Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Thursday, 19 January 2023

Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode STAR

 

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak) Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran

 



Lokasi

SMA Ibnu Hajar Boarding School Depok

Lingkup Pendidikan

Sekolah Menengah Atas (SMA)

Tujuan yang ingin dicapai

Meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL)

Penulis

In Amullah, S.Si (Mahasiswa PPG Dalam Jabatan)

Tanggal

17 Januari 2023

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah kegiatan praktik ini adalah rendahnya motivasi belajar siswa dan kurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Hal tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

1.   Kurangnya kesadaran diri siswa mengenai makna belajar bagi diri mereka

2.   Pembelajaran di kelas masih monoton, dan kurang melibatkan keaktifan siswa,

3.   Pembelajaran belum berpusat pada siswa

4.   Guru kurang bervariasi metode pembelajarannya

 

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, penulis melakukan praktek pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran  Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan yang penulis hadapi di sekolah. Praktek baik (best practice) yang penulis lakukan ini  penting untuk dibagikan sebagai bentuk pembelajaran dan inspirasi bagi guru lain dan sebagai bentuk refleksi bagi diri penulis.

 

Peran dan tanggung jawab penulis dalam praktik ini adalah sebagai pendidik harus senantiasi melakukan perbaikan dalam pembelajaran, mengevaluasi setiap pembelajaran yang dilakukan agar berpusat pada siswa dan harus melakukan inovasi dalam pembelajaran agar bermakna dan berdampak positif bagi perkembangan diri siswa.

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

 

Dalam melakukan praktek pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran  Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL), ada beberapa tantangan yang penulis hadapi antara lain:

1.   Persiapan dalam pengondisian siswa karena pada saat praktek 1 (menggunakan PBL) siswa masih ada ujian PAS (Penilaian Akhir Semester) dan pada saat praktek 2 (menggunakan PjBL) bertepatan dengan liburan semester. Akhirnya praktek kedua ini dilakukan di hari kedua masuk semester genap, jadi butuh koordinasi dan persiapan yang ekstra terlebih dahulu

2.   Tantangan dalam praktek 1 kamera yang digunakan untuk merekam lowbat dan kamera panas, sesi penutupan belum direcord. Akhirnya dilakukan rekaman ulang untuk sesi penutupan

3.   Dalam pelaksanaan praktek ke-2 gas yang digunakan untuk praktek habis dan lupa tidak menyiapkan cadangannya, sehingga dalam praktek pembuatan kelompok lain menjadi terkendala

4.   Editing video menjadi tantangan tersendiri, karena laptop yang digunakan penulis full memorinya. Dan tidak bisa lagi jika menambahkan aplikasi pengedit video. Akhirnya meminjam laptop siswa untuk memotong video dan mengeditnya

 

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam praktik ini antara lain:

1.   Siswa kelas X-5 sebagai peserta didik

2.   Satu orang siswa kelas XI sebagai kameramen

3.   Dosen dan guru pamong yang membimbing dari awal hingga monitoring pelaksanaan

4.   Kepala sekolah yang mendukung penuh

5.   Rekan-rekan guru sejawat sebagai rekan diskusi

6.   Tim office boy yang membantu dalam merapikan dan membereskan ruangan kelas

 

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

 

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut antara lain:

1.   Senantiasa berkoordinasi dengan kepala sekolah terkait persiapan praktik

2.   Menginformasikan jauh-jauh hari kepada kepala sekolah dan siswa tentang persiapan pelaksanaan praktik ini

3.   Mengkondisikan siswa dan melakukan briefing dengan siswa terlebih dahulu

4.   Mengkondisikan kelas dan mengecek kelengkapan media penunjang yang dibutuhkan (infokus, laptop, spidol, dll)

5.   Menyiapkan perangkat pembelajaran PBL dan PjBL beserta lampirannya

6.   Menyiapkan alat dan bahan untuk praktek pembuatan yoghurt (untuk susu sapi, susu kedelai dan susu kambing dipesan H-1 sebelum pelaksanaan praktik)

 

Adapun sintaks atau tahapan model PBL dan PJBL antara lain:

-      Model pembelajaran PBL

1. orientasi peserta didik pada masalah

2. menggorganisasikan peserta didik

3. membimbing kegiatan penyelidikan individu atau kelompok

4. mengembangkan dan menyajikan hasil.

5. menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah

 

-      Model pembelajaran PJBL:

1. menentukan pertanyaan mendasar

2. mendesain perencanaan proyek.

3.  menyusun jadwal

4. memantau peserta didik  dan kemajuan proyek

5. menguji hasil, dan

6. evaluasi pengalaman belajar

 

Strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran:

Pendekatan : Saintifik

Model : Problem Based Learning & Project-Based Learning dengan Kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK)

Metode : Ceramah, Diskusi, Observasi, Presentasi kelompok dan Proyek

 

Bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat?

Proses pelaksanaan kegiatan praktik ini berlangsung di ruang kelas X-5. Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran ini. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam praktik ini antara lain: siswa kelas X-5 sebagai peserta didik, satu orang siswa kelas XI sebagai cameramen, kepala sekolah dan guru pamong yang membimbing dari awal hingga monitoring pelaksanaan, rekan-rekan guru sejawat sebagai rekan diskusi dan tim office boy yang membantu dalam merapikan dan membereskan ruangan kelas

 

 

Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

1.   Peralatan yang digunakan: laptop, proyektor, layar, papan tulis, spidol, camera digital, handphone, pulpen, akun zoom dan seperangkat peralatan praktek untuk pembuatan yoghurt seperti kompor, panci, thermometer, pH meter, botol kaca, gelas ukur, corong, nampan

2.   Bahan yang digunakan: slide bahan ajar, video materi pembelajaran, LKPD, dan bahan-bahan untuk praktek pembuatan yoghurt seperti susu sapi, susu kambing dan susu kedelai

 

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

 

Dampak dari Aksi Praktik Baik:

Berdasarkan  proses pelaksanaan praktik pembelajaran model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) ini ada beberapa dampak yang dihasilkan yaitu:

1.   Siswa lebih antusias, bersemangat dan aktif dalam mengikuti pembelajaran tersebut

2.   Siswa aktif bekerja sama dalam kelompoknya dan saling berbagi peran dalam mengerjakan tugasnya

3.   Siswa lebih percaya diri ketika menyampaikan hasil kerja kelompoknya saat presentasi kelompok maupun saat bertanya ke kelompok lainnya

Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) hasilnya efektif untuk meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran

 

Respon dari orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan:

1.   Respon dari siswa :

Siswa lebih bersemangat, antusias dan berpartisipasi aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dengan strategi tersebut

2.   Respon dari guru (rekan sejawat) :

Menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemauan untuk mempelajari model pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran

3.   Respon dari kepala sekolah :

Mendukung secara penuh semua proses pembelajaran dan inovasi yang dilakukan dalam praktik pembelajaran ini, serta berpesan kepada penulis untuk dibagikan hasil pengalaman ini kepada rekan-rekan guru lainnya yang ada di sekolah

 

Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan?

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) yang menjadi faktor keberhasilannya adalah sebagai berikut:

1.   Permasalahan/projek materi yang diajarkan relevan dengan kehidupan sehari-hari yang dialami siswa

2.   Pemilihan model PBL atau PjBL harus tepat sesuai dengan materi yang diajarkan

3.   Dalam pelaksanaannya sesuai dengan sintak-sintak model pembelajaran PBL atau PjBL tersebut

4.   Bahan ajar yang kreatif dan LKPD yang dibuat mudah dipahami oleh siswa

 

Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

Pembelajaran yang dapat diambil dari keseluruhan proses pelaksanaan praktik pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) adalah sebagai berikut:

1.   Permasalahan yang dihadapi guru di kelas membuat guru harus berinovasi dalam pembelajaran dan harus melibatkan keaktifan siswa dalam pembelajarannya

2.   Praktik pembelajaran yang penulis lakukan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada topik materi peranan virus dalam kehidupan dan Project Based Learning (PjBL) pada topik materi biteknologi konvensional mampu meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran

 

 

 

Saturday, 5 November 2022

Identifikasi Masalah, Solusi Merekah


 ”Setiap masalah pasti ada solusinya. Masalah jika didiamkan akan buntu, tak menemui titik temu pemecahannya. Sebaliknya masalah jika diuraikan, diobrolkan dan diceritakan pada orang atau forum yang tepat, akan melahirkan berbagai macam solusi pemecahannya

            Setiap orang pasti memiliki masalah. Begitu juga dengan guru saat menjalani tugas di sekolah banyak menemukan lika-liku dan dinamika perjalanan yang tak sedikit berhadapan dengan problematika yang dihadapi. Permasalahan yang dihadapi guru itu sangat beragam, mulai dari permasalahan pribadi yang dihadapi oleh dirinya, masalah murid, orangtua, rekan-rekan guru sejawat hingga masalah dengan lingkungan yang ada di sekitarnya.

            Warna warni permasalahan yang dihadapi oleh guru tersebut perlu diidentifikasi dan dianalisis lebih lanjut agar bisa dipecahkan solusinya. Seperti yang dibahas dalam sesi perkuliahan PPG Daljab Kelas Biologi LPK Universitas Bengkulu yang sedang saya jalani ini. Sesi perkuliahan perdana yang saya ikuti bersama rekan-rekan guru biologi kelompok PPG ini terdiri dari 3 tahapan yaitu: identifikasi masalah, analisis masalah dan presentasikan sekaligus penguatan. Sesi presentasi inilah muncul solusi yang beragam terhadap masalah-masalah tersebut.

            Setiap guru diberi tugas untuk mengidentifikasi enam macam jenis permasalahan yang dihadapi di sekolah yaitu:

1.     pedagogik, literasi, dan numerasi.

2.     kesulitan belajar siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus dan masalah pembelajaran (berdiferensiasi) di kelas berdasarkan pengalaman

3.     membangun relasi/hubungan dengan siswa dan orang tua siswa

4.     pemahaman/ pemanfaatan model-model pembelajaran inovatif berdasarkan karakteristik materi dan siswa.

5.     Materi terkait Literasi numerasi, Advanced material, miskonsepsi, HOTS.

6.     pemanfaatan teknologi/inovasi dalam pembelajaran

Pada hari ketiga perkuliahan PPG, keenam masalah yang sebelumnya sudah diidentifikasi dan dianalisis, kemudian dipresentasikan dan dibahas bersama. Disinilah muncul beragam solusi pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh semua guru yang mengikuti forum ini. Setiap guru saling berbagi pengalaman dan berbagi cerita menarik terkait keenam macam permasalahan tersebut. Berbagi masalah, berbagi solusi. Berbagi tantangan, berbagi inspirasi. Berbagi pengalaman, berbagi ide untuk solusi di masa mendatang. Dari sinilah saya berkesimpulan bahwa dengan “identifikasi masalah, solusi merekah”, seperti judul tulisan ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata merekah adalah fajar mulai terbit. Arti lainnya dari merekah adalah pecah memanjang dan terbuka (tentang kulit buah-buahan dan sebagainya.

Sunday, 11 September 2022

Refleksi Guru: Berbenah Diri, Lanjutkan Aksi

Foto : Dokumentasi Sesi Elaborasi Pemahaman CGP 6 Kota Depok

“Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan “ (Ki Hadjar Dewantara)

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) tentang pendidikan dan pengajaran adalah sebuah pemikiran yang mampu melintasi zaman. Mengapa demikian? Karena pemikiran yang beliau cetuskan dahulu kala, hingga kini masih sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan saat ini. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) tersebut diantaranya adalah tentang konsep pendidikan yang menggunakan 3 sistem yaitu taman siswa, among dan pamong. Pemikiran beliau yang hingga kini masih dipegang teguh tentang filosofi pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat, kemauan), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Trilogi semboyan pendidikan tersebut hingga kini terus digaungkan dalam pengajaran dan pendidikan di Indonesia. Prinsip ini yang harus dipegang teguh oleh seorang guru dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang pendidik. Guru adalah teladan bagi peserta didiknya, maka sebagai guru harus senantiasa bertutur kata yang jujur, bertindak dengan perilaku yang santun dan memiliki attitude yang baik dalam setiap aktivitasnya baik selama berada di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini sangat dibutuhkan sekali. Mengingat kondisi pendidikan Indonesia yang masih perlu perbaikan di setiap lininya. Dari sekian hitam buramnya permasalahan pendidikan Indonesia yang pertama harus dibenahi adalah gurunya. Karena guru adalah aktor utama dalam dunia pendidikan. Setiap guru harus memiliki pemahaman yang kuat tentang pemikiran KHD agar tupoksinya sebagai guru bisa selaras dengan tujuan pendidikan tersebut. Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan di sekolah secara khusus sebagian sudah diterapkan dalam proses pembelajaran yang ada di sekolah. Maka dari itu setiap guru harus senantiasa melakukan refleksi diri atas pembelajaran yang dilakukan selama di sekolah. Refleksi diri tentang penerapan pembelajarannya di kelas, tentang tupoksinya sebagai pendidik dan amanahnya sebagai pengajar di sekolah tersebut.

Berikut ini adalah kesimpulan dan refleksi pembelajaran modul 1.1 yang saya pelajari baik secara mandiri lewat LMS maupun dalam pembelajaran virtual melalui Ruang Kolaborasi, Refleksi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual, dan Elaborasi Pemahaman. 

1.     Tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum  mempelajari modul 1.1

Sebelum saya mempelajari modul 1.1 ini saya beranggapan murid itu seperti kertas kosong yaitu mereka belum memiliki pengetahuan atau informasi tentang materi yang saya ajarkan saat itu. Seperti yang diungkapkan Ki Hadjar Dewantara dalam modul tersebut tentang teori rasa (lapisan lilin yang masih dapat dicoret-coret oleh si pendidik) yaitu anak yang lahir di dunia itu diumpamakan seperti sehelai kertas yang belum ditulis, sehingga kaum pendidik boleh mengisi kertas yang kosong itu menurut kehendaknya. Artinya, si pendidik berkuasa sepenuhnya untuk membentuk watak atau budi seperti yang diinginkan. Sebelumnya saya beranggapan demikian, murid adalah anak yang polos dan masih belum memahami informasi apapun sehingga guru sebagai sumber ilmu yang lebih dahulu mendapatkan informasi tersebut.

Dalam pembelajaran di kelas pun sebenarnya saya sudah mengetahui bahwa pembelajaran yang terbaik harus menitikberatkan anak supaya lebih aktif atau yang dikenal dengan student center learning atau siswa sebagai pusat pembelajaran, sedangkan guru sebagai fasilitatornya. Namun dalam prakteknya terkadang saya masih kurang mengesplore kemampuan siswa atau kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran yang lebih aktif. Saya menyadari masih banyak metode pembelajaran aktif (cooperative learning maupun yang lainnya) yang belum saya praktekkan dalam kelas yang saya kelola. Begitu juga dengan konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebelumnya saya hanya sedikit yang mengetahuinya dan banyak yang belum saya pahami secara mendalam dan mendetail.

2.     Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini? 

Setelah saya mempelajari modul 1.1 ini banyak ilmu baru yang saya dapatkan, khususnya tentang pemikiran (filosofi Pendidikan) Ki Hadjar Dewantara. Sebelumnya saya hanya mengetahui secara singkat tentang semboyan pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun kerso dan tut wuri handayani. Ternyata dibalik semboyan tersebut masih banyak pemikiran-pemikiran beliau yang sangat mendalam maknanya dan hingga saat ini masih diterapkan dalam pelaksanaan Pendidikan di Indonesia.

Selama mempelajari modul ini baik secara mandiri, hasil elaborasi dan sharing dari guru-guru lain dalam Pendidikan CGP Angkatan 6 ini perubahan yang saya rasakan antara lain:

  • Wawasan saya terbuka dan pola pikir saya tentang siswa juga berubah. Seperti yang sebelumnya saya beranggapan siswa itu seperti kertas kosong dalam hal pengetahuan, ilmu dan informasi. Ternyata dalam mendidik siswa tersebut harus menyesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zamannya juga. Seperti yang diungkapkan dalam modul ini sebagai berikut: “kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untnuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”. Iya betul sekali. Karena setiap anak itu punya keunikan, punya bakat, minat dan potensi yang berbeda-beda. Maka kita sebagai guru harus mengakomodir dan mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri anak tersebut
  • Pengetahuan  dan pemahaman saya tentang “merdeka belajar” dan “pembelajaran berpihak pada siswa” jadi semakin paham dan mengerti cara mempraktekkannya dalam kelas. Seperti yang diungkapkan dalam modul tersebut, bahwa dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak juga secara sadar memahami bahwa kemerdekaan dirinya juga mempengaruhi kemerdekaan anak lain. Oleh sebab itu, tuntutan seorang guru mampu mengelola dirinya untuk hidup bersama dengan orang lain (menjadi manusia dan anggota masyarakat).

 

3.     Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

Setelah saya mempelajari dan memahami modul 1.1 ini yang akan saya terapkan di kelas agar mencerminkan pemikiran KHD yaitu sebagai berikut:

  • a.     Menerapkan pembelajaran yang berpihak atau berpusat pada siswa yaitu dengan menggunakan metode yang sesuai diantaranya dengan metode pembelajaran diferensial dan saya akan mencari metode lainnya agar pembelajaran yang saya lakukan lebih bermakna dan benar-benar berpihak pada siswa
  • b.     Saya akan mengajak rekan guru lain untuk melihat praktek pengajaran saya dan berkolaborasi dengan rekan guru tersebut (pertama dengan rekan guru serumpun dengan saya yaitu guru biologi)
  • c.     Saya akan melakukan refleksi pembelajaran yang telah saya lakukan dan menuliskannya dalam buku refleksi dan menjadi pengingat bagi saya untuk perbaikan selanjutnya
  • d.     Secara perlahan saya akan sosialisasikan kepada rekan-rekan guru yang ada di sekolah saya tentang pembelajaran yang berpihak pada siswa dalam bentuk workshop dan sharing guru pembelajar.

Harapan saya sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini semoga  saya bisa terus belajar dan kembali merutinkan untuk membaca buku-buku tentang pendidikan (minimalnya 1 bulan 1 buku) seperti yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Namun beberapa bulan ini sering terlewatkan dan kurang menyempatkan untuk membaca buku. Saya berharap setelah mempelajari modul ini bisa berubah sedikit demi sedikit terkait kekurangan yang saya miliki. Harapan kedua yang ingin saya lihat pada siswa-siswa yang saya didik setelah saya mempelajari modul ini adalah siswa-siswa saya bisa memahami apa yang saya ajarkan dan mereka menjadi siswa yang berakhlak mulia

 #Bergerak #Tergerak #Menggerakkan


Saturday, 19 March 2022

Duka Terbentang Jarak

 Belum lama duka selimuti hati ini dengan kabar keluarga yang meninggal dunia. Sedih kuadrat, itu yang dirasakan oleh organ detoksifikasi ini. Rasanya baru kemarin ayah mertua meninggal dunia (almarhum Bapak Sochibun), sebelumnya ayah angkatku juga meninggal (almarhum Bapak Slamet) dan beberapa keluarga yang lainnya. Kepergian mereka tak bisa ikut melayat maupun bertakziah lantaran terbentang jarak yang jauh dan dihadapkan dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk pulang.

Kini duka itu kembali menghampiri. Jumat, 18 Maret 2022 badha isya berita duka kembali datang. “Innalillahi wainna ilaihi rojiun, Mbong Hur istri alm. Bapatua Patoni kranggan nilar dunia”, begitu bunyi pesan singkat di grup whastaap keluarga. Seketika itu langsung nelpon keluarga di rumah. Banyak keluarga dan tetangga sudah datang di rumah duka. Rasa sedih yang bercampur duka mendalam kembali muncul, karena hanya bisa menyaksikan lewat video call. Malam itu juga jenazah langsung dimakamkan di TPU Dk. Kranggan, Desa Cerih, Kec. Jatinegara, Kab. Tegal.

Selamat jalan Mboke (nenek) Khuriyah. Sosok pekerja keras, ulet dan gigih. Persis seperti almarhum kakek. Semoga almarhumah husnul khotimah dan ditempatkan di syurga-Nya. Aaminn yaa rabbal’alamin. Teriring doa:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَها وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيِرًا مِنْ دَارِهَا، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Artinya: Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka.

 

Wednesday, 9 June 2021

Review Buku "Gigih"

 



Judul buku : Gigih

Penulis : Diday Tea

Penerbit : Republika Penerbit

Jumlah halaman : 182 hlmn

 

Isi review :

“Kenapa belum sukses?” Ada kalanya pertanyaan itu berkelebat di benak orang-orang yang masih juga berkutat dalam sebuah proses panjang menuju sukses. Tidak jarang, kita mendengar kisah sukses orang lain yang perjalanannya terkesan lebih mulus dibandingkan kita. Lantas, kenapa kita sendiri sulit mencapai sukses? Apa saja yang belum kita lakukan dengan benar? Apakah impian kita terlalu muluk? Sering kali, ada hal-hal yang kita maknai dengan keliru atau lupa kita terapkan sehingga menghambat kesuksesan. Kita lupa bahwa dunia memiliki aturan mainnya sendiri sehingga kita harus mempersenjatai diri jika ingin berhasil. Buku ini dipersembahkan untukmu yang sedang berjuang, untuk mengingatkanmu pada hal-hal yang mungkin lupa kamu terapkan.

 

Alhamdulillah membaca buku ini tak butuh waktu lama. Selesai dibaca saat saya service motor. Menjadi cemilan renyah di ruang tunggu tersebut. Bahasa yang disampaikan sederhana, dan mudah dipahami. Dari satu bab ke bab selanjutnya juga tidak terlalu Panjang. Sehingga memudahkan kita untuk menangkap pesan dan hikmah yang terkuak dari paparan penulis buku tersebut. Secara umum, buku ini terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian satu tentang perspektif dan bagian kedua tentang suksesmu milikmu. Bagian satu terbagi lagi menjadi 13 bab dan bagian kedua terbagi lagi menjadi 11 bab. Setiap memulai bab baru terdapat kutipan/ quotes yang sesuai dengan bab yang disampaikan. Kemudian pada akhir tiap bab juga terdapat lembar kutipan penting pada lembaran tersendiri.

 

Kegigihan adalah energi positif yang membangkitkan diri kita untuk menyelesaikan suatu aktivitas atau target yang ingin kita raih. Penulis buku ini memberikan perspektif baru tentang makna kegigihan dan dikaitkan dengan pengalaman hidup yang dialaminya. Mereka yang memiliki sifat gigih akan mampu terus melaju meski diterpa badai. Saat kita mampu mengenyahkan godaan untuk menyerah setelah terjatuh, itulah kegigihan. Tanpa kegigihan, kemampuan kita untuk tumbuh  dan berkembang sebagai pribadi akan sangat terbatas, begitu pula tingkat kesuksesan dan kebahagiaan yang dapat kita raih. Itulah beberapa makna kegigihan yang dibahas di bagian awal buku ini.

 

Definisi sukses setiap orang berbeda, seperti ketika kita masing-masing ditanyai tentang warna favorit. Apapun definisi suksesmu, gigihlah berjuang mencapainya!. Untuk meraih sebuah kesuksesan setiap orang harus pandai mengatur waktunya. Cara kita memandang dan memberlakukan waktu sangat menentukan keberhasilan kita dalam mengarungi kehidupan. Faktor kesuksesan yang lainnya adalah adanya teman yang menumbuhkan. Teman yang baik akan membuatmu tumbuh, tidak menghambatmu. Dalam perjalanannya, meriah kesuksesan dalam hal apapun pasti akan dihadapkan dengan berbagai masalah, hambatan dan tantangan. Menurut penulis buku ini “masalah datang, agar kamu matang”. Ketika masalah datang menerjang, sering kali yang membesarkannya adalah cara kita memandangnya. Sikap yang harus kita miliki saat tertimpa masalah ada tiga yaitu ikhlas, proaktif dan menenangkan diri.

 

Kegigihan adalah bentuk syukur. Rasa syukur memiliki banyak bentuk, salah satunya adalah gigih berupaya. Gigih mencapai impian berarti kita bersyukur atas waktu, kemampuan kesempatan, termasuk inspirasi yang telah dianugerahkan kepada kita. Sebuah kesuksesan dijembatani oleh kebiasaan positif. Kebiasaan itu dibentuk oleh konsistensi. Konsistensi adalah komitmen yang kita buat untuk diri kita sendiri dan orang lain. Jika kita konsisten, itu artinya kita selalu menunjukkan perilaku yang sama terhadap sesuatu. Kita memiliki kualitas atau sikap yang sama terhadap orang lain atau tujuan. Ada beberapa hal yang menjadi penghalang kesuksesan yaitu merasa benar sendiri, takut gagal, terbiasa menunda, meragukan diri sendiri, tidak punya visi, tidak konsisten dan terbuai oleh zona nyaman.

 

#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare

Review Buku "The 5.0 Leader"

Judul : The 5.0 Leader 

Penulis: Ryan Martian 

Penerbit: PT Litera Media Tama

Jumlah halaman: 192 hlmn


Buku ini membuka wawasan baru tentang kepemimpinan dan manajerial generasi milenial. Generasi yang memiliki karakteristik unik, kreatif dan kekinian. Generasi ini sudah mendominasi angkatan kerja di dunia, termasuk di Indonesia. Sebagian para  pemimpin menganggap generasi milenial dan generasi setelahnya sebagai virus yang membahayakan organisasi. Perbedaan pola pikir dan karakteristik dari tiap generasi tersebut menjadi salah satu pemicunya. Mulai dari silent generation (terlahir tahun 1925-1942), baby boomers (terlahir 1943-1960), generasi X (terlahir 1961-1980), generasi milenial (terlahir 1980-1995) hingga generasi Z (terlahir 1995-2012). Era industri 4.0 telah berpengaruh terhadap pola perilaku, karakteristik dan cara kerja dari para lintas generasi tersebut. Dalam buku ini secara spesifik membahas tentang mengelola generasi milenial hingga generasi Z, mulai dari memahami karakteristik tim milenial, berkomunikasi dengan tim milenial, hingga menggerakkan tim milenial dalam dunia kerja. 

Seorang pemimpin harus memahami karakteristik milenial. Jika generasi sebelumnya bekerja untuk uang, berbeda dengan milenial. Mereka mencari aktualisasi diri. Kita tidak bisa melawannya, tetapi justru harus mengelolanya sebaik mungkin dengan memahami perilaku mereka di tempat kerja. Seorang pemimpin harus terus mengembangkan keahlian dan tidak bisa terus mengandalkan metode konvensional. Sebelum memimpin generasi milenial, kita harus mengubah pola pikir (mindset) kita terlebih dahulu. Mindset yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pada era digital antara lain: bukan mengejar laba tapi mewujudkan visi, bukan memberikan perintah tapi melayani dan menginspirasi tim, bukan hubungan vertikal tapi hubungan horizontal, bukan menyusun kekuasaan hierarki tapi membina jaringan, bukan menilai senioritas tetapi mengapresiasi kapabilitas, dan bukan mengerjakan apa, tetapi fokus pada siapa terlebih dahulu.


The 5.0 Leader adalah sebuah buku yang mengupas dengan gamblang dan detail cara memimpin generasi digital, era baru yang pasti membutuhkan referensi kepemimpinan yang juga baru. The 5.0 leader menggabungkan konsep  ketrampilan manajerial baku dan dan keterampilan kepemimpinan generasi terkini. Sederhananya leader focus on people, manager focus on business. Leadership dan manajerial tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya. Keduanya berkontribusi bagi pertumbuhan organisasi. Secara sederhana tugas manager  adalah planning, organizing, actuating, controlling dan evaluating. Sementara tugas leader adalah inspiring, motivating, serving, empowering dan coaching. Adapun untuk menjadi The 5.0 Leader ada lima elemen dasar yang harus dilakukan oleh pemimpin tersebut yaitu: 

1. Menginspirasi melalui visi yang jauh ke depan (inspiring)

2. Memotivasi dan membesarkan hati orang yang dipimpinnya (motivating)

3. Menginisiasi dan melayani tim dalam perubahan dan perbaikan (serving)

4. Memberdayakan orang yang dipimpinnya (empowering)

5. Mendampingi pencapaian tim (coaching)



#OneMonthOneBook

#ReadReviewShare