Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 21 September 2020

Review Buku "Jungkir Balik Pers"



Judul Buku : Jungkir Balik Pers

Penulis : Nasihin Masha

Penerbit : Republika Penerbit

Jumlah halaman : xxiv + 187 hlm

Isi review:

Hanya liputan yang kuat dan editing yang matang yang akan menjadikan semua tulisan bernyawa, bertenaga dan akhirnya menginsipirasi. Begitu salah satu poin yang diulas sang penulis buku ini. Ulasan yang menarik, dibumbui dengan data-data empirik dan disampaikan dengan diksi yang renyah khas jurnalistik.

Sesuai dengan judulnya "Jungkir Balik Pers", buku ini memberikan gambaran nyata tentang kompleksitas persoalan yang dihadapi dunia pers, baik di dunia maupun di Indonesia. Mulai dari sejarah pers dari masa ke masa, hingga  situasi pers di tengah masa pandemi ini.

Prolog buku ini diawali dengan pendahuluan yang cukup panjang tentang pers di Era Post Truth. Diawali dengan perkembangan media di era reformasi, terjadi booming media. Mulai dari munculnya tabloid hingga berkembangnya media cetak. Seiring dengan munculnya internet, media cetak mulai menderita dengan menjamurnya media online. Pers terdisrupsi medsos. Banyak media cetak yang gulung tikar, ada yang mengurangi jumlah halaman cetaknya, bahkan ada yang menutupnya. Masa pandemi memperhebat penderitaan pers

Membuat media di era digital jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan di era media cetak. Gambaran terhadap masa depan pers juga diulas dalam buku ini. Di masa depan teknologi bisa mengungguli manusia. Jika di masa lalu homo Sapiens berhasil menaklukkan dunia, maka di masa depan manusia menjadi tak dominan ketika big data menjadi paradigma, menggantikan humanisme.

Perkembangan media di dunia juga menjadi ulasan menarik dalam buku ini. Penulis menceritakan hasil pengalaman perjalanannya sewaktu mengikuti program Internasional Visitor Leadership bidang media cetak atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Pada bagian ini terbagi menjadi 3 judul tulisan yang berisikan tentang perkembangan media di Amerika yang dilengkapi dengan data-data pendukungnya.

Jurnalisme unggul hanya lahir dari pelatihan yang ketat, disiplin yang kuat, wawasan yang dalam, keteguhan sikap, independensi, dan keterampilan tinggi. Tradisi tak lahir seketika. Ia lahir dari keseharian di rel jurnalisme sejati. Butuh wartawan-wartawan andal dan berkarakter. Untuk bisa survive di tengah arus teknologi ini, media harus bisa beradaptasi dan membuat inovasi atau terobosan baru yang relevan sesuai dengan kebutuhan zaman.

 

#bukurepublika

#OMOB_RRS

#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare

Thursday, 17 September 2020

Guru Kreatif, Pelita di Tengah Pandemi Covid-19

Ruang-ruang kelas itu kini menjadi sunyi. Tak ada lagi aktivitas peserta didik di setiap sudut sekolah. Padahal PTS (Penilaian Tengah Semester) saja waktu itu belum dimulai. Anak-anak boardingschool terpaksa harus dipulangkan lebih awal sebelum waktunya liburan tiba. Pulang bukan untuk berlibur, tapi dipindahkan belajarnya dari rumah masing-masing. Siswa tetap melakukan learning from home atau belajar dari rumah. Para guru pun tidak diwajibkan berangkat ke sekolah lagi, tapi harus tetap bekerja dari rumah atau work from home. Guru mengajar dari rumah, dan siswa juga tetap belajar dari rumah masing-masing. Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Sesuai anjuran pemerintah, masyarakat dihimbau untuk belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan melakukan ibadah di rumah masing-masing.

Kegiatan pembelajaran tak lagi dilakukan secara klasikal atau tatap muka langsung di ruang kelas, tapi dilakukan secara virtual dalam jaringan (daring). Kehadiran guru kreatif di tengah pandemi Covid-19 ini sangat dibutuhkan. Karena harus menghadapi situasi yang baru, guru pun harus kreatif dalam menerapkan strategi pembelajarannya. Kenapa guru harus kreatif? Karena guru adalah aktor utama dalam pembelajaran. Keberlangsungan proses pembelajaran kunci utamanya ada di tangan guru. Guru yang kreatif adalah guru yang bisa survive di tengah pandemi dan mampu beradaptasi menggunakan berbagai metode pembelajaran. Sebagaimana sebuah ungkapan berikut: “bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang PALING ADAPTIF dalam merespon perubahan”, begitu penjelasan teori Survival of The Fittest yang dibangun Charles Darwin. Sama halnya dengan pembelajaran jarak jauh, diperlukan guru yang kreatif dan adaptif dalam menerapkan pembelajarannya.

Demi keberlangsungan pembelajaran jarak jauh guru kreatif harus berinovasi dan mencoba metode yang baru sesuai kondisi yang ada. Guru dituntut harus menguasai berbagai aplikasi pembelajaran yang menggunakan teknologi. Mau gak mau guru kreatif harus mempelajari aplikasi pembelajaran daring tersebut sebelum diterapkan kepada peserta didiknya. Guru kreatif sebagai guru pembelajar harus menguasi berbagai macam aplikasi/media pembelajaran daring. Pelajari secara otodidak bisa melalui youtube, mengikuti webinar yang diadakan oleh institusi tertentu. Bagi guru kreatif, tak ada kata terlambat karena jiwanya terus bersemangat dalam belajar. Salah satunya Webinar “Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kemdikbud RI. Salah satu poin penting dari webinar tersebut adalah tentang mengelola pembelajaran adaptif, fleksibel dan akomodatif. Hal ini bisa dilakukan jika guru itu kreatif, terus belajar dan terus berinovasi dalam pembelajarannya.

Guru kreatif adalah guru pembelajar yaitu guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang professional. Mempelajari hal baru adalah sebuah keharusan bagi guru kreatif. Pembelajar sejati adalah spirit juangnya yang tak pernah padam. Meski berada dalam situasi yang sulit, guru harus tetap berjuang mencerdaskan anak bangsa. Meski raga terpisahkan oleh jarak dan ruang yang berbeda, guru kreatif akan terus berkreasi dalam melaksanakan amanahnya. Meski jauh di mata, namun dekat di hati. Karena guru kreatif adalah pelita di tengah pandemi. Kehadirannya ibarat pelita yang memancarkan ilmu pengetahuan bagi peserta didiknya. Maju terus guru kreatif, sang pembangun insan cendekia. Bangga jadi guru. Guru berkarakter. Menggenggam Indonesia.


#CerdasBerkarakter, 

#BlogBerkarakter, 

#SeruBelajarKebiasaanBaru, 

#BahagiaBelajardiRumah