Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 18 July 2016

Bikin SIM: Lebih Baik Urus Sendiri Daripada Nembak


          Hari ini (18/7/2016)  saya baru saja mengurus pembuatan SIM adik saya. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi cerita soal pembuatan SIM (baik baru maupun perpanjangan). Pada kesempatan ini merupakan ketiga kalinya saya mengurus SIM. Pertama kali adalah saat buat SIM untuk sendiri sekitar tahun 2013 (alhamdulillah waktu itu urus sendiri lewat tes teori dan praktik, terus tak lama langsung jadi SIM tersebut). Kedua kalinya saat SIM saya hilang beserta dompetnya tahun 2015, awalnya saya mau mengajukan pergantian SIM saya yang hilang, tapi karena saya masih menyimpan fotocopian SIM saya yang hilang tersebut, akhirnya proses pergantian tersebut ternyata masih bisa ikutnya perpanjangan. Prosesnya juga cukup mudah. Saya urus sendiri juga tanpa lewat calo.
            Nah untuk ketiga kalinya ini adalah mengantarkan adik saya untuk membuat SIM baru. Hari ini dapat pelajaran banyak saat nganterin adik bikin SIM. Saat markirin motor sdh mulai itu para tukang parkir menawarkan buat SIMnya lewat mrk aja. Saya tolak. Mohon maaf pak, saya mau daftar sendiri aja. Mungkin dikiranya saya belum tahu alur pembuatan SIM. Saya paham dan maklumi maksud baik orang tsb.Tukang parkir kedua pun terus mengikuti saya sampai loket pengecekkan kesehatan dan mengambilkan nomor pndaftaran. Langsung masuk aja mas ke dalam, padahal di luar msh banyak antri. Saya tolak lagi niat baik orang tsb utk membantu. Mohon maaf pak saya mau nunggu antrian saja di luar. Nunggu dipanggil. Orang tsb pun akhirnya pergi. Saya dan adik saya mengantri dalam pembuatan surat keterangan sehat tersebut.
Bagaimana sih persyaratan dan prosedur pembuatan SIM itu? Ribet nggak sih? Kenapa orang lebih banyak memilih untuk “nembak” dibandingkan mengurus sendiri? Kalau saya sarankan sih lebih baik urus sendiri. Simple kok. Gak ribet dan mudah sebenarnya kalau kita tahu alur dan prosedurnya. Secara umum persyaratan dan prosedur pembuatan SIM bisa dilihat dalam bagan berikut ini:
 
Persyaratan dan prosedur pembuatan SIM
Kenapa lebih banyak memilih jalur “Nembak”???
Kalau dihitung2 para pendaftar pembuatan SIM baik baru atau perpanjangan rata-rata (mgkn sktr 80%) lebih memilih lewat jalur cepat. Tanpa tes. Atau yg lebih sering dikenal dgn istilah "nembak". Biaya sim tembak ini bervariatif. Kisaran 350.000-500.000. Bahkan bisa lebih dari itu. Tergantung lewat calo, agen, biro atau orang dalem. Padahal biaya aslinya utk buat SIM C itu adalah 100.000 (baru) dan 75.000 (perpanjangan).
Lihat rincian biaya pembuatan SIM berikut ini:
 
Ketentuan biaya pembuatan SIM
Nah, kembali ke cerita pengurusan SIM adik saya tersebut. Setelah saya dan adik saya sudah mendapatkan surat keterangan sehat dan fotocopi KTP, kita berdua langsung masuk ke Polres Slawi. Kalau di Slawi, tempat pengecekkan kesehatan itu ada di luar seberang jalan depan polres Slawi. Saat sudah di depan ruangan tempat pembuatan SIM, di pintu masuknya tertulis “hanya pembuat SIM yang boleh masuk, pengantar dilarang masuk ke dalam” (intinya seperti itu, tapi redaksi persisnya saya agak lupa). Kalau dulu saat saya pertama dan kedua kalinya mengurus SIM tidak ada tulisan seperti ini. Oke deh, saya pun nunggu di luar ruangan. Sementara adik saya masuk ke dalam dengan membawa berkas fotokopi KTP dan surat keterangan sehat tadi. Saat masuk pintu pertama, petugas yang menerima dan mengecek berkas (orangnya sih tidak pakai seragam polisi) pun mengecek persyaratan pendaftaran, termasuk adik saya. Yang lain boleh masuk ke pintu kedua, sementara adik saya disuruh keluar lagi menemui ibu ini (*). Katanya ada di LPK. Di luar kantor polres ini, persisnya di seberang jalan.

Loh kok ribet banget sih, masa harus keluar lagi. Bukannya dulu semua pendaftaran dilakukan di dalam kantor polres semua? Tapi kata adikku begitu disuruh petugasnya. Oke, kita pun keluar polres lagi menuju LPK untuk bertemu Bu ini (*). Saat di depan gerbang polres, saya iseng-iseng tanya ke polisi yang berjaga disitu. Polisi tersebut pun mengiyakan kalau pendaftaran sekarang harus ke LPK yang diluar. Ada 2 LPK. Katanya sih biar di dalam tidak menumpuk pendaftarannya. LPK ini semacam biro. Sudah sampai di LPK, ketemu Bu ini (*). Adik saya mengasihkan berkas fotokopi KTP dan surat keterangan sehatnya. Terus dipanggil dan disuruh bayar 380.000. Lho kok mahal amat bu? Dulu seinget saya nggak sampai 150.000 untuk biaya SIM baru, sanggahku. Owh, masnya berarti mau ikut tes teori kalau begitu langsung masuk ke dalam saja (pintu kedua). Saya pun gak jadi bayar. Kami pun beranjak pergi dan masuk lagi ke kantor polres.

Kali ini saya masuk menerobos pintu satu meski ada tulisan pengantar dilarang masuk. Tapi karena adik saya kurang berani dan tidak tahu alurnya, juga saat itu sedang ramai. Di tengah antrian orang banyak itu hampir rata-rata semuanya lewat jalur tembak atau tidak ikut tes. Saya menyerahkan berkas pendaftaran ke petugas. Waktu itu sedang ramai sekali. Di ruang tes teori masih ada yang sedang tes sekitar 20 orang. Ada dua ruang tunggu. Ruang tunggu utama yang di pintu satu tadi dan ruang tunggu kedua yang di pintu kedua ini. Pengantri yang rata-rata lewat jalur tembak itu disuruh semuanya menunggu di ruang tunggu utama. Karena ruang tunggu dalam hanya untuk yang mau ikut tes dan pendaftaran awal. Setelah memastikan adik saya berkasnya diterima dan siap untuk mengikuti tes teori ini, saya disuruh keluar oleh petugas polisi tersebut. Saya pun menunggu di luar lagi. Adik saya bersiap untuk tes tahap 1 tersebut.

Apakah PERKAPOLRI NO. 9 TAHUN 2012 sudah tidak berlaku lagi???

          Setelah kurang lebih 30 menit, adik saya sudah selesai tesnya. Dia keluar menemuiku. “Mas, tadi tesnya gak lulus. Dari 30 soal, tadi hanya betul 22 nomor. Kata petugasnya tidak lulus tes. Kalau lulus tes teori jika minimal betul 27 soal” jelas adikku. Seketika itu aku kaget, lho kok begitu? Perasaan dulu waktu saya bikin gak begitu aturannya. Apa sudah ganti yah? “Kata petugasnya jika mau ikut tes lagi seminggu atau dua minggu lagi. Atau bisa juga jika ingin dibantu bisa lewat saya” tambah adikku. Waktu itu memang sedang ramai sekali, banyak yang antri tidak hanya di dalam, tapi di luar juga para pengantar cukup ramai. Ya sudah kalau begitu untuk kali ini minta dibantu saja sama bapak tersebut gak papa. Soalnya kalau nunggu minggu depan juga saya sudah berangkat merantau dan adik saya masih bingung jika mengurus sendirian. “Kata petugas tersebut disuruh bayar 350.000 dan menemui Bu ini (*) lagi di LPK”. Setelah uangnya sudah dikasihkan ke petugas tersebut, kita menuju ke PLK untuk menyerahkan berkas persyaratan tadi. Adik saya lalu masuk lagi membawa berkas yang dari LPK tadi, dikasihkan ke loket pendaftaran yang di dalam, lalu menunggu antrian yang masih ratusan tersebut.

            Saya masih menunggu di luar. Saya masih kesal dan penasaran dengan hasil ujian teori adik saya tadi. Sembari menunggu, saya coba searching tentang aturan tes teori dalam pembuatan SIM tersebut. Ketemulah PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NO. 9 TAHUN 2012 TENTANG SURAT IZIN MENGEMUDI (selengkapnya bisa didownload disini: PERKAPOLRI NO. 9 TAHUN 2012). Peraturan dan ketentuan lengkap tentang SIM diatur dalam peraturan tersebut. Secara lengkap dan detail tentang aturan pembuatan SIM, syarat-syarat, prosedur dan semua yang berhubungan tentang SIM termuat dalam peraturan tersebut. Saya lebih spesifik lagi membaca tentang aturan dalam ujian tes teori.  

Dalam pasal 65 ayat 1 disebutkan "Peserta uji dinyatakan lulus Ujian Teori, jika dapat menjawab secara benar paling rendah 70% (tujuh puluh persen) dari semua soal yang diujikan". Setelah saya analisa dan hitung-hitung. Dalam soal ujian teori ada 30 soal. Harus betul 70%nya. Berarti minimal harus betul 21 baru dinyatakan lulus dan lanjut ke ujian praktik. Barusan tadi adik saya ikut tes teori tersebut, dan katanya cuma betul 22 soal dari 30 soal yg diujikan. Kata petugas polisi yg ngetes harus betul minimal 27 baru dinyatakan lulus. Padahal dlm Peraturan Kapolri tsb minimal 70% betulnya. Apakah perkapolri tersebut sudah tdk berlaku lagi? Atau sudahkah ada revisinya? Karena dengan hasil tsb, adik saya dinyatakan tidak lulus dan kata petugas harus ikut lagi pekan depan atau dibantu dengan orang dalam tsb. Begitu tawaran pilihan dari petugas.

Kalau diizinkan masuk, sebenarnya saya ingin tanya tentang hasil tes teori adik saya tersebut. Tapi karena saya tidak bisa masuk ke dalam, dan kedua karena kondisi saat itu sedang ramai sekali saya pun mengurungkan niat. Walaupun dalam hati saya masih penasaran dan ingin mengkritisi soal perkapolri tersebut. khususnya yang menyebutkan tentang 70% harus betulnya dalam ujian teori. Kok disini berbeda? Apa itu kebijakan sepihak? Atau memang sudah ada revisi atau perubahan dalam perkapolri tersebut? nah, mungkin bagi sobat sekalian jika nanti ada yang mau mengurus SIM, coba ditanyakan masalah itu yah.
Menurut informasi dari adik saya, para pendaftar yang tadi ikut tes teori pun tidak ada yang lolos baik kloter sebelum dan sesudah adik saya. Lah kok bisa tidak ada yang lulus? Saya jadi malah bertanya-tanya, ada apa dibalik semua itu? Apa karena faktor jawaban yang harus betul adalah 27 dari 30 soal? Yang seharusnya betul 21 saja sudah lulus, tapi jadinya tidak lulus? Wallahu a’lam. Pantesan saja, selama hari ini di polres saya tidak melihat ada yang ujian praktek di halaman polres. Mungkin karena tidak ada yang lolos dalam ujian teori, jadi tidak bisa melanjutkan untuk ujian praktek. Mungkin faktor ini juga yang menjadikan banyak orang lebih memilih lewat jalur “nembak” dibandingkan dengan urus sendiri dalam pembuatan SIM.
Tapi kalau menurut saya lebih baik urus SIM sendiri daripada nembak. Ada satu poster menggelitik yang saya temukan di Polres Slawi seperti berikut ini:


URUS SIM DEWEK BAE, AJA LEWAT CALO...!!! (artinya: Urus SIM sendiri saja, jangan lewat calo). Kalau kata-kata ini sudah diterapkan dan dijalankan dengan benar, saya acungi jempol. Karena dalam pelaksanaannya di lapangan bisa dilihat sendiri dan silahkan tanya pada orang yang sudah datang ke tempat tersebut. 

Karena mengurus SIM sendiri itu simple kok, mudah dan hemat biaya pula. Saran saya jika ingin lewat jalur ini, persiapkan dengan baik minimal baca kisi-kisi dan contoh soal tentang ujian teori. Bisa searching di google. Selamat berjuang...!!! 


Saturday, 16 July 2016

Solobackpacker Ternate – Raja Ampat (Part II)


Bertafakur sejauh kapal berlayar.
Bersyukur atas semua nikmat-Nya yg begitu melimpah ruah

"Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri...." (Q.S. An-Naml: 40)

Selamat pagi Ambon...!

#CatatanHariKe-6_Ekspedisi_Pelayaran_Indonesia_Timur
           
Banyak makna yang bisa kita peroleh saat melakukan travelling. Perjalanan yang tentunya bukan untuk sekedar jalan-jalan dan refreshing semata, tapi lebih dari itu. Belajar hal baru di tempat yang baru, bertahan menghadapi tantangan, beradaptasi menggali ilmu dengan orang baru, belajar local wisdomnya, budayanya, menikmati keindahan alam dan panoramanya, serta yang paling penting adalah mentadaburi alam ciptaan-Nya. Sehingga muncul rasa syukur yang mendalam. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan??? Itulah sekelumit aneka rasa yang tergores saat aku melakukan travelling.

            Kali ini aku akan melanjutkan catatan perjalanan saat melakukan solobackpacker Ternate – Raja Ampat tahun 2014 yang lalu.  Selain menikmati perjalanan, terlebih saat berada di atas kapal yang butuh waktu berjam-jam apa yang aku lakukan? Perjalanan seorang diri (solobackpacker) lantas tak membuat kita seperti patung atau seperti orang hilang, hehe. Saat kita melakukan backpacker seorang diri maka yang aku lakukan adalah berkenalan dengan orang baru yang aku temui dalam perjalanan, ngobrol dengan penumpang lain, membaca buku, menulis, mendengarkan musik, dan intinya jangan bengong atau melamun diri. Itulah beberapa hal yang aku lakukan saat berada di kapal yang membutuhkan waktu selama puluhan jam itu. Jangan banyak tidur, tapi lebih baik melihat panorama alam dan lautan luas yang membentang, kecuali cuaca hujan.

            Ini hanyalah salah satu tulisan dan  resensi buku dari buku yang dibaca saat berada di kapal dan tulisan yang ditulis saat berada dalam kapal perjalanan. Karena waktu itu aku sedang berkecimpung di dunia pendidikan, maka buku yang aku baca saat itu adalah buku tentang pendidikan juga. Berikut beberapa tulisannya.


CATATAN HARI KE-7 (Sabtu, 27 Desember 2014)

Guru Cinta...!
Mengajarnya bukan sekedar tugas, mendidiknya lebih apa pun yang menjadi kewajibannya. Kalau dengan cinta, jika penuh dengan kasih sayang dan dibumbui dengan komitmen yang tinggi dalam mendidik siswa-siswinya. Maka, jadilah guru itu terbaik buat siswa, guru yang lain hingga sekolahnya.

Buku yang sarat makna, tak banyak teori, melainkan best practise pengalaman nyata dari guru-guru yang luar biasa. Bukan hanya guru, tapi juga kisah-kisah inspiratif kepala sekolah hingga dosen dalam membimbing peserta didiknya yang mengantarkannya menjadi guru/dosen dengan segudang prestasi.

Buku yang renyah dan asyik dibaca, yang menyuguhkan pengalaman menarik guru penuh cinta mulai dari sekolah plastik, sekolah anak-anak berkebutuhan khusus, homescholling, sekolah marginal, hingga perjuangan mencapai titik kesuksesan
Guru profesional itu mendidiknya dengan cinta, punya banyak inovasi, kreatif dan memiliki segudang prestasi terbaiknya.

Alhamdulillah buku ini rampung dibaca dengan lahap. Menemani perjalananku dalam ekspedisi tafakur alam wilayah Indoensia Timur. Ternate – Sorong – Raja Ampat – Ambon – Namlea – Sanan – Ternate. Selesai dibaca saat perjalanan kapal Ambon – Namlea.

Antologi buku ini berisi kisah-kisah inspiratif guru-guru dari berbagai daerah. Mereka adalah sosok yang telah melewati pahit manis getirnya perjuangan. Akan tetapi pada akhirnya hasil jerih payah mereka pun berbuah manis dan lezat


CATATAN HARI KE-8 (Ahad, 28 Desember 2014)

Bukan Salah Sampah...!

            Seandainya semua manusia berpikiran sama tentang kebersihan mungkin tak ada lagi putung rokok dan sampah lain berserakan. Petugas cleaning service pun tak perlu susah payah untuk menyapu dan membersihkan sampah yang ada di setiap penjuru kapal ini. Aku melihat ada seorang ibu dan 2 anaknya. Aku perhatikan ibu itu sedang asyik merokok sambil menelepon. Sementara kedua anaknya sedang makan jeruk. Sesekali ibu itu melempar gelas air mineral ke depannya. Putung rokok pun ia lempar sembarangan, padahal tak jauh dari ibu itu ada tong sampah. Lalu bagaimana dengan kedua anaknya yang sedang menikmati jeruk tadi? Kedua anak tersebut pun sama, mereka membuang kulit jeruk secara sembarangan di depan mereka. Sepak jeruk pun mereka buang di depan mereka. Mungkin karena jeruknya kurang manis, jadi dimakan sarinya saja, sementara sepah itu pun dibuang menumpuk dengan kulit-kulitnya secara sembarangan. Siapa yang salah???

            Bukan sampah yang salah. Dalam kasus tersebut, anak memang selalu mengikuti dan mencontoh dengan orangtuanya. Perilaku orangtua akan ditiru oleh anaknya. Rupanya dalam kapal ini tidak hanya ibu dan kedua anaknya saja yang membuang sampah secara sembarangan. Tapi para penumpang lain juga banyak yang membuang sampah sembarangan, baik di sekitar kapal maupun langsung dibuang ke laut. Padahal di kapal tersebut sudah ada tong sampah yang sudah disediakan. Juga laut bukanlah tong sampah yang dengan seenaknya manusia membuang sampah secara sembarangan. Ini memang hal kecil, tapi jangan dianggap sepele.

Pelayaran Batin.

      Hari-hari ini selama sepekan aku melakukan pelayaran wilayah Indonesia Timur. Ternate – Sorong – Raja Ampat – Ambon – Namlea – Sanan – Ternate. Inikah yang dinamakan samudera? Samudera Pasifik? Aku melihat ke depan hingga paling ujung depan, paling ujung belakang, paling ujung samping kanan dan paling ujung samping kiri tapi pandanganku terbatas jarak. Seperti tak ada ujung kelilingku ini. Ibarat daratan, seperti padang pasir yang terbentang sangat luasnya. Tapi ini adalah padang lautan yang sangat luas. Mataku pun hanya melihat garis lurus di setiap ujung yang ku lihat. Inikah laut raksasa itu?


          Samudera yang merupakan luas utama dari negeriku ini. Samudera yang luasnya tak terjangkau oleh penglihatanku. Dan diriku ini ternyata sangat-sangat sangatlah kecil sekali. Aku berada di atas kapal yang menurutku kapal ini sudah sangat besar, tapi kapal ini pun hanya seujung bakteri berada di diantara dua biru yang begitu luas ini. Pulau-pulau yang biasanya tampak, kini pun tak ada lagi. Dan aku sangat menikmati dan mensyukuri setiap jejak perjalanan ini.

Friday, 15 July 2016

Solobackpacker Ternate – Raja Ampat (Part I)

Sampai jumpa RA, saya akan kesini lagi bersama isteri, keluarga dan sahabat

            Goresan pena ini adalah sekelumit cerita perjalanan, renungan, dan ungkapan rasa dalam mentadaburi alam wilayah Indonesia paling timur. Tulisan ini diketik dan dikutip dari catatan perjalanan ke negeri Cenderawasih yang aku tulis di buku diary kecilku. Tulisan tangan tersebut ditulis saat melakukan perjalanan ke Papua 21-28 Desember 2014 yang lalu. Tujuan utama backpacker tersebut adalah ke RAJA AMPAT. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dan hikmah yang penuh makna saat melakukan petualangan tersebut. Rute petualangan yang aku tempuh waktu itu adalah Ternate – Sorong – Waisai – Raja Ampat – Papua Barat – Ambon – Namlea – Sanana – Ternate. Secara umum perjalanan laut ini melintasi 3 provinsi yaitu Maluku Utara, Papua Barat dan Maluku.


CATATAN HARI PERTAMA (Ahad, 21 Desember 2014)

Bismillah, hari ini berangkat menuju pulau paling timur di Indonesia. Start dari Ternate pukul 11.00 WIT berlayar bersama KM DORO LONDA.

Begitu besar kapal ini. Ada 8 lantai. Kapal inilah yang akan membawaku dari Ternate ke Sorong, Papua Barat. Tiketnya Rp. 236.000,- Perjalanan yang akan aku tempuh dengan kapal ini ± 18 jam. Aku begitu takjub melihat kapal besar ini, karena baru pertama kali naik kapal seperti ini. “Beratnya mungkin ribuan ton? Kok bisa terapung yah? Siapa pembuat kapal ini?” gumamku. Pikiranku jadi teringat dengan kapal Nabi Nuh pada zaman dulu. Masuk kapal ini kita serasa masuk bangunan gedung bertingkat. Harus naik tangga untuk menuju dec-nya. Waktu itu aku sempat bingung mencari tempat dudukku. Aku berada di dec 4 (kapal lantai 4). Satu per satu aku cari nomor yang tertera dalam tiketku. Akhirnya ketemu juga.

Hatiku begitu kaget dan takjub lagi. Tatkala mendengar adzan dalam kapal yang megah ini. Suara dari takmir musholla ini mengingatkan para penumpang untuk melaksanakan sholat bagi penumpang yang beragam muslim. Meskipun penumpang kapal ini kebanyakan orang Papua dengan ciri khas rambut ikalnya. Sebagian lagi orang Manado, Ambon dan Maluku yang hendak pulang atau liburan ke Papua. Karena pada waktu itu menjelang natal juga. Aku pun bergegas menuju musholla yang berada di lantai 7. Banyak jama’ah yang sholat. Mushollanya cukup besar berukuran 10 x 10 meter.  Imam musholla kapal ini menginstruksikan untuk menjama’ sholat dhuhur dan ashar. Begitu pesannya kepada para jamaah.

Usai sholat, aku kembali terpana dengan panorama laut. Aku tak langsung turun menuju dec 4, akan tetapi aku menikmati pemandangan sekitar laut dari lantai 7 kapal ini. Persis di area depan musholla kapal ini. Sekelompok lumba-lumba tampak muncul ke permukaan. Mereka saling berlarian dan muncul untuk menghirup udara. Jumlahnya puluhan. Mereka berkoloni dan bergerombolan. Tepat di atas sekumpulan lumba-lumba itu ada sekelompok burung berwarna putih yang mencoba memakan lumba-lumba itu. Tapi sepertinya burung-burung tersebut tampak kesulitan untuk menerka ikan-ikan tersebut. Sungguh pemandangan alam yang sangat amazing dan begitu indahnya alam yang terbuka ini.

Sesekali aku termenung di atas kapal ini. Mentadaburi alam yang begitu memesona dan menawan. Dalam benak hatiku bertanya-tanya. “Kira-kira berapa ton yah beratnya kapal pesiar ini? Berapa lama dibuatnya? Siapa pembuatnya? Kok puluhan ton besi baja ini bisa terapung yah?” Dan sejumlah pertanyaan lainnya muncul dalam pikiranku. Berada di atas kapal ini serasa berada di gedung bangunan bertingkat. Padahal berada di atas lautan dan tepi samudera pasifik. Saat tiba waktunya makan, awak kapal memberitahunya lewat speaker. Para penumpang pun menuju tempat pengambilan makan. Kita harus mengantri panjang dengan menunjukkan tiket kita masing-masing. Selama di kapal ini, para penumpang mendapat makan sebanyak 3 kali. Disini juga tersedia toko makanan bila ingin membeli snack buat cemilan atau sekedar ngopi atau minuman lainnya. Tapi saya sarankan mending bawa bekal snack dan makanan ringan sendiri, karena harga makanan dan minuman di kapal cukup mahal. Harganya bisa mencapai 2-3 kali lipat dari harga normalnya.


CATATAN HARI KEDUA (Senin, 22 Desember 2014)

Welcome Papua...!

            Setelah menempuh perjalanan ± 18,5 jam di atas KM Doro Londa, akhirnya tepat pukul 05.30 WIT kapal ini sudah tiba di Port of Sorong. Selamat datang. “Welcome Papua. Tafakkaruu fii kholqillah. Menyemai rasa syukur di ujung timur nusantara”. Begitu update statusku di Hari Ibu ini pas aku pertama kali menginjakkan kaki di Sorong, tanah Papua.

Kenapa mau ke Papua? #Modal nekat...!

Ada apa di Papua? Buat apa kesana? Awalnya aku sudah dapat link dan nomor HP orang dinas. Akan tetapi 2 nomor yang dikasih Bang Aslam tersebut setelah aku hubungi tapi hasilnya tak membuahkan hasil. Kedua orang dinas tersebut sudah cuti kerja karena kantor juga mau tutup, begitu balasnya saat saya coba hubungi orang tersebut. Mereka mau cuti untuk liburan natal.

            Inilah perjalanan nekat liburan ke Papua. Bisa dibilang memang kurang persiapan. Tapi intinya aku sampai di tanah Papua, hehe. Saat malamnya sebelum sampai di Sorong, waktu masih di atas KM Doro Londa aku masih belum tahu nantinya tinggal dimana? Selain Bang Aslam, aku juga tanya ke beberapa teman untuk informasi teman yang ada di Papua minimal untuk ikut nebeng menginap disana, hehe. Namanya aja backpacker, jadi harus berhemat dalam pengeluaran dan yang terpenting adalah menikmati perjalanan petualangan ini.

            Malam hari itu juga, kebetulan di update statusku di FB sebelumnya ada beberapa teman yang komentar terkait keberangkatanku ke Papua. Mas Jay berkomentar dan kasih rekomendasi temannya yang ada di Sorong. Mas Jay pun mengasih nomor Hp temannya tersebut. Tak lama kemudian, Bang Andiwijaya juga kasih rekomendasi temannya anak SM3T yang katanya sedang bertugas juga di wilayah Sorong. Wah rejeki nih, gumamku. Di tengah kekhawatiranku yang sebelumnya niatanku ingin mampir di rumahnya orang dinas pendidikan daerah Sorong yang dikasih Bang Aslam tapi gak membuahkan hasil. Di saat itu juga tawaran demi tawaran berdatangan dari teman sahabat facebookku, hehe.

            “Assalamualaikum. Apa benar ini nomor Iin?” sebuah sms singkat masuk ke Hpku. “Saya Anise Alami, peserta SM3T di Papua Barat. Pernah bekerja di Makmal. Kebetulan besok mau ke Sorong. Saya dapat nomor dari mas Andiwijaya katanya SGI 6 mau ke Sorong. Di Sorong mau bermalam dimana?” balasnya saat aku tanya namanya. “Belum tahu tinggal dimana, sekarang masih cari-cari” jawabku, hehe.

            Mungkin dia juga kaget kok berani-beraninya ke Papua, tapi belum tahu tinggal dimana. Dia membalas smsnya lagi, “hahahaa.... begitulah SGI. Mantab! Sudah di tengah perjalanan masih belum tahu dimana tapi berani berjalan. Rencana ke Sorong mau kemana saja? Sudah dapat link di Sorong kah?” tanyanya. Lalu aku balas saja apa adanya. Sembari tanya-tanya soal Papua dan sekitarnya. Annise memberikan banyak informasi tentang Waisai, Raja Ampat, Papua dan segala akses lainnya.

Tadinya setibanya di Sorong, aku mau langsung berangkat menuju ke Raja Ampat. Karena hari itu sudah tidak ada lagi jadwal kapal menuju ke Raja Ampat, akhirnya aku putuskan untuk bermalam dulu  di Sorong. Dimanakah aku harus bermalam? Ada dua alternatif sebenarnya, yaitu di tempatnya Kak Ani (ponakannya Pak Sahril, orang Maluku Utara) atau di rumahnya mas Dimas (yang direkomendasikan oleh mas Jay sebelumnya). Aku coba hubungi dua-duanya dan alhamdulillah bisa untuk aku singgahi rumahnya. Walau aku belum kenal sama sekali dengan kedua orang tersebut, mau gak mau aku harus kesana untuk ikut bermalam sembari menunggu jadwal kapal esok hari ke Raja Ampatnya.

Saat masih di Port of Sorong aku bergegas dulu menuju ke kantor PELNI untuk membeli tiket kepulangan nanti. Lokasi kantor tersebut tepat berada di depan pelabuhan Sorong ini. Usai mendapatkan tiket buat pulang, aku naik angkot 2x untuk menuju ke daerah yang bernama Kilo 12, Sorong, Papua Barat. Yaitu menuju rumahnya Kak Ani. Tadinya aku mau numpang nginep di rumahnya mas Dimas (temannya Mas Jay), tapi katanya dia masih kerja di bank muamalat dari pagi sampai malam. Akhirnya aku putuskan untuk menuju rumahnya Kak Ani dulu untuk sementara waktu. Sembari berkeliling di kota Sorong, setelah mendapatkan alamat rumah Kak Ani, aku pun segera kesana dengan naik angkot. Rumahnya Kak Ani berada di daerah bernama Kilo 12. Setelah menempuh 2x angkot akhirnya sampai juga di rumah yang aku tuju tersebut.

Ternyata usia Kak Ani ternyata sudah cukup berumur (sehingga saya panggil Bu Ani). Beliau adalah seorang guru yang sudah cukup lama. Beliau berasal dari Ternate, Maluku Utara. Beliau sudah puluhan tahun tinggal di Sorong karena ikut dengan suaminya yang juga merupakan seorang guru dan kepala sekolah SMP di daerah Raja Ampat. Karena sama-sama guru, kami pun nyambung dan ngobrol banyak tentang pendidikan. Awalnya saya berniat untuk bermalam di rumahnya Bu Ani dan suaminya tersebut. Tapi akhirnya saya putuskan cuma sampai sore saja karena takut merepotkan mereka berdua yang juga ada 3 anaknya yang masih kecil. Sore hari menjelang maghrib mas Dimas (temannya mas Jay) datang menjemputku. Aku pamit dari rumah Bu Ani dan aku bersama Mas Dimas menuju rumahnya. Mas Dimas tinggal di komplek perumahan dan masih sendirian (belum menikah) sehingga saya pun agak nyaman untuk ikut bermalam di rumahnya.

CATATAN HARI KETIGA (Selasa, 23 Desember 2014)

            Ini adalah perjalanan dari Sorong menuju Raja Ampat menggunakan kapal. Biaya tiketnya adalah 150.000,-. Saya diantarkan mas Dimas menuju pelabuhan. Cukup rame juga waktu itu. Banyak penumpang yang hendak menuju ke Raja Ampat. Dalam buku diariku tulisan hari ketiga adalah sebagai berikut:

Tol Laut, Piye Kabare?

Sorong dan Ternate, keduanya adalah pintu gerbang bagi Papua Barat dan Maluku Utara. Keduanya punya pelabuhan dan bandara. Secara geografis pun tampak sama. Wilayahnya berpulau-pulau. Transportasi utama lewat jalur laut. Mampukah pelabuhan utama kedua kota strategis tersebut menjadi pelabuhan raksasa seperti Pelabuhan Tanjung Priuk? Menjadi pintu masuk ekspor-impor bagi kawasan Asia Pasifik di wilayah Indonesia Timur?
#CatatanHariKe_3_TafakurAlam_BumiCenderawasih

Pulau Dolar, Siapa Punya?

Negeri Cenderawasih ini tak hanya kaya dengan “Raja Ampat”nya yang begitu wah, wonderful dan fantastiknya. Setiap orang mungkin akan terpana melihat kecantikan pulau ini. Pulau ujung negeri ini pun dikenal orang dengan sebutan Pulau Dolar, karena disini memang banyak turis asing yang tinggal disini. Dibalik keindahan tersebut, pertanyaannya adalah siapa pengelola pulau yang katanya dijuluki sebagai surga dunia tersebut? Bagaimana kondisi pendidikan di sekitar pulau kaya raya tersebut? Topik ini kayaknya perlu didiskusikan lebih lanjut. Hasil obrolan singkat saya dengan Pak Arsad (kepala sekolah SMP Misol), salah satu SMP yang ada di Kabupaten Raja Ampat.


CATATAN HARI KEEMPAT (Rabu, 24 Desember 2014)


Welcome in Raja Ampat

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di tanah Raja Ampat. Berbekal niat, tekad dan walau sedikit nekat, hehe. Tapi aku sangat menikmati dan mensyukuri perjalanan ini. Awalnya tak punya link / saudara. Aku hanya berbekal nomor HP ibu Nur yang dikasih oleh Annise (SM3T). “Dari pelabuhan Waisai jalan kaki saja sekitar 40 menit. Rumah bu Nur belakang Masjid Agung Waisai. Rumah kayu lantai 2” sms dari Annise. Setibanya di pelabuhan, aku pun jalan kaki sesuai dengan instruksi dari Annise. Saat ada tawaran ojek, aku menolaknya.

Pertemuan dengan Polisi Muda

            Aku sampai juga di rumah Bu Nur dan aku sampaikan perkenalan dan tujuan. Samping kamar Bu Nur adalah kamar para polisi muda. Aku pun dikenalkan oleh Bu Nur kepada mereka. Dari perkenalan singkat inilah akhirnya aku dapat tempat tinggal untuk bermalam bersama para polisi muda ini. Bu Nur ternyata adalah orang Buton. Sedangkan 4 polisi muda itu ialah Mas Figih, Mas Dimas, Mas Ihsan dan Mas Vembi. Semuanya polisi muda yang masih bujang, kecuali mas Ihsan yang baru saja nikah katanya. Rupanya Mas Figih orangtuanya adalah orang Tegal juga. Mas Vembi dan Mas Dimas alumni SPN Purwokerto sedangkan Mas Figih dan Mas Ihsan alumni SPN Mojokerto.

            Mereka (Bu Nur dan 4 polisi muda) sangat baik dan ramah menyambut kadatanganku yang bermaksud ikut menumpang untuk istirahat. Padahal sebelumnya aku tak kenal sama sekali dengan mereka. Tapi rasanya seperti sudah akrab saja dengan mereka. Malam harinya aku juga ditraktir makan oleh mereka. Kebetulan waktu itu badha maghrib mati lampu. Usai makan malam aku pun pulang ke rumah mereka karena lelah juga. Baru keesokan harinya aku jalan-jalan dengan Mas Ihsan (kebetulan juga dia lagi libur karena dapat jadwal tugasnya malam).

Inilah Raja Ampat...!!!

            Laut dimana pun berada, sama. Tapi, Raja Ampat memang tampil beda. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sungguh indah alam-Mu ini. Yang membedakan adalah regulasinya. Pengaturan dan pengelolaannya dari suatu tempat tertentu. Kalau bicara regulasi, lihatlah diri sendiri. Mulai dari sistem pencernaan hingga sistem ekskresi. Semuanya teregulasi dengan teratur. Andai saja semua orang bisa memahami itu, tentu akan pandai juga mengelola alam. Bukankah manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardhi?

            Raja Ampat memang menawan, tentu karena kecantkannya. Flora dan faunanya yang beragam. Pantai WTC yang menjadi pusat dalam Sail Raja Ampat 2014 (Agustus silam) tertata dengan apik, dihiasi dengan aneka pohon kelapa yang menjulang tinggi dan gubuk-gubuk kecil. Pantai-pantai yang lain dengan aneka macam jenis mangrove dan yang tak kalah menariknya adalah jenis ikannya. Di tepi pantai saja banyak ikan yang berkerumunan ke tepi pantai

CATATAN HARI KELIMA (Kamis, 25 Desember 2016)

Berfikirlah, Walau Sejenak...!!!

            Saat aku berada dalam kapal pesiar KM Dorolonda yang terdiri atas 9 lantai ini, berapa ton kah berat kapal ini? Ribuan ton? Kenapa tak tenggelam? Siapa yang membuat kapal ini? Kok bisa kapal yang beratnya berton-ton ini bisa menjelajahi samudera? Aku jadi teringat dengan sebuah ayat: “milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman : 24-25).

            Sebiru hari ini. Diantara dua biru yang aku tak akan pernah sanggup menjelajahi semua itu. Birunya lautan, yang katanya 70% wilayah dari bumi. Dan birunya langit yang tak terbatas luasnya. Betapa kecilnya diriku ini. Birunya laut, kapan aku bisa menjelajahi dunia bawah laut yang penuh dengan ribuan, milyaran aneka flora-fauna? Sungguh luar biasa ciptaan-Mu ini. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil BERDIRI, DUDUK, atau dalam keadaan BERBARING dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (Q.S. Ali Imran: 190-191)

Sudahkah kita memikirkannya? Tafakkaru fii kholqillah, walaa tafakkaruu fii dzatillah. Berfikirlah dan renungkanlah ciptaan-Nya, walau hanya sejenak.

CATATAN HARI KEENAM (Jum’at, 26 Desember 2014)

Ojek Bertarif Do’a Nikah.

            Sahabat tak terduga dari seorang pengemudi ojek. Kejutan di pagi hari. Datang seorang ojek muda, masih bujang pula. Tepat badha shubuh, aku langsung bergegas untuk menuju pelabuhan Sorong. Sudah lebih dari 10 menit, belum juga ada angkot lewat. Waktu itu aku sendirian di tepi jalan. Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIT. Okelah kalau begitu aku harus naik ojek, niatku dalam hati. Karena harus mengejar jadwal keberangkatan kapal.

            Tak lama, datanglah seorang ojek dengan motor besar. “Berapa tarifnya pak?” tanyaku. “Terserah Bapak, mau kasih berapa?” jawabnya. “30.000 yah Bang” tawarku. “Oke” jawabnya. Karena menurut info dari teman biasanya 30-40ribu biayanya. Perjalanan menuju pelabuhan cukup jauh, kalau naik angkot harus 2x naik angkot. Tapi kali ini harus satu kali perjalanan dengan ojek, karena aku mengejar jadwal kapal.

            Di atas motor, bersama sang ojek kami bercerita satu sama lain, secara bergantian. Asal, umur, pekerjaan, hobi dan cerita lainnya. Padahal baru bertemu, baru kenal, tapi kita seperti sudah dekat. Rupanya sang ojek tersebut juga masih bujang, asalnya dari Padang tapi sudah lama tinggal di Surabaya dan kini tinggal di Sorong, Papua Barat.

            Singkat cerita, sampai juga di pelabuhan. Pas aku mau kasih uang, tukang ojek melambaikan tangan seraya bilang “tidak usah bayar mas”. Aku langsung kaget seketika. Usai bilang terima kasih, kita baru kenalan nama. “Namaku Ragil” kata tukang ojek tersebut. “Do’akan saja semoga aku juga dapat jodoh” ujarnya. “Oke mas” jawabku. “Sekali lagi terima kasih ya mas atas kebaikannya, sampai ketemu lagi” balasku. Semoga Mas Ragil segera dipertemukan dengan jodohnya untuk segera menikah. Tukang ojek tersebut pun pergi meninggalkanku di depan pelabuhan. Aku bergegas menuju kapal.



BERSAMBUNG..... TO BE CONTINUED.....

Saturday, 2 July 2016

Gersang, Segeralah Bersemi...!


            Ada apa dengan diri yang khilaf? Siapa? Kenapa? Aku? Kamu? Atau Mereka? Entahlah. Yang jelas, refleksi adalah jalan alternatif bagi sebuah kealpaan. Jika kesibukan dan aktifitasmu tak menghadirkan ketenangan, maka ada yang perlu dievaluasi. Jika rangkaian ibadahmu juga tak mendatangkan ketentraman, maka tengoklah diri apa yang keliru. Jika kebaikan itu bersifat relatif, lalu bagaimana dengan keburukan? Sekali lagi refleksi dan introspeksilah, agar engkau menemui titik temu. Agar engkau bisa menghadirkan solusi yang bisa jadi baik untuk mengobati luka yang sedang engkau rasakan itu. Jika memang ada yang salah, bermusyawarahlah baik-baik. Bukan menghakimi sepihak. Terkadang mata kita perlu pakai kaca mata kuda, perlu mendengarkan lebih banyak dan butuh santun dalam mengklarifikasi sesuatu yang sudah terjadi.

            Setahun itu rasanya cepat sekali berlalu. Sangat singkat. Seperti jantung yang berdetak tiap detiknya. Apalagi sebulan, seminggu atau sehari. Lalu apa yang membuatnya lebih cepat atau lebih lama? Perbedaan itu tentulah hanya soal rasa yang mengatakan. Lalu jika ditanya, “apa yang sudah dilakukan selama kurun waktu itu?”. Berhasilkah? Meningkatkah? Atau bahkan sebaliknya, mengalami kegagalan? Jika hidupmu selama sehari, seminggu, sebulan atau setahun mengalami stagnan, biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan, atau bahkan menurun maka tengoklah diri baik-baik. Apa yang salah dalam hidup kita selama ini? Jika memang punya visi, misi dan target yang kita bidik, lantas tak menghasilkan perubahan sedikit pun, maka evaluasilah secepat mungkin. Ambil langkah, refleksi, koreksi dan ciptakan strategi baru untuk menghadapinya.

            Diam di tempat, bukanlah solusi. Teruslah menjadi pembelajar. Baik sebagai diri pribadi maupun sebagai instansi (lembaga, organisasi atau yang lainnya). Saling menyalahkan bukanlah jawaban. Apalagi mencari kambing hitam. Karena terkadang memang betul juga pepatah ini: “gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi bakteri di ujung gunung terlihat jelas”. Membiarkan hal tersebut terus menerus, sama saja kemunduran. Karena lagi-lagi tak mau belajar dari kesalahan sebelumnya. Alangkah baiknya jika menyalakan lilin, daripada mengutuk kegelapan. Stop, berhenti menyalahkan orang lain. Tapi introspeksi diri itu jauh lebih bermakna. Terkadang memang harus peka dengan cara “memahami” dan “mengerti” keadaan. Inilah yang sulit. Jika tak ada kepekaan dalam diri. Jika tak ada kepedulian untuk berbenah. Maka semua itu mustahil untuk dilakukan.

            Karena memahami itu memang perlu banyak energi. Butuh empati tingkat tinggi. Karena memang secara kata “memahami” itu adalah kata kerja aktif. Berbeda kebalikannya dengan “dipahami” yang merupakan kata kerja pasif. Pun sama sesuai konteksnya “dipahami” tak perlu banyak energi, karena menjadi objek. “Dipahami” berarti hanya ingin diperhatikan tanpa memperdulikan dan mengabaikan yang lainnya. Maka sudah sepatutnya “memahami” itulah yang harus terus diasah agar mengerti kondisi yang sebenarnya. Agar mengetahui segala sesuatu secara mendalam, maka diperlukan “memahami” terlebih dahulu. Mari saling bergandengan tangan, saling merangkul dan saling memahami satu sama lain demi keharmonisan sebuah hubungan. Bukankah kekeluargaan dan ukhuwah adalah rasa yang harus dimiliki dan harus ada dalam sebuah ikatan?

            Wahai gersang, cepatlah berlalu. Siramilah, rawatlah, dan pupuklah agar tak mudah layu. Jagalah ia dengan gigih. Perjalanan masih panjang. Asah kembali tekadmu. Bukalah kepekaan nuranimu dalam memahami situasi. Hingga bersemi telah tampak kembali. Sampai pada akhirnya manisnya hasil perjuangan dapat kita rasakan bersama-sama. Untukku, untukmu dan untuk kita (atau untuk mereka) yang sedang merasakan pahitnya kegersangan. Bersemilah...!!!
            

Tegal, 2 Juli 2016 /

 27 Ramadhan 1437 H