Tuesday, 18 September 2012

SSi (Semangat, Sabar, Ikhlas) Berbuah Prestasi

Semangat itu ibarat oksigen, tak bisa dilihat tapi bisa dirasakan dan mampu menghidupkan motivasi yang tak pernah padam। Satu kata, tetapi mempunyai sejuta makna yang luar biasa. Itulah kekuatan dahsyat yang mampu mengalahkan hambatan, tantangan, dan rintangan hidup. Walau cobaan hidup itu begitu berat untuk dipikul, kalau kita semangat menghadapinya dengan sungguh-sungguh maka masalah itu pun akan mudah kita atasi. Semangat itulah yang telah mengantarkanku sampai pada puncak-puncak impian yang telah aku raih sampai sekarang ini. Sebuah impian yang pada awalnya hanya menjadi sekumpulan mimpi yang mengumpul dalam benak otak. Mimpi itu awalnya hanya bisa dirasakan oleh hati dan mengalir begitu saja melewati aliran darah yang tak pernah terwujud sama sekali.


Aku ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi, punya banyak pengalaman, dan kenangan yang tak terlupakan. Begitulah serangkaian kata yang berbaris penuh dengan semangat ini terlontar saat pertama kali aku menjadi mahasiswa. Padahal ketika masih di SMA, aku hanyalah siswa biasa-biasa saja, tak punya prestasi, tidak ikut organisasi dan tak pernah berkompetisi sama sekali. Bagaimana mungkin aku bisa berprestasi tanpa ada pengalaman sebelumnya? “Kalau ada kemauan disitu ada jalan, kalau kita niat dengan sungguh-sungguh, pasti bisa”. Itulah tekad semangatku waktu itu। Salah satu cara yang harus aku tempuh adalah aktif di berbagai kegiatan kampus, yaitu menjadi seorang aktivis. Semester 1 aku putuskan untuk bergabung di beberapa kegiatan ekstrakurikuler, baik organisasi intra kampus (tingkat fakultas dan universitas), hingga organisasi ekstra kampus tingkat provinsi.


Aku tak peduli dengan pendapat teman-temanku yang enggan untuk berorganisasi dengan alasan akan mengganggu akademiknya (kuliah dan praktikum) sehingga nilainya akan merosot। Menurutku anggapan itu kurang tepat, karena semua itu tergantung bagaimana manajemen diri kita. Resikonya menjadi mahasiswa eksak memang sibuk dengan aktivitas kuliah, praktikum, pengamatan, dan tugas-tugas dari dosen. Aku pun tetap pada pendirianku yaitu tetap menjadi aktivis, karena yang terpenting adalah bagaimana manajemen waktu kita, mengatur diri, mengelola hati dan pikiran agar senantiasa tercapai semuanya. Akademik baik, aktivitas organisasi lancar, dan tentunya prestasi juga harus bisa aku raih. Itulah komitmen yang aku bangun hingga semester 3 guna meraih prestasi yang aku inginkan.


Banyak hal yang aku dapatkan selama menjadi aktivis yaitu tentang manajemen diri, disiplin, kerjasama, tanggung jawab, bersosialisasi, kekeluargaan, dan relasi yang luas. Hingga semester 4 aku masih komitmen dengan aktif di berbagai kegiatan organisasi tersebut. Rasanya masih kurang jika hanya kuliah dan aktif di kegiatan organisasi saja, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menambah kesibukanku yaitu mendaftar menjadi seorang asisten dosen. Dengan penuh semangat aku memberanikan diri untuk mendaftar seleksi asisten Struktur Perkembangan Tumbuhan (SPT) dan mengikuti semua rangkaian yang ada. Ternyata modal semangat saja tak cukup untuk meraih apa yang aku inginkan. Nasib berkata lain, aku gagal dan tidak diterima dalam seleksi asisten SPT tersebut. Apa boleh buat, aku harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Walau semangat tak pernah goyah, namun ternyata masih ada satu yang harus dilakukan yaitu sabar. Sabar menghadapi apa yang sudah terjadi, sabar ketika kegagalan datang menerjang. Hanya sabarlah yang bisa menjadi teman ketika kegagalan datang। Kegagalan ini adalah pelajaran berharga untuk menapaki pendaftaran asisten pada mata kuliah yang lainnya. Tak lama kemudian, ternyata ada pendaftaraan asisten Mikrobiologi, dan aku pun langsung mendaftar dan mengikuti semua rangkaian tahap seleksinya. Berkat semangat berkelanjutan dan sabar yang tak pernah padam akhirnya aku pun diterima menjadi asisten Mikrobiologi. Lengkap sudah kesibukanku sekarang dan menjadi bertambah padat, yaitu akademik, aktivis, dan asisten. Semuanya harus aku lalui dengan penuh semangat dan sabar sebagai penyeimbangnya.


Menjadi aktivis sudah, menjadi asisten juga sudah, tapi kapan aku bisa berprestasi dalam bidang yang aku inginkan? Apa cukup dengan menjadi aktivis dan asisten bisa dikatakan berprestasi? Pertanyaan ini kembali muncul tatkala aku memasuki semester 5। Hingga akhirnya, ditengah kesibukanku yang berkecamuk aku mencari informasi lomba dan kompetisi yang bisa aku ikuti. Sekali dua kali aku mencoba mengikuti kompetisi yang ada, akan tetapi selalu gagal. Apa yang salah, dimana letak kekurangannya, atau kurangnya kreativitas yang aku miliki. Aku selalu evaluasi diri setiap kali kegagalan menghampiriku. Mungkin belum waktunya aku meraih prestasi itu, suatu saat aku pasti bisa meraihnya. Tetap sabar saja menghadapi semua hasil ini. Walau pahit, pasti suatu saat nanti aku bisa mendapatkan prestasi yang manis. Begitulah semangat dan sabar selalu menjadi teman setiaku baik suka maupun duka.


Hingga akhirnya waktu yang aku tunggu pun datang juga। Aku terus mencoba mengikuti berbagai lomba baik tingkat fakultas hingga tingkat nasional. Alhamdulillah, berkat kegigihan, kesungguhan, serta semangat dan sabarku ini, akhirnya satu demi satu prestasi berhasil aku taklukkan, diawali dari juara 2 lomba jurnalistik menulis surat tingkat fakultas, juara 1 LCT dan juara 1 LKTI tingkat universitas, hingga juara 3 LKTI tingkat nasional. Semua prestasi ini aku raih dalam tahun yang sama. Alhamdulillah luar biasa, lantaran semangat tinggi dan sabar yang selalu di hati aku bisa meraih semua prestasi ini. Lantaran prestasi inilah aku juga dicalonkan menjadi kandidat mahasiswa berprestasi (mapres) tingkat Fakultas Biologi Unsoed saat semester 6. Aku tak menyangka sebelumnya, bisa menjadi kandidat mapres bersama para kandidat lainnya yang berjumlah 30 orang. Hanya mahasiswa terpilihlah yang bisa meraih gelar ini. Seleksi mapres ini cukup ketat sekali dengan dewan juri yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing. Alhamdulillah berkat kerja keras, usaha dan jerih payah yang maksimal dalam menghadapi seleksi mapres ini, aku mendapatkan juara 3 Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas Biologi Unsoed.


Semangat dan sabar benar-benar menjadi motor penggerak untuk meraih impian dan prestasi yang aku inginkan। Keduanya selalu beriringan dan menemaniku setiap menapaki langkah ini. Hingga akhirnya pada saat semester 7 pun aku kembali meraih prestasi-prestasi yang gemilang, yaitu lolos sebagai finalis dalam berbagai ajang lomba karya tulis ilmiah dan berhasil lolos dalam ajang menulis antologi buku. Alhamdulillah wasyukurillah, aku pun dipercaya untuk menjadi pembicara dalam beberapa kegiatan tentang riset dan ilmiah lantaran pengalamanku yang sudah pernah juara. Semester 8 aku kembali dicalonkan menjadi kandidat dalam ajang seleksi mahasiswa berprestasi (mapres). Aku memiliki optimistis yang tinggi dan berharap bisa meraih juara 1 mapres tingkat fakultas dan tingkat universitas sehingga bisa mewakili kampusku untuk ke tingkat nasional. Ada 4 kriteria untuk menjadi mapres, yaitu nilai Indeks Prestasi Kumulatif (20%), karya tulis (30%), kegiatan ko-ekstra kurikuler (25%), dan kemampuan berbahasa Inggris (25%). IPK yang aku raih sudah cukup lumayan, karya tulis dan prestasi-prestasi juga sudah aku punya, ditambah lagi kegiatan ekstrakurikuler aku yang paling banyak, akan tetapi aku masih minim dalam berbahasa Inggris. Ajang pemilihan mapres ini pun begitu ketat persaingannya. Ternyata rasa optimisku yang tinggi hasilnya tidak begitu memuaskan karena aku hanya berhasil meraih juara 2 dalam ajang pemilihan mapres ini. Pupus sudah impianku untuk meraih gelar juara 1.


Awalnya aku sempat kecewa dengan hasil pengumuman mapres tersebut, tapi apa boleh buat. Aku memang cuma bisa meraih juara 2, bukan juara 1. Aku mencoba sabar menghadapi hasil tersebut, ternyata sabar saja tidak cukup untuk menenangkan hatiku ini. Sabar menerima hasil yang tidak sesuai dengan hati memang terasa berat, dan sepertinya ada yang kurang atas sikap yang harus aku utarakan lagi. Iya, sepertinya selain sabar aku juga harus ikhlas atas semua keputusan ini. Ikhlas menerima kekalahan, ikhlas ketika orang lain yang mendapat juara, dan ikhlas untuk senantiasa lapang dada. Kalau aku terus mengeluh aku tidak akan bisa bangkit lagi untuk meraih prestasi yang lain lagi. Aku jadi teringat saat seleksi mapres kali ini, yaitu salah satu juri berpesan kepadaku “jangan pernah bosan menghadapi setiap kegagalan, karena kegagalanlah yang akan membesarkan hati kita untuk bisa melangkah kesuksesan selanjutnya”. Sepertinya pesan juri tersebut juga mengisyaratkanku untuk berlaku sabar dan ikhlas untuk menghadapi keputusan yang telah juri tetapkan। Ikhlas telah kembali membangkitkan semangatku untuk terus berkarya dan berprestasi di bidang selanjutnya.


Setelah ajang pemilihan mapres ini usai, tepatnya satu bulan kemudian aku kembali mencoba mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah lagi dan alhamdulillah aku lolos sebagai finalis dan berhak mempresentasikan karyanya di Universitas Indonesia Depok. Mungkin inilah jawaban atas ikhlas yang telah aku ucapkan. Ikhlas yang telah mengantarkanku untuk bersikap menerima segala keputusan yang ada. Tiada ku sangka sebelumnya, alhamdulillah dalam ajang ini aku mendapatkan gelar juara 2 kategori presentasi orasi tingkat nasional. Suatu kebahagiaan yang luar biasa. Ini adalah obat berharga yang telah menyembuhkanku menjadi orang yang senantiasa berlaku semangat, sabar, dan ikhlas dalam menggapai setiap prestasi yang akan aku raih.

2 comments:

nengnongg said...

jangan padamkan semangat mu mas,
ketika gagal datang, di situlah pintu kesuksesan menyapa :)

Iin Amrullah Aldjaisya said...

Oke ran, tetap SEMANGAT BERKELANJUTAN