Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Friday, 23 October 2015

Terima kasih SGI (Milad Ke-6)


Habis lulus S1 mau kemana? Itulah pertanyaan yang muncul kala itu. Ada 3 pilihan yg ku tulis dlm dream bookku: SM3T, SGI dan IM. 
SM3T sempat iseng daftar, jelas gak bisa. "Maaf anda bukan dari sarjana kependidikan". Selanjutnya SGI dan IM wkt itu hmpir bersamaan wkt pndftrnnya. Pilih yg mana? Butuh waktu lama utk memutuskan. Stlh searching, tanya2, observasi websitenya, googling visi misinya, dll. Akhirnya kptsnnya milih SGI. Pdhl blm dftr, tp udah optimis bakalan lulus, hehehe.

Singkat cerita udah lewatin izin orang tua (cukup lama jg utk meyakinkan). Akhirnya daftar. Pengumuman lolos tahap pertama nih. Lalu, tahap 2 interview, mikroteaching dan FGD di Jogja. Sempat minder, krn saingannya cukup keren sekilasnya, krn kbnykn alumni sarjana kependidikan. Sementara aku? Modalku tekad yang kuat. Minder pun hilang. Aku msh punya pengalaman organisasi dan kgtn sosial saat di kampus. Optimis, semangat dan sungguh2 wkt itu, berasanya pasti lulus tahap ini, hehehe.

Cukup lama menanti. Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Sms masuk menyatakan selamat lolos seleksi akhir SGI (hari senen). Hari selasa dpt panggilan jg dari RSCM, tinggal interview. Hari Rabu ada lg tawaran undangan menjadi guru di sebuah sekolah. Wah, 3 hari berturut-turut wkt itu spt dapat durian runtuh. Pilih yg mana ayo? Musyawarah dg orang tua, rapat intern dg diri sendiri. Kptsnnya milih SGI.

Oke, semua udah oke. Aku pun berangkat pamit izin merantau Desember 2013. Sejak itulah aku datang di bumi pengembangan insani Bogor. Memulai pembinaan asrama SGI. Tempat baru, tmn baru dan suasana baru. Utk bersama dlm pmbinaan slama 4,5 bulan. Disinilah aku ditempa, dibina dan mndptkn banyak ilmu dari SGI. Jdwal yang padat dan disiplin. Dan dilarang pulang ke rumah, kecuali alasan penting mendesak. Pemateri yang hebat, dosen, praktisi, profesional, dll turut membimbingku.

Mulai dari studium General, medical check up, perkuliahan, pembinaan asrama, militery super camp, magang 3 bulan, hingga share (SGI Help and Care) di pelosok Garut 1 bulan pun mjd sajian pengalaman yang sangat berharga dan berarti. Cerdas intelektual, cerdas spiritual dan cerdas sosial. Kurang lebih itulah yang didapatkan. Dan msh banyak lagi hal-hal seru yang didapatkan saat masa pmbinaan 4,5 bulan ini. Mjd presiden KM Heksagonal, kenangan di paviliun, hingga perpisahan dan pelepasan 30 pejuang muda SGI VI.

Loloda Kepulauan, Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara menjadi tempat pengabdianku selama satu tahun. Banyak cerita, banyak makna, banyak kesan, banyak inspirasi, banyak pengalaman dan karena sangking banyaknya gak bisa diceritakan disini, hehehe.

Kok panjang banget. Oke deh. Singkat cerita, aku ingin ucapkan terima kasih SGI atas semuanya.

Selamat milad yang ke-6. Semoga terus tumbuh dan berkembang mjd barometer peningkatan kualitas guru Indonesia. Terus istiqomah. Terus berinovasi. Mulai dari SGI reguler, kini engkau telah tumbuh menjadi SGI Executive Class, SGI Profesional Class, School of Master Teacher dan School of Principal. Semoga semakin banyak penerima manfaatnya dan berkah.

#Milad6SGI

Parasit Obligat Bermuka Dua

Ada inang kau datang
Tak hiraukan kawan, apalagi lawan
Formalitas memang gagah 
Tampak rapi tak bernoktah
Hati rapuh gadaikan amanah
Kau menyusup kenyangkan perut
Bereplikasi selipkan miliaran
Karena ada sempat, kau lupa
Sebab kejar nikmat, kau lalai
Oh parasit obligat....
Hidup di nyawa inang
Tahu-tahunya gemuk uang
Tertangkap sidak jaksa
Kau tetap nyaman
Ada amplop penutup lidah
Oh parasit Obligat....
Lewat litik, kau pecahkan kejujuran
Lewat lisogenik, kau buat profag kemiskinan
Tak peduli rakyat semakin melarat
Tak hiraukan dhuafa semakin sengsara
Oh parasit Obligat....
Rugi, merugikan
Untung, menyakitkan
Selamanya....
Bertaubatlah.....
Hidupmu hanya numpang!
Bogor, 19 Oktober 2015
Buah karya,
Kang Amroelz

Thursday, 8 October 2015

Kontribusi Anak Muda Lewat Komunitas


Beri aku 1000 orang tua, maka akan ku cabut Semeru dari akarnya. Tapi, beri aku 10 orang pemuda maka akan ku goncangkan dunia”, kata-kata yang pernah diungkapkan oleh Ir. Soekarno ini memang punya kekuatan yang dahsyat. Itulah sosok pemuda harapan bangsa, energik, punya spirit yang kuat dan tangguh. Sejak dulu hingga sekarang pemuda adalah motor penggerak perubahan. 

Pemuda saat ini, harapan masa depan. Kenapa? Coba kita perhatikan dua momentum besar ini. Pertama, ‘bonus demografi’ yang diprediksikan terjadi antara tahun 2025-2030 dan kedua, ‘Indonesia Emas 2045’  yang didengungkan sejumlah kalangan terjadi saat Indonesia berusia 1 abad kemerdekaan. Benarkah akan terjadi demikian? Kedua momentum tersebut bisa dijawab dengan melihat pemudanya saat ini. Ya, anak muda saat ini yang akan menjadi motor penggerak kedua momentum tersebut. Bonus demografi akan menjadi kekuatan besar bangsa Indonesia manakala para pemudanya punya kapasitas dan kualitas yang mumpuni. Begitu juga dengan Indonesia Emas 2045, para pemuda punya peran dan kiprah besar. Sudah siapkah anak muda?

Mari sejenak kita menatap kondisi Indonesia saat ini, buram? Kusam? Kelam? Bagaimana keadaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, politik hingga stabilitas tata kehidupannya? Seperti itukah yang terpatri dalam benak kita saat ini? Merubah Indonesia bebas korupsi, menjadi Indonesia cerdas, Indonesia bangsa yang maju dan slogan besar lainnya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tidak usah terlalu muluk-muluk sampai ke tingkat negara, tapi kita lihat dalam diri kita sendiri. Mampukah kita merubah diri kita menjadi pribadi yang berkualitas? Ya, sebelum merubah bangsa, pantaskanlah diri sendiri dulu, kuatkan kualitas dan kapasitas diri. Dengan cara apa kita bisa merubah hitam-putihnya wajah negeri? Dengan karya kita. Dengan prestasi kita. Dan dengan kiprah pergerakkan kita. Apa pun itu.

Pemuda hebat tak bisa bergerak seorang diri. Karena merubah masyarakat dari yang kurang baik menjadi lebih baik, memang bukanlah perkara yang gampang. Perlu proses, butuh komitmen dan yang paling penting adalah berkolaborasi dengan semua pihak yang ada. Lantas bagaimanakah anak muda bisa berkontribusi untuk mengubah dan menjadi bagian perubahan tersebut? Salah satu wadah yang bisa menjadi penggerak perubahan bagi anak muda adalah melalui komunitas, organisasi atau perkumpulan. Melalui komunitas inilah peran anak muda bisa berkarya dan berkontribusi untuk perubahan sosial. Dalam bidang apa saja, sesuai bakat, potensi dan kemampuan yang dimiliki anak muda tersebut lewat komunitas yang digelutinya.

Kenapa komunitas atau perkumpulan? Karena melalui wadah inilah aktualisasi dan pengembangan diri pemuda itu bisa berkembang, bergerak bersama dan terstruktur dalam pola yang jelas dan terarah melalui lembaga atau organisasi tersebut. Mulai dari tataran sekolah anak muda (siswa) bisa berkarya lewat organisasi OSIS, PRAMUKA, ROHIS, PMR dan sebagainya. Hingga universitas seperti BEM, SENAT, UKM, HIMA, LDK dan lain sebagainya. Hingga organisasi ekstra atau komunitas yang berada di luar sekolah atau luar kampus pun punya andil besar dalam perubahan sosial di masyarakat yang dilakukan oleh kelompok anak muda. Melalui komunitas dan organisasi tersebutlah anak muda bisa berkarya, berprestasi dan membuat perubahan (meski kecil) sesuai dengan wadah komunitas masing-masing.

Sebut saja beberapa kiprah dan kontribusi komunitas atau organisasi yang melibatkan pemuda di dalamnya seperti Forum Indonesia Muda (FIM), Gerakan Anak Muda Kreatif (Gerakin), Kitabisa.com, Gerakan Indonesia Mengajar, Sekolah Guru Indonesia, dan lain sebagainya. Komunitas-komunitas anak muda tersebut telah turut serta berperan dalam perubahan sosial di masyarakat dan menjadi bagian turut serta merawat Indonesia. Karena, dari pada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Itulah anak muda melihat masalah bangsa. Bukan hanya kritis melihat masalah, tapi memberikan solusi berupa tindakan dan karya yang nyata. Jika anak muda terus konsisten dan berkolaborasi dengan komunitas tersebut, maka bonus demografi dan Indonesia Emas pun akan benar-benar kita nikmati buah manisnya kelak. Sebagai penutup, teringat sebuah petuah Buya Hamka yaitu: “kepada pemuda, bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya, langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu…!”. Pemuda hebat, teruslah konsisten dalam berkontribusi dan kuatkanlah pribadimu dengan berkolaborasi bersama komunitas yang kamu geluti.