Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Thursday, 31 March 2016

Tips Berburu “Beasiswa 5 Benua” Ala Ahmad Fuadi

         
          Ingat Ahmad Fuadi, tiba-tiba saja ingat dengan sebuah pesan singkat yang pernah beliau sampaikan lewat video hadiah dari sahabatku Awaludin Syarif Abdulah. Seperti ini bunyi pesannya: “buat Iin Amrullah, terima kasih sudah membaca novel saya, semoga mendapatkan manfaat, semangat, keep man jadda wajada, sukses...!”. Begitu kurang lebih pesan Sang Penulis Negeri 5 Menara ini. Catatan selengkapnya bisa dibaca di tulisan lama saya yang berjudul Pesan dari Ahmad Fuadi, “Keep ManJadda Wajada, Sukses...!”. Begitulah isi catatan 3 tahun yang lalu saat detik-detik menjelang wisudaku.
 
Ahmad Fuadi sedang menyampaikan materi bedah buku Beasiswa 5 Benua

Sejak membaca ketiga novel beliau (Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara) yang menurutku merupakan novel yang sangat bagus, inspiratif dan penuh makna kehidupan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejak saat itu juga saya pengin ketemu atau hadir dalam talkshow atau acara apa pun yang pembicaranya adalah Ahmad Fuadi. Beberapa kali mau ikut tapi gagal. Bahkan yang terakhir kali waktu itu sudah bayar tiket seminar menjadi penulis best seller yang salah satu pembicaranya beliau, tapi gagal gak jadi ikut karena ada amanah lain yang harus diselesaikan. Maaf kok jadi curhat, hehe. Oke deh kembali ke judul tulisan ini...^,^

Akhirnya baru kali ini ketemu juga dengan salah satu penulis hebat Indonesia. Kali ini aku bisa hadir dalam acara Bedah Buku “Beasiswa 5 Benua” yang diisi langsung oleh penulis buku tersebut yaitu Ahmad Fuadi. Kegiatan bedah buku ini diselenggarakan  di Aula Masjid Al-Insan Dompet Dhuafa Pendidikan. Sekilas sebenarnya saya sudah pernah baca buku tersebut dan pernah melihat cuplikan tayangan salah satu stasiun TV yang membahas tentang perjalanan Ahmad Fuadi dalam meraih aneka beasiswa luar negeri. Tentu berbeda rasanya jika ketemu langsung. Makanya meski lumayan jauh di tengah kesibukan yang ada akhirnya ku putuskan datang ke acara bedah buku tersebut.

Karena perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam, hingga ternyata aku terlambat datang sekitar 45 menit. Oke, jadi tulisan disini mungkin tidak lengkap karena tidak mengikuti dari awal pembukaan. Ketika aku masuk dalam ruangan aula terlihat ruangan cukup penuh. Saat aku datang Ahmad Fuadi sedang memaparkan materinya. Saat itu sudah sampai pada slide yang bertuliskan “Global Citizen. Belajar adalah perayaan”. Berikut ini adalah beberapa catatan penting yang saya catat tentang tips-tips berburu beasiswa 5 benua menurut Ahmad Fuadi.


Foto bersama Ahmad Fuadi usai acara
Dalam mencari beasiswa harus memiliki komitmen dan disiplin. Bekali diri juga dengan bahasa asing. Karena itulah salah satu kunci untuk menembus khususnya beasiswa luar negeri. Ada 2 tips utama mendapatkan beasiswa luar negeri, yaitu:

Pertama, ubah pola pikir kita. Bahwasanya beasiswa (dalam atau luar negeri) itu sangat banyak. Tapi tidak semua orang mencarinya. Ahmad Fuadi mengilustrasikan bahwa beasiswa itu seperti mangga di musim mangga. Sangat banyak. Semua tergantung kita.

Kedua, beasiswa itu akan dapat diraih buat yang mau melebihkan usahanya di atas orang lain (harus man jadda wajada juga). Harus bersungguh-sungguh dalam mencarinya.
           
          Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mencari beasiswa adalah sebagai berikut:
1.    Mencari informasi
Inilah langkah pertama yang harus dilakukan. Carilah informasi beasiswa yang ingin kita dapatkan. Bisa lewat internet, mengunjungi pameran beasiswa atau mendatangi kantor kedutaan asing. Misalnya bisa mencari beasiswa LPDP, AMINEF, dan sebagainya.
2.   Niat dan tekad
Setelah menemukan informasi beasiswa yang sesuai dengan yang kita inginkan, langkah selanjutnya adalah mantapkan niat dan tekad kita. Apa niat kita melanjutkan kuliah ke luar negeri? Jika sudah punya niat yang kuat, bulatkanlah tekad kita untuk bersungguh-sungguh mencarinya.
3.   Riset, riset dan riset
Hal terpenting lainnya yang harus dilakukan saat mencari beasiswa adalah lakukan riset yang mendalam. Pahami dengan betul semua informasi tentang kampus yang ingin kita tuju. Kata Ahmad Fuadi riset tentang beasiswa ini biasanya dilakukan 6 bulan hingga 1 tahun. Cari informasi sedetail mungkin.
4.   Isi aplikasi dan kirim
Kalau sudah mantap dengan semua informasi dan kebulatan tekad dengan riset yang mendalam, maka selanjutnya adalah segera isi aplikasi beasiswa tersebut sebagai syarat administrasi. Isi selengkapnya sesuai ketentuan yang diminta. Setelah lengkap semua persyaratannya, langsung kirim aplikasi beasiswa tersebut.

Buat apa sih kuliah sampai ke luar negeri segala? Keuntungan yang kita dapatkan bila kita bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa adalah menambah ilmu dan pengalaman, membuat lebih percaya diri dan menjalin network (jaringan). Begitu kurang lebih yang dijawab Ahmad Fuadi saat ada peserta yang bertanya. Terus bagaimana menumbuhkan rasa cinta ke Indonesia saat kita kuliah di luar negeri? Jadilah seperti ikan. Meskipun ikan hidup di air laut yang rasanya asin, tapi ikan rasanya tidak asin. Kuatkanlah kualitas diri kita agar menjadi pribadi yang kuat imannya, dan kuat ilmunya. Demikianlah kurang lebih segores catatan hasil ikut bedah buku tadi siang. Mohon maaf jika ada banyak kekurangan. Semoga sedikit informasi ini bisa bermanfaat buat yang lagi berburu beasiswa.


 Bumi Pengembangan Insani Dompet Dhuafa.

Parung, 31 Maret 2016

Wednesday, 30 March 2016

Ide itu Seperti Awan, Maka Tulislah


          Datang tak diundang, tiba-tiba muncul seketika. Itulah ide. Kalau dicari terkadang susahnya minta ampun. Entah bersembunyi dimana. Saat ada masalah terkadang bingung sekali untuk mencari solusi atau ide briliant untuk memecahkannya. Bahkan tatkala keadaan sudah genting sekali, ide itu tak kunjung muncul juga. Tapi terkadang saat kita sedang santai, atau tak mencarinya tiba-tiba “ide” itu muncul dengan sendirinya. Nah, begitulah ide. Munculnya seperti awan. Ada angin lewat, sesaat itu juga awan pun terhanyut ditelan angin. Maka yang harus kita lakukan adalah saat ada ide muncul, segera tangkap dan tulislah walau hanya satu baris kalimat.

          Kenapa sih susah mencari ide-ide segar? Misalnya dalam permasalahan yang pelik, sedang pusing, lagi galau, atau sedang banyak amanah yang butuh segera dipecahkan. Tapi kok kita susah sekali menemukan ide atau solusinya. Atau mungkin kita mau menulis, tapi gak ada ide, terus gimana dong? Atau saat kita mau membuat karya inovatif, rancangan usaha, desain grafis, video profile, hingga membuat topik penelitian yang ingin kita kembangkan, tapi kok belum menemukan ide yang bagus juga? Kenapa yah? Apa ada yang salah?

          Ada banyak faktor kenapa kita itu miskin ide? Kurang baca, kurang bergaul, kurang berteman, kurang jalan-jalan, kurang diskusi, kurang bertualang, kurang bereksplorasi, dan kurang-kurang yang lainnya. Itulah beberapa alasan yang menyebabkan kita itu menjadi dangkal ide dan kurus gagasan/ide. Terus bagaimana solusinya dong? Jawabannya hanya tinggal ditambah. Jika ingin kita banyak ide maka tambahkanlah produktifitas kita dalam membaca, tambah bergaul, tambah pertemanan, tambah lagi jalan-jalannya, seringlah berdiskusi, teruslah bereksplorasi dan menambah kualitas-kualitas yang lainnya yang perlu kita tambah.

          Tapi terkadang saat kita sedang duduk santai, saat ngobrol dengan teman, saat mengendarai motor atau bahkan saat kita sedang buang air tiba-tiba saja ide itu muncul. Ide itu terkadang suka datang dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Pada saat muncul inilah sebaiknya langkah yang harus kita lakukan adalah menulisnya walau singkat. Mungkin kalau disimpan dalam ingatan saja akan cepat hilang, maka sebaiknya adalah dicatat atau ditulis, minimalnya di tulis dalam note handphone kita. Kenapa ditulis? Biar gak lupa. Biar gak hilang terbawa oleh angin. Karena seperti waktu, ide pun ibarat seperti awan. Maka tulislah agar bisa dikembangkan lebih lanjut.

          Misalnya dalam hal masalah menulis nih? Saya mau menulis tapi gak punya ide. Saya mau menulis apa yah? Apa yang mau ditulis kalau gak ada ide di kepala? Nah, kalau tips saya adalah menge-list rencana ide-ide tema yang sekiranya bisa dijadikan untuk tulisan. Karena ide ini susah dipancing dan datangnya juga tergantung mood dan kondisi kesehatan serta kondisi endurance (daya tahan) kita, maka saat ide itu nampak atau muncul dalam benak pikiran kita, seketika itu tulislah. Contohnya adalah sebagai berikut:
1.    Kehadiran itu energi
2.    Gigih Pangkal Kokoh
3.    Manajemen yg Bikin Keren
4.   Marahlah dengan Ramah
5.    Solobackpacker ke Raja Ampat
6.   Menulis butuh amunisi
7.    Kenapa jodoh selalu jadi trending topic?
8.   Buat apa sekolah?
9.   Berkomitmen dengan disiplin
10.  Jalan-jalan perluas wawasan

     Itulah kesepuluh ide yang muncul tiba-tiba. Kalau kebiasaan saya adalah menulisnya dalam draft HP kita. Karena kalau Cuma disimpan dalam ingatan, kita akan lupa. Jika ada waktu luang, maka tulis lebih lengkap dari salah satu ide tema tersebut. Atau bisa juga sebagai draft sementara update di facebook atau simpan di media sosial lainnya. Banyak cara, tergantung kebiasaan kita. Yang terpenting adalah saat ide itu muncul tiba-tiba, jangan dibiarkan ide tersebut berlalu begitu saja, langsung tangkap dan simpan dalam catatan kecil kita. Selamat mencoba. Mulai dari ide yang kecil. Mulai sekarang juga.


Sama halnya dengan tulisan ini pun lahir karena ide sesaat,
lalu langsung saya tulis. Karena ide itu seperti awan, maka tulislah.


Kota Seribu Angkot, 30 Maret 2016 

Tuesday, 29 March 2016

Ojek Bertarif Do'a Nikah

Pantai Waisai Raja Ampat (doc pribadi)

          Cerita ini adalah kisah nyata yang saya alami saat backpacker ke Raja Ampat, Papua Barat (akhir Desember 2014). Banyak makna dan value yang aku dapatkan saat bertualangn ke Indonesia Timur. Mulai dari cerita unik, mengesankan, menantang dan varian rasa lainnya. Ntar lain waktu aku ceritakan lagi lewat blogku ini. Untuk kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang ojek bertarif do’a nikah.

Waktu itu pagi buta selepas shubuh. Aku bergegas menuju Port of Sorong. Sehari sebelumnya aku sudah tiba di Sorong naik Kapal Dorolonda. Kali ini aku hendak pergi menuju Raja Ampat. Singkat cerita, aroma sejuknya Shubuh rupanya tak ada angkot yang lewat. Sunyi. Sepi lagi. Lama nunggu angkot, akhry ku putuskan naik ojek. Tak lama kemudian, datanglah seorang mengendarai motornya. Dia berhenti persis di tempatku menanti di tepi jalan.

 "Berapa pak?" tanyaku sblm naik. "Terserah, mau ksh brp" jawab tukang ojek tsb. "30rb pak" pintaku. Oke, jawabnya. Hrsy jika angkot dtmpuh 2x naik angkot. Ojek biasanya 30-40rb. Dlm perjalanan kami ngobrol2 mulai dari pekerjaan, asal, hobi, dll. Rupanya tukang ojek tsb usianya 11-12 denganku. Masih bujang. Kurang lbh 25 menit perjalanan menuju pelabuhan.

Singkat kata, sampai jg di pelabuhan. Pas aku mau bayar, "Tdk usah mas. Doakan saja smoga saya cepat dpt jodoh" kata tukang ojek tsb. Siapa namanya Mas? tanyaku. Ragil, jawabnya. Entah kenapa dia tak mau dikasih ongkos tapi minta didoakan supaya segera nikah. Wah, padahal aku sendiri juga belum nikah, gumamku dalam hati, hehee. Wallahu a'lam. Ragil hanyalah 1 orang dari beberapa orang yg begitu baik dan ramah yang aku temui di perjalanan ini. Padahal baru kenal dan baru bertemu. Tak ada balasan kebaikan, selain kebaikan pula.

          Sayangnya waktu itu aku lupa meminta nomor telepon tukang ojek tersebut. Semoga Mas Ragil sekarang sudah bertemu dengan jodohnya.

*Banyak makna yang tergores, banyak nilai yang ditemukan dan banyak sekali hikmah yang bisa dipetik setiap kali melakukan perjalanan, backpacker atau petualangan.



Ditulis ulang dengan sedikit penambahan

Kota Hujan, 29 Maret 2016

Monday, 28 March 2016

Cita-Cita Ibarat Tanaman, Rawatlah...!


Merawat cita-cita ibarat memelihara sebuah tanaman. Harus  dirawat dengan baik. Butuh disiram, perlu dipupuk dan dijaga secara rutin agar dapat tumbuh dengan optimal. Begitu pun dengan cita-cita, perlu dirawat dengan belajar dan kerja keras yang sungguh-sungguh. Tak kalah pentingnya lagi, harus dipupuk dengan perjuangan yang gigih




            Punya cita-cita, visi, impian atau target tertentu adalah sebuah keharusan. Kenapa demikian? Karena tanpa cita-cita, maka hidup akan terasa biasa-biasa saja. Tanpa visi, hidup jadi kurang berisi. Punya impian, jangan hanya sekedar angan-angan. Dengan punya target, kita bisa membidik dan tentunya perlu strategi untuk menggapainya. Punya saja tak cukup, tapi harus terus dipelihara. Seperti halnya tanaman, yang butuh disiram, dipupuk dan dirawat dengan baik. Jangan sampai gak diurus hingga penuh dengan sarang laba-laba. Bukan pula hanya sekedar dipajang menjadi hiasan dinding semata.

            Saat kita merawat tanaman, misalnya bunga mawar, tanaman cabe atau tomat. Tentu menanamnya sangatlah mudah. Tinggal semai benih atau tanam langsung dalam tanah. Karena biji tersebut punya sifat totipotensi, maka benih tanaman tersebut pun pasti akan tumbuh. Tak cukup sampai disitu saja. Memang bisa hidup dengan sendirinya. Tapi jika kita menanamnya dalam pot, terus musim kemarau tiba. Tentu butuh perawatan intensif. Perlu dipupuk agar pertumbuhannya optimal. Perlu disiram agar tak layu dan kering mati seketika. Dan perawatan yang konsisten hingga masa berbuah tiba. Hingga masa panen yang dinanti itu datang. Dan kita pun akan meraih dan merasakan manisnya hasil panen yang memuaskan. Bukan begitu kan?

            Begitu pun sama halnya ketika kita punya cita-cita, visi, impian atau target tertentu. Punya cita-cita bukan sekedar mengucapkan cita-citaku ingin menjadi dokter, pilot, guru, dosen, tentara atau beberapa profesi lainnya. Karena bercita-cita seringkali lebih identik ke arah profesi. Begitulah yang sering terjadi dan aku pun merasakan pengalaman itu ketika bertanya pada anak-anak. Mereka dengan polosnya mengatakan “cita-citaku ingin menjadi tentara” jawab mereka saat aku bertanya “Apa cita-citamu...?”. Rupanya tak hanya anak SD saja yang bercita-cita. Saat aku bertanya dengan anak-anak SMA pun punya ambisi dengan cita-citanya masing-masing. Tentu berbeda pemahaman dan pemikiran tentang cita-cita yang digambarkan anak SD dengan anak SMA. Bisa dibilang kalau anak SD mengatakan cita-cita mereka dengan spontan sesuai imajinasi mereka. Lambat laun siring bertambahnya usia dan kematangan kepribadiaannya mulai SMP hingga SMA pemahaman mereka soal cita-cita pasti mengalami perubahan. Tentu hal ini sangat berkaitan dengan potensi dan bakat masing-masing.

            Lebih dari itu, bahwa cita-cita bukan hanya diucapkan semata. Perlu ditanam dalam hati dan dibenam dengan keyakinan yang mantap. Persis seperti tanaman cabai atau tomat tadi. Disinilah perlunya merawat cita-cita agar terus berjalan sesuai rencana. Punya cita-cita bukan buat gaya-gayaan atau simbolis semata. Tapi lebih dari itu. Cita-cita adalah target yang ingin kita capai. Ibarat panahan, cita-cita adalah target yang ingin dicapai untuk tepat sasaran. Perlu fokus untuk membidik target. Perlu konsentrasi dalam mengarahkan mata panah ke arah bidikan. Apakah tepat sasaran? Tergantung usaha, strategi dan kesungguhan dalam membidik target tersebut. Persis halnya dengan cita-cita, harus selalu dirawat agar tetap tumbuh dan berkembang hingga benar-benar menghasilkan buah yang lezat lagi segar.

            Begitu pun dengan visi yang juga tak jauh beda dengan cita-cita. Visi adalah tujuan yang ingin kita raih. Visi itu akan selalu menjulang tinggi. Menatap masa depan. Membidik sasaran yang ingin dicapai. Visi tanpa aksi tentu akan kosong belaka. Oleh karenanya visi harus selalu berjalan seiringan dengan misi. Karena misi adalah jalan menuju visi yang akan kita capai. Visi harus dipupuk agar tumbuh subur. Bukan hanya pajangan yang biasanya ditempel di dinding atau di depan gerbang suatu tempat. Atau bukan hanya sekedar coretan yang biasanya ditulis dengan huruf KAPITAL di dalam lemari atau buku diari. Agar visi itu tumbuh dengan subur perlu dipupuk dengan kerja keras, disirami dengan misi setiap hari. Dan dirawat secara berkelanjutan dengan usaha dan ikhtiar yang optimis.

            Cita-cita, visi juga berkawan dekat dengan impian (mimpi). Tentu mimpi disini bukan mimpi yang menjadi bunga tidur tatkala kita istirahat. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia, begitu kata Nidji dalam Laskar Pelangi. Mimpi adalah bagian tahapan dari tangga-tangga cita-cita dan visi yang ingin kita raih. Mimpi adalah jalan pembuka untuk membidik target yang ingin kita gapai. Dulu awal mula saat aku masih menjadi mahasiswa baru pernah berpikiran ngapain mimpi-mimpi harus dituliskan dalam secarik kertas segala? Dulu aku bilang percuma saja menuliskan deretan mimpi-mimpi tersebut kalau tak dibarengi dengan tindakan yang nyata. Mimpi bukanlah hayalan. Tapi sangat mirip seperti kita sedang berkhayal membayangkan suatu yang ingin kita dapatkan. Tapi setelah aku merasakan manfaatnya dan membuktikan kenyataannya, ternyata memang betul mimpi juga perlu dituliskan agar kita tidak lupa, agar kita selalu inget dan agar kita selalu memikirkan cara dan strategi untuk meraih mimpi-mimpi tersebut. Mimpi juga perlu dirawat, bukan hanya sekedar ditulis tapi juga harus ditanamkan dalam keyakinan diri bahwa mimpi-mimpi itu pasti bisa kita raih asalkan mau berusaha dan komitmen dengan sungguh-sungguh.


            Teruslah bermimpi. Rawatlah cita-cita dan visimu itu sampai engkau meraih target yang kamu impikan, cita-citakan dan visikan tersebut. Tuliskan apa yang kamu katakan dan lakukanlah apa yang kamu tuliskan tersebut. Teruslah merawat cita-cita. Rawatlah dengan baik. Pupuklah dengan optimis dan keyakinan yang kuat. Siramilah dengan usaha yang tekun dan pantang menyerah.


Kota Hujan, 28 Maret 2016

Sunday, 27 March 2016

Memantapkan dengan Wawancara

Calon siswa baru LF asal Lampung saat seleksi tahap wawancara (27/3/2016)

Semua karakter bisa terpotret dengan wawancara. Tak bisa dipungkiri dan tak bisa mengelak. Berkas lembaran saja tak cukup. Hasil tes pun belum lengkap tanpa adanya wawancara. Meski sudah dilakukan tes seleksi, baik kemampuan, kompetensi atau pun skill, masih perlu dilakukan yang namanya wawancara. Ibarat bakso, tak sedap kalau nggak dikasih sambal. Sama halnya dengan wawancara, karena menjadi cerminan data. Interview menjadi penentu

Saat seleksi siswa baru, melamar pekerjaan di instansi atau perusahaan mana pun pasti ada tahapan yang namanya wawancara. Bahkan tahapan yang paling menentukan saat hendak melamar seorang wanita, adalah tahap wawancara dengan sang calon mertua. Begitulah pentingnya wawancara. Punya peran penting dalam menentukan suatu hal dalam berbagai kegiatan dan momentum penting.

Bicara wawancara, jadi inget saat seleksi menjadi asisten mikrobiologi waktu masih kuliah dulu. Setelah melewati berbagai tes, termasuk wawancara akhirnya aku lolos menjadi asisten mikrobiologi. Lambat laun aku pun ikut mewawancarai ketika ada proses seleksi calon asisten baru. Dari beberapa wawancara yang pernah aku ikuti selama ini, bisa dibilang seleksi tahap wawancara asisten mikrobiologi Fakultas Biologi Unsoed adalah wawancara yang paling killer, paling ketat dan paling menegangkan. Kenapa...??? Saat seleksi calon asisten mikrobiologi, satu orang calon diwawancarai oleh 15-20 orang. Mereka yang mewawancarai adalah asisten senior yang lebih dulu bergabung. Tak jarang calon asisten yang mendaftar di lab. Mikro ini dibuat tegang, santai, rileks dan juga penuh rasa nano-nano. Bahkan beberapa calon yang perempuan sampai menangis saat tahap wawancara. Pokoknya kalau diceritakan akan panjang kali lebar kali tinggi, heheehhehee..

Saat menjadi asisten mikrobiologi-lah aku mengetahui banyak hal tentang wawancara. Belajar banyak hal mengenai kepribadian orang lain, kerjasama team, kekompakkan dan teknik-teknik mewawancarai orang lain. Termasuk tips dan trik ketika menghadapi wawancara. Ntar kapan-kapan akan aku ceritakan lagi soal wawancara asisten yang super perfect tersebut. oya, melalui tulisan ini titip salam buat rekan-rekan alumni keluarga mikroholic dan terus berjuang, jaga kekompakkan juga buat adik-adik yang sekarang masih menjadi asisten disana. Bravo....!!!

Oke, kembali ke topik. Kenapa sih harus ada wawancara segala? Bukankah hasil tes akademik dan berkas lainnya sudah cukup? Belum. Justru wawancara adalah tahapan yang paling penting, bahkan dalam beberapa kasus adalah tahapan yang paling utama. Kenapa wawancara menjadi tahapan yang paling penting. Berikut ini beberapa alasannya:
1.    Menilai kepribadian seseorang
2.   Mengetahui karakter (baik-buruknya)
3.   Menguji kejujuran
4.   Mengklarifikasi berkas data
5.   Mengetahui seluk beluk dan track record seseorang


Refleksi catatan menjadi pewawancara hari ini


Kota Hujan, 27 Maret 2016

Saturday, 26 March 2016

Motor Aja Perlu Dicuci, Bagaimana dengan Hati...???


            Selain harus diisi bensin dan diservice mesinnya, satu lagi yang harus dilakukan untuk motor adalah dicuci agar bersih. Terlebih saat musim hujan datang, jalanan menjadi becek dan sampah ada dimana-mana. Otomatis motor kalau melalui jalanan tersebut maka akan jadi kotor. Maka jalan pintasnya adalah motor tersebut harus dicuci. Saat genangan air hujan yang kotor ada dimana-mana, maka saat motor melaluinya pun dampaknya motor menjadi kotor. Disitulah motor perlu untuk dicuci. Motor aja yang termasuk kategori benda mati tersebut masih perlu dicuci, lantas bagaimana dengan hati?

      Mau gak mau hati juga harus sering dicuci. Hati juga perlu nutrisi. Oleh karenanya sering-seringlah dibersihkan juga agar tetap bersih. Hati yang kondisinya naik turun seperti role coaster. Terkadang di atas, terkadang di bawah. Terkadang sadar, terkadang lupa. Karena kondisinya yang yazidu wayankus tersebut, sudah sepatutnya hati juga harus sering dicuci. Bukan dengan sabun atau detergen menyuci hatinya. Cara mencuci hati adalah dengan memperbanyak amal kebaikan dan mengurangi amal keburukan. Beberapa cara untuk membersihkan hati adalah dengan banyak tilawah, sholat wajib dan sunnah, tidak berbohong, tidak sombong, dan lain sebagainya.


Kota Hujan, 26 Maret 2016

Friday, 25 March 2016

Membangun "Sense of Belonging" Komunitas

 Apa yang akan aku berikan untuk komunitas?
Bukan sebaliknya, apa yang akan komunitas berikan untuk aku?”

Itulah sebait pertanyaan penting yang harus kamu tanyakan pada diri sendiri saat engkau bergabung dengan sebuah komunitas (organisasi atau lembaga tertentu).
Jawabannya pun ada pada dirimu sendiri.

Foto: Kolaborasi 4 Komunitas (Saung Ilmu, Gerakin, Kopper dan Medina Society)

            Kenapa harus bertanya seperti itu pada diri sendiri? Karena pertanyaan itulah yang juga merupakan komitmen atas pilihan yang kamu pilih saat memutuskan untuk bergabung dengan komunitas, organisasi atau lembaga tertentu. Kata ‘berikan’ disini bisa bermakna kontribusi apa yang akan kamu lakukan. Jika kontribusi telah engkau torehkan, maka pertanyaan kedua tersebut secara tidak langsung akan terjawab dengan sendirinya. Inilah soal niat, kesungguhan dan komitmen saat menjadi bagian dalam sebuah organisasi baik formal maupun non formal.

Karena segala sesuatu berawal dari niat. Setelah itu tambahkanlah dengan kesunguhan dan komitmen yang kuat dalam menjalankannya. Termasuk saat menjadi bagian dari sebuah komunitas atau organisasi tertentu. Mungkin saat bergabung dalam organisasi atau komunitas yang sudah mapan, kita tinggal ikuti alur dan ketentuan yang ada dalam wadah tersebut. Lebih mudah, karena sistem sudah terstruktur. Tapi bagaimana jika komunitas atau organisasi itu masih baru? Untuk membuat sebuah komunitas itu sangatlah mudah. Asal ada SDM pengelolanya. Ditambah dengan membuat visi misi dan semua kelengkapan yang harus terpenuhi lainnya. Sekilas tampah simple dan memang mudah membuatnya.

Tapi terkadang yang sulit itu adalah menjaga kontinuitasnya dalam berkegiatan. Menjaga sistem agar tetap stabil dan tidak goyah. Cukup menguras energi, otak dan pikiran juga tentunya. Hal yang klasik adalah karena kesibukan tim SDM, ada anggota yang tidak aktif, pengurus yang masih labil, keterbatasan dana, minimnya kreativitas dan lain sebagainya. Itulah beberapa kendala yang sering muncul atau dihadapi oleh sebuah komunitas atau organisasi tertentu. Terus kalau sudah seperti ini, apa yang harus dilakukan? Apa yang harus dibangun sebagai pondasi komunitas tersebut agar tidak goyah? Agar komunitas tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya.

 Kalau menurutku berdasarkan pengalaman berkecimpung dalam sebuah tim komunitas dan beberapa organisasi yang aku ikuti, selain kebersamaan dan kesatuan gerak yang harus dijaga oleh komunitas tersebut. Yang tak kalah pentingnya adalah menjaga sense of belonging diantara sesama pengurus dan anggota yang lainnya. Apa itu sense of belonging? Sense of belonging adalah rasa saling memiliki terhadap komunitas atau organisasi yang digelutinya. Sense of belonging adalah kesatuan rasa seperjuangan dan se-ia sekata. Sense of belonging ibarat ruh atau bisa dikatakan juga semacam jiwa militansi yang sudah terpatri dalam hati. Kalau semua SDM/pengelola komunitas tersebut punya sense of belonging yang sama maka masalah seberat apa pun bisa dihadapi. Jika sense of belonging itu terpatri sama dalam diri pengurus dan semua anggota yang ada dalam komunitas/organisasi tersebut, maka akan tercipta satu frekuensi. Satu kekompakkan dan satu kekuatan bersama yang tak bisa dikalahkan.

            Membangun sense of belonging (rasa saling memiliki) terhadap suatu komunitas atau organisasi tertentu harus terus diasah. Disini harus ditumbuhkan juga rasa saling memahami antar anggota, pengelola dan pengurus komunitas tersebut. Semua anggota harus mau menerima perbedaan yang ada. Saling memahami dan saling mengerti satu sama lain. Karena bisa jadi masing-masing anggota atau pengurus lainnya punya kesibukan yang berbeda-beda. Yang terpenting juga adalah harus tetap bergerak walau selangkah. Jika moment kegiatan formal kurang mengakrabkan. Adakanlah moment kultural, misalnya makan bersama, jalan bersama, camping atau hal lainnya yang bisa menumbuhkan rasa saling memiliki terhadap komunitas itu muncul. Kalau ada anggota yang tidak aktif, atau menghilang tidak ada kabar, maka tengoklah dia.  Sesekali tanya terus walau sekedar sms atau telepon. Yang terpenting adalah harus tetap konfirmasi dan koordinasi satu sama lain dalam bergerak.

            Karena komunitas ini milik bersama, maka yuk jalankan bersama-sama. Karena organisasi ini kepunyaan bersama (semua anggota dan pengurus), maka sudah sepatutnya kita miliki bersama. Kita bangun sense of belonging. Kita tumbuhkan rasa saling memiliki terhadap komunitas atau organisasi tersebut. Karena tanggung jawab mengelola itu bukan hanya dipegang oleh ketua, sekertaris atau bendahara saja, tapi semua harus merasa memiliki terhadap organisasi atau komunitas tersebut. Seperti layaknya sebuah tangan yang memiliki 5 jari. Meski masing-masing bagian (jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking) punya peran secara individu. Tapi karena kelima jari tersebut berada dalam satu ikatan, maka harus memiliki rasa kebersamaan untuk bisa menggenggam, mengepal dan mengguncangkan satu kekuatan besar. Analogi ini pun sama halnya dalam komunitas atau organisasi tertentu. Masing-masing individunya harus punya sense of belonging yang kuat. Semua orang yang menjadi bagian dari komunitas atau organisasi tersebut harus memiliki rasa saling memiliki. Rasa yang mendalam dan mendarah daging dalam sanubari, untuk sama-sama bergerak dan berjuang secara berjamaah. Satu frekuensi untuk mencapai visi misi dari komunitas atau organisasi tersebut.



Generasi Pembelajar


Kota Hujan, 25 Maret 2016

Thursday, 24 March 2016

Serunya Bikin "Combro Lumer"


Kalau biasanya combro (Sunda), Misro/Ondol (Jawa), atau Tigapo (Lombok) dibuat dengan isinya gula atau olahan rempah lainnya. Kali ini anak-anak kelas X SMA Plus Liwaul Furqon membuatnya dengan varian berbeda yaitu isi coklat dan kombinasi rempah juga. Tak mau kalah dengan Piscok Lumer yg saat ini sedang booming, maka mereka pun berinovasi dengan "Combro Lumer"nya. Seperti apakah keseruan mereka beramai-ramai dalam membuat hidangan tersebut? Mari simak prosesnya berikut ini.

Mereka membuat combro lumer ini mulai dari mengupas singkong, memarutnya, memasukkan coklat atau isi lainnya, lalu menggoreng. Setelah itu melakukan analisis usahanya pula. Hal tersebut tidak lain juga merupakan tugas praktek pelajaran Ekonomi. Selain combro lumer, mereka juga membuat minuman es buah. Makanan dan minuman tersebut selain tugas pelajaran ekonomi juga menjadi menu hidangan mereka dan siswa lain dlm berbuka puasa sunah kamis ini.

Secara sekilas memang terlihat sederhana. Tapi banyak pelajaran yang dipetik dari proses pembuatan combro lumer tersebut. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1.    Leadership
Kepemimpinan dalam pembuatan combro tersebut diantaranya adalah saat mulai persiapan. Ketua kelas yang mengorganisir anggotanya, mengelist kebutuhan dan berkordinasi dengan guru terkait. Jiwa leadership lainnya adalah kepemimpinan dalam mengemban tugas masing-masing. Semua yang ditugaskan melakukan tugasnya masing-masing.

2.    Tanggung jawab
Mulai dari persiapan, membeli bahan, mengupas singkong, membuat adonan hingga menggoreng sampai menatanya dalam wadah ada tugas masing-masing yang mengerjakan. Disinilah letak tanggung jawab sesuai yang ditugaskan pada bagiannya masing-masing.

3.    Kerja sama
Sejak awal dari persiapan, tahap proses hingga finishing akhir semua step-step tersebut memerlukan kerjasama yang kompak. Tanpa kerja sama yang baik tak kan tercipta hidangan tersebut. karena semua itu harus dilakukan bersama-sama. Tak bisa seorang sendiri atau bekerja secara individu. Tapi perlu dan harus dengan gotong royong

4.    Inovasi dan karya
Setelah melewati tahap demi tahap, jadilah yang ditunggu-tunggu. Itulah hasil inovasi dan karya yang telah diperjuangkan bersama. Karya yang berupa hidangan nan lezat yang menggoda selera makan tersebut cukup membuat lidah meleleh seperti namanya combro lumer. Ending dari inovasi tersebut adalah dinikmati dan dimakan bersama sebagai sajian menu berbuka puasa. Alhamdulillah.



Kota Hujan, 24 Maret 2016


Wednesday, 23 March 2016

Kenapa “Jodoh” Selalu Jadi Trending Topic?


Saat sedang bahagia itu rasanya nano-nano. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti kejatuhan durian atau seperti ada puluhan bintang yang menari-nari di atas kepala. Rasanya seperti menemukan oase di tengah padang pasir Gurun Sahara. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Bersyukurlah kepada-Nya atas semua limpahan rasa senang yang tak terhitung banyaknya. Inikah rasa yang tak bisa tergores oleh pena. Apalagi digambarkan pakai sketsa yang penuh warna. Ya, hanya hati yang bisa merasakan gurihnya perasaan saat mendapatkan sebuah rasa bernama “senang”. Kapankah moment seperti itu datang???? Kapan saja bisa. Yang penting saat-saat bahagia itu datang. Bisa jadi saat mendapatkan hadiah, meraih juara lomba tertentu, saat diberi penghargaan, saat diberi ketenangan hidup atau bahkan (mungkin) saat sudah dipertemukan dengan jodohnya, hehe. Kalau yang sudah bertemu dengan jodohnya (menikah), pasti deh merasakan aneka macam varian rasa yang tak bisa disandi sekalipun dengan kode-kode tertentu, hahaha.

Sebelumnya maaf nih bagi yang masih jomblo (termasuk penulis, hehe) kembali menuliskan coretan tentang jodoh. Jangan baper yah....??? Tapi kalau bawa permen gak papa deh, biar gak ngantuk. Kenapa menulis tentang jodoh? Karena jodoh ini selalu menjadi trending topik dimana-mana. Di sekolah, di kantin, di tempat kerja, di pasar, di angkot, saat reunian, saat menghadiri acara keluarga, saat main ke rumah kakek, nenek, bibi, paman hingga tetangga jauh sekali pun. Pasti pertanyaannya, kapan nikah? Sudah punya calon belum? Ternyata ini berlaku tidak hanya saat bulan syawal atau musim lebaran saja. Bahkan tiap bulan, hingga tiap hari masalah jodoh sering ditanyakan (diobrolkan) terlebih bagi yang masih jomblo (single). Sekali lagi mohon maaf, bagi jomblowan-jomblowati. Teruslah memantaskan dan memantapkan diri. Insya Allah jodoh pasti bertemu. Sudah tercatat dalam Lauhul Mahfudz. Cepat-lambatnya tergantung kesiapan dan kemantapan. Kalau belum siap, berpuasalah dan beristikharohlah terlebih dahulu.

Tadi pagi saat memutar mp3 salah satu kajian Ustadz Yusuf Mansur dalam beberapa pointnya beliau juga menyampaikan bahwa masalah jodoh ini adalah The Big Five Problem in Indonesia. Banyak orang salah cari jodoh bukan pada tempatnya. Cari jodoh bukan pasang lewat iklan di koran. Tapi cari jodohlah di pabriknya jodoh, yaitu bermunajatlah kepada Allah pada sepertiga malam terakhir lewat sholat tahajud. Begitu kurang lebih nasihatnya. Dalam kesempatan lain masalah jodoh ini pun sering dibahas, sering ditayangkan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Bahkan Ridwan Kamil saat memutuskan untuk tidak maju ke pemilihan Gubernur DKI 2017 beberapa waktu yang lalu, setelah panjang lebar menyampaikan alasannya eh pada endingnya beliau menitipkan pesan begini kalimatnya “.........dan walau gak nyambung, seperti biasa, bagi para jomblo bersegeralah untuk menikah, agar panjang umur. Hatur nuhun”. Bahkan beberapa update status walikota Bandung ini pun sering mengingatkan kepada para jomblo untuk segera menikah, hehe....@^,^@

Hari ini, kemarin dan beberapa hari sebelumnya juga saat ngobrol dengan dewan guru yang lain hingga saat makan bersama di kantin, masalah jodoh ini pun pasti ditanyakan. Saat sedang ngobrol ngalor-ngidul, panjang x lebar, dan saat moment-moment lainnya, tiba-tiba saja dan pasti nyambungnya ke masalah jodoh, hehe. Apakah para jomblo sekalian mengalami hal yang serupa dengan penulis?  Kenapa sih masalah “jodoh” ini selalu menjadi trending topik di segala tempat? Kalau menurutku ini ada beberapa alasan mengapa masalah jodoh menjadi trending topik:
1.      Bentuk perhatian kepada para jomblo
Inilah alasan pertama. Karena perhatiannya dengan sesama saudara atau keluarga dekatnya, kepada rekan kerjanya ketika ada yang masih jomblo dan usianya sudah cukup umur pasti akan ditanyakan tentang masalah jodoh tersebut. Jadi pertanyaan tersebut merupakan salah satu bentuk perhatian sekaligus dorongan agar segera menikah, hehe. Begitulah bentuk perhatiannya mereka kepada sesama sahabat/rekan/keluarga terdekatnya yang masih jomblo.

2.      Do’a sekaligus dorongan
Selain merupakan bentuk perhatian, mereka yang menanyakan soal jodoh sebenarnya mereka juga mendo’akan kepada orang tersebut agar segera menikah. Mereka sangat perhatian kepada kita, hingga bentuk perhatian tersebut menjadi do’a buat yang masih jomblo. Pertanyaan tersebut tidak lain adalah ekspresi do’a sekaligus dorongan agar segera mengakhiri masa lajang.

3.      Nasihat untuk berbenah
Sudah siap menikah belum? Sudah punya calonkah? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berhubungan soal jodoh bukanlah maksud mereka untuk mewawancarai atau menginterview. Akan tetapi aneka pertanyaan tersebut tidak lain adalah bentuk nasihat dan petuah yang mengingatkan kepada kita bahwa akan pentingnya menikah. Bukankah menikah itu adalah menyempurnakan agama juga? Begitulah nasihat mereka, hehe.

Jadi teruslah berpikiran positif saja jika masih ada yang menanyakan soal jodoh. Karena itu adalah bentuk perhatian, doa sekaligus nasihat dari mereka. Begitulah tiga alasan tentang kenapa jodoh selalu menjadi trending topik. Mungkin masih banyak lagi alasan lainnya. Silahkan ditambahkan sendiri sesuai yang dialami oleh para jomblo sekalian, hehe.

Teruslah berbenah. Pantaskan diri. Mantapkan hati.
Salam jomblo, karena jodoh pasti bertemu...!!!

Kota Hujan, 23 Maret 2016


Tuesday, 22 March 2016

Kemauan, Ikatlah dengan Istiqomah


          Ringan, tapi beratnya bisa berton-ton. Istiqomah memang sederhana, simple. Ya, yang susah itu menjaganya. Padahal kekonsistenan itu bisa mengalahkan ketidakmungkinan. Rutin itu hanya butuh telaten, tekun dan meluangkan waktu sejenak. Menyempatkan waktu butuh pemaksaan. Ya, sekali lagi hanya butuh "waktu sejenak", walau hanya 1 detik, 1 menit, 10 menit, 1 kali, 3 kali. Ya, hanya sedikit yg penting rutin. Istiqomah. Sama halnya seperti sebuah tanda seru (!), ^,^ 1 sms, 1 kata, sebait kalimat, sepatah pesan atau secarik ekspresi. Ada makna besar yang terkandung di dalamnya. Karena di atas langit masih ada langit, di bawah bumi masih ada bumi dan di dalam cahaya masih ada cahaya. Berat sama dijinjing, ringan sama dipikul. Keduanya berbeda.

          Apa yang membedakan orang sukses dengan orang gagal? Orang yang berhasil dengan yang kurang beruntung? Padahal sama-sama diberi waktu yang sama. Bahkan semua manusia di dunia ini diberi waktu yang sama dalam sehari 24 jam. Lantas, apa yang menjadikannya berbeda? Sama halnya dengan siswa dalam sebuah kelas. Katakanlah satu kelas ada 35 orang siswa. Satu atap, satu kelas, satu perjuangan dalam menuntut ilmu. Guru yang mengajar dan mendidik pun sama. Proses pembelajaran yang dilakukan pun sama. Metode yang dilakukan guru dalam satu kelas itu pun sama. Tapi kenapa hasil pembelajaran yang didapat masing-masing anak berbeda?

          Pertama adalah semua anak memiliki potensi yang unik. Mereka punya bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Selain itu yang kedua adalah kemauan dan keuletannya dalam berjuang mencari ilmu. Ketiga, potensi dan kemauannya itu teratur dengan baik dalam mengelola waktunya. Ya, dibalik semua itu ada manajemen waktu yang menjadi pembeda dari semua orang. Kondisi ini tidak hanya berlaku bagi siswa saja, tapi berlaku bagi semua orang. Karena kita diberi waktu yang sama, yang menjadikan berbeda dan membuatnya sukses meraih keberhasilan adalah kemampuan manajemen waktunya. Keempat, yang tak kalah pentingnya adalah istiqomah. Konsisten. Kontinuitas. Melakukan hal tersebut secara tetap, itulah istiqomah. Walau sedikit, walau sebentar tapi rutin dilakukan setiap hari.  

          Meski melakukan hal kecil, tapi rutin terus menerus itu lebih baik daripada melakukan hal besar tapi hanya sekali saja. Istiqomah itu sekilas tampak sepele dan ringan diucapkan, tapi dalam pelaksanaannya terkadang beratnya bisa berton-ton. Kemalasan terkadang datang menghampiri, itulah musuhnya istiqomah. Tak ada jalan lain, selain menghadapinya. Kunci utamanya adalah kemauan yang kuat. Kalau ingin pintar, milikilah kemauan belajar yang tinggi pula. Mau usahanya sukses, maka kemauan dalam berusahanya harus ditingkatkan. Mau mendapatkan juara dalam perlombaan tertentu, maka kemauan untuk terus berlatih pun harus terus diasah. Kemauan yang kuat saja tak cukup, tapi ikatlah dengan istiqomah untuk melanggengkan secara rutin terus menerus sesuatu itu. Seperti halnya membaca buku, membaca Al-Qur’an, menghafalnya, membacanya dengan one day one juz dan amalan keseharian lainnya perlu istiqomah agar terus berjalan. Walau sedikit tak masalah, yang penting tetap dilakukan meski kondisi tubuh kita lelah.


Kota Hujan, 22 Maret 2016