Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Thursday, 30 August 2012

Kiprah Sang Alumni untuk Almamater


Siapa yang tak mengenal alumni? Sosok yang telah pergi (secara fisik), namun masih berperan besar dan memiliki potensi yang luar biasa bagi institusi atau lembaga (red-almamaternya) yang pernah ditempatinya (baik pendidikan formal, nonformal, maupun tempat bekerja, atau tempat lainnya). Keberadaannya pun sudah berhijrah ke tempat lain tapi bukan hilang begitu saja. Sudah lulus dari sebuah lembaga atau institusi yang pernah dia tempati sebelumnya. Itulah alumni. Baik alumni sebuah sekolah, universitas, pesantren, madrasah, atau yang lainnya ternyata tak pergi begitu saja. Bukan hanya sekedar meninggalkan jejak tanpa meninggalkan bekas sama sekali, atas ilmu atau apa saja yang telah didapatkan di tempat almamaternya tersebut. Akan tetapi kalau kita telusuri lebih mendalam kiprah dan peran alumni sangatlah penting bagi kemajuan dan keberlanjutan sebuah almamater yang ditinggalkannya itu.

“Peran alumni bagi sebuah pesantren sangatlah besar sekali, coba kita lihat kebesaran dan kesuksesan Universitas Al-Azhar Mesir (di tingkat internasional) atau Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo (di tingkat nasional). Kemajuan dan kesuksesan kedua institusi tersebut tak lepas dari peran dari para alumninya yang ikut andil dalam membesarkan nama almamater mereka” demikian papar Pak Asrori selaku ketua HIKMAH dalam sambutannya pada acara Halal Bi Halal HIKMAH (Himpunan dan Komunikasi Alumni Pondok Pesantren SALAFIYAH Kauman, Pemalang). Acara ini berlangsung pada hari Kamis, 5 Syawal 1433 H atau bertepatan dengan tanggal 23 Agustus 2012 bertempat di jerambah pondok putri. Acara HBH dan silaturahim tahun ini lebih banyak yang hadir dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kurang lebih sekitar 100 orang lebih alumni santriwan yang hadir mulai dari angkatan 1962 sampai dengan angkatan 2011 memenuhi jerambah ini. Akan tetapi kalau alumni yang santriwati hanya terlihat beberapa orang saja.

Acara ini dimulai dengan istighosah bersama, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, mauidhotul khasanah, hingga sarasehan bersama (gendu-gendu rasa) dan diakhiri dengan do’a penutup dan saling bersalaman. Kalau kita melihat dari jumlah dan sosok alumni, mungkin sudah banyak sekali alumni dari Pondok Pesantren Salafiyah Kauman Pemalang (baca: PPSKP-red) yang sudah berhasil, ada yang sudah menjadi kyai (baik kyai yang super lucu, setengah lucu, atau yang sangat serius), menjadi ustadz, menjadi pengajar, menjadi pengusaha, menjadi DPR, ada juga yang menjadi mahasiswa, dan lain sebagainya. Setidaknya itulah yang saya dapatkan dalam acara yang berlangsung penuh khidmat kali ini.

Beberapa point informasi penting yang disampaikan saat rembug bareng dengan beberapa alumni yang hadir adalah sebagai berikut:

v Setiap tanggal 5 Syawal ditetapkan sebagai acara rutin tiap tahun untuk silaturrahim dan halal bi halal HIKMAH (kecuali hari jum’at)

v Rencana (dalam beberapa tahun ke depan) pondok putri akan direnovasi dan dibuat gedung aula di atasnya (ditingkat) untuk kegiatan pertemuan seperti manasik haji kabupaten Pemalang, dan kegiatan pertemuan lainnya

v Akan ada peringatan milad pondok pesantren salafiyah kauman pemalang ke-80 tahun (berdasarkan kalender masehi) dan mengadakan serangkaian kegiatan seperti kirab santri.


Sunday, 12 August 2012

Metamorfomaba: Selamat Datang Maba, Selamat Memilih


Selamat datang maba, selamat memilih. “Pilihlah dengan bijak dan bijaklah dalam memilih”. Tak terasa UN telah berkahir. Begitu juga dengan SNMPTN, UMB, SPMB ataupun ujian masuk perguruan tinggi lainnya telah berhasil mereka taklukkan. Siswa-siswa yang telah diterima di kampus pilihannya masing-masing kini telah menjadi mahasiswa baru (baca: maba-red). Jauh sebelum ujian masuk perguruan tinggi dimulai maba ini sudah menentukan pilihan kampus favoritnya. Begitu juga dengan pilihan jurusan yang akan diambilnya. Inilah pilihan pertama yang telah dipilih oleh seorang maba. Karena pada dasarnya hidup ini penuh dengan pilihan. Menjadi mahasiswa baru juga merupakan pilihan dan pasti akan menghadapi berbagai pilihan yang mau tidak mau harus dipilihnya. Memilih pilihan yang terbaik dan tepat tentunya akan menjadi batu loncatan untuk menapaki dunia maba yang baru, yaitu dunia perkampusan. Sudahkah maba menyiapkan pilihan-pilihan terbaiknya?

Metamorfomaba, begitulah istilahnya yang sedang dihadapi oleh seorang maba. Metamorfomaba merupakan perubahan atau peralihan masa dari siswa menjadi mahasiswa baru. Perubahan atau peralihan ini tentunya bukan hanya sekedar berubah secara nama saja, akan tetapi harus berubah secara mental, karakter, pola pikir, kebiasaan, idealisme dan prinsip hidup yang akan dipilihnya untuk menjadi seorang mahasiswa. Selamat datang maba, selamat memilih pilihanmu. Kembali bertanya, sudahkah maba menyiapkan pilihan-pilihan terbaiknya?

Maba kembali memilih, setelah dinyatakan diterima dan sudah melakukan registrasi ulang di kampusnya. Yaitu memilih tempat tinggal baru (kos, kontrakan, atau asrama) bagi yang bukan penduduk pribumi tempat kampusnya berada. Tentunya juga tidak asal memilih tempat tinggal baru yang nyaman dengan fasilitas lengkap saja, akan tetapi harus diperhatikan mengenai kondisi tempat tinggal baru tersebut, penghuninya siapa saja, pemiliknya bagaimana, kondisi masyarakat sekitarnya, hingga sarana dan prasarana yang mendukung untuk kebutuhan jasmani atau rohani bagi dirinya. Lokasi boleh jauh dari kampus tapi diusahakan yang dekat dengan tempat ibadah (masjid atau mushola) agar kita senantiasa bisa berjama’ah setiap 5 waktu. Oleh karena itu diperlukan observasi terlebih dahulu sebelum menetapkan tempat tinggal baru yang akan kita tempati. Lingkungan yang baik akan membuat kita nyaman dan baik pula untuk ke depannya. Ingat, fenotip = genotip + lingkungan. Lingkungan disini bukan hanya tempat tinggal saja, akan tetapi meliputi kondisi masyarakat, teman, pergaulan, serta interaksi dengan orang lain.

Maba kembali memilih lagi. Ketika registrasi ulang maba pasti rasanya berkibar-kibar hatinya. Senangnya berkuadrat pangkat tiga, hehe. Menghirup suasana kampus baru, atmosfir baru, dan suasana baru. Berbeda dengan registrasi waktu SMA atau SMP dulu, registrasi maba penuh dengan keramaian (ramai warga yang menawari kos-kosan, ramai dengan stand-stand yang warna warni, dan pastinya ramai dengan kakak-kakak mahasiswa yang membagikan brosur). Ramainya seperti sebuah di stasiun ataupun terminal yang kedatangan penumpang baru turun. Disinilah maba kembali dihadapkan dengan berbagai pilihan. Mau pilih jurusan mana? Stand ospek, stand ukm, stand bem, stand organisasi daerah, atau stand organisasi lainnya? Jawabannya ada di maba itu sendiri. Mengisi brosur, bertemu dengan kakak mahasiswa yang murah senyum, ramah dan baik hati.


Maba kembali memilih lagi. Saat tiba waktunya OSPEK atau sekarang lebih dikenal dengan OSMB (baca: Orientasi Studi Mahasiswa Baru-red) merupakan masa yang penuh dengan dag dig dug deeer. Mengenakan atribut yang sudah ditentukan panitia, menaati peraturan yang ada, berangkat pagi, pulang sore (ada juga yang sampai malam), duduk yang manis, berdiri yang tegak, dan berbaris dengan barisan yang teratur. Menjadi agent of change, iron stoke, moral force, moral of value dan kata-kata mutiara lainnya didengung-dengungkan saat OSMB berlangsung. Inilah masa-masa pengembangan jati diri menjadi seorang mahasiswa. Kritis, solutif, peduli, tanggap, berjiwa sosial dan tanggung jawab, itulah kata-kata yang sering menjadi headline dan menjadi tujuan agar dimiliki oleh setiap maba. Itu hanya sekilas, masih banyak lagi yang akan didapatkan ketika OSMB berlangsung, yang jelas akan berdampak nyata pada diri seorang maba agar benar-benar menjadi seorang mahasiswa yang berkarakter. Masih seputar OSMB baik tingkat universitas maupun tingkat fakultas / jurusan, ada satu lagi momentum yang membuat maba harus menentukan pilihannya, yaitu saat adanya UKM EXPO (baik indoor maupun outdoor). Setiap UKM (baca: Unit Kegiatan Mahasiswa-red) sudah mendirikan stand-nya masing-masing dan menampilkan performa dan atraksi yang maksimal ketika demo oral. Semua UKM menampilkan dengan luar biasa dan sangat maksimal. Sebagian maba hanya bisa terpukau melihatnya dan ada yang tertarik untuk ikut UKM tersebut, ada juga yang tidak tertarik sama sekali. Iya, itulah pilihan lagi bagi setiap maba. Inilah saat-saat yang menentukan bagi maba untuk melangkah ke depannya menjadi seorang mahasiswa:
 Apakah akan menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja?
 Apakah akan menjadi mahasiswa yang study-oriented?
 Apakah akan menjadi seorang aktivis kampus?
 Apakah akan menjadi mahasiswa yang berwirausaha juga?
 Apakah akan menjadi mahasiswa yang berprestasi?

--> -->
Itu semua adalah pilihan yang harus dipilih oleh seorang maba dan jawabannya juga ada pada masing-masing maba. Kalau bisa jangan hanya menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja yang terkenal dengan istilah mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) atau hanya mengenal 3K (Kuliah, Kantin, Kos-kosan). Ada juga istilah lain tentang kehidupan mahasiswa, yaitu mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat-kuliah-rapat), atau kula-kula (kuliah-lab-kuliah-lab), atau ada juga istilah kunang-kunang (kuliah nangkring - kuliah nangkring). Lagi-lagi itu semua hanyalah pilihan yang harus dihadapi oleh seorang maba. “Pilihlah dengan bijak dan bijaklah dalam memilih”. Hardskill saja tidak cukup, tapi harus didukung pula dengan softskill. Hardskill dan softskill juga tidak cukup, tapi harus didukung pula dengan integritas, attitude, dan karakter yang baik (akhlakul karimah). Kalau bisa jadilah mahasiswa yang luar biasa, berkontribusi dan bermanfaat untuk kemaslahatan bangsa dan umat.

Monday, 6 August 2012

MENJADI MODERATOR dalam BEDAH BUKU “BISIK RINDU DARI CELAH GINKGO”


Minggu (5/8/2012) suasana Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unsoed ramai seketika. Iringan suara nasyid bergema dari dua buah sound system yang berdiri di aula PKM ini. Puluhan mahasiswa datang menghampiri acara bedah buku dan buka bersama yang diadakan oleh Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Unsoed. Mahasiswa umum, undangan dari perwakilan tiap UKM dan LDF se-Unsoed serta anak-anak TPQ Tombo Ati Karangklesem turut memeriahkan acara ini. Asep Koharudin, selaku ketua panitia bedah buku ini dalam sambutannya mengatakan bahwa buku “Bisik Rindu dari Celah Ginkgo” adalah sebuah buku antologi cerpen pertama yang bertemakan tentang aktivis dakwah kampus yang merupakan kumpulan cerpen-cerpen terbaik dari Gebyar Kreasi Cerpen Tingkat Nasional (GKCTN) yang diadakan oleh Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Unsoed pada tahun 2011. Juri yang menilai pada waktu itu terdiri atas 3 dewan juri yaitu Mba Afifah Afra (Penulis, Novelis dan Cerpenis Nasional), Bapak Imam Suhardi, M.Hum (dosen Sastra Indonesia Unsoed) dan Ibu Siwi Mars Wijayanti, M. Kes (Dosen pemerhati cerpen dan penulis novel Koloni Milanisti). Jumlah peserta yang mengikuti GKCTN ini berjumlah 80 peserta yang berasal dari 37 universitas yang berbeda dan kemudian hanya 20 karya cerpen terbaik inilah yang dibukukan menjadi buku yang berjudul “Bisik Rindu dari Celah Ginkgo”. Buku ini juga sebelumnya sudah pernah dilaunching perdana di acara IMSS (Internasional Muslim Student Summit) 2012 di ITB, bulan Juli kemarin dan berhasil terjual sekitar 80 buku.

Pak Abdul Rohman selaku Pembina UKKI Unsoed dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terbitnya buku ini. Beliau juga menyambut baik hadirnya buku ini yang merupakan hasil dari kreativitas para mahasiswa yang dapat digunakan sebagai sumber inspirasi bagi yang lainnya. Pembantu Rektor III Unsoed, Bapak Imam Santosa menambahkan bahwa buku ini sarat dengan pesan dan motivasi yang bermakna. Semoga buku ini bisa memacu terus semangat dalam menghasilkan prestasi-prestasi yang lain dan menjadi buku yang bermanfaat buat mahasiswa khususnya dan masyarakat umumnya, paparnya. Seusai pemutaran video yang berisi tentang proses pembuatan buku ini, acara dilanjutkan dengan acara inti yaitu bedah buku “Bisik Rindu dari Celah Ginkgo” yang dimoderatori oleh साया sendiri. Iin sapaan akrab Sekretaris Umum UKKI ini membacakan Curiculum Vitae pembicara yang penuh dengan prestasi dan kompeten dalam bidang kepenulisan. Mereka bertiga adalah finalis tiga besar GKCTN 1 yaitu A’la Dzunnuroin dari LIPIA (Lembaga Pendidikan Islam dan Bahasa Arab) Jakarta, yang merupakan juara 1 GKCTN 1, Marisa Dwi Kusuma W. dari IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Jakarta selaku juara 2 GKCTN 1, dan Muzakki Bashori dari UNNES (Universitas Negeri Semarang) selaku juara 3 GKCTN 1.

Ketiga penulis ini secara bergiliran memaparkan mengenai pengalamannya tentang menulis, sumber ide pembuatan cerpen hingga isi dan pesan moral dari cerpen yang mereka buat tersebut. Dalam pemaparannya, a’la yang menulis cerpennya dengan judul “Dibawah Naungan Ukhuwah” menceritakan tentang ide pembuatan cerpennya berawal dari kejadian yang sudah pernah terjadi dan terinspirasi dari sebuah hadits nabi tentang 7 golongan yang akan mendapat naungan di hari kelak nanti. A’la juga menambahkan tentang resep menulisnya yaitu harus banyak membaca, berdiskusi dan menulis dalam diari. Muzaki juga memaparkan hal yang sama tentang ide cerpennya yang berjudul “Dilema Seorang Ikhwan” yang mengangkat ceritanya dari realita sosial yang ada yaitu tentang gays dan dilemma yang dihadapinya hingga akhirnya mendapatkan sebuah pencerahan. Zaki menambahkan bahwa untyuk menulis itu jangan sekedar menulis saja, akan tetapi harus mengandung makna dan pesan moral yang bisa diambil oleh pemabaca. Marisa menambahkan dalam pemaparan cerpennya yang berjudul “Ben(c)i” merupakan hasil karyanya yang terinspirasi dari kisah hidupnya yang pernah dialaminya dan kejadian sekitarnya tinggal. Risa juga menambahkan bahwa ketika menuliskan seseorang jangan hanya melihat dari sudut pandang luarnya saja tapi lihatlah dari sisi batinnya juga dan yang terpenting ketika menulis adalah harus ada ibroh (pelajaran) yang dapat kita petik.

Diskusi semakin seru dan menarik dalam membedah buku ini ketika Pak Edi Santoso (pemimpin redaksi majalah Tarbawi) juga hadir ditengah-tengah acara bedah buku ini. Pak Edi yang juga merupakan penulis kenamaan dan tokoh penulis yang sudah sangat berpengalaman dan berkecimpung dalam dunia tulis menulis sejak beliau menjadi mahasiswa. Beliau memaparkan bahwa dengan hadirnya buku ini menunjukkan adanya suatu kemajuan dalam bidang menulis terutama di kalangan aktivis dakwah kampus dan menunjukkan adanya semangat untuk merubah peradaban zaman lewat literatur berupa buku ini. Pak Edi juga menambahkan secara umum buku ini memiliki keunikan tersendiri dan kreativitas yang berbeda-beda walaupun terlihat adanya unsur kesamaan tema atau kisah yang diangkat oleh masing-masing penulis. Gaya penulisan yang disampaikan setiap penulis memiliki cirri khas tersendiri dan yang terpenting dalam sebuah tulisan adalah harus memiliki pesan moral yang ingin disampaikan, adanya refleksi yang kuat di ending atau akhir cerita, dialog yang mengalir walaupun singkat yang penting padat akan makna, tambah beliau.

Para peserta yang hadir dalam bedah buku ini sangat antusias ketika sesi diskusi dibuka. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepada para penulis yang luar biasa ini. Dengan kepiawaiannya para penulis ini pun dengan sigap dan cermat memaparkan jawabannya secara bergantian. Usai acara bedah ini berlangsung dilanjutkan dengan kultum sebelum menjelang buka puasa yang diisi oleh Ustadz Agus Supriyadi. Setelah itu dilanjutkan dengan buka bersama dengan anak-anak jalanan TPQ Tombo Ati Kampung Sri Rahayu, Karangklesem Purwokerto Selatan dan pemberian donasi bantuan kepada mereka yang diberikan kepada Bapak Musyafa selaku Pembina dan pengelola TPQ Tombo Ati Yayasan Srirahayu, Purwokerto Selatan. Dana donasi ini berasal dari hasil penjualan buku “Bisik Rindu dari Celah Ginkgo”. Rencananya buku ini juga akan diterbitkan lagi untuk cetakan yang kedua setelah semua cetakan pertama ini sudah terjual semua.