Monday, 6 November 2017

Atasi Masalah, Jangan Marah!


Ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya tentang Anak spesial bernama Jabar Alam. Ketika ada anak bermasalah, dan ingin menyelesaikan problem tersebut, "jangan marah!". Itulah kesimpulan yang bisa diambil atas problem solving kasus anak yang cukup menguras energi selama sebulan ini.

Menjadi detektif, psikolog hingga jenderal dan tentunya belajar menjadi orang tua. Tak mudah memang, dunia remaja dan abg memang tak luput dari problematika yang complicated.
Saya jadi teringat dengan pesan Ayah Edy dalam buku terbarunya yang berjudul "Menjawab Problematika Orangtua ABG dan Remaja". Beliau mengatakan: jangan marah! Ya, ingat selalu: jangan MARAH. Mengapa orang tua tidak boleh marah saat anaknya bermasalah? Karena marah hanya akan membuat anak jadi tertutup. Bila ia sudah tertutup, kita takkan tahu sejauh mana tentang masalah tersebut sebenarnya. Teknik kedua menurut Ayah Edy, buat anak terbuka pada kita dengan menceritakan kisah kita sendiri atau biasa disebut dengan teknik PACING (menyamakan).

Hari ini aku baru nyadar, ternyata yang dilakukan Umi Is (ketua yayasan LF) juga seperti itu. Jangan marah! Pendekatan dari hati ke hati. Aku belajar banyak dari Umi Is yang juga merupakan psikolog. Dan aku pun baru nyadar kalo upaya yang telah dilakukan Umi Is, kepsek dan aku juga selama ini adalah dengan teknik PACING juga. Owh, itulah kenapa orang tua (ayah ibu) diminta datang hari ini. Sekali lagi arti kehadiran sangatlah berarti. Hadir memberi energi, memantulkan spirit dan bagian dari sebuah perhatian.

Terkait jangan marah ini, Rasul pun pernah mengingatkan dalam haditsnya. ".... Laa taghdob, faroddada miroo ron, laa taghdob...! Jangan marah, Rasul mengulanginya berkali-kali, "jangan marah!". Redaksi hadits selengkapnya aku agak lupa. Tapi intinya tentang "jangan marah ".
Aku belajar banyak dari kasus ini. Belajar menjadi guru, wali kelas dan orang tua. Belajar menjadi psikolog, jenderal, detektif dan problem solver.

Kita boleh lelah, tapi jangan pernah menyerah dan jangan pernah putus asa ketika ditimpa masalah. Kalau melihat latar belakang anak spesial bernama Alam ini, banyak sekali hikmah yang bisa diambil.

Berlatar belakang suram sewaktu SMPnya, bergaul dengan anak punk dan terjerumus dunia jalanan. Ijazah SMPnya pun paket B.

Tapi sekarang perkembangannya cukup drastis, sudah hafal 2,5 juz. Walau dia masih minder, kurang pede, merasa tidak bisa mengikuti pelajaran dan hafalan. Sikapnya yang cenderung introvert, tapi punya jiwa sosial yang tinggi. Itulah potensinya. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.

Gara-gara HP, dia berbohong. Ketahuan merokok lewat telusuri Facebooknya. Tapi dia tidak mau mengakuinya. Sampai akhirnya dia kabur dari asrama dan meninggalkan sepucuk surat.
"Sorry semuanya, gw pergi dulu untuk beberapa hari, untuk menyelesaikan masalah ini. Entah dikeluarin apa gak! Gue lagi mau sendiri dulu. Jaga diri luh baik-baik. Jangan luh kangen gue. Gue bukan sahabat luh yang bisa nerima apa adanya!!! " begitu ujarnya dalam selembar kertas yang ditinggalkan di kamar asramanya.

Hampir 3 hari gak ada kabar, ditelpn Hpnya aktf tp ga diangkat. Disms ga dibales. Orang tuanya tentu panik. Aku pun terus berkoordinasi dengan orang tuanya. Dia sekarang dimana? Makannya gimana? Tidurnya dimana? Pertanyaan yg dirasakan oleh orang tuanya.
Setelah hampir 5 hari gak ada kabar. Dia pulang ke rumah. Hanya beberapa jam saja, makan, dan mandi lalu pergi lagi, cerita ibunya. Dia kabur lagi. Entah kemana? Ayahnya marah sekali.
...........

Bersambung.......






Bogor, 6 November 2015

0 comments: