Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Thursday, 30 April 2020

Sedekah Berbuah Berkah



Jalan-jalan ke pasar ikan
Jangan lupa membeli nila
Siapa yang suka menebar kebaikan
Akan dibalas dengan kebaikan pula

Berbuat baik itu mudah, tetapi terkadang berat untuk melakukannya. Ringan diucapkan, tapi sulit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perlu dibiasakan sejak kecil. Perlu dilatih setiap hari agar bisa menjadi karakter yang melekat dalam diri. Tanpa pembiasaan, akan sulit diterapkan. Padahal banyak sekali manfaatnya jika kita menebar kebaikan kepada sesama. Dengan kebaikan yang kita tebarkan, orang lain bisa merasakan kebahagiaan yang tak terkira dan kebermanfaatan yang tak terukur harganya. Dari mana memulainya? Mulai dari diri sendiri. Mulai dari keluarga sendiri. Orangtua harus menjadi teladan bagi anaknya dalam pendidikan karakter #BerbuatBaik ini.

Menebar kebaikan ibarat menanam tanaman. Seperti pepatah Arab yang berbunyi: “Man yazro’ yahsud” yang artinya siapa yang menanam, akan menuai yang ditanam. Begitu juga dengan menebar kebaikan, kita tidak akan rugi jika kita rajin menebar kebaikan (dalam bentuk apapun), justru akan mendapatkan balasan kebaikan melebihi yang kita tebarkan tersebut. Kenapa kita harus menebar kebaikan? Mungkin terkadang terbersit pertanyaan seperti ini dalam hati kita. Berikut ini ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang berbuat baik dan bisa menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut.
1.      “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Baqarah : 195)
2.      “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (Q.S. Ar-Rahman: 60)
3.      “Barangsiapa yang berbuat kebaikan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Q.S. Az-Zalzalah: 7-8)
4.      “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-A’raf: 56)
5.      “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri” (Q.S. Al-Isra: 7)

6.      “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan) oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 261)

Dari keenam ayat tersebut semoga bisa menjadi motivasi yang kuat bagi kita untuk tetap istiqomah menebar kebaikan dimanapun kita berada. Dengan menebar kebaikan, manfaatnya tidak hanya kita rasakan di dunia saja tapi juga di akhirat kelak.

Apa saja contohnya? Banyak sekali perbuatan yang bisa kita lakukan dalam rangka #MenebarKebaikan. Mulai dari hal yang terkecil seperti senyum kepada orang lain, berkata yang baik, sopan santun, membantu orang lain, bersedekah / berdonasi, memuliakan tamu, memuliakan tetangga dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Melalui tulisan ini, saya tidak akan menjelaskan terlalu panjang tentang contoh-contoh tersebut. Tapi saya akan sedikit bercerita tentang salah satu contoh saja dari aktivitas mulia bernama #MenebarKebaikan, yaitu tentang sedekah. Cerita ini berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami dan saya rasakan sendiri.

Sedekah adalah hal yang paling mudah kita lakukan dalam rangka membantu orang lain yang membutuhkan. Sedekah paling sederhana adalah senyum. Sebagaimana hadits nabi: “Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqotun” yang artinya senyummu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh. Dengan tersenyum akan melahirkan hubungan yang baik dan harmonis. Senyuman adalah energi yang terpancar dari hati yang bersih. Saat kita tersenyum kepada orang lain, maka akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman di hati orang tersebut. Tersenyum tentu sangat mudah kita lakukan bukan? Asalkan tidak senyum sendiri saja di kala sendirian, hehe.

Sedekah juga merupakan salah satu amalan yang pahalanya tidak akan terputus meskipun orangnya telah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Rasulullah yang berbunyi: "Jika seseorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh." (HR. Muslim). Saya pertama kali mendengar hadits ini waktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu saya pun hafal tentang hadits ini, tapi hingga saya remaja masih jarang mempraktekkan sedekah tersebut. Kalau pun sedekah, terkadang hanya sedikit sekali nominal yang disedekahkan. Padahal orangtuaku sudah banyak mengajarkan dan mencontohkan sedekah kepada orang lain.

Ini Ceritaku Tentang #SedekahBerbuahBerkah

Setelah saya banyak belajar menimba ilmu agama dan berkaca dari pengalaman, ternyata sedekah itu memang banyak manfaatnya. Saat kita rajin bersedekah (berapa pun nominalnya dan dalam bentuk apapun), saya merasakan mendapatkan kebahagiaan dalam bentuk yang beragam. Kebahagian tersebut bisa dalam bentuk ketenangan batin, kesempatan, prestasi atau kemudahan dalam hal yang tak terduga. Salah satunya seperti kisah yang saya alami berikut ini.

Kisah ini saya alami pada tahun 2014 silam. Saat itu saya sedang bertugas sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) di Halmahera Utara. Saat pengabdianku di daerah terpencil tersebut memasuki purnama ke-10 (April 2014), aku memenangkan sebuah perlombaan menulis juara 1 dan mendapatkan hadiah dari panitia. Saat itu saya bertekad untuk menyedekahkan sebagian dari hadiah tersebut kepada salah satu guru honorer yang ada di sekolahku bertugas. Pada saat yang bersamaam juga, aku sedang mendaftar sebuah ajang pelatihan leadership tingkat nasional yang bernama Forum Indonesia Muda (FIM). Sebelumnya saya pernah mendaftar FIM saat masih kuliah yaitu pada tahun 2011 dan 2012, tapi keduanya gagal.

Mungkin dengan sedikit sedekahku kepada guru honorer tersebut bisa sedikit membantu beban hidupnya. Saat saya memberikan uang kepada guru honorer yang bernama Sulaeman Palias tersebut, beliau mengucapkan terima kasih dan tersimpul aura bahagia di wajah beliau. Kenapa saya memberikannya kepada beliau? Karena beliau merupakan guru honorer yang paling tua di tempatku bertugas. Dan selama interaksiku dengan beliau, beliau merupakan guru yang paling aktif meskipun beliau digaji minim yang terkadang dikasihnya 3-6 bulan sekali baru dicairkan. Tentang kisah guru honorer tersebut sampai saya buatkan tulisan khusus dengan judul: “Guru Teladan itu Bernama Eman”. Tulisan tersebut juga dimuat di koran Malut Post waktu itu.

Singkat cerita, pada bulan berikutnya tibalah pengumuman FIM yang dinanti-nanti. Waktu itu bertepatan dengan jadwalku untuk mengirimkan laporan bulanan ke kota Ternate. Butuh waktu 10 jam naik kapal dari tempatku bertugas menuju ke Ternate. Saya  membuka pengumuman hasil FIM tersebut dan ternyata alhamdulillah saya dinyatakan lolos.

Alhamdulillah, luar biasa dahsyat! Dengan sedekah, rejeki melimpah. Tentunya ditambah keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Awal mula sudah bertekad 15% dari hadiah prestasi menulis, aku sedekahkan kepada salah satu guru honor di tempatku bertugas. Tiada balasan kebaikan selain kebaikan pula. Kemarin ada kejutan dari kepsek dan beberapa warga. Kali ini, hati ini terasa berbunga-bunga seperti mimpi. Alhamdulillah, dari 7394 pendaftar aku termasuk yang lolos 130 orang untuk FIM 17. Ikhtiar, tekad dan sedekah” begitulah ungkapan rasa yang saya update di facebook kala pertama kali dinyatakan lolos sebagai peserta FIM-17.

Apakah lolos FIM-17 ini karena sedekah itu? Wallahu a’lam. Disini saya sama sekali tak bermaksud untuk pamer, tapi melalui tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman bahwa sedekah itu memang dahsyat. Sebenarnya jika diceritakan tentang sedekah dan kaitannya masuk FIM ini ceritanya panjang. Apa yang kita berikan, itulah yang kita dapatkan. Sekali lagi bulan yang penuh dengan kejutan ini adalah bukan kebetulan semata, tapi semua ini sudah diskenariokan oleh Sang Sutradara kehidupan ini, yaitu Allah SWT. Tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan apakah positif akan berangkat ke Jakarta? Bagaimana dengan ongkosnya? Oke, iya! Tetap berangkat walaupun dengan uang pribadi. Uang tak masalah, tapi ilmu dan kesempatan ini jangan disia-siakan. “Opportunity is NO WHERE, but opprtunity is NOW HERE”, pikirku waktu itu. Mau gak mau saya juga harus cuti dari tugasku sebagai relawan SGI. Waktu itu sebelumnya saya mengajukan proposal dana ke manajemen SGI untuk berangkat ke Jakarta nanti, tapi ternyata tidak bisa memberikan bantuan dana. Oke, tak masalah, karena waktu itu motivasiku untuk ikut FIM adalah belajar, meningkatkan kualitas diri,  skill leadership, menambah relasi, dan tentunya pengalaman yang pastinya bakalan seru.

Singkat cerita semua biaya transport kapal, mobil dan pesawat ditanggung sendiri untuk ikut FIM. Aku harus melewati 3 jalur (laut, udara, darat). Kapal dari Loloda Kepulauan-Ternate (12 jam), tiket pesawat Ternate-Jakarta PP, Bandara Soeta-Taman Wiladatika. Oke, berangkat dari Indonesia Timur menuju Indonesia Barat. Ada cerita menarik saat aku berangkat FIM-17 ini. Kejadian ini terjadi saat aku berada di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Karena waktu itu saya bawa banyak buku hampir 30 kg padahal jatah bagasi hanya 20 kg. Buku-buku ini adalah titipan teman dan sebagian punyaku juga yang akan dibawa pulang terlebih dahulu ke Bogor. Over bagasi 12 kg (belum termasuk ransel), seharusnya dikenai biaya tambahan 540.000. Tapi kali ini GRATIS”. Saya sangat kaget waktu petugas bandara bilang seperti itu kepadaku. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Yang pasti, ini juga bukanlah kebetulan semata. Tapi, semua ini adalah skenario dan kehendak-Nya”. Apakah hal ini juga efek dari sedekahku kepada guru honorer? Wallahu a’lam. Itulah kebahagiaan yang tak disangka-sangka datangnya.

Entah kenapa rasanya, senangnya luar biasa bisa ikut FIM. Walau kebanyakan pesertanya adalah mahasiswa S1 tingkat 2-3. Kegiatan FIM ini berbeda dengan event-event nasional yang pernah aku ikuti. Walau secara konten hampir sama dengan kegiatan leadership camp yang pernah aku ikuti, tapi di FIM ini sangat berbeda. Yang khas dari FIM adalah rasa kekeluargaannya dan semangat berkolaborasinya untuk membangun bangsa. Itu yang aku rasakan selama berlangsungnya kegiatan FIM-17.

Siapa yang berbuat baik untuk orang lain, maka dia adalah berbuat baik untuk dirinya sendiri. In ahsantum, ahsantum li’anfusikum. Kalau pepatah Cina mengatakan “jika ingin bahagia seumur hidup, maka tanamlah SDM dan bantu orang lain”. Itulah salah satu materi menarik dari Pak Eri Sudewo dan dr. Jose Rizal Jurnalis. Tak cukup itu saja, pemateri-pemateri FIM-17 adalah tokoh-tokoh hebat yang berkarakter. Sebut saja orangnya seperti Jamil Azzaeni, Renald Kasali, Imam Gunawan, Bambang Wijayanto, Jimly Assidliki, Helvy Tiana Rosa, Erik Elson dan masih banyak lainnya, serta alumni-alumni FIM yang telah sukses Berjaya dan berkiprah dengan passionnya masing-masing.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan
yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”