Saturday, 1 October 2016

Jelajahi Negeri, Tingkatkan Wawasan Bahari

Foto; Tim ENJ Jakarta saat pelepasan di JICT

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu,
maka berjalanlah di segala penjurunya......" (Q.S Al-Mulk: 15)
Bismillah. Subhanalladzi sakhoro lanaa hadza wamaa kunnaa lahuu muqrinin...

Setiap perjalanan menggoreskan sejuta rasa. Perpaduan antara deburan ombak dan semilirnya angin laut malam siap kami jelajahi. Mengarungi samudera menuju pulau terluar ibukota. Pulau yang lokasinya harus melewati hamparan lautan dan ombak yang menerjang. Tak ada macet, tak ada saling berdesak-desakkan. Tapi yang ada hanyalah pemandangan luas seperti permadani raksasa bernama lautan dengan aneka pulau di sekitarnya. Kembali menikmati perjalanan kapal. Dari pelabuhan Muara Kamal menuju ke Pulau Sebira, sama seperti dari Tobelo ke Loloda Kepulauan. Kurang lebih 8 jam perjalanan. Ah, rasa-rasanya jadi teringat lagi dengan aroma lautan Maluku Utara.

Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Itulah tekad. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saat mengkritisi, mengkomentari dan keluhan lainnya mungkin begitu mudah diutarakan. Begitulah kurang lebih pasca pengumuman peserta ENJ yang lolos seleksi diumumkan. Pasalnya banyak perubahan informasi, pengumuman yang telat dan aneka macam komentar yang beragam pun berseliweran di IG ENJ. Oke, kalau problem tersebut biarlah menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi kemenko kemaritiman selaku penyelenggara kegiatan ini. Tapi yang paling utama adalah berbuat, berkarya dan berkontribusi meski hanya seujung kuku pun mungkin belum ada. Menyalalan pelita di tengah gulita. Bukan untuk hari ini semata. Tapi segores ilmu, secarik pengalaman, sebongkah network dan puing-puing cerita perjalanan ekspedisi ini akan menjadi energi untuk menggapai rangkaian mimpi di masa mendatang.

Karena setiap perjalanan itu adalah pembelajaran. Maka setiap jejak langkah harus menjadi proses aktualisasi diri. Bertafakur alam. Mentadaburi setiap penjuru panorama. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Setiap mimpi punya alur ceritanya masing-masing. Tergantung niat, tekad dan ikhtiar yang dilakukan. Mari mem-biru-i jejak di penjuru nusantara. Walau tak mungkin menjelajah semua lanskape bumi pertiwi, tapi setidaknya menjejakkan kaki di sebagian kecil titik-titik pulau itu adalah sebuah impian yg terus diikhtiarkan. Sama seperti halnya dalam perjalanan ekspedisi nusantara jaya yang aku ikuti ini. Rasanya ingin sedikit flashback mengingat proses sebelum akhirnya benar-benar berangkat menuju ke Pulau Sebira. Ingatanku pada proses seleksi ENJ sejak bulan Juli yang lalu. Catatan perjalanan terkait kegiatan ENJ selengkapnya bisa dibaca pada tulisan selanjutnya yah, hehe.

Buat Apa Ikut ENJ....???
            Pertanyaan ini terbesit saat pertama kali membaca informasi tentang pendaftaran Ekspedisi Nusantara Jaya atau ENJ 2016. Informasi yang berseliweran di grup whatsapp kala itu tepat di bulan Ramadhan dan kebetulan sedang liburan sekolah membuatku tak perlu berpikir panjang untuk mendaftar. Browshing informasi dan menelusuri websitenya adalah cara pertama yang aku lakukan. Baca syarat dan ketentuannya, ternyata masih bisa ikut. Oke deh, insya Allah ikut. Waktu itu aku tak langsung mendaftar, tapi aku save dulu informasi tersebut dan catet DL pendaftaran dalam stick note di laptop sembari aku membuat esai terlebih dahulu. Apa itu ENJ? Kegiatannya apa saja, berapa lama, rutenya kemana saja? Info lengkap tentang ekspedisi ini bisa dilihat di http://www.enj2016.info

            Buat apa ikut ENJ? Iya, itulah pertanyaan pertama sebelum melangkah lebih jauh saat kita hendak memutuskan suatu hal. Karena niat itulah kunci pertama saat hendak melangkah. Alasanku ikut ENJ salah satunya bisa dibaca dalam esai yang aku buat sebelum mempublishnya di kolom register atau pendafatran secara online dalam website ENJ tersebut. Oya, sekedar berbagi tips bagi kamu yang ingin ikut ENJ tahun 2017 nanti (jika ada lagi) yang harus diperhatikan adalah pastikan persyaratan yang diminta panitia harus dipenuhi, seperti mengisi biodata, riwayat organisasi, prestasi, penghargaan dan essai buatlah sesingkat mungkin tapi harus jelas. Biar gagasan kita kuat dalam menulis esai, kita harus pahamai dulu latar belakang masalahnya. Intinya dalam form pendaftaran tersebut adalah berisi tentang track record kita, rekam jejak kita selama ini gimana? Kalau punya rekam jejak yang bagus, maka peluang untuk lolos pun terbuka lebar. Track record itu meliputi pengalaman organisasi, jejak prestasi, aktivitas sosial, dan segala bentuk aktivitasmu yang bermanfaat buat masyarakat sekitar.

Oya kalau mau tahu contoh esai, berikut ini adalah esai yang aku buat dalam seleksi ENJ 2016. Selamat membaca....!!!


Budaya Maritim Indonesia
(Esaiku dalam seleksi ENJ 2016)

Tanamkan budaya maritim Indonesia kepada para pemudanya. Kenapa? Karena di tangan para pemudalah kemajuan negeri ini dipegang. Kemajuan teknologi dan pengaruh budaya asing telah meninabobokan peran pemuda sebagai agen of change di negeri yang dijuluki sebagai “negara maritim” ini. Dulu sejak SD hingga SMA, saya mengenal Indonesia sebagai negara maritim hanya lewat pelajaran di sekolah. Waktu itu saya malah beranggapan Indonesia lebih tepat dijuluki sebagai negara agraris (pertanian) karena mungkin waktu itu saya hanya mengenal wilayah Pulau Jawa saja. Baru ketika saya kuliah, saya mulai terbuka tentang maritimnya negara republik ini. Lebih tepatnya lagi saat pasca lulus kuliah, saya bertugas sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa dan ditempatkan di Loloda Kepulauan, sebuah pulau terluar dan terpencil di Maluku Utara selama setahun (2014-2015). Disinilah mata saya terbuka luas dan wawasan kemaritiman saya semakin dalam tentang potensi bahari dan kekayaan maritim wilayah Indonesia Timur. Sayangnya potensi laut yang luar biasa itu tidak dibarengi dengan penguatan pendidikan di pulau-pulau terpencil, terluar dan terdepan (daerah 3T). Disana mutu pendidikan masih rendah, ekonomi masih lemah, belum ada listrik dan akses informasi yang sulit terjangkau karena belum adanya jaringan sinyal.

Padahal kita semua tahu kalau sejak dulu Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Julukan ini memang sangat tepat, mengingat wilayah negara kita 70% adalah laut. Luas wilayah lautan Indonesia kurang lebih 3.257.357 km2. Akhyari Hananto dalam bukunya yang berjudul Good News From Indonesia mengatakan “Apabila kita tinggal 1 hari saja di setiap pulau di Indonesia, maka kita akan menghabiskan setidaknya 46 tahun untuk bisa tinggal di seluruh pulau di negeri ini. Jarak antara Sabang dan Merauke adalah 5.248 km, lebih panjang daripada jarak antara London (Inggris) ke Mekkah (Saudi Arabia) yakni hanya 4.788”. Tak hanya itu saja yang sangat besar secara luas geografis dan banyaknya jumlah pulau yang mencapai 17.000 pulau bahkan lebih. Kita pun tahu dengan pepatah “nenek moyangku seorang pelaut”. Bahkan semboyan “Jalesveva Jayamahe” (yang artinya di lautan kita jaya) menunjukkan kejayaan dan kekuatan maritim Indonesia yang telah ada sejak zaman nenek moyang.  Belajar dari sejarah Indonesia, dua kerajaan raksasa kita (Sriwijaya dan Majapahit) kala itu berhasil menguasai sebagian wilayah Asia Tengara, dan cukup terkenal dengan kekuatan kemaritiman mereka. 

 

        
    Bagaimana dengan kondisi maritim sekarang? Apakah budaya maritim masih melekat di hati generasi muda saat ini? Jika pemerintah tengah berupaya untuk mengembalikan Indonesia sebagai pusat poros maritim dunia, lantas apa yang bisa generasi muda lakukan untuk membangun kembali budaya maritim negara kita? Salah satu cara kecilnya adalah berkunjung ke pulau-pulau pelosok yang ada Indonesia. Karena dengan begitu kita bisa menjadi mengenal dan semakin cinta dengan budaya maritim Indonesia. Kalau sudah kenal dan cinta, maka kita pun harus menjaga, merawat dan melestarikannya. Pemuda-pemuda yang sudah terdidik coba datanglah ke pulau-pulau terluar. Apa yang bisa dilakukan disana? Banyak hal yang yang bisa dilakukan seperti mengedukasi anak-anak dan warga masyarakat, karena rata-rata di daerah tersebut masih rendah mutu pendidikannya, memberikan pelatihan dan keterampilan tentang pengolahan hasil laut dan solusi-solusi lainnya yang bisa kita lakukan saat mengunjungi pulau-pulau tersebut. Wahai pemuda, bergeraklah untuk mengembalikan Jalesveva Jayamahe negeri ini.

Selamat mempersiapkan diri bagi kamu yang pengin ikutan ENJ tahun 2017 mendatang. Persiapkanlah dan pantaskan diri kalian mulai sekarang juga.
           




0 comments: