Monday, 16 March 2015

Menghukum Siswa Dengan Hati


Siswa salah, itu wajar! Namanya juga anak-anak. Mereka masih perlu banyak belajar. Tapi, kalau guru salah? Apalagi guru yang tak mau sadar akan profesinya yang mulia itu. Ada lagi, guru yang suka datangnya telat, dan maunya pulang lebih awal. Sementara muridnya disuruh datang pagi-pagi, tepat waktu. Tapi, gurunya sendiri yang melanggar. Alhasil guru tersebut seperti memakan ludahnya sendiri. Parahnya lagi, masih ada pula guru-guru yang suka menghukum siswanya dengan hukuman fisik seperti memukul dengan rotan, menampar pipi, mencubit hidung, menjewer telinga, memutar kepala atau disuruh memukul tembok dengan sekuat-kuatnya. Sungguh kasihan siswa-siswinya, jika berada dalam sekolah yang penuh dengan hukuman fisik seperti itu. Semoga saja guru yang seperti itu segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar menjadi guru yang berkarakter.

            Hukuman fisik, apakah memberikan efek jera bagi siswa yang bersalah? Anak yang tak masuk sekolah, hukumannya adalah pukulan. Anak yang membolos, siap-siap mendapat pukulan rotan. Anak-anak yang tidak menurut pada gurunya, siap-siap mendapat cubitan atau tamparan. Anak-anak yang dikenal pahe (keras kepala) dan melanggar aturan juga siap-siap menerima hadiah istimewa seperti itu. Apalagi anak-anak yang suka bikin ulah (baku dusuh), atau membuat temannya menangis maka siap-siap terpaan rotan mengenai dirinya. Siapa yang salah sebenarnya. Siswa? Atau guru yang tak pernah mau menyadari akan kesalahan dirinya. Guru yang tak mau pernah introspeksi dan refleksi diri akan tindak tanduknya itu. Sekali lagi ketika siswa salah, apakah meski harus dihukum dengan hukuman fisik seperti itu? Bukankah rotan juga bisa menjadi emas jika dipergunakan dengan baik? Rentetan analisa dan identifikasi masalah hukuman fisik tersebut bukanlah karangan belaka, tapi kisah nyata yang saya alami dan saya lihat saat saya bertugas menjadi guru di salah satu sekolah terpencil yang ada di Maluku Utara.

            Alasannya sepele. Kata mereka (guru-guru) tersebut, anak-anak disini pahe (keras kepala) dan beda dengan anak-anak Jawa atau daerah lain. Makanya mesti dikerasin dan dihukum dengan hukuman tersebut. Hampir semua gurunya pernah melakukan hukuman fisik yang serupa tersebut. Miris memang…! Padahal guru-guru tersebut tahu bahwa hukuman fisik itu dilarang dan tidak boleh lagi diterapkan di sekolah. Tapi begitulah kondisinya. Mungkin karena sudah menjadi budaya yang turun temurun, jadi susah dihilangkan. Kenapa meski dengan pukulan, rotan dan hukuman-hukuman tersebut? Apakah tak ada hukuman lain yang lebih mendidik dan berperasaan? Akhirnya anak-anak pun menjadi kebal dengan tempaan pukulan yang sudah sering dialaminya itu.

Alhasil, saya selaku guru baru dan hanya bertugas 1 tahun di sekolah tersebut, anak-anaknya meminta saya untuk memukul mereka jika ada yang salah. “Pak guru, ngoni pukul torang sudah”, “Pukul saja ke dia pak guru dengan rotan”, atau “pak guru, pukul saja anak itu dengan rotan yang ada di kelas”. Begitulah pinta anak-anak kepada saya tatkala mereka ada yang salah atau bikin ulah. Mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan pukulan bahkan sudah kebal dengan hukuman tersebut. “Kalau pak guru tak akan memukul kalian, karena pak guru sayang sama kalian” kataku kepada anak-anak. Kalau kalian ada salah, pak guru juga akan menghukum kalian tapi tidak dengan rotan. Pernah waktu itu anak kelas 5 ada PR (Pekerjaan Rumah), tapi sebagian besar tidak mengerjakan. Alasannya rata-rata lupa, dan tidak belajar jika malamnya. Saya waktu itu memarahi mereka, karena beberapa kali mereka kerap tidak mengerjakan PR. Saya merefleksikan mereka dengan menyadarkan hati mereka menggunakan metode hipnoteaching. Perlahan, saya memutar musik instrumen. Refleksi diri dimulai. Orangtua kalian telah bekerja keras. Ayah kalian tiap hari ada yang mengail di laut dan ibu berkebun mencari kayu bakar untuk keperluan kalian. Tapi, apa balasan kalian bagi mereka. Jika kalian tak serius belajar, PR tidak dikerjakan, maka siapa yang rugi? Tentu orangtua kalian pun ikut rugi. Kurang lebih seperti itu isi refleksi yang saya berikan kepada anak-anak. Beberapa anak ada yang menangis. Pendekatannya dari hati ke hati. Saya mencoba menyadarkan kesalahan mereka.

Anak-anak kelas 5 di sekolah tempat saya mengajar memang terkenal rata-rata anaknya hiperaktif. Seringkali ribut dan baku dusuh lantaran hal-hal sepele atau karena ucapan yang menyinggung hati mereka. Tapi itulah uniknya anak-anak. Mungkin karena modalitas gaya belajar mereka yang tipe kinestetik. Perlu pendekatan khusus bagi mereka tatakala ada kesalahan. Dalam kasus lain. Tepatnya Rabu, 4 Maret 2015. Jam istirahat telah usai. Karena mau ada persiapan ruangan ujian try out, siswa kelas lain akan dipulangkan lebih awal. Tiba-tiba ada salah seorang anak melapor kepadaku. “Pak guru ada anak baku dusuh (berkelahi) di kelas 5” lapor anak tersebut. Kebetulan waktu itu jadwal mengajarku di kelas tersebut. “Ifon dan Rifka berkelahi pak di dalam kelas” ujar salah seorang siswa yang lain. Saat saya masuk kelas tersebut, beberapa murid kelas 6 sudah melerai keduanya. Rifka dan Ifon terlihat masih menangis tersedu-sedu dengan menunjukkan muka marah membara di wajah masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara bel, tanda pulang. Anak-anak kelas 1-4 tampak berlarian dengan riang karena dipulangkan lebih awal. Khusus kelas 6 sedang menata ruangan buat ujian try out esok hari dan sedikit ada pengarahan dari kepala sekolah.
Saya harus selesaikan dulu masalah kelas 5 ini, pikirku yang tak menghiraukan bunyi bel kepulangan siswa. Mungkin jika guru lain yang menyelesaikan masalah ini, pasti sudah dihukum dengan pukulan rotan bagi kedua belah pihak, batinku menganalisa lebih jauh. Saya tidak akan menerapkan pukulan rotan tapi saya mencoba pendekatan dari hati ke hati dalam menghukum kedua anak yang berkelahi tersebut. Saya meminta kedua anak tersebut maju ke depan kelas, tapi keduanya enggan. Okelah, kalau begitu silahkan lanjutkan berkelahi kalian biar Bapak yang jadi wasitnya, candaku kepada mereka. Sejenak anak-anak yang lain bersorak mendukung ideku ini. “Eits, stop….” tegasku menenangkan suasana kelas. Ifon dan Rifka masih merengut dan air matanya terlihat masih membasahi pipi mereka.

Pak guru hanya ingin mendengar kalian bercerita di depan kelas. Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya luluh juga hati mereka dan mau maju ke depan kelas. Rifka berdiri di sebelah kananku dan Ifon di sebelah kiri. “Coba ceritakan kronologinya, kenapa kalian bertengkar?” pintaku. Keduanya diam dengan muka masih memerah dan menangis tersedu. “Tadi Yusnia yang mulai duluan pak” celetuk salah seorang siswa. Oke, kalau begitu Yusnia juga silahkan maju ke depan. Saat Yusnia menceritakan kronologi masalahnya, Ifon dan Rifka saling ribut. Mereka saling adu mulut, saling menyalahkan dan tidak mau disalahkan. Saya melerai keduanya. Rupanya masalahnya sangat sepele, seperti biasa masalah ucapan yang menyinggung perasaan masing-masing. “Kalau begitu sekarang semuanya berdiam dulu, Pak guru yang akan bercerita dulu, mau?” pintaku. “Mau… mau….. mau….” jawab anak-anak serempak.

Pak guru akan bercerita tentang kisah Nabi Adam. Belum selesai bercerita, saya menghentikan cerita kisah nabi tersebut dan membuka cerita lain. Anak-anak tampak penasaran. Rifka dan Ifon masih berdiam berdiri disampingku. Yusnia berdiri di belakangku, hanya dia tidak menangis dan merasa tak bersalah. “Ada segumpal daging, jika daging itu baik maka anggota tubuh yang lainnya juga akan baik. Sebaliknya, jika daging itu buruk, maka buruk pula yang lainnya” ceritaku dengan nada mendayu. Kalian tahu, segumpal daging itu apa? tanyaku memancing penasaran mereka. “Daging hewan Pak guru” ujar Julfit. Sontak anak-anak yang lain tertawa mendengar jawaban Julfit. “Daging manusia pak” jawab Fikram. Iya betul, tapi daging yang mana? tanyaku balik. Lama tak ada jawaban. Tiba-tiba ada yang berucap. “Hati, pak guru” jawab Faisal. Iya betul, 100 buat Faisal. Saya kembali melanjutkan cerita tersebut. “Hati itulah ibarat pilot bagi pesawat, ibarat nahkoda bagi sebuah kapal atau sopir bagi sebuah mobil. Bagi manusia, hatilah yang menjadi kendali utama” kisahku kepada anak-anak. Ifon dan Rfka mulai diam dan merenung.

Saya lanjutkan dengan cerita ketiga. Ngomong-ngomong soal pilot pesawat, kemarin Pak guru habis jalan-jalan bertualang luar angkasa bersama kelas 6. Kalian juga mau kesana? tanyaku dengan penuh  ajakan. ”Mau…. mau…. mau…. pak guru” jawab anak-anak serempak. Ifon yang tadinya diam, tiba-tiba mulai tersenyum dan mengacungkan tangan. “Saya juga ikut pak guru” seru Ifon dengan penuh penasaran. Rifka juga sudah tampak tidak ada air mata lagi di wajahnya. “Kapan kita berangkat kesana Pak guru?” tanya Fikram penuh semangat.”Nanti ke luar angkasa naik apa kesananya Pak guru?” tanya siswa yang lain. Rupanya ceritaku yang ketiga ini cukup menarik penasaran hati mereka. Padahal cerita petualangan luar angkasa kemarin adalah skenario pembelajaran tentang tata surya yang aku terapkan di kelas 6. Suasana kelas yang tadinya ramai karena pertengkaran, kini berangsur-angsur penuh dengan canda tawa anak-anak.

Sebuah pertengkaran terjadi karena hatinya sedang tidak baik. Jika hati kita kurang baik,maka semua ikut tidak baik, tangan mudah menampar, mulut asal bicara tanpa dikontrol, kaki mudah menendang dan kita mudah marah (sambil bergaya marah), jelasku pada anak-anak. Oleh karena itu, jagalah hati kalian agar saling menghormati dan berbuat baik sesama teman, ujarku sembari bercerita. Kalau kalian mau keluar angkasa, maka harus baik-baik dengan teman, rajin belajar, tekun mengaji dan beribadah, itu syaratnya, tambahku. Semua anak tampak bahagia mendengarkan ceritaku. Ending (akhir) dari penanganan masalah pertengkaran anak ini adalah tawa senyum dan berjabat tangan. Ifon, Rifka dan Yusnia saling memaafkan satu sama lainnya, diiringi dengan senyum persahabatan. “Rifka, Ifon minta maaf yah” pinta Ifon sembari menjabat erat tangan Rifka. Begitu juga sebaliknya yang dilakukan oleh Rifka kepada Ifon. Kini wajah ceria tampak dari mereka berdua. Begitulah salah satu kisah menghukum anak yang saya lakukan di kelas.


Permasalahan siswa tak selamanya harus diselesaikan dengan cara hukuman fisik. Berilah hukuman yang mendidik bagi siswa-siswi kita tatkala mereka berbuat kesalahan. Kalau saat kita mengajar dan mendidik mereka harus dengan hati, maka menghukum anak (saat mereka salah) juga harus dengan hati. Saya jadi teringat dengan pendapatnya Setiawan dalam bukunya yang berjudul Anak Juga Manusia, mengatakan bahwa “anak bukan barang yang dipesan dari katalog yang disertai buku panduan. Dia adalah titipan Tuhan yang sudah sepatutnya diperlakukan dengan baik. Anak juga bukan robot yang tinggal plug and play. Dia punya hati dan perasaan, karena anak juga manusia”. Iya, karena anak juga punya hati dan perasaan, maka masukilah dunia dan hati mereka supaya riang gembira. Jika hukuman fisik terus dilakukan kepada siswa tentu akan berdampak pada kondisi psikologis mereka. Oleh karenanya, ketika anak (siswa-siswi) kita bermasalah, hukumlah dengan hati.

*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis guru dan orang tua yang diselenggarakan www.sekolah-akhlak.com dan https://motivatorkreatif.wordpress.com   serta Komunitas Guru Inspiratif.


1 comments:

Levin LME said...

Setuju pak, menghukum dengan hati dan memakai hati dan logika... saya jg baru terapkan persis kemaren 5 anak buat ulah dikelas... selamat pak...layak menjadintulisan guru inspirasi