Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Saturday, 17 May 2014

"Meraih Impian" Bersama Murid Kelas 6




“Apa cita-citamu?” tanyaku kepada anak-anak kelas 6 secara bergantian. “Menjadi guru” jawab Selvi Sufianti. “Kalau saya ingin menjadi dokter pak” jawab Marlisa. “Menjadi chef yang hebat” tambah siswa bernama Gustina Azahra. Rata-rata anak kelas 6 yang saya tanyakan tentang cita-cita, jawabannya adalah guru dan dokter untuk anak perempuan, sedangkan anak-anak lakinya rata-rata menjawab pemain sepakbola. Begitu pertanyaan pembuka yang saya ajukan satu per satu kepada anak kelas 6 dalam Training Motivasi kelas 6 SDN Tegal 01 (Rabu, 30 April 2014). Anak-anak kelas 6 rata-rata kurang memiliki semangat dan rasa percaya diri yang tinggi, itulah alasan diadakan training motivasi tersebut. Selain untuk mengupgrade motivasi, juga untuk memberi semangat belajar anak dan sebagai bekal mereka menghadapi dunia pasca lulus SD nanti.

Cita-cita setinggi langit itu "biasa". Punya cita-cita berguna juga sudah "biasa". Tapi, cita-cita yang yang tak terdengar seperti sebuah cita-cita dan berjuang dengan sepenuh hati untuk mewujudkannya, itu baru luar biasa. Begitu cuplikan kalimat motivasi dalam trailer Film “Cita-citaku Setinggi Tanah” yang saya putar di sela-sela training ini. Karena cita-cita itu bukan hanya untuk ditulis saja, tapi diperjuangkan dengan sepenuh hati, diraih dengan sepenuh tenaga dan daya. Semangat merenda cita, mengukir prestasi dengan iktiar, kerja keras dan didukung dengan do’a kepada Sang Maha Kuasa.


Pada pertemuan sebelumnya, saya juga pernah masuk ke kelas 6 (tanggal 17 April 2014) meminta anak-anak kelas 6 untuk menuliskan karangan tentang cita-cita. Gustina Azahra adalah anak yang paling berbeda cita-citanya dengan yang lainnya. Dia menuliskan cita-citanya adalah Chef. “Cita-cita saya ingin menjadi Chef, karena saya senang memasak, karena menjadi chef itu menyenangkan. Saya juga senang membuat kue, daging bakar, dan lain-lain. Saya bisa memasak karena diajari ibu saya. Saya sekarang baru kelas VI, setelah lulus kelas enam nanti saya ingin meneruskan sekolah sampai sarjana dan menjadi chef yang hebat” papar Gustina dalam tulisan yang dibuatnya.

Berbeda dengan Selvi yang bercita-cita ingin menjadi guru. Dalam karangan yang ditulisnya, Selvi menuturkan alasan yang sangat panjang tentang keinginannya menjadi seorang guru. “Cita-citaku adalah ingin menjadi guru” paparnya di paragraf pertama. Karena aku ingin mengajarkan dan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung. Jika nanti aku menjadi guru, aku harus menjadi guru yang baik dan kalau sedang mengajar harus sabar dan penyayang kepada murid-muridnya. Karena kalau mengajarnya penuh dengan kesabaran, murid-murid akan senang belajar, tapi kalau kalau kita mengajar dengan emosi yang tinggi, murid-muridnya menjadi takut. Apabila murid menjadi takut, biasanya akan sulit memahami penjelasan guru. Menjadi guru harus sabar, sabar dan sabar” jelasnya dalam tulisan tersebut. “Jika nanti aku berhasil menjadi seorang guru, aku akan mengajarkan dan memberikan ilmu kepada murid-muridku dengan penuh kesabaran, dan sungguh-sungguh sampai muridku menjadi pintar” tambahnya.


Seberapa pun tingginya cita-cita, dia harus diperjuangkan dengan kesungguhan dan kerja keras. Bukan hanya sekedar keinginan belaka, apalagi hanya diucapkan dalam lisan saja. Maka dari itu, cita-cita itu, impian itu, harus dituliskan dalam selembar dua lembar kertas. Itulah yang saya minta kepada semua anak kelas VI untuk menuliskan mimpi dan cita-cita terbaiknya dalam selembar kertas, lalu kertas tersebut ditempel di kamar masing-masing. “Suatu saat nanti, saat 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun hingga 10 tahun lagi saat Bapak bertemu lagi dengan kalian, bawa coretan mimpi kalian yang tertulis di kertas tersebut dan buktikan bahwa mimpi yang tertulis itu benar-benar telah menjadi kenyataan sesuai dengan apa yang kalian dapatkan” pesan pamungkasku mengakhiri acara training tersebut. Langkah utama setelah berani menuliskan mimpi adalah action, usaha, ikhtiar dan melaksanakan apa yang sudah dituliskan tersebut. Jangan lupa diiringi dengan do'a kepada Sang Maha Kuasa. Masih ingat kan, pesan Arai dalam film Laskar pelangi? Pada akhir sesi, ditutup dengan menyanyikan lagu laskar pelangi secara bersama-sama.



Tiga Semprul, Julukan dari Kelas 5



Rasa cemburu itu selalu ada. Itulah yang dirasakan kelas 5. Mereka merasa iri saat kelas 3 dan kelas 4 sudah melakukan kegiatan outing class ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa. Padahal kelas 5 juga sudah ada jadwal tersendiri. Masalah tersebut akhirnya terjawab saat tim magang SDN Tegal 01 mengadakan kegiatan outbond bagi kelas 5. Outbond ini sebenarnya dijadwalkan bagi kelas 3, 4 dan 5 tapi dalam pelaksanaannya baru kelas 5 yang sudah melaksanakan kegiatan tersebut. Alasannya karena saat jadwal kegiatan outbond kelas 3 dan 4 bertabrakan dengan libur tanggal merah dan adanya agenda mendadak dari sekolah.

            Berawal dari outbond tersebut, kedekatan kami (tim magang) dengan kelas 5 menjadi semakin erat. Kehadiran kami serasa menjadi angin segar bagi mereka. Karena selama ini mereka diajarkan oleh seorang guru yang dikenal galak dan keras, sehingga mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi kelas seperti itu. Akhirnya, lama kelamaan kedekatan kami bertiga dengan anak-anak kelas 5 selalu penuh dengan canda tawa. Saat jam istirahat atau di luar jam pelajaran, kami sering berinteraksi dengan mereka. Hingga mereka menjuluki kami bertiga dengan “Tiga Semprul” yang mengajar di SDN Tegal 01. Kami bertiga ada yang dijuluki sebagai Gading, Andika dan Narji.

Itulah Kelas 5. Mereka adalah kelas yang unik. Walau yang mengajar kelas 5 adalah pak Heru tapi ketika di luar kelas, kami bertiga juga sangat akrab dengan mereka. Mulai dari bermain games hingga melatih mereka bernyanyi seusai pulang sekolah bersama kami bertiga, tiga semprul yang selalu kompak bersama mereka.

To be continued......