Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Wednesday, 18 February 2015

Sekolahnya Manusia, Sekolah Juara

Semua siswa itu cerdas dan pandai. Ungkapan ini hanya ada di ‘sekolahnya manusia’. Sekolah terbaik nomor 1 dunia. Sekolah yang memandang semua siswanya tidak ada yang bodoh dan merasakan tak ada satu pun pelajaran yang sulit. Sekolah yang menghargai berbagai jenis kecerdasan siswa. Sekolah unggul yang the best process dan bukan the best input. Sekolah yang memiliki guru profesional dan berkarakter. Sekolah yang memanusiakan manusia, dalam arti menghargai setiap potensi yang ada pada diri siswa. Itulah sekilas gambaran ‘sekolah manusia’, sebuah sekolah yang berbasis MI (Multiple Intelligences).
“Betapa cantiknya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas. Para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik. Kelas tersebut akan hidup. Keluar dari kelas tersebut, semua siswa mendapatkan pengalaman pertama yang luar biasa dan tak akan pernah lupa seumur hidup. Apabila kelas seperti itu terjadi pada jutaan kelas di sekolah-sekolah di Indonesia, pasti negara ini akan menjadi negara maju yang diperhitungkan oleh dunia”. Begitulah rumusan sekolah unggul yang diungkapkan oleh Munif Chatib, sang penulis buku “Sekolahnya Manusia”.
Dari buku tersebut kita bisa mengambil makna penting akan hakikat utama pendidikan, yaitu memanusiakan manusia. Selama ini dan masih terjadi, bahwa masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang kurang menghargai dan kurang memahami potensi setiap peserta didiknya. Sang penulis yang kini juga menjabat sebagai CEO Next Worldview ini menuturkan bahwa banyak sekolah yang sadar atau tidak, malah membunuh potensi siswa-siswi didiknya. Munif  menambahkan bahwa setelah diteliti, banyak sekali sekolah di negeri ini yang berpredikat “Sekolah Robot,” mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya. Buku ‘Sekolahnya Manusia’ hadir membawa angin segar dan memberikan solusi di tengah kondisi akutnya polemik pendidikan yang terjadi di tanah air ini.
Sekolahnya manusia dikembangkan dengan berbasis multiple intelligences (kecerdasan ganda). Teori yang dikembangkan oleh Howard Gardner ini menjadi landasan teori berdirinya Sekolah Manusia, sekolah yang menerima siswanya tanpa melalui tes dan menerima semua potensi siswa tanpa harus melewati seleksi ketat yang biasanya lebih menekankan aspek kognitif semata. Namun, ketika konsep multiple intelligences diterapkan di dunia pendidikan Indonesia, Munif Chatib menganalis beberapa hambatan yang menghadang, di antaranya seperti pemahaman yang salah tentang makna sekolah unggul di Indonesia, desain kurikulum yang masih sentralisis, penerapan kurikulum yang tidak sejalan dengan evaluasi akhir pendidikan, kualitas guru yang masih kurang terutama saat dihadapkan pada proses belajar yang menggunakan kreativitas tingkat tinggi, proses penilaian hanya dilakukan secara parsial pada kemampuan kognitif yang terbesar, serta masih belum menggunakan penilaian autentik secara komprehensif.
Indikator sekolah unggul dalam Sekolahnya Manusia adalah the best process dan bukan the best input. Artinya, sekolah unggul harus menerima siswa dalam kondisi kognitif yang beragam, tidak harus menerima siswa yang pandai-pandai saja. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas para guru yang bekerja di sekolah tersebut. Sekolah unggul adalah sekolah yang memiliki guru professional, para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik. Dan penyelenggara sekolah yang professional adalah yang selalu memikirkan kesejahteraan para gurunya. Dalam Sekolahnya Manusia, dikenal alat riset yang bernama MIR (Multiple Intelligences Research). MIR digunakan pada saat penerimaan siswa baru dan setiap tahun kenaikan jenjang. Hasil MIR membantu guru mendekatkan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa. Fungsi penting hasil MIR adalah sebagai data informasi tentang kondisi psikologis kecerdasan anak dan sebagai anjuran kepada orangtua untuk melakukan berbagai aktivitas kebiasaan atau kegiatan kreatif yang disarankan untuk diterapkan pada anaknya guna memancing bakat anak tersebut.
Menurut Munif Chatib, Multiple Intelligences bukanlah bidang studi. Bukan pula kurikulum. Tapi, Multiple Intelligences adalah strategi pembelajaran yang berisi aktivitas-aktivitas pembelajaran dengan model dan kreativitas yang beragam. Inti strategi pembelajaran ini adalah bagaimana guru mengemas gaya mengajarnya agar mudah ditangkap dan dimengerti oleh siswanya. Rencana pembelajaran tersebut disusun dalam bentuk  Lesson Plan (Rencana Pembelajaran). Kunci utama dalam penerapan konsep Multiple Intelligences tersebut adalah guru. Karena guru adalah kunci kualitas sebuah sekolah. Syarat mendasar menjadi guru profesional dalam Sekolahnya Manusia adalah bersedia untuk selalu belajar, secara teratur membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar, bersedia diobservasi, selalu tertantang untuk meningkatkan kreativitas dan memiliki karakter yang baik.
Penilaian yang digunakan dalam Sekolahnya Manusia adalah penilaian autentik atau prosesfolio (penilaian berbasis proses). Penilaian ini bersumber dari aktivitas pembelajaran yang dapat dinilai dalam ranah kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan) dan afektif (sikap). Metode penilaian autentik sangat berkaitan dengan aktivitas pembelajaran. Penilaian dilakukan pada proses pembelajaran, bukan pada akhir pembelajaran. Andai semua sekolah di Indonesia bisa menerapkan konsep seperti Sekolahnya Manusia, maka hakikat utama dari pendidikan pun akan benar-benar terlaksana, yaitu memanusiakan manusia. Kunci utamanya ada di guru yang profesional dan berkarakter

Inovasi Alat Peraga: “Mobil Kura-Kura Dari Tepi Pantai”

“Bersungguh-sungguh dalam belajar, maka saya akan berhasil. Berhasil…! Berhasil…! Berhasil…!” teriak anak-anak kelas 6 SDN Fitako sambil mengepalkan tangan saat menjawab yel-yel “kelas 6….”. Aktivitas  tersebut menjadi pembuka di awal pembelajaran sebelum memasuki apersepsi. Itulah jargon kelas yang saya berikan di setiap kelas yang saya ajar dari kelas 3-6. Masing-masing kelas memiliki yel-yel yang berbeda. Tujuan jargon tersebut adalah untuk memotivasi sekaligus memantik semangat anak dalam belajar setiap harinya. Kali ini di pertemuan perdana semester II saya memberikan kejutan pada siswa kelas 6, yaitu pengumuman bintang prestasi. Semua anak terlihat tegang, dan memasang muka penasaran. Sesekali ada yang menebak-nebak, dan ada juga yang terdiam fokus menanti nama yang akan saya umumkan kepada mereka.
Usai pengumuman peraih bintang prestasi, siswa-siswi kembali bertanya-tanya saat benda-benda yang saya bawa diletakkan di atas meja. Di atas meja sudah ada beberapa alat peraga seperti jungkat-jungkit, ketapel, mobil-mobilan serta sebuah bola kasti yang saya pegang. Saya melempar bola kasti ke atas lantai dan ke tembok. Lalu saya kembali menjatuhkan spidol dan pena. Anak-anak tampak penasaran dengan kegiatan yang saya lakukan di depan kelas. “Kenapa benda-benda tersebut jatuh ke bawah?” tanyaku. “Karena Bapak yang menjatuhkan ke bawah” ujar salah seorang siswa. Kenapa jatuhnya ke bawah, tidak ke atas atau ke samping? Tanyaku lagi. Beberapa anak tampak diam. Tiba-tiba ada suara, “karena gaya gravitasi Pak” Jawab Muhaimin.
Saya kembali menantang siswa dengan pertanyaan lain. Anak-anak saya minta berdiri semua di samping meja. Orang yang di kanan tugasnya mendorong dan yang sebelah kiri menarik meja. Apa yang terjadi dengan meja tersebut?. “Mengeluarkan bunyi Pak” jawab salah seorang siswa. “Berpindah tempat Pak” jawab siswa yang lain. “Mengapa mejanya bisa berbunyi? Dan kenapa berpindah posisi pula?” tanyaku lagi. “Karena didorong pak oleh saya” jawab salah seorang siswa. Siapa yang mendorong? Dan berbagai pertanyaan lain saya ajukan ke siswa dalam aktivitas apersepsi ini. “Dorongan dan tarikan itulah yang dinamakan gaya” jawabku mengakhiri rasa penasaran anak-anak. Gaya tersebut yang menyebabkan benda bergerak, tambahku.
Selanjutnya, saya membagi siswa ke dalam 3 kelompok. Baru pada tahap inilah saya mengenalkan ketiga alat peraga yang sudah ada di atas meja guru. Perwakilan kelompok maju ke depan dan silahkan pimpa.Yang menang pimpa, boleh memilih alat peraga lebih dulu. Masing-masing kelompok sudah mendapat alat peraganya dan saya memberikan waktu kepada mereka untuk berdiskusi dan memperagakan alat peraga tersebut. Jelaskan hubungan gaya dan gerak yang diakibatkan oleh alat peraga tersebut, itulah pertanyaan pertama yang saya lontarkan kepada mereka. Faktor apa saja yang mempengaruhi gerak pada alat peraga tersebut? Kelompok 1 dapat tugas model mobil kura-kura, kelompok 2 dapat tugas model jungkat-jungkit dan kelompok 3 dapat tugas model ketapel. Setelah berdiskusi, masing-masing kelompok diminta untuk presentasi di depan kelas secara bergantian. Guru mendampingi dan menyampaikan konsep materi yang sesuai. Setelah itu siswa mengerjakan lembar kerja. Itulah sekilas gambaran suasana pembelajaran IPA Kelas 6 pada materi gaya dan gerak.
Mengajar dengan alat peraga memang menyenangkan. Terlebih apabila alat peraga tersebut unik dan menarik bagi siswa. Karena dengan alat peraga akan memudahkan siswa untuk menerima konsep materi pelajaran yang berkaitan. Apalagi pelajaran IPA, harus banyak menggunakan alat peraga sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Alat peraga tidak harus mahal dan ribet. Alat peraga bisa kita buat sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Tentunya harus disesuaikan juga dengan materi yang akan diajarkan. Seperti dalam pembelajaran ini, saya menggunakan 3 alat peraga dengan peralatan untuk membuat alat peraga berasal dari tepi pantai dan bahan-bahan bekas yang ada di rumah. Bahan-bahan untuk membuat mobil kura-kura adalah botol bekas (sebagai badan), tutup botol (sebagai roda), botol lem (sebagai kepala) dan sedotan sebagai poros roda. Benda-benda tersebut saya dapatkan di tepi pantai. Konsep materi dari mobil kura-kura tersebut adalah gerak pada mobil-mobilan tersebut disebabkan oleh gaya berupa tarikan atau dorongan.
Alat peraga kedua adalah model jungkat-jungkit yang dibuat dari bahan-bahan yang ada di rumah, yaitu bekas tempat teh, kertas origami, kertas HVS, karton dari kardus, potongan bambu kecil, dan sedotan. Konsep materi gerak pada jungkat-jungkit dipengaruhi oleh gaya. Besarnya gaya dipengaruhi oleh jarak beban ke titik tumpu dan berat beban. Alat peraga ketiga adalah model ketapel, yang terbuat dari batang kayu berbentuk huruf Y, karet gelang, kertas warna dan kalep (dari potongan bekas alas meja). Konsep materi yang diajarkan adalah gerak pada ketapel dipengaruhi oleh gaya pegas (dari karet yang bersifat elastis). Itulah sedikit inovasi model pembelajaran yang saya terapkan di kelas dengan menggunakan alat peraga yang murah dan mudah dibuat.