Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Wednesday, 9 June 2021

Review Buku "Gigih"

 



Judul buku : Gigih

Penulis : Diday Tea

Penerbit : Republika Penerbit

Jumlah halaman : 182 hlmn

 

Isi review :

“Kenapa belum sukses?” Ada kalanya pertanyaan itu berkelebat di benak orang-orang yang masih juga berkutat dalam sebuah proses panjang menuju sukses. Tidak jarang, kita mendengar kisah sukses orang lain yang perjalanannya terkesan lebih mulus dibandingkan kita. Lantas, kenapa kita sendiri sulit mencapai sukses? Apa saja yang belum kita lakukan dengan benar? Apakah impian kita terlalu muluk? Sering kali, ada hal-hal yang kita maknai dengan keliru atau lupa kita terapkan sehingga menghambat kesuksesan. Kita lupa bahwa dunia memiliki aturan mainnya sendiri sehingga kita harus mempersenjatai diri jika ingin berhasil. Buku ini dipersembahkan untukmu yang sedang berjuang, untuk mengingatkanmu pada hal-hal yang mungkin lupa kamu terapkan.

 

Alhamdulillah membaca buku ini tak butuh waktu lama. Selesai dibaca saat saya service motor. Menjadi cemilan renyah di ruang tunggu tersebut. Bahasa yang disampaikan sederhana, dan mudah dipahami. Dari satu bab ke bab selanjutnya juga tidak terlalu Panjang. Sehingga memudahkan kita untuk menangkap pesan dan hikmah yang terkuak dari paparan penulis buku tersebut. Secara umum, buku ini terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian satu tentang perspektif dan bagian kedua tentang suksesmu milikmu. Bagian satu terbagi lagi menjadi 13 bab dan bagian kedua terbagi lagi menjadi 11 bab. Setiap memulai bab baru terdapat kutipan/ quotes yang sesuai dengan bab yang disampaikan. Kemudian pada akhir tiap bab juga terdapat lembar kutipan penting pada lembaran tersendiri.

 

Kegigihan adalah energi positif yang membangkitkan diri kita untuk menyelesaikan suatu aktivitas atau target yang ingin kita raih. Penulis buku ini memberikan perspektif baru tentang makna kegigihan dan dikaitkan dengan pengalaman hidup yang dialaminya. Mereka yang memiliki sifat gigih akan mampu terus melaju meski diterpa badai. Saat kita mampu mengenyahkan godaan untuk menyerah setelah terjatuh, itulah kegigihan. Tanpa kegigihan, kemampuan kita untuk tumbuh  dan berkembang sebagai pribadi akan sangat terbatas, begitu pula tingkat kesuksesan dan kebahagiaan yang dapat kita raih. Itulah beberapa makna kegigihan yang dibahas di bagian awal buku ini.

 

Definisi sukses setiap orang berbeda, seperti ketika kita masing-masing ditanyai tentang warna favorit. Apapun definisi suksesmu, gigihlah berjuang mencapainya!. Untuk meraih sebuah kesuksesan setiap orang harus pandai mengatur waktunya. Cara kita memandang dan memberlakukan waktu sangat menentukan keberhasilan kita dalam mengarungi kehidupan. Faktor kesuksesan yang lainnya adalah adanya teman yang menumbuhkan. Teman yang baik akan membuatmu tumbuh, tidak menghambatmu. Dalam perjalanannya, meriah kesuksesan dalam hal apapun pasti akan dihadapkan dengan berbagai masalah, hambatan dan tantangan. Menurut penulis buku ini “masalah datang, agar kamu matang”. Ketika masalah datang menerjang, sering kali yang membesarkannya adalah cara kita memandangnya. Sikap yang harus kita miliki saat tertimpa masalah ada tiga yaitu ikhlas, proaktif dan menenangkan diri.

 

Kegigihan adalah bentuk syukur. Rasa syukur memiliki banyak bentuk, salah satunya adalah gigih berupaya. Gigih mencapai impian berarti kita bersyukur atas waktu, kemampuan kesempatan, termasuk inspirasi yang telah dianugerahkan kepada kita. Sebuah kesuksesan dijembatani oleh kebiasaan positif. Kebiasaan itu dibentuk oleh konsistensi. Konsistensi adalah komitmen yang kita buat untuk diri kita sendiri dan orang lain. Jika kita konsisten, itu artinya kita selalu menunjukkan perilaku yang sama terhadap sesuatu. Kita memiliki kualitas atau sikap yang sama terhadap orang lain atau tujuan. Ada beberapa hal yang menjadi penghalang kesuksesan yaitu merasa benar sendiri, takut gagal, terbiasa menunda, meragukan diri sendiri, tidak punya visi, tidak konsisten dan terbuai oleh zona nyaman.

 

#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare

Review Buku "The 5.0 Leader"

Judul : The 5.0 Leader 

Penulis: Ryan Martian 

Penerbit: PT Litera Media Tama

Jumlah halaman: 192 hlmn


Buku ini membuka wawasan baru tentang kepemimpinan dan manajerial generasi milenial. Generasi yang memiliki karakteristik unik, kreatif dan kekinian. Generasi ini sudah mendominasi angkatan kerja di dunia, termasuk di Indonesia. Sebagian para  pemimpin menganggap generasi milenial dan generasi setelahnya sebagai virus yang membahayakan organisasi. Perbedaan pola pikir dan karakteristik dari tiap generasi tersebut menjadi salah satu pemicunya. Mulai dari silent generation (terlahir tahun 1925-1942), baby boomers (terlahir 1943-1960), generasi X (terlahir 1961-1980), generasi milenial (terlahir 1980-1995) hingga generasi Z (terlahir 1995-2012). Era industri 4.0 telah berpengaruh terhadap pola perilaku, karakteristik dan cara kerja dari para lintas generasi tersebut. Dalam buku ini secara spesifik membahas tentang mengelola generasi milenial hingga generasi Z, mulai dari memahami karakteristik tim milenial, berkomunikasi dengan tim milenial, hingga menggerakkan tim milenial dalam dunia kerja. 

Seorang pemimpin harus memahami karakteristik milenial. Jika generasi sebelumnya bekerja untuk uang, berbeda dengan milenial. Mereka mencari aktualisasi diri. Kita tidak bisa melawannya, tetapi justru harus mengelolanya sebaik mungkin dengan memahami perilaku mereka di tempat kerja. Seorang pemimpin harus terus mengembangkan keahlian dan tidak bisa terus mengandalkan metode konvensional. Sebelum memimpin generasi milenial, kita harus mengubah pola pikir (mindset) kita terlebih dahulu. Mindset yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pada era digital antara lain: bukan mengejar laba tapi mewujudkan visi, bukan memberikan perintah tapi melayani dan menginspirasi tim, bukan hubungan vertikal tapi hubungan horizontal, bukan menyusun kekuasaan hierarki tapi membina jaringan, bukan menilai senioritas tetapi mengapresiasi kapabilitas, dan bukan mengerjakan apa, tetapi fokus pada siapa terlebih dahulu.


The 5.0 Leader adalah sebuah buku yang mengupas dengan gamblang dan detail cara memimpin generasi digital, era baru yang pasti membutuhkan referensi kepemimpinan yang juga baru. The 5.0 leader menggabungkan konsep  ketrampilan manajerial baku dan dan keterampilan kepemimpinan generasi terkini. Sederhananya leader focus on people, manager focus on business. Leadership dan manajerial tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya. Keduanya berkontribusi bagi pertumbuhan organisasi. Secara sederhana tugas manager  adalah planning, organizing, actuating, controlling dan evaluating. Sementara tugas leader adalah inspiring, motivating, serving, empowering dan coaching. Adapun untuk menjadi The 5.0 Leader ada lima elemen dasar yang harus dilakukan oleh pemimpin tersebut yaitu: 

1. Menginspirasi melalui visi yang jauh ke depan (inspiring)

2. Memotivasi dan membesarkan hati orang yang dipimpinnya (motivating)

3. Menginisiasi dan melayani tim dalam perubahan dan perbaikan (serving)

4. Memberdayakan orang yang dipimpinnya (empowering)

5. Mendampingi pencapaian tim (coaching)



#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare

Saturday, 1 May 2021

Ulasan Buku “Mengikat Makna”

 


Reviewer: Iin Amrullah

Judul: Mengikat Makna

Penulis: Hernowo

Penerbit: Kaifa

Tahun terbit: 2002

Jumlah halaman: 244 halaman

 

Buku “Mengikat Makna” ini sebenarnya sudah lama saya bidik dan masuk dalam waiting list untuk dibeli. Sudah lama mencari di toko buku Gramedia tapi sudah tidak ada stoknya. Akhirnya baru kesampaian beli di April 2021 secara online. Searching di berbagai toko online tidak ada buku yang baru untuk judul buku tersebut. Singkat cerita ketemulah dengan stok buku lama dan langsung dibeli saat itu juga. Meski bukunya bekas tapi kualitas masih bagus (ori juga). Hingga akhirnya jadilah buku ini sebagai cemilan bergizi selama bulan April 2021. Seperti apakah isinya? Mari simak ulasan singkatnya.

Buku “Mengikat Makna” disajikan dengan cara yang unik. Saat membuka lembar pertama buku ini sudah tersaji peta gagasan yang disertai dengan kiat-kiat ampuh membaca buku ini. Peta gagasan tersebut disertai dengan ilustrasi gambar dan skema alur membaca buku ini dari start hingga finish. Kalau mengikuti alur ini kita diarahkan setelah membaca bagian depan, kita disuruh membaca bagian paling belakang terlebih dahulu. Baru kemudian melanjutkan membaca bagian depan lagi. Tapi dalam prakteknya saya membaca secara berurutan dari depan hingga belakang, hehe. Alurnya yaitu start è mengubah paradigma è membangun persepsi è mengenali konstruksi gagasan dan visi pengarang è mengenali sosok dan bentuk buku è mengenali pentingnya ilustrasi è finish.

Mengikat makna berarti membaca buku dan menuliskan sesuatu secara efektif. Persis seperti yang dituangkan dalam buku ini. Menurut saya buku ini menyuguhkan cita rasa yang lengkap dalam melejitkan kemauan & kemampuan membaca dan menulis buku. Penulis buku ini menampilkan kemasan yang special dalam menarasikan dirinya setelah bagian daftar isi. Mengisahkan perjalanan hidupnya dengan cara bertutur kalimat yang penuh hikmah dan memotivasi bagi yang membacanya. Selain itu yang bikin buku ini semakin mantap adalah disertai ilustrasi gambar dan kutipan quotes dari tokoh-tokoh ternama yang memotivasi pembacanya untuk gemar membaca dan menulis agar menjadi habit yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca dan menulis akan berlangsung efektif bila Anda dalam keadaan FUN!

Dalam buku ini Hernowo membagikan lima kiat. Dua kiat pertama merupakan “kiat umum” dan “kiat khusus”. Kiat umum berisi konsep dasar yang berkaitan dengan membaca dan menulis. Kiat khusus berisi buku sebagai “makanan ruhani”. Kiat pertama, kiat kedua dan kiat ketiga masing-masing dibuat bab dengan penjabaran yang lengkap. Setiap pembahasan buku ini juga disertai dengan gagasan atau kutipan penting dari tokoh/penulis terdahulu. Sehingga dalam 1 buku ini kita merasa membaca gagasan atau ilmu dari berpuluh-puluh buku. Berbeda dengan makalah/karya tulis ilmiah, penyajian kutipan dalam buku ini terasa lebih enak dan renyah dibaca.

Ada 5 sikap yang harus dimiliki sewaktu membaca yaitu sabar, telaten, tekun, gigih dan sungguh-sungguh. Pertama, sabar. Kesabaran diperlukan saat membaca karena bila tergesa-gesa dalam memaknai suatu gagasan, bisa jadi kesimpulannya salah. Kedua, telaten. Ke-telaten-an memungut makna-makna yang tersebar di sepanjang halaman buku kemudian mengumpulkan dan menghimpunnya amat diperlukan, karena kalau tidak telaten akan banyak gagasan yang menguap dan bersembunyi kembali.  Ketiga, tekun. Ketekunan diperlukan untuk membantu kita menyisir himpunan kata, kalimat, Alinea, bab dan bagian demi bagian yang menyimpan gagasan pokok. Keempat, gigih. Kegigihan akan medorong kita agar sekali tidak baca sudah itu mati, artinya kita perlu mengulang pembacaan hingga lebih dari sekali. Kelima, sungguh-sungguh. Kesungguhan dalam menemukan makna, memahami maksud penulis dan mengajak pikiran kita memelototi hal-hal menarik dan penting yang disampaikan penulis.

Membaca buku dapat dilakukan secara ngemil (tidak sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit). Fungsi buku adalah menggerakan pikiran kita. Jika nasi, telor, roti dan sejenisnya adalah makanan jasmani. Maka  buku adalah makanan ruhani bagi tubuh kita. Saripati makanan adalah gizi buat tubuh kita yang diserap melalui usus. Sedangkan saripati buku adalah gagasan yang menggerakan pikiran dalam saraf otak kita. Gizi sebuah buku terletak di susunan kata yang mampu merangsang pikiran untuk bergerak. Tema sebuah buku tidak menentukan apakah sebuah buku “bergizi” atau tidak. Tema hanya menentukan selera. Mengambil jeda (berhenti sejenak) saat membaca buku akan membuat proses pembacaan menjadi efektif. Ada 5 hal yang menjadi daya pikat sebuah buku yaitu konstruksi gagasan pengarang, kehebatan visi pengarang, sosok buku yang menyejarah, bentuk buku yang melangit dan gambar yang menyentuh & mengutuh.

Bagian akhir dari buku ini adalah penutup dan lampiran-lampiran. Namun penyajiannya dikemas berbeda, sehingga membuat kita tergugah dan termotivasi dari pemaparan tersebut. Bagian penutup pun berisi dengan untaian kata yang bermakna dan bertutur dengan penjelasan yang penuh hikmah. Ada salah satu ungkapan menarik berikut ini: “membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau, yakni para penulis buku itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata” (Rene Descartes).  

 

#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare

#OMOB_RRS

Friday, 23 April 2021

Kenapa Harus Divaksinasi Covid?

 


Sudah 13 purnama lebih pandemi covid terjadi. Awal mula kemunculannya banyak yang menganggapnya sebagai konspirasi. Padahal korban dan penderitanya terus bertambah. Masih banyak yang mengabaikan prokes karena menganggapnya covid sudah punah. Padahal virus tersebut kini terus bermutasi dengan daya penularan yang bervariasi. Dulu saya hanya melihat berita atau medsos tentang orang yang positif covid. Bulan berganti bulan, hingga hari berganti hari lingkaran positif covid semakin mendekat. Mulai dari satu instansi beda unit ada yang positif hingga rekan satu sekolah pun ada yang tertular dan positif. Kebijakan WFH dan WFS pun silih berganti dengan PJJ zoom yang terus berlanjut. Terakhir pekan kemarin, rekan kerja satu ruangan pun ada yang positif covid. Kewaspadaan pun harus terus ditingkatkan.

 

Apalagi tinggal di wilayah dengan zona merah, menerapkan prokes harus senantiasa dilakukan. Setidaknya setiap kali keluar harus pakai masker. Mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari  kerumunan adalah hal yang harus dilakukan. Jaga aman, jaga iman dan jaga imun adalah harus senantiasa dilaksanakan. Kembali ke pertanyaan "kenapa harus divaksinasi?". Pertama, sebagai bentuk ikhtiar untuk meningkatkan imunitas tubuh, karena salah satu tujuan vaksinasi adalah untuk membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut. Kedua, mendorong terbentuknya herd immunity (kekebalan kelompok) dalam masyarakat. Ini bila dilakukan vaksinasi secara massal. Seperti vaksinasi yang saya ikuti adalah kegiatan vaksinasi untuk guru dan tenaga kependidikan tingkat kota Depok. Vaksinasi adalah salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah untuk sekolah tatap muka yang dikenal dengan PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) yang rencananya akan dilaksanakan Juli mendatang.

Sedikit cerita tentang pengalamanku saat divaksinasi vaksin sinovac yang dilaksanakan di SMPN 11 Depok pada Kamis, 22 April 2021. Kegiatan vaksinasi ini diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan dari 4 kecamatan yang ada di Kota Depok yaitu Kecamatan Tapos, Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Cilodong dan Kecamatan Sukmajaya. Vaksinasi kali ini merupakan vaksinasi tahap 1 susulan bagi sekolah yang belum divaksin. Untuk vaksinasi tahap II bagi peserta vaksinasi ini akan dilaksanakan tanggal 20 Mei 2021 di RS Bhayangkara Brimob Depok. Peserta yang mengikuti kegiatan vaksinasi ini lebih dari 1.000 orang.

Ada beberapa tahapan dalam kegiatan vaksinasi covid-19. Tahap pertama mengisi registrasi berupa kartu vaksinasi berisi biodata dan skrining awal. Setelah itu harus antri sesuai panggilan. Saat vaksinasi kemarin saya dapat nomor urut 925. Antriannya ratusan. Kebetulan saat itu yang dipanggil baru urutan 680-700. Setelah gilirannya dipanggil, tahap kedua masuk ke ruangan registrasi yaitu penginputan data registrasi ke dalam computer. Tahap ketiga yaitu pengecekan suhu dan tekanan darah. Setelah datanya lengkap dan lolos skrining baru masuk ke ruangan tahap keempat yaitu penyuntikan vaksin. Setelah selesai disuntik, tidak langsung pulang tapi harus masuk ke ruang observasi dulu (tahap kelima).


Saat berada di ruang observasi, sembari menunggu respon tubuh setelah divaksin ada pemaparan materi dari dokter tentang vaksin covid-19 dan sekolah saat pandemi. Para guru kini yang belajar (menjadi siswanya). Yang jadi gurunya adalah dokter. Ruang kelasnya bernama ruang observasi (ruangan setelah selesai divaksin) kurang lebih sekitar 30 menit dokter menjelaskan tentang covid. Apakah setelah divaksin langsung terbentuk kekebalan? Jawabannya tidak. Butuh waktu sekitar 7 hari baru mulai terbentuk. Setelah itu harus ada vaksin dosis kedua dulu. Setelah 2x vaksin, baru sekitar 1 bulan akan terbentuk imunitas penuh.  

Saya sudah divaksinasi (vaksin sinovac) kalau kamu sudah belum?

 

Thursday, 18 February 2021

Menulislah dengan Hati



Menulis itu memang mudah, jika kita mau memulainya. Mulai dari mana? Mulai dari kata pertama. Menulis huruf pertama itu bisa menjadi apa saja. Tergantung penulisnya mau dibawa kemana tulisan tersebut. Dari kata pertama, menjadi kalimat hingga menjadi paragraf. Dari paragraf satu menjadi paragraf selanjutnya yang akan mengalir indah seperti sungai bila kita kaya akan kosakata, kaya pengalaman dan kaya data. Bagaimana menulis yang baik agar bisa menjadi buku atau novel? Tentu harus banyak latihan, banyak membaca, banyak riset dan terus belajar untuk menggoreskan pena dimanapun berada.

            “Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa menginformasikan, menginspirasi dan menggerakkan HATI kalau diramu dengan RASA & DATA” begitu kata Ahmad Fuadi saat menjadi narasumber Mini Workshop Writing From The Hearth (14 Februari 2021) yang saya ikuti. Kegiatan workshop tersebut dilakukan secara daring menggunakan zoom cloud meeting. Banyak insight baru yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan yang berlangsung malam hari. Meski sempat terkendala jaringan yang kurang stabil, tapi alhamdulillah bisa mengikuti acara tersebut sampai selesai. Banyak ilmu yang bisa saya serap dari penulis novel trilogi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara ini. Ketiga novel penggugah jiwa tersebut menjadi cemilan pemantik motivasi saat saya masih kuliah mengerjakan tugas akhir kala itu.

            Ahmad Fuadi menceritakan proses panjang dan lika-likunya menekuni bidang kepenulisan. Mulai dari menulis novel hingga novel tersebut diangkat ke layer lebar (difilmkan). Menulis itu seperti membangun rumah. Proses menulis Ahmad Fuadi dimulai dari pondasi hati (inner journey) dan bangunan: rasa, data dan logika (outer journey). Pondasi pertama tulisan itu adalah perjalanan ke dalam dari hati kita masing-masing. Dibangun dari Why, What dan How. Mengapa kita menulis? Itu yang harus kita luruskan dulu. Why ini berkaitan dengan niat (suntikan stamina yang tidak putus). Berasal dari kegelisahan dan kontribusi atau peran yang akan kita bagikan melalui tulisan. Kebermanfaatan apa yang akan kita tebar melalui goresan aksara tersebut?

            Tahapan kedua dari pondasi hati adalah What. Apa yang akan kita tuliskan? Kenal, peduli, familiar dan tahu adalah obat kuat sebuah tulisan. Saat menjelaskan materi ini Ahmad Fuadi menceritakan kisah perjuangannya saat masih menjadi santri di Gontor dengan segala lika-likunya. Dari kisah tersebut Fuadi berpesan “menulislah dari hati, maka akan sampai ke hati”. Seperti contohnya saat menulis sebuah surat cinta. Tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati, maka pesannya akan mudah sampai ke hati pembacanya juga.

            Tahapan selanjutnya adalah how. Bagaimana menulis yang baik agar sampai ke hati? Ada Tiap penulis punya Teknik tersendiri, namun ada banyak kesamaan. Diantaranya adalah harus banyak riset dan banyak baca. Bagaimana riset untuk menulis buku atau novel? Bisa dengan wawancara, observasi dan mengumpulkan data-data pendukung lainnya. Ahmad Fuadi menceritakan riset itu bisa dari buku diari atau tulisan yang pernah kita catat, surat menyurat dengan ibunya saat masih di Gontor, kumpulan catatan mahfudzot, catatan yang personal maupun dari dokumen yang sifatnya sangat rahasia jika berkaitan dengan tempat tertentu. Selain riset kunci untuk menulis selanjutnya adalah banyak membaca buku, kamus, tesaurus,  dan observasi. Dalam tulisan slide presentasinya Ahmad Fuadi menulsikan “Saya tidak berbakat menulis, tapi saya berlatih & belajar menulis”. Beliau menceritakan buku-buku pendukung yang digunakan sebagai bahan baku meramu tulisannya yang menjadi best seller.

            Setelah tahu tentang teknik menulis, tahapan selanjutnya adalah when? Kapan kita menulisnya jika sudah memiliki ide. Menulislah kapan saja. Cicil setiap hari. Cicil sedikit-sedikit, lama-lama jadi buku. Menulislah dimana saja. Carilah topik yang dekat dengan hati. Tulislah yang paling mudah dan paling bisa dituangkan ke dalam kata-kata. Lakukan dengan konsisten. Sebagaimana kata para motivator dan buku motivasi menulis lainnya bahwa kunci menulis itu ada 3 hal yaitu menulis, menulis dan menulis. Sama halnya dengan menulis dari hati, maka menulislah sesuka hatimu. Kapan waktunya? Sekarang juga. Menulislah. Sebenarnya masih panjang materi dan poin-poin penting dari mini workshop Ahmad Fuadi tersebut, tapi sementara cukup sampai disini. Untuk lebih lengkapnya silahkan nanti bisa ikuti worshop full selengkapnya. Info selengkapnya bisa ikuti akun IGnya beliau.

 

Salam Literasi

#EduWriter

#HariKamisWaktunyaMenulis

Monday, 21 September 2020

Review Buku "Jungkir Balik Pers"



Judul Buku : Jungkir Balik Pers

Penulis : Nasihin Masha

Penerbit : Republika Penerbit

Jumlah halaman : xxiv + 187 hlm

Isi review:

Hanya liputan yang kuat dan editing yang matang yang akan menjadikan semua tulisan bernyawa, bertenaga dan akhirnya menginsipirasi. Begitu salah satu poin yang diulas sang penulis buku ini. Ulasan yang menarik, dibumbui dengan data-data empirik dan disampaikan dengan diksi yang renyah khas jurnalistik.

Sesuai dengan judulnya "Jungkir Balik Pers", buku ini memberikan gambaran nyata tentang kompleksitas persoalan yang dihadapi dunia pers, baik di dunia maupun di Indonesia. Mulai dari sejarah pers dari masa ke masa, hingga  situasi pers di tengah masa pandemi ini.

Prolog buku ini diawali dengan pendahuluan yang cukup panjang tentang pers di Era Post Truth. Diawali dengan perkembangan media di era reformasi, terjadi booming media. Mulai dari munculnya tabloid hingga berkembangnya media cetak. Seiring dengan munculnya internet, media cetak mulai menderita dengan menjamurnya media online. Pers terdisrupsi medsos. Banyak media cetak yang gulung tikar, ada yang mengurangi jumlah halaman cetaknya, bahkan ada yang menutupnya. Masa pandemi memperhebat penderitaan pers

Membuat media di era digital jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan di era media cetak. Gambaran terhadap masa depan pers juga diulas dalam buku ini. Di masa depan teknologi bisa mengungguli manusia. Jika di masa lalu homo Sapiens berhasil menaklukkan dunia, maka di masa depan manusia menjadi tak dominan ketika big data menjadi paradigma, menggantikan humanisme.

Perkembangan media di dunia juga menjadi ulasan menarik dalam buku ini. Penulis menceritakan hasil pengalaman perjalanannya sewaktu mengikuti program Internasional Visitor Leadership bidang media cetak atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Pada bagian ini terbagi menjadi 3 judul tulisan yang berisikan tentang perkembangan media di Amerika yang dilengkapi dengan data-data pendukungnya.

Jurnalisme unggul hanya lahir dari pelatihan yang ketat, disiplin yang kuat, wawasan yang dalam, keteguhan sikap, independensi, dan keterampilan tinggi. Tradisi tak lahir seketika. Ia lahir dari keseharian di rel jurnalisme sejati. Butuh wartawan-wartawan andal dan berkarakter. Untuk bisa survive di tengah arus teknologi ini, media harus bisa beradaptasi dan membuat inovasi atau terobosan baru yang relevan sesuai dengan kebutuhan zaman.

 

#bukurepublika

#OMOB_RRS

#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare

Thursday, 17 September 2020

Guru Kreatif, Pelita di Tengah Pandemi Covid-19

Ruang-ruang kelas itu kini menjadi sunyi. Tak ada lagi aktivitas peserta didik di setiap sudut sekolah. Padahal PTS (Penilaian Tengah Semester) saja waktu itu belum dimulai. Anak-anak boardingschool terpaksa harus dipulangkan lebih awal sebelum waktunya liburan tiba. Pulang bukan untuk berlibur, tapi dipindahkan belajarnya dari rumah masing-masing. Siswa tetap melakukan learning from home atau belajar dari rumah. Para guru pun tidak diwajibkan berangkat ke sekolah lagi, tapi harus tetap bekerja dari rumah atau work from home. Guru mengajar dari rumah, dan siswa juga tetap belajar dari rumah masing-masing. Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Sesuai anjuran pemerintah, masyarakat dihimbau untuk belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan melakukan ibadah di rumah masing-masing.

Kegiatan pembelajaran tak lagi dilakukan secara klasikal atau tatap muka langsung di ruang kelas, tapi dilakukan secara virtual dalam jaringan (daring). Kehadiran guru kreatif di tengah pandemi Covid-19 ini sangat dibutuhkan. Karena harus menghadapi situasi yang baru, guru pun harus kreatif dalam menerapkan strategi pembelajarannya. Kenapa guru harus kreatif? Karena guru adalah aktor utama dalam pembelajaran. Keberlangsungan proses pembelajaran kunci utamanya ada di tangan guru. Guru yang kreatif adalah guru yang bisa survive di tengah pandemi dan mampu beradaptasi menggunakan berbagai metode pembelajaran. Sebagaimana sebuah ungkapan berikut: “bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang PALING ADAPTIF dalam merespon perubahan”, begitu penjelasan teori Survival of The Fittest yang dibangun Charles Darwin. Sama halnya dengan pembelajaran jarak jauh, diperlukan guru yang kreatif dan adaptif dalam menerapkan pembelajarannya.

Demi keberlangsungan pembelajaran jarak jauh guru kreatif harus berinovasi dan mencoba metode yang baru sesuai kondisi yang ada. Guru dituntut harus menguasai berbagai aplikasi pembelajaran yang menggunakan teknologi. Mau gak mau guru kreatif harus mempelajari aplikasi pembelajaran daring tersebut sebelum diterapkan kepada peserta didiknya. Guru kreatif sebagai guru pembelajar harus menguasi berbagai macam aplikasi/media pembelajaran daring. Pelajari secara otodidak bisa melalui youtube, mengikuti webinar yang diadakan oleh institusi tertentu. Bagi guru kreatif, tak ada kata terlambat karena jiwanya terus bersemangat dalam belajar. Salah satunya Webinar “Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kemdikbud RI. Salah satu poin penting dari webinar tersebut adalah tentang mengelola pembelajaran adaptif, fleksibel dan akomodatif. Hal ini bisa dilakukan jika guru itu kreatif, terus belajar dan terus berinovasi dalam pembelajarannya.

Guru kreatif adalah guru pembelajar yaitu guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang professional. Mempelajari hal baru adalah sebuah keharusan bagi guru kreatif. Pembelajar sejati adalah spirit juangnya yang tak pernah padam. Meski berada dalam situasi yang sulit, guru harus tetap berjuang mencerdaskan anak bangsa. Meski raga terpisahkan oleh jarak dan ruang yang berbeda, guru kreatif akan terus berkreasi dalam melaksanakan amanahnya. Meski jauh di mata, namun dekat di hati. Karena guru kreatif adalah pelita di tengah pandemi. Kehadirannya ibarat pelita yang memancarkan ilmu pengetahuan bagi peserta didiknya. Maju terus guru kreatif, sang pembangun insan cendekia. Bangga jadi guru. Guru berkarakter. Menggenggam Indonesia.


#CerdasBerkarakter, 

#BlogBerkarakter, 

#SeruBelajarKebiasaanBaru, 

#BahagiaBelajardiRumah