Saturday, 6 July 2013

Ternakkan Amalmu di Bulan Ramadhan

Aroma bulan yang sangat istimewa ini sudah tercium harumnya. Bulan yang penuh berkah, penuh ampunan, dan bulan yang suci ini akan segera datang. Ramadhan namanya. Sudah sejauh mana persiapan kita menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini? Targetan apa saja yang akan kita lakukan pada bulan puasa kali ini? Mari kita sama-sama menyambut bulan yang penuh maghfiroh ini dengan penuh suka cita dan meningkatkan amal-amal kita. Luruskan niat, benahi hati, sucikan pikiran.

Andai Ramadhan itu SISTEM, INPUT-nya iman, PROSES-nya puasa, dan OUTPUT-nya takwa. Jika berpuluh ia lewat dan takwa belum tergapai, apa yang eror? Bisa jadi galat ada dalam PROSES-nya, maka mari benahi puasa kita. Tapi jangan-jangan INPUT kita lebih tak beres, maka iman itu perlu dibarukan. Melestarikan Ramadhan; semangat berinfak yang lebih besar daripada gairah berbelanja, semangat beribadah yang tak dikalahkan gairah berhura. Selamat merenda takwa Shalihin-Shalihat. Demikian Ustadz Salim A. Fillah memaknai Ramadhan yang tersimak dalam bukunya yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna”.

Sudah siapkah bekal kita menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan? Persiapkan dirimu! “Ternakkan amalmu di Bulan Ramadhan” begitu tema ini diangkat dalam Tabligh Akbar yang digelar oleh LDF SALAM Fakultas Peternakan Unsoed (Sabtu, 6 Juli 2013) dengan Pembicara Ustadz Nizam Zulfikar dari Yogyakarta. Da’i muda ANTV ini mengawali ceramahnya dengan mengingatkan akan dua nikmat yang paling sering dilalaikan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan nikmat kesempatan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan/umur” (H.R. Bukhari). Sejauh mana kita memanfaatkan waktu dan usia kita selama ini? Sarjana Fisipol UGM ini menanyakan kepada para hadirin, “sampai detik ini, sudah berapa tahun usia kita?” “sudah berapa usia ilmu kita?” “berapa tahun usia yang kita gunakan untuk memperoleh ilmu?” coba bandingkan lebih banyak mana usia ilmu kita dengan usia nonton TV? Lebih banyak mana usia ilmu kita dengan banyaknya waktu tidur kita?

Coba kita lihat dan renungkan, Imam Syafi’i yang di usia 9 tahun sudah mampu menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an. Usia 15 tahun beliau sudah diangkat menjadi mufti/hakim yang berhak memutuskan perkara. Bukankah 24 jam yang dimiliki Imam Syafi’i sama dengan 24 jam yang kita miliki? Terus, bukankah 24 jam-nya mahasiswa dengan predikat IPK Cumlaude sama dengan 24 jam-nya mahasiswa dengan IPK kemelut…? Iya, 24 jam-nya memang sama, tapi yang beda adalah sejauh mana kita mengoptimalkan waktu yang kita miliki tersebut. So, manfaatkanlah waktu dengan baik agar menjadi pribadi yang full manfaat dan umur menjadi full barokah.

Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah agar menjadi orang yang bertakwa (lihat surat Al-Baqarah: 183). Siapakah orang yang bertakwa itu? orang-orang yang bertakwa yaitu orang yang berinfak (baik di waktu lapang maupun sempit), orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, dan orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya (senantiasa bertaubat). Demikian penjelasan ini tertuang dalam Surat Ali Imran ayat 133-136.

Dari penjelasan surat Ali Imran tersebut, Ustadz Nizam menyampaikan poin-poin penting yang harus kita miliki dan kita tingkatkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, yaitu:
1.      Senantiasa berinfak baik di waktu lapang maupun sempit,
2.      Menahan amarah
Masih ingat kan? Bahwa “orang kuat itu, bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi sebenarnya orang kuat itu ialah orang yang dapat menahan amarahnya” (H.R. Bukhari-Muslim)
3.      Mema’afkan kesalahan orang lain
4.      Senantiasa bertaubat

Luruskan niat kita, tingkatkan sabar, dan sempurnakan ikhtiar kita untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Sebagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Siti Hadjar ketika anaknya Ismail sedang kehausan. Padahal secara logika di deerah padang pasir susah ditemui adanya mata air. Tidak hanya cukup berdo’a saja, Siti Hadjar berusaha mencari air bagi anaknya yang sedang kehausan, walau beliau tahu bahwa di gurun pasir yang panas pasti tidak ada air. Namun, Siti Hadjar tetap menyempurnakan ikhtiarnya dengan berusaha mencari air sambil terus memohon pertolongan Allah. Dari Bukit Shafa beliau berlari hingga ke Bukit Marwah. Seakan-akan disana ada air, namun sesampainya di bukit tersebut ternyata yang dilihat hanya sekedar fatamorgana. Beliau pun kembali melihat dan bergerak berlari ke Bukit Shafa, dan ternyata yang ditemui hanyalah fatamorgana. Sampai 7 kali sang Siti Hadjar berlari mencari air bolak-balik dari Bukit Shafa dan Bukit Marwah, namun tak menemui hasil. Ternyata pertolongan Allah justru hadir dan datang dari arah yang tak disangka-sangka, bukan dari kedua bukit tersebut. Justru pertolongan Allah datang dari tanah tempat sepakan kaki putra tercintanya Ismail, yang kemudian muncul mata air yang memancar yang sekarang dikenal dengan air zam-zam. Allahu Akbar! Mata air tersebut sampai sekarang tidak pernah kering walaupun diminum oleh milyaran manusia jama’ah haji ataupun umrah dari seluruh penjuru dunia.


So, sambut Ramadhanmu sekarang juga! Ternakkan amalmu di bulan Ramadhan! Semoga bisa melahirkan dan menetaskan ketakwaan yang senantiasa menghiasi hati kita di 11 bulan kemudian. Untuk menutup tulisan ini, perkenankan kembali sedikit mengutip pernyataan Ustadz Salim A. Fillah dalam buku yang sama tadi, “Ya Rabbi, kutahan dirinya dari syahwat dan hawa”, ujar Puasa. “Ya Rabbi, kucegah dia dari tidur di malam hari”, seru Qur’an. Betapa indahnya. Puasamu jelita, menjadi latihan tuk memamerkan ibadah pada Allah semata, menaburkan dampaknya pada sesame dalam bentuk akhlak mulia. Seindah-indah lantunan adalah Al-Qur’an, sesyahdu-syahdu waktunya adalah kala malam dan seagung-agung penghayatannya ada dalam qiyamul lail.

3 comments:

Ryan Pratama said...

super sekali mas iin..

Ryan Pratama said...

super sekali mas iin

Ryan Pratama said...

super sekali mas iin