Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Saturday, 17 September 2011

PIMNAS XXIV UNHAS MAKASSAR, SEJARAH BARU BAGI UNSOED (Liputan kontingen UNSOED dalam PIMNAS 2011)


Siapa yang tak mengenal PIMNAS? Atau Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, yang merupakan ajang kompetisi terbesar bagi mahasiswa dalam skala nasional yang diselenggarakan oleh DP2M DIKTI rutin tiap tahunnya. PIMNAS tahun 2009 diselenggarakan di UNIBRAW, tahun 2010 di Universitas Maharaswati Bali, tahun 2011 di UNHAS Makassar, dan tahun 2012 nanti di UII Jogjakarta.

 Sebelumnya mahasiswa di setiap kampusnya membuat proposal PKM-(P,T,M,K) atau PKM-GT dan PKM-AI (hanya PKM-AI yang tidak diikutkan di PIMNAS). Berdasarkan data Dit. Litabmas DIKTI Kemendiknas tahun 2011 jumlah proposal PKM yang diseleksi berjumlah 23.898 Proposal, kemudian yang lolos seleksi tahap I (administrasi) berjumlah 16.432 proposal, setelah itu dilakukan seleksi tahap II dan yang lolos berjumlah 6.901 proposal dan yang lolos didanai dari DIKTI untuk tahun 2011 ini adalah berjumlah 5.063 proposal. Dari jumlah 5.063 proposal ini dari UNSOED berhasil meloloskan 69 proposal PKM (dari 106 proposal) yang didanai DIKTI tahun 2011. Setelah itu dilakukan MONEV (monitoring dan evaluasi), dari 69 proposal hanya 1 proposal yang berhasil lolos untuk mengikuti PIMNAS XXIV di Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2011 ini. Selain itu, tuan rumah UNHAS juga mengadakan Lomba Karya Tulis Penunjang PIMNAS XXIV yang meliputi: Bidang Lingkungan, Bidang Kemaritiman (bidang IPTEK Kelautan dan bidang Sosial budaya) serta Bidang Kewirausahaan. Dalam hal ini ada 4 tim dari UNSOED yang lolos untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Penunjang PIMNAS yang terdiri dari 2 tim bidang Lingkungan, 1 tim bidang kemaritiman IPTEK, dan 1 tim bidang kemaritiman sosial budaya (keempat tim ini semuanya berasal dari Fakultas Biologi). Sehingga pada tahun 2011 ini ada 5 tim delegasi UNSOED (1 tim PKM-K dan 4 tim Lomba Penunjang) yang berangkat mengikuti PIMNAS XXIV di Universitas Hasanuddin Makassar dari tanggal 18-22 Juli 2011.


Senin (19/7/2011) grand opening PIMNAS XXIV tahun 2011 begitu semarak dahsyatnya, meriah, dan luar biasa. Warna warni almamater dari duta masing-masing perguruan tinggi se-Indonesia berkumpul di Baruga Andi P. Pettarani (Auditorium UNHAS). 1714 mahasiswa dari 91 PTN/PTS se-Indonesia berkumpul di ajang ilmiah yang paling bergengsi ini. Mereka adalah orang-orang yang terbaik diantara yang terbaik (kata PR3 UNHAS dalam sambutannya). Usai pembukaan para peserta PIMNAS untuk kategori PKM menuju ruang presentasi masing-masing. Selain itu, para peserta yang lain mengikuti Seminar Nasional Lingkungan oleh Menteri Kehutanan RI dan diisi hiburan juga oleh Ebiet G.A. Seusai acara tersebut dilanjutkan aksi penanaman pohon di sekitar Rusunawa UNHAS oleh Menhut dan para peserta delegasi masing-masing universitas yang diberi tanda dan dinamai sesuai asal kampusnya masing-masing. Tanggal 19-20 Juli 2011 para peserta PIMNAS untuk PKM-(K,T,M,P, dan GT) melakukan presentasi di tempat yang berbeda-beda sesuai dengan bidangnya masing, sedangkan untuk Lomba Karya Tulis Penunjang (Lingkungan, Kemaritiman, dan Kewirausahaan) juga melakukan presentasi di tempat yang berbeda pada tanggal 20-21 Juli 2011.

Kamis (21/7/2011) juga diadakan penilaian Lomba Poster dan Gelar Produk PKM di gedung Teaching Industry. Di tempat inilah produk-produk kreasi para mahasiswa di pamerkan dan akan dinilai oleh dewan juri berjumlah 12 orang. Produk-produk unik, menarik, kreatif, dan inovatif hasil karya mahasiswa sungguh luar biasa, yang terdiri dari produk-produk PKMK, PKMP, PKMM, PKMT, dan PKMGT.
Kamis (21/7/2011) pukul 19.00 WITA semua peserta PIMNAS sudah memenuhi Baruga A.P Pettarani untuk mengikuti closing ceremony PIMNAS XXIV dan sekaligus pengumuman pemenang semua jenis perlombaan. Sorak sorai, canda tawa, teriakkan yel-yel bergema di dalam Baruga ini. Warna warni almamater berkumpul dalam satu kelompok sesuai kampusnya masing-masing. Kampus yang jumlah pesertanya banyak lebih terdengar gema dan teriakkan yel-yelnya. Mulai dari Sabang sampai Merauke, dari pulai Miangas sampai pulau Rote terdengar bergelora. Begitu hebohnya semangat para peserta PIMNAS yang begitu membara. Apalagi ketika paduan suara UNHAS menyanyikan lagu Garuda di Dadaku dan lagu Bendera, semuanya ikut menyanyikan dan seakan-akan membakar semangat mereka yang menjulang-julang tinggi. Jiwa nasionalisme muncul begitu dahsyatnya, merasakan akan keragaman yang berbeda-beda, suku, budaya, dan bahasa, terasa menjelma dalam sanubari mereka. Suportifitas, saling menghargai, dan mengapreasiasi satu sama lain terasa begitu indahnya.

Tibalah saat-saat yang dinanti yaitu pengumuman para pemenang. Pertama, untuk kategori lomba penunjang PIMNAS (akan tetapi tim dari UNSOED tidak ada yang berhasil lolos sebagai juara), kemudian pengumuman lomba poster dan produk PKM, setelah itu pengumuman untuk kategori PKM-(P,T,K,M, dan GT). Untuk PKMGT ada 2 kategori (PKMGT 1 dan PKMGT 2), PKMM ada 3 kategori (PKMM 1, PKMM 2, dan PKMM 3), PKMK ada 4 kategori (PKMK 1, PKMK 2, PKMK 3, dan PKMK 4), PKMT ada 3 kategori (PKMT 1, PKMT 2, dan PKMT 3), dan untuk PKMP ada 4 kategori (PKMP 1, PKMP 2, PKMP 3, dan PKMP 4). Masing-masing kategori tiap PKM tersebut mendapatkan juara yang secara berturut-turut untuk juara 1 (setara emas), juara 2 (setara perak), juara 3 (setara perunggu), dan juara terfavorit (harapan). Secara umum, PIMNAS XXIV ini juara umumnya adalah UGM, peringkat kedua adalah ITS dan peringkat ketiga adalah UNNES. Untuk kategori PKMK 4, tim PKMK UNSOED (Ankardiansyah Pandu, dkk) berhasil meraih juara 2 (setara perak) dengan judul “Jasa pengembangan karakter menggunakan Hipoterapi dan Neuro Linguistic Programming (NLP)”. Ini merupakan sejarah baru bagi UNSOED karena sepanjang dalam perjalanan PIMNAS, baru pertama kalinya tahun 2011 ini UNSOED mendapatkan juara dalam PIMNAS. Pak Mul (bagian Kemahasiswaan UNSOED yang selama ini mengurusi PKM-PKM mahasiswa UNSOED mulai dari pengumpulan sampai pengiriman ke DIKTI) pun sampai meneteskan air matanya serasa haru melihat dan mendengar tim PKMK UNSOED mendapatkan juara tersebut. Selamat buat tim PKMK UNSOED…!!!,

semoga kemenangan ini dapat memacu dan memotivasi para mahasiswa UNSOED dalam penulisan PKM di tahun-tahun berikutnya. Karena kita pun bisa bersaing, bersanding, dan berkompetisi dengan mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi yang lain. Kalau ada kemauan, niat, usaha dan jerih payah yang gigih kita pun bisa seperti mereka. (Terinspirasi dari mata kucing terciptalah reflektor cahaya, terinspirasi dari lumba-lumba terciptalah kapal selam super cepat, dan terinspirasi dari tulisan ini, semoga bisa MENGINSPIRASIKAN bagi teman-teman semua untuk menulis dan menemukan gagasan baru yang kreatif dan inovatif untuk mengharumkan almamater kita di kancah nasional maupun internasional).

JAYALAH SELALU LASKAR SOEDIRMAN…….., MAJU TERUS PANTANG MENYERAH DUTA-DUTA UNSOED DALAM PIMNAS XXV NANTI DI UII JOGJA TAHUN 2012……!!!!

Kayakiye meraih JUARA III di UNAIR


Sebuah impian itu berawal dari sebuah mimpi. Mimpi yang pada awalnya hanya ada dalam benak pikiranku tatkala pertama kali masuk kampus Jenderal Soedirman ini. Mimpi itu adalah menjadi juara dalam sebuah ajang lomba karya tulis. Kerap kali mimpi itu muncul dan membayangiku terus. Apa daya tak sampai, waktu dan padatnya aktivitas praktikum, laporan, dan tugas-tugas kuliah lainnya telah menidurkanku dari mimpi itu. Ditambah lagi agenda dan kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang silih berganti dan berdatangan tiada henti. Tapi, berkat usaha yang optimal, kerja keras tiada henti untuk mencoba, dan berdoa juga tentunya akhirnya impian itu kini membuahkan hasil yang nyata. Berawal dari browsing informasi lomba-lomba di facebook, akhirnya aku menemukan informasi lomba karya tulis, kemudian aku menyusun dan mengirimkan abstraksi, akhirnya lolos 30 besar dari 350 tim yang mendaftar dan mengirimkan abstraksinya ke panitia. Hingga akhirnya, berkat optimis dan semangat tinggi akhirnya mendapat juara 3 tingkat nasional dalam ajang kompetisi karya tulis CS2 di Universitas Airlangga Surabaya pertengahan Mei 2011 kemarin.
Saat ini Facebook bisa dibilang adalah teman akrab setiap hari. Bermula dari Facebook inilah prestasi itu aku raih. Facebook memang telah menjadi populer dimana-mana. Hampir mahasiswa yang aku lihat ketika online di kampus pasti membuka situs jejaring ini. Aku pun tidak jauh berbeda dengan mereka, akan tetapi tidak hanya sekedar membuka FB untuk update status saja, tapi mendapatkan informasi yang bernilai positif, salah satunya adalah informasi lomba. Berawal dari FB ini aku bergabung dengan grup ‘Info Lomba For You’ dan grup ‘Kumpulan Informasi Lomba’. Dari kedua grup dalam FB inilah aku melakukan browsing dan menelusuri lomba-lomba yang ada. Dalam salah satu informasi lomba itu aku menemukan informasi lomba karya tulis Communication Student Summit [CSS] yang merupakan salah satu dari rangkaian acara perayaan HUT Departemen Ilmu Komunikasi ke-23 Universitas Airlangga Surabaya. Tema lomba karya tulis CSS ini adalah “INTERNET: Dinamika dan Problematika dalam Masyarakat Indonesia”. Ketentuan lomba ini adalah peserta disuruh mengirimkan abstraksi terlebih dahulu. Pengiriman abstraksi dapat dilakukan mulai tanggal 21 Maret-3 April 2011. Nantinya sebanyak 20 abstraksi yang terpilih/lolos akan diumumkan pada tanggal 9-10 April 2011. Tiba-tiba tidak lama kemudian aku pun jadi teringat dengan jejaring sosial yang berasal dari Banyumas, yaitu jejaring sosial Kayakiye. Pertama kali aku tahu jejaring sosial Kayakiye juga dari Facebook, waktu itu ada temanku yang menge-tag akun ini ke facebookku. Bermula dari ini aku pun berusaha mencari informasi tentang jejaring sosial Kayakiye dan mengajak dua orang temanku untuk membuat karya tulis tentang hal tersebut.
Dengan memanfaatkan fasilitas hotspot di kampus, aku sering online di kampus untuk mencari bahan buat karya tulis tersebut. Waktu itu persyaratannya adalah hanya mengirimkan abstrak terlebih dahulu beserta biodata penulis. Aku pun selesai menyusun abstrak dan akhirnya aku kirim lewat email panitia, karena harus dikirimkan lewat email. Tanggal 9-10 April 2011 adalah pengumuman tim yang lolos seleksi abstraksi, tapi waktu itu aku buka email ternyata ada perubahan jadwal pengumuman (pengunduran jadwal menjadi tanggal 14-15 April) dikarenakan banyaknya abstrak yang masuk ke panitia dan dewan juri belum selesai mengoreksi semuanya, begitulah pesan singkat dalam email itu. Tiba juga tanggal 14 April 2011, awalnya aku merasa kaget karena nama timnya aku tidak ada di daftar yang lolos. Pupus sudah harapanku untuk lolos seleksi dalam lomba tersebut. Hari itu baru diumumin 15 tim yang lolos katanya masih ada 15 tim lagi menyusul esok harinya. Ternyata akan diambil 30 tim yang lolos seleksi padahal dulunya di pengumuman hanya 20 tim. Esok harinya (tanggal 15 April 2011) aku kembali membuka email dengan rona wajahku yang penuh dengan penasaran. Awalnya aku tidak percaya dengan pengumuman itu dan sempat terkejut juga ternyata timku lolos 30 besar seleksi abstraksi berada di urutan ke-21. Wah, sungguh senangnya hatiku waktu itu, suka cita penuh tawa bercampur haru juga karena timnya aku merupakan satu-satunya tim yang lolos 30 besar yang berasal dari kampusku (Universitas Jenderal Soedirman). Tiada ku sangka, tiada ku duga. Karena ini merupakan pertama kalinya aku lolos dalam ajang kompetisi karya tulis tingkat nasional Dalam pengumuman itu juga disampaikan bahwa 30 tim itu disuruh mengumpulkan full papernya maksimal tanggal 10 Mei dan tanggal 14-15 Mei adalah presentasi finalis 30 besar itu di UNAIR Surabaya.
Jumat, 13 Mei 2011 pagi jam 6.00 WIB aku berangkat ke Surabaya. Ini merupakan hari pertamaku ke Surabaya. Aku berangkat naik kereta ekonomi logawa bersama dengan timku tanpa didampingi dengan dosen dari kampus. Setelah menempuh perjalanan sekitar 11 jam aku sampai juga di stasiun Gubeng Surabaya sekitar jam 17.00 WIB. Tim panitia sudah ada yang standby disana dan waktu itu menunggu juga tim lain dari UNIBRAW sampai jam 18.30 WIB dan akhirnya kami bareng dengan tim UNIBRAW menuju ke penginapan. Ternyata sudah banyak yang datang di penginapan ada teman-teman dari Makassar, Jakarta, Depok, Yogyakarta, Semarang, Madura dan Bali. Betapa bahagianya hati ini merasakan pengalaman yang sangat berkesan ini. “Ternyata membaca pengalaman sangat berbeda sekali dengan merasakan langsung pengalaman itu sendiri” kataku dalam hati waktu itu. Pengalaman baru, teman-teman baru, dan tentunya kenangan terindah yang tak kan terlupakan berada di tempat ini. Malam itu merupakan malam yang penuh dengan persiapan dari para finalis untuk presentasi besok paginya. Masing-masing tim sibuk dengan persiapannya dan ada juga yang latihan presentasi di kamar dan di taman tempat penginapan itu, karena besok adalah hari yang penuh dengan perjuangan oleh masing-masing tim yang membawa nama baik almamaternya masing-masing.
Sabtu, 14 Mei 2011 akhirnya tiba juga waktu yang dinanti-nanti. Pagi yang cerah ceria, langitnya elok dengan kilauan mentari yang tersenyum sumringah. Begitu juga dengan hati ini terasa bahagia merekah indah. Warna warni almamater dari berbagai kampus yang berbeda-beda terlihat elok seperti pelangi yang menawan, gagah perkasa, dan penuh percaya diri. Begitulah suasana saat para finalis sudah berdandan rapi dengan almamaternya yang berbeda-beda, ada yang merah, kuning, hijau, biru, abu-abu, krem, dan orange sudah bersiap-siap berangkat dari penginapan menuju kampus UNAIR. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam sampai juga di kampus UNAIR. Satu persatu dari tim para finalis bergantian maju ke depan memaparkan dan mempresentasikan hasil karya tulisnya masing-masing yang telah dibagi dalam kelompok panel berdasarkan jenis tema masing-masing. Kini gilirannya timnya aku maju mempresentasikan karya tulis kami. Dengan penuh semangat, motivasi, dan percaya diri kami maju dengan optimis. Walau sempat beberapa peserta yang tanya ada yang berusaha menjatuhkan, tapi kami mencoba menjawabnya dengan tenang dan akhirnya berhasil mendapat sambutan positif dari dewan juri. Usai sudah semua tim mempresentasikan karya tulisnya dan semua tim kembali lagi ke penginapan dan hasil pemenangnya yang juara akan diumumkan besok harinya setelah acara seminar nasional.
Tiba juga hari yang dinanti-nanti. Rupanya hari kedua ini lebih banyak pesertanya karena ada acara seminar nasional yang bertemakan Media, Society and Cyberspace. Antusias para peserta sangat tinggi, baik peserta semnas maupun dari para finalis karya tulis. Dengan dimoderatori oleh Prima Kirtti Utomo Yusuf, seminar ini secara umum menyoroti tentang internet sebagai media baru dengan dinamikanya. Pembicara dan pakar di bidang cyberspace yang diundang dalam seminar ini adalah Onno W. Purbo (Pakar IT dan hacker), Henry Subiakto (Staff Ahli Menkominfo), Brahmo Saputro (Community Manager Kaskus.us) , hingga penulis dan blogger kenamaan Raditya Dika. UU IT, kaidah hacker, manajerial Kaskus, hingga belajar bagaimana menjadi blogger sukses semua dikupas dalam seminar ini. Seminar ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama, peserta seminar diajak untuk berpikir lebih keras tentang Undang-Undang IT bersama Henry Subiakto dan pengetahuan tentang hacker dan cracker bersama Onno W.Purbo. Dalam presentasinya Onno menjelaskan pentingnya etika bagi seorang hacker. “Hacker itu seperti seniman, seorang hacker tidak dilihat dari seberapa banyak gelarnya tapi seberapa ahli dia dalam nge -hack,” ungkapnya di sela-sela penjelasan tentang apa itu hacker. Secara gamblang Onno W.Purbo juga menjelaskan tentang batasan-batasan antara siapa yang bisa disebut hacker dan siapa yang bisa disebut cracker.
Memasuki sesi kedua, suasana seminar menjadi lebih santai. Materi yang dibawakan adalah sesuatu yang populer di mata mahasiswa. Kali ini Brahmo Saputro menjelaskan bagaimana sistem kerja dan manajerial Kaskus hingga berhasil menjadi komunitas terbesar di Indonesia dengan pendatapan 31 miliar dalam satu bulan. “Never give up, be passionate, and build trust adalah kunci sukses Kaskus” ujarnya. Sesi kedua ini semakin seru tatkala Raditya Dika, penulis buku best-seller yang diadaptasi dari blog pribadinya datang dengan gayanya yang khas . Peserta seminar sontak dibuat tertawa mendengar berbagai pengalaman dan tips-tips Raditya Dika selama menjadi blogger dan penulis. Seperti pada sesi pertama, di akhir sesi peserta diberi kesempatan untuk bertanya kepada pembicara. “Banyak bahan yang loe bisa tulis dari apa yang loe temuin sehari-hari, loe cuma harus nulis dari sudut yang berbeda, jangan nulis apa yang banyak orang lain tulis,” jawab Raditya Dika saat seorang peserta seminar bertanya bagaimana membuat tulisan menarik dan dibaca banyak orang.
Setelah sesi tanya jawab dengan Raditya Dika, usai sudah seminar nasional itu berlangsung. Pada penghujung seminar ini tibalah waktu yang dinanti-nanti dari para peserta lomba call for papers yang telah ditunggu-tunggu oleh 24 tim peserta paper. “Setelah menjalani berbagai tahapan mulai dari penyaringan 30 abtraksi terpilih dari 350 abstraksi yang mendaftar, pengiriman full paper hingga tahap presentasi paper, akhirnya kami akan mengumumkan para pemenang lomba call for papers sebagai berikut” kata pembawa acara itu. Juara ketiga diraih oleh tim dengan paper yang berjudul “Optimalisasi Jejaring Sosial Kayakiye Sebagai Media Untuk Melestarikan Bahasa dan Budaya Banyumasan” dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Betapa terkejut dan kagetnya perasaanku waktu mendengar pengumuman itu. Senang bercampur haru penuh suka cita terpancar dari wajah kami, ditambah lagi dengan ucapan selamat sambil berjabat tangan dari para peserta lain semakin membuat bahagia ini semakin membara. Alkhamdulillah, akhirnya perjuangan kita tercapai juga, kataku dalam hati. Kami pun maju ke depan dengan langkah tegap dan penuh percaya diri dan berdiri di hadapan para peserta untuk menerima hadiah. Juara kedua diraih oleh tim dengan paper yang berjuddul “Game Online dan Katarsis Virtual” dari Universitas Paramadina Jakarta. ¬Sedangkan juara pertama diraih tim dengan paper berjudul “Kampoeng Cyber dan Simbolisasi Identitas” dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Usai penerimaan hadiah bagi semua juara, kami semua foto bersama dengan para pembicara dan semua peserta call for paper. Pengumumam pemenang ini sekaligus menutup helatan Communication Student Summit 2011 dan sampai jumpa tahun depan di ajang kompetisi selanjutnya. Ternyata mimpi itu sekarang benar-benar telah menjadi impian yang nyata. Pengalaman yang sungguh luar biasa, kenangan yang terindah bisa bertemu para penulis hebat dari berbagai kampus, dan moment ini akan menjadi kado terindah dalam sepanjang hidup ini.

JEJAK SANTRIPRENEURSHIP

Sebuah desa yang penuh dengan kenangan, alam yang hijau, udara yang segar dan masyarakat yang penuh dengan toleransi dan gotong royong. Disinilah tempat kelahiranku. Tempat yang masih banyak populasi burung berkicau, belalang yang berdendang dan pepohonan rindang yang berderet rapi. Namaku Lukman, lebih lengkapnya adalah Lukmanul Taufiki Aldjaisya. Sejak kecil kehidupanku penuh dengan pendidikan dari kedua orangtuaku. Mereka mendidikku penuh dengan perhatian dan kasih sayang. Kedisiplinan selalu yang ditekankan setiap hari. Kebersihan dan kerapihan harus selalu ada di rumahku. Begitulah orangtuaku mendidikku seperti itu sejak kecil. Mereka menginginkan aku menjadi orang yang baik dimanapun berada. “Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain”, begitulah pesan kedua orang tuaku yang sering diutarakan kepadaku. Masyarakat di desaku pun merupakan masyarakat yang hebat, penuh dengan toleransi dan saling bahu membahu. Setiap sebulan sekali di desaku selalu ada kerja bakti bersama membersihkan lingkungan sekitar. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak semua ikut serta. Ibu-ibu menyiapkan makanan. Bapak-bapak ada yang membersihkan selokan, ada yang menyapu dan ada yang memotongi rumput. Sungguh indahnya kebersamaan yang seperti itu. Jalan-jalan menjadi bersih, lingkungan menjadi enak dipandang mata dan sejuk di hati. Rutinitas seperti ini sudah ada sejak dahulu, sejak aku belum lahir.
Sejak kecil aku selalu bercita-cita ingin menjadi orang yang sukses dan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain seperti pesan orangtuaku itu. Padahal aku hanya tamatan MTs (SMP) saja. Maklum, karena faktor ekonomi aku tidak bisa melanjutkan ke pendidikan tingkat lanjut. Pendidikan umum memang penting, tapi itu bukan segala-galanya yang menjadi faktor utama menjadi orang yang sukses, kataku. Berbekal pengetahuanku dari MTs dan nasihat-nasihat yang sering orangtuaku sampaikan merupakan modal awalku untuk melangkah di kehidupan ini. Setelah lulus MTs, orang tuaku akan mengantarkanku masuk ke pesantren. Sejak dulu orangtuaku menginginkan aku untuk masuk ke pesantren. Aku akan pergi meninggalkan desaku yang permai. Berat rasanya dan sepertinya tidak mau pisah jauh dengan keluarga. Maklum, mungkin karena usiaku yang masih 15 tahun belum mau pisah dengan orangtuaku. Tapi orangtuaku bilang, “kamu harus berangkat nak, carilah ilmu sebanyak mungkin dan kelak diamalkan di masyarakat”. Kurang satu hari lagi aku mau berangkat ke Pesantren di Jawa Timur. Aku harus pamitan terlebih dahulu ke semua sanak keluargaku. Kebetulan sore itu kakek dan nenek lagi ada dirumah dua-duanya. Aku mau minta pamitan ke mereka. Begitu masuk rumah, nenek langsung memelukku dengan penuh haru, dan seolah-olah seperti tidak mau melepaskanku untuk pergi jauh dari sampingnya. “Hati-hati yah man ntar kalau sudah di pesantren, sinau sing sregep” kata nenekku. “Nggih, budhe” jawabku.
Berbeda dengan nenek yang enggan untuk melepaskan kepergianku ke pesantren, kakekku lebih banyak memberikan ceramah dan nasihat-nasihat untukku. “Mencari ilmu itu adalah kewajiban, jangan seperti kakek yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, tapi kakek selalu mengamalkan apa yang dibilang sang kyai” kata kakekku. Dulu kakek, hanya ikut pengajian di mushola dan sering dekat juga dengan kyai, sehingga kakek juga banyak dapat ilmu dari kyai Tohirin di kampung kakek dulu. Sebelum kamu berangkat ke pesantren, kakek hanya bisa berpesan, “dalam kita menuntut ilmu pasti banyak godaan dan tantangan. Ada 3 perkara yang harus kamu ingat, yaitu teman, perempuan, dan biaya” kata kakek. “Maksud tiga perkara itu apa kek?” tanyaku kepada kakek. “Teman: maksudnya hati-hati dalam berteman, jangan sembarang berteman karena karakter orang berbeda-beda, pilihlah teman yang baik-baik saja. Tapi tetaplah berteman dengan semuanya, tapi ada batasnya” kata kakek. “Terus yang kedua adalah perempuan. Maksudnya adalah masalah cinta, karena dia pasti akan datang menggodamu. Makanya hati-hati jangan sampai kamu tergoda, belajar dulu yang rajin” tambah kakek. “ketiga adalah biaya, biaya menjadi penting juga dalam bekal untuk menuntut ilmu. Pergunakanlah bekal yang diberikan orangtuamu dengan sebaik-baiknya. Kakek hanya bisa berpesan seperti itu dan tidak bisa memberi bekal kamu apa-apa, semoga kamu diberi kemudahan dalam menuntut ilmu di pesantren dan kakek akan selalu mendoakanmu disini” tambah kakek lagi. Sesudah pamitan dengan mereka, besoknya aku berangkat ke pesantren.
Senen pagi yang cerah, mentari pun penuh memancarkan senyum cahayanya yang menawan. Desaku yang asri dan sejuk dengan hembusan udara yang segar ini akan segera aku tinggal. Aku berangkat ke pesantren. Aku berangkat dengan kedua orangtuaku naik kereta. Perjalanan yang lumayan panjang, dan melelahkan setelah melewati berbagai kota dan suasana yang penuh sesak di kereta. Kami telah menempuh perjalanan selama delapan jam, akhirnya sampai juga di Jawa Timur. Aku naik angkot menuju tempat pesantren yang akan aku tuju. Sampai juga di pesantren. Aku dan kedua orangtuaku menemui sang kyai pengasuh pesantren itu. Kami tidak lama di rumahnya pak kyai, kedua orangtuaku hanya ‘memasrahkan’ atau istilahnya mendaftarkan dan menitipkan aku untuk belajar di pesantren kepada pak kyai itu. Setelah itu, aku langsung diantarkan ke tempat pesantren tempatku akan menetap disini untuk beberapa tahun ke depan. Aku masuk ke bilik 9 (bilik adalah istilah kamar dalam pesantren). Kedua orangtuaku pun akhirnya pulang dan berpamitan denganku. Isak tangispun sempat terteteskan dari ibuku yang tak mau meninggalkanku disini. “Ibu masih kangen nak” kata ibuku. Setelah cukup lama ibu memelukku dengan penuh kehangatan, ibu memberi nasihat dan pesan kepadaku untuk berhati-hati dan belajar yang baik disini. Ayah pun mencoba menenangkan hati ibu, kami pun harus berpisah untuk sementara. Kedua orangtuaku akhirnya pulang. “Sebuah semangat, pesan dan doa dari ibu dan ayahku yang penuh dengan makna, semoga aku bisa memberikan senyuman indah untuk mereka suatu saat kelak” kataku dalam hati. Aku akan bersungguh-sungguh menuntut ilmu disini dengan baik, dan kelak akan aku amalkan untuk masyarakat nanti.
Kehidupanku yang baru di pesantren, aku sangat sedih tiada orangtua disini, keluarga jauh disana dan teman-temanku juga tidak ada yang disini. Aku harus beradaptasi. Aku merasakan hal yang sangat berbeda sekali dibandingkan dengan saat di rumah dulu. Mandiri dan berbaur hidup dengan santri-santri lain. Ternyata apa yang telah diajarkan orangtuaku sejak dulu, kini sangat berarti sekali disini. Mandiri dan kemandirian hidup. Pesantren adalah miniatur sebuah kehidupanku. Aku masih warga biasa, karena disini pun ada lurah juga ternyata. Tapi bukan seperti lurah pada umumnya, lurah disini adalah yang mengkoordinir semua santri yang ada di pesantren ini. Namanya kang Jalal lurah di pesantren ini. Beliau sudah 7 tahun sebagai santri disini. Biliknya kang jalal ada di paling pojok. “Dibawah lurah, juga masih ada jajaran pengurus pesantren, sehingga bilik ini pun disebut bilik pengurus” kata kang Jalal kepadaku. “Selain itu, tiap-tiap bilik juga ada ketua biliknya masing-masing” tambah kang Jalal. “kalau ketua bilik 9 siapa kang” tanyaku pada kang Jalal. “Ketua bilik 9 adalah kang Marzuki, kebetulan orangnya lagi ngaji di jerambah” kata kang Jalal. Maklum, waktu itu lagi ada pengajian dan kang Jalal masih menemaniku dan mengenalkan keadaan di pesantren ini, jadi beliau tidak mengikuti pengajian. Aku dapat informasi banyak dari kang Jalal tentang pesantren ini.
Sudah sebulan aku di pesantren. Aku sudah terbiasa dengan kegiatan dan rutinitas pengajian yang ada di pesantren ini. Mulai sejak ba’da shubuh hingga ba’da isya rutinitasku adalah mengikuti pengajian di jerambah dengan sang kyai. Akan tetapi ada jeda beberapa jam buat aktivitas lain, sedangkan hari Jum’at dan Minggu juga ada kegiatan lain di pesantren. Suatu ketika, tiba-tiba aku dipanggil untuk menemui pak kyai di rumahnya. Suatu hal yang tak disangka-sangka sebelumnya, padahal tadinya sempat kaget karena biasanya santri kalau dipanggil pak kyai itu santri yang bermasalah. Akan tetapi ternyata justru sebaliknya, aku disuruh jadi ‘abdi dalem’ di rumahnya pak kyai. ‘Abdi dalem’ adalah sebutan untuk santri yang diangkat oleh kyai untuk mengabdi dan membantu di rumahnya pak kyai. “Alhamdulillah, mungkin karena kyai sudah mengenalku cukup jauh, jadi aku diangkat jadi abdi dalem oleh beliau” kataku dalam hati. Sejak saat itu juga aku sering bolak balik dari pesantren ke rumahnya pak kyai. Di rumahnya pak kyai, aku membantu pekerjaan yang ada di rumah pak kyai. Mencuci piring, menyapu halaman dan ruangan, membersihkan pekarangan, belanja makanan sampai ikut berjualan dengan pak kyai dan bu nyai. Begitu aktivitasku setelah menjadi abdi dalem di rumahnya pak kyai. Terkadang aku sering mendapat tugas dari pak kyai untuk belanja di pasar, sehingga aku pun jadi hafal harga bahan-bahan makanan di pasar dan tahu bagaimana cara membeli dan memilih bahan yang dibutuhkan untuk keperluan belanjanya pak kyai. Pak kyai juga mempunyai toko besar yang menjual aneka kue dan roti yang merupakan hasil produksi sendiri. Memang sebenarnya sudah ada karyawan disana juga, tapi terkadang para santri juga ikut membantu berdagang disana. Tapi, aku yang lebih sering mendapat tugas untuk menjaga toko setiap hari jumat. Hari demi haripun terus berlalu, aku mendapatkan banyak ilmu dari pak kyai, selain ilmu agama yang telah banyak aku dapatkan, ilmu berdagang dan jual beli pun aku sudah cukup menguasai dan menjadi termotivasi untuk berdagang juga.
Banyak ilmu dan pengalaman yang telah aku dapatkan di pesantren ini. Sudah 6 tahun aku disini dan besok adalah acara wisudaku (wisuda Diniyah Ulya). Nadhom alfiyah pun akhirnya aku hafal semua. “Apakah besok impianku akan tercapai, menjadi santri terbaik dalam Lailatul Firoq?” tanyaku dalam hati. Besok adalah puncak acara dan akan diumumkan santri terbaik juga. Lailatul firoq nama acara wisuda itu. Semua orang tua santri yang mau wisuda turut diundang juga dalam acara lailatul firoq nanti. Kedua orangtuaku pun besok akan datang kesini. Sebuah panggung besar pun kini sudah berdiri di depan halaman pesantren. Tak ketinggalan juga sound system sudah bergema dan semua kursi buat tamu undangan dan hadirin sudah tertata dengan rapi. Rasanya begitu menggetarkan hati, berdebar dan berdetak terus jantung ini, ketika namaku dipanggil untuk maju ke atas panggung. Kedua orangtuaku pun sudah duduk di bangku tengah dengan penuh senyum haru dari kedua orang tuaku itu. Satu per satu wisudawan dan wisudawati akhirnya sudah berada di atas panggung semua. Tibalah waktu yang paling ditunggu-tunggu. Pak ustadz Nirwan pun akhirnya membacakan santri terbaik dari tiap tingkatan (diniyah wustho dan diniyah Ulya). “Untuk santri terbaik diniyah Ulya dengan total nilai 90,27 (dengan predikat jayid jiddan) adalah ananda…..” ucap pak ustadz Nirwan. Begitu gemuruhnya suasana itu, semua terdiam dan penasaran dengan nama yang akan diucapkan oleh pak Ustadz Nirwan. “…..adalah ananda Lukmanul Taufiki Aldjaisya bin bapak Syamsudin” ucap pak ustadz Nirwan dan hentakan tepuk tangan pun bergema di tempat itu. Begitu senangnya hatiku, seakan-akan terbang dan melayang hati ini mendegar kata pak ustadz Nirwan menyebutkan namaku. “Alhamdulillahirobbil’alamin” ucapku sambil mengusapkan ke tangan dan seketika itu pula aku langsung sujud syukur. Kedua orang tuaku pun terlihat bahagia sekali mendengar namaku disebut dan mendapatkan predikat santri terbaik diniyah ulya. Malam ini merupakan malam yang paling berharga dalam hidupku dan akan ku kenang terus.
Selesai sudah aku menimba ilmu di pesantren, aku berpamitan kepada sang kyai untuk izin pulang ke rumah. Tadinya pak kyai menghalangiku untuk pulang, “Man, kamu mengabdi lagi disini 1 tahun”, kata pak kyai. Akan tetapi akhirnya kedua orangtuaku menjelaskan kepada pak kyai bahwa aku harus pulang ke rumah karena masarakat disana sangat menantikan, jelas orangtuaku kepada pak kyai. Akhirnya aku dan kedua orangtuaku berpamitan dengan pak kyai untuk kembali ke rumahku. “Hati-hati man, dan jangan lupa ilmu yang telah kau dapatkan untuk diamalkan” kata pak kyai. “Insya allah pak kyai” jawabku mengakhiri pertemuanku dengan pak kyai.
Roda kehidupan terus berputar. Sudah 6 bulan aku di rumah setelah kepulanganku dari pesantren. Sudah banyak yang aku lakukan di rumah. “Tapi sepertinya masih ada yang kurang dalam hidupku ini” kataku kepada ibu. “Bu, Lukman ingin berpenghasilan sendiri dan ingin membantu ibu. Lukman ingin berdagang dan mencari nafkah untuk bekal kehidupan Lukman nanti” tambahku. Ibu akhirnya mengizinkanku untuk berdagang. “Minggu depan Mas Yanto paman kamu akan pergi ke Jakarta, kamu ikut paman saja nak” kata ibuku. Aku langsung ke rumah paman untuk menanyakan tentang keberangkatanku ke Jakarta. Aku harus meninggalkan desaku lagi. Minggu depan aku berangkat ke Jakarta.
Panas sang surya begitu menyengat di kepala. Tidak jauh beda, dengan bis ekonomi yang baru saja aku tumpangi tadi. Penuh sesak berjejalan. Ditambah lagi pedagang asongan dan pengamen kerap kali memenuhi bis yang baru saja aku tumpangi tadi. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Jakarta. Sambil membawa koper besar, aku dan pamanku turun dari bis. Ramai, gemerlap dan penuh sesak berjejalan. “Ternyata kota Jakarta memang ramai sekali dan banyak bangunan yang menjulang tinggi sepanjang perjalanan tadi, seperti berita yang aku tonton di televisi pada waktu lalu”, kataku pada paman. Maklum, hari ini merupakan hari pertamaku menginjakkan kaki di ibukota. Setelah sekian lama aku hidup di desa dan selama 6 tahun terakhir aku hidup di pesantren di Jawa Timur. Pamanku sudah lama kerja di Jakarta dan beliau sudah sangat hafal dengan suasana ibukota. Paman bekerja sebagai pedagang nasi goreng. Dari terminal, aku dan paman naik angkot menuju ke kontrakan.
Tersentak kaget, begitu aku turun di komplek kontrakan paman. Suasana yang sangat berbeda dengan kehidupanku sebelumnya. “Ya jelas bedalah, ini bukan pesantren” kataku dalam hati. Semuanya seperti kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Mulai dari cara berpakaian, cara bersikap, bertutur kata sampai bergaul semuanya terbawa arus lingkungan yang ada. “Beginilah kehidupan di kota besar, banyak para pendatang dari seantero dan pelosok nusantara, juga banyak budaya-budaya asing dan kebiasaan yang buruk pun ikut hadir disini” kata paman. Jadi, mereka pun mengikut dan mengalir ditengah-tengah budaya yang ada dan berbaur menjadi kebiasaan sehari-hari, tambah paman. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan pun seperti tiada batas dan sangat bebas. ‘‘Saya miris dan kasihan paman melihat mereka’’ kataku pada paman. Terkadang paman juga kasihan melihat mereka yang hanya ikut-ikutan tapi tidak melihat dampak negatifnya bagi diri mereka sendiri, tambah paman.
“Lingkungan memang berpengaruh besar terhadap karakter seseorang” pikirku dalam hati. “Mereka telah terwarnai oleh lingkungan globalisasi, aku harus mewarnai mereka” tambahku sambil tersenyum miris melihat mereka. Nilai dan pesan pendidikan yang telah orang tua berikan padaku dan ilmu dari pesantren yang telah aku dapatkan harus aku sampaikan kepada mereka. Tekad dan kemauanku untuk berbagi ilmu dengan mereka sangat tinggi. Setiap kali aku bertemu mereka, aku selalu mengucapkan salam dan menyapa mereka terlebih dahulu. Memberikan contoh yang baik terlebih dahulu kepada mereka dengan cara yang baik juga merupakan metode yang tepat untuk menyampaikan kebaikan kepada mereka. Sambil berdagang nasi goreng dengan paman, aku pun jadi mengenal mereka, baik warga komplek kontrakan pamanku maupun para pembeli dari komplek lain. Paman mulai berjualan nasi goreng sehabis ashar, biasanya sampai jam 8 malam sudah selesai kalau lagi laris.
Masyarakat sekitar pun sudah mengenal tentang diriku dan mengetahui kalau aku menyampaikan sesuatu yang baik bagi mereka. Aku mendapat sambutan yang positif dari warga disini dan mereka meminta aku untuk mengajarkan agama kepada anak-anak mereka, karena mereka sangat membutuhkan ilmu itu. Kontrakan paman yang hanya berukuran kecil itu, kini menjadi tempat mengaji bagi anak-anak warga komplek setiap jam 1 siang sampai menjelang ashar sekitar jam 3 sore. Awalnya hanya 5 orang yang mengikuti belajar dengan aku di tempat ini, akhirnya setelah satu tahun berjalan jumlah anak yang mengikuti pengajian dengan aku bertambah banyak, dan ada salah seorang warga sekitar yang memperbolehkan rumahnya sebagai tempat untuk pengajian Al-Qu’an dan ilmu agama Islam. Ternyata ilmu yang telah aku dapatkan dari pesantren dulu, sekarang sangat bermanfaat sekali untuk mereka. Selain aku mendapat penghasilan dari menjual nasi goreng dengan paman, aku juga sedikit mendapat rejeki dari mengajar anak-anak warga sekitar. Dan kini sekarang aku mendapat julukan sebagai ustadz Lukman sang penjual nasi goreng.

METAMORFOSIS CINTA

METAMORFOSIS CINTA

Saya dilahirkan di sebuah desa yang cerah ceria dan segar udaranya. Tepatnya desa Cerih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Sejak kecil saya mendapat banyak julukan dari teman-teman, yaitu ‘bule kampung’, ‘putu landa’ (cucunya belanda) dan ‘putu harto’ (cucunya pak harto) karena pada waktu itu saya orangnya cukup gemuk, berkulit putih dan berambut pirang. Saat saya masih duduk di bangku MI (SD) teman-teman beranggapan bahwa saya itu orangnya ganteng, baik, pintar dan rajin. Sehingga pada waktu itu banyak yang tertarik dengan saya, akan tetapi saya tidak pernah menghiraukannya. Berbicara masalah cinta, mungkin saya termasuk orang yang katro dengan istilah tersebut, akan tetapi kerap kali ia menghampiri dan menghiasi dalam setiap rona perjalanan hidupku ini. Saya mulai mengenal istilah cinta pada waktu MTs (SMP) dan waktu itu saya beranggapan bahwa cinta adalah kasih antara dua insan (laki-laki dan perempuan) saling mengenal satu sama lain. Selain karena faktor pubertas usia remaja, faktor lingkungan sangat menentukan akan hidup seseorang. Banyak teman-teman saya yang sudah mengenal istilah pacaran, mungkin karena pengaruh sinetron (film) di televisi juga. Akan tetapi, saya tidak pernah mau tahu tentang urusan itu. Banyak juga yang katanya naksir sama saya, akan tetapi saya tidak menanggapinya. Saya orangnya memang penurut dengan nasihat orang tua, ‘selagi masih sekolah jangan pacaran dulu, belajar yang rajin’ begitu kata orang tuaku. Sehingga saya pun berusaha untuk ingat pesan itu.
Pernah waktu itu ada adik kelas yang menyurati saya dan mengatakan dalam surat itu kalau dia suka sama saya, akan tetapi saya tak menghiraukan isi surat itu dan menanggapinya dengan biasa saja. Seiring berjalannya waktu, saya pun akhirnya mulai mengerti akan istilah cinta karena lantaran teman-teman yang selalu mendorongku kearah sana. Waktu itu bertepatan dengan kemah jambore ranting Jatinegara memperingati hari pramuka tahun 2004. Mulai dari SD sampai SMA se-kecamatan Jatinegara mengikuti kemah di lapangan desa Cerih. Disinilah benih-benih awal saya mulai mengenal yang namanya cinta. Saat itu merupakan awal saya di kelas 3 MTs dan saya menjadi pimpinan regu (pinru) dari penggalang MTs Al-Falah Cerih. Setiap kali kegiatan, pinru selalu yang diundang untuk berkumpul di sekretariat lapangan. Semua pinru dari tiap-tiap regu pun berkumpul semua. Saya bertemu dengan seorang pinru putri dari SMP 2 Jatinegara. Sebelumnya saya belum pernah bertemu dengan dia, akan tetapi saya pernah mendengar namanya, karena kakaknya dia dulu sekolah di MTs saya dan pernah menceritakannya kepada saya. Setiap kali kegiatan, baik di lapangan maupun di dekat tenda saya sering menghampirinya. Dia menampakkan senyumnya itu. Dia memang beda diantara temannya yang lain, kataku dalam hati. Dia berjilbab, padahal teman yang lainnya tidak ada yang berjilbab. Lantaran seringnya bertemu dengannya membuat saya seakan-akan ingin mengenal lebih dekat dengannya. Ada pepatah mengatakan ‘witing tresno jalaran soko kulino’. Benih cinta tumbuh seiring dengan tingginya intensitas pertemuan. Mungkin pepatah ini menggambarkan suasana hatiku waktu itu. Tapi apa boleh buat, hati ini hanya bisa merasa dan saya tidak berani terus terang dengannya. Saya masih ingat dengan pesan orang tuaku itu.
Perkemahan itu pun telah lama usai, tapi perasaan ini sepertinya tak mau pergi dari hati ini. Senyumannya masih terngiang di benakku. Hingga akhirnya saya pun mencoba menuangkan perasaanku lewat tulisan dalam secarik surat. Maklum saya masih belum berani terus terang mengungkapkan langsung dengannya. Saya menitipkan surat itu lewat teman sekelasnya dia yang satu SMP dengannya. Hari itu merupakan pertama kalinya saya menulis surat buat seorang perempuan. Tak selang waktu lama, akhirnya dia pun membalas suratku dan jawabannya begitu mengejutkanku. Dia belum bisa memutuskan karena ada dilema di hatinya. Ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Ternyata ada juga salah satu teman dekatnya dia yang suka dengan saya dan sangat berharap pada saya. Akan tetapi saya tidak begitu tertarik dengan temannya itu. Selain itu, dia juga menambahkan dalam suratnya bahwa ternyata teman dekat saya juga katanya ada yang suka dengan dia. Makanya dia tidak mau persahabatan diantara temannya dia ataupun persahabatan diantara temanku jadi berantakan gara-gara masalah saya dengan dirinya itu. Suatu keputusan yang bijak darinya. ‘Bila ada jarum patah jangan disimpan di peti, bila ada kata yang salah jangan diambil hati’, begitu kata terakhir menutup suratnya itu. Saya pun memahami maksudnya itu. Mungkin belum saatnya dan belum waktunya saya untuk dekat dengannya, pikirku. Persahabatan itu lebih penting daripada pacar dan belajar juga jauh lebih penting buat masa depanku, apalagi sebentar lagi saya juga mau menghadapi ujian nasional. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu dan berurusan dengannya lagi. Suratnya dia merupakan sejarah penting dalam hidup saya, maka dari itu suratnya saya simpan baik-baik hingga sampai sekarang pun masih tersimpan di dalam lemari.
Sekilas peristiwa itu pun berlalu. Akhirnya pada tahun 2005 saya lulus dari MTs dan melanjutkan sekolahku merantau ke kota seberang, tepatnya di SMAN 3 Pemalang. Pada awalnya saya disuruh melanjutkan di MA (Madrasah Aliyah) yang ada di daerahku karena sejak awal saya berasal dari MI dan MTs. Akan tetapi saya ingin suasana sekolah yang baru tapi bukan madrasah, melainkan SMA dan orangtuaku akhirnya setuju asalkan kalau seperti itu harus menempat juga di pesantren. Akhirnya saya pun menempat di salah satu pesantren di Pemalang. Awalnya saya merasa asing tinggal di pesantren karena belum terbiasa dan dari teman-teman MTs, hanya saya yang melanjutkan di Pemalang. Saya pun harus mampu beradaptasi dan membagi waktu antara di SMA dan di pesantren. Pagi saya sekolah di SMA sampai jam setengah 2, habis itu madrasah di pesantren dari jam 2 sampai jam 5 sore, terus kegiatan malam ba’da maghrib dan ba’da isya adalah kajian kitab kuning sampai jam 10 malam. Selesai itu baru saya bisa belajar yang lainnya. Biasanya sampai larut malam kalau lagi banyak tugas. Jam 4 pagi saya harus sudah bangun lagi. Ba’da subuh adalah kajian lagi sampai jam setengah 7, setelah sarapan baru saya berangkat ke SMA. Aktivitas ini berlangsung selama 3 tahun.
Hari pertama masuk SMA pun akhirnya tiba juga. Akhirnya bisa mengenakan seragam putih abu-abu juga. Tiada yang saya kenal dan belum sama sekali punya kenalan. Saya masuk ruang kelas X-2 dan menempati bangku di belakang karena bangku barisan depan sudah terisi semua. Tak lama kemudian, dua orang perempuan datang menghampiriku dan duduk di meja sebelah yang masih kosong. Salas satu perempuan itu sempat bilang permisi padaku. Saya belum tahu siapa nama perempuan itu. Semua bangku kelas pun sudah terisi semua, seorang guru masuk ke ruang kelasku, lalu memulai dengan perkenalan dan pelajaran pertama untuk hari itu. Tak lama setelah pelajaran dimulai, tiba-tiba perempuan tadi yang duduk di meja sebelahku itu melempariku dengan sebuah kertas. Tersentak saya kaget seketika itu. Lalu saya buka kertas itu dan isinya adalah “hai kamu, kamu bukan orang jawa yah, kok rambut kamu pirang?”. Saya pun menjawab lewat kertas itu’ “saya orang jawa asli dan rambut saya memang pirang dari sananya”, “emangnya kenapa?” saya balik nanya lewat kertas itu. “Tidak apa-apa, soalnya mirip banget rambutnya dengan keponakanku, hehehe. Owh tak kirain kamu berasal dari luar jawa?” jawab dia lewat kertas itu. Terus dia kembali bertanya, ‘memangnya rumah kamu dimana?’ Tanya dia lagi. “Rumah saya di negeri seberang sana” jawabku di kertas itu. Dia terus bertanya-tanya kepadaku lewat kertas kecil itu. Aneh sekali, mau kenalan saja lewatnya tulisan. Kejadian ini berlangsung hingga satu minggu sejak pertama kali masuk SMA. Hingga akhirnya saya dan dia pun sudah saling mengenal satu sama lain. Pernah waktu itu dia menanyakan nomer HPku lewat kertas kecil juga. Saya menjawab lewat kertas itu, ‘saya belum punya, karena HP saya juga masih dalam proses produksi di Cina’ jawabku sambil becanda. Awalnya dia tidak percaya kalau saya belum punya HP, tapi akhirnya setelah saya menjelaskan kepadanya bahwa di pesantren saya dilarang membawa HP jadi saya pun tidak membawanya.
Hari demi hari pun berlalu, saya dan dia sudah sering bercerita tentang pribadinya masing-masing walau dalam sebatas teman. Dia telah membuatku semangat dan memberiku motivasi dalam mengawali kegiatan di SMA waktu itu. Teman-teman sekelas pun mengetahuinya, dan mereka beranggapan bahwa saya sudah jadian sama dia. Padahal saya hanya berteman biasa dengannya. Ada seorang teman pernah bilang pada saya, katanya sebenarnya dia itu suka dengan saya dan dia katanya sangat mengharapkan saya terus terang bilang kepadanya. Akan tetapi saya tidak berani terus terang dengan dia. Saya masih ingat pesan orangtuaku. Pernah waktu itu saat jam pelajaran sejarah dan yang mengajar adalah wali kelasku. Dia menulis sesuatu di kertas kecil dan dikasihkan ke saya. Saya pun membalasnya. Sampai pada akhirnya dia membalas lagi di kertas itu, tapi tiba-tiba saat mau dikasihkan ke saya, kertas itu tertiup kipas angin yang ada di kelasku dan terbang ke arah depan, lalu diambil oleh guruku itu. Betapa kagetnya dia dan saya pun ikut cemas. Kertas itu dibaca oleh guruku yang merupakan wali kelasku juga dan teman-teman sekelas pun pada tahu semua isi dalam kertas itu. Wali kelasku hanya bilang ‘hayo kalian jangan main-main dan jangan diulangi lagi’ sambil bergurau dengan canda tawa.’Iya bu’ jawabku dan jawab dia juga. Untung saja wali kelasku baik hati dan tidak marah. Sejak saat itu saya dan dia jarang lagi menulis pesan lewat kertas di dalam kelas.
Ketika di pesantren, saya pun tetap menjalani rutinitas yang ada. Dan tidak begitu memikirkan dirinya. Pernah waktu itu sehabis sholat maghrib di Masjid Agung Pemalang, tiba-tiba saya dipanggil ustadz saya dan kami mengobrol di beranda masjid. Awalnya saya sempat kaget seketika itu. Setelah berbicara panjang, beliau mengamanatkan sebuah pesan kepada saya. Yang inti pesannya itu adalah beliau menyuruh saya untuk mengawasi teman-teman saya yang di pesantren yang juga sekolah di SMA, apabila ada anak santri yang pacaran tolong laporkan pada saya’ kata ustadzku itu. ‘Saya percaya betul dengan kamu, dan saya percaya kamu bisa mengawasi gerak gerik mereka’, tambah ustadzku. Saya pun mengiyakannya, tadinya saya sempat terkejut. Tak kira ustadz saya tahu hubunganku dengan teman SMAku itu, ternyata malah saya dipercaya untuk mengawasi gerak gerik teman pesantren yang di SMA. Sejak saat itu pula saya tidak mau mendekati yang namanya cinta, karena saya dipercaya oleh ustadz saya masa saya malah yang melanggarnya lebih dulu, kataku dalam hati. Awalnya sungguh berat, tapi ini adalah kepercayaan yang diberikan sang ustadz kepada saya.
Masa-masa di SMA dan di pesantren penuh dengan lika liku yang tiada henti. Tak terasa hampir satu tahun sudah berlalu. Suatu godaan dan tantangan datang menghampiriku. Tiba-tiba saja terdengar berita tentang teman perempuan yang dekat denganku itu. Dengar-dengar dia sudah jadian dengan seorang laki-laki dari kelas lain. Awalnya saya tidak percaya. Tapi setelah melihat langsung dia sering berduaan dengan seorang lelaki anak kelas X-1 saya baru percaya. Dia sebelumnya pernah bilang padaku kalau wanita itu ingin dimengerti dan dilindungi. Akan tetapi saya tidak pernah merespon omongannya itu. Mungkin lantaran hal itu sehingga dia butuh seorang yang menemaninya lebih dekat bukan sekedar teman biasa. Waktu itu saya hanya pernah berpesan kepadanya untuk mengenakan jilbab, karena sejak pertama SMA dia tidak berjilbab. Saya pun sebenarnya seperti merasakan kehilangan dia, karena sejak dia jadian dengan lelaki itu dia jadi jarang berkomunikasi dengan saya. Bagi saya dia adalah seorang yang pertama hadir dan memberi motivasi di saat awal SMA kelas 1 waktu itu.
Masa-masa kelas satu pun usai juga. Saya naik kelas 2 dan masuk kelas IPA sedangkan dia masuk kelas IPS. Sejak saat itu saya jadi jarang bertemu dengannya, kalau pun bertemu kami hanya saling tersenyum saja. Mungkin dia bukan jodoh saya, dan sekarang pun saya dan dia sudah tidak sekelas lagi. Saya berusaha mencoba melupakan dan menghilangkan luka-luka itu dan mencoba beradaptasi di kelas yang baru dan teman-teman baru juga. Pada awal kelas 2 ini saya sempat kaget ketika melihat dia sekarang sudah mengenakan jilbab. ‘Subhanallah, dia kelihatan beda sekali dengan berjilbab seperti itu’, pikirku dalam hati. Ternyata pesanku waktu itu, sekarang terealisasi juga olehnya. Akan tetapi di hatinya sekarang sudah ada orang lain dan saya hanya bisa bersabar menghadapinya.
Seiring dengan berjalannya waktu saya sudah beradaptasi di kelasku yang baru. Sepertinya ada angin segar yang kembali melewatiku lagi. Luka yang tadinya masih terasa di hati kini mulai hilang. Saya mendapat kenalan baru. Bisa dibilang dia lebih cantik dari yang lainnya dan menjadi primadona di kelas IPA waktu itu. Dalam hatiku berkata ‘apa ini yang akan menggantikan kekosongan hatiku ini?’. Walau sebenarnya saya pun tidak pernah mengungkapkan terus terang akan perasaanku kepada seseorang. Saya masih ingat pesan orang tuaku dan amanah dari ustadzku juga. Tapi terkadang lingkungan berkata lain, lingkungan selalu mempengaruhiku untuk mendekatinya. Dia orangnya berjilbab, pintar, sedikit pendiam dan berasal dari keluarga yang mampu. Saya sepertinya sedikit menyukainya, tapi saya selalu menyembunyikan perasaan ini. Hingga suatu ketika setelah hampir satu semester saya pun mencoba terus terang dengannya. Saya menuangkan perasaanku lewat sebuah buku diari kecil dan saya kasihkan ke dia lewat teman dekatnya. Waktu itu mau liburan UAS selama satu bulan. Dan akhirnya setelah masuk dia baru mengasihkan balasan lewat buku itu. Suatu jawaban yang membuatku kaget dan terasa pedih membacanya. Dia menyalahkanku, ‘kenapa kamu tidak terus terang dengan perasaanmu itu dan bilang langsung kepadaku, kata dia. Kalau punya perasaan dengan seseorang jangan disimpan di hati, akhirnya kamu sendiri yang rugi, karena hatiku sekarang sudah ada yang memiliki’, tambahnya. Sehari setelah itu saya pun mencoba bertemu langsung dengannya, kebetulan waktu itu tidak ada pelajaran karena lagi ada pentas seni di aula sekolahku. Saya menemuinya di depan kelas, kebetulan cukup sepi suasananya sehingga saya pun memberanikan diri untuk bertemu langsung dengannya. Saya mengungkapkan segala perasaanku kepadanya penuh dengan rasa takut, grogi dan tidak percaya diri. Karena hari itu merupakan pertama kalinya saya mengatakan perasaanku kepada seseorang secara langsung. Akan tetapi apa yang terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada harapan lagi, semua sudah terlanjur terjadi. Dia pun menjawab seperti yang dia tulis di buku diari kecilku itu. ‘Hatiku sudah ada yang menempati’ katanya. Ternyata seorang lelaki yang telah ada di hatinya itu adalah teman sebangku dan teman akrabku sendiri, katanya. Kala itu juga saya tersentak kaget mendengarnya. ‘Sejarah kedua kembali terulang lagi, persis sama seperti saat kelas satu dulu’ kataku dalam hati. Sedih rasanya dan hatiku hanya bilang sakit hati dan seperti tersayat-sayat. Jawabannya dia telah menampar hati ini menjadi pilu kuadrat. Tapi walau demikian, saya tidak begitu merasa menyesal yang mendalam dan menganggap itu sebagai pengalaman dan kenangan yang menghiasi hidupku tentang sebuah cinta. Cinta yang pada awalnya sangat mengindahkan dan akhirnya menyakitkan karena tak terealisasikan menjadi kupu-kupu yang indah. Mungkin sekarang belum waktunya cintaku bermetamorfosis sempurna menjadi kupu-kupu yang elok, karena saya masih ingat terus akan pesan orangtuaku dan pesan amanah dari ustadzku itu. Suatu saat nanti saya pasti akan menjemput kupu-kupu yang indah itu dan memiliki seutuhnya dalam bahtera hidupku kelak. Amin Yaa Robbal’alamin….

Boleh berkomentar…. Jangan lihat kisahnya saja, tapi ambil dan petiklah hikmah dan pesan apa yang dapat diambil di dalamnya…… Semoga bermanfaat…!!!!
Ditulis saat PKL (Praktek Kerja Lapangan) di LIPI Cibinong Bogor, Februari 2011