Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 22 October 2012

Kang Amroelz bertemu Kang Abik


Jum’at, 19 Oktober 2012 hujan deras melanda kota Purwokerto tatkala aku menuju ke hotel Darajati Purwokerto. Inilah pertemuan pertamaku dengan kang Abik sapaan akrab dari Habibburahman El-Shirazy, penulis dan novelis yang luar biasa ini. Cerita pertemuanku dengan kang Abik penuh dengan lika-liku yang panjang. Pagi hari disambut dengan buku berjudul “Cinta Suci Zahrana” dari kosannya ukh Dian Amanah. Sambil santap sarapan pagi, aku sedikit membaca bab terakhir novel tersebut sampai membaca daftar riwayat Kang Abik karena mau dikasihkan ke Bu Nurlaela, dosen agama Kedokteran Unsoed. Dua jam kemudian sampai juga di gedung dekanat kedokteran umum FKIK Unsoed, aku masuk ke ruang etika dan humaniora,  disitulah aku meletakkan buku “Cinta Suci Zahrana”. Tepat  di meja tengah tertulis nama ibu Nurlaela, S.Ag., M.Ag. Buku tersebut dipinjam bu Laela sebagai bahan untuk sambutan beliau saat bedah buku nanti.
Sepulang dari gedung dekanat kedokteran, kembali melanjutkan aktivitas bolak balik mencari  PR 3 Unsoed dan berkali-kali sms. Minta tanda tangan, konsultasi, memastikan beliau sambutan sekaligus membuka acara bedah buku nanti, dan yang terpenting adalah meminta memo dari beliau, itulah pokok bahasan dengan pak PR 3 nanti. Hingga akhirnya baru jam 15.00 bertepatan dengan kumandang adzan sholat ashar pak PR3 baru membalas sms. “Silahkan datang ke ruangan, saya ada di ruangan sekarang” begitu sms dari beliau. Padahal aku baru saja sampai kos-kosan melepaskan jas hujan. Sontak aku pun langsung mengenakan kembali jas hujan untuk menuju ke gedung auditorium lantai 2 (sekarang menjadi ruang rektorat sementara) dan akhirnya dapat juga memo buat penginapan hotel kang Abik. Memo yang penuh dengan perjuangan akhirnya dapat juga, setidaknya bisa mengurangi biaya penginapan hotel kang Abik.
Senja hari selepas waktu ashar berlalu, aku lagi menjadi pembicara dalam sosialisasi acara di Ruang 7 Fakultas Biologi Unsoed,  tiba-tiba ada sms masuk. “Kang Abik sebentar lagi sampai, 10 menit lagi” bunyi sms dari ukh Nena. Katanya beliau sudah sampai Banjarnegara. Betapa terkejutnya membaca sms tersebut, karena pemberitahuan sebelumnya Kang Abik akan datang esok hari bukan hari ini. Langsung kala itu juga menghubungi akh Yudi selaku ketua panitia dan memberinya memo untuk beranjak menuju hotel Darajati  memesan kamar. Usai menjalankan sholat maghrib, aku langsung menuju ke hotel Darajati. Huan deras datang seketika. Pasukan H2O yang turun ke bumi ini begitu deras membanjiri wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Katanya kang Abik berhenti sejenak dan mampir di Sokaraja. Aku bersama akh Yudi dan akh Bayu sudah siap-siap di ruang tamu hotel Darajati. Tepat jam 19.30 WIB kang Abik sampai juga di hotel Darajati Purwokerto dan langsung aku menyambut beliau, berjabat tangan, merangkul dan mengucapkan salam pada beliau. Langsung aku bawakan koper beliau dan masuk ke kamar nomor 109. Disinilah selama kurang lebih kang Abik bercerita tentang perjalanannya sejak kecil hingga sampai saat ini. walau singkat tapi cukup tersengat oleh motivasi beliau hingga akhirnya pertemuan itu ditutup dengan foto bersama. Sontak kala itu juga para penghuni hotel berdatangan ingin foto bersama juga dengan beliau. Mengingat kelelahan beliau, akhirnya beliau pun memutuskan untuk istirahat, sampai jumpa untuk esok hari.

Thursday, 11 October 2012

Ketika Berita Beraksi: “Cara Membuat Berita”


“Berita itu ibarat corong yang menggemakan bagi sebuah organisasi”. Eksistensi sebuah berita itu sangat penting, karena sebuah berita itu bisa menjadi media pencitraan bagi sebuah organisasi atau instansi yang memberitakan berita tersebut. Maksud dan tujuan sebuah kegiatan serta visi misi yang diharapkan suatu organisasi bisa diaktualisasikan melalui berita. Sebuah berita itu sangat erat kaitannya dengan wartawan, media masa, dan humas, akan tetapi pada dasarnya semua orang pun bisa membuat pemberitaan tentang suatu kegiatan tertentu. Begitulah sebuah pesan tersirat yang saya dapatkan dalam Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Universitas Jenderal Soedirman dengan tema “Optimalisasi dan Implementasi Jurnalistik Kampus Menuju Suksesnya World Class Civic University” yang berlangsung pada hari Rabu, 10 Oktober 2012 bertempat di Oemah Daun CafĂ© & Resto Purwokerto.
Pelatihan Jurnalistik ini diikuti oleh para kasubbag. PSI dan stafnya dari masing-masing fakultas, lembaga, UPT, pasca sarjana, bagian kemahasiswaan, bagian akad dan kerjasama, bagian perencanaan, bagian PSI, dan perwakilan mahasiswa dari tiap UKM. Pelatihan ini dibagi atas dua sesi, yaitu sesi pertama tentang “kode etik dan teknik yang berhubungan dengan wartawan” yang disampaikan oleh Didi Wahyu, SH, MH (Redaktur Eksekutif Harian Banyumas) dan sesi kedua tentang “cara membuat berita” yang disampaikan oleh Dr. Wisnu Widjanarko, M. Si (Staf Ahli Rektor Unsoed Bidang Kehumasan). Disini saya sedikit berbagi tentang materi kedua yaitu tentang “cara membuat berita”.
Inhouse journalism, begitulah judul yang tertera di slide untuk materi tentang “cara membuat berita” ini. Tujuan sebuah berita adalah mengkomunikasikan kegiatan sehingga dapat meningkatkan pemahaman yang positif terhadap kegiatan itu sendiri dan organisasi yang menyelenggarakannya. Adapun nilai informasi dari sebuah berita meliputi: akan berdampak penting bagi audiens, aktualitas, kedekatan dengan audiens, human interest, dan sosok terberitakan. Intinya adalah sebuah berita itu memiliki banyak nilai penting bagi kemajuan sebuah organisasi tersebut, menginformasikan agenda-agenda organisasi itu sendiri, mencitrakan kepada khalayak, dan tentunya mendukung eksistensi bagi keberadaan organisasi tersebut.
Secara umum struktur informasi sebuah berita tersusun atas tiga bagian yaitu the lead, the body, dan closing yang tersusun seperti piramida terbalik. Susunan isi berita tersebut harus mengacu dan mengandung pada unsur 5W+1H (What, Why, Where, When, Who, dan How). Bagian the lead merupakan bagian pembuka, biasanya harus meliputi tentang apa, kapan, dimana, dan bagaimana kegiatan itu dilaksanakan serta maksud dan tujuan yang diharapkan dari kegiatan tersebut. pada bagian body merupakan isi dari berita yang akan kita tulis, terdiri atas beberapa alinea dan beberapa kalimat yang menginformasikan tentang berita tersebut. Sedangkan pada bagian closing merupakan bagian penutup berita, akan tetapi jangan hanya sekedar sebagai kata penutup saja yang tiada berarti, tapi harus bisa mentransformasikan pesan atau visi yang tersirat  dari organisasi tersebut. Contohnya ada kata-kata seperti: maju terus pantang mundur atau spesies indigenus dan sebagainya tergantung organisasi tersebut. Kata-kata tersebut bisa menjadi implementasi yang diharapkan dalam meningkatkan citra organisasi tersebut dan para pembaca akan menjadi familiar dengan takline kata-kata tersebut.
Prinsip dalam menulis berita adalah sebagai berikut:
·         Pilihlah angle (sudut pandang) terhadap apa yang mau ditekankan pada suatu informasi tersebut (dengan mengacu 5W + 1 H)
·         Jangan mendetailkan informasi pada alinea pertama saja melainkan bisa ditambahkan atau diletakkan pada alinea-alinea berikutnya
·         Informasi yang sekiranya paling tidak penting diletakkan pada alinea terahir saja
·         Kuasai variasi kata agar tidak kaku dan terjadi pengulangan dalam penulisan
·         Perlu diperhatikan juga dalam menulis mengenai penulisan nama, gelar, tempat,  dan jabatan jangan sampai keliru.
·         Bisa juga dengan memparafrase kata-kata yang penting yang disampaikan oleh pembicara, atau pun tokoh-tokoh penting yang menyampaikan dalam kegiatan yang diikuti.
Semua orang pasti bisa menulis berita, hanya dibutuhkan kemauan untuk mencoba mempraktekkannya dan yang penting adalah menuliskannya.

SEKALI MENULIS TETAP MENULIS

Habis membaca terbitlah menulis. Tulisan itu pun akan senantiasa bersinar menerangi bacaan. Begitulah pepatah yang tepat bagi kedua pasangan sejati (membaca dan menulis) yang tak bisa dipisahkan karena keduanya selalu beriringan. Kekuatan membaca yang telah kita serap akan meningkatkan keterampilan dalam menulis. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu juga dengan menulis, tulisan yang kita tulis tak lepas dari bacaan yang telah kita baca sebelumnya. Jenis atau genre buku yang kita baca pun akan mempengaruhi cita rasa tulisan yang kita hasilkan. Menulis dengan hati akan sangat berarti dibandingkan hanya menulis dengan emosi. “Scripta manent, verba volent” yang berarti apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Pepatah latin ini pun menjadi visi bagi sebuah tulisan yang telah tergoreskan pena.

Menulis juga menjadi senjata ampuh bagi para pencari ilmu, sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan “ikatlah ilmu dengan menulis”. Menulis telah menjadi mesin penyimpan ilmu yang tak pernah hilang ditelan zaman, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Imam Ghozali, Ibnu Taimiyyah, Imam Syafi’i, dan para cendekiawan muslim lainnya. Walaupun orangnya telah tiada tapi karya-karya para tokoh ulama tersebut sampai sekarang menjadi referensi dan rujukan bagi umat manusia. Bermula dari hal itulah aku pun mencoba mengikuti jejak-jejak mereka. Sejak aku masih menjadi siswa SD hingga kuliah menjadi mahasiswa sampai sekarang aktivitas menulis tak pernah aku tinggalkan. Aku selalu mencatat apa yang disampaikan oleh guru dan catatan inilah yang memudahkanku ketika aku belajar untuk menghadapi ulangan ataupun ujian sekolah. Selain menulis ilmu, aku pun terkadang menulis segala unek-unek atau kejadian yang akau alami dalam sebuah buku diariku. Hal inilah yang melatih kepekaanku dalam menulis.

Ketika aku menjadi mahasiswa, aktivitas yang aku hadapi semakin beragam. Aktivitas kuliah dan tugas yang banyak, praktikum dan laporan yang padat, hingga kesibukanku menjadi aktivis di berbagai organisasi kemahasiswaan yang tak kunjung usai. Akan tetapi di tengah-tengah aneka macam kesibukanku tersebut aku tak pernah meninggalkan aktivitas tulis menulis. Aku memiliki 4 macam jenis buku yang selalu menemaniku setiap hari, yaitu buku kuliah, buku laporan praktikum, buku aktivis, dan buku diari. Buku kuliah merupakan buku tulis utama yang aku gunakan ketika kuliah, walaupun dosen sudah menyediakan slide power point tapi aku selalu mencatat apa yang disampaikan dosen. Buku praktikum menjadi menu keduaku setiap hari setiap kali selesai praktikum, laporan pun harus aku kerjakan dengan cara menulis. Terkadang ada juga laporan yang harus diketik, ataupun tugas dari dosen yang harus diketik pula, akan tetapi berhubung aku belum mempunyai komputer atau laptop sendiri terpaksa aku harus bolak balik ke rental. 

Buku aktivis merupakan buku yang aku gunakan untuk urusan organisasi. Setiap kali ada rapat, menghadiri event-event kegiatan mahasiswa, koordinasi dengan dekanat atau rektorat atau pun setiap kali aku didelegasikan untuk kegiatan keluar kota aku selalu mencatat dan menulisnya di buku aktivis ini. Buku aktivis ini pun aku gunakan juga sebagai buku asisten (aku menjadi asisten praktikum sejak semester 4). Selain buku aktivis, aku juga masih punya buku diari yang memiliki banyak fungsi yaitu untuk menulis segala bentuk curahan hatiku, mencatat pengeluaran kebutuhan hidup, dan mencatat impian-impianku yang akan aku raih. Buku-buku tersebutlah yang telah menemaniku dan memudahkan urusanku dalam mengarungi setiap aktivitas yang tak pernah kunjung usai. Menulis telah menjadi bagian hidup yang tak bisa aku tinggalkan dimanapun aku berada. Buku-buku tersebut ternyata sangat bermanfaat sebagai acuan, referensi, dan evaluasi diri di setiap semester yang telah aku lalui.

Sampai semester 5 aku masih belum mempunyai komputer atau laptop, sementara itu tugas semakin menumpuk. Akan tetapi sebenarnya hal tersebut bukanlah kendala yang berarti, karena aku masih bisa pergi ke rental atau warnet. Aku pun berencana untuk membeli laptop kecil atau yang dikenal dengan notebook pada akhir semester 5 nanti, tentunya aku harus menyisihkan sebagian uang beasiswaku untuk membelinya. Memiliki laptop jangan hanya sekedar menuruti hawa nafsu atau ikut-ikutan teman yang lainnya, tapi karena kebutuhan yang penting dan mendesak. Aku pun bertekad pada diri sendiri, “memiliki notebook adalah untuk memudahkanku dalam mengerjakan tugas-tugas dan laporan praktikum”. “Selain itu aku juga bertekad akan menggunakan notebook tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat seperti untuk menulis dan mengikuti kompetisi menulis lainnya, bukan untuk main game atau sekedar online hiburan saja” begitulah tekad bulatku.