Sunday, 27 August 2017

Dua Rasa Tujuh Asa: Refleksi Tanpa Henti


Tumbuh itu pasti, soal kuantitas. Seperti halnya usia yang berkurang. Apakah juga dibarengi dengan meningkatnya kualitas diri? Maka, jangan hanya tumbuh (secara kuantitas), tapi barengi juga dengan berkembang (meningkatnya kualitas). Berkembang secara akal, kedewasaan dan pola pikir. Jernihkan nurani, segarkan hati dan beningkan prasangka baik (khusnudhon) dalam menghadapi setiap persoalan. Berkembang keimanan dan ketakwaan dalam setiap langkah hidup. Berkembang fikriyah dan ruhiyahnya. Teruslah bersyukur, berbenah, bergerak dan berkarya. Bismillah. Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah.
Sebelumnya melalui untaian kata yang masih banyak khilaf ini, perkenankan diri pribadi ini mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua sahabat dan rekan sekalian atas ucapan, do'a dan harapannya. Semoga kebaikan juga menyertai sahabat sekalian. Karena tidak ada balasan kebaikan, selain kebaikan pula. Maka, teruslah tingkatkan saldo kebaikan kita. Mohon maaf bagi yg belum dibales ucapannya. “Selamat menempuh (fase) hidup baru” ujar pria kelahiran Tegal ini. “Teruslah menjadi pribadi pembelajar sejati”, seru hati memantapkan. Kalau disederhanakan lagi, “lakukanlah refleksi tanpa henti” kata organ detoksifikasi ini dengan penuh optimis.
Seperti saat mengendarai motor, jangan hanya fokus menatap ke depan. Sesekali juga harus menengok spion (melihat ke belakang). Lihat kanan-kiri sewajarnya juga. Begitu pun dengan kehidupan kita sehari-hari. Karena hidup adalah perjalanan, sudahkah sampai ke tujuan? Sudahkah menemukan hasil atas jerih payah yang telah dilakukan selama ini? Sudahkah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat? Jika belum, maka coba tengok sekali lagi kaca spion selama perjalanan setahun yang lalu. Lihatlah sejenak dengan diri ini sejak 12 purnama yang lalu hingga detik ini. Manakah yang lebih besar bobotnya antara manfaat (kebaikan) yang dilakukan dengan mudhorot (keburukan) yang diperbuat? “Astaghfiullah...” ucap nurani membisikanku.
Jika tepat setahun yang lalu (27/08/2016) diri ini meghadiri acara Awarding Gramedia Reading Comunity Competition (GRCC) 2016 di Gedung Teater A Perpustakaan RI mewakili Komunitas Saung Ilmu. Maka, untuk hari ini (27/08/2017) berada dalam barisan bersama para pemuda-pemudi hebat seantero negeri dalam acara Indonesia Youth Festival Forum (IYEF) Camp yang diselenggarakan oleh tim SGI (Sekolah Guru Indonesia) angkatan 21. Melewati perjalanan sejak kemarin siang dari Depok, Jakarta, lalu ke Bogor. Penuh rasa dan penuh sensasi yang menggetarkan hati hingga sore hari di hari ini ditutup dengan berkunjung ke sekolah lama dan bertemu dengan anak-anakku disana. Rasanya complicated dibuatnya.


Oke, tak perlu panjang kali lebar lagi menuangkan sebait unek-unek yang dari tadi pagi berseliweran di antara synaps dan ganglion dalam otakku ini. Sejenak diri ini teringat kembali dengan petuah pengingat diri. "Khaasibuu, qobla an tukhaasaabuu" begitu nasihat Sahabat Umar ini tiba-tiba teringat. Hisablah (dirimu), sebelum engkau dihisab (kelak). Introspeksi diri. Evaluasi diri. Syukuri. Mantapkan. Bismillah. Cemerlangkan diri menatap masa depan. Karena hari ini adalah hari dimana munculnya sebuah ide bernama “Dua Rasa, Tujuh Asa”. Apa itu? Secara filosofi sebenarnya sudah tersirat pada dua kata yang dibold (dicetak tebal), yaitu dua dan tujuh.
Dua rasa yang saling berlawanan (bertolak belakang atau berantonim), tapi selalu datang beriringan. Seperti yang terjadi dalam diri setiap insan. Setiap langkah perjalanan hidup selalu menghadirkan suka-duka, pahit-manis, susah-senang dan aneka lawan kata lainnya. Satu tahun telah berlalu, bulan demi bulan terus berjalan dan hari demi hari terus silih berganti. Lantas apa yang sudah saya lakukan selama ini? Apa yang telah saya perbuat? Apa yang sudah saya kontribusikan? Apakah langkah hidupku sudah dalam koridor yang benar? Ahh, rasanya begitu banyak beraneka macam pertanyaan yang ingin ditanyakan dalam diriku yang penuh dengan salah dan khilaf ini.

Dibalik dua rasa yang berantonim tadi, juga ada lagi dua rasa yang selalu bersama-sama. Yaitu Dua rasa yang saling berpasangan. Dua rasa tersebut adalah SYUKUR dan SABAR. Satu hal yang pasti adalah syukuri manakala mendapat suatu kebahagiaan atau kenikmatan yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Iya itulah yang harus selalu lisan ini ucapkan, hati ini rasakan dan perbuatan ini amalkan dengan penuh kesyukuran kepada-Nya. Alhamdulillah wasyukurillah. Temannya syukur adalah sabar. Sabar manakala mendapat suatu cobaan dalam hidup, halangan, rintangan dan problematika hidup lainnya yang terkadang menguras tenaga da pikiran. Tapi, manakala ada rasa sabar maka akan ada kelapangan dada dalam menyikapi setiap badai permasalahan yang datang. Sabar bukan berarti diam, tapi harus sabar yang aktif, sabar yang kreatif dan sabar yang inovatif dalam menemukan solusi atas problematika tersebut. Ishbiru washobiru waroobithu.

             Tentang pencapaian dalam hidup, apakah hanya sekedar tumbuh? Atau juga berkembang selama ini? Sungguh sangat rugi jika selama ini hanya tumbuh saja, bertambah secara usia, bertambah berat badannya atau bertambah tingginya. Iya, jika hanya itu saja, maka sungguh merugi. Tumbuh harus dibarengi dengan berkembang secara kualitas. Karena perkembangan berbeda dengan pertumbuhan, tapi keduanya berjalan seiringan. Perkembangan adalah soal kedewasaan, kematangan berpikir, ketakwaan yang meningkat dan yang jelas kualitas yang meningkat. Kualitas diri, kualitas iman, kualitas fikriyah, dan kualitas ruhiyah kita. Resapi, renungi, hayati dan refleksikan dalam diri dan hati nurani yang terdalam. Bismillah, laa khaula walaa quwwata illa billah.

Memasuki gerbang ke-27 ini jadi teringat dengan coretan-coretan lama yang sudah pernah ditulis sebelumnya. Gimana kabar mimpi-mimpiku? Gimana kabar target dan capaian yang ingin diraih? Tak terasa hampir dua bulan ini berada di tempat berjuang yang baru. Proses aklimatisasi masih berlangsung. Menganalisis diri memang perlu banyak perenungan. Belajar, berkarya dan berkontribusi. Menjadi pembelajar adalah terus mengevaluasi diri, kembangkan dan tingkatkan terus menerus. Insya Allah tekad itu akan terus menyala, semangat ini akan terus membara, cerminan diri hari ini pancarkan visi masa depan. Maka, sebagai pembelajar teruslah “ukur diri” dan “ukir prestasi” untuk meraih 7 asa yang ingin diraih dalam usia ke-27 ini. Apa saja ketujuh asa tersebut? (Tertulis dalam buku diariku....hehehe).

Inspirasi tanpa titik. Refleksi tanpa henti. Ganbareba, zettai dekiru....!! Percayalah semakin banyak amanah, akan menjadikan diri ini semakin profesional. Semakin banyak kesibukan, menjadikan kita semakin pandai mengelola waktu. Jadi, teruslah bertumbuh dan berkembang. Pantaskan diri, mantapkan pribadi untuk menggapai ridho-Nya. Let’s go Kang Amrul....!!! @^,^



Jakarta Timur, 27 Agustus 2017









0 comments: