Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 17 October 2016

Taman Baca Pulau Sebira: “Lejitkan Literasi Masyarakat Kepulauan”


Dimana kaki dipijak, disitu muncul spirit baru. Seperti menemukan puing-puing harapan. Ya, begitulah yang aku rasakan saat melakukan Ekspedisi Nusantara Jaya di Pulau Sebira. Bibit cita-cita itu tumbuh seketika. Memberi harapan walau dengan secercah impian. Seolah-olah telah usai melewati masa dormansi yang panjang. Semakin lama aku mengenali, menelusuri dan berinteraksi dengan mereka maka disitu pula tumbuh, berkecambah dan berkembanglah cita-cita itu. Cita-citaku, cita-cita team ENJ Jakarta juga cita-cita anak-anak pulau yang juga dikenal dengan Pulau Jaga Utara ini. Karena kehadiran adalah energi yang mampu meletupkan dan membangkitkan spirit cita-cita dan impian mereka. Begitu juga dengan kehadiran tim ENJ di Pulau Sebira ini.
Selain menjalankan misi ekspedisi dengan beragam program kerja yang sudah dilaksanakan, tim ENJ Jakarta juga punya program yang bersifat berkelanjutan. Salah satu sustaiable program tersebut adalah "Taman Baca Pulau Sebira". Sejak pertama kali dilaunching animo anak-anak sangat tinggi. Tiap hari ramai berdatangan anak-anak ke taman baca ini. Tak hanya anak-anak, kalangan orangtua pun punya euforia yang sama akan keberadaan taman baca sederhana ini. Taman baca menyimpan sejuta harapan. Masyarakat Pulau Sebira yang sangat welcome dan punya antusiasme tinggi terhadap kedatangan kami. Anak-anak adalah harapan masa depan bangsa ini. Merekalah generasi yang akan membuat pulau ini semakin maju dan berkembang. Aktivitas "membaca" adalah salah satu kunci pembukanya. Buku adalah senjatanya. Dan keberadaan taman baca adalah ruang sekaligus tempat untuk melejitkan potensi mereka.

Sebelum berangkat ke Pulau Sebira, tim taman baca sudah melakukan penggalangan buku untuk taman baca. Alhamdulillah, telah terkumpul kurang lebih 1.025 buku dengan beraneka macam jenisnya. Mulai dari buku pelajaran, cerita, novel, pendidikan, agama, dan lain-lainnya. Buku-buku tersebut berasal dari sumbangan donatur berbagai pihak, seperti Mizan, Rabbit Hole, Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau, dan para donatur individu lainnya. Melalui tulisan ini kami tim ENJ Jakarta juga mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para donatur yang telah memberikan buku-bukunya. Semoga buku-buku tersebut dapat berguna dan bermanfaat buat warga masyarakat Sebira dalam rangka menumbuhkan budaya cinta literasi dan menambahkan wawasan mereka.

Launching Taman Baca Pulau Sebira
Langit sore Minggu, 25 September 2016 tampak cerah berawan. Sebuah gedung bertuliskan “Karang Taruna” yang terletak di depan dermaga utama Pulau Sebira sudah ramai dengan anak-anak yang penuh antusias. Meski gedung tersebut masih tercium aroma bangkai yang sejak kemarin tim Taman Baca ENJ sudah coba telusuri, namun tak kunjung ditemukan asal muasal bau tersebut. Sepertinya berada di atas atap bangunan yang berisi peralatan musik, semen dan barang-barang lainnya milik warga Pulau Sebira. Seolah-olah bau itu pun hilang seketika, tapi terkadang tiba-tiba muncul lagi saat ada desiran angin yang masuk ke dalam bangunan sederhana ini. Tapi, entah karena semangat yang menggelora, antusias anak-anak yang membahana dan tim ENJ yang tak kalah serunya dalam pembukaan taman baca ini, bau itu pun seperti hilang dengan sendirinya.

Pekikan suara anak-anak disertai dengan beraneka macam tepuk-tepuk kreatif bergema di depan bangunan ini. Senyuman mereka membumbung tinggi menjulangkan energi-energi positif bagi warga masyarakat sekitar yang juga mulai melirik sumber suara yang ramai tersebut. Sesi pengkondisian dengan ice breaking tersebut menghadirkan kesan tersendiri bagi anak-anak hebat Sebira. Tiba waktunya acara inti yaitu peresmian taman baca yang nantinya akan menjadi tempat belajar bagi anak-anak ini. Secara resmi Taman Baca Pulau Sebira ini dilaunching dan diresmikan oleh Ibu Hj. Hartuti selaku Ketua RW. Orang nomor 1 Pulau Sebira ini sangat menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tim ENJ atas peresmian taman baca tersebut. Pemotongan pita dan penyerahan buku secara simbolis menjadi penanda resminya taman baca ini didirikan.

Usai diresmikan, anak-anak pun berduyun-duyun secara bergantian meminjam buku-buku yang ada di taman baca. Awal mulanya tim taman baca sempat kualahan menghadapi animo anak-anak yang hendak mau meminjam buku. Tapi berkat kekompakkan dan pembagian tugas dalam penanganan dan pengelolaan taman baca, situasi tersebut dapat berjalan dengan tertib dan rapi. Anak-anak harus mengantri dan bersabar ketika hendak meminjam buku. Mereka juga dibatasi peminjamannya. Maksimal peminjaman buku berjumlah 2 buah buku. Terus yang boleh pinjam adalah mereka yang sudah mendaftar dan memiliki kartu peminjaman taman baca. Selamat membaca anak-anak hebat Pulau Sebira.

Kreativitas dan Inovasi Pengelolaan Taman Baca

            Dimana ada gula disitu ada semut. Dimana ada taman baca, disitu ada buku dan pembaca. Pepatah ini menggambarkan pentingnya keberadaan buku dan taman baca bagi masyarakat. Dibalik pelaunchingan Taman Baca Plau Sebira oleh tim ENJ Jakarta kemarin, satu hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan taman baca masyarakat adalah “kreativitas dan inovasi” dari para pengelolanya. Sejak persiapan awal penggalangan buku, pendataan, pelabelan dan penomoran buku adalah suatu keharusan yang harus ada dalam taman baca. Dari belakang layar inilah keberhasilan taman baca bisa berhasil. Taman baca tidak hanya fokus dalam pengadaan buku semata. Hal yang lebih utama lagi adalah adanya pengelola (pengurus) taman baca tersebut.


            Awal mulanya pengelolaan taman baca ini dilakukan oleh tim taman baca ENJ. Ragam kegiatan taman baca juga tidak fokus hanya penyedian buku dan aktivitas membaca, tapi lebih dari itu harus ada seni kreativitas dalam pengemasan kegiatan. Ice breaking, games, tepuk-tepuk, nyanyian, mendongeng dan aneka jenis kegiatan menarik lainnya juga harus dilakukan untuk memancing, memantik dan menarik hati anak-anak agar tertarik berkunjung ke taman baca dan meminjam buku. Karena kalau hanya dengan menyuruh anak-anak membaca, maka mereka akan menemukan kebosanan. Maka harus dibarengi dan diselingi dengan kegiatan yang positif, menyenangkan dan membuat mereka nyaman.

            Dalam pengelolaan taman baca harus ada pengurus atau pengelola yang bertanggung jawab untuk mengurusnya. Oleh karenanya saat masih berada di Pulau Sebira, tim taman baca mengadakan musyawarah dengan RW, para ketua RT, karang taruna dan perwakilan guru untuk membahas pengelolaan taman baca ke depannya. Taman baca ini tidak berhenti sampai disini, tapi harapan kami (tim ENJ) terus berlanjut. Oleh karena itu harus ada pengelola yang siap mengelolanya. Awal mula sempat ada yang memberi saran, kenapa gak digabung saja dengan perpustakaan sekolah? Buku-buku taman baca ditaruh saja di sekolah, begitu saran salah seorang. Tapi kami (tim taman baca ENJ) menyampaikan bahwa taman baca harus terpisah, berdiri sendiri. Kenapa? Karena taman baca ini bisa diakses oleh semua kalangan, baik anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Kalau ditaruh di sekolah, masyarakat umum akan sungkan (enggan) untuk meminjamnya karena merasa malu atau tidak enak. Rapat selesai, akhirnya mereka sepakat untuk dikelola sendiri oleh mereka.

Keberlanjutan Taman Baca Pasca Ekspedisi

“Mewujudkan masyarakat Pulau Sebira yang cerdas literasi dan berwawasan global”, itulah visi didirikannya taman baca ini. Oleh karenanya untuk mencapai visi tersebut, diperlukan keberlanjutan. Kegiatan ekspedisi di Pulau Sebira telah usai. Akan tetapi keberadaan Taman Baca tersebut terus berlanjut. Keberadaan buku-buku yang sementara ini ikut ditaruh di gedungnya karang taruna masih ada yang mengelolanya. Kami bikin pengurus dan pengelolanya. Secara teknis di Pulau Sebira sudah ada tokoh pemuda yang mengelolanya, sementara itu kami (tim ENJ) yang berada di wilayah jabodetabek juga membuat struktur pengelola lagi. Membuat website, bikin proposal dan penggalangan dana juga penggalangan buku adalah kegiatan yang akan kami lakukan lagi untuk menyuplai kebutuhan taman baca tersebut.

Monday, 10 October 2016

Memaknai Ekspedisi, Temukan Arti

Foto: team ENJ Jakarta berfoto bersama di bawah Menara Suar Jaga Utara Pulau Sebira

“Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup aku gembira.
Dan dimana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita
yang kusimpan dalam dadaku
(Bung Hatta)

Hmm, kali ini pun aku merasakan beraneka macam cita-cita baru tumbuh dan bermunculan warna warni inspirasi. Bibit-bibit impian itu bermunculan di saat menjelajahi pulau dan perjalanan ekspedisi ini. Entah kenapa aku sangat suka dengan quote yang diutarakan oleh Bapak Proklamator negeri ini tersebut. Terlebih saat aku berada di pulau terluar yang masih bagian dari nusantara ini. Seperti perjalanan Ekspedisi Nusantara Jaya yang telah kami jelajahi di Pulau Sebira, 22-29 September 2016. Bibit cita-cita itu tumbuh dari pulau dan hamparan lautannya, warga masyarakat, anak-anak, hingga local wisdomnya.
Dalam ekspedisi ini terlahir banyak makna dan nilai-nilai kehidupan yang kami temukan. Kalau dirunut sejak awal, pertanyaan itu muncul lagi “Kenapa harus ikut ekspedisi?”. “Bagaimana kehidupan di sana?”, “Apakah disana penduduknya friendly atau sebaliknya?” “Terus manfaat apa yang akan saya dapatkan setelah mengikuti ekspedisi ini?” Dan beragam pertanyaan lainnya yang sempat muncul dalam benakku. Mulai dari pelepasan secara resmi di dermaga JICT Tanjung Priuk, pemberangkatan di pelabuhan Muara Kamal hingga perjalanan selama ekspedisi ini, aku mencoba merefleksikan diri memaknai tentang ekspedisi ini. Dalam memaknai ekspedisi ini, ada beberapa arti kehidupan yang bisa kita ambil hikmahnya, diantaranya adalah:

1.      Manajemen Team & Memahami Karakter Orang
Siapakah team ENJ Jakarta itu? Team ini adalah tim hasil seleksi nasional Ekspedisi Nusantara Jaya 2016. Total pendaftar yang berjumlah sekitar 7400an, dan untuk keberangkatan Jakarta terpilih 25 orang yang berhak untuk mengikuti kegiatan ini. Selain hasil seleksi web, tim ENJ Jakarta juga ditambah dengan 33 orang dari hasil seleksi UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Jadi total team ENJ Jakarta berjumlah 58 orang. Meski berasal dari kampus, pekerjaan dan asal yang berbeda-beda. Nah disitulah muncul kebersamaan yang kuat. Mulai dari menyusun program sejak persiapan sebelum berangkat ekspedisi hingga berlangsungnya ekspedisi. Team dengan background dan keilmuan yang berbeda-beda ternyata bisa menyatu bersama untuk menjalankan misi dan program-program yang sudah kami buat.
Saling memahami, saling mengerti. Dalam kegiatan seperti ini kita jadi tahu karakter tiap orangnya. Ada yang melankolis tapi terus eksis. Ada sanguinis, koleris dan ada juga yang plegmatis. Berbeda-beda tapi masing-masing punya keunikan tersendiri. Kekompakkan dan kolaborasi yang harus dijaga. Ada yang extrovert, ada yang introvert. Tapi semuanya jadi saling bahu membahu. Bergotong royong dalam melaksanakan tugas ekspedisi ini. Perbedaan usia dan pengalaman diantara kita semua menjadikan team ini saling melengkapi dan saling support satu sama lain. Semua belajar dan menjalankan amanahnya masing-masing. Ada yang pendiam, serius, humoris, kocak, suka melawak, dan beragam karakter unik dan kekhasan masing-masing. Dari yang sebelumnya tidak saling mengenal, ternyata kita jadi tim yang kuat dan kompak.
Dalam memanajemen team dengan beragam karakter diperlukan komunikasi yang efektif agar tidak terjadi miss-communication. Koordinasi tidak hanya sesama team saja, tapi juga ketika berhadapan dengan masyarakat. Terlebih saat berhadapan dengan masyarakat pulau pesisir, diperlukan ketajaman analisa, serta yang paling utama adalah memahami medan juang yang menjadi tempat kegiatan berekspedisi, dalam hal ini adalah Pulau Sebira. Walau sebelumnya kita belum ada yang assesment atau survei ke lokasi ke pulau ini, tapi kita beruntung karena ada teman kami yang bernama Randi yang merupakan orang asli pulau ini. Akhirnya sejak saat itu Randi dijuluki si “sumber terpercaya”. Karena dia yang lebih tahu dan paling tahu dengan tanah kelahirannya yang akan menjadi tempat kita berekspedisi.
Pelajaran lain yang bisa diambil dari tim ini adalah perlunya menjalin komunikasi dengan semua pihak yang ada di Pulau Sebira. Saat kami mengadakan kegiatan di lapangan sempat terjadi miss-komunikasi dengan karang taruna setempat, tapi hal tersebut bisa kami atasi dengan cepat. Meski kami hanya seminggu berkegiatan disana, tapi komunikasi dan koordinasi adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Karena kita adalah tamu, maka sudah sepatutnya kita berbaur dengan mereka, dekati dan silaturahimi semua ketua dan tokoh setempat khususnya yang berkaitan dengan program yang akan kami jalankan disana. Salah seorang pengurus RT setempat juga sempat menegur kami meminta rundown acara selama seminggu. Agar tidak terjadi lagi miss-kom. Maka kami pun mempublikasikan rundown acara kami pada tiap sudut penting agar semua masyarakat tahu tentang kegiatan kami.
Satu hal lagi yang tim ini lakukan adalah berkoordinasi secara internal. Beruntung karena kami tinggal dalam tempat yang sama yaitu di dekat menara jadi mudah untuk berkoordinasi. Tiap malam kami mengadakan evaluasi dan refleksi tentang kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu. Setelah itu dibahas juga persiapan untuk program-program esok harinya. Evaluasi, refleksi dan koordinasi persiapan esok harinya lagi, itulah strategi kami selama berkegiatan di Pulau Sebira. Sebagai penutup tentang team kami ini ada sebuah quotes menarik berikut ini:

"Jika teman baik hanya tahu kisah-kisah hebatmu,
sahabat sejati justru menjadi bagian dari kisah hebat itu"
(Randi Apriansyah)

Semoga kita (team ENJ Jakarta) tetap dan terus menjadi bagian dari sahabat sejati itu. Sahabat sejati yang berdaya dan berkolaborasi melahirkan kisah-kisah hebat selanjutnya.

2.      Hangatnya Keramahan dan Kompaknya Warga Pulau Sebira

Muara Kamal telah kami tinggalkan sekitar pukul 22.30 (22/9/2016). Sepanjang perjalanan malam di atas kapal dengan desiran ombaknya yang berdawai. Sepoi-sepoinya angin malam menambah ketenangan perjalanan ekspedisi kali ini. Kami terbagi menjadi dua kapal kayu yang masing-masing kapal menampung ±30 orang ini. Gemerlapnya bintang nampaknya agak malu-malu berbalutkan selimut awan malam. Yang terlihat hanya gelap dan kesunyian malam. Terlihat tanda-tanda cuaca menunjukkan muka mendung. Betul saja di tengah perjalanan, sesekali tetesan H2O turun membasahi kami. Untungnya hanya gerimis kecil dengan rintik-rintiknya yang juga masih bersahabat. Aku dan beberapa teman yang memilih berada di muka kapal, harus langsung beratapkan langit. Alhasil gempuran air ombak sesekali bergelombang dan naik ke atas kapal. Cipratan demi cipratan ombak pun kerap kali membasahi tubuhku dan beberapa teman yang berada di bagian depan kapal. Tapi, it’s Ok.


Pagi hari disambut dengan senyumnya mentari pagi. Alhamdulillah, perjalanan kurang lebih 9 jam di atas lautan akhirnya sampai juga di Pulau Sebira sekitar pukul 06.00 pagi (23/09/2016). Begitu pertama kali menginjakkan kaki kami di pulau yang juga dijuluki Pulau Jaga Utara ini kami langsung bebersih. Ada yang di rumah warga, juga ada yang ke masjid. Beberapa warga terlihat sedang menjajakan ikan asin di pelataran depan rumah, para-para dan beberapa tanah lapang yang menjadi tempat penjemuran ikan. Rumah Bu RW menjadi tempat berkumpul kami semua untuk koordinasi perdana ini. Perkenalan yang hangat, sambutan yang romantis dan sajian menu makanan dan minuman pagi di rumah Bu RW membuat kami sangat terkesan dengan keramahtamahan mereka menyambut kedatangan kami.
Warga Pulau Sebira yang mayoritas bersuku Bugis ini sangat antusias setiap menyambut kedatangan tamu dari luar. Setiap bertemu dengan warga, mereka ramah menyapa. Asalkan kita juga menyapa dan menegur mereka, maka mereka pun akan memberikan senyuman hangatnya. Yang terpenting adalah koordinasi dan sosialisasi yang harus dibangun terlebih dahulu. Kunjungi semua elemen kepala/pimpinan/tokoh yang ada di warga setempat, khususnya yang berkaitan dengan program yang akan kita jalankan. Beberapa kegiatan yang kami programkan dengan mereka pun berlangsung lancar dan penuh antusias yang tinggi dari mereka. Mulai dari outbond, lomba-lomba, pelatihan kreasi memasak, senam bersama, pemeriksaan kesehatan dan aneka macam kegiatan lainnya alhamdulillah mendapat support dari mereka.

3.      Sumberdaya dan Potensi Pulau Sebira


"Bertualang sejauh kapal terkembang. Bertafakur sejauh mata memandang. Bersyukurlah sejauh apa pun kaki ini melangkah....". Alhamdulillah wasyukurillah sampai juga di atas puncak menara ini. Begitulah sepatah kata yang tersirat saat pertama kali dan berhasil menginjakkan kaki di puncak Menara Suar "Jaga Utara". Menara setinggi 48 meter ini merupakan ikon Pulau Sebira. Menara ini dibangun pada tahun 1869 oleh Belanda. Kalau di bagian bawah menara tertulis Z.M Willem III. Lokasinya yang sangat strategis memudahkan untuk memantau pergerakan kapal yang melintasi pulau ini. Sampai saat ini menara tersebut masih kuat berdiri kokoh. Oya saat kita mau naik atas puncak ini kita harus sabar dan hati-hati mendakinya. Tangga yang ada dalam menara ini berbentuk spiral double helix. Mirip seperti struktur DNA. Kalau kita sudah sampai di puncak menara, kita bisa melihat seluruh wilayah Pulau Sebira dan beberapa gugusan pulau lainnya.
      Selain menara suar Jaga Utara yang punya daya tarik dan nilai historis tinggi, ada banyak keunikan dan potensi sumberdaya yang dimiliki oleh Pulau Sebira ini. Salah satu yang dominan menonjol lagi adalah Ikan Selar. Gara-gara selar, warga pulau ini bisa naik haji. Gara-gara selar, bisa tingkatkan ekonomi mereka. Lebih jauh sebelumnya, gara-gara selar warga Suku Bugis bermigrasi dan menetap di pulau ini. Begitulah ikan selar menjadi "strong why" bagi sebagian orang di kepulauan. Spesies endemik dan ikan khas Kepulauan Seribu ini menurut warga, terbanyak ada di wilayah sekitar Pulau Sebira. Bukan hanya ikan selar saja, ikan-ikan lain dan berjuta flora-fauna lainnya terkandung dalam lautan Indonesia. Seharusnya "Jalasveva Jayamahe" menjadi bangkit kembali, bukan jargon semata yang dulu pernah berjaya di kancah dunia.

Saturday, 1 October 2016

Jelajahi Negeri, Tingkatkan Wawasan Bahari

Foto; Tim ENJ Jakarta saat pelepasan di JICT

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu,
maka berjalanlah di segala penjurunya......" (Q.S Al-Mulk: 15)
Bismillah. Subhanalladzi sakhoro lanaa hadza wamaa kunnaa lahuu muqrinin...

Setiap perjalanan menggoreskan sejuta rasa. Perpaduan antara deburan ombak dan semilirnya angin laut malam siap kami jelajahi. Mengarungi samudera menuju pulau terluar ibukota. Pulau yang lokasinya harus melewati hamparan lautan dan ombak yang menerjang. Tak ada macet, tak ada saling berdesak-desakkan. Tapi yang ada hanyalah pemandangan luas seperti permadani raksasa bernama lautan dengan aneka pulau di sekitarnya. Kembali menikmati perjalanan kapal. Dari pelabuhan Muara Kamal menuju ke Pulau Sebira, sama seperti dari Tobelo ke Loloda Kepulauan. Kurang lebih 8 jam perjalanan. Ah, rasa-rasanya jadi teringat lagi dengan aroma lautan Maluku Utara.

Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Itulah tekad. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saat mengkritisi, mengkomentari dan keluhan lainnya mungkin begitu mudah diutarakan. Begitulah kurang lebih pasca pengumuman peserta ENJ yang lolos seleksi diumumkan. Pasalnya banyak perubahan informasi, pengumuman yang telat dan aneka macam komentar yang beragam pun berseliweran di IG ENJ. Oke, kalau problem tersebut biarlah menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi kemenko kemaritiman selaku penyelenggara kegiatan ini. Tapi yang paling utama adalah berbuat, berkarya dan berkontribusi meski hanya seujung kuku pun mungkin belum ada. Menyalalan pelita di tengah gulita. Bukan untuk hari ini semata. Tapi segores ilmu, secarik pengalaman, sebongkah network dan puing-puing cerita perjalanan ekspedisi ini akan menjadi energi untuk menggapai rangkaian mimpi di masa mendatang.

Karena setiap perjalanan itu adalah pembelajaran. Maka setiap jejak langkah harus menjadi proses aktualisasi diri. Bertafakur alam. Mentadaburi setiap penjuru panorama. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Setiap mimpi punya alur ceritanya masing-masing. Tergantung niat, tekad dan ikhtiar yang dilakukan. Mari mem-biru-i jejak di penjuru nusantara. Walau tak mungkin menjelajah semua lanskape bumi pertiwi, tapi setidaknya menjejakkan kaki di sebagian kecil titik-titik pulau itu adalah sebuah impian yg terus diikhtiarkan. Sama seperti halnya dalam perjalanan ekspedisi nusantara jaya yang aku ikuti ini. Rasanya ingin sedikit flashback mengingat proses sebelum akhirnya benar-benar berangkat menuju ke Pulau Sebira. Ingatanku pada proses seleksi ENJ sejak bulan Juli yang lalu. Catatan perjalanan terkait kegiatan ENJ selengkapnya bisa dibaca pada tulisan selanjutnya yah, hehe.

Buat Apa Ikut ENJ....???
            Pertanyaan ini terbesit saat pertama kali membaca informasi tentang pendaftaran Ekspedisi Nusantara Jaya atau ENJ 2016. Informasi yang berseliweran di grup whatsapp kala itu tepat di bulan Ramadhan dan kebetulan sedang liburan sekolah membuatku tak perlu berpikir panjang untuk mendaftar. Browshing informasi dan menelusuri websitenya adalah cara pertama yang aku lakukan. Baca syarat dan ketentuannya, ternyata masih bisa ikut. Oke deh, insya Allah ikut. Waktu itu aku tak langsung mendaftar, tapi aku save dulu informasi tersebut dan catet DL pendaftaran dalam stick note di laptop sembari aku membuat esai terlebih dahulu. Apa itu ENJ? Kegiatannya apa saja, berapa lama, rutenya kemana saja? Info lengkap tentang ekspedisi ini bisa dilihat di http://www.enj2016.info

            Buat apa ikut ENJ? Iya, itulah pertanyaan pertama sebelum melangkah lebih jauh saat kita hendak memutuskan suatu hal. Karena niat itulah kunci pertama saat hendak melangkah. Alasanku ikut ENJ salah satunya bisa dibaca dalam esai yang aku buat sebelum mempublishnya di kolom register atau pendafatran secara online dalam website ENJ tersebut. Oya, sekedar berbagi tips bagi kamu yang ingin ikut ENJ tahun 2017 nanti (jika ada lagi) yang harus diperhatikan adalah pastikan persyaratan yang diminta panitia harus dipenuhi, seperti mengisi biodata, riwayat organisasi, prestasi, penghargaan dan essai buatlah sesingkat mungkin tapi harus jelas. Biar gagasan kita kuat dalam menulis esai, kita harus pahamai dulu latar belakang masalahnya. Intinya dalam form pendaftaran tersebut adalah berisi tentang track record kita, rekam jejak kita selama ini gimana? Kalau punya rekam jejak yang bagus, maka peluang untuk lolos pun terbuka lebar. Track record itu meliputi pengalaman organisasi, jejak prestasi, aktivitas sosial, dan segala bentuk aktivitasmu yang bermanfaat buat masyarakat sekitar.

Oya kalau mau tahu contoh esai, berikut ini adalah esai yang aku buat dalam seleksi ENJ 2016. Selamat membaca....!!!


Budaya Maritim Indonesia
(Esaiku dalam seleksi ENJ 2016)

Tanamkan budaya maritim Indonesia kepada para pemudanya. Kenapa? Karena di tangan para pemudalah kemajuan negeri ini dipegang. Kemajuan teknologi dan pengaruh budaya asing telah meninabobokan peran pemuda sebagai agen of change di negeri yang dijuluki sebagai “negara maritim” ini. Dulu sejak SD hingga SMA, saya mengenal Indonesia sebagai negara maritim hanya lewat pelajaran di sekolah. Waktu itu saya malah beranggapan Indonesia lebih tepat dijuluki sebagai negara agraris (pertanian) karena mungkin waktu itu saya hanya mengenal wilayah Pulau Jawa saja. Baru ketika saya kuliah, saya mulai terbuka tentang maritimnya negara republik ini. Lebih tepatnya lagi saat pasca lulus kuliah, saya bertugas sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa dan ditempatkan di Loloda Kepulauan, sebuah pulau terluar dan terpencil di Maluku Utara selama setahun (2014-2015). Disinilah mata saya terbuka luas dan wawasan kemaritiman saya semakin dalam tentang potensi bahari dan kekayaan maritim wilayah Indonesia Timur. Sayangnya potensi laut yang luar biasa itu tidak dibarengi dengan penguatan pendidikan di pulau-pulau terpencil, terluar dan terdepan (daerah 3T). Disana mutu pendidikan masih rendah, ekonomi masih lemah, belum ada listrik dan akses informasi yang sulit terjangkau karena belum adanya jaringan sinyal.

Padahal kita semua tahu kalau sejak dulu Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Julukan ini memang sangat tepat, mengingat wilayah negara kita 70% adalah laut. Luas wilayah lautan Indonesia kurang lebih 3.257.357 km2. Akhyari Hananto dalam bukunya yang berjudul Good News From Indonesia mengatakan “Apabila kita tinggal 1 hari saja di setiap pulau di Indonesia, maka kita akan menghabiskan setidaknya 46 tahun untuk bisa tinggal di seluruh pulau di negeri ini. Jarak antara Sabang dan Merauke adalah 5.248 km, lebih panjang daripada jarak antara London (Inggris) ke Mekkah (Saudi Arabia) yakni hanya 4.788”. Tak hanya itu saja yang sangat besar secara luas geografis dan banyaknya jumlah pulau yang mencapai 17.000 pulau bahkan lebih. Kita pun tahu dengan pepatah “nenek moyangku seorang pelaut”. Bahkan semboyan “Jalesveva Jayamahe” (yang artinya di lautan kita jaya) menunjukkan kejayaan dan kekuatan maritim Indonesia yang telah ada sejak zaman nenek moyang.  Belajar dari sejarah Indonesia, dua kerajaan raksasa kita (Sriwijaya dan Majapahit) kala itu berhasil menguasai sebagian wilayah Asia Tengara, dan cukup terkenal dengan kekuatan kemaritiman mereka. 

 

        
    Bagaimana dengan kondisi maritim sekarang? Apakah budaya maritim masih melekat di hati generasi muda saat ini? Jika pemerintah tengah berupaya untuk mengembalikan Indonesia sebagai pusat poros maritim dunia, lantas apa yang bisa generasi muda lakukan untuk membangun kembali budaya maritim negara kita? Salah satu cara kecilnya adalah berkunjung ke pulau-pulau pelosok yang ada Indonesia. Karena dengan begitu kita bisa menjadi mengenal dan semakin cinta dengan budaya maritim Indonesia. Kalau sudah kenal dan cinta, maka kita pun harus menjaga, merawat dan melestarikannya. Pemuda-pemuda yang sudah terdidik coba datanglah ke pulau-pulau terluar. Apa yang bisa dilakukan disana? Banyak hal yang yang bisa dilakukan seperti mengedukasi anak-anak dan warga masyarakat, karena rata-rata di daerah tersebut masih rendah mutu pendidikannya, memberikan pelatihan dan keterampilan tentang pengolahan hasil laut dan solusi-solusi lainnya yang bisa kita lakukan saat mengunjungi pulau-pulau tersebut. Wahai pemuda, bergeraklah untuk mengembalikan Jalesveva Jayamahe negeri ini.

Selamat mempersiapkan diri bagi kamu yang pengin ikutan ENJ tahun 2017 mendatang. Persiapkanlah dan pantaskan diri kalian mulai sekarang juga.