Monday, 27 July 2015

Buahnya Sedekah, Manisnya FIM-17

Peserta FIM-17 Saat Kegiatan Outbond
Tak ada sinyal, tak ada informasi, tapi tak membuatku patah semangat dalam berkarya atau mengembangkan kapasitas potensi yang aku miliki. Untungnya ada waktu untuk ke kota sebulan sekali (setiap tanggal 17-20 tiap bulannya) di tengah-tengah tugas pengabdianku di sebuah pulau terpencil yang ada di Halmahera Utara. Ya, setiap kali ke kota rasanya seperti baru bangkit merasakan kemerdekaan. Padahal katanya usia Indonesia merdeka sudah 69 tahun. Itulah kondisinya. Kali ini bukan masalah itu yang dibahas, tapi yang akan aku ceritakan pada kesempatan ini adalah proses perjalananku menjadi bagian keluarga FIM-17. Informasi FIM ini aku dapatkan melalui FB, tapi waktu itu karena aku saat di kota adalah mengerjakan tugas-tugasku apakah masih ingin ikut FIM? Mengapa ikut FIM? Apa alasannya untuk mencoba ikut FIM padahal sudah pernah gagal 2x ditolak FIM? Hehehe.

Pada FIM-17 ini adalah usaha ketigaku mendaftar. Sebelumnya waktu aku masih duduk di bangku kuliah, aku pernah mendaftar FIM sebanyak 2x akan tetapi dua-duanya gagal. Waktu itu aku berpikiran, mungkin kapasitasku belum cocok untuk ikut FIM. Mungkin FIM hanya buat orang-orang hebat yang penuh karya dan prestasi. Mengapa aku tidak lolos FIM-12 dan FIM-13? Aku belajar dari kegagalan itu. Aku refleksi diri, mencari sendiri letak kekuranganku. Karena waktu itu, di kampusku masih jarang bahkan FIM juga belum sefamiliar seperti sekarang. Hingga aku lulus S1, impianku pupus sudah untuk masuk FIM. Walau sebenarnya waktu itu sempat mau mendaftar FIM lagi untuk ketiga kalinya, tapi karena waktu itu bertepatan mau wisuda akhirnya aku batalkan untuk mendaftarkan FIM lagi. Tak lama pasca kampus, aku dapat lolos dalam event lain bernama Leadership Camp 2013. Dalam event ini aku bertemu dengan beberapa alumni FIM. Sehingga membuatku masih penasaran dan pengin ikut FIM. Oke, suatu saat nanti aku akan lolos FIM, tekadku dalam hati.

Singkat cerita, sudah lama aku sudah hampir lupa dengan FIM. Tiba-tiba, di tengah-tengah pengabdianku di Maluku Utara yang sudah hampir 1 tahun ini, tekad untuk ikut FIM muncul lagi. Oke, aku ikhtiar usaha untuk daftar FIM-17. Walau minim akses, minim info, bagaimana dengan surat rekomendasinya? Ah, tak masalah. Rintangan akan ku hadapi. Waktu itu hampir mendekati penutupan pendaftaran, aku sudah melengkapi pendaftaran yang diminta, hanya surat rekomendasi yang belum. Tapi, aku harus pulang ke tempat tugas sesuai dengan jadwal kapal. Kalau sudah di kampung, ga mungkin aku bisa pakai internet karena sinyal aja setengah mati susahnya. Akhirnya sebelum pulang ke kampung tempat tugas, aku menelepon manajemen SGI dan meminta surat tugas kepada direktur SGI serta meminta untuk dikirimkan pula oleh manajemen. Aku kasih emailku dan paswordnya kepada manajemen untuk mengirimkan surat rekomendasiku kepada panitia FIM. Pendafataran selesai. Segala usaha dan tantangan telah ku hadapi, sekarang tinggal berdoa dan mantapkan niat semoga bisa lolos. Aku pulang kembali ke tempat pengabdian. Oya, sebelumnya waktu itu aku juga membeli buku trilogi Bung Hatta sebagai bekal persiapan ikut FIM. Tapi hingga mendaftar, buku pertama aja belum habis. Tapi akhirnya sejak aku dinyatakan lolos, baru aku lahap ketiga buku Bung Hatta itu sampai habis.

Bulan berikutnya aku ke kota lagi. Waktu itu informasinya pengumuman lolos FIM akan diumumkan tanggal 28 Maret, tapi waktu itu pas ke kota tanggal 16 Maret tiba-tiba ada sms masuk dari panitia FIM untuk mengecek website FIM dan pas baca status FB FIM untuk pengumuman FIM akan diumumkan malam ini jam 20.00 WIB, berarti jam 22.00 WIT. Tepat jam 10 malam WIT, aku sudah deg-degan. Tak lama kemudian……, seperti mendapat durian runtuh. Rasanya senang melihat informasi yang tertera dalam website FIM.

Alhamdulillah, luar biasa dahsyat! Dengan sedekah, rejeki melimpah. Tentunya ditambah keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Awal mula sudah bertekad 15% dari hadiah prestasi menulis, aku sedekahkan kepada salah satu guru honor di tempatku bertugas. Tiada balasan kebaikan selain kebaikan pula. Kemarin ada kejutan dari kepsek dan beberapa warga. Kali ini, hati ini terasa berbunga-bunga seperti mimpi. Alhamdulillah, dari 7394 pendaftar aku termasuk yang lolos 130 orang untuk FIM 17. Ikhtiar, tekad dan sedekah” begitulah ungkapan rasa yang aku update di facebook kala pertama kali dinyatakan lolos sebagai peserta FIM-17.

Apakah lolos FIM-17 ini karena sedekah itu? Wallahu a’lam. Disini aku sama sekali tak bermaksud untuk pamer, tapi melalui tulisan ini aku ingin mengajak teman-teman bahwa sedekah itu memang dahsyat. Sebenarnya jika diceritakan tentang sedekah dan kaitannya masuk FIM ini ceritanya panjang (kalau mau tahu detailnya bisa japri). Apa yang kita berikan, itulah yang kita dapatkan. Sekali lagi bulan yang penuh dengan kejutan ini adalah bukan kebetulan semata, tapi semua ini sudah diskenariokan oleh Sang Sutradara kehidupan ini, yaitu Allah SWT. Tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan apakah positif akan berangkat ke Jakarta? Bagaimana dengan ongkosnya? Oke, iya! Tetap berangkat walaupun dengan uang pribadi. Uang tak masalah, tapi ilmu dan kesempatan ini jangan disia-siakan. “Opportunity is NO WHERE, but opprtunity is NOW HERE”, pikirku waktu itu. Mau ga mau aku juga harus cuti dari tugasku sebagai relawan SGI. Waktu itu sebelumnya aku mengajukan proposal dana ke manajemen SGI untuk berangkat ke Jakarta nanti, tapi ternyata tidak bisa memberikan bantuan dana. Oke, tak masalah, karena waktu itu motivasiku untuk ikut FIM adalah belajar, meningkatkan kualitas diri,  skill leadership, menambah relasi, dan tentunya pengalaman yang pastinya bakalan seru.

Singkat cerita semua biaya transport kapal, mobil dan pesawat aku tanggung sendiri untuk ikut FIM. Aku harus melewati 3 jalur (laut, udara, darat). Kapal dari Loloda Kepulauan-Ternate (12 jam), tiket pesawat Ternate-Jakarta PP, Bandara Soeta-Taman Wiladatika. Oke, berangkat dari Indonesia Timur menuju Indonesia Barat. Ada cerita menarik saat aku berangkat FIM-17 ini. Kejadian ini terjadi saat aku berada di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Karena waktu itu aku bawa banyak buku hampir 30 kg padahal jatah bagasi hanya 20 kg. Buku-buku ini adalah titipan teman dan sebagian punyaku juga. ”Over bagasi 12 kg (belum termasuk ransel), seharusnya dikenai biaya tambahan 540.000. Tapi kali ini GRATIS. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Yang pasti, ini juga bukanlah kebetulan semata. Tapi, semua ini adalah skenario dan kehendak-Nya”. Alhamdulillah, tiba di Bandara Soeta tepat 3 jam perjalanan Maluku Utara-Jakarta.

Entah kenapa rasanya, senangnya luar biasa bisa ikut FIM. Walau kebanyakan pesertanya adalah mahasiswa S1 tingkat 2-3. Kegiatan FIM ini berbeda dengan event-event nasional yang pernah aku ikuti. Walau secara konten hampir sama dengan kegiatan leadership camp yang pernah aku ikuti, tapi di FIM ini sangat berbeda. Yang khas dari FIM adalah rasa kekeluargaannya dan semangat berkolaborasinya untuk membangun bangsa. Itu yang aku rasakan selama berlangsungnya kegiatan FIM-17. Siapa yang berbuat baik untuk orang lain, maka dia adalah berbuat baik untuk dirinya sendiri. In ahsantum, ahsantum li’anfusikum. Kalau pepatah Cina mengatakan “jika ingin bahagia seumur hidup, maka tanamlah SDM dan bantu orang lain”. Itulah salah satu materi menarik dari Pak Eri Sudewo dan dr. Jose Rizal Jurnalis. Tak cukup itu saja, pemateri-pemateri FIM-17 adalah tokoh-tokoh hebat yang berkarakter. Sebut saja orangnya seperti Jamil Azzaeni, Renald Kasali, Imam Gunawan, Bambang Wijayanto, Jimly Assidliki, Helvy Tiana Rosa, Erik Elson dan masih banyak lainnya, serta alumni-alumni FIM yang telah sukses Berjaya dan berkiprah dengan passionnya masing-masing.

FIM Satria Regional Purwokerto (Unsoed)

Tak hanya pemateri yang hebat, para peserta FIM pun adalah para pemuda hebat dari berbagai penjuru tanah air. Para pemuda yang memiliki jiwa kepemimpinan tinggi, pemuda dengan segenap prestasi dan semangat tinggi untuk membangun negeri. Selama proses berlangsungnya kegiatan yang paling unik adalah saat memasuki ruangan kegiatan, semua peserta sudah berdiri di depan pintu dulu. Karena harus masuk bersama-sama. Selepas pintu dibuka, semua peserta dan panitia berduyun-duyun bernyanyi dengan penuh ekspresi. Malamnya adalah berdiskusi dengan teman-teman satu fasilitator, dilanjutkan dengan latihan buat tampil api ekspresi. Ah, rasanya kok cepat sekali berlalu. Tapi, kenangan itu akan selalu tergambar dalam hati. Apalagi, saat waktu outbond. Serunya minta ampun. Harus melewati 10 pos, tentu melelahkan tapi karena kerjasama dan kekompakkan lelah tak terasa. Tapi, kebersamaan dan keakraban terasa begitu erat ikatannya. Pemuda, aku untuk bangsaku. Pokoknya seru, asyik dan menarik. Tiga kata tentang FIM adalah “masa depan Indonesia”. Kenapa begitu? Karena dari FIM-lah lahir sosok-sosok pemuda berjiwa leadership yang akan memimpin negeri ini, Indonesia. Pemuda-pemudi FIM adalah generasi tangguh dan terbaik dengan keahlian masing-masing yang siap berkarya, berinovasi dan berkolaborasi untuk membangun negeri.

Jika kalian ingin bergabung dengan FIM, mendaftarlah. Jika yang pernah mendaftar, tapi gagal bahkan gagal berkali-kali teruslah mencoba lagi. Evaluasi diri, pantaskan diri dengan perbaiki kompetensi, tingkatkan kualitas diri, perluas relasi dan aktiflah dalam organisasi yang kalian geluti. Hadapi kegagalan dengan sabar yang aktif. Usahamu menentukan pilihanmu. Sebagai penutup tulisan ini, aku tutup dengan quote dari Buya Hamka yang berbunyi: “Kepada PEMUDA, bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu…!”

Peserta Terfavorit FIM-17 (Putra dan Putri), Serta Ketua dan Wakil Ketua FIM-17 

Alhamdulillah wasyukurillah. Sungguh luar biasa beragam ni'mat-Nya ini. Sekali lagi ini bukanlah kebetulan semata.
1. Peserta Terfavorit Putra FIM-17 
2. Juara 1 Kelompok Api Ekspresi. 
3. Juara III Kelompok Outbond 

Dimana ada tekad, niat dan kesungguhan. Faidza azamta fatawakkal 'alallah. Teruslah berbagi, menebar inspirasi. Hal jazaul ihsan illal ihsan

*dan yg paling istimewa adalah hari ini juga bertemu dengan mama setelah sekian lama (1 tahun lebih) tak bersua. Full bahagia rasanya.

0 comments: