Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Sunday, 27 November 2016

Memahat Passion Menjadi Action


Setelah sekian lama meninggalkan kampus ini, hari ini bisa bernostalgia mengenang jejak-jejak perjuangan selama berada di kampus ini. Terima kasih kepada BEM Fabio Unsoed yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi dan sharing dalam seminar kepemimpinan hari ini (12/11/2016). Bicara kepemimpinan memang menarik. Terlebih dalam diri setiap manusia sudah tertanam benih leadership itu. Hanya saja butuh pengelolaan diri dan pengaturan dalam memanage leadership tersebut. Kepempinan diri dalam memahat passion menjadi action. Mengasah leadership diri dalam menyeimbangkan antara hardskill dan softskill. Melalui tulisan ini saya coba ingin berbagi materi yang saya sampaikan dalam seminar tersebut.

"Alhamdulillah, luar biasa, dahsyat, wow...wow... kerren..." jawab peserta seminar saat saya tanya kabar mereka. Kalau jawabannya baik, itu sudah biasa. Maka, jawablah dengan kata-kata kreatif tersebut, tegasku pada peserta. Jawablah dengan sesuatu yang berbeda, istimewa. Kata-kata itu mempengaruhi perilaku kita. Perilaku dan kebiasaan kita akan membentuk karakter kita. So, bangun karakter kita mulai dari kata-kata yang positif, right? Yuph, berpikirlah dengan otak kanan saat ditanya kabar kita. Begitu prolog pembuka saat saya memulai menyampaikan materi kepada para peserta mahasiswa yang rata-rata masih tingkat semester 1 hingga 6 ini.

Seperti ekspresi sosok pemuda yang penuh energik dan semangatnya berapi-api. Itulah pemuda yang diharapkan dalam tema Hari Sumpah Pemuda kemarin (2016) "Pemuda Indonesia, Menatap Dunia". Bagaimana caranya? Ada 3 hal yang harus dimiliki sosok pemuda untuk mencapai visi HSP tersebut. Apa saja? Pertama, kualitas integritas yang tinggi. Ketiga, kapasitas keahlian dan intelektual yang mumpuni. Ketiga, karakter kepemimpinan yang peduli dan profesional. Dalam seminar ini saya lebih banyak mengulas poin yang ketiga, yaitu KEPEMIMPINAN. Nah, poin ketiga inilah yang menjadi titik poin dalam pemaparan saya kali ini.

Pada tahap apersepsi (sesi pendahuluan), wah kayak pembelajaran ajah ada apersepsi segala, hehe. Apersepsi yang saya lakukan adalah dengan tanya jawab dan memutarkan video singkat tentang 17 tipe mahasiswa. Lalu saya ajak mereka untuk berpikir tentang dimanakah posisi mereka? Karena peserta seminar kali ini adalah mahasiswa biologi, maka saya pun memfokuskan karakter dan kebiasaan orang biologi sesuai dengan pengalaman saya sebelumnya juga. Sebagaimana kita ketahui, mahasiswa BIOLOGI adalah paling sibuk sedunia, bahkan kesibukannya mengalahkan mahasiswa kedokteran. Mengapa? Selain kuliah, juga disibukkan dengan praktikum, laporan, pengamatan, praktikum, laporan, pengamatan, tugas terstruktur, dan tugas-tugas lainnya.

“Kamu termasuk tipe mahasiswa yang mana?” tanyaku memancing rasa penasaran mereka. Berikut ini adalah beberapa tipe mahasiswa, mau pilih yang mana? Itu pilihan.
1.      Mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang - kuliah pulang)
2.      Mahasiswa kunang-kunang laboratorium (asisten)
3.      Mahasiswa kura-kura (aktivis)
4.      Mahasiswa  3 K (Kuliah – Kantin – Kos-kosan)
5.      Atau tipe lainnya......???

Mau pilih yang mana? Itu hak kalian. Mau kuliah saja, silahkan. Tapi kalau bisa selain kuliah, juga aktif di organisasi bisa ikut di UKM/BEM atau menjadi asisten. Kalau mau idealnya ikuti semuanya. Idealnya mahasiswa pemimpin adalah kuliah OK, IPK OK, organisasi OK, asisten OK dan kegiatan tambahan yang menjadi “passion” juga OK. Emang bisa meraih itu semua? Iya, sangat bisa. Gimana caranya? Manajemen leadership, itulah kuncinya.

            Karena pada dasarnya setiap diri kita sebenarnya punya jiwa leadership, tinggal bagaimana mengelolanya. Salah satu cara mengasah skill leadership dalam diri kita adalah dengan jalan ikut berorganisasi. Karena lewat organisasi itulah jiwa kepemimpinan kita akan terasah. Oya sebelumnya saya juga memberikan 4 pernyataan kepada para peserta terkait hardskill dan softskill. Saat kita kuliah, buatlah empat pernyataan berikut:
1.      Hardskill biasa saja, softskill juga biasa saja
2.      Hardskill bagus, tapi softskill biasa saja
3.      Hardskill biasa saja, tapi softkill yang bagus
4.      Hardskill bagus dan softskill juga bagus

Pilih yang mana dari keempat pernyataan tersebut? Kalau mau jadi biasa-biasa saja berarti cukup pilih nomor 1. Tentunya kalian pasti ingin yang keempat kan? Yaitu ingin hardskill bagus dan softskill juga bagus? Karena itulah kondisi idealnya. Dalam artian jika menjadi mahasiswa pemimpin yang ideal antara hardskill dan softskillnya bagus. Antara akademik (kuliah dan praktikum OK), organisasi OK, asisten OK dan aktivitas lainnya (yang sesuai passion) juga OK. Dalam artian meski kesibukan seabrek, tapi ke semuanya harus seimbang. Lalu bagaimana caranya untuk meraih itu semua? Manajemen leadership, adalah kuncinya.
           
            Apa itu manajemen leadership? Kemampuan mengelola dan mengatur kepemimpinan dalam diri. Untuk mengelola manajemen ini rumusnya adalah dengan 3 M. Apa itu 3 M...??? 3 M itu maksudnya adalah 3 Manajemen, yang meliputi Manajemen Diri, Manajemen Waktu dan Manajemen Waktu. Ketiga manajemen ini harus dikelola secara bersamaan, jangan terpisah. Manajemen diri kaitannya dengan bagaimana mengelola kepribadian diri, mengelola emosi dan menata semua seluk beluk yang berkaitan dengan diri pribadinya. Manajemen waktu berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi penggunaan waktu dalam setiap aktivitasnya sehari-hari. Yang ketiga adalah manajemen hati, ini terkait dengan mengelola hati baik hubungan dengan manusia lain (hablumminannas) maupun hubungan kita dengan Sang Pencipta (hablumminallah). Kenapa hati juga harus dikelola? Karena hati bukan hanya organ detoksifikasi, tapi ia adalah pengendali utama dalam tubuh. Jika organ itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuh yang lainnya. Begitu juga sebaliknya jika organ hati tersebut buruk, maka buruk pula seluruh tubuh itu. Begitu sabda Rasul dalam haditsnya. Karena hati ibarat raja bagi tubuh. Maka sudah sepatutnya juga harus dimanajemen.

Akhir kata untuk catatan singkat ini, terima kasih kepada para peserta yang sangat antusias. Pertanyaan demi pertanyaan yang menarik untuk dikaji dan diulas dalam seminar ini. Semoga sedikit sharing tersebut bermanfaat dan menginspirasi kalian semua. Sampai jumpa di lain kesempatan. Sebenarnya masih banyak yang belum tertulis terkait materi tersebut. Ada bahasan menarik terkait pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta. Semoga catatn singkat ini bisa berguna dan bermanfaat bagi yang ingin mengembangkan diri. Bagi yang berminat untuk diskusi lebih lanjut bisa menghubungi saya langsung atau lewat media website ini.

Sebagai pamungkas, tak ketinggalan pula buat adik-adikku para pengurus BEM Fabio Unsoed atas semuanya. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Terus tumbuh dan berkembang memantaskan diri serta menguatkan potensi diri lewat jalan organisasi tersebut. Jadilah generasi yang tidak hanya pandai dalam bermimpi, tapi juga menjadi generasi yang berbuat nyata dengan aksi, berkarya dengan inovasi dan bermanfaat dengan kontribusi. 



Purwokerto, 12 November 2016