Sunday, 10 June 2012

TEGAL KEMINCLONG MONCER KOTANE, GEMAH RIPAH DESANE


[TELAH TERBIT DI BULAN JUNI!] Buku Antologiku ke-5
Judul : Stories of Laka-Laka
Penerbit : deKa Publishing [NulisBuku.com]
Tebal : vi + 130 hlm.
Harga : Rp. 34.000,- (belum termasuk ongkir).
Discount 20%, menjadi Rp. 27.200,- (belum termasuk ongkir). Hanya 10 hari (s/d 30 Juni 2012)..!!!

Siapa yang tak mengenal Tegal, kota yang terkenal dengan wartegnya yang ada dimana-mana di seluruh pelosok nusantara. Selain itu, Tegal juga terkenal dengan julukan bahasanya yang ngapak dengan logat khasnya yang sangat medok. Aku sendiri adalah orang asli dan lahir di Tegal bumi pertiwiku. Setiap kali aku kenalan dengan orang lain ketika berada di luar kota Tegal, orang tersebut selalu ketawa dan tersenyum mendengar kata Tegal. “Hah, T-e-g-a-l…???” dengan nada medoknya. “Okelah kalo begitu” kata orang yang bertanya tersebut. Begitulah yang sering aku alami semenjak aku merantau mencari ilmu ke luar kota dari Tegal. Ternyata ke-medok-an Tegal sudah mendunia dimana-mana, mungkin karena unik, nyentrik, dan berbeda dengan bahasa-bahasa daerah lainnya. Walau sebenarnya ada kemiripan ke-ngapak-an bahasa Tegal dengan bahasa Ngapak Banyumasan, tapi menurut aku lebih ngapak bahasa Tegal.
Terlepas dari ketenaran medoknya orang Tegal, disini aku akan sedikit menceritakan tentang tanah kelahiranku Tegal Kota Bahari. “Tegal Keminclong Moncer Kotane”. Begitulah kata-kata yang terpampang di baliho ketika kita memasuki sudut kota Tegal. Slogan ini bukan sembarang slogan, tapi merupakan semangat, dan harapan besar kota Tegal untuk menciptakan kota yang bersih mengkilau dan menjadi kota yang maju. Kemajuan kota Tegal tak lepas dari peran dari semua pihak, mulai dari rakyatnya hingga pejabatnya. Kemajuan kota Tegal terlihat di sepanjang daerah pantura sampai ke arah alun-alun kota Tegal. Disana banyak berdiri pabrik-pabrik besar dan mall-mall yang terkenal di kota Tegal seperti Pasifik Mall dan Rita Mall yang menjadi ikon kemajuan kota tegal. Di daerah pantura juga terdapat tempat wisata yang ramai dikunjung wisatawan, yaitu Pantai Alam Indah (PAI) dan Purwahamba. Begitu juga dengan jalur transportasi, di daerah ini terdapat terminal kota Tegal, Pelabuhan kota Tegal, dan stasiun Tegal. Begitu juga dengan bidang pendidikan, di daerah ini juga terdapat kampus Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal dan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) cabang Tegal. Ini hanya sebagian kecil kemajuan kecil yang terlihat di daerah pantura kota Tegal.
Kemajuan kota Tegal juga terlihat di daerah Slawi yang merupakan ibukota Tegal. Di daerah Slawi juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang cukup pesat. Mulai dari adanya Jalur Lingkar Kota Slawi (Jalingkos) yang berada di dekat alun-alun kota Slawi, hingga banyaknya pabrik-pabrik teh yang berdiri megah di daerah ini. Sehingga kalau kita melewati daerah ini pasti tercium aroma khas teh Slawi. Teh poci juga menjadi simbol kota ini dan terpasang di sudut perempatan jalan dan tiang tepi jalan. Satu lagi yang menjadi makanan khas kota Slawi sekaligus makanan khas Tegal adalah tahu aci, ada juga yang mengatakan tahu pletok. Makanan khas yang satu ini juga menghiasi pemandangan di setiap sudut jalan, pasar, dan daerah sepanjang Slawi, Banjaran, hingga Tegal berjejer rapi pedagang tahu aci. Maka dari itu kalau mampir atau lewat ke Tegal jangan lupa untuk mencoba dan membeli tahu aci ini.
Satu lagi kemajuan Tegal tak lepas juga dari peran masyarakat di desa-desa yang berada di wilayah kabupaten Tegal. Desa-desa adalah sumber utama penghasilan baik hasil pertanian, sayur-sayuran, maupun buah-buahan. Dari desalah sumber daya alam yang melimpah yang menyokong dan menjadi sumber investasi bagi kehidupan di kota. Sehingga desa-desa juga terkenal dengan julukan “Gemah Ripah Desane”. Desa yang dimaksud disini adalah desa-desa yang potensial dan menghasilkan sumber daya alam yang melimpah ruah di setiap desa yang ada di kabupaten Tegal. Sebagai contoh adalah daerah Tegal selatan dekat lereng Gunung Slamet terdapat tempat wisata yang sangat terkenal, yaitu objek wisata GUCI. Di tempat ini terdapat beraneka macam hasil pertanian, terutama sayur-sayuran dan buah-buahan, antara lain seperti wortel, tomat, cabai, selada, kangkung, dan sebagainya. Selain di daerah GUCI, ada sebuah desa yang cukup potensial dalam menghasilkan tanaman pertanian maupun perkebunan, yaitu di desa Cerih, kecamatan Jatinegara, kabupaten Tegal. Inilah desa dimana aku dilahirkan. Desa Cerih terletak di daerah Tegal bagian selatan pojok yang berbatasan langsung dengan daerah Warungpring (kabupaten Pemalang). Desa Cerih banyak menghasilkan buah-buahan seperti kelapa, durian, pisang, nangka, manggis, duku, pepaya, petai, jengkol, serta hasil-hasil pertanian lainnya seperti padi, jagung, ketela, ubi, dan lain sebagainya. Sumber daya alam yang melimpah ruah inilah yang menjadi aset dari desa dan menyokong untuk kebutuhan industri dan kebutuhan ekonomi bagi masyarakat di desa itu sendiri pada khusunya dan menjadi kebutuhan wajib bagi masyarakat di kota pada umumnya. Hubungan antara masyarakat desa dan kota yang ada di Tegal adalah hubungan yang simbiosis mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan satu sama lainnya. Kota membutuhkan desa, desa pun membutuhkan kota. Sama-sama saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing. Begitulah yang bisa aku ceritakan sedikit tentang tanah air kelahiranku, Tegal yang keminclong, moncer kotane, dan gemah ripah desane.

0 comments: