Sunday, 25 March 2018

Mengapa Guru Harus Menulis...???


§  Prolog: Awal Mula Menulis


Menulis itu mudah tapi susah. Dibilang mudah tapi terkadang susah untuk mengawalinya. Tapi kalau sudah berani mengawali kata pertama yang ditulis, maka akan terasa mudahnya. Akan tetapi dibilang susah juga sebenarnya itu salah karena dikatakan susah karena tidak mau mengawali dan mencoba untuk menulis kata pertama. Karena kata-kata pertama yang kita tulis sebenarnya itulah yang menjadi pemicu dan inisiator yang akan meningkatkan langkah kita untuk meneruskan kata-kata selanjutnya. Mungkin menulis sama halnya dengan sebuah presentasi. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan dan suksesnya presentasi berada di 5-7 detik pertama. Sama halnya dengan menulis yang terletak juga di kata pertama yang ditulis. Kata-kata pertama itulah kunci utama yang akan membuka, menerobos dan menembus rangkaian kata-kata, kalimat, hingga paragraf selanjutnya.

Tapi bagaimana mau mulai menulis, kalau sama sekali tidak punya ide untuk memunculkan kata-kata pertama itu, sudah bingung, dicampur lagi dengan adanya kebuntuan berpikir di jalan yang buntu. Selain itu, terkadang juga muncul rasa bingung tidak bisa membuat kata-kata yang indah, putus asa di tengah jalan lantaran pikirannya mentok, gagasannya kurang bermutu, tidak mampu mencairkan suasana yang enak dibaca dan tidak percaya diri dengan apa yang dituliskannya. Itulah sekelumit permasalahan yang terjadi dan dirasakan oleh penulis pemula. Hal ini juga seperti yang aku rasakan juga tatkala mau memulai untuk menulis dan menjadi penulis pemula.

Pada awal sebelum aku menyukai dunia tulis menulis, aku hanya bisa bermimpi dan menganggap menulis itu sesuatu yang sebenarnya mudah tapi juga susah. Padahal sudah ada ide-ide yang bagus dan cemerlang menurutku tapi aku bingung dari mana aku memulai menulisnya. Akhirnya aku hanya bisa bermimpi dan bermimpi ingin menulis tapi tak pernah terlaksana. Aku bermimpi tulisanku dimuat di suatu majalah tertentu atau memenangkan suatu ajang perlombaan hasil karya menulisku. Ternyata waktu itu aku hanya bisa bermimpi tanpa ada aksi. Tanpa mau mencoba dan berusaha untuk memulai menulis apa yang sebenarnya sudah ada dalam benakku waktu itu.

Ditambah lagi kesibukan aktivitasku yang tak kunjung henti (kuliah, praktikum dan kegiatan organisasi) telah menidurkanku dari mimpi-mimpi untuk menulis itu. Sejak pertama kali aku menjadi mahasiswa, aku memimpikan akan menjadi seorang penulis terutama menulis sebuah karya tulis ilmiah dan menjadi juara dalam ajang tersebut. Itulah impianku sejak pertama kali menjadi mahasiswa dan sebenarnya juga sudah sejak dari SMA tapi belum pernah terlaksana sama sekali. Hingga aku sudah duduk di semester 4 pun belum terealisasikan sama sekali. “Bagaimana Aku bisa menulis kalau tidak mau mencobanya sama sekali?” Itulah pertanyaan besar yang aku lontarkan ke diriku sendiri.


§  Kekuatan Menulis Dan Sejarah Orang-Orang Besar Karena Menulis

          “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer, Novelis Indonesia)

Ungkapan pepatah fenomenal dari Pramoedya Ananta Toer tersebut tentu sudah sangat sering kita dengar. Jika kita cermati maknanya memang ada benarnya juga. Kata-katanya tentu membuat kita tersentak dan tersengat untuk melakukan aktivitas yang bernama “menulis”. Pastinya kata-kata tersebut bukan asal kata, tapi memang sudah mewakili perasaan dari pembuatan ungkapan tersebut. Mungkin tidak hanya beliau yang merasakan betapa dahsyatnya manfaat dari menulis. Manfaat yang dirasakan tidak hanya bagi penulis semata tapi juga pembaca seantero jagat raya yang membaca tulisan tersebut pasti akan merasakan buah hasil dari apa yang kita baca tersebut.

Kenapa sih kita harus menulis? Mengapa orang-orang besar yang terkenal juga rata-rata melahirkan karya terbaiknya. Tentunya masing-masing punya “strong reason” tersendiri. Kenapa mereka menulis? Apa yang menyebabkan Ahmad Fuadi terkenal dengan karya Man Jadda wajada dalam bukunya “Negeri 5 Menara”?  Kenal  dengan Inspirator Sukses Mulia? Penulis buku berjudul “ON”, “Kubik Leadership” dan buku-buku best seller lainnya. Iya, betul Pak Jamil Azzaeni namanya. Beliau adalah motivator, trainer, sekligus penulis buku juga. Tahukah kalian dengan Novelis No. 1 Indonesia? Beliau sudah menerbitkan puluhan novel Bestseller dan sudah difilmkan juga, salah satunya “Ketika Cinta Bertasbih”. Betul, Kang Abik atau nama lengkapnya Habiburrahman El-Shirazy. 

Siapakah  tokoh  ustadz yang terkenal dengan Spiritual Entrepreneur dengan konsep sedekah? Betul, beliau adalah Ustadz Yusuf Mansur, juga telah menulis dan menerbitkan puluhan buku. Tahukah kalian dengan penulis buku-buku parenting dan urusan rumah tangga? Benar, Asma Nadia namanya. Beliau juga telah menerbitkan puluhan buku. Begitu juga dengan Helvy Tiana Rosa, sastrawan dan penulis novel inspiratif. Dua penulis hebat yang kakak-beradik (Helvy dan Asma) ini telah melahirkan puluhan buku best seller dan beberapa diantaranya sudah difilmkan seperti Ketika Mas Gagah Pergi, Assalamualaikum Beijing, Duka Sedalam Cinta dan sebagainya.

Menulis juga menjadi senjata ampuh bagi para pencari ilmu, sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan “ikatlah ilmu dengan menulis”. Menulis telah menjadi mesin penyimpan ilmu yang tak pernah hilang ditelan zaman, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Imam Ghozali, Ibnu Taimiyyah, Imam Syafi’i, dan para cendekiawan muslim lainnya. Walaupun orangnya telah tiada tapi karya-karya para tokoh ulama tersebut sampai sekarang menjadi referensi dan rujukan bagi umat manusia. Apa yang mereka (para cendekiawan muslim dan tokoh-tokoh ilmuwan lainnya) wariskan kepada generasi zaman ini? Iya, betul sekali. Mereka mewariskan ilmu-ilmu pengetahuan lewat karya-karya tulisan mereka berupa buku. Sebagai penyemangat cermati kata-kata dahsyat ini: “Satu peluru hanya menembus satu kepala, namun satu TULISAN mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala” (Sayyid Quthb). Itulah alasan mereka menulis.

§  Mengapa Guru Harus Menulis...???

Belajar dari orang-orang besar seperti disebutkan di atas, maka bagi seorang guru pun bisa mengikuti jejak seperti mereka. Lalu pertanyaannya, mengapa guru harus menulis? Tentunya menulis disini bukan hanya menulis RPP, silabus maupun perangkat pembelajaran lainnya. Kalau menulis perangkat tersebut merupakan tugas (sudah menjadi keharusan bagi guru). Ada beberapa alasan kenapa guru harus menulis, diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.    Sebagai bahan refleksi guru pembelajar
    Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang profesional. Sebagai guru pembelajar, tak ada kata berhenti dalam belajar. Guru bisa merefleksikan dirinya melalui goresan tulisan tentang kegiatan pembelajarannya yang telah dilakukan, bisa harian maupun mingguan. Refleksi diri sebagai ulasan tentang apa yang telah dilakukannya dalam proses kegiatan belajar mengajar dan menulis rencana pembelajaran ke depannya. Menulis bisa menjadi terapi diri untuk memperbaiki kualitas guru tersebut.
2.    Berkarya lewat tulisan
     Selain sebagai bahan refleksi, menulis bagi guru merupakan kesempatan untuk berkarya dan berkreatifitas di dalam membuat media pembelajaran maupun best practice lainnya. Guru yang berkarya lewat tulisan akan menjadikan dirinya untuk terus berinovasi mencari terobosan baru di dalam pembelajaran yang dia lakukan. Kemudian dari pembelajaran tersebut bisa menjadi bahan tulisan baginya. Bisa juga bersumber dari masalah maupun kendala yang dihadapi selama menjadi guru dan problematika kehidupan sekolah lainnya juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi guru tersebut untuk berkarya menghasilkan tulisan yang menginspirasi orang lain.
3.    Mengikat ilmu dan pengalaman
    Setiap guru pasti memiliki pengalaman dan pastinya selalu haus dengan ilmu pengetahuan agar produktifitasnya tetap terjaga. Maka salah satu cara untuk mengikat ilmu dan pengalaman tersebut adalah dengan menulis. Seperti yang pernah disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib “ikatlah ilmu dengan menulis”. Disinilah pentingnya menulis bagi guru akan mampu mengikat ilmu dan pengalaman yang pernah diraih oleh guru tersebut. Pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi ilmu baru yang bisa diabadikan melalui tulisan yang bermakna dan berbobot.
4.    Menjadi teladan bagi siswa
     Guru yang rajin menulis dan menghasilkan karya tulis terbaiknya akan menjadi inspirasi dan teladan bagi para peserta didiknya. Goresan pena yang dihasilkan oleh guru tersebut bisa memotivasi siswa untuk ikut berkarya dan mengikuti jejak guru tersebut. Karena dengan tulisan tersebut siswa bisa tersengat motivasinya untuk melakukan suatu hal yang bisa dilakukan oleh siswa tersebut. Tidak hanya siswa saja, tulisan yang dibuat oleh guru juga bisa menjadi contoh bagi guru-guru lainnya di dalam mengelola dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan berdasarkan tulisan yang dibuat guru.
5.    Sebagai inovasi pembelajaran
     Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan semata, tapi seorang guru juga dituntut harus bisa berinovasi di dalam pembelajarannya. Salah satu cara yang harus ditempuh adalah melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang mana diawali dengan membuat rencana PTK tersebut yang dituangkan dalam tulisan. Membuat inovasi pembelajaran melalui PTK maupun metode yang lainnya akan sangat berguna jika bisa didokumentasikan juga lewat tulisan. Nantinya tulisan hasil best practice tersebut juga bisa menjadi rujukan bagi guru-guru yang lainnya.

§  Keterkaitan Menulis Dan Membaca.
  Menulis dan membaca ibarat dua sahabat sejati yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Kedua hal tersebut ibarat sekeping logam yang selalu beriringan kemanapun berada. Mari sejenak kita cermati ungkapan berikut:

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru, membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin ku jumpai sambil bermain di lengkung pelangi.”
(Abdurrahman Faiz, putra Helvy Tiana Rosa, remaja yang begitu
mencintai membaca dan sudah menulis buku sejak kanak-kanak).

Ungkapan tersebut memang benar sekali. Bahwa membaca itu banyak sekali manfaatnya. Dan membaca ini merupakan amunisi bagi para penulis. Begitu juga yang aku rasakan hingga saat ini. Kalau ditanya sejak kapan Aku suka dengan buku? Mungkin jawabannya adalah sejak masih duduk di tingkat dasar yaitu Madrasah Ibtidaiyyah (MI). Bukankah ada pepatah Arab yang mengatakan juga “Khoiru jaliisin fii zamani, kitaabun” (Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah BUKU). Sejak saat itulah pertemuanku dimulai. Bahkan hobi ini pun berlangsung hingga duduk di bangku SMA. Seringkali pinjam buku di perpustakaan sekolah hampir tiap minggu pasti pinjam 1-3 buku. Walaupun gak dibaca semua, tapi setidaknya bisa menambah referensi. Selain di perpustakaan sekolah, waktu itu juga sering meminjam buku di perpustakaan daerah.

Iya, kalau diceritain pasti akan panjang jalan ceritanya. Yang jelas banyak sekali manfaat yang aku dapatkan setelah membaca buku-buku tersebut. Singkat cerita, kembali ke buku pertamaku yang terbit itu membuatku semakin PeDe untuk mengikuti kompetisi menulis lainnya. Satu demi satu karya buku antologiku pun juga bertambah. Ternyata menulis itu memang mudah. Dan menulis tak kan bisa mengalir indah tanpa adanya banyak membaca. Kalau kurang membaca, maka kita akan menjadi miskin ilmu. Sebaliknya kalau kita banyak membaca, tentu kita akan bertambah wawasan dan pengetahuan kita. Itulah sepenggal pengalaman yang aku rasakan bahwa membaca dan menulis keduanya merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.



Epilog: Teruslah Menulis!

"Jika aku adalah MEMBACA, dan kamu adalah MENULIS. Maka, kita adalah LITERASI". Dua sejoli (membaca dan menulis) adalah senjata ampuh yang bisa merubah sumber daya manusia, menajamkan pengetahuan dan meraih kesuksesan.

  Habis membaca terbitlah menulis. Tulisan itu pun akan senantiasa bersinar menerangi bacaan. Begitulah pepatah yang tepat bagi kedua pasangan sejati (membaca dan menulis) yang tak bisa dipisahkan karena keduanya selalu beriringan.

    Kekuatan membaca yang telah kita serap akan meningkatkan keterampilan dalam menulis. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu juga dengan menulis, tulisan yang kita tulis tak lepas dari bacaan yang telah kita baca sebelumnya.
   
    Jenis atau genre buku yang kita baca pun akan mempengaruhi cita rasa tulisan yang kita hasilkan. Menulis dengan hati akan sangat berarti dibandingkan hanya menulis dengan emosi.  “Scripta manent, verba volent” yang berarti apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Pepatah latin ini pun menjadi visi bagi sebuah tulisan yang telah tergoreskan pena.

  “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya” (Michael Crichton, penulis novel “Jurassic Park”)

     Jika ingin umur panjang, menulislah!
     
      Salam Literasi

      Iin Amrullah
      #EduWriter

* Resume materi kuliah SGI Online (Selasa, 27 Februari 2018)

0 comments: