Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bΓͺte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Sunday, 31 December 2017

Sepotong Episode Travelearning


Jika hidup adalah pembelajaran, maka prosesnya itu ibarat sebuah lesson study. Harus melewati 3 tahapan, yaitu Plan (perencanaan), Do (pelaksanaan) dan See (refleksi). Sama seperti sebuah mimpi. Tak cukup hanya ditulis. Tapi butuh diperjuangkan. Nikmatnya itu terasa sangat manis manakala kita sudah melewati kerasnya dalam berjuang.

Itulah siklus kehidupan yang kini menjadi kenangan berharga. Pengalaman memang pancen is the best teacher. Sesuatu yang tak terlupakan. Setiap prosesnya menuangkan kisah yang paling berkesan. Inilah sepotong episode sejak bergabung menjadi keluarga Sekolah Guru Indonesia (SGI).

Sepanjang tahun 2015 ini adalah petualangan yang berharga dan amat terkesan. Perjalanan yang penuh pembelajaran. Travelearning. Mulai dari SGI hingga FIM. Sekali lagi ini dulunya adalah sebuah mimpi yang pernah tergores saat masih duduk di bangku kuliah. Iya, bukan kebetulan semata memang. Panjang ceritanya.

"Kenapa kalian mau ke Loloda Kepulauan, orang sini aja enggan untuk kesana" begitu ujar Ibu Cornelius. Disana kan dikenal daerah buangan, tambah ibu sekretaris dinas ini kala itu. Belum lagi daerahnya yang terisolir, ombaknya ganas, tidak ada sinyal, sulit akses dan petuah negatif dari sebagian orang kala pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Hibualamo (Halmahera Utara).

Yeah....! Karena karena tekad dan semangat kami waktu itu sudah dilapisi dengan kesungguhan yang membaja, maka setiap halangan dan rintangan yang menghadang pun hilang seketika...πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Inilah travelearning yang luar biasa. Petualangan pembelajaran. Perjalanan setahun yang penuh makna. Tak hanya menggelorakan semangat 3P (Pengajar, Pendidik dan Pemimpin). Tapi banyak makna lain yang didapat. Pelajaran hidup yang bermakna.

Indonesia yg gemah ripah loh jinawi mungkin dulu ini baru teori yang pernah aku dapatkan dari bangku sekolah. Negeri maritim, tanah syurga katanya dan julukan negeri kepulauan yang kaya raya. Itulah teori yang diajarkan dlm pelajaran IPS dulu. Dan ternyata itu semua memang benar adanya. Gugusan pulau yg dalam peta nusantara seperti huruf K kecil inilah yang telah menjawab semua itu.

Perjalanan ini membuka cakrawala wilayah Indonesia Timur yg sangat kaya raya alamnya, lautnya yg mempesona, gugusan pulaunya yg cantik, aneka tambang yg melimpah ruah serta hsl rempah yg tak terhitung banyaknya. Pantas saja dulu Spanyol dan Portugis menjajah pulau ini. Terkadang muncul dlm diri, kenapa msh orang asing yg mengelola pertambangan kita? Kenapa orang asing yg leluasa mengeruk hasil lautan kita. Kenapa kita malah membeli hasil alam tersebut, padahal itu laut kita. Sudahkah kita benar2 merdeka?

Ini hanyalah prolog dari sepotong episode kehidupan.

"Maluku masa lalu. Jawa masa sekarang. Sumatera masa depan" begitulah ungkapan kata Bung Hatta yg didapatnya dari salah seorang guru beliau. Benarkah dengan ungkapan tersebut? Entahlah. Di tengah2 agenda kala itu, akhirnya bisa selesai juga membaca trilogi autobiografi Bung Hatta. Hingga akhirnya waktu itu pun lolos sebagai peserta FIM. Forum Indonesia Muda. Dari Maluku Utara terbang ke Jakarta. Dari FIM pun banyak pembelajaran yg di dapat tentang Indonesia.

Ini hanyalah prolog dari sepotong episode

Catatan kaladeiskop
Tegal, 31 Desember 2015

Friday, 22 December 2017

Serunya Rafting di Selaras Adventure


Berawal dari rasa yang beraneka ragam, muncullah kesan yang teramat dalam. Antara dag dig dug bercampur penasaran. Rasanya ketar-ketir berhomogen dengan gelora semangat untuk menaklukkan tantangan menyusuri sungai.  Rasa gentar berpacu dengan adrenalin semakin kian menantang saat perahu kapal karet ini mulai berjalan. Pokoknya suerruuu. Mantap! Apalagi saat melewati turunan berkelok yang terjal, bombastis! Wow, dahsyat! Ekspresinya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Itulah sekelumit keseruan saat pertama kali mencoba sensasi rafting di Selaras Adventure Sukabumi.


Perjalanan camping kali ini begitu mengasyikan. Setelah 2 hari berkutat dengan karya ilmiah, para peserta KIR Writing Camp dan guru pendamping pada hari ketiga melakukan petualangan seru di Sungai Citarik. Begitu juga dengan narasumbernya pun ikut merasakan sensasi derasnya sungai yang berada di hamparan pepohonan. Asri, sejuk, dan nyaman, begitu kesan yang terasa. Meski tadi malam di wilayah Sukabumi dan sekitarnya ada gempa bumi dan tadi pagi sempat ada gempa susulan yang cukup terasa getarannya, tapi menurut tim rescue kita masih bisa untuk rafting pagi ini.

Pagi hari yang cerah menawan, dikelilingi dengan rerimbunan pepohonan yang menjulang rindang ini para peserta melakukan olahraga pagi terlebih dulu dan tentunya mengisi energi (ATP) secukupnya dengan melakukan sarapan pagi. Sebelum berangkat melakukan ekspedisi rafting ini para peserta dibriefing terlebih dahulu oleh tim pengelola. Setelah mendapat pengarahan dari tim rescue, kami dibagi menjadi 10 kelompok. Semua peserta sudah lengkap mengenakan pelampung, helm dan dayung. Tiap perahu karet ada 1 pemandu instrukturnya. Tiap regu pun mulai naik ke atas perahu karet sesuai dengan instruksi pendamping masing-masing.

Satu per satu perahu karet siap bergerak menyusuri sungai yang arusnya cukup deras ini. Awalnya sempat berdebar-debar dengan derasnya arus sungai ini. Terlebih saat memasuki arus yang berkelok dan ada batu besar yang menghadang. Bagiku mungkin ini belum seberapa jika dibandingkan dengan besarnya ombak (gelombang) di lautan Maluku Utara dulu yang tingginya 1-3 meter. Rasanya jadi terkenang dengan sensasi ombak laut. Tapi kali ini tantangannya adalah arus sungai yang deras. Sensasi aliran sungai Citarik ini cukup membuatku mengeluarkan tenaga ekstra saat mendayung dan mengemudikan perahu karet ini.

Derasnya aliran sungai dan tantangan demi tantangan yang menghadang membuat para peserta sesekali berteriak. Apalagi yang peserta perempuan. Ruame pokonya. Saling bersautan antar peserta satu dengan yang lainnya. Dari raut wajahnya tampak ekspresi bahagia yang bergelora sekaligus bercampur kewaspadaan. Akan tetapi untuk keamanan tentunya sudah sangat diperhitungkan oleh tim pengelola. Selain setiap peserta sudah menggunakan pelampung, ada dua perahu di depan yang bertindak sebagai tim rescue (korlap) dan tim fotografer yang profesional. Jadi meskipun terjatuh ke sungai, sudah disiapkan juga tim penyelamat jika sewaktu-waktu ada yang terjatuh.

Satu lagi yang membuat serunya bertualang arung jeram di tempat ini adalah suasana alamnya yang masih sangat asri. Sepanjang sungai Citarik ini dikelilingi pepohonan yang sangat kaya akan oksigen. Segernya citarasa O2 di wilayah ini seperti merasakan sejuknya ruangan ber-Ac, hehe. Selain itu aneka flora yang bermacam-macam ini terlihat berjajar sepanjang sungai ini mengalir. Rindang, hijau, adem dan tentunya sangat alami. Hal ini terlihat dari masih banyaknya aneka satwa dan aneka fauna yang berhabitat di wilayah tersebut. Diantaranya adalah biawak dan monyet.

Dalam perjalanan arung jeram kali ini, kami menjumpai biawak yang berkeliaran. Kami berjumpa dengan 3 ekor biawak berukuran cukup besar ini di 3 lokasi yang berbeda. Biawak tersebut bertengger di atas bebatuan besar yang berada di tepi sungai ini. Seketika itu juga para peserta khususnya yang perempuan berteriak histeris. Tapi untungnya biawak itu tidak menyerang kita. Ukuran biawak lebih dari 1 meter panjang tubuhnya. Sepertinya di daerah tersebut merupakan habitatnya para biawak tersebut. Selain biawak di sungai yang terletak diantara hutan tersebut juga masih terlihat adanya monyet, anjing, burung elang dan fauna endemik lainnya.

Saat berada di tengah perjalanan, kami berhenti di wilayah sungai yang agak datar dan sebagian peserta ikut terjun ke dalam sungai ini. Kedalaman sungai di lokasi tersebut berkisar 1-2 meter. Karena kita pakai pelampung jadi kita bisa mengambang. Akan tetapi bagi yang tidak bisa berenang jangan sekali-kali mencoba menceburkan diri ke lokasi tersebut karena di sekitarnya ada aliran sungai yang cukup deras juga, nanti takutnya terbawa arus tersebut. Namun, bagi yang ingin mencoba sensasi derasnya sungai Citarik bisa mencobanya.

Para peserta KIR Writing Camp bersiap-siap untuk arung jeram
Masih banyak lagi keseruan lain yang kami rasakan saat bertualang di tempat ini. Sampai jumpa lagi di jejak petualangan seru selanjutnya. Pantau terus website ini yah, hehe. Tetap jaga sungai kita agar tetap lestari. Jangan membuang sampah ke sungai yah. Jangan lupa tetap bersyukur. Senang-senang boleh. Tertawa ria di sungai ini boleh tapi jangan kelewat batas. Saat bertualang ke alam adalah saat yang tepat untuk bertafakur dan merefleksikan diri agar menjadi lebih refresh. Eksplore alamnya. Lihatlah kekayaan fauna dan flora yang begitu melimpahnya di wilayah tersebut. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?



Salam Literasi, Salam Lestari
#MyTripMyTafakur
#CatatanEduWriter

Writing Camp: Melatih Pelajar Aliyah Berpikir Ilmiah


Menjadi pelajar zaman now harus bisa menjadi pelajar yang kreatif, aktif dan terampil dalam menjalani kehidupannya. Tentunya harus bisa menjadi pelajar yang teladan dalam bersikap, berakhlakul karimah dan berprestasi sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Sebagaimana tantangan pendidikan abad 21 sebagai siswa harus bisa berpikir kritis (terampil memecahkan masalah), kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Keempat hal tersebut harus dikuasai agar bisa bersaing di era milenial seperti sekarang ini.

            Untuk menjawab dan mengatasi persoalan tersebut, salah satunya sebagai pelajar juga harus menguasai bidang riset sebagai langkah untuk meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis dan solutif. Sebagaimana yang dilakukan oleh MAN 10 Jakarta yang baru saja menggelar kegiatan Kelompok Ilimiah Remaja Writing Camp atau disingkat KIR Writing Camp yang dikhusukan bagi pelajar Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta Jakarta, diantaranya yang mengikuti kegiatan tersebut adalah MAN 10 Jakarta, MAN 1 Grogol, MAN 22 Jakarta, MA Al-Falah dan MA An-Najah. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 60 orang terdiri dari peserta dan pendamping.

Kegiatan KIR Writing Camp tersebut dilaksanakan di Selaras Adventure Camp selama 3 hari yaitu Kamis-Sabtu, 14-16 Desember 2017. Kegiatan tersebut dilaksankan dalam upaya menumbuhkan Gerakan Literasi dikalangan pelajar serta upaya menumbuhkan semangat dalam membuat Karya Tulis Ilmiah serta menumbuhkan motivasi untuk menjadi pelajar yang berakhlak dan berprestasi. Sebagai siswa Madrasah Aliyah tentunya tak hanya berfokus pada pengetahuan agama saja. Tapi juga harus unggul di bidang yang lainnya. Salah satunya adalah unggul dalam bidang riset. Penguasaan bidang riset ini berawal dari penguasaan tentang karya ilmiah.

Adapun kegiatan membuat Karya Tulis Ilmiah dalam acara ini merupakan bagian latihan bagi para pelajar dalam melakukan penelitian sekaligus menuliskannya dalam bentuk tulisan ilmiah walaupun masih dalam bentuk sederhana. Karena penelitian sesungguhnya tentu memerlukan lebih lama dari pada proses pelatihan ini. Kegiatan ini juga didukung dengan adanya Contest atau lomba presentasi Karya Tulis Ilmiah merupakan bagian dari wahana melatih para pelajar dalam memamparkan hasil karya ilmiahnya yang pada kemudian hari akan mengikuti lomba yang sesungguhnya.

Setiap jejak perjalanan selalu melahirkan berjuta kenangan yang mendalam. Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kesan yang tercipta akan menjadi pelajaran berharga yang tak bisa dilupakan. Pengalaman yang didapat selama mengikuti kegiatan KIR Writing Camp selama 3 hari tersebut semoga senantiasa membekas di hati para peserta dan guru pendamping yang mengikuti kegiatan tersebut. Selamat berkarya dan teruslah berkiprah mengembangkan ilmu yang telah didapatkan selama mengikuti kegiatan ini. Ganvareba, zettai dekiru!

Sesi 1 : “Kiat Sukses Meraih Impian dan Cita”

Pada sesi pembuka ini tentang kiat sukses meraih impian dan cita-cita bersama Pak Namin sebelum coaching dan pendampingan menulis dan pembuatan karya ilmiah remaja. Saya pertama kali mengenal pak Namin pada tahun 2015 saat saya masih berada di Maluku Utara. Waktu itu saya mengikuti lomba menulis guru dan blogger yang diadakan oleh beliau. Pertemuan pertama dengan beliau (motivator, konsultan dan trainer pendidikan yang mengawali karirnya dari menjadi guru ini) adalah saat wisuda SGI 6 (saat saya diwisuda SGI). Kali ini di penghujung purnama 2017 saya mendapat kesempatan berkolaborasi bersama beliau dalam writing camp ini.


Pada sesi pertama acara dibuka secara resmi oleh pihak MAN 10 Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan sesi Ta'aruf dan Kontrak Belajar serta melakukan Ikrar bersama berjanji untuk tidak pacaran sampai Allah mempertemukan jodoh. Selanjutnya kami berdua (saya dan Pak Namin) berbagi kisah kegiatan menulis telah mengantarkan kami pada kesuksesaan yang kami raih pada saat ini dan itu semua dimulai saat kami berusia seperti para peserta. Kegiatan menulis telah mengantarkan kami berdua bisa berkeliling daerah di Indonesia.  Untuk membangkitkan semangat kami juga mengajak mereka untuk menulis 100 impian serta kami mengajak para peserta untuk bisa mewujudkannya dalam bentuk cita-cita. Sesi motivasi diakhiri dengan kegiatan muhasabah dimana para peserta diajak untuk merenungi perjuangan yang sudah dilakukan oleh para orangtuanya.

Dalam sesi pertama yang dikemas dalam bentuk talkshow inspiratif ini kami berdua berbagi tips “Menjadi Pelajar Berakhlak dan Berprestasi” caranya yaitu:
1. Punya impian dan cita-cita
2. Tidak pacaran
3. Patuh pada orangtua & guru
4. Berkomitmen tinggi
5. Bersungguh-sungguh
6. Punya tekad yang kuat
  
Sesi 2: Coaching Karya Tulis Ilmiah (Part I)

Setelah sesi pertama berbagi motivasi sukses dalam menulis, sesi selanjutnya adalah tentang KIR, yaitu tentang Kelompok Ilmiah Remaja dan Karya Ilmiah Remaja. Saya sedikit menyampaikan tentang kiat sukses membuat karya ilmiah. Mulai dari mencari masalah hingga menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam sesi ini kami langsung membimbing peserta untuk mulai menulis karya tulis dimulai dengan mencari masalah atau topik yang ingin dibuat, membuat judul penelitian, menulis BAB I dan dilanjutkan dengan menulis BAB II. Berawal dari saya menuliskan judul dalam laptop saya yang ditampilkan dalam slide. Lalu diikuti oleh masing-masing kelompok juga menuangkan hal yang sama. Jadi sistemnya learning by doing. Belajar sambil langsung dipikirkan dan langsung dipraktekkin saat itu juga.

Saat saya mencontohkan menuangkan ide mulai dari mencari masalah, saya juga berkeliling ke tiap kelompok yang bertanya tentang topik yang akan dibuatnya. Para peserta begitu antusias mengikuti sesi kali ini. Semangat para peserta dan pembimbing dalam mengikuti kegiatan ini sungguh luar biasa. Hal ini terbukti hingga sesi coaching pembuatan judul, bab 1 hingga bab 2 ini berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Materi writing camp di hari pertama ini berakhir dengan karya masing-masing kelompok sudah sampai tahap bab 2. Selesai itu semua peserta kembali ke tempat penginapannya masing-masing untuk istirahat.

Sesi 3: Public Speaking for Student
Agenda hari kedua diawali dengan sholat shubuh berjama’ah dan sehabis itu ada sesi kultum yang dibawakan oleh salah satu siswa peserta writing camp. Agar badan tetap fit dan bugar tak lupa di pagi hari yang sejuk dilakukan sesi olahraga bersama yang dipimpin oleh tim selaras adventure. Seusai olahraga dilanjutkan dengan sarapan pagi dan bersih-bersih (mandi) sebelum memulai aktivitas di hari kedua ini.

Acara sesi ketiga ini dibuka dengan ice breaking dan materi selanjutnya yaitu tentang public speaking yang dibawakan oleh Pak Namin. Sama seperti sesi-sesi sebelumnya, untuk sesi ini Pak Namin hanya menyampaikan teori singkat tentang public speaking, sehabis itu langsung praktek satu per satu. Diawali dari Pak Namin yang mencontohkan tentang dasar-dasar public speaking mulai dari hal yang paling sederhana. Selanjutnya secara bergantian masing-masing peserta mempraktekkan dan memperagakan teknik public speaking yang dipaparkan oleh Pak Namin. Pada sesi kali ini pun para peserta sangat antusias mengikutinya

Sesi 4: Coaching Karya Tulis Ilmiah (Part II)
Setelah tadi malam selesai di Bab 1 dan Bab 2, hari ini para peserta harus menyelesaikan Bab 3, Bab 4 dan Bab 5. Sehari membuat karya tulis ilmiah dengan pendampingan dan pendekatan coaching. Teori singkat, lalu langsung praktek. Pada tahap praktek menulis BAB III ini yang berisi tentang metode penelitian, saya mencontohkan lewat menulis langsung di laptop dan dipaparkan lewat slide, para peserta pun ikut membuatnya. Learning by doing kali ini dilakukan secara langsung dengan melakukan penelitian sederhana sesuai yang dirancang sebelumnya.



Usai memahami tentang Bab III tersebut, para peserta melakukan studi lapangan. Para peserta ada yang melakukan observasi, wawancara, eksperimen dan diskusi kelompok dalam menyelesaikan karya tulis masing-masing. Learning by doing. Learning by coaching. Bahkan ada juga beberapa kelompok yang terjun ke masyarakat sekitar untuk mencari data dan informasi sesuai yang dibutuhkan. Beberapa kelompok yang lain ada juga yang berdiskusi dengan para guru pembimbing masing-masing. Sesekali saya berkeliling mengecek ke masing-masing kelompok.


Para peserta yang sudah mendapatkan data dan informasi, selanjutnya kembali ke aula utama untuk melanjutkan sesi berikutnya yaitu menulis BAB IV dan BAB V. Pada sesi kali ini saya mengcoaching mereka sekaligus mencontohkan cara menganalisis data ke dalam pembahasan yang ada di dalam bab 4. Para peserta saling berdiskusi dengan teman sekelompoknya. Dalam sesi ini juga saya dan Pak Namin menyampaikan tentang tips membuat Slide Presentasi Kreatif yang akan digunakan untuk presentasi pada Contest atau lomba presentasi karya ilmiah remaja malam harinya.



Sore ini naskah karya ilmiah mereka harus sudah selesai beserta power point yang sudah dibuat. Nanti malam adalah sesi contest presentasi dan akan dipilih para pemenangnya berdasarkan kategori sains teknologi dan kategori sosial humaniora. Hingga sore hari para peserta terlihat begitu antusias dan masing-masing kelompok terlihat saling bekerja sama untuk menyelesaikan karya tulis dan slide presentasi mereka. Sesi ini berakhir hingga sore hari menjelang adzan maghrib.

Sesi 5: Contest Presentasi Karya Tulis Ilmiah

            Kini tiba waktunya sesi yang paling menegangkan yaitu sesi presentasi. Para peserta dari setiap kelompok sudah siap semua dengan materi slide power point yang sudah dibuatnya. Masing-masing kelompok diberi waktu untuk presentasi karya ilmiah mereka maksimal 5 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh tim penguji yaitu saya dan Pak Namin. Dalam sesi presentasi ini dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu bidang sains teknologi dan sosial humaniora. Dalam sesi presentasi ini setiap kelompok menampilkan performa maksimalnya dalam menyampaikan karya ilmiah yang sudah mereka buat sebelumnya. Dalam sesi ini dipilih juara 1, 2 dan 3 untuk tiap kategori. Pengumuman pemenang dan pembagian hadiah akan diinformasikan keesokan harinya.

Foto bersama pemateri, guru pembimbing dan peserta KIR Writing Camp

Demikian resume singkat tentang kegiatan KIR Writing Camp yang berlangsung di Selaras Adventure Sukabumi, 14-16 Desember 2017. Terus berkarya dan berinovasi siswa-siswi Aliyah di kancah kehidupan sehari-hari. Walau jauh di mata dan terpisahkan oleh jarak dan waktu semoga tetap terjalin silaturahim dan komunikasi diantara kita, hehe. Selamat berkarya mengukir prestasi sesuai dengan potensi yang kalian miliki. Jadilah pelajar Indonesia yang berakhlak dan berprestasi. Pasti bisa!

Sunday, 26 November 2017

Secantik (Curug) Bidadari


Setiap jejak perjalanan selalu melahirkan kesan yang menawan. Seperti hiking kali ini. Two tumbs for this waterfall. Air terjun (curug) yang berlokasi di Bojong Koneng, Sentul, Bogor ini memang eksotis. Namanya juga unik yaitu curug bidadari. Tapi, sepanjang mata memandangi curug ini tak ada tanda-tanda kenampakan bidadarinya, hehe.

Curug bidadari ini memiliki tinggi sekitar 40an meter. Kurang tahu persisnya berapa, karena tadi aku tidak mengukurnya😁. Uniknya curug ini berada di tebingan batu yang tinggi menjulang dan dikelilingi oleh bebukitan yang hijau berkilau. Ijo royo-royo, kalau kata orang Jawa. Suasananya yang asri dan sejuk menambah daya pikat tersendiri.

Desiran air dari atas tebing yang turun ke bawah punya tekanan yang cukup kencang. Sekilas tampak seperti selendang besar berwarna putih yang melambai-lambai. Hal tersebut juga memunculkan desiran angin yang kencang saat jatuh ke dasar curug. Kedalaman dasar curug berkisar sekitar 50 cm dan banyak bebatuan di tepinya. Karena tekanan dan hembusan angin bersamaan cipratan derasnya air curug membuat sensasi dingin merasuk ke tubuh.

Persis di depan curug ini terdapat dua tebing batu besar. Akan tetapi pengunjung dilarang naik ke atas bebatuan tebing tersebut. Tepat di depan bebatuan tersebut juga terdapat kolam renang cukup besar dengan air berasal dari curug tersebut. Kolam renang tersebut juga terdapat seluncuran roll coaster dan menyewakan pelampung juga. Di sekitarnya juga terdapat saung-saung yang disewakan. Bagi yang ingin terapi ikan, di lokasi wisata ini pun tersedia.

Air selain menjadi kebutuhan pokok manusia, ternyata wisata air juga menjadi tempat refreshing yang selalu menarik. Sebut saja mulai dari tempat air yang alami seperti laut, sungai, danau dan air terjun adalah sentra wisata favorit manusia dari jaman baheula hingga jaman now. Tak kalah menariknya wisata air yang buatan seperti waterboom atau pun kolam renang juga punya magnet daya tarik tersendiri.

Piknik atau bertualang ke alam merupakan salah satu kebutuhan manusia. Refreshing sejenak menghilangkan penat. Menghirup udara segar sebentar dari kesibukan aktivitas yang ada. Bertamasya ke alam terbuka juga menjadi sarana bertafakur dan bertadabur alam. Refreshing sejenak merupakan kebutuhan vitamin bagi sel-sel tubuh kita.

Terlebih bagi siswa boardingschool, yang terbiasa tinggal di asrama. Mereka seringkali merasakan kejenuhan dengan rutinitas yang ada, tapi itulah pendidikan yang harus mereka lalui. Maka piknik sejenak merupakan salah satu hal yang disukai mereka. Begitu sampai di tempat wisata, ekspresi bahagia terhias dari aura wajah mereka. Bagi mereka, hiking ke curug pun menjadi multivitamin yang lezat rasanya.

Tak hanya siswanya, gurunya pun sama. Butuh vitamin refreshing sejenak. Siswanya liburan, gurunya pun ikut liburan. Siswanya hiking, gurunya pun ikut hiking. Tidak hanya sekedar liburan, kegiatan hiking juga menjadi kegiatan yang mengakrabkan kekeluargaan satu dengan yang lainnya

Oke guys, bagi kalian yang penasaran dengan kecantikan (curug) bidadari tersebut, silahkan langsung datang saja ke TKP. Sampai jumpa lagi di jejak petualangan berikutnya. Kemana pun kita bertamasya ke tempat mana pun, jangan lupa buang sampah pada tempatnya. Jangan tinggalin atau buang sampah sembarangan yah.

Karena hari ini juga bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia (11 November 2017), yuk kita jaga dan lestarikan pepohonan yang ada di bumi ini. Satu pohon, berjuta-juta oksigen dihasilkan. SAVE Our TREE... SAVE Our FOREST....!!!

Saturday, 25 November 2017

Lentera Hati Guru Pembelajar


Menjadi guru itu pilihan atau nasib? Prioritas menjadi guru bukanlah pilihan banyak orang. Memilih profesi menjadi guru karena gaji tinggi, mungkin menjadi pilihan banyak cagur (calon guru). Tetapi, untuk menjadi guru karena panggilan hati atau passion mungkin sudah jarang kita temui di zaman ‘guru bersertifikasi’ seperti sekarang ini. Padahal guru adalah aset bangsa yang sangat strategis. Guru adalah arsitek peradaban. Begitulah salah satu pepatah penting yang melekat pada guru (sang pembangun insan cendekia). Keberhasilan seorang guru adalah ketika telah berhasil memberikan hati dan kepribadiannya dalam mendidik siswa-siswinya. Tapi, sudahkah menjadi guru yang terbaik bagi peserta didik? Karena tugas seorang guru bukan hanya sekedar mengajar materi dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’. Mendidik karakter, membimbing dengan penuh kasih sayang, dan membina peserta didik dengan penuh ketulusan juga merupakan tugas dari seorang guru.

            Sejak diberlakukannya undang-undang guru dan dosen oleh pemerintah, profesi guru menjadi favorit pilihan banyak orang. Mungkin karena tunjangan dan gaji yang cukup menjanjikan, walau harus berjuang setengah mati dengan meraih gelar sertifikasi terlebih dahulu. Lalu bagaimana dengan nasib para guru honorer? Mereka yang telah bertahun-tahun mengabdi menjadi guru tak bisa menyandang gelar bergengsi tersebut. Memang, guru PNS dan guru honorer ibarat sekeping uang logam yang saling bertolakbelakang dalam hal tunjangan. Padahal sama-sama berprofesi sebagai guru dengan jumlah jam mengajar yang sama. Lantas, manakah yang paling punya andil besar antara guru PNS atau guru honorer dalam mendidik peserta didiknya? Jawabannya ada di hati masing-masing guru tersebut. Perbedaan guru PNS dengan guru honorer bukan pada gaji, tapi “hati”lah yang menjadi pembedanya. Bukan pula pada besarnya tunjangan yang tinggi, akan tetapi mendidiknya karena panggilan hati dan mengajarnya dengan sepenuh cinta, itulah guru pembelajar sejati.

Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang profesional. Sebagai guru pembelajar (baik guru PNS, honorer maupun kontrak), tak ada kata berhenti dalam belajar. Tiada hari tanpa menimba dan menambah ilmu dari sumber mana saja. Setiap selesai pembelajaran senantiasa melakukan refleksi diri, perenungan dan evaluasi diri. Sudahkah kita menjadi guru yang terbaik dan berkualitas bagi peserta didik? Sebagai pengajar, sudahkah kita mengajar dengan baik, menerapkan strategi pembelajaran yang tepat dan menyenangkan bagi mereka? Bagaimana manajemen kelas yang sudah kita terapkan, display kelas, suasana kelas hingga materi yang kita sampaikan, sudah lebih baikkah? Pengajaran yang kita lakukan sudahkah terencana dengan baik sesuai RPP yang kita buat? Sebagai pendidik, sudahkah kita mendidik mereka dengan hati yang tulus? Karena guru adalah pengajar, pendidik, pemimpin dan teladan bagi para peserta didiknya.

            Kendala guru pembelajar antara di desa dan di kota tentu berbeda dari segi kualitas, sarana dan prasarana pendukung. Terlebih bagi guru yang berada di daerah terpencil. Akan tetapi daya juang guru-guru di daerah terpencil juga patut kita apresiasi. Sebagai contoh saya ingin menceritakan salah satu sosok guru pembelajar yang pernah saya temui saat bertugas di Loloda Kepulauan, Halmahera Utara (2014-2015). Sosok guru pembelajar tersebut bernama Suleman Palias (60 tahun). Guru yang akrab disapa dengan Pak Guru “Eman” ini merupakan guru honorer di SDN Fitako, Kecamatan Loloda Kepulauan. Di usianya yang sudah menjadi kakek, beliau masih semangat untuk terus mengabdikan diri sebagai seorang guru. Pria tamatan Sekolah Rakyat (SR) dan SMP Dorume ini mengawali karirnya sebagai guru honorer di SDN Dama selama 7 tahun. Meski hanya bergelar tamatan SMP, beliau menjadi guru di SDN Fitako sejak tahun 2003 hingga sekarang.

            “Menjadi guru adalah hobi dan kesukaan saya” jawab Pak Eman saat ditanya alasannya menjadi guru. Rupanya jiwa pendidik sudah begitu melekat dalam hatinya. Pak Eman adalah guru paling tua di SDN Fitako, akan tetapi beliau juga sangat disiplin dan gigih dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Beliau selalu masuk mengajar sesuai jadwal, kecuali jika sakit yang mengharuskan tidak masuk. Selalu menjalankan tugas sesuai amanah, dan komitmen dalam mengajar adalah prinsip hidup beliau selama menjadi guru. Sebagai guru honor, gaji beliau bisa dibilang tak seberapa, akan tetapi semangat, ulet dan komitmennya sebagai guru sangat luar biasa. Itulah sosok guru pembelajar bernama Pak Guru “Eman” yang patut kita tiru semangat juangnya. Dari Pak Eman kita banyak belajar tentang komitmen, cinta dan passion menjadi guru. Semoga kita yang berprofesi sebagai guru bisa mengambil nilai-nilai positif dari beliau.

            Menjadi guru pembelajar harus terus dihidupkan dalam sanubari hati yang terdalam. Meski dihadapkan dalam kondisi yang serba terbatas, nilai juang guru sebagai guru pembelajar harus senantiasa menyala. Keterbatasan bukanlah sebuah hambatan, akan tetapi menjadi daya picu untuk terus berbenah diri meningkatkan kualitas guru tersebut. Guru pembelajar adalah gurunya manusia. Seperti yang dikatakan oleh Munif Chatib, “Gurunya Manusia” yaitu guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas, akan berintrospeksi apabila ada siswa yang tidak memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar sebab mereka sadar, profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan pengembangan kompetensi.

Semoga semua guru (baik guru PNS, honorer maupun kontrak) baik di sekolah negeri maupun swasta bisa menjadi guru pembelajar yang senantiasa melakukan refleksi diri dalam menjalankan tugas mulianya tersebut. Evaluasi diri dan perbaiki diri dengan senantiasa meningkatkan kompetensi dan profesionalitas dalam mengemban amanahnya. Refleksi diri agar bisa menjadi Gurunya Manusia. Jangan jadi guru, jika malas mengajar. Jangan jadi guru, jika malas datang ke sekolah. Karena menjadi guru itu butuh tekad, ketulusan hati dan komitmen yang tinggi dalam membimbing para peserta didiknya. Karena guru menjadi kunci utama penentu keberhasilan pendidikan di negeri ini. Kalau bukan guru, siapa lagi? Bahagialah menjadi guru, karena setiap langkahnya menjadi amal yang mulia. Bangga jadi guru. Guru berkarakter, menggenggam Indonesia.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Esai Guru yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Jabar untuk memperingati Hari Guru Nasional 2017

Resume Materi “Writer Teachers”


Melalui blog ini saya ingin berbagi resume materi yang saya sampaikan dalam sharing session yang diadakan oleh Komunitas Guru Cerdas Literasi SGI Learning Community (Ahad, 19 November 2017). Berikut tulisan selengkapnya.

Ceritaku: Awal Mula Menulis

Menulis itu mudah tapi susah. Dibilang mudah tapi terkadang susah untuk mengawalinya. Tapi kalau sudah berani mengawali kata pertama yang ditulis, maka akan terasa mudahnya. Akan tetapi dibilang susah juga sebenarnya itu salah karena dikatakan susah karena tidak mau mengawali dan mencoba untuk menulis kata pertama. Karena kata-kata pertama yang kita tulis sebenarnya itulah yang menjadi pemicu dan inisiator yang akan meningkatkan langkah kita untuk meneruskan kata-kata selanjutnya. Mungkin menulis sama halnya dengan sebuah presentasi. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan dan suksesnya presentasi berada di 5-7 detik pertama. Sama halnya dengan menulis yang terletak juga di kata pertama yang ditulis. Kata-kata pertama itulah kunci utama yang akan membuka, menerobos dan menembus rangkaian kata-kata, kalimat, hingga paragraf selanjutnya.

Tapi bagaimana mau mulai menulis, kalau sama sekali tidak punya ide untuk memunculkan kata-kata pertama itu, sudah bingung, dicampur lagi dengan adanya kebuntuan berpikir di jalan yang buntu. Selain itu, terkadang juga muncul rasa bingung tidak bisa membuat kata-kata yang indah, putus asa di tengah jalan lantaran pikirannya mentok, gagasannya kurang bermutu, tidak mampu mencairkan suasana yang enak dibaca dan tidak percaya diri dengan apa yang dituliskannya. Itulah sekelumit permasalahan yang terjadi dan dirasakan oleh penulis pemula. Hal ini juga seperti yang aku rasakan juga tatkala mau memulai untuk menulis dan menjadi penulis pemula.

Pada awal sebelum aku menyukai dunia tulis menulis, aku hanya bisa bermimpi dan menganggap menulis itu sesuatu yang sebenarnya mudah tapi juga susah. Padahal sudah ada ide-ide yang bagus dan cemerlang menurutku tapi aku bingung dari mana aku memulai menulisnya. Akhirnya aku hanya bisa bermimpi dan bermimpi ingin menulis tapi tak pernah terlaksana. Aku bermimpi tulisanku dimuat di suatu majalah tertentu atau memenangkan suatu ajang perlombaan hasil karya menulisku. Ternyata waktu itu aku hanya bisa bermimpi tanpa ada aksi. Tanpa mau mencoba dan berusaha untuk memulai menulis apa yang sebenarnya sudah ada dalam benakku waktu itu.

Resep Menulis 5W + 1 H

1. What is Writing?
         Goresan kata-kata berpola SPOK
         Ekspresi rasa dan cerita
         Menuangkan ide/gagasan/pendapat
         Mengimajinasikan pemikiran
         Menyebarkan buah kebaikan (kisah si burung pipit, seekor penyu dan sebatang pohon kelapa) NB: kisah ini saya dapatkan pertama kali saat mengikuti workshop menulis bersama Tere Liye

2. Why? Mengapa saya menulis?
         Karena hobi
         Memberikan sebuah pandangan
         Menyampaikan pesan lewat tulisan

3. When?
         Kapan saja bisa, saat sedang ada masalah, dapat kabar gembira, dll (diari)
         Saat sedang kondisi enjoy
         Saat menemukan ide/solusi dari sebuah masalah

4. Where?
         Dimana saja bisa
         Cari tempat yang tenang dan nyaman
         Di tempat yang sejuk dan sunyi

5. Who?
         Semua orang bisa menjadi penulis
         Syaratnya:
            a. Ada kemauan dan niat
            b. Berlatih dan berusaha

6. How....?
         Pahami dulu jenis-jenis tulisan
         Langsung dipraktekkin
         Tips menulis itu ada 3 kata yaitu: MENULIS....MENULIS....MENULIS......


Bagaimana caranya menggali ide?
Ada banyak sumber untuk menggali ide/gagasan yaitu berdasarkan pengalaman pribadi, media cetak & elektronik, lingkungan sekitar, observasi ke lokasi tertentu, diskusi dan wawancara dengan narasumber/pakar tertentu. 


Bagaimana cara mengasah kemampuan menulis? 
Sebenarnya caranya sama dengan syarat Semua Bisa Jadi Penulis, yaitu:
Pertama: Menulis...!
Kedua: Do Write...!!
Ketiga: Uktub..!!! = Tulislah...!!! 


Tips tambahan untuk mengasah kemampuan menulis, yaitu:
1.      Sering berlatih
Membiasakan diri untuk menulis. Pasti bisa! Pasti Teyeng! Update status aja bisa, berkicau di twitter aja sanggup, mengerjakan laporan praktikum aja gampang, apalagi menulis?

2.      Banyak membaca
Seorang penulis pasti tak lepas dari membaca. Membaca dan menulis adalah dua sejoli yang tak bisa dipisahkan. Membaca adalah amunisi yang canggih, senjata yang tepat untuk bisa menulis. Seorang Lisa See lewat tokoh Paman Lu, dalam novelnya berjudul Snow Flower berkata, “ Bacalah seribu buku, maka kata-kata akan mengalir seperti sungai ”. Membaca yang utama memang dari buku, jurnal, majalah, internet atau bentuk tertulis lainnya. Tapi jika yang tidak suka membaca dalam bentuk buku, bisa lakukan membaca dengan melihat film, membaca situasi atau peristiwa tertentu, membaca lingkungan, membaca travelling dan membaca alam semesta yang begitu luas ini.

3.     Bertanya dan berdiskusi dengan teman yang ahli dalam menulis.
Belajarlah kepada mereka yang sudah berpengalaman lebih dulu. Minta dikoreksi, dan dibimbing dalam proses penulisannya. Bisa juga dengan membaca karya orang tersebut dan berdiskusi dengannya.

4.      Mengikuti lomba menulis (LKTI, essay, dan lain-lain), pilih yang paling disukai dan diminati.
Manfaatkan peluang emas jika ada lomba, karena dengan mengikuti lomba kita akan tahu sejauh mana kemampuan menulis kita. Walau masih pemula tidak apa-apa, itu sebagai sarana melatih kemampuan kita. Gagal/kalah tak masalah, namanya aja belajar. Kalau tips dari saya begini: cari lomba sebanyak mungkin, cari yang gratis tapi hadiahnya lumayan gede dan pilih yang paling mudah, paling kita sukai dan paling kita anggap mampu mengerjakannya.

5.     Jangan pernah bosan menghadapi kegagalan, nikmati saja prosesnya. 
Karena kegagalan adalah guru terbaik untuk mengevaluasi kekurangan tulisan yang kita tulis. Jika kita gagal/kalah dan tak pernah lolos dalam lomba menulis, jangan sedih, jangan menyerah. Kita evaluasi diri, evaluasi tulisan kita kekurangannya apa. Kembali minta masukan dan saran kepada yang sudah berpengalaman, minta dikoreksi sebelum dikirim ke panitia lomba, banyak baca lagi, ikut workshop/pelatihan tentang menulis, setelah itu action dan teruslah berkarya.


========================================================


Sesi Tanya Jawab

1.      Yulisthina: Bgmn sekiranya jika kita memiliki tulisan dan dianggap bagi diri kita sndiri itu sdh tulisan terbaik namun ternyata di mata org2 karya kita tdk bagus
1. Bgmn menyikapinya???
2. Adakah tolak ukur atau standar tertentu yg dpt digunakan sbg acuan untuk menilai tulisan itu sdh layak atau belum?

Jawaban:

Masalah ini sering dialami oleh semua penulis baik pemula maupun yg sdh profesional bu. Saya pun dulu sering mengalaminya.
1. Cara menyikapinya adalah minta bantuan orang lain (teman dekat atau siapa pun) utk membaca tulisan yg kita buat. Minimal 3 orang. Mintain tanggapan dari mrk. Ini yg paling mudah dilakukan. Dan kita hrs terbuka jg mnerima masukan darinya

2. Apakah ada tolak ukur atau standarnya? Iya ada. Tergantung jenis tulisannya bu. Tentunya yg paling mudah dicermati adalah dari diksi (pilihan katanya), gaya bahasa yg digunakan, dan enak tidaknya dibacanya. Sama kayak meracik sebuah masakan. Tentu tergantung selera. Ditentukan dari bumbu yg kita racik tsb

2.      Louis Ifka: intrupsi bertanya: tolong saran apa yg harus sy lakukan: ketika ad ide menulis dlm otak kita sudah punya gambaran jelas tetapi ketika mulai do write macet? gmn solusi?

Jawaban:

Masalah ini jg sering terjadi. Saat sdh ada ide dlm otak, tp saat mau menulis macet. Tak bisa berkata2 atau bingung mau menulis apa. Bagaimana langkah selanjutnya setelah menemukan ide? Kiat-kiat setelah menemukan ide (khusunya jika mau buat karya tulis atau essay) adalah: 1). Cari referensi tambahan  2). Observasi langsung tentang materi yg ingin kita buat. 3).Menyusun outline / map maping  4).Berdiskusi dengan orang lain 5).Istirahat sejenak juga perlu. 6).Atau cari tempat dan suasana yg lain

3.      Miah Gunawan: Saya mau tanya, bagaimana cara kita untuk memunculkan suatu ide cerita yg tidak klise dan bagaimana cara mendapatkan elaborasi kata yg tepat dlm suatu tulisan?

Jawaban:

§  Sebelum membuat tulisan, kita buat peta konsepnya dulu bu atau mind mapping tentang cerita yg akan kita buat. Dibuat garis besarnya dulu dari alur, setting, dll. Sehingga utk memunculkan ide cerita yg tdk klise sdh ditentukan sejak awal tadi. Kalau sudah dibuat 3-5 paragraf, baca lagi dan lakukan editing sesekali. Atau kalau saya lanjut aja mengalir menulis apa saja yg terpikirkan di otak. Baru ntar editing di belakang.

§  Utk melakukan elaborasi kata juga perlu banyak latihan bu. Dan sering aja menulis. Kalau sekali dibuat lamgsung save dulu, atau boleh juga corat coret dulu di buku baru diketik. Yang penting harus kaya diksi dan gaya bahasa yg menarik sesuai cerita yg kita buat

4.      Nala: bagaimana cara mudah  menentukan poin pertama yg menarik untuk mengawali sebuah tulisan? terlebih jika tema besarnya sudah ditentukan, saya terkadang sering terjebak pada paragraf2 awal.

Jawaban:

Pilih sudut pandang yang spesial. Ada banyak bentuknya bu. Tergantung konsep ceritanya mau seperti apa. Utk poin pertama hrs yg unik dan menarik. Misal pakai perumpamaan, quote, atau yg lainnya disesuaikn jenus tulisannya. Tulislah apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan itu yg paling mudahnya. Saya akan berikan salah satu contohnya

5.      Ali: Apa yang Guru Iin paparkan diawal tadi memang mewakili semua perasaan orang yang mau memulai menulis terutama saya. Yang menjadi kendala terbesar bagi saya adalah konsultasi dengan para penulis senior atau ahlinya untuk mengkritisi apa yang sudah saya tulis.. Apalagi kita sama² tahu untuk interaksi langsung dengan orang² yang sudah terkenal itu susah kalau tanpa ada penghubung terlebih dahulu. Ditambah Lingkungan tempat saya berada sangat tidak mendukung. Juga link/atau jaringan saya yang sangat terbatas bahkan bisa di bilang tidak ada. Akhirnya kadang apa yang menjadi keluh kesah saya, opini dan tulisan (meskipun ala kadannyaπŸ˜‚πŸ˜‚) hanya di upload di fb.. Sementara kita tahu di fb itu sangat jarang kita mendapatkan kritikan  yg sesuai dgn yg kita harapkan, yg ada terkadang komentar² alay yg datang. Bagaimana kira² solusinya guru.?? 

Jawaban:

Kalau boleh tahu guru Ali dari mana asalnya? Menurut saya tdk masalah diposting di FB, yg penting disampaikan dengan menarik. Boleh jg klo ada posting di blog atau website pribadi. Jika ditmpt tinggal guru ali ada komunitas penulis boleh gabung disana, atau boleh cari teman yg bisa diajak buat diskusi bersama

6.      Nur Fadilah: Bagaimana membuat ending yg menarik guru terutama pada cerita guru?
Jawaban:
Membuat ending yg menarik sama spt membuat awal yg menarik bu. Yg penting ending itu harus nyambung dengan awal, dan tengah agar jd satu kesatuan yg utuh. Saya kasih contoh tulisan yg pernah saya buat judulnya menghukum dengan hati berikut ini paragraf akhirnya (ending)nya.....

Permasalahan siswa tak selamanya harus diselesaikan dengan cara hukuman fisik. Berilah hukuman yang mendidik bagi siswa-siswi kita tatkala mereka berbuat kesalahan. Kalau saat kita mengajar dan mendidik mereka harus dengan hati, maka menghukum anak (saat mereka salah) juga harus dengan hati. Saya jadi teringat dengan pendapatnya Setiawan dalam bukunya yang berjudul Anak Juga Manusia, mengatakan bahwa “anak bukan barang yang dipesan dari katalog yang disertai buku panduan. Dia adalah titipan Tuhan yang sudah sepatutnya diperlakukan dengan baik. Anak juga bukan robot yang tinggalplug and play. Dia punya hati dan perasaan, karena anak juga manusia”. Iya, karena anak juga punya hati dan perasaan, maka masukilah dunia dan hati mereka supaya riang gembira. Jika hukuman fisik terus dilakukan kepada siswa tentu akan berdampak pada kondisi psikologis mereka. Oleh karenanya, ketika anak (siswa-siswi) kita bermasalah, hukumlah dengan hati.


7.      Aminah: Ketika menulis suka bingung dalam penulisan kata yg tepat.. Bagaimana solusinya guru??
Jawaban:
Cari padanan kata (sinonimnya) bu. Usahakan dalam satu paragraf kaya akan diksi. Caranya dg mencari sinonim kata dari kata tsb. Usahakan tdk ada pengulangan kata yg sama dlm paragraf kecuali kata penghubung

8.      Khatimatul Wilda: Bagaiman cara memuncul rasa ingin menulis "sehingga menjadi hobi" guru?
Jawaban:
Untuk memunculkan rasa ingin menulis (saya sebutnya passion atau hasrat) atau dlm bahasa kerrennya lentera hati πŸ˜…. Sehingga mjd hobi adalah dengan menyukainya terlebih dulu. Karena dgn suka/senang maka kita akan jd hobi. Sama spt saat kita berhobi main bulu tangkis misalnya. Kenapa hobi dg olahraga tsb? Tentu salah satu alasannya karena suka/senang. Kedua, enjoy dan menikmati. Ketiga, alasan lain misalnya ingin berbagi manfaat lewat tulisan yg kita buat.

Kalau kata trainer, motivator dan inspirator SuksesMulia pak Jamil Azzaeni: "bila ingin menjadi seorang yang expert (ahli): pilihlah kegiatan yang Anda KUASAI, Anda CINTAI, dan mengHASILkan". Prestasi terbaik adalah tujuan akhir yang hendak kita tuju, sementara expert adalah alat untuk mencapai tujuan itu

========================================================

Closing statement untuk sharing session ini:

" Jika aku adalah MEMBACA, dan kamu adalah MENULIS. Maka, kita adalah LITERASI.
Dua sejoli (membaca dan menulis) adalah senjata ampuh yang bisa merubah sumber daya manusia, menajamkan pengetahuan dan meraih kesuksesan.
Habis membaca terbitlah menulis. Tulisan itu pun akan senantiasa bersinar menerangi bacaan. Begitulah pepatah yang tepat bagi kedua pasangan sejati (membaca dan menulis) yang tak bisa dipisahkan karena keduanya selalu beriringan.

Kekuatan membaca yang telah kita serap akan meningkatkan keterampilan dalam menulis. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu juga dengan menulis, tulisan yang kita tulis tak lepas dari bacaan yang telah kita baca sebelumnya.

Jenis atau genre buku yang kita baca pun akan mempengaruhi cita rasa tulisan yang kita hasilkan. Menulis dengan hati akan sangat berarti dibandingkan hanya menulis dengan emosi.  “Scripta manent, verba volent” yang berarti apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Pepatah latin ini pun menjadi visi bagi sebuah tulisan yang telah tergoreskan pena.

Menulis juga menjadi senjata ampuh bagi para pencari ilmu, sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan “ikatlah ilmu dengan menulis”. Menulis telah menjadi mesin penyimpan ilmu yang tak pernah hilang ditelan zaman, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Imam Ghozali, Ibnu Taimiyyah, Imam Syafi’i, dan para cendekiawan muslim lainnya. Walaupun orangnya telah tiada tapi karya-karya para tokoh ulama tersebut sampai sekarang menjadi referensi dan rujukan bagi umat manusia.

Jika ingin umur panjang, menulislah!

Salam Literasi

Iin Amrullah
#EduWriter