Setelah benar-benar yakin, aku langsung datang mendekatinya. Aku langsung menghadapnya dan berjabat tangan dengan beliau.

“Pak Jamil yah….? Assalamu’alaikum Pak” sapaku memulai pertemuan yang tak terduga ini.
“Iya,betul. Ini siapa yah?” tanyanya sembari masih berjabat erat tanganku.
“Ini Iin pak”, jawabku dengan nada seperti sudah saling akrab.
“Kita pernah bertemu dimana yah?” tanya sang guru inspirator tersebut.
“Pertama kali saya bertemu Bapak, adalah waktu di Purwokerto pak. Waktu itu Bapak menjadi pembicara seminar di BI pak” jawabku mencoba menjelaskan dengan penuh semangat.
“Kedua kalinya saya bertemu Bapak saat acara FIM pak” tambahku meyakinkan.
“Owh iya, FIM berapa yah?” tanya Inspirator Sukses Mulia ini.
“FIM 17 pak” jawabku singkat.

Setelah saya dan Pak Jamil saling mengingat-ingat, saya pun mencoba ngobrol dan tanya-tanya dengan tokoh inspiratif tersebut. Bagiku Pak Jamil Azzaeni adalah guru inspiratifku. Saya mengenal beliau sejak masih kuliah dulu. Beliau juga merupakan salah satu tokoh favoritku yang telah memberiku banyak inspirasi dan motivasi. Inspirator Sukses Mulia, begitulah julukan yang melekat dalam diri pak Jamil Azzaeni. Pertemuan singkat ini rasanya memberikan energi spirit baru bagiku. Tuhan Inilah Proposal Hidupku, Kubik Leadership dan ON adalah buku karya Jamil Azzaeni yang sudah saya miliki dan sudah saya baca bukunya. Setelah ngobrol singkat dengan beliau, pikiran saya langsung teringat dengan buku yang ada di dalam tas. Kebetulan pada waktu itu saya juga sedang membawa buku beliau yang berjudul “ON”. Buku tersebut saya keluarkan dari dalam tas dan minta tanda tangan beliau. Pak Jamil langsung membuka halaman pertama buku tersebut.

“Namanya Kang Amroelz yah?” tanya beliau.
“Iya pak, itu nama pena saya” jawabku singkat.
Pak Jamil pun langsung memberikan tanda tangannya di halaman pertama buku tersebut.
Untuk Kang Amroelz, tertanda tangan dibawahnya, Jamil. Buku “ON” yang ditanda tangani tersebut belinya di Gramedia Ternate, Maluku Utara, 18 Mei 2015.

Terima kasih Gramedia yang telah menyediakan buku-buku best seller Jamil Azzaeni dan penulis-penulis hebat lainnya. Momentum ini menjadi durian runtuh bagiku. Gramedia Bogor mempertemukanku dengan tokoh penulis dan motivator favoritku, Jamil Azzaeni.

Terima kasih Pak Jamil, sang guru inspiratorku. Sampai berjumpa lagi pak di lain kesempatan.

NB: Cerita ini diikutsertakan dalam Gramedia Blogger Competition November 2015

Friday, 23 October 2015

Terima kasih SGI (Milad Ke-6)


Habis lulus S1 mau kemana? Itulah pertanyaan yang muncul kala itu. Ada 3 pilihan yg ku tulis dlm dream bookku: SM3T, SGI dan IM. 
SM3T sempat iseng daftar, jelas gak bisa. "Maaf anda bukan dari sarjana kependidikan". Selanjutnya SGI dan IM wkt itu hmpir bersamaan wkt pndftrnnya. Pilih yg mana? Butuh waktu lama utk memutuskan. Stlh searching, tanya2, observasi websitenya, googling visi misinya, dll. Akhirnya kptsnnya milih SGI. Pdhl blm dftr, tp udah optimis bakalan lulus, hehehe.

Singkat cerita udah lewatin izin orang tua (cukup lama jg utk meyakinkan). Akhirnya daftar. Pengumuman lolos tahap pertama nih. Lalu, tahap 2 interview, mikroteaching dan FGD di Jogja. Sempat minder, krn saingannya cukup keren sekilasnya, krn kbnykn alumni sarjana kependidikan. Sementara aku? Modalku tekad yang kuat. Minder pun hilang. Aku msh punya pengalaman organisasi dan kgtn sosial saat di kampus. Optimis, semangat dan sungguh2 wkt itu, berasanya pasti lulus tahap ini, hehehe.

Cukup lama menanti. Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Sms masuk menyatakan selamat lolos seleksi akhir SGI (hari senen). Hari selasa dpt panggilan jg dari RSCM, tinggal interview. Hari Rabu ada lg tawaran undangan menjadi guru di sebuah sekolah. Wah, 3 hari berturut-turut wkt itu spt dapat durian runtuh. Pilih yg mana ayo? Musyawarah dg orang tua, rapat intern dg diri sendiri. Kptsnnya milih SGI.

Oke, semua udah oke. Aku pun berangkat pamit izin merantau Desember 2013. Sejak itulah aku datang di bumi pengembangan insani Bogor. Memulai pembinaan asrama SGI. Tempat baru, tmn baru dan suasana baru. Utk bersama dlm pmbinaan slama 4,5 bulan. Disinilah aku ditempa, dibina dan mndptkn banyak ilmu dari SGI. Jdwal yang padat dan disiplin. Dan dilarang pulang ke rumah, kecuali alasan penting mendesak. Pemateri yang hebat, dosen, praktisi, profesional, dll turut membimbingku.

Mulai dari studium General, medical check up, perkuliahan, pembinaan asrama, militery super camp, magang 3 bulan, hingga share (SGI Help and Care) di pelosok Garut 1 bulan pun mjd sajian pengalaman yang sangat berharga dan berarti. Cerdas intelektual, cerdas spiritual dan cerdas sosial. Kurang lebih itulah yang didapatkan. Dan msh banyak lagi hal-hal seru yang didapatkan saat masa pmbinaan 4,5 bulan ini. Mjd presiden KM Heksagonal, kenangan di paviliun, hingga perpisahan dan pelepasan 30 pejuang muda SGI VI.

Loloda Kepulauan, Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara menjadi tempat pengabdianku selama satu tahun. Banyak cerita, banyak makna, banyak kesan, banyak inspirasi, banyak pengalaman dan karena sangking banyaknya gak bisa diceritakan disini, hehehe.

Kok panjang banget. Oke deh. Singkat cerita, aku ingin ucapkan terima kasih SGI atas semuanya.

Selamat milad yang ke-6. Semoga terus tumbuh dan berkembang mjd barometer peningkatan kualitas guru Indonesia. Terus istiqomah. Terus berinovasi. Mulai dari SGI reguler, kini engkau telah tumbuh menjadi SGI Executive Class, SGI Profesional Class, School of Master Teacher dan School of Principal. Semoga semakin banyak penerima manfaatnya dan berkah.

#Milad6SGI

Parasit Obligat Bermuka Dua

Ada inang kau datang
Tak hiraukan kawan, apalagi lawan
Formalitas memang gagah 
Tampak rapi tak bernoktah
Hati rapuh gadaikan amanah
Kau menyusup kenyangkan perut
Bereplikasi selipkan miliaran
Karena ada sempat, kau lupa
Sebab kejar nikmat, kau lalai
Oh parasit obligat....
Hidup di nyawa inang
Tahu-tahunya gemuk uang
Tertangkap sidak jaksa
Kau tetap nyaman
Ada amplop penutup lidah
Oh parasit Obligat....
Lewat litik, kau pecahkan kejujuran
Lewat lisogenik, kau buat profag kemiskinan
Tak peduli rakyat semakin melarat
Tak hiraukan dhuafa semakin sengsara
Oh parasit Obligat....
Rugi, merugikan
Untung, menyakitkan
Selamanya....
Bertaubatlah.....
Hidupmu hanya numpang!
Bogor, 19 Oktober 2015
Buah karya,
Kang Amroelz

Thursday, 8 October 2015

Kontribusi Anak Muda Lewat Komunitas


Beri aku 1000 orang tua, maka akan ku cabut Semeru dari akarnya. Tapi, beri aku 10 orang pemuda maka akan ku goncangkan dunia”, kata-kata yang pernah diungkapkan oleh Ir. Soekarno ini memang punya kekuatan yang dahsyat. Itulah sosok pemuda harapan bangsa, energik, punya spirit yang kuat dan tangguh. Sejak dulu hingga sekarang pemuda adalah motor penggerak perubahan. 

Pemuda saat ini, harapan masa depan. Kenapa? Coba kita perhatikan dua momentum besar ini. Pertama, ‘bonus demografi’ yang diprediksikan terjadi antara tahun 2025-2030 dan kedua, ‘Indonesia Emas 2045’  yang didengungkan sejumlah kalangan terjadi saat Indonesia berusia 1 abad kemerdekaan. Benarkah akan terjadi demikian? Kedua momentum tersebut bisa dijawab dengan melihat pemudanya saat ini. Ya, anak muda saat ini yang akan menjadi motor penggerak kedua momentum tersebut. Bonus demografi akan menjadi kekuatan besar bangsa Indonesia manakala para pemudanya punya kapasitas dan kualitas yang mumpuni. Begitu juga dengan Indonesia Emas 2045, para pemuda punya peran dan kiprah besar. Sudah siapkah anak muda?

Mari sejenak kita menatap kondisi Indonesia saat ini, buram? Kusam? Kelam? Bagaimana keadaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, politik hingga stabilitas tata kehidupannya? Seperti itukah yang terpatri dalam benak kita saat ini? Merubah Indonesia bebas korupsi, menjadi Indonesia cerdas, Indonesia bangsa yang maju dan slogan besar lainnya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tidak usah terlalu muluk-muluk sampai ke tingkat negara, tapi kita lihat dalam diri kita sendiri. Mampukah kita merubah diri kita menjadi pribadi yang berkualitas? Ya, sebelum merubah bangsa, pantaskanlah diri sendiri dulu, kuatkan kualitas dan kapasitas diri. Dengan cara apa kita bisa merubah hitam-putihnya wajah negeri? Dengan karya kita. Dengan prestasi kita. Dan dengan kiprah pergerakkan kita. Apa pun itu.

Pemuda hebat tak bisa bergerak seorang diri. Karena merubah masyarakat dari yang kurang baik menjadi lebih baik, memang bukanlah perkara yang gampang. Perlu proses, butuh komitmen dan yang paling penting adalah berkolaborasi dengan semua pihak yang ada. Lantas bagaimanakah anak muda bisa berkontribusi untuk mengubah dan menjadi bagian perubahan tersebut? Salah satu wadah yang bisa menjadi penggerak perubahan bagi anak muda adalah melalui komunitas, organisasi atau perkumpulan. Melalui komunitas inilah peran anak muda bisa berkarya dan berkontribusi untuk perubahan sosial. Dalam bidang apa saja, sesuai bakat, potensi dan kemampuan yang dimiliki anak muda tersebut lewat komunitas yang digelutinya.

Kenapa komunitas atau perkumpulan? Karena melalui wadah inilah aktualisasi dan pengembangan diri pemuda itu bisa berkembang, bergerak bersama dan terstruktur dalam pola yang jelas dan terarah melalui lembaga atau organisasi tersebut. Mulai dari tataran sekolah anak muda (siswa) bisa berkarya lewat organisasi OSIS, PRAMUKA, ROHIS, PMR dan sebagainya. Hingga universitas seperti BEM, SENAT, UKM, HIMA, LDK dan lain sebagainya. Hingga organisasi ekstra atau komunitas yang berada di luar sekolah atau luar kampus pun punya andil besar dalam perubahan sosial di masyarakat yang dilakukan oleh kelompok anak muda. Melalui komunitas dan organisasi tersebutlah anak muda bisa berkarya, berprestasi dan membuat perubahan (meski kecil) sesuai dengan wadah komunitas masing-masing.

Sebut saja beberapa kiprah dan kontribusi komunitas atau organisasi yang melibatkan pemuda di dalamnya seperti Forum Indonesia Muda (FIM), Gerakan Anak Muda Kreatif (Gerakin), Kitabisa.com, Gerakan Indonesia Mengajar, Sekolah Guru Indonesia, dan lain sebagainya. Komunitas-komunitas anak muda tersebut telah turut serta berperan dalam perubahan sosial di masyarakat dan menjadi bagian turut serta merawat Indonesia. Karena, dari pada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Itulah anak muda melihat masalah bangsa. Bukan hanya kritis melihat masalah, tapi memberikan solusi berupa tindakan dan karya yang nyata. Jika anak muda terus konsisten dan berkolaborasi dengan komunitas tersebut, maka bonus demografi dan Indonesia Emas pun akan benar-benar kita nikmati buah manisnya kelak. Sebagai penutup, teringat sebuah petuah Buya Hamka yaitu: “kepada pemuda, bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya, langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu…!”. Pemuda hebat, teruslah konsisten dalam berkontribusi dan kuatkanlah pribadimu dengan berkolaborasi bersama komunitas yang kamu geluti.


Sunday, 27 September 2015

Surat untuk Gandhi of Java ‘‘Mengapa Indonesia Timur Masih Tertinggal?”




Aku berdiri di tepi pantai. Pasir putih terlihat cerah memukau. Jernihnya laut seperti akuarium raksasa. Miliaran ikan tampak menari-nari. Terumbu karang mempercantik panorama bawah laut ini. Itulah lautan Loloda Kepulauan. Lautku tak cukup itu saja. Pala, cengkeh dan kelapa adalah komoditi utama Pulau Rempah ini. Tak hanya itu, sekeping batu pun bernilai tinggi. Batu-batu Loloda Kepulauan menjadi primadona di Indonesia. “Ini laut atau kolam renang?” pikirku di atas Katinting (motor laut sejenis perahu kecil). Jernihnya laut di Pulau ini, jadi terbayang dengan lantai istananya Nabi Sulaeman. Mungkin inilah salah satu alasannya Halmahera Utara dijuluki sebagai “The Pearl of The Pacific”. Inilah tempatku mengabdi selama 1 tahun di Maluku Utara. Dibalik kekagumanku akan pulau ini, aku jadi teringat dengan kata-kata Bung Hatta yaitu “Molukken is het het verleden, Java is het heden en Sumatra is de toekomst” (Maluku adalah masa lalu, Jawa masa sekarang dan Sumatera adalah masa depan). Peribahasa tersebut dulu menjadi semboyan kaum kolonial Belanda. Tapi bagi bangsa Indonesia saat ini, apakah Maluku masih menjadi masa lalu?

Betapa susahnya tinggal di daerah terpencil yang minim akses. Padahal sekarang sudah memasuki era informasi dan teknologi modern. Akan tetapi masih banyak daerah-daerah yang belum bisa merasakan kecanggihan teknologi seperti yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera. Karena tak ada signal, tak ada listrik. Itulah yang masih terjadi di Loloda Kepulauan, salah satu daerah terpencil yang ada di Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Untuk lampu penerangan di sebuah desa kecamatan kepulauan ini masih  menggunakan diesel yang hanya menyala dari jam 18.30-24.00. Padahal mesin ini ditemukan oleh Rudolf Diesel (sang penemu mesin diesel) sejak tahun 1897 silam. Katanya, Indonesia sudah 69 tahun merdeka, kenapa listrik (PLN) belum juga masuk ke pulau ini? Warga Loloda Kepulauan harus berjuang setengah mati untuk mendapatkan yang namanya listrik. Perlu solar untuk bisa mendapatkan listrik, karena harus menghidupkan diesel terlebih dahulu. Harga bahan bakar naik dua kali lipat, karena untuk membeli bahan ini harus ke kota yang jaraknya sangat jauh (butuh waktu kurang lebih 6 jam) dengan menggunakan kapal kayu yang hanya ada 2x seminggu. Dibandingkan dengan Jawa atau Sumatera sangatlah jauh tertinggal. Apakah wilayah Indonesia Timur kurang mendapat perhatian pemerintah atau kita sendiri yang melupakan daerah tersebut. Padahal daerah Papua-Maluku sangatlah kaya alamnya (khususnya lautannya). Belum lagi rempah-rempahnya khususnya kelapa, cengkeh dan pala sangat melimpah ruah.

Andai Bung Hatta masih masih ada di Maluku, tentu saya akan sering baronda (berkunjung) ke tempat beliau untuk berdiskusi dan menimba ilmu dengan Gandhi of Java ini. Maluku tempo dulu pernah menjadi masa kelam bagi Bung Hatta. Mengapa? Karena tempat inilah yang dulu pernah menjadi tempat pengasingan Bung Hatta di Bandaneira, Maluku. Sebelumnya beliau ditempatkan di Boven Digul, Irian Barat (kini Papua) sebagai tempat pembuangan. Kedua tempat pengasingan tersebut tentunya merupakan daerah yang sunyi, pelosok dan terpencil. Walau berada di daerah pembuangan tersebut Hatta tetap gigih memperjuangkan Indonesia, bersikap non-koperatif dengan Belanda, rajin membaca buku dan menulis karangan bermakna. Saya sangat kagum dengan jiwa patriot dan ketangguhan semangatnya Bung Hatta yang senantiasa berkobar. Saya jadi teringat dengan pesan Bung Hatta yang ditujukan kepada saudara-saudaranya yang diinternir (dibuang) dalam perasingan, beliau mengingatkan: “Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup aku gembira. Dan dimana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku”. Kalau kita cermati kata-katanya sungguh sangat dahsyat dan menyentuh hati.

Pesan Bung Hatta adalah dimanapun kita berada di bagian bumi yang masih menjadi bagian Indonesia, teruslah gembira dan tumbuhkan cita-cita yang kuat untuk membangun bangsa ini.  Saya sendiri menyadari betul saat berada di daerah terpencil di Maluku Utara ini, saya belajar banyak akan aneka macam problematika yang ada di tempat saya tugas ini sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia. Semoga langkah kecil saya ini juga menjadi bagian dari cita-cita menyalakan cita-cita seperti yang dipesankan oleh Bung Hatta. Karena saya optimis, meski daerah-daerah Papua-Maluku masih banyak yang tertinggal suatu saat nanti akan bangkit dari keterpurukan ini. Saya sendiri merasakan bahwa Indonesia adalah negara maritim, saat saya menginjakkan kaki di tanah Loloda Kepulauan, tempat saya bertugas tersebut. Tapi, apakah daerah-daerah tersebut akan terus tertinggal jauh dari provinsi-provinsi lainnya? Karena hingga saat ini wilayah tersebut masih saja terisolasi baik dalam kemajuan sosial, budaya, pendidikan, akses, teknologi dan lain sebagainya.

Saya jadi teringat dengan sebuah quote dalam buku berjudul Good News From Indonesia, yaitu “apabila kita tinggal satu hari saja di setiap pulau di Indonesia, maka kita akan menghabiskan setidaknya 46 tahun untuk bisa tinggal di seluruh pulau di negeri ini. Apabila wilayahnya diletakkan di Benua Eropa, Indonesia akan membentang dari ujung utara Irlandia hingga Afganistan. Jarak antara Sabang dan Merauke adalah 5.248 km, lebih panjang daripada jarak antara London (Inggris) ke Mekkah (Saudi Arabia), yakni hanya 4.788 km”. Begitulah gambaran fakta Indonesia dalam buku yang ditulis oleh Akhyari Haryanto tersebut. Selain memunculkan semangat dan optimisme yang tinggi tentang kemajuan Indonesia pada masa sekarang hingga nanti, buku ini juga disertai dengan fakta dan data menarik dari berbagai kalangan tentang posisi, peran dan prospek kemajuan Indonesia di masa mendatang. Masa depan kita ada di tangan orang yang saat ini optimis dan giat bekerja, bukan orang yang pesimis dan suka mencela. Masa depan kita ada di tangan orang yang cinta negaranya, bukan orang yang suka menyanjung bangsa lain, begitu kata Pak Akhyari. 

Andai Bung Hatta masih hidup, saya ingin menyampaikan pesan kepada beliau bahwa “Indonesia Timur (Papua-Maluku) akan menjadi maju dan bangkit di tangan-tangan generasi muda yang gigih, tangguh, dan punya keberanian yang tinggi dalam bersikap seperti sosok Bung Hatta”. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Kalau kita meratapi masalah akutnya yang ada di wilayah ini, tentu kita akan muak melihatnya.  Hanya sabar yang bisa membuat saya bertahan menghadapi semua itu. Tentunya saya titipkan gagasan dan motivasi saya kepada siswa-siswiku. Saya juga sering berpesan kepada anak-anak didikku (khususnya di SDN Fitako, Halmahera Utara) bahwa merekalah generasi yang akan memajukan tanah kelahiran mereka. Anak-anak dimanapun berada sama, mereka punya semangat dan cita-cita yang tinggi. Merekalah yang akan memimpin dan mengelola masa depan Pulau Rempah ini. Sekarang bukan lagi menanyakan ‘mengapa Indonesia Timur masih tertinggal?’. Tapi, mari kita lihat negeri ujung timur Indonesia ini akan maju oleh mereka (generasi mudanya).

*Tulisan tersebut adalah essai karyaku untuk FIM-17

Friday, 11 September 2015

Tips Menjadi Penulis Best Seller & Go National


            Bertemu dengan penulis hebat adalah impian. Karena selain untuk belajar, juga untuk menambah relasi dan tentunya tips-tips menarik dari sang ahli. Tak perlu pikir panjang-panjang, meski agak mahal sekitar sebulan lebih yang lalu aku daftar acara seminar kepenulisan yang bertajuk “Menjadi Penulis Bestseller dan Go National”. All tiket for charity, begitu yang tertuang dalam pamfletnya. Tiket sudah dipegang. Mengapa aku tertarik sekali ikut acara tersebut? Ya, karena pembicara dalam event tersebut adalah para penulis hebat yaitu Ahmad Fuadi, Ippho Santosa dan Asma Nadia.

Balasan bijak, prioritas memilih. Rencana hanyalah rencana. Niat baik tak selamanya berjalan mulus. Tapi, yang jelas kebaikan (pasti) akan dibalas dengan kebaikan pula. Diantara dua pilihan bahkan lebih, memang perlu pertimbangan matang. Memilihnya butuh energi, perlu diplomasi, musyawarah atau sekedar berhenti sejenak. Ya, seperti saktah. Itulah keputusan. Dalam hal apapun, memilih dan menentukan skala prioritas perlu banyak pertimbangan. Baik dari diri sendiri atau pun orang lain. Karena ada acara tiba-tiba (mendadak) di sekolah, setelah dipertimbangkan akhirnya keputusannya saya tidak berangkat ke seminar tersebut.

            “Memang sulit memilih antara keinginan dan tanggung jawab. Insya Allah ada solusi” begitu jawaban dari kepala sekolah lewat whatsappnya saat saya mencoba minta kebijakan izin untuk kegiatan tersebut. Kalau dibikin tulisan akan panjang ceritanya, hehehe. Intinya kedua pilihan tersebut adalah pelajaran berharga, sekaligus refleksi diri sendiri. Komitmenlah yang menentukan prioritas itu. Mungkin betul juga sebuah mahfudhzat "Kun 'aaliman takun 'aarifan". Pun dalam masalah memilih.

Singkat cerita, karena aku sudah bulat dengan keputusanku. Akhirnya aku mencoba tawarkan kepada teman (lewat FB dan WA) untuk menggantikan diriku.
Ada yang mau ikut acara ini?
Saya sudah punya tiket, tapi karena ada acara mendadak juga sepertinya tidak bisa ikut. Kalau ada yang waktunya luang dan bisa datang ke acara tersebut, boleh nih menggunakan tiket saya. Ada yang mau?
*syaratnya cuma bikin review ilmu dari acara tersebut

Hingga hari H tiba belum juga ada yang bersedia. Beberapa orang yang sudah komentar di FB pun belum ada konfirmasi lagi. Dan akhirnya dini hari sekitar jam 03.41 WIB ada pesan masuk lewat whatsapp, menanyakan acara tersebut. Oke deh, tak perlu waktu lama. Hingga menjelang shubuh tiba, akhirnya sudah ada yang bisa menggantikanku untuk datang di acara tersebut. Dia adalah mba Nur Syamsi. Dan sesuai dengan permintaanku kepadanya untuk bikin review hasil acara tersebut. Nah, inilah review yang dibuat oleh mba Nur Syamsi dari acara tersebut. Selamat membaca.....^,^

Review SeminarMenjadi Penulis Best Seller & Go National
(Ditulis oleh: Nur Syamsi)

 Beberapa menit kemudian kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan. Hmm... saya dan seorang teman (kenalan baru yang bernama Irma) langsung memilih kursi bagian tengah. Acara dipandu oleh motivator hebat juga loch, Mas Ardi Gunawan. Beliau memulai acara dengan menyapa para peserta dan tentunya memperkenalkan diri agar lebih terkenal... wk wk wk... 

Meski agak gokil gitu, beliau tetap berpesan agar kita yang tinggal jauh dari orang tua, sebisa mungkin menelepon orang tua setiap hari, insyaAllah rezekinya akan semakin mengalir. Aamiin... "Itu mengingatkanku pada salah satu point dalam Buku 7 Keajaiban Rezeky." Gumamku.

Yuhu... setelah senam otak kanan bersama Mas Ardi Gunawan, acara langsung dilanjutkan dengan menghadirkan Mas A. Fuadi. Ho ho... low profil banget nich orang. Tapi karyanyahigh banget Bo'.  Akhirnya bertemu juga dengan beliau, beliau yang aku baca bukunya sekitar tahun 2010. Kebetulan saat itu ada teman yang menjadikan bukunya sebagai bahan skripsi. Lalu kutonton filmnya pada tahun 2012 di Duta Mal, Banjarmasin bersama seorang siswaku yang hebat, Maghfiro. Nggak nyangka bisa belajar langsung pada orangnya.


"Menulis untuk Mendunia"
(Oleh: Ahmad Fuadi)

Beliau membawakan materi dengan sangat tenang namun berisi. 
Kesempatan kali ini beliau membahas bagaimana cara "Menulis untuk Mendunia".
"Semua yang saya dapatkan sekarang berasal dari satu kalimat ajaib; MAN JADDA WA JADA". Kami pun diminta untuk ikut mengucapkan kata itu, "MAN JADDA WA JADA!".

"Menulis hanya butuh satu hal, yang pertama sebatang polpen, yang kedua secarik kertas, yang ke tiga..." Beliau diam sejenak sambil menunggu jawaban dari peserta.
"Butuh tinta, ide, kata-kata...." peserta berusaha menjawab. Lalu dengan mantap, A.
Fuadi menjawab, "Yang ketiga adalah Sebongkah Hati." Sontak semua peserta berseru riang. kiki emotikon.

"Bagi saya, tulisan itu lebih kuat dari pada peluru." Beliau melanjutkan, "Mengapa saya katakan lebih kuat dari pada peluru
?, karena peluru saat dilepaskan hanya bisa berhenti di satu kepala. Sedangkan tulisan, tidak akan berhenti di satu kepala dan tidak hanya satu waktu tapi lagi, lagi, dan lagi. Melintas zaman, melitas geografi."

"Bagi saya, tulisan adalah karpet terbang yang memerdekakan untuk melintas batas. Dengan menulis saya bisa mengunjungi berbagai negara dengan berbagai beasiswa. Menghadiri undangan untuk menjadi pembicara di hadapan mereka yang menjadikan Novel Negeri 5 Menara sebagai teks wajib perkuliahan" lanjutnya sambil menunjukkan berbagai foto-fotonya dari berbagai negara. Salah satu kota yang dikunjunginya adalah Cardoba, oh my God. Kapan saya bisa kesana? kiki emotikon

Tipsnya, "Tulislah sesuatu yang menarik bagi orang asing". Untuk materinya kurang lebih berikut ini.

BAGAIMANA AGAR TULISAN MENDUNIA?

1.    Angkat tema tentang sesuatu yang khas Indonesia. Indonesia punya 17.000 keunikan yang bisa kita ceritakan dari Sabang sampai merauke.
2.   Hal yang paling menarik bagi orang asing adalah keberagaman yang ada di Bangasa kita, kekhasan dari setiap daerah yang di negara mereka sendiri tidak ada. Gali budaya, bahasa, agama, legenda, alam dll.
3. Terjemahkan ke bahasa lain. Setelah Anda punya karya, terjemahkanlah ke bahasa Inggris/Arab/Prancis, dan lainnya. Penerjamahan bisa dilakukan dengan dua cara. 
a. Terjemahkan sendiri, cari teman/orang yang bisa membantu untuk menerjemahkan.
b. Cari penerbit lua yang mau menerjemahkan.
4.   Aktif kenalkan karya di acara-acara internasional. Tidak usah menunggu untuk diundang, undang diri sendiri saja dulu. Nanti kalau udah dikenal baru diundang. Contoh kegiatannya misalnya UWRF di Ubud Bali. Bangun network. Bawa buku Anda ke mana pun, kemudian ditawarkan/dipromosikan.
5.   Gunakan sosial media. Jangan anggap remeh facebook, justru menurut saya facebook itu yang stabil.
6.     Pelajari hal-hal yang khas dari penulis lainnya. Misalnya seperti Andrea Hirata, Pramudya, Asma Nadia, dll.

PROSES MENULIS SAYA (Ahmad Fuadi)

1.      ''WHY"
Kenapa saya menulis? Niat saya apa? Dalam hal ini, cukup diri sendiri dan Tuhan yang tahu, ini dialog internal.

2.      "WHAT"
Tulislah apa yang kita tahu, kita suka, kita cintai, dan peduli akan menjadi obat buat tulisan.

3.      "How"
Menulis novel juga harus dilakukan dengan melakukan reset melalui wawancara, ngobrol, baca buku lain yang relevan, kunjungi tempat yang ingin diceritakan, kumpulkan dokumentasi berupa foto dan surat, buka kembali diary, dll.

4.      "WHEN"
Cicil setiap hari. Sedikit demi sedikit. Hal yang sangat mungkin untuk menulis satu novel dalam satu tahun. Silahkan berkarya, semoga tahun depan kita bisa bertemu lagi dan yang hadir pada saat ini sudah punya karya masing-masing. 
Jangan lupa, setelah jadi buku, pikirkan bagaimana caranya agar buku tersebut bisa dinikmati dalam bentuk yang lain. Misalnya jadi film, komik, dan lagu. tentu saja, ini untuk karya yang di dalamnya ada nilai yang kuat.


------------------------------------------------------------------------------------------------


Materi Kedua (Ippho Santosa)


Wah emang beda aurahnya kalau yang bicara seorang motivator. he he... itu komentarku saat Mas Ippho baru tampil." "Bapak ibu harus siap memiliki tiga buku. Yang pertama, buku nikah, yang ke dua, buku tabungan, dan yang ke tiga adalah buku yang kita tulis sendiri. Jangan hanya buku yaasiiin yang banyak dicetak di Indonesia." Semua peserta sontak tertawa. "Bahkan kalau bisa jangan mati sebelum menulis buku sendiri."


"Kenapa mereka? dan ada apa dengan mereka?"

KARENA POTENSI YANG BESAR HANYA DIANUGERAHKAN
KEPADA MEREKA YANG BERMISI BESAR.


BAGAIMANA SAYA MENULIS?

"Awalnya saya dipaksa menulis. Itu bermula dari tempat saya bekerja, dan saya harus menulis di buletinnya. Kemudian dari tulisan itu ternyata ada yang melirik dan menawarkan untuk dimuat di koran. Dari situ saya mulai menelepon ke berbagai redaksi yang ada di Indonesia. Awalnya jangan pikir berapa duitnya! Tujuannya bagaimana hidup bisa bermanfaat. Alhamdulillah banyak yang memuat. Hampir setiap tulisan saya dimuat, saya menyertakan nomor HP. Saya selalu siap menerima kritikan. Itu akan menjadi alat ukur seberapa besar yang minat pada tulisan yang kita tulis. Dan saya juga termasuk orang yang paling sering melakukan editing pada tulisan saya setiap ada yang memberikan kritikan saya tinjau ulang kebenarannya lalu memperbaikinya. Dan akhirnya pada tahun 2005. buku pertama saya dicetak di Gramedia Pustaka Utama."

AGAR GO NASIONAL

1.      Mulai dari kanan
-          Intention (niat) yang harus kuat dan benar.
-          Randomses
Tidak harus menulis sesuatu yang khusus. Acak saja dulu untuk memualainya. Apa saja isinya, bagaimana pun bentuknya, tulis saja dulu. Nanti sambil jalan baru temukan passionnya. Saya pun di awal, tidak menyangka bahwa saya akan menjadi motivator.

2.      Berbeda
-          Segment or opportunity:
Cari sesuatu yang berbeda dengan yang telah ditulis oleh kebanyakan orang lain. Kalau bisa punya brand sendiri. Branding bukanlah sesuatu yang kebetulan tapi harus ditata.
-          Passion+competence:
Senang, ide mengalir saat menuliskannya, dan punya kemampuan dalam bidang tersebut. 

-          Appearance + Wording -> Pendongkrak.
Harus mencari sesuatu yang bisa membuat kita lebih termotivasi sehingga jenjang karir kepenulisan kita bisa berjalan lebih cepat.

3.      Leverage/pengaruh 
-          Print atau broadcas media.
Lihat kemampuan kita, apakah lebih ke print (menulis) atau ke bicara siaran di TV atau radio.
-          Website dan sosial media. 
Pandai-pandailah menggunakan sosial media untuk mendukung kemampuan kita.
-          Certification, award & celebrity


------------------------------------------------------------------------------------------------


Pembicara ke tiga adalah Mba Asma Nadia.


Ada hal yang menarik saat beliau memperknalkan diri. Beliau langsung menampilkan foto suaminya lalu berkata, "Ke mana pun saya membawakan seminar, saya selalu menampilkan foto suami saya. Karena saya sadari bahwa seorang istri tidak boleh keluar tanpa izin suaminya." Beliau juga memperlihatkan foto anak-anaknya yang sedang memegang tulisan hasil karyanya. 

"Subhanallah, benar-benar keluarga penulis ya..." kataku dengan sponta pada teman yang ada di sampingku. Kemudian beliau melanjutkan perkenalan dengan menceritakan bahwa dirinya dulu hanyalah seorang anak pinggir rel kereta yang sakit-sakitan bahkan memutuskan untuk berhenti kuliah di IPB pada semester 2 karena penyakit yang dideritanya. Ternyata di balik semua itu, Allah telah punya rencana lain yang istimewa untuknya. Asma selalu percaya bahwa, "Allah telah memberi segala untuk jadi luar biasa." Penulis yang menjadikan tulisan sebagai tiket untuk berkunjung ke 60 negara, 288 kota ini mencoba untuk meyakinkan peserta seminar bahwa Allah tidak melihat siapa orangnya, tapi melihat usahanya untuk menggapai sesuatu dan pantang menyerah pada keterbatasan."


Beliau pun menceritakan kisah seorang penyapu jalanan yang menjadi presiden. Yang setelah aku lihat di WikiPedia bernama Lee Myung Bak. "Bahkan seorang penyapu jalanan pun bisa jadi presiden." Mba Asma berusaha meyakinkan peserta

Okey... lanjut masuk ke materi inti. 

BEHIND EVERY BOOK

1.   Buku bukanlah sekadar ide. Semua orang yang normal di dunia ini pasti punya ide, tapi apakah semuanya punya buku? Tidak. 

2.  Adanya keresahan. Ini yang menjadi pendongkrak bagi saya untuk banyak menulis. Keresahan. Lalu Memperlihatkan berbagai Novel dan buku yang telah ditulisnya sambil menjelaskan latar belakang yang membuatnya mengangkat cerita tersebut menjadi tulisan. 

3.     Satu hal lagi, saya menulis juga sebagai wasiat untuk anak-anak saya. Saya tidak tau kapan ajal akan menjemput saya. Namun saya berharap, ketika saya pergi kelak mereka tidak merasa selalu merasakan keberadaan saya dalam buku-buku yang telah saya tulis. Saat mereka berusaha menjadi Muslimah yang baik, tinggal buka buku Salon Muslimah, kalau menghadapi masalah dan hampir putus asa mereka bisa membaca buku Ayahnya yang berjudul No Excuse, ketika mereka menghadapi masalah dalam pernikahan, mereka tinggal membaca buku Catatan Hati Seorang Istri, dan begitu juga buku-buku yang lainnya." Mba Asma menyampaikan dengan semangat. Menjadikan tulisan sebagai warisan. Keren... kiki emotikon

4.  Buku itu kebutuhan, bukan sekadar bacaan untuk hiburan. Tapi bagaimana kemudian seorang menjadikan buku sebagai kebutuhan karena adanya nilai yang menuntun di dalamnya. Tentu harus update juga mengikuti zaman. Jadi penulis harus peka melihat apa yang sedang tren di masyarakat. Berdakwah melalui tulisan, tidak harus melulu menjadi tanggung jawab penulis buku agama bukan? 

5.  Menulis itu berjuang untuk berbagi. Ada nilai yang diangkat, dibutuhkan, dan mudah dipahami oleh pembaca. Gunakan kata-kata yang sederhana saja. Tidak usah beranggapan bahwa tulisan yang bagus adalah tulisan yang luar biasa kata-katanya dan membingungkan pembaca. 

6.    Mulailah dengan menulis pengalaman. "Tulisan pertama saya dedikasikan kepada Ibu saya sebagai orang yang paling berjasa dalam hidup saya. yang rela untuk tidak makan siang hanya agar bisa membelikan saya buku untuk saya baca saat terbaring di rumah sakit."

DOSA PENULIS PEMUDA

1.      Judul.
Judul jangan terlalu panjang dan jangan terlalu pendek. Judul yang terlalu panjang kadang membuat pembaca tidak penasaran karena sudah tergambar jelas di judul. Sedangkan kalau terlalu pendek, itu kurang menarik. kecuali kalau Anda sudah penulis sesepu yang sudah dikenal. Misalnya judul Assalamualaikum Beijing. Seandainya hanya terdiri dari satu kata, Assalamuaalaikum saja atau Beijing saja, pasti kurang menarik. Tapi karena digabungkan, Jadilah judul itu sesuatu yang menggelitik pembaca untuk mengetahui. 

2.      Opening yang tidak menarik. 
Nah, ini yang memang perlu dilatih. Mendeskripsikan tempat dan keadaan boleh, tapi pastikan itu sesuatu yang berbeda, jarang dirasakan oleh orang lain dan tidak sering muncul dalam tulisan buku-buku yang lainnya. 

3.      Gagal Fokus.
Penulis harus tetap fokus pada tulisannya. kalau pun ada ide lain, cukup tulis ideanya dan keep. Pilihlah ide yang diprioritaskan sampai selesai. Jangan banyak ide, tapi tidak ada yang selesai.

4.      Bertele-tele.
Penulis jangan terlalu banyak bercerita datar tanpa konflik, atau tanpa ada sesuatu yang membuat pembaca memiliki emosi yang tetap sama. Sudah baca 10 halaman misalanya, tapi belum ada perubahan situasi yang menegangkan, mengharukan, lucu, dan lainnya. Konflik tidak menarik. Upayakan konflik disampaikan semenarik mungkin. 

5.      Pesan verbal
Hindari menggunakan terlalu banyak pesan verbal, itu bisa membuat pembaca merasa digurui. Tapi biarkan pembaca sendiri yang menemukan/menyadari pesan yang ingin disampaikan

6.      Ending yang tidak menarik .
Pada tahun 90-an hampir semua cerpen yang ditulis remaja itu berakhir dengan tragis, semuanya mati pula. Padahal banyak hal-hal imaginatif lainnya yang bisa dijadikan ending cerita. 

7.      Hal teknis dalam menulis. Ini terkait dengan EYD yang digunakan serta penggunaan kalimat yang susah dipahami.


TIPS MENULIS

1.      Menemukan Why, kenapa saya menulis ini?
2.      Menulis hal yang baik dan bisa meninggalkan pesan.
3.  Cari cara, waktu dan ciptakan suasana yang bisa membuat kita seenak mungkin dalam menulis.
4.      Menulis jangan sambil mengedit.
5.      Menghukum diri bila waktu menulis terlewatkan.
6.      Buka mata, buka telinga, buka hati. Dengarkanlah orang yang curhat.
7.      Jangan pernah menulis sesuatu yang akan disesali. 

8.   Bangun kesabaran dan keuletan untuk tulisan yang lebih baik. Bukan untuk menjadikan buku lebih tebal, tapi bagaimana usaha kita agar tulisan itu bisa membukakan pintu rezeki lainnya buat kita

*Review tulisan tersebut bisa dibaca juga di blognya mba Nur Syamsi berikut ini: REVIEW SEMINAR Menjadi Penulis Best Seller dan Go Nasional