Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Sunday, 11 September 2022

Refleksi Guru: Berbenah Diri, Lanjutkan Aksi

Foto : Dokumentasi Sesi Elaborasi Pemahaman CGP 6 Kota Depok

“Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan “ (Ki Hadjar Dewantara)

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) tentang pendidikan dan pengajaran adalah sebuah pemikiran yang mampu melintasi zaman. Mengapa demikian? Karena pemikiran yang beliau cetuskan dahulu kala, hingga kini masih sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan saat ini. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) tersebut diantaranya adalah tentang konsep pendidikan yang menggunakan 3 sistem yaitu taman siswa, among dan pamong. Pemikiran beliau yang hingga kini masih dipegang teguh tentang filosofi pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat, kemauan), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Trilogi semboyan pendidikan tersebut hingga kini terus digaungkan dalam pengajaran dan pendidikan di Indonesia. Prinsip ini yang harus dipegang teguh oleh seorang guru dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang pendidik. Guru adalah teladan bagi peserta didiknya, maka sebagai guru harus senantiasa bertutur kata yang jujur, bertindak dengan perilaku yang santun dan memiliki attitude yang baik dalam setiap aktivitasnya baik selama berada di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini sangat dibutuhkan sekali. Mengingat kondisi pendidikan Indonesia yang masih perlu perbaikan di setiap lininya. Dari sekian hitam buramnya permasalahan pendidikan Indonesia yang pertama harus dibenahi adalah gurunya. Karena guru adalah aktor utama dalam dunia pendidikan. Setiap guru harus memiliki pemahaman yang kuat tentang pemikiran KHD agar tupoksinya sebagai guru bisa selaras dengan tujuan pendidikan tersebut. Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan di sekolah secara khusus sebagian sudah diterapkan dalam proses pembelajaran yang ada di sekolah. Maka dari itu setiap guru harus senantiasa melakukan refleksi diri atas pembelajaran yang dilakukan selama di sekolah. Refleksi diri tentang penerapan pembelajarannya di kelas, tentang tupoksinya sebagai pendidik dan amanahnya sebagai pengajar di sekolah tersebut.

Berikut ini adalah kesimpulan dan refleksi pembelajaran modul 1.1 yang saya pelajari baik secara mandiri lewat LMS maupun dalam pembelajaran virtual melalui Ruang Kolaborasi, Refleksi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual, dan Elaborasi Pemahaman. 

1.     Tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum  mempelajari modul 1.1

Sebelum saya mempelajari modul 1.1 ini saya beranggapan murid itu seperti kertas kosong yaitu mereka belum memiliki pengetahuan atau informasi tentang materi yang saya ajarkan saat itu. Seperti yang diungkapkan Ki Hadjar Dewantara dalam modul tersebut tentang teori rasa (lapisan lilin yang masih dapat dicoret-coret oleh si pendidik) yaitu anak yang lahir di dunia itu diumpamakan seperti sehelai kertas yang belum ditulis, sehingga kaum pendidik boleh mengisi kertas yang kosong itu menurut kehendaknya. Artinya, si pendidik berkuasa sepenuhnya untuk membentuk watak atau budi seperti yang diinginkan. Sebelumnya saya beranggapan demikian, murid adalah anak yang polos dan masih belum memahami informasi apapun sehingga guru sebagai sumber ilmu yang lebih dahulu mendapatkan informasi tersebut.

Dalam pembelajaran di kelas pun sebenarnya saya sudah mengetahui bahwa pembelajaran yang terbaik harus menitikberatkan anak supaya lebih aktif atau yang dikenal dengan student center learning atau siswa sebagai pusat pembelajaran, sedangkan guru sebagai fasilitatornya. Namun dalam prakteknya terkadang saya masih kurang mengesplore kemampuan siswa atau kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran yang lebih aktif. Saya menyadari masih banyak metode pembelajaran aktif (cooperative learning maupun yang lainnya) yang belum saya praktekkan dalam kelas yang saya kelola. Begitu juga dengan konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebelumnya saya hanya sedikit yang mengetahuinya dan banyak yang belum saya pahami secara mendalam dan mendetail.

2.     Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini? 

Setelah saya mempelajari modul 1.1 ini banyak ilmu baru yang saya dapatkan, khususnya tentang pemikiran (filosofi Pendidikan) Ki Hadjar Dewantara. Sebelumnya saya hanya mengetahui secara singkat tentang semboyan pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun kerso dan tut wuri handayani. Ternyata dibalik semboyan tersebut masih banyak pemikiran-pemikiran beliau yang sangat mendalam maknanya dan hingga saat ini masih diterapkan dalam pelaksanaan Pendidikan di Indonesia.

Selama mempelajari modul ini baik secara mandiri, hasil elaborasi dan sharing dari guru-guru lain dalam Pendidikan CGP Angkatan 6 ini perubahan yang saya rasakan antara lain:

  • Wawasan saya terbuka dan pola pikir saya tentang siswa juga berubah. Seperti yang sebelumnya saya beranggapan siswa itu seperti kertas kosong dalam hal pengetahuan, ilmu dan informasi. Ternyata dalam mendidik siswa tersebut harus menyesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zamannya juga. Seperti yang diungkapkan dalam modul ini sebagai berikut: “kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untnuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”. Iya betul sekali. Karena setiap anak itu punya keunikan, punya bakat, minat dan potensi yang berbeda-beda. Maka kita sebagai guru harus mengakomodir dan mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri anak tersebut
  • Pengetahuan  dan pemahaman saya tentang “merdeka belajar” dan “pembelajaran berpihak pada siswa” jadi semakin paham dan mengerti cara mempraktekkannya dalam kelas. Seperti yang diungkapkan dalam modul tersebut, bahwa dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak juga secara sadar memahami bahwa kemerdekaan dirinya juga mempengaruhi kemerdekaan anak lain. Oleh sebab itu, tuntutan seorang guru mampu mengelola dirinya untuk hidup bersama dengan orang lain (menjadi manusia dan anggota masyarakat).

 

3.     Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

Setelah saya mempelajari dan memahami modul 1.1 ini yang akan saya terapkan di kelas agar mencerminkan pemikiran KHD yaitu sebagai berikut:

  • a.     Menerapkan pembelajaran yang berpihak atau berpusat pada siswa yaitu dengan menggunakan metode yang sesuai diantaranya dengan metode pembelajaran diferensial dan saya akan mencari metode lainnya agar pembelajaran yang saya lakukan lebih bermakna dan benar-benar berpihak pada siswa
  • b.     Saya akan mengajak rekan guru lain untuk melihat praktek pengajaran saya dan berkolaborasi dengan rekan guru tersebut (pertama dengan rekan guru serumpun dengan saya yaitu guru biologi)
  • c.     Saya akan melakukan refleksi pembelajaran yang telah saya lakukan dan menuliskannya dalam buku refleksi dan menjadi pengingat bagi saya untuk perbaikan selanjutnya
  • d.     Secara perlahan saya akan sosialisasikan kepada rekan-rekan guru yang ada di sekolah saya tentang pembelajaran yang berpihak pada siswa dalam bentuk workshop dan sharing guru pembelajar.

Harapan saya sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini semoga  saya bisa terus belajar dan kembali merutinkan untuk membaca buku-buku tentang pendidikan (minimalnya 1 bulan 1 buku) seperti yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Namun beberapa bulan ini sering terlewatkan dan kurang menyempatkan untuk membaca buku. Saya berharap setelah mempelajari modul ini bisa berubah sedikit demi sedikit terkait kekurangan yang saya miliki. Harapan kedua yang ingin saya lihat pada siswa-siswa yang saya didik setelah saya mempelajari modul ini adalah siswa-siswa saya bisa memahami apa yang saya ajarkan dan mereka menjadi siswa yang berakhlak mulia

 #Bergerak #Tergerak #Menggerakkan