Friday, 30 December 2011

SELEMBUT HATI SANG PERMAISURI


Teruntuk Ibunda Tercinta,
Assalamu’alaikum Ibu……!!!

Ibu, bisakah aku meminjam hatimu sebentar? Agar aku bisa merasakan bagaimana letihnya engkau dalam senyuman. Agar aku juga bisa merasakan kelembutan hatimu yang begitu dalam dan kasih sayangmu yang begitu tulus ikhlas sepanjang masa. Pengorbanan dan jerih payahmu begitu luar biasa hebatnya untuk anakmu ini. Setiap saat setiap waktu engkau selalu memikirkan dan mendo’akanku dalam setiap lima waktu. Wajahmu begitu terang benderang, seterang rembulan malam yang begitu anggun, elok, damai, dan menentramkan hati bagi setiap yang melihat engkau. Ibu, tak terasa usiaku sekarang telah mencapai 21 tahun. Betapa banyak yang telah engkau berikan yang terbaik untukku. Mungkin jika dihitung-hitung, dalamnya samudera dan luasnya alam semesta pun tak akan mampu menampung semua kebaikan dan jerih payahmu selama ini kepadaku. Ibu, melalui surat ini banyak sekali yang ingin aku ungkapkan dan aku tuliskan tentangmu, agar semua orang di dunia ini tahu bahwa engkau adalah ibu yang terhebat dan terbaik di dunia ini. Ibu yang selalu ada dan mengasihiku dalam setiap waktu dan setiap saat meski aku tidak berada di sampingmu saat ini.

Ibu, aku masih ingat sekali dengan sebuah syair ketika aku belajar di madrasah waktu kecil dulu dan sampai sekarang pun masih teringat dengan syair tersebut. “Duh sangang sasi aku diemban, daning ibuku ing pedaharan. Nalika iku ibuku nampa kamelaraten lan tumpa-tumpa” (Selama sembilan bulan aku dikandung dalam perut ibu, ketika itu ibu merasakan betapa susah dan repotnya mengandungku). Aku begitu merepotkan dalam perut ibu, kemana-mana ibu pergi ibu selalu membawaku pergi juga di setiap langkah ibu. Tapi ibu tak pernah mengeluh dan tak pernah merasa sedih selama sembilan bulan itu. Hingga akhirnya aku dilahirkan pun aku masih merepotkanmu. Aku yang selalu menangis, menangis, dan menangis tiada henti. Engkau menggendongku, menyusuiku, memandikanku, hingga mengganti popokku yang telah aku gunakan. Sungguh sabarnya engkau wahai ibuku, sabar menghadapi tingkahku yang masih manja dan selalu ingin diperhatikan olehmu. Andai saja aku bisa meminjam hatimu sebentar, aku pasti bisa merasakan bagaimana letihnya engkau dalam menjaga dan merawatku selama ini.

Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai menapaki usia menjadi anak-anak yang ceria dan masih manja. Hingga aku pun mulai menginjakkan kakiku untuk menjadi seorang siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Engkau pun masih begitu setianya menemaniku, mengantarkan, dan menjemputku ke sekolah. Ketika aku berada di rumah pun, engkau begitu perhatian dan menjagaku dengan penuh kasih sayang. Meski engkau bukan seorang guru di Sekolah, tapi di rumah engkau adalah guruku yang terbaik dan pelita dalam hidupku. Engkau mengajar dan mendidikku secara penuh dan menyeluruh. Ibu, engkau telah mengajarkanku banyak pelajaran penting dalam hidup ini. Mulai dari menjaga dan menghargai waktu, engkau telah mengajarkan dan mendidikku untuk sholat lima waktu. Engkau pula yang pertama kali mengajarkanku tentang abatasa (huruf hijaiyah) dan membaca Al-Qur’an. Mulai dari bangun pagi untuk sholat Shubuh, engkau yang selalu pertama kali membangunkanku, hingga akhirnya aku pun menjadi terbiasa bangun pagi. Engkau pula yang telah mengajariku tentang memasak, mencuci peralatan makan setiap habis selesai makan, membersihkan dan menyapu ruangan serta halaman rumah. Hingga akhirnya aku pun bisa menjalankan semua hal tersebut. Hingga usiaku menginjak 10 tahun, aku pun sudah sedikit mandiri melakukan semua itu. Aku selalu bangun pagi dan memasak air, membersihkan tempat tidurku dan menyapu halaman rumah. Disiplin waktu, disiplin diri dan disiplin hati, begitulah yang telah engkau ajarkan kepadaku selama ini dan hingga saat ini pun aku masih mempertahankan akan semua hal itu. Menjaga kebersihan (membersihkan lingkungan kos, kamar mandi dan halaman depan kos) hampir tiap minggu sekali.

Menjadi anak yang sholeh dan berbakti itulah yang engkau harapkan. Aku masih ingat, waktu itu juga aku dibatasi waktu untuk menonton TV maksimal jam 9 malam dan harus sudah istirahat. Begitu beruntungnya aku memiliki ibu yang begitu luar biasanya dalam mendidikku. Kesisiplinan selalu harus ditingkatkan. Aku pun selalu menuruti nasehatmu, sejak kecil aku sudah dididik untuk mengaji di TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) selain aku juga sekolah di MI (Sekolah Dasar). Atas nasehat dan petuahnya yang selalu aku turuti itu, aku pun sedikit bisa memberikan senyum yang indah untuk ibu. Sejak kelas 1 sampai kelas 6 alkhamdulillah aku mendapat ranking 1 dalam setiap kenaikan kelas. Selain itu, pada waktu kelas 4 MI, aku juga sudah dapat melakukan wisuda pertamaku yaitu wisuda TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) dan alkhamdulillah juga mendapatkan nilai yang memuaskan. Hingga akhirnya setelah lulus, aku pun melanjutkan ke MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) untuk sore harinya dan pada pagi harinya aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) setelah lulus dari MI. Karena begitu banyaknya pendidikan tentang hidup (kedisiplinan, ketekunan, dan kebersihan) yang diberikan ibu ketika di rumah, ketika aku lulus dan wisuda MDA juga alkhamdulillah aku mendapat juara 1 dalam wisuda tersebut. Semoga sedikit prestasi ini juga bisa menjadi kado terindah untuk ibuku.

Setelah lulus MTs, ibu pun masih mengedepankan pendidikanku untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi lagi yaitu ke SMAN 3 Pemalang dan dalam waktu yang bersamaan juga aku menetap di pondok pesantren. Waktu itu aku masih teringat ibu menangis ketika akan pulang meninggalkanku karena harus berpisah dan ibu pulang kembali di rumah. Pagi hari aku sekolah di SMA, dan habis pulang langsung melanjutkan lagi madrasah di tingkat Diniyah Wustho dan malamnya ada pengajian sampai jam 10 malam. Begitulah rutinitas selama 3 tahun di Pemalang. Alkhamdulillah, aku pun kembali sedikit memberikan senyuman indah untuk ibu dan ibu pun menangis terharu bahagia saat melihatku naik ke panggung wisuda Diniyah Wustho dan aku mendapat predikat “Santri Terbaik Diniyah Wustho”. Terima kasih ibu, karena kasih sayang dan do’amulah aku bisa meraih prestasi ini.

Ibu, mungkin kado-kado dan prestasi tersebut belumlah ternilai harganya atas limpahan dan kasih sayang ibu selama ini kepadaku. Tapi aku akan selalu berusaha membahagiakan ibu, menjadi anak yang sholeh dan menjadi anak ibu yang terbaik dimanapun berada. Terima kasih ibu atas ilmu, kasih sayang, dan pengorbananmu selama ini kepadaku. Aku akan selalu memberikan senyuman dan kado yeng terindah untukmu. Ibu, alkhamdulillah sampai sekarang ini aku sudah bisa menjadi mahasiswa (aktivis kampus dan asisten praktikum) dan mampu berkeliling menjelajah keliling Indonesia serta mendapatkan prestasi-prestasi yang membanggakan. Ini semua adalah berkat do’amu yang senantiasa engkau lantunkan. Nasehat dan petuahmu akan selalu tersimpan dalam hatiku ini. oya bu, insya allah tahun depan aku lulus S1 bu dan mungkin sampai disini ungkapan rasa terima kasihku kepada ibuku yang luar biasa hebatnya. Do’aku juga akan senantiasa mengiringimu. Dan semoga anakmu ini mampu menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi orang lain dimanapun berada. Amien ya robbal’alamin.
Wasallamualaikum Wr. Wb.

Dari anakmu yang sedang merantau menimba ilmu,

*Tulisan ini menjadi pemenang dalam Lomba Menulis Surat Cinta untuk Ibu tingkat nasional (dari 550 peserta, hanya diambil 60 finalis tulisan terbaik yang dibukukan), dan sudah terbit dibukukan (tahun 2011) dalam kumpulan antologi buku berjudul "Perempuanku (Sebuah Persembahan Cinta untuk Perempuan Terhebat)

0 comments: