Saturday, 23 March 2013

Stand Up Ala UKMI Fabio Unsoed: “Berbagi Inspirasi Beasiswa Ke Jepang”


Siapa yang tak mengenal Jepang? Kenapa memilih studi lanjut ke Jepang? Bagaimana cara meraihnya? Bagaimana cara mendapatkan LOA? Apa syarat-syarat yang harus dipersiapkan agar bisa lanjut kesana? Itulah beberapa pertanyaan yang dikaji dan dikupas secara mendetail dalam acara Stand Up Ala UKMI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) Fakultas Biologi Unsoed. Acara Stand Up ala UKMI ini merupakan konsep acara yang dikemas secara menarik, ringan tapi berbobot dan berbeda dengan acara-acara UKMI yang lainnya.  Acara ini mengusung tema “berbagi inspirasi beasiswa ke Jepang” yang berlangsung di taman belakang Fakultas Biologi Unsoed pada hari Kamis, 21 Maret 2013. Di tengah-tengah padatnya aktivitas praktikum yang ada di kampus biru ini, rupanya tak menyurutkan para mahasiswa untuk hadir mengikuti acara ini. Beberapa mahasiswa dari Fakultas Peternakan pun ada yang datang menghadiri acara ini.

Acara stand up ini dimoderatori oleh Heru Teguh Sumarko yang memandu acara ini penuh kocak tapi serius. Mengawali dengan prolog singkat tentang beasiswa ke Jepang, Heru mempersilahkan pembicara yang hadir dalam acara ini yaitu Hendri Wijayanti, S.Si (lulusan Fakultas Biologi Unsoed yang sekarang melanjutkan studi S2 di Nara Women University, Jepang). “Kenapa memilih beasiswa ke Jepang, bagaimana caranya, dan apa saja kiat-kiat untuk meraihnya” papar Heru mengawali perbincangan yang menarik ini. Awal mulanya tertarik ingin belajar ke luar negeri adalah sejak bergabung bersama dengan kegiatan Space (kerjasama antara Unsoed dengan Universitas Bremen Jerman) tentang konservasi mangrove di Cilacap, papar Hendri. Wanita kelahiran Klaten ini menambahkan bahwa pada awalnya tujuan utamanya adalah bukan ke Jepang, akan tetapi ternyata akhirnya dapat tembus ke Jepang setelah melalui proses perjuangan yang panjang berliku-liku. Berawal dari tawaran University of Seoul Korea akan tetapi tidak lolos, lalu mendaftar Mambusho juga mengalami hal yang serupa. Hingga akhirnya tembus Beasiswa Unggulan Luar Negeri (BULN) dari DIKTI untuk tujuan ke Nara Women University, demikian jelas Hendri.

Langkah awal yang dilakukan sejak mahasiswa adalah melakukan korespondensi lewat email kepada profesor yang ada di jurnal-jurnal internasional. Mulai dari perkenalan, meminta jurnal tentang topik yang kita inginkan, hingga akhirnya mendapat LOA (Letter of Acceptance) dari professor, papar Hendri. Hendri menambahkan bahwa sudah lebih dari 50 kali (bahkan lebih) mengirim LOA lewat email kepada para profesor, ada yang dibalas dan ada pula yang tidak ditanggapi sama sekali. Selain itu, yang harus dipersiapkan lagi adalah TOEFL minimal 550 dan IPK minimal 3,25 sebagai syarat administratif. Untuk mempersiapkan dan mematangkan penguasaan bahasa asing Hendri sempat belajar bahasa Inggris ke Kediri selama beberapa bulan. “Jangan hanya terpatok pada 1 pilihan beasiswa atau 1 universitas saja, tapi cari informasi beasiswa yang lainnya dan jangan pernah bosan ketika kegagalan datang (jangan down) tapi bangkitlah menuju langkah selanjutnya” pesan Hendri yang sudah melewati pahit manisnya menggapai impiannya studi ke luar negeri dan akhirnya jerih payahnya itu berbuah manis di Nara Women University, Jepang.

Ternyata menggapai beasiswa ke Jepang tak semudah membalikkan tangan, harus tekun, sabar dan gigih dalam meraihnya. Kemauan dan tekad yang kuat harus dibarengi dengan jerih payah yang maksimal, sabar yang menggelora, dan tentunya harus selalu optimis yang tinggi. Hendri akan berangkat ke Jepang pada tanggal 30 Maret 2013 mendatang dan setelah lulus S2 dari Jepang nanti akan mengabdi menjadi dosen di Universitas Murasmus Papua. Karena Papua menjadi pilihannya untuk mengabdi dan mendharma baktikan ilmunya disana, paparnya. Pada akhir sesi Hendri berpesan kepada para mahasiswa yang hadir. “Ketika ingin belajar ke luar negeri, jangan setengah-setengah. Harus totalitas. Harus ada kemauan yang kuat, tapi harus berani keluar dari zona nyaman. IPK gampang dicari, tapi yang penting adalah kuasasi bahasa asing terlebih dulu” tandasnya begitu cetar membahana. Semoga para adik-adiknya bisa meneladani dan melanjutkan jejak-jejak seperti Hendri. Bravo Fabio.

0 comments: