Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Tuesday, 8 April 2014

Pemilu 2014: Mencari “Guru = Presiden” Berkualitas


Tahun 2014 adalah tahun yang spesial bagi Indonesia. Pasalnya pada tahun ini banyak sekali  “hajatan” akbar yang diselenggarakan oleh berbagai kalangan. Selain karena mau tutup buku, juga karena akan membuka lembaran baru. Seperti hajatan tahun-tahun sebelumnya, setiap akhir pemerintahan pasti ada evaluasi kinerja dan konsolidasi untuk menyambut masa pemerintahan selanjutnya. Sebut saja ada istilah Rakernas, Munas, Rapimnas dan istilah-istilah lainnya yang berbau akhiran nasional khususnya yang diadakan oleh partai politik. Spesialnya tahun 2014 dikenal dengan tahun politik karena adanya “Pemilu 2014”.

Tak hanya dari kalangan parpol saja yang sibuk dengan ‘hajatan’nya berunjuk gigi menyambut ajang Pemilu 2014, sejumlah kementerian, lembaga legislatif, yudikatif dan eksekutif juga sibuk dengan evaluasi dan menyiapkan agenda 5 tahunan ini. Sebut saja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, baru saja mengadakan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2014 yang telah berlangsung pada tanggal 5-7 Maret 2014. Ibarat siswa di sekolah dievaluasi dengan ulangan atau ujian akhir sekolah, Kemendikbud pun dievaluasi kinerjanya melalui RNPK. RNPK ini mengangkat tema “Evaluasi Kinerja Kemendikbud Tahun 2010-2014 dan Penuntasan Implementasi Kurikulum 2013″, yang di dalamnya membahas tentang potensi Indonesia di tahun 2030, pergeseran populasi, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia, serta bonus demografi.

RNPK 2014 menghasilkan beberapa keputusan dalam bidang pendidikan yang terbagi menjadi delapan komisi. Salah satu hasil keputusannya adalah Komisi II menghasilkan keputusan mengenai implementasi Kurikulum 2013 yang terkait pengadaan buku. Komisi III masih mengenai implementasi Kurikulum 2013 terkait strategi pelatihan kepada guru.  Sederhananya, suksesnya implementasi Kurikulum 2013 salah satu diantaranya ditentukan oleh guru yang berkualitas. Oleh karena itu, perlunya diadakan sosialisasi yang masif dan pelatihan mengenai kurikulum tersebut secara maksimal. Walau dalam kenyataannya sampai menjelang pertengahan tahun 2014 ini masih banyak sekolah yang belum paham tentang kurikulum tersebut. Hasil Rembuknas Kemendikbud tersebut, tentunya akan menentukan masa depan pendidikan kita pasca Pemilu 2014 mendatang.

Lantas adakah kaitannya antara Rembuknas dengan Pemilu 2014? Apakah antara pendidikan dan pemilu, keduanya saling berhubungan? Iya ada, keduanya saling bersinergi dalam menentukan arah gerak kemajuan bangsa ini. Pemilu vs pendidikan? keduanya memiliki kesamaan dalam hal subyek utamanya. Presiden dan Guru.  Presiden menentukan kemajuan 5 tahun kepemimpinan Indonesia. Sementara guru jauh lebih awal mencetak calon presiden. Artinya guru adalah pencetak presiden yang berkualitas. Bahkan semua profesi yang ada berawal dari kerja keras seorang guru dalam mendidik mereka. Calon presiden dan calon legislatif pun sebelumnya telah belajar dan dididik oleh seorang guru.

Pemilu 2014 adalah ajang mencari “guru = presiden” yang berkualitas. Kalau kita cermati adakah sosok yang memenuhi kriteria tersebut? Sebentar lagi, negeri kita mau mengadakan hajatan rutin, bernama pemilihan legislatif (9 April 2014) dan pemilihan presiden (9 Juli 2014). Kedua hajatan akbar ini sangatlah penting menjadi perhatian kita semua, karena kita  akan mencari orang-orang yang akan memimpin dan mengelola negara untuk kabinet selanjutnya. Dalam mencari sosok “guru = presiden” yang berkualitas tersebut bisa kita lihat jauh-jauh hari. Adakah kampanye yang mendidik? Jika anak-anak kecil pun diajak berkampanye di jalan. Ada lagi yang membunyikan klaksonnya tak beraturan. Belum lagi “serangan fajar”, “politik pencitraan” dan potret buram lainnya dalam mencari dukungan suara. Maka dari itu sudah sepatutnya, sebagai warga negara yang baik harus bijak dalam memilih sesuai hati nurani. Pertimbangkan dengan baik, pahami visi misinya dan kenali karakteristik para caleg dan capres yang akan kita pilih nanti.

Dewan legislatif dan presiden yang akan terpilih nanti, akan sangat menentukan arah kemajuan bangsa kita. Masa depan bangsa Indonesia ditentukan oleh pemimpinnya (presiden) dan masa depan pendidikan kita ditentukan oleh guru yang berkualitas. Jadi, masa depan pendidikan Indonesia pasca pemilu 2014 sangatlah ditentukan oleh pemimpin dan guru. Guru adalah pemimpin dan pemimpin adalah guru.  Kalau berkaca dari sejarah, para pemimpin terdahulu adalah pengajar (guru). Sebut saja Soekarno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Ki Hajar Dewantara, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Kartini, dan tokoh-tokoh pemimpin lainnya, mereka selain memimpin juga mengajar (guru). Rata-rata para pejuang dan pemimpin republik ini pernah mengajar. Maka dari itu, untuk mencari pemimpin dalam pemilu 2014 carilah pemimpin yang sekaligus guru, karena pemimpin yang berjiwa pendidik inilah yang akan membawa masa depan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan, dimana guru akan melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Melalui proses belajar dan mengajar inilah berawalnya kualitas pendidikan. Artinya, secara keseluruhan kualitas pendidikan berawal dari kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di ruang kelas. Akan tetapi yang menjadi masalah saat ini adalah sudahkah para guru yang ada di Indonesia sudah menjadi guru yang berkualitas?

Menurut data Kemendiknas 2010 akses pendidikan di Indonesia masih perlu mendapat perhatian,  lebih dari 1,5 juta anak tiap tahun tidak dapat melanjutkan sekolah. Sementara dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar terdapat lebih dari 54% guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan dan 13,19% bangunan sekolah dalam kondisi perlu diperbaiki. Menurut Teacher Employment & Deployment, World Bank (2007) distribusi Guru tidak merata. 21% sekolah di perkotaan kekurangan Guru. 37% sekolah di pedesaan kekurangan Guru. 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan Guru dan 34% sekolah di Indonesia yang kekurangan Guru. Sementara di banyak daerah terjadi kelebihan Guru.


Berbagai permasalahan guru seperti distribusi yang tidak merata, kekuarangan guru, dan rendahnya kualitas guru inilah yang menjadi tugas bagi presiden terpilih pemilu 2014. Presiden terpilih 2014 harus mampu menjawab semua tantangan dan hambatan yang ada di hadapan kalangan guru, serta memecahkan masalah guru ini. Siapa pun yang terpilih nantinya semoga benar-benar bisa menjadi presiden sekaligus guru bagi peradaban bangsa Indonesia. Mencari guru yang berkualitas sama dengan mencari presiden yang berkualitas. Karena guru adalah tonggak utama dalam memecahkan masalah pendidikan kita. Jika ingin melihat masa depan pendidikan suatu bangsa, maka lihatlah gurunya, lihatlah pemimpinnya. Selamat mencari “guru = presiden” yang berkualitas dalam Pemilu 2014.

Saturday, 25 January 2014

Surat Cintaku: Seribu ‘Thank You’ Tak Cukup



Kepada Yth:
Orang-orang hebat yang telah berpengaruh besar dalam hidupku
Di manapun berada

Demi masa!
Sungguh, manusia berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan
serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran
(Q.S. Al-‘Asr : 1-3)

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Selalu ada yang terkenang dan terbekas dalam bingkai kenangan itu. Rasanya baru kemarin bertemu, bertatap muka dan berinteraksi dengan mereka. Ingin rasanya mengucapkan rasa terima kasih atau memberikan kado terindah kepada mereka orang-orang yang telah berpengaruh besar dalam hidupku ini. Terima kasih atas jalinan persahabatan dan kekeluargaan yang telah kita bangun  selama ini. Matur nuwun sanget atas ilmu yang telah diberikan. Syukron katsir atas nasihat dan petuahnya yang sangat bermanfaat bagiku. Thank you very much atas informasi, saran, dan kritik yang telah membangunkan impianku.

Dulu, saat pertama kali menginjakkan kaki di Purwokerto, aku bukanlah siapa-siapa. Seorang siswa yang baru lulus, yang saat masih menjadi pelajar SMA hanyalah siswa biasa-biasa saja, tak ikut berorganisasi dan tak punya prestasi. Ketika registrasi mahasiswa baru berangkat seorang diri, tak ada yang mengantarkan, tak punya kenalan, tak punya keluarga atau saudara dekat di kota Satria. Ya, kala itu aku benar-benar berangkat dari nol, bermula dari satu langkah yang bernama niat. Maka, sejak menjadi mahasiswa itulah perjalananku dimulai, bermetomorfoself untuk menjadi lebih baik dan berusaha meraih yang terbaik di kampus yang mengajarkan mata kuliah tentang metamorfosis. 

Apa yang telah aku dapatkan sampai saat ini, yang berhasil aku raih selama menjadi mahasiswa hingga menapaki kehidupan pasca lulus berada di Kota Mendoan ini adalah anugerah dan karunia terindah dari-Nya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya yang begitu agung ini, semoga diri ini dan kita semua senantiasa pandai bersyukur kepada-Nya dan diberi keistiqomahan dalam setiap langkah kita dimanapun berada. Aamiin yaa robbal’alamin. Tak lupa, aku juga ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada kalian semua (orang-orang yang telah berpengaruh besar dalam hidupku) yang telah membuatku berani bermimpi tinggi, telah membuatku berani mempunyai visi yang menjulang tinggi dan telah mewarnai hari-hariku penuh dengan pengalaman dan kenangan yang tak kan terlupakan". Seribu ‘thank you’ saja tak cukup, sebanyak apapun jumlah bilangan ucapan terima kasih itu tak akan pernah cukup membalas semua kebaikan kalian. Tak ada balasan kebaikan, selain kebaikan pula. Semoga Allah SWT membalas dengan sebaik-baiknya balasan kepada teman-teman, rekan-rekan dan orang-orang yang selama ini aku kenal. Semoga semua amal kebaikan kalian itu mendapatkan balasan dari-Nya dengan sebaik-baik balasan dan pahala yang berlipat. Aamiin ya robbal’alamiin.

Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya tulus ikhlas kepada orang terhebat dalam hidupku yaitu ibu dan bapak saya tercinta, yaitu Ibu Aisyah dan Bapak Djazuli yang telah membiayai, mendidik, dan mendukungku penuh hingga saat ini. Ibu yang super hebat, selalu semangat, dan penuh nasihat. Begitu juga Bapak yang jerih payahnya tak kenal lelah, tekun, dan telaten. Maafkan anakmu ini bila banyak salah, khilaf, dan sering merepotkan. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan kepada Ibu dan Bapak baik di dunia dan di akhirat, Aamiin ya robbal’alamin. Kepada Kakekku yang visioner, Bapak A. Fathoni dengan nasihat dahsyatnya. Nenekku Ibu Khuriyah yang selalu peduli dan perhatian, Paman Abdullah yang selalu mendukung dan mensuportku. Kepada Adikku tercinta, Anisul Fuadi terus semangat dalam belajar, jadilah anak yang sholeh dan berbakti pada orangtua. Terima kasih juga kepada semua keluargaku atas do’a dan dukungannya yang sangat berarti bagiku.

Matur nuwun sekali yang mendalam juga kepada Dra. Purnomowati, S.U (Dekan), Drs. Agus Hery Susanto, M.S (PD 1), Dra. Dini Ryandini, M.Si (PD 2), dan Dr. Agus Nuryanto, S.Si, M.Si (PD 3) atas arahan, motivasi, dan dukungannya selama saya menjadi mahasiswa. Semoga kampus Fabio semakin “Semper Excelcius Pro Proximo Nostro”. Kepada Ibu Dra. Hexa Apriliana H., M.S dosen PA saya yang hebat, tegas dan disiplin, terima kasih bu atas nasihatnya selama ini.  Prof. Drs. Agus Irianto, M.Sc, Ph.D. dan Dra. Farida Nur Rachmawati, MSi yang telah membimbingku penuh sejak penelitian hingga skripsi. Terima kasihku juga saya sampaikan kepada bapak-ibu (semua dosen) Fakultas Biologi Unsoed atas ilmu, nasihat dan bimbingannya. Juga kepada Pak Supri dan Bu Retno Bapendik, Bu Yaning penjaga setia perpus, serta semua karyawan, dan penjaga  terima kasih atas ilmu dan pelayanannya yang ramah.

Terima kasih yang setulus-tulusnya saya ucapkan kepada semua teman-teman, kakak-kakak, adik-adik dan rekan-rekan aktifis seperjuangan dalam organisasi yang saya ikuti, yang telah membuatku kaya akan pengalaman, manajemen diri, hati, dan pikiran, menasehatiku tatkala khilaf, berbagi (sharing) ilmu & inspirasi, memotivasi tanpa henti, dan bersahabat erat dalam kekeluargaan yang telah dibangun selama ini. Mereka adalah orang-orang luar biasa hebat yang tergabung dalam barisan teratur dan kokoh, bernama:
1.      UKMI (Unit Kegiatan Mahasiswa Islam) Fakultas Biologi Unsoed
2.      UPI (Unit Penelitian Ilmiah) Fakultas Biologi Unsoed
3.      UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) Unsoed
4.      Racana Soedirman Unsoed
5.      IKAHIMBI (Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia)
6.      Keluarga besar Asisten Mikrobiologi Fakultas Biologi Unsoed (semua asisten, laboran dan dosen)

Tak lupa rasa ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada orang-orang luar biasa yang telah memberi inspirasi dan menebar benih-benih motivasi dalam dunia pendidikan. Baik yang saya temui saat masih mahasiswa hingga pasca kampus. Sungguh luar biasa kiprah dan perjuangan mereka dalam sama-sama memajukan pendidikan negeri ini. Karena membenahi pendidikan Indonesia itu tak harus menunggu hingga bisa menjadi Menteri Pendidikan. Banyak cara yang bisa kita lakukan, walau hanya dengan sedikit uluran tangan kita untuk bergerak bersama mereka. Dari mereka semua saya belajar tentang arti penting mendidik, mengajar, mengabdi dan berjuang di tengah-tengah masyarakat. Ya, dari mereka pula saya belajar tentang pengabdian dan kebermanfaatan. Seperti nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara (karya Ahmad Fuadi) bahwa muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan. Dari mereka pula saya mengerti tentang pendidikan karakter mulai dari anak-anak usia dini, remaja, hingga dewasa bahkan hingga parenting (sebuah ilmu yang bisa saya pakai kelak ketika saya punya istri dan anak nanti, hehe). Dari mereka pula saya bisa bertemu keceriaan dan semangat anak-anak hebat, mulai dari anak-anak jalanan, anak-anak yang tinggal di kawasan desa hutan, anak berkebutuhan khusus, anak-anak desa hingga anak-anak yang tinggal di perkotaan dengan berbagai latar belekang yang berbeda. Terima kasih kepada mereka juga “orang-orang yang telah berpengaruh besar” (mahasiswa, tentor, guru, trainer, ustadz, ustadzah, dosen, dan para pendidik lainnya) yang saya temui dalam komunitas, sekolah, dan lembaga yang pernah saya ikuti, seperti:
1.      SD IT Harapan Bunda Purwokerto
2.      Rumah Funtastic Purwokerto
3.      Bee Kids Children Center Purwokerto
4.      Iqro Club Banyumas
5.      Smart Education Purwokerto
6.      PLK Boarding School “Mbangun Desa” Baturaden
7.      TPQ Baitul Ghufron Grendeng

Terima kasih atas semuanya. Apa yang telah saya dapatkan selama berinteraksi dengan kalian semua pasti akan sangat bermanfaat untuk menapaki kehidupan selanjutnya. Semoga persahabatan dan kekeluargaan ini akan terus terjalin walau kita dipisahkan oleh jarak dan waktu. Saya juga meminta ma’af yang sebesar-besarnya, apabila selama saya berinteraksi punya banyak salah dan khilaf baik kata maupun perbuatan saya kepada teman-teman semua. Demikian surat cinta ini saya buat, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Syukron jazakumullah khoiron katsir.
           
Purwokerto-Tegal, 25 Januari 2014


Sunday, 12 January 2014

Resolusi Funtastic, RF 2014


Resolusi ialah ketetapan hati, kebulatan tekad untuk mengambil sikap, melakukan tindakan, serta menunjukkan perilaku baru yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Lazimnya yang baru ini lebih baik daripada yang dulu (definisi ‘resolusi’ yang ada di buku antologiku berjudul “Resolusi Hebatku”). Berhenti sejenak, mengevaluasi setahun yang sudah berlalu, menyiapkan target dan capaian yang ingin diraih pada setahun berikutnya. Selamat beresolusi, merenda diri untuk menjadi lebih baik lagi. Selamat beresolusi, baik secara pribadi, organisasi, maupun instansi. Kalau sudah menancapkan resolusi, langkah terpenting selanjutnya adalah take action with your passion to get your dreams.

Buat apa sih resolusi itu? Coba tanyakan pada diri masing-masing. Apa yang sudah kita perbuat untuk hari esok? “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Hasyr: 18)

Benang merah dari sebuah resolusi adalah tindakan (action), atas apa yang sudah kita tekadkan, atas apa yang sudah kita bulatkan. Tindakan yang kitalah yang akan menjawab resolusi yang telah kita buat. Layaknya sebuah tanaman, juga masih memerlukan adanya pupuk, nutrisi dan unsur hara agar bisa berkembang menjadi tanaman yang sehat dan berbuah lebat menebar manfaat. Begitu juga dengan diri kita, jasad, hati, pikiran, dan rohani kita pun butuh energi sebagai sebuah salah satu kebutuhan pokok. Lebih jauh lagi melihat diri kita yang lain, saat kita berada di sebuah organisasi, berada di sebuah instansi, di situlah peran kita dibutuhkan. Kontribusi kita memerlukan tindakan untuk mencapai visi dari sebuah instansi tersebut.

Rumah fantastic sebagai bimbingan belajar juga memiliki resolusi yang disebut ‘Resolusi Funtastic 2014’. Berdasarkan musyawarah dan pertemuan (11/1/2014) RF harus mampu menjadi rumah kedua bagi para tentor (pengajar)nya, menjadi rumah yang nyaman, menyenangkan dan tempat berbagi (sharing) ilmu bagi siswa-siswi dan tentornya. Rumah yang mampu mengayomi sebuah keluarga. Sederhananya RF di tahun 2014 ini ingin menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah layaknya seperti sebuah keluarga yang bahagia, sejahtera dan penuh kasih sayang. Menjadi rumah yang sakinah (tenang, nyaman, dan rukun), menjadi rumah belajar yang mawadah (lapang, financial, sesuai dengan yang diinginkan), serta menjadi penuh dengan ‘rohmah’, rasa kasih sayang dengan mengedapnkan komunikasi yang bersifat terbuka dan saling memahami.

Bagaimana untuk mewujudkan hal itu semua? Jawabannya sama seperti benang merah dari sebuah resolusi yaitu tindakan (action) dari diri kita masing-masing. Perlu adanya komunikasi & koordinasi, cemilan, terbuka (ga ja’im), jam keluarga, bertanggung jawab dan hiburan (refreshing). Keenam poin inilah yang akan dilakukan dilakukan RF di tahun 2014 ini. Sederhananya, RF di tahun 2014 ini tergambarkan dalam bangunan rumah seperti yang ada di bawah ini. Bismillah, semoga kita semua bisa mewujudkan resolusi fantastic tersebut, yaitu menjadikan RF yang sakinah, mawadah, warohmah. Terus semangat funtastic, berkembang bersama dengan Rumah Funtastic sebagai pusat pendidikan karakter yang cerdas dan menyenangkan.


Wednesday, 8 January 2014

Bimbingan dan Konsultasi Menulis


Salam Teyeng…!!! (Jawabannya: Pasti TEYENG….!!!) Hehe… Oke….!!!

Kesempatan emas bagi kamu yang menyukai dunia kepenulisan, eksperimen, 
punya minat, hobi, bakat, tertarik untuk mencoba, dan punya keberanian
untuk mengembangkan skillnya dalam dunia tulis menulis

Ingin menjadi mahasiswa berprestasi? ingin berkeliling Indonesia? hingga berkeliling dunia? ingin mengharumkan nama almamater di kancah nasional hingga internasional?
Menulislah….!!! Ya, menulis bisa menjadi tiket untuk mewujudkan semua impian itu.

            Kang Amroelz (nama pena yg punya blog ini) membuka BIMBINGAN DAN KONSULTASI MENULIS, (khususnya menulis: karya tulis ilmiah, program kreativitas mahasiswa, program mahasiswa wirausaha, program hibah, essay, dan cerpen flash true story).

Syarat dan ketentuan:
-          Mahasiswa/i Universitas Jenderal Soedirman
-          Ingin belajar, menyukai dan atau mau menggeluti dunia menulis
-          Ingin mengharumkan nama almamater di kancah nasional hingga internasional
-          Ingin mengikuti perlombaan menulis (LKTI, LKTIA, PKM, PMW, PHBD, Call for Paper, Lomba Essay atau Lomba Cerpen Flash True Story)

Bagi yang berminat:
-          Silahkan kirim naskah tulisan (softcopy) yang sudah dibuat ke e-mail: kang.amroelz@gmail.com atau inbox ke FB: Iin Amrullah Aldjaisya
-          Tuliskan tema dan jenis tulisan, jika tulisan tersebut mau diikutsertakan dalam lomba tuliskan tanggal dateline (batas akhir)  pengumpulan naskah.
-          Revisian naskah akan dilakukan di softcopy naskah yang dikirim tersebut

Tips menarik bagi yang mau mengikuti lomba menulis:
-          Cari informasi lomba menulis (cek aja di www.info-lomba.com www.ajangkompetisi.com dan website penyedia informasi lomba lainnya)
-          Simpan informasi lomba tersebut dan pahami semua ketentuan yang ada
-          Jika dalam 1 bulan ada 5-10 informasi lomba, pilih salah satu aja yang kamu anggap paling mudah, dan mampu mengerjakannya.
-          Sekali lagi, dalam pemilihan lomba yang mau diikuti tersebut: pilih yang temanya paling mudah, pilih sesuai passion, pilih yang menurut kita bisa mengerjakannya dan pilih yang pendaftaran lombanya Gratis, tapi hadiahnya lumayan gede (tips ini yang sering saya lakukan, hehe….)



*Baca tips-tips menulis lainnya di tulisan saya sebelumnya: Semua Bisa Menjadi Penulis

Tuesday, 24 December 2013

Jargon, Bukan Sekedar Kata-Kata


Good Day memang punya banyak pilihan rasa. Salah satunya rasa White Frape, kopi panas berasa dingin. Sama halnya dengan hidup, juga punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan. Because every day is good day, if we can feel and enjoy it. Kali ini bukan soal rasa, tapi saya akan membahas sesuatu dibalik rasa yang menjadikannya menarik. Iya, ada sesuatu hal disana bernama jargon, slogan, atau disebut juga dengan tagline. Good Day memiliki jargon “Hidup Punya Banyak Pilihan Rasa”, Energen punya tagline “minum makanan bergizi”, dan lain sebagainya. Itulah tagline yang menjadi daya tarik bagi konsumen untuk mengkonsumsinya. Maaf, ini bukan iklan yah tapi sebagai contoh saja, hehe.

Masih ingat dengan slogan perjuangan para pahlawan pendahulu kita? Coba perhatikan slogan mereka “Sekali merdeka tetap merdeka”, pilihannya “merdeka atau mati”, atau semangatnya jenderal berbintang lima, panglima besar Jenderal Soedirman “Maju Terus Pantang Menyerah” yang juga menjadi taglinenya kampus almamater saya (Universitas Jenderal Soedirman). Iya, dengan slogan-slogan itulah kemerdekaan negeri ini bisa diraih. Slogan yang terpati di dalam hati para pejuang dan pahlawan, hingga titik darah penghabisan. Jargon tersebut diucapkan dengan suara lantang dan penuh keyakinan.

Atau sebuah kampus dengan jargon “world class civic university”, tentunya hal ini pun diraih sesuai dengan segala kriteria yang sudah ditentukan. Bukan sekedar kata-kata belaka. Pemadam Kebakaran dengan slogannya “pantang pulang sebelum padam”, inilah yang membuat para pemadam kebakaran selalu gigih mengatasi kebakaran, walau maut menghadang mereka. Atau RRI (Radio Republik Indonesia) dengan taglinenya “sekali di udara tetap di udara”, meskipun radio saat ini jarang dilirik karena teknologi media massa sudah semakin canggih dan banyak pesaingnya juga, tapi RRI tetap konsisten dengan berita-beritanya. Atau Pos Express dengan slogannya “Sehari Sampai, Pasti!”, menjadi semangat kinerja kantor pos dalam mengantarkan surat hingga ke pelosok daerah, dalam hitungan sehari. Dan masih banyak lagi yang lainnya, yang memiliki jargon, slogan, atau tagline yang menjadi kekuatan tersembunyi dibalik kesuksesannya masing-masing.

Ada apa dengan jargon? Slogan? Tagline? Buat apa punya jargon? Untuk apa memiliki Motto hidup? Kenapa harus memiliki itu? Karena ia ibarat bensin bagi motor, ibarat ruh bagi jasad, bersanding bersama misi untuk menembus visi yg kita inginkan. Karena jargon bukan hanya sekedar kumpulan kata yang berderet. Tagline bukan sekedar kata yang berjalin, dan slogan bukan sekedar kata-kata biasa, tapi kata-kata yang bisa menggerakkan semangat yang menyala. Sebait kalimat yang mampu menyuplai energi untuk meraih apa yang kita inginkan. Sederhananya jargon, slogan, tagline atau motto hidup seseorang, kelompok, organisasi,  intansi, perusahaan dan sebagainya adalah kekuatan tersembunyi yang mempunyai daya semangat yang tinggi untuk mencapai visi.

Jargon memang bukan sekedar kata-kata, itulah yang telah saya alami. Saat masih kuliah di semester 5 saya memiliki jargon “Okelah kalau begitu”, semester 6 “Zettai Dekiru”, semester 7 “Semakin Zettai Dekiru”, dan semester 8 dengan tagline ”Take Action with Your Passion to Get Your Dreams”. Kenapa tiap semester berganti jargon? Karena tiap semester menghadapi masa yang berbeda, beda kesibukan dan aktivitas. Jadi perlu penyesuaian diri untuk menghadapi setiap badai yang akan kita hadapi di tiap semester tersebut. Akan tetapi dibalik semua jargon yang saya miliki itu ada satu jargon yang menjadi kekuatan utama, yaitu “Pasti Teyeng!”. Dua frasa kata inilah yang telah mengantarkanku hingga bisa menulis artikel ini. Iya, Pasti Bisa, jika kita mau mencobanya. Pasti Teyeng, jika kita mau bersungguh-sungguh dan Zettai Dekiru bila kita mau berusaha dengan sepenuh hati. So, milikilah jargon, slogan, atau tagline untuk bersanding bersama motto hidup, berjalan seiringan dengan misi dan berlari mengejar mimpi tuk meraih visi yang kita inginkan. 

*Tentang penjelasan jargon-jargon  yang saya miliki tersebut, silahkan bisa baca tulisan saya sebelumnya berjudul JARGON SEMANGAT BERBUAH PRESTASI.

Wednesday, 11 December 2013

Resume Film “99 Cahaya di Langit Eropa” (Part 1)


Setahun lebih yang lalu, tepatnya tanggal 13 Januari 2012 saya membeli bukunya lalu khatam membacanya. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 11 Mei 2013 saya mengikuti bedah buku tersebut bersama dengan penulisnya langsung yaitu Hanum Salsabiela Rais dan 7 bulan kemudian tepatnya tanggal 7 Desember 2013 saya menonton filmnya, “99 Cahaya di Langit Eropa”. Kini, tinggal tentukan waktu untuk berkunjung menginjakkan kaki di Eropa sana: Wina, Paris, Cordoba dan sekitarnya. Bismillah, meloncatkan mimpi lebih tinggi lagi, pasti teyeng. Membaca  dan menonton, keduanya saling melengkapi dalam memvisualisasikan sebuah kisah. Oke, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang film tersebut.

            Film “99 Cahaya di Langit Eropa” diangkat dari novel dengan judul yang sama, mengisahkan tentang catatan perjalanan atas sebuah pencarian sang penulis Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra tatkala menapaki hidup di Eropa. Sebuah perjalanan hidup yang menemukan hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eifel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colossesum Roma atau gondola-gondola di Venezia. Perjalanan menapaki jejak Islam di Eropa. Ya, Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati. Kalau dalam prolog novel ini dijabarkan cukup panjang tentang kejayaan Islam di Eropa, tapi di Film ini kita akan lebih melihat secara langsung bangunan-bangunan Eropa yang dulu menjadi pusat peradaban Islam. Jika ingin lebih detail, baca bukunya dan tonton filmnya yah….^,^

            Bagian pertama film ini bersetting tempat di Wina, Austria. Hanum yang diperankan oleh Acha Septiansyah mengikuti suaminya, Rangga yang mendapatkan beasiswa S3 doktoral di negeri ini. Eropa saat ini mungkin berbeda dengan dulu, saat kejayaan Islam berada di benua ini. Harus hati-hati memilih makanan yang halal dan juga susah untuk mendapatkan tempat ibadah. Alhasil, Rangga pun saat kuliah di kampusnya melakukan sholat seruangan dengan tempat ibadah agama lain. Hidup di Eropa cukup tinggi toleransinya, tapi susah mendapatkan kerja kalau tidak mahir berbahasa Jerman. Hanum pun memutuskan untuk mengambil kursus ini. Di tempat kursus inilah Hanum menemukan sosok teman bernama Fatma Pasha, yang berasal dari Turki. Dari Fatmalah Hanum dapat banyak pelajaran dan sejarah tentang peradaban Islam di Eropa. Fatma adalah seorang muslimah yang berhijab. Fatma juga sudah beberapa kali mencoba melamar pekerjaan, tapi kerap kali ditolak oleh perusahaan yang ia lamar. Saat ditanya oleh Hanum, “Fatma, kenapa kamu udah puluhan kali melamar pekerjaan tapi ditolak terus?”. “Karena ini, Hanum” jawab Fatma sambil mengarahkan telunjuknya ke jilbabnya.

Film ini diawali dengan suasana belajar di kelas seorang anak kecil bernama Ayse (anaknya Fatma Pasha). Ayse merupakan satu-satunya siswi muslim di kelas ini. Ayse sering mendapatkan cemooh dan ejekkan dari teman-temannya lantaran Ayse berjilbab. Walau sering diejek dan gurunya juga sudah merayunya agar Ayse melepas jilbabnya agar teman-temannya tidak mengejeknya lagi, tapi Ayse tetap pada pendirian dan keyakinannya untuk tetap mengenakkan jilbabnya itu. Inilah tantangan dan cobaan yang dihadapi oleh Fatma dan Ayse, lantaran mengenakan jilbab. Hanum pun merasa malu, saat ditanya oleh seorang anak kecil bernama Ayse. “Tante Hanum muslimah, tapi kok tidak memakai jilbab?” tanya Ayse. “Mungkin tante Hanum lagi sakit kepala, jadi tidak memakai jilbab” jelas Fatma kepada anaknya. Hanum tersenyum malu mengiyakan jawabannya. Ayse pun meminta Tante Hanum untuk berjilbab dan berjanji kepadanya akan mengenakan jilbab. Dari kedua orang inilah Hanum mendapatkan banyak pencerahan dan pelajaran berharga.  Fatma dan Ayse mengajak Hanum untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah peradaban Islam di Eropa.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Kahlenberg, sebuah bukit pegunungan di Wina, Austria yang masih menjadi bagian kecil dari gugusan Alpen yang mengitari 7 negara Eropa. Dari Kahlenberg, orang bisa melihat cantiknya kota Wina dari ketinggian. Dari bukit ini, Fatma menjelaskan kepada Hanum tentang berbagai sudut kota Wina dari pojok A sampai Z.  Kali ini Fatma menunjukkan sebuah masjid yang berada di tepi Sungai Danube, bernama Vienna Islamic Center, yaitu pusat peribadatan umat Islam terbesar di Wina. Tiba-tiba Ayse mengeluarkan darah dari hidungnya. Fatma langsung menggendong anaknya ini yang alergi hawa dingin dan mengajak Hanum turun ke bawah mencari bangunan yang hangat. Mereka masuk ke gereja Saint Joseph. Selain sebuah kafetaria, gereja itu menjadi satu-satunya alternatif tempat berlindung dari hawa dingin yang menusuk. Bukan hanya mereka saja, ternyata banyak turis lain yang juga kedinginan. Masuk ke dalam gereja bukan untuk berdo’a, melainkan karena tak kuat lagi menahan hawa dingin, dan gereja menjadi tempat utuk menghangatkan badan. Mereka mengayunkan kedua tangannya di atas lilin-lilin yang menyala.

Usai dari gereja, mereka mendatangi sebuah kafe yang berada di seberang Saint Joseph. Sembari menikmati sepotong roti croissant dan secangkir cappuccino, Fatma memaparkan berbagai pengetahuan sejarah yang jarang diketahui orang. Saat Fatma pergi ke toilet, Hanum tiba-tiba mendengarkan perbincangan dua orang turis yang sedang membicarakan tentang Turki dan Islam. Kedua turis ini menyebut croissant itu bukan dari Prancis, tapi dari Austria. Roti untuk merayakan kekalahan Turki di Wina. Croissant melambangkan bendera Turki yang bisa dimakan. Kalau makan roti croissant artinya memakan Islam. Hanum yang mendengar perbincangan kedua turis tersebut, terasa kesal dan meminta Fatma untuk melabraknya karena mereka telah mengolok-ngolok Turki dan Islam. Tapi, Fatma tak menghiraukan saran Hanum. Justru Fatma malah membayarkan semua biaya makanan yang dimakan oleh kedua turis yang telah mengejeknya tersebut dan menitipkan secarik tulisan dalam kertas kepada kasir untuk disampaikan kepada kedua turis tersebut. Isi tulisannya adalah: “Hi, I am Fatma, a muslim from Turkey” dan dibawahnya tertulis alamat email Fatma. Inilah cara yang dilakukan Fatma. “Kebaikan adalah cara terbaik untuk mengalahkan keburukan. Senyum bisa mengalahkan amarah yang buruk” jelas Fatma kepada Hanum.

Semenjak mengenal Fatma, Hanum menjadi tambah banyak pengetahuan tentang Islam dan sejarah peradabannya di Eropa. Usai kursus kelas Bahasa Jerman, mereka kerap kali mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya. Hubungan mereka pun semakin akrab, hingga suatu ketika Fatma yang ditemani Ayse dan suaminya, mengajak Hanum dan Rangga untuk makan di sebuah restoran ala Pakistan bernama Der Wiener Deewan.restoran ini cukup unik, di depan restoran ini terpampang slogan “All You Can Eat, Pay As You Wish: Makan Sepuasnya, Bayar Seikhlasnya”. Restoran yang bukan sekedar restoran, selain menyajikan makanan yang halal, restoran ini juga telah mensyiarkan Islam kepada masyarakat Eropa. Restoran ini menerapkan konsep ikhlas memberi dan menerima. Take and give. Natalie Deewan, pemilik restoran ini percaya bahwa sisi terindah dari manusia yang sesungguhnya adalah kedermawanan. Seandainya di Indonesia ada restoran seperti ini, pasti akan cepat habis yah, hehe.


Tempat lain yang mereka kunjungi selanjutnya adalah Wien Stadt Museum (Museum Kota Wina). Di museum inilah Fatma menunjukkan lukisan Kara Mustafa Pasha, panglima  perang Khalifah Usmaniyah atau Ottoman. Fatma menjelaskan bahwa dirinya masih satu keturunan dengan Kara Mustafa Pasha, itulah kenapa nama belakang Fatma adalah Pasha. “Tapi, di mata orang Eropa, Kara Mustafa adalah seorang penakluk. Karena dia adalah….seorang penjah…,“ Itulah mengapa dia dilukis seburuk ini, papar Fatma dengan kata-kata terpenggal.

Sudah 3 bulan Hanum berteman dengan Fatma, tapi belum pernah bertandang ke rumahnya. Hingga akhirnya Hanum memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya Fatma. Hanum terkejut saat datang ke rumah Fatma, karena saat itu juga sedang ada tiga kawannya Fatma, yaitu Latife, Ezra dan Oznur yang berasal dari Turki juga. Ketiganya mengenakan jilbab dan Hanum kembali tersipu malu lantaran dirinya tidak mengenakan jilbab sendirian. Mereka pun berbincang-bincang tentang Islam dan perjalanan hidupnya. Ruang tamu rumah Fatma dipenuhi dengan kaligrafi dan terdapat tulisan selembar kertas dalam bahasa Jerman yang artinya:

Syiar Muslim di Austria:
1.      Tebarkan senyum indahmu
2.      Kuasai bahasa Jerman dan Inggris
3.      Selalu jujur dalam berdagang

Itulah yang dilakukan Fatma dan ketiga temannya, menjadi agent muslim di Austria dengan prinsip selalu menebar senyum kebaikan dalam menyiarkan Islam disana, selain itu juga harus selalu jujur dalam berdagang dan aktifitas lainnya.

Hanum sudah lama lagi tak bertemu dengan Fatma, semenjak pertemuan terakhirnya saat menonton pertandingan sepakbola antara Turki versus Portugal di Rathaus Fan-zone Wina. Fatma pulang ke Turki bersama suaminya karena ada urusan mendesak.

Setting tempat film ini selanjutnya adalah di Paris. Hanum dan Rangga berkunjung ke Paris. Saat di Paris, Fatma bertemu dengan Marion (yang diperankan oleh Dewi Sandra). Kisah selanjutnya masih panjang…… TO BE CONTINUED…..!!! Yang masih penasaran, silahkan bisa menonton filmnya atau baca bukunya yah, hehe. Dalam Film “99 Cahaya di Langit Eropa” (Part 1) ini juga masih bersambung, jadi nanti juga bakalan ada filmnya yang sesi kedua yang berlatarkan tempat di Cordoba, Granada dan Istanbul.


*Resume ini dibuat berdasarkan Film “99 Cahaya di Langit Eropa” (Part 1) dan ada sedikit penambahan disesuaikan dengan kisah yang ada dalam novelnya.