Sunday, 29 September 2013

Menulis Ala Bang Tere

Kenapa kita harus menulis? tanya Bang Tere mengawali workshop kepenulisan di Gedung E Jurusan Teknik Fakultas Sains & Teknik Unsoed Purbalingga. Ahli fiksi yang dikenal dengan nama Darwis Tere Liye ini memaparkan alasan menulisnya dengan bercerita tentang kisah “Si burung pipit, seekor penyu dan sebatang pohon kelapa”. Singkat cerita, si burung pipit menceritakan tentang petualangannya terbang melintasi semesta, melihat indahnya pemandangan dan melewati cakrawala. Tak mau kalah seru, seekor penyu pun menjabarkan kiprah perjalanannya menyelami samudera, melintasi penjuru pantai hingga menembus batas karang laut yang menghadang. Lalu apa yang diceritakan oleh sebatang pohon kelapa yang hanya berdiri di tepi pantai tersebut? Tak bisa terbang bebas seperti burung pipit dan tak bisa menjelajah seperti si penyu. Hanya diam menjulang di tempat itu saja. Ternyata tidak. Justru, sebatang pohon kelapa ini bercerita lebih seru dan lebih hebat dibandingkan si burung pipit dan si penyu. Pohon kelapa yang berdiri kokoh tegap di depan mereka berdua ternyata lebih dahulu sudah malang melintang menjelajahi samudera, melintasi antar negara hingga antar benua. Bisa jadi induk pohon kelapanya ada di Indonesia, lalu menjatuhkan buahnya dan diterjang samudera hingga akhirnya tumbuhlah anak pohon kelapa di tepian pantai Australia, Amerika atau Eropa. Luar biasa ternyata. Itulah menulis.

Menulis adalah menyebarkan buah kebaikan. Sama halnya seperti sebatang pohon kelapa tadi, papar Bang Tere. Semua orang bisa menulis, jadi berhentilah mengatakan “saya tidak bisa menulis” tambahnya. Penulis lulusan akuntansi Universitas Indonesia ini kembali mengisahkan cerita seorang ibu rumah tangga yang minta diajarinya menulis. Ibu tersebut hanyalah seorang ibu rumah tangga saja, tak punya potensi apa-apa dan tak bisa menulis, katanya. Bang Tere mencoba menggali pertanyaan dan potensi yang dimiliki ibu tersebut. Singkat cerita setelah diinterogasi dengan berbagai pertanyaan, ibu tersebut memaparkan rutinitas kesehariannya, terutama memasak. Akhirnya ibu tersebut disuruh Bang Tere untuk menulis apa yang disukai ibu tersebut. Si ibu pun akhirnya menulis tentang resep makanan. Tiap malam ibu tersebut menulis resepnya di laptop, lalu diposting di blognya. Seiring berjalannya waktu, ibu tersebut sudah menulis puluhan bahkan ratusan resep masakan di blognya. Hingga akhirnya ada salah satu penerbit yang menawarkannya untuk diterbitkan. Awalnya ibu tersebut kaget, karena merasa tidak pernah menulis tapi ditawarkan untuk menerbitkan buku. Buku si ibu tersebut pun akhirnya diterbitkan. Tidak hanya royalti saja yang didapatkannya, tapi keluarga di sekitarnya juga ikut merasakan manfaatnya, hingga para pembaca bukunya pun mendapatkan resep-resep makanan terbaru hasil buah goresan sang ibu tadi.

Menulis itu memang mudah, hanya perlu pembiasaan dan ketekunan. Sebelumnya kata Bang Tere, kalau mau menulis perbaiki dulu niatnya. Bagaimana untuk bisa menulis dan menyebarkan buah-buah kebaikan seperti sebatang pohon kelapa atau seperti ibu rumah tangga tadi? Berikut ini ada beberapa tips menulis yang disampaikan Bang Tere dalam workshop kali ini, yaitu sebagai berikut:

1.      Ide cerita bisa apa saja, tapi penulis harus berpikir dengan sudut pandang yang spesial

Inilah yang membedakan dengan tulisan penulis yang lainnya. Seorang penulis yang baik harus bisa berpikir beda dengan sudut pandang yang spesial. Memandang  sesuatu  di luar kebiasaan. Untuk bisa berpikir dengan sudut pandang yang spesial ini tidak instan, perlu latihan yang intens dan proses yang panjang. Intinya harus ada pembiasaan. Untuk menguji hal ini Bang Tere meminta seluruh peserta untuk menuliskan sebuah kalimat paragraf tentang “hitam”. Setelah dikasih waktu beberapa menit dan ditukarkan dengan teman sebelahnya, lalu dibacakan oleh Bang Tere. Nah, berikut ini petikan kalimat yang saya buat tentang hitam “……………..tak pernah ada yang tahu rasa hitam yang ada dilidahnya. Karena pengetahuan kita terbatas oleh pikiran hitam yang membelenggu”.

2.      Menulis membutuhkan amunisi

Menulis itu ibarat sebuah teko dan 6 gelas. Si teko jika tidak diisi dengan air, maka tidak akan bisa mengeluarkan isi untuk dituangkan ke dalam gelas-gelasnya. Sama halnya dengan menulis, memerlukan adanya amunisi agar bisa menghasilkan tulisan yang baik. Apa amunisinya? Amunisi menulis adalah banyak membaca, mengamati, melihat, mendengarkan, bertualang dan research. Tanpa amunisi tersebut tulisan kita akan hambar dan kurang greget. Maka dari itu siapkan, berbekal dan lakukan amunisi tersebut.

3.      Tidak ada tulisan yang baik dan tidak ada tulisan yang buruk

Pada prinsipnya memang seperti itu (tidak ada tulisan yang baik dan tidak ada tulisan yang buruk), yang ada hanyalah relevan atau tidak relevan, jelas Bang Tere. Apapun yang mau ditulis, tulislah. Karena baik atau tidaknya tulisan yang kita hasilkan itu relatif. Tergantung apakah tulisan tersebut relevan dengan kebutuhan pembaca atau tidak. Jika ingin menulis, kuncinya adalah fokus “teruslah menulis”.

4.      Ala karena terbiasa

Bisa menulis itu gampang. Bisa karena terbiasa. Lakukan yang terbaik yang kita senangi. Tulislah apa saja yang kita sukai. Terkait ala karena terbiasa ini Bang Tere menceritakan tentang kisah masak memasak. Intinya seperti itu (susah dijabarkan dengan kata-kata….., hehe). Apa resepnya biar masakan itu enak? Ya, memasak saja. Ini kalau dilakukan oleh orang yang sudah biasa memasak. Berbeda dengan orang yang tidak terbiasa masak (atau belum ahli dalam memasak), maka orang ini akan membaca buku resep dan melakukan masak tahap demi tahapnya secara hati-hati dan perlahan. Sama halnya dengan menulis.

5.      Mudah, menyelesaikannya lebih gampang lagi dan gaya bahasa adalah kebiasaan

Menulis itu memang mudah, jadi teruslah menulis. Mulai dari hal yang kecil, sedikit, sederhana, tapi yang penting tulisan tersebut berenergi, bertenaga, berbobot dan bermakna. Tapi bagaimana ketika menulis dihadapkan dengan badmood, mentok di tengah jalan dan kendala-kendala lainnya? Bang Tere menjelaskan jika dihadapkan dengan badmood maka yang harus kita lakukan adalah panggil motivasi terbaik kita. Apa motivasi terbaikmu untuk menulis? Setiap orang tentu memiliki motivasi yang berbeda-beda.


Demikian sekilas tentang tips “Menulis Ala Bang Tere” yang saya dapatkan setelah mengikuti workshop kepenulisan bersama Bang Darwis Tere Liye yang diselenggarakan oleh LDJ Salman MM Teknik, Jurusan Teknik, Fakultas Sains dan Teknik Purbalingga pada hari Ahad, 29 September 2013. Semoga bermanfaat dan memberikan energi untuk menulis bagi semua pembaca yang sedang mencari amunisi untuk menulis. Write, Pasti Teyeng….!!! ^,^

7 comments:

Citra Pradipta Hudoyo said...

Alhamdulillah,
meski hari ini ga datang ke Workshopnya, tapi akhirnya dpt membaca tips menulis dari Bang Tere yang Anda tulis di blog ini..

syukron akh sudah mau berbagi :D

Rachmad A.T said...

keren akh,,
minta posting di web unsoed jg akh

Rachmad A.T said...

keren akh,,
minta diposting buat di web unsoed jg akh
hehe

Iin Amrullah Aldjaisya said...

Citra Pradipta Hudoyo: Iya, sama-sama. Semoga bisa menginspirasi kita semua. Syukron juga sudah berkunjung ke blog ini

Rachmad A.T: Monggo akh, silahkan kirim aja ke info@unsoed.ac.id atas nama panitia. Kalau release kegiatan biasanya beritanya yg msh fresh baru berlangsung. Dibikini aja press releasnya dan kirim ke email tsb

Bang Syaiha said...

Saya pernah ngeliat video yg Tere Liye cerita burung pipit, penyu, dan kelapa ini.. Keren..
Semoga kita bisa terus menulis..

Helen Widaya said...

Keren, Mas..Nice Post.

Helen Widaya said...

Keren, Mas..Nice Post