Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Thursday, 18 February 2021

Menulislah dengan Hati



Menulis itu memang mudah, jika kita mau memulainya. Mulai dari mana? Mulai dari kata pertama. Menulis huruf pertama itu bisa menjadi apa saja. Tergantung penulisnya mau dibawa kemana tulisan tersebut. Dari kata pertama, menjadi kalimat hingga menjadi paragraf. Dari paragraf satu menjadi paragraf selanjutnya yang akan mengalir indah seperti sungai bila kita kaya akan kosakata, kaya pengalaman dan kaya data. Bagaimana menulis yang baik agar bisa menjadi buku atau novel? Tentu harus banyak latihan, banyak membaca, banyak riset dan terus belajar untuk menggoreskan pena dimanapun berada.

            “Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa menginformasikan, menginspirasi dan menggerakkan HATI kalau diramu dengan RASA & DATA” begitu kata Ahmad Fuadi saat menjadi narasumber Mini Workshop Writing From The Hearth (14 Februari 2021) yang saya ikuti. Kegiatan workshop tersebut dilakukan secara daring menggunakan zoom cloud meeting. Banyak insight baru yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan yang berlangsung malam hari. Meski sempat terkendala jaringan yang kurang stabil, tapi alhamdulillah bisa mengikuti acara tersebut sampai selesai. Banyak ilmu yang bisa saya serap dari penulis novel trilogi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara ini. Ketiga novel penggugah jiwa tersebut menjadi cemilan pemantik motivasi saat saya masih kuliah mengerjakan tugas akhir kala itu.

            Ahmad Fuadi menceritakan proses panjang dan lika-likunya menekuni bidang kepenulisan. Mulai dari menulis novel hingga novel tersebut diangkat ke layer lebar (difilmkan). Menulis itu seperti membangun rumah. Proses menulis Ahmad Fuadi dimulai dari pondasi hati (inner journey) dan bangunan: rasa, data dan logika (outer journey). Pondasi pertama tulisan itu adalah perjalanan ke dalam dari hati kita masing-masing. Dibangun dari Why, What dan How. Mengapa kita menulis? Itu yang harus kita luruskan dulu. Why ini berkaitan dengan niat (suntikan stamina yang tidak putus). Berasal dari kegelisahan dan kontribusi atau peran yang akan kita bagikan melalui tulisan. Kebermanfaatan apa yang akan kita tebar melalui goresan aksara tersebut?

            Tahapan kedua dari pondasi hati adalah What. Apa yang akan kita tuliskan? Kenal, peduli, familiar dan tahu adalah obat kuat sebuah tulisan. Saat menjelaskan materi ini Ahmad Fuadi menceritakan kisah perjuangannya saat masih menjadi santri di Gontor dengan segala lika-likunya. Dari kisah tersebut Fuadi berpesan “menulislah dari hati, maka akan sampai ke hati”. Seperti contohnya saat menulis sebuah surat cinta. Tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati, maka pesannya akan mudah sampai ke hati pembacanya juga.

            Tahapan selanjutnya adalah how. Bagaimana menulis yang baik agar sampai ke hati? Ada Tiap penulis punya Teknik tersendiri, namun ada banyak kesamaan. Diantaranya adalah harus banyak riset dan banyak baca. Bagaimana riset untuk menulis buku atau novel? Bisa dengan wawancara, observasi dan mengumpulkan data-data pendukung lainnya. Ahmad Fuadi menceritakan riset itu bisa dari buku diari atau tulisan yang pernah kita catat, surat menyurat dengan ibunya saat masih di Gontor, kumpulan catatan mahfudzot, catatan yang personal maupun dari dokumen yang sifatnya sangat rahasia jika berkaitan dengan tempat tertentu. Selain riset kunci untuk menulis selanjutnya adalah banyak membaca buku, kamus, tesaurus,  dan observasi. Dalam tulisan slide presentasinya Ahmad Fuadi menulsikan “Saya tidak berbakat menulis, tapi saya berlatih & belajar menulis”. Beliau menceritakan buku-buku pendukung yang digunakan sebagai bahan baku meramu tulisannya yang menjadi best seller.

            Setelah tahu tentang teknik menulis, tahapan selanjutnya adalah when? Kapan kita menulisnya jika sudah memiliki ide. Menulislah kapan saja. Cicil setiap hari. Cicil sedikit-sedikit, lama-lama jadi buku. Menulislah dimana saja. Carilah topik yang dekat dengan hati. Tulislah yang paling mudah dan paling bisa dituangkan ke dalam kata-kata. Lakukan dengan konsisten. Sebagaimana kata para motivator dan buku motivasi menulis lainnya bahwa kunci menulis itu ada 3 hal yaitu menulis, menulis dan menulis. Sama halnya dengan menulis dari hati, maka menulislah sesuka hatimu. Kapan waktunya? Sekarang juga. Menulislah. Sebenarnya masih panjang materi dan poin-poin penting dari mini workshop Ahmad Fuadi tersebut, tapi sementara cukup sampai disini. Untuk lebih lengkapnya silahkan nanti bisa ikuti worshop full selengkapnya. Info selengkapnya bisa ikuti akun IGnya beliau.

 

Salam Literasi

#EduWriter

#HariKamisWaktunyaMenulis