Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Sunday, 29 September 2013

Menulis Ala Bang Tere

Kenapa kita harus menulis? tanya Bang Tere mengawali workshop kepenulisan di Gedung E Jurusan Teknik Fakultas Sains & Teknik Unsoed Purbalingga. Ahli fiksi yang dikenal dengan nama Darwis Tere Liye ini memaparkan alasan menulisnya dengan bercerita tentang kisah “Si burung pipit, seekor penyu dan sebatang pohon kelapa”. Singkat cerita, si burung pipit menceritakan tentang petualangannya terbang melintasi semesta, melihat indahnya pemandangan dan melewati cakrawala. Tak mau kalah seru, seekor penyu pun menjabarkan kiprah perjalanannya menyelami samudera, melintasi penjuru pantai hingga menembus batas karang laut yang menghadang. Lalu apa yang diceritakan oleh sebatang pohon kelapa yang hanya berdiri di tepi pantai tersebut? Tak bisa terbang bebas seperti burung pipit dan tak bisa menjelajah seperti si penyu. Hanya diam menjulang di tempat itu saja. Ternyata tidak. Justru, sebatang pohon kelapa ini bercerita lebih seru dan lebih hebat dibandingkan si burung pipit dan si penyu. Pohon kelapa yang berdiri kokoh tegap di depan mereka berdua ternyata lebih dahulu sudah malang melintang menjelajahi samudera, melintasi antar negara hingga antar benua. Bisa jadi induk pohon kelapanya ada di Indonesia, lalu menjatuhkan buahnya dan diterjang samudera hingga akhirnya tumbuhlah anak pohon kelapa di tepian pantai Australia, Amerika atau Eropa. Luar biasa ternyata. Itulah menulis.

Menulis adalah menyebarkan buah kebaikan. Sama halnya seperti sebatang pohon kelapa tadi, papar Bang Tere. Semua orang bisa menulis, jadi berhentilah mengatakan “saya tidak bisa menulis” tambahnya. Penulis lulusan akuntansi Universitas Indonesia ini kembali mengisahkan cerita seorang ibu rumah tangga yang minta diajarinya menulis. Ibu tersebut hanyalah seorang ibu rumah tangga saja, tak punya potensi apa-apa dan tak bisa menulis, katanya. Bang Tere mencoba menggali pertanyaan dan potensi yang dimiliki ibu tersebut. Singkat cerita setelah diinterogasi dengan berbagai pertanyaan, ibu tersebut memaparkan rutinitas kesehariannya, terutama memasak. Akhirnya ibu tersebut disuruh Bang Tere untuk menulis apa yang disukai ibu tersebut. Si ibu pun akhirnya menulis tentang resep makanan. Tiap malam ibu tersebut menulis resepnya di laptop, lalu diposting di blognya. Seiring berjalannya waktu, ibu tersebut sudah menulis puluhan bahkan ratusan resep masakan di blognya. Hingga akhirnya ada salah satu penerbit yang menawarkannya untuk diterbitkan. Awalnya ibu tersebut kaget, karena merasa tidak pernah menulis tapi ditawarkan untuk menerbitkan buku. Buku si ibu tersebut pun akhirnya diterbitkan. Tidak hanya royalti saja yang didapatkannya, tapi keluarga di sekitarnya juga ikut merasakan manfaatnya, hingga para pembaca bukunya pun mendapatkan resep-resep makanan terbaru hasil buah goresan sang ibu tadi.

Menulis itu memang mudah, hanya perlu pembiasaan dan ketekunan. Sebelumnya kata Bang Tere, kalau mau menulis perbaiki dulu niatnya. Bagaimana untuk bisa menulis dan menyebarkan buah-buah kebaikan seperti sebatang pohon kelapa atau seperti ibu rumah tangga tadi? Berikut ini ada beberapa tips menulis yang disampaikan Bang Tere dalam workshop kali ini, yaitu sebagai berikut:

1.      Ide cerita bisa apa saja, tapi penulis harus berpikir dengan sudut pandang yang spesial

Inilah yang membedakan dengan tulisan penulis yang lainnya. Seorang penulis yang baik harus bisa berpikir beda dengan sudut pandang yang spesial. Memandang  sesuatu  di luar kebiasaan. Untuk bisa berpikir dengan sudut pandang yang spesial ini tidak instan, perlu latihan yang intens dan proses yang panjang. Intinya harus ada pembiasaan. Untuk menguji hal ini Bang Tere meminta seluruh peserta untuk menuliskan sebuah kalimat paragraf tentang “hitam”. Setelah dikasih waktu beberapa menit dan ditukarkan dengan teman sebelahnya, lalu dibacakan oleh Bang Tere. Nah, berikut ini petikan kalimat yang saya buat tentang hitam “……………..tak pernah ada yang tahu rasa hitam yang ada dilidahnya. Karena pengetahuan kita terbatas oleh pikiran hitam yang membelenggu”.

2.      Menulis membutuhkan amunisi

Menulis itu ibarat sebuah teko dan 6 gelas. Si teko jika tidak diisi dengan air, maka tidak akan bisa mengeluarkan isi untuk dituangkan ke dalam gelas-gelasnya. Sama halnya dengan menulis, memerlukan adanya amunisi agar bisa menghasilkan tulisan yang baik. Apa amunisinya? Amunisi menulis adalah banyak membaca, mengamati, melihat, mendengarkan, bertualang dan research. Tanpa amunisi tersebut tulisan kita akan hambar dan kurang greget. Maka dari itu siapkan, berbekal dan lakukan amunisi tersebut.

3.      Tidak ada tulisan yang baik dan tidak ada tulisan yang buruk

Pada prinsipnya memang seperti itu (tidak ada tulisan yang baik dan tidak ada tulisan yang buruk), yang ada hanyalah relevan atau tidak relevan, jelas Bang Tere. Apapun yang mau ditulis, tulislah. Karena baik atau tidaknya tulisan yang kita hasilkan itu relatif. Tergantung apakah tulisan tersebut relevan dengan kebutuhan pembaca atau tidak. Jika ingin menulis, kuncinya adalah fokus “teruslah menulis”.

4.      Ala karena terbiasa

Bisa menulis itu gampang. Bisa karena terbiasa. Lakukan yang terbaik yang kita senangi. Tulislah apa saja yang kita sukai. Terkait ala karena terbiasa ini Bang Tere menceritakan tentang kisah masak memasak. Intinya seperti itu (susah dijabarkan dengan kata-kata….., hehe). Apa resepnya biar masakan itu enak? Ya, memasak saja. Ini kalau dilakukan oleh orang yang sudah biasa memasak. Berbeda dengan orang yang tidak terbiasa masak (atau belum ahli dalam memasak), maka orang ini akan membaca buku resep dan melakukan masak tahap demi tahapnya secara hati-hati dan perlahan. Sama halnya dengan menulis.

5.      Mudah, menyelesaikannya lebih gampang lagi dan gaya bahasa adalah kebiasaan

Menulis itu memang mudah, jadi teruslah menulis. Mulai dari hal yang kecil, sedikit, sederhana, tapi yang penting tulisan tersebut berenergi, bertenaga, berbobot dan bermakna. Tapi bagaimana ketika menulis dihadapkan dengan badmood, mentok di tengah jalan dan kendala-kendala lainnya? Bang Tere menjelaskan jika dihadapkan dengan badmood maka yang harus kita lakukan adalah panggil motivasi terbaik kita. Apa motivasi terbaikmu untuk menulis? Setiap orang tentu memiliki motivasi yang berbeda-beda.


Demikian sekilas tentang tips “Menulis Ala Bang Tere” yang saya dapatkan setelah mengikuti workshop kepenulisan bersama Bang Darwis Tere Liye yang diselenggarakan oleh LDJ Salman MM Teknik, Jurusan Teknik, Fakultas Sains dan Teknik Purbalingga pada hari Ahad, 29 September 2013. Semoga bermanfaat dan memberikan energi untuk menulis bagi semua pembaca yang sedang mencari amunisi untuk menulis. Write, Pasti Teyeng….!!! ^,^

Gali Potensi, Raih Prestasi



Siapa Saya? Dari mana Saya? Sedang Dimana Saya? Mau kemana Saya? Apa tugas saya? Coba perhatikan ayat berikut: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...!’ (QS. Ali Imran [3] : 110). Seperti nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara (karya Ahmad Fuadi) bahwa muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan.

Apa potensi yang saya miliki? Setiap manusia mempunyai potensi yang sama, dengan 3 potensi dasar (jasadiyah, ruhiyah, fikriyah). Apa bakat saya? Apa skill saya? Apa passion saya? Apa kemampuan saya? Carilah potensi terbesar yang kamu miliki, kalau sudah ketemu optimalkan potensi itu dan tekuni dengan sungguh-sungguh…!!! Maka prestasi pun akan mudah engkau raih.

Kemudian saya bertanya lagi kepada para peserta yang rata-rata adalah mahasiswa baru ini. Kenapa harus kuliah? Kenapa ikut berorganisasi? Kenapa ingin berprestasi? sebagian ada yang menjawab: mencari ilmu, menambah skill dan leadership, serta menambah rasa kepercayaan diri. Ya, jawaban itu benar semua. Jika kamu adalah mahasiswa baru, saya ucapkan selamat memilih berbagai pilihan itu. Mau pilih yang mana?

§  Menjadi mahasiswa yang “biasa-biasa” saja?
§  menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah pulang – kuliah pulang)?
§  menjadi mahasiswa “kura-kura” (kuliah rapat – kuliah rapat)?
§  menjadi mahasiswa 3K (Kuliah, Kantin, Kos-kosan)? atau
§  menjadi mahasiswa yang hanya “fokus akademik” saja? (red-study oriented…).
(catatan: penggunaan kata dalam tanda “petik“ hanyalah istilah saja).
Kalau bisa sih seimbangkan semua: Akademik OK, Aktifis Organisasi OK, Asisten OK, Berprestasi OK, Berwirausaha OK, Berdakwah OK, dan Berkarya OK. Tapi, sekali lagi itu adalah pilihan. Maka, pilihlah yang terbaik untuk hari nanti, esok, dan masa depan nanti.

Tak ada rahasia untuk meraih sukses. Sukses itu dapat terjadi karena PERSIAPAN, KERJA KERAS dan MAU BELAJAR dari kegagalan (UPI-OSPEK 2008). Jika kamu ingin berprestasi dalam bidang tertentu, pilih sesuai bakat, pilih sesuai yang kamu sukai dan tekuni dengan penuh kesungguhan. Maka yang harus kamu lakukan setelah menentukan pilihan adalah terus berproses dalam kerja keras yang tekun, jika tersandung dengan kegagalan hadapi dengan sepenuh semangat tinggi dan sabar yang ekstra. Teruslah mencoba dan berani menghadapi setiap resiko yang ada.

Ada banyak wahana event yang bisa kita manfaatkan untuk melatih dan meningkatkan skill yang kita miliki (ini diluar akademik dan organisasi), seperti:
§  LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah)
§  Lomba Esai, Cerpen, dan sejenisnya
§  PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) meliputi: PKM-P, PKM-K, PKM-M, PKM-T, PKM-KC, PKM-GT, dan PKM-AI.
§  PMW (Program Mahasiswa Wirausaha)
§  Lomba karikatur, desain, dan sejenisnya
§  Program Hibah
§  Dan masih banyak lagi

Sekali lagi, carilah potensi terbesar yang kamu miliki, kalau sudah ketemu optimalkan potensi itu dan tekuni dengan sungguh-sungguh…!!! Maka prestasi pun akan mudah engkau raih.

Sunday, 15 September 2013

Meraih Sukses dengan Iman, Ilmu dan Amal


Selamat datang pemuda….!!! Selamat datang mahasiswa baru (yang baru saja diterima di sebuah kampus). Selamat berproses, merenda diri tuk menjadi lebih baik lagi. Senang rasanya, saat pertama kali menapaki kampus ini. Bertemu dengan teman baru, suasana baru, dan perjuangan baru. Betapa besar harapan dan cita-citaku waktu itu. Yaitu ingin membuat orangtuaku bahagia, kuliah yang baik dan meraih prestasi terbaik. Itulah niatku kala itu, saat pertama kali mengenakan almamater baru. Mulai dari registrasi dengan kostum hitam putihnya, hingga rangkaian acara OSMB pun sudah aku lalui. Ternyata di depan begitu banyak tantangan yang menghadang. Kini aku sudah benar-benar menjadi “maha”siswa.

Apakah hanya akan menjadi mahasiswa yang “biasa-biasa” saja? Ketika pilihan itu datang menghadang diri seorang mahasiswa baru. Apakah akan menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah pulang – kuliah pulang)? atau menjadi mahasiswa “kura-kura” (kuliah rapat – kuliah rapat)? atau menjadi mahasiswa 3K (Kuliah, Kantin, Kos-kosan)? atau menjadi mahasiswa yang hanya “fokus akademik” saja? (red-study oriented…). Main-main saja? Jalan-jalan? Atau yang lainnya? Iya, inilah pilihan yang menghadang. Mau ga mau harus dipilih dan dihadapi. Mau pilih yang mana? Padahal, katanya mahasiswa itu punya PERAN dan FUNGSI: sebagai AGENT of CHANGE, sebagai IRON STOCK, sebagai MORAL FORCE dan sebagai GUARDIAN of VALUE (Da’i). Oleh karena itu pilihannya jangan jadi “mahasiswa yang biasa-biasa” saja. Tapi, jadilah “mahasiswa yang LUAR BIASA”. Bukan sekedar kuliah, tapi juga BERDAKWAH, BERPRESTASI, BERORGANISASI dan BERKARYA untuk menjadi teladan bagi yang lainnya. Tapi, juga harus selalu ingat dengan tugas pokok sebagai manusia, sebagai makhluk, sebagai hamba. Apa TUJUAN HIDUPmu…??? Iya, tugas seorang makhluk bumi bernama manusia adalah beribadah dan mengabdi kepada-Nya (lihat penjelasannya dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56) dan juga bertugas sebagai khalifah di bumi, bukan sekedar sebagai ahli konservasi tapi juga memimpin alam semesta ini agar tetap lestari (renungkan ayat ini dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30) dan juga sebagai pendakwah dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. Ali Imran ayat  110).



Ingatkah dengan sosok para pemuda Ashabul Kahfi? Iya, mereka adalah pemuda Islam yang luar biasa. Innahum fityatun aamanu birobbihim wazidnaahum huda. Lihatlah kisah mereka dalam Q.S. Al-Kahfi. Betapa banyak pelajaran yang bisa kita teladani dari mereka. Pemuda memang sosok yang penuh semangat, sebagaimana sang proklamator bangsa ini (Ir. Soekarno) pernah mengatakan “Beri aku 10 orang pemuda, maka akan aku goncangkan dunia”. Mengutip materi FIM 12 (Forum Indonesia Muda) dalam Keynote Speech Emil Salim-28 April 2012 dikatakan bahwa Bung Karno lahir 1901 dan menjadi presiden 1945, top karir 44 tahun, Soeharto lahir 1921 menjadi tokoh 45 tahun, semua tokoh2 mencapai puncak prestasi umur 40an disanalah ia menjadi top. Ketika Bung Karno memimpin bangsa kedepan “cita-citaku adalah jauh kedepan”, walaupun saat itu beliau kuliah, “Indonesia masih terjajah –aku ingin menjadi pemimpin Indonesia merdeka.” Maka ada bintang yang beliau pegang, seluruh mimpi, idealisme diarahkan. Karena itu jangan kau pikir mau menjadi apa hari ini, jangan kau pikir mau jadi orang kaya hari ini, tapi kau harus mimpi bagaimana kau saat mencapai usia 45 tahun.

Tentukan target-an hidup yang akan kamu capai beberapa tahun ke depan, 5 tahun kedepan, 10 tahun, 20 tahun, 40 tahun dan seterusnya…. Mau jadi apa? Apa yang akan kamu capai? Apa yang akan kamu torehkan selama menjadi mahasiswa? Apakah cuma ingin dapat ijazah dan transkip akademik saja? Tentu saja “TIDAK” bukan, oleh karena itu LURUSKAN NIATmu saat ini juga. Saat masih awal-awal menjadi mahasiswa baru. Karena perumpamaan niat bagi amal, menurut Al-Baidhawi ibarat ruh bagi jasad. Jasad tidak akan berfungsi jika tanpa ruh, dan ruh tidak akan nampak jika terpisah dari jasad (demikian penjelasan tentang ‘niat’ dalam buku “Al-Wafi Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah: Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah”). So, lakukanlah yang terbaik untuk kemaslahatan bersama dengan menyemai bait-bait kebaikan, sekecil apa pun.

“Orang mu’min yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik budi pekertinya” (H.R. Ahmad). Itulah yang namanya akhlak. Akhlakmu, budi pekertimu dan tingkah lakumu bisa menjadi contoh kebaikan buat orang sekitar kamu. Bisa juga menjadi dakwahmu dengan perbuatanmu itu. Dimanapun berada teruslah istiqomah dalam menebar benih-benih kebaikan, jika tidak bisa berkata baik, mendingan diam. Sebagaimana dalam hadits nabi: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berbicara baik atau lebih baik diam” (H.R. Muslim).

Apa tujuan kamu kuliah? Buat apa kuliah? Jawabannya adalah mencari ilmu, begitu jawaban kebanyakan orang. Tentunya mencari ilmu sebagai sarana untuk meraih ridho Allah SWT. Apa pun ilmunya, niatkanlah yang benar. Mencari ilmu itu memang memiliki banyak keutamaan dan banyak sekali dalil yang menerangkannya. Sebagaimana dalam Q.S. Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Atau dalam hadits nabi: “Barangsiapa yang menempuh perjalanan dengan tujuan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga” (H.R. Muslim).

Tentunya selain ilmu yang ingin kita raih, kita juga harus bisa mengoptimalkan segala potensi yang kita miliki. Karena setiap manusia mempunyai 3 potensi dasar (jasadiyah, ruhiyah, fikriyah). Apa bakat saya? Apa skill saya? Apa passion saya? Apa kemampuan saya? Temukan potensi itu…!!! Optimalkan dan tekuni dengan sungguh-sungguh…!!! Selama duduk di bangku kuliah, selama menjadi mahasiswa apa yang ingin kamu raih selain ilmu? Kuncinya adalah manajemen diri, manajemen hati dan manajemen pikiran agar bisa mencapai 3A+3B yang OK ( Akademik OK, Aktifis Organisasi OK, Asisten OK, Berdakwah OK, Berprestasi OK, dan Berwirausaha OK) atau potensi lainnya harus OK pula. Sebagai penutup minumlah motivasi dosis tinggi berikut ini: Saat semangat lagi dahsyat, picu dan pacu diri dengan prestasi, jaga konsistensi, pelihara motivasi, rawat stamina, dan hargai setiap kebaikan, sekecil apa pun…. (begitu ramuan kata motivasi ini tertuang dalam buku “Spiritual Problem Solving”). Teruslah berikhtiar dan berproses dalam kebaikan….!!!


*Materi ini disampaikan dalam acara OASIS UKI Fakultas Ekonomi Unsoed Purwokerto (Jum’at, 13 September 2013 @Hall gedung D FE-Unsoed)

Ikhtiar Menjemput Sakura


Ada apa dengan Jepang? Apa kehebatan negeri Sakura tersebut? kenapa harus kesana? Buat apa kesana? Jalan-jalan? Studi lanjut? Cari jodoh? Bekerja? Inilah sederet pertanyaan yang sering saya lontarkan dalam diriku sendiri. Hati kecilku hanya bilang “Zettai Dekiru!” (kata ini pertama kali saya dapatkan di Gramedia Bogor saat PKL di LIPI Cibinong tahun 2011). Kata “Zettai Dekiru!” menjadi jargonku kala semester 5 yang memotivasiku bisa keliling beberapa kota di Indonesia waktu itu. Iya, Pasti bisa! Mesti Teyeng! Banyak jalan menuju kesana (Jepang). Suatu saat nanti saya akan menginjakkan kaki disana, menjemput Sakura. Inilah kekuatan niatku yang membara. Saya ingin seperti Marco Polo (seorang pedagang asal Venezia) yang datang ke Jepang sebagai wisatawan dan menulis “The Travels of Marco Polo”. Dia adalah orang yang pertama kali memperkenalkan Jepang ke negara-negara Eropa dengan nama “Zipang”. Dia pernah mengatakan “negara itu menghasilkan banyak emas dan berlimpah dengan harta”. Akan tetapi bukan harta atau emas yang saya cari disana, tujuanku ke Jepang adalah ingin mencari ilmu sebanyak-banyaknya (menjadi peneliti), lalu saya akan menulisnya menjadi sebuah buku yang akan saya persembahkan untuk membangun desa kelahiranku dan tanah air Indonesia.

Di dalam negeri itu bagus, tapi di luar negeri itu lebih bagus. Akan banyak pengalaman yang kau dapatkan disana” demikian kata profesor pembimbing skripsiku. Iya, hal ini juga yang menjadi alasanku semakin kuat untuk menimba ilmu di negeri sakura tersebut. Kalau kata Ahmad Fuadi (peraih 9 beasiswa belajar ke luar negeri), ada dua hal penting untuk meraih beasiswa keluar negeri: pertama, yakin bahwa beasiswa ke luar negeri itu banyak. Kedua, beasiswa itu akan diraih bagi orang yang mau melebihkan usahanya di atas rata-rata orang lain (bersungguh-sungguh). Memang benar, beasiswa keluar negeri itu sangat berlimpah, apalagi ke Jepang. Seperti yang pernah saya dapatkan waktu mengunjungi pameran beasiswa Jepang saat acara Gebyar Inovasi Pemuda Indonesia (GIPI) di Institut Pertanian Bogor (Januari, 2011) antara lain beasiswa Manbukagakusho/MEXT, Inpex Scholarship Foundation, Panasonic Corporation Scholarship, Matsushita International Foundation, Japan Student Services Organization (JASSO), dan lain-lain masih banyak lagi. Di tempat pameran GIPI inilah saya mendapatkan berbagai informasi dan panduan studi lanjut ke Jepang. Semoga saya bisa mendapatkan salah satu dari aneka macam beasiswa studi ke Jepang tersebut.

Ini bukan hanya mimpi belaka, tapi ini adalah kekuatan niat dan kesungguhan yang dilontarkan seorang anak desa Cerih lulusan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Iya, zettai dekiru! Pasti bisa kesana! Yang penting sudah punya mimpi dan niat untuk kesana. Karena mimpi adalah energi. Kunci untuk bisa menaklukkan dunia. Mimpi dan niat juga harus dibarengi dengan usaha yang maksimal. Ikhtiar yang tekun. Belajar otodidak dari buku. Backpacker ke Jogja berburu buku tentang Jepang. Saya dan Faisal (dua anak muda yang sama-sama ingin menjemput asa di negeri sakura) waktu itu (Februari, 2012) melakukan backpacker berburu buku ke Jogja. Kami mengunjungi acara Pesta Buku Jogja 2012 “Jogja itoe Boekoe” di Gedung Mandala Wanitatama Yogyakarta. Disinilah saya membeli puluhan buku, salah satunya berjudul “Jago Bahasa Jepang secara Otodidak”. Buku inilah yang menjadi panduanku untuk belajar bahasa Jepang secara mandiri. Persiapkan diri, mantapkan hati dan teruslah berikhtiar tanpa henti.

Tidak cukup belajar dari buku, mengunjungi pameran dan mempelajari panduan belajar ke Jepang saja. Saya, Heru dan Ibey (tiga orang mahasiswa yang ingin memotivasi mahasiswa lainnya untuk belajar ke Jepang) berinisiatif menggelar acara Stand Up Ala UKMI: “Berbagi Inspirasi Beasiswa Ke Jepang” pada hari Kamis, 21 Maret 2013. Karena kami bertiga belum pernah pergi ke Jepang, akhirnya kami mengundang pembicara Hendri Wijayanti, S.Si (peraih beasiswa S2 di Nara Women University, Jepang). Dalam acara ini saya bertugas sebagai notulen dan pembuat press release, Heru sebagai moderator dan Ibey sebagai dokumentasi. Hendri memaparkan pahit manis perjuangannya hingga berhasil meraih beasiswa di Jepang. Ternyata menggapai beasiswa ke Jepang tak semudah membalikkan tangan, harus tekun, sabar dan gigih dalam meraihnya. Kemauan dan tekad yang kuat harus dibarengi dengan jerih payah yang maksimal, sabar yang menggelora, dan tentunya harus selalu optimis yang tinggi. Pada akhir sesi, Hendri berpesan “Ketika ingin belajar ke luar negeri, jangan setengah-setengah. Harus totalitas. Harus ada kemauan yang kuat, tapi harus berani keluar dari zona nyaman. IPK gampang dicari, tapi yang penting adalah kuasai bahasa asing terlebih dulu” tandasnya begitu cetar membahana. Tulisan (press relese) acara ini juga dimuat di website unsoed: (http://unsoed.ac.id/berita/berbagi-inspirasi-beasiswa-ke-jepang-bersama-ukmi-fakultas-biologi-unsoed). Saya juga pasti bisa mengikuti jejak seperti mba Hendri. Jepang, I’m coming…!!!

Hidup itu memang penuh pertimbangan, perjuangkanlah apa yang ingin kau raih dan laksanakan dengan optimal apa yang kamu pilih itu, kata nuraniku penuh semangat yang bijak. Sakura, saya akan datang menjemputmu pada waktu yang tepat. Bismillah, Go to Japan. Zettai Dekiru! Aku pasti bisa kesana. Belajar disana menjadi seorang ilmuan, menjadi biolog yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Tulisan ini ditulis tepat pada saat malam lebaran ‘Idul Fitri 1434 H di Tegal, 1 Syawal 1434 H / 8 Agustus 2013 M dan disempurnakan di Purwokerto, 10 September 2013. Jadi, sebelum benar-benar ke Jepang, luruskan dulu niatnya. Kalau sudah punya niat, gedein dong usahanya! Terus berproses dalam ikhtiar menjemput Sakura.

*Tulisan ini sedang diikutsertakan dalam Lomba Konnichiwa Jepang 2013. Monggo jika berkenan ada waktu luang sejenak untuk memberikan “LIKE” (baca: klik Like) pada tautan yang ada dalam catatan FB Konnichiwa sebagai berikut:
Konnichiwa Jepang: IkhtiarMenjemput Sakura