Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 22 July 2013

Merancang Peta Hidup Bersama Remaja Super

Buat apa punya mimpi? Buat apa bikin peta hidup? Pakai ditulis-tulis segala, dan dipasang di tembok kamar? Buat apa coba? Ini adalah persepsiku dulu waktu ikut training kala masih menjadi mahasiswa baru. Silih berganti, proses demi tahap berjalannya metamorfosis kehidupanku, ternyata punya mimpi dan peta hidup itu bikin alur hidup kita lebih terarah, yang penting luruskan dulu niatnya, dan aksi nyata bukan sekedar pajangan belaka penghias tembok kamar. Ya, begitulah yang aku lakukan. Awalnya aku hanya menuliskan mimpiku dalam otak dan hati saja. Ya, dalam ingatan dan balutan rasa yang dalam. Tapi ternyata, itu mudah lupa dan bisa hilang seketika oleh pengaruh lingkungan, sehingga perlu dikasih barier (wah, jadi mirip topic skripsiku, hehe). Maksudnya perlu ditulis juga dalam selembar kertas, buku diari, dan  green_nb (si laptop kecilku). Kenapa perlu ditulis? Ya, betul agar kita jadi inget terus. Walaupun ga inget, setidaknya deretan tulisan mimpi itu yang mengingatkan kita sewaktu-waktu.

            Sekarang, apa tujuan hidupmu? Impianmu? Mimpimu? Cita-citamu? Rencana hidupmu ke depan? demikian, pertanyaan ini aku tanyakan pada anak-anak dan remaja Pabuaran, Purwokerto utara dalam acara Remaja Super yang bertemakan “Sukses, Maju, Mandiri” yang diselenggarakan oleh PKPU Purwokerto. Kebetulan aku menjadi panitia dan pengisi acara juga dalam acara ini. Ahad, 21 Juli 2013 puluhan anak-anak dan remaja yang berusia SD, SMP dan SMA ini berkumpul di Mushola Firdaus Pabuaran, Purwokerto Utara. Kegiatan ini berlangsung dari pagi sampai sore hari ditutup dengan berbuka puasa bersama.

            “Tepuk konsentrasi…!!! Konsentrasi…. (pruk… pruk… pruk…), Konsentrasi…. (pruk… pruk… pruk…), hati-hati…. (pruk…pruk..pruk…), kita mulai… (pruk…pruk..pruk…), perkenalan (pruk…pruk..pruk…)” kataku mengawali perkenalan dengan mereka. Sambil bertepuk tangan, satu per satu mengenalkan dirinya. Usai perkenalan, dan ice breaking senam otak yang dipandu oleh MOT acara ini (Ryan Rudayana), para peserta diajak ke luar menuju lapangan untuk pembentukan kelompok, pembuatan yel-yel dan pemanasan awal.

            Acara sesi pertama adalah penyampaian materi tentang “Key To Succes (Membongkar Mitos Menuju Sukses)” yang diisi oleh pak Riyadi, S.Pt. Sarjana peternakan Unsoed ini mengawali pemaparannya dengan menanyakan kabar kepada para peserta. Kalau ditanya kabar, jawabnya “Alhamdulillah……, Sukses……, Wow keren…..” paparnya dan diikuti oleh semua peserta. Orang miskin tidak bisa sukses? Anak orang miskin tidak bisa kuliah? Itu adalah mitos lama. Mari kita bongkar mitos tersebut, paparnya. Ada 3 point utama yang disampaikan oleh beliau, yaitu jika kita ingin sukses harus memiliki DPA (Dream, Pray, & Action). Meski keluarga kita tidak mampu, tapi jangan takut untuk bermimpi, karena banyak jalan untuk menuju kesana yang penting kita harus punya keberanian dan bermimpi yang tinggi. Setelah punya mimpi, langkah selanjunya adalah Pray (Berdo’a). Berdo’alah dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT setiap hari, kalau bisa setiap sehabis kita sholat. Do’akan mimpi-mimpi tersebut, agar bisa dikabulkan, dimudahkan dan diridhoi oleh Allah SWT. Setelah bermimpi dan berdo’a, tahap selanjutnya yang paling penting adalah action. Berusaha dengan penuh kesungguhan, pantang menyerah dan tak kenal lelah.

            Sesi kedua berbagi pengalaman tentang Succes Story yang disampaikan oleh saya dan Ryan Rudayana. Kedua pemateri ini menceritakan pengalaman hidupnya masing-masing ketika menjadi mahasiswa dengan sudau pandang yang berbeda. Ryan lebih banyak menyampaikan pengalaman suksesnya sebagai entrepreneur selama menjadi mahasiswa. Selain menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian Unsoed, Ryan juga pernah menjalankan usaha berdagang seperti berjualan jagung bakar, ice jelly dan kue dorayaki. Mahasiswa asal Majalengka ini menuturkan bahwa usahanya itu dilakukan dengan mendorong gerobak yang bertempat di depan Masjid Nurul Ulum Unsoed dan kalau dorayaki dikirim ke kos-kosan temannya. Hingga saat ini dia juga sedang mengembangkan usaha barunya yaitu tas laptop multifungsi yang baru saja mendapat suntikan dana dari kegiatan Teknopreneurship Unsoed. Selain itu, dia juga tergabung dalam forum ‘UYE’ atau Unsoed Young Entrepreneur.

Sekarang giliran aku yang berbagi pengalaman. Kalau Ryan lebih banyak bercerita tentang jiwa entrepreneurnya, kalau aku berbagi kisah tentang perjalanan mimpiku dalam kegiatan lomba dan ajang kompetisi menulis. Berawal dari mimpi, niat dan kesungguhan yang pernah aku lakukan. Membangun mimpi sejak pertama kali menjadi mahasiswa, yaitu ingin memenangkan lomba karya tulis tingkat nasional. Langkah-langkah itu aku lakukan step by step. Hingga akhirnya aku berhasil memenangkan lomba menulis tingkat fakultas, kemudian universitas, hingga akhirnya aku juga bisa memenangkan lomba karya tulis tingkat nasional. Beberapa kota yang aku jelajahi dengan tiket lomba karya tulis seperti Surabaya, Yogyakarta, Makassar, dan Jakarta. Lantaran lomba karya tulis juga aku pertama kalinya bisa naik pesawat terbang saat PIMNAS di Makassar. Selain itu aku juga menceritakan pengalamanku dalam lomba menulis yang menghasilkan 7 buah buku antologi yang sudah diterbitkan sampai saat ini. Padahal dulu saat SMA aku hanyalah siswa biasa saja, tak punya prestasi, tidak ikut organisasi dan tak pernah ikut lomba sama sekali. Tapi keadaan berubah ketika menjadi mahasiswa, tatkala aku mulai merancang mimpi. Kalau ada kemauan, niat, dan kesungguhan yang kuat kita bisa kok mendapatkan impian kita. Kalau kita mau….., kita ingin…., kita punya mimpi…., gedein dong usahanya, mantepin do’anya, sungguh2in ikhtiarnya. Ya, yang pasti take action dan teruslah berproses dalam ikhtiar yang kita lakukan.

Bukan yang lebih tajam, tapi yang lebih besar bersungguh-sungguhnya” demikian cuplikan kata yang cukup memotivasi para peserta dalam sesi nonton film bersama yaitu film Negeri 5 Menara. Kayu yang besar ketika dipotong dengan pedang pun tidak bisa sekali, harus berkali-kali dan bersungguh-sungguh dalam memotongnya. Itulah kesungguhan. Ya, “Man Jadda Wajada” berkali-kali kata ini diungkapkan dalam film tersebut. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil. Film N5M ini cukup menyengat motivasi para peserta.

Sesi terakhir sebelum berbuka puasa bersama adalah sesi materi tentang merancang peta hidup yang disampaikan oleh saya sendiri. Kenapa kita harus bikin peta hidup? Apa tujuan hidup kita? Apa cita-cita dan impian kalian? Sudahkah menyiapkan rencana untuk menggapai semua itu? Setidaknya kita masih ingatkan dengan tujuan hidup manusia? Iya, untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat yang lainnya berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr : 18). Sudahkah kita menyiapkannya? Masih ingat kan dengan pesan Rasulullah SAW dalam haditsnya: “Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren, maka ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemaren, maka ia merugi. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemaren,  maka ia beruntung”

Salah satu tujuan membuat peta hidup adalah agar hidup kita lebih terarah dan memudahkan langkah-langkah kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.  Sebelumnya saya memutarkan video 1001 motivasi yang penuh inspirasi tentang sebuah mimpi yang ditulis dalam selembar kertas karya Mas Danang (IPB). Apa saja yang kita impikan dan kita targetkan dalam hidup kita selama 1 pekan ke depan, 1 bulan, 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 50 tahun nanti? Tidak ada salahnya kalau kita tuliskan dalam daftar mimpi dalam selembar kertas seperti yang dilakukan oleh Mas Danang (IPB) dalam video tersebut, hingga akhirnya dia pun bisa mewujudkan mimpinya sampai ke negeri sakura, Jepang. Pada akhir sesi ini, para peserta diminta untuk menuliskan mimpi dan impiannya.  Mereka diberi waktu setengah jam untuk menulisnya di atas kertas. Setiap peserta kumpul dengan kelompoknya msg2. Siapkan kertas dan alat tulis. Tentukan targetan yg ingin dicapai (pekan, bulan, tahun, 5 tahun, 10 tahun, dst). Tuliskan pada selembar kertas. Tempel di kamar msg2. Laksanakan dan take action. 

Setelah selesai menulisnya, sebagian mereka ada yang maju ke depan untuk mempresentasikan daftar mimpi yag ditulisnya dan para peserta yang lain mengaminkan dan mendo’akannya secara bersama-sama. Kegiatan ini diakhiri dengan buka puasa bersama.


Saturday, 6 July 2013

Ternakkan Amalmu di Bulan Ramadhan

Aroma bulan yang sangat istimewa ini sudah tercium harumnya. Bulan yang penuh berkah, penuh ampunan, dan bulan yang suci ini akan segera datang. Ramadhan namanya. Sudah sejauh mana persiapan kita menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini? Targetan apa saja yang akan kita lakukan pada bulan puasa kali ini? Mari kita sama-sama menyambut bulan yang penuh maghfiroh ini dengan penuh suka cita dan meningkatkan amal-amal kita. Luruskan niat, benahi hati, sucikan pikiran.

Andai Ramadhan itu SISTEM, INPUT-nya iman, PROSES-nya puasa, dan OUTPUT-nya takwa. Jika berpuluh ia lewat dan takwa belum tergapai, apa yang eror? Bisa jadi galat ada dalam PROSES-nya, maka mari benahi puasa kita. Tapi jangan-jangan INPUT kita lebih tak beres, maka iman itu perlu dibarukan. Melestarikan Ramadhan; semangat berinfak yang lebih besar daripada gairah berbelanja, semangat beribadah yang tak dikalahkan gairah berhura. Selamat merenda takwa Shalihin-Shalihat. Demikian Ustadz Salim A. Fillah memaknai Ramadhan yang tersimak dalam bukunya yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna”.

Sudah siapkah bekal kita menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan? Persiapkan dirimu! “Ternakkan amalmu di Bulan Ramadhan” begitu tema ini diangkat dalam Tabligh Akbar yang digelar oleh LDF SALAM Fakultas Peternakan Unsoed (Sabtu, 6 Juli 2013) dengan Pembicara Ustadz Nizam Zulfikar dari Yogyakarta. Da’i muda ANTV ini mengawali ceramahnya dengan mengingatkan akan dua nikmat yang paling sering dilalaikan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan nikmat kesempatan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan/umur” (H.R. Bukhari). Sejauh mana kita memanfaatkan waktu dan usia kita selama ini? Sarjana Fisipol UGM ini menanyakan kepada para hadirin, “sampai detik ini, sudah berapa tahun usia kita?” “sudah berapa usia ilmu kita?” “berapa tahun usia yang kita gunakan untuk memperoleh ilmu?” coba bandingkan lebih banyak mana usia ilmu kita dengan usia nonton TV? Lebih banyak mana usia ilmu kita dengan banyaknya waktu tidur kita?

Coba kita lihat dan renungkan, Imam Syafi’i yang di usia 9 tahun sudah mampu menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an. Usia 15 tahun beliau sudah diangkat menjadi mufti/hakim yang berhak memutuskan perkara. Bukankah 24 jam yang dimiliki Imam Syafi’i sama dengan 24 jam yang kita miliki? Terus, bukankah 24 jam-nya mahasiswa dengan predikat IPK Cumlaude sama dengan 24 jam-nya mahasiswa dengan IPK kemelut…? Iya, 24 jam-nya memang sama, tapi yang beda adalah sejauh mana kita mengoptimalkan waktu yang kita miliki tersebut. So, manfaatkanlah waktu dengan baik agar menjadi pribadi yang full manfaat dan umur menjadi full barokah.

Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah agar menjadi orang yang bertakwa (lihat surat Al-Baqarah: 183). Siapakah orang yang bertakwa itu? orang-orang yang bertakwa yaitu orang yang berinfak (baik di waktu lapang maupun sempit), orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, dan orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya (senantiasa bertaubat). Demikian penjelasan ini tertuang dalam Surat Ali Imran ayat 133-136.

Dari penjelasan surat Ali Imran tersebut, Ustadz Nizam menyampaikan poin-poin penting yang harus kita miliki dan kita tingkatkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, yaitu:
1.      Senantiasa berinfak baik di waktu lapang maupun sempit,
2.      Menahan amarah
Masih ingat kan? Bahwa “orang kuat itu, bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi sebenarnya orang kuat itu ialah orang yang dapat menahan amarahnya” (H.R. Bukhari-Muslim)
3.      Mema’afkan kesalahan orang lain
4.      Senantiasa bertaubat

Luruskan niat kita, tingkatkan sabar, dan sempurnakan ikhtiar kita untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Sebagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Siti Hadjar ketika anaknya Ismail sedang kehausan. Padahal secara logika di deerah padang pasir susah ditemui adanya mata air. Tidak hanya cukup berdo’a saja, Siti Hadjar berusaha mencari air bagi anaknya yang sedang kehausan, walau beliau tahu bahwa di gurun pasir yang panas pasti tidak ada air. Namun, Siti Hadjar tetap menyempurnakan ikhtiarnya dengan berusaha mencari air sambil terus memohon pertolongan Allah. Dari Bukit Shafa beliau berlari hingga ke Bukit Marwah. Seakan-akan disana ada air, namun sesampainya di bukit tersebut ternyata yang dilihat hanya sekedar fatamorgana. Beliau pun kembali melihat dan bergerak berlari ke Bukit Shafa, dan ternyata yang ditemui hanyalah fatamorgana. Sampai 7 kali sang Siti Hadjar berlari mencari air bolak-balik dari Bukit Shafa dan Bukit Marwah, namun tak menemui hasil. Ternyata pertolongan Allah justru hadir dan datang dari arah yang tak disangka-sangka, bukan dari kedua bukit tersebut. Justru pertolongan Allah datang dari tanah tempat sepakan kaki putra tercintanya Ismail, yang kemudian muncul mata air yang memancar yang sekarang dikenal dengan air zam-zam. Allahu Akbar! Mata air tersebut sampai sekarang tidak pernah kering walaupun diminum oleh milyaran manusia jama’ah haji ataupun umrah dari seluruh penjuru dunia.


So, sambut Ramadhanmu sekarang juga! Ternakkan amalmu di bulan Ramadhan! Semoga bisa melahirkan dan menetaskan ketakwaan yang senantiasa menghiasi hati kita di 11 bulan kemudian. Untuk menutup tulisan ini, perkenankan kembali sedikit mengutip pernyataan Ustadz Salim A. Fillah dalam buku yang sama tadi, “Ya Rabbi, kutahan dirinya dari syahwat dan hawa”, ujar Puasa. “Ya Rabbi, kucegah dia dari tidur di malam hari”, seru Qur’an. Betapa indahnya. Puasamu jelita, menjadi latihan tuk memamerkan ibadah pada Allah semata, menaburkan dampaknya pada sesame dalam bentuk akhlak mulia. Seindah-indah lantunan adalah Al-Qur’an, sesyahdu-syahdu waktunya adalah kala malam dan seagung-agung penghayatannya ada dalam qiyamul lail.