Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Thursday, 30 March 2017

Meneladani “Ayah Bangsa” Bernama Buya Hamka

Cover Buku "Ayah... Kisah Buya Hamka"

Dibalik keluarga yang hebat, ada sosok ayah tangguh yang menjadi aktor utamanya. Kepemimpinan ayah selaku imam rumah tangga menjadi garda terdepan dalam membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Ayah dan ibu merupakan madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Ayah sebagai kepala sekolahnya dan ibu sebagai gurunya. Keberhasilan pembelajaran di rumah tersebut tergantung pimpinannya, yaitu ayah. Selain itu, ayah juga merupakan ayah pejuang, kharismatik, cerdik, bersahaja, berjiwa besar dan pemimpin bagi masyarakat sekitarnya. Jiwa patriot dan kegigihannya memegang tauhid mengantarkan sosok ayah ini juga menjadi “ayah bangsa” yang patut menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia. Ketahuilah, sosok teladan ayah bangsa ini bernama Buya Hamka.  

Tokoh kharismatik yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini lebih akrab dikenal dengan sebutan “Buya Hamka”. Beliau merupakan pribadi yang multitalenta. Ketokohan beliau bukan hanya dikenal sebagai ulama besar, melainkan juga sebagai sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, pejuang dan pemimpin umat. Keteladanan hidup beliau dimulai dari membangun pondasi terkecil, yaitu keluarganya. Beliau menjadi sosok panutan bagi istri dan anak-anaknya. Hal itulah yang sangat dirasakan oleh Irfan Hamka (anak kelima Buya Hamka) yang dipaparkan sangat gamblang dalam bukunya yang berjudul “Ayah.... Kisah Buya Hamka”. Melalui buku tersebut, Irfan menceritakan serangkaian kisah ayahnya tersebut yang dikenangnya sejak Irfan berusia 5 tahun (1948, saat agresi II) hingga Buya Hamka wafat (24 Juli 1981).

Buku yang berbentuk novel biografi ini ditulis dengan gaya bahasa menarik, mudah dipahami dan sarat akan nasihat yang bisa kita jadikan teladan dalam kehidupan sekarang ini. Bagian pertama bercerita tentang tiga nasihat Buya Hamka, yaitu nasihat bagi rumah tangga, nasihat bagi tetangga dan nasihat untuk pembohong. Walaupun kejadian kisah tersebut sudah lampau terjadinya, namun ketiga nasihat tersebut masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini. Dalam keluarga, Buya Hamka juga menjadi sosok ayah teladan bagi kedua belas putra-putrinya, menjadi guru mengaji, guru silat (bela diri) hingga menjadi suami yang bijak. Akhlak Buya Hamka tercermin juga dalam diri akhlak Hajah Siti Raham Rasul (istrinya) yang cinta silaturahim dan bersosialisasi dengan masyarakat.

Buya Hamka merupakan tokoh Indonesia pertama yang menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar. Beliau termasuk manusia pembelajar sejati, rajin membaca buku dan tekun dalam menulis. Dunia literasi sangat melekat dalam karakter pribadi beliau. Meski tidak tamat pendidikan formal, kegigihan semangat belajar Buya Hamka tak pernah pudar. Belajar secara otodidak ditekuninya dengan banyak membaca buku. Lalu belajar dengan tokoh dan ulama baik saat di Sumatera, Jawa hingga sampai ke Mekkah, Saudia Arabia. Kecintaannya beliau dalam menulis menghasilkan puluhan bahkan ratusan karya tulis baik dalam bentuk majalah, surat kabar hingga buku. Selain itu, ada lagi karya paling fenomenalnya yaitu tafsir Al-Qur’an 30 juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar yang dibuatnya saat beliau dalam penjara karena difitnah.

            Dalam buku ini juga diceritakan tentang kisah Buya Hamka berdamai dengan jin, kisah Si Kuning (kucing kesayangan beliau yang selalu mengikutinya), perjalanan haji ke Mekkah dengan Kapal Mae Abeto, perjalanan maut saat berada di Saudi Arabia, hasil karya dan beberapa kisah hingga kejadian wafatnya Buya Hamka. Semua itu penuh dengan hikmah dan nasihat.


*Resensi ini diikutsertakan dalam Literasi Award 2017 yang diadakan oleh BAZNAS dengan Republika.

Sunday, 12 March 2017

Antara Leuwiliang & Pasar Senen: “Ada Hikmah Dibalik Masalah”



Hari ini penuh dengan kejutan. Kaget bercampur was-was. Ketar ketir mengejar waktu. Berpacu dengan sepeda motor. Antara dag dig dug bercampur dengan aneka rasa yang lainnya. Berbaur menjadi satu. Mungkin jika ada kolam atau sungai yang jernih, ingin rasanya menceburkan diri ke dalamnya. Biar adem, hehe. Apalagi kalau ada air terjun yang bening airnya atau laut yang tenang ombaknya, maka sudah dipastikan aku ingin menyelamnya. Tapi aku yakin dibalik semua hambatan itu ada hikmah yang bisa dipetik. Setiap masalah yang menimpa diri kita, pasti ada pelajaran berharga yang bisa kita jadikan refleksi diri. Emang ada hambatan apa? Ada masalah apa? Tidak ada. Ini hanya sepenggal kisah yang terjadi antara Leuwiliang hingga Pasar Senen, hehe
Singkat cerita begini kisahnya:
Tepat jam 7.40 WIB aku sudah berangkat dari Leuwiliang. Selepas nyuci pakaian, lalu sarapan pagi aku langsung berkemas-kemas meninggalkan asrama sekolahku, SMA Plus Liwaul Furqon Bogor. Rencana kepergianku hari ini sudah aku persiapkan sejak kemarin sore. Semalam sudah memesan tiket kereta juga untuk tujuan Pasar Senen ke Tegal. Jadwal kereta di Stasiun Senin jam 12.00. Kalau sesuai perhitungan jarak dan waktu, diperkirakan sampai lokasi bisa tepat waktu. Bahkan bisa lebih awal 1 jam dari waktu yang tertera di tiket tersebut. Aku pun mengendarai motor agak santai. Tidak terlalu terburu-buru.
Cuaca hari ini cukup bersahabat. Langitnya cerah dan matahari pun tampak cerah memancarkan senyum manisnya. Perjalanan dengan motor plat G pun aku nikmati dengan sepenuh hati, hehe. Di tengah perjalanan tiba-tiba rantai motor putus. Tepatnya di daerah Dramaga. Mau gak mau harus dorong motor sembari mencari bengkel. Tak jauh dari lokasi, aku temukan bengkel yang masih sepi itu. Aku pikir gak lama, rupanya lewat 1 jam lebih motor baru normal kembali. Karena pikirku memasang rantai cuma sebentar, lepas rantainya, lalu pasang, beres! Tapi ternyata nggak. Rantai sepeda motorku ini sepertinya sudah usang dan ada yang peot (bengkok), akhirnya mau gak mau harus ganti yang baru. Pas mau dipasang ternyata kurang panjang, akhirnya tukang bengkel tersebut harus menambahnya dengan tambahan rantai. Setelah dipasang, ternyata malah kepanjangan rantainya. Harus bongkar lagi, diputus (dipendekin) lagi. Nah, ini yang berlangsung lama. Karena ternyata peralatan di bengkel kecil tersebut juga tidak lengkap. Nah, yang sempet bikin kesel juga, di saat motorku tersebut belum beres, tiba-tiba ada pasien lain yang mau menambal ban. Motorku sempat ditinggal sebentar, tukang bengkel tersebut mengerjakan motor pasien yang baru datang tersebut. Aku sempat protes dan menegur tukang bengkel tersebut. tapi rupanya pasien yang baru datang tersebut tidak lama, Cuma tambah angin karena tidak bocor.
Detik demi detik berlalu. Menit demi menit pun terlewati. Hingga hitungan sejam lebih pun berlalu pergi. Sudah hampir jam 10 rantai motorku sudah beres. Saat mau membayar ongkos jasa tersebut, muncul masalah baru. Uang yang aku bayarkan tidak ada kembaliannnya. Mau gak mau harus menukar uang tersebut. Agak lama, gak ketemu juga. Sepertinya si abang tukang bengkel tersebut harus mencari ke komplek warung sebelah naik ke atas. Begitu beres, aku pun langsung capcus menyalakan starter motorku dan melaju dengan kecepatan tinggi. Awalnya masih optimis bakalan terkejar waktunya. Sampai depan IPB seperti biasa macet berkepanjangan. Jalannya selangkah demi selangkah melewati jalan super macet tersebut. Mulai khawatir terlambat.
Aku lanjutkan perjalananku menuju Ciomas untuk menitipkan motorku di rumah Pak Febi. Jalanan yang macet tak bisa membuatku melaju cepat, harus pelan menyalip satu per satu mobil atau kendaraan yang ada di depanku itu. Ada perasaan lega saat sudah tiba di lokasi. Usai menitipkan motorku tersebut, aku langsung bergegas keluar dari komplek perumahan Bukit Asri Ciomas tersebut. Aku pun berjalan cepat menuju jalan raya. Sambil buka hp mencari aplikasi gojek. Kok gak ada? Wah, sepertinya terhapus. Aku mulai panik. Berjalan terburu-buru berharap ada ojek pangkalan. Sampai pertigaan rupanya gak ada. Mau naik angkot, tapi di daerah Ciomas sedang macet. Apalagi hari libur. Aku pun akhirnya download lagi aplikasi gojek. Dengan wajah berkeringat aku utak atik aplikasi tersebut. Sudah terdownload, kini giliran sinyal yang naik turun. Karena panik, sampai-sampai 2x salah mengorder gojek. Sudah ditelpon sama drivernya tapi ternyata salah lokasi. Baru ketiga kalinya berhasil. Sudah hampir jam 11. Gojek yang aku order pun datang. Terdengar nada telepon dari 2 orderan gojek sebelumnya yang belum sempat aku cancel. Akhirnya aku matikan HP sejenak. Gojek melaju melewati kemacetan dan akhirnya memotong jalan lewat jalan pintas. Melewati gang kecil. Melewati lorong demi lorong, karena saat melewati jalan pintas ternyata ada pemilihan kepala desa di daerah tersebut. Sang driver pun mengambil jalan yang lebih kecil.
Singkat cerita sampailah di stasiun bogor jam 11 setelah melewati jalanan yang macet. Si driver gojek cukup lincah menyalip. Aku berpamitan dengan abang tersebut saat aku tiba di stasiun. Kepanikan tidak sampai disitu, saat masuk stasiun aku harus antri juga untuk memesan tiket KRL. Antrian cukup panjang akhirnya terlewati juga. Sejak sampai di stasiun ini aku sudah menduga, gak bakalan terkejar waktunya. Saat sudah menempelkan kartu KRL dalam mesin pintu masuk, aku langsung berlari mencari kereta. Akhirnya aku sampai juga di dalam Commuter Line. Terdengar suara pemberitahuan kalau KRL ini baru akan berangkat tepat jam 11.32. Waktu tinggal setengah jam lagi. Jam 12 harus sampai di Senin? Wah kayaknya gak mungkin. Alhasil tiket di pasar senen pun sudah hangus. Selamat tinggal tiket yang sudah kadaluarsa tersebut. Aku masih dalam perjalanan KRL dari Bogor menuju Jakarta.
Terus melaju hingga titik akhir perjuangan. Karena sudah tahu tiket hangus, aku tak berubah pikiran untuk balik langkah. Aku tetap melaju hingga menuju Senen. Saat itu juga aku coba searching tiket yang lain lewat aplikasi KAI Acces. Masih ada beberapa kursi yang tersedia. Tapi ternyata kuota yang masih ada di hari ini sudah tidak bisa dipesan lagi lewat aplikasi tersebut. Reservasi tiket bisa dilakukan maksimal 10 jam sebelum kereta itu berangkat. Mau gak mau harus pesan di stasiun keberangkatan yaitu Senen. Tertera di kuota yang tersedia, ada yang jam 14.00 hingga pukul 23.00.  Kuota tersisa tinggal beberapa kursi lagi, kecuali yang jadwal malam yang masih agak banyak.
Saat sampai Stasiun Manggarai, aku putuskan turun disini untuk transit sejenak ambil jalur tercepat yaitu lewat jatinegara lalu ambil yang arah senen. Rupanya kesabaranku kembali diuji, saat tiba di manggarai, selang beberapa menit aku berdiri hujan lebat disertai angin kencang tiba-tiba turun. Kereta arah Jatinegara belum juga datang. Sementara hujan lebat terus mengguyur. Karena disertai angin kencang, para penumpang pun banyak yang basah kuyup. Hampir 25 menit lebih diPHPin oleh KRL yang tak kunjung datang juga. Sementara para penumpang sudah pada gelisah. Salah seorang bapak yang sudah tua usianya tampak masuk angin, duduk lemas di bawah. Sepertinya bapak tua tersebut kelelahan. Terlihat istrinya mengoleskan minyak angin di seluruh tubuh bapak tua tersebut. Sang istri begitu perhatian dengan bapak tua tersebut. Kedatangan kereta membuat semua orang bahagia.
Aku terus melaju hingga Jatinegara, awalnya sempat mau balik arah. Tapi pikirku terus melaju, mudah-mudahan keburu tiket yang jam 2 siang. Saat tiba di stasiun jatinegara, aku turun dan coba mau pesen tiket lewat alfamart. Aku cek sendiri di mesin e-tiket alfamart tapi tidak bisa juga. Kata petugas alfamart untuk tiket hari ini harus pesen di stasiun keberangkatannya, yaitu di Senen. Aku tiba stasiun Senen jam 13.50. Kayaknya gak bisa terkejar untuk tiket yang jam 14.00. Apalagi banyak penumpang lain yang cukup padat, jadi tidak bisa lari untuk menyalip.
Setelah berpikir panjang sembari minum teh dingin dan makan roti, akhirmnya aku putuskan pesen tiket yang jam 23.00 biar bisa istirahat dulu. Setelah pesan tiket di loket otomatis tersebut, aku lanjutkan perjalanan KRL lagi menuju stasiun pasar minggu untuk istirahat dulu di tempat teman. Alhamdulillah, ada banyak pelajaran berharga hari ini. Perjalanan kesabaran dan ujian mengelola emosi dan menata hati. Perjalanan penuh makna antara Leuwiliang hingga Pasar Senen. Kini perjalanku berlanjut dari Pasar Senen menuju kampung halamanku. Bismillah, subhanalladzi sakhoro lanaa hadza wamaa kunnaa lahu muqrinin. Wainnaa ila robbinaa lamunqolibun. Lelah itu hanyalah siklus, laluilah dengan segenap keikhlasan. Karena dibalik masalah, pasti ada hikmah. Maka teruslah mengambil pelajaran, dari setiap lika-liku perjalanan.

                                                           
Perjalanan Jakarta - Tegal
KA Tawang Jaya, 12 Maret 2017
Pukul 23.45 WIB