Thursday, 2 August 2018

Saat Aku dan Kamu Menjadi Kita



Masa laluku milikku, masa lalumu juga milikmu,
tapi hari esok dan masa depan adalah milik kita
Melangkah bersama merajut rumah tangga
yang bertabur sakinah mawaddah warohmah

Saat akad telah terucap rasanya begitu bahagia hati ini. Saat pertama kali kita berjabat tangan rasanya masih canggung bercampur deg-degan. Sampai-sampai sang penghulu bilang bahwa kita sudah sah. Dengan hati bergetar dan rona wajah berbinar-binar aku pegang tanganmu dan kamu pun mencium tanganku untuk pertama kali. Detak jantungku berdebar-debar. Begitu juga detak jantungmu, merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Bahagia bercampur haru menghiasi aura wajah kita yang berbunga-bunga memancarkan syukur penuh cinta.

Moment sakral bernama ijab qobul terasa istimewa sekali. Prosesnya tak lama tak sampai 5 menit. Saat ayahmu (selaku wali) mengucapkan kalimat ijab tersebut. Lalu dibalas pernyataan qobul olehku dengan penuh kemantapan. Saat itulah secara resmi amanah sang ayah atas anaknya diserahkan kepadaku selaku suamimu. Sejak detik itu pula aku dan kamu resmi menjadi kita (sepasang suami-istri). Sebuah prosesi yang dikenal juga dengan mitsaqon gholidon (perjanjian yang amat kokoh) ini disaksikan juga oleh ratusan pasang mata keluargaku, keluargamu, sanak famili, sahabat serta para tamu undangan yang hadir. Mereka turut serta mendoakan dan menampilkan wajah bahagianya saat prosesi penting tersebut berlangsung.

Saat aku dan kamu menjadi kita, hidup ini terasa damai dan penuh ketenangan. Setiap hari rasanya bertabur aroma bahagia yang berlipat. Bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi mungkin sedikit bisa dilukiskan dengan ekspresi perumpaan berikut. Rasanya seperti berada di tepi pantai berpasir putih yang diiringi dengan dawai ombak yang berhembus. Tenang, sunyi, indah, sejuk dan damai di hati. Aku dan kamu seakan-akan berada persis di tepi pantai tersebut sembari menyaksikan puluhan ikan lumba-lumba yang berlompatan dan burung-burung pantai saling bercengkrama di atas pohon mangrove. Ah, indah sekali pokoknya.

Saat aku dan kamu resmi menjadi kita rasanya dunia ini hanya milik kita berdua, hehe. Kemana-mana bersama. Mulai dari makan sepiring berdua hingga berkunjung ke sanak famili keluarga besar kita masing-masing. Kini ayahmu adalah ayahku, ibumu juga ibuku dan semua keluargamu adalah keluargaku juga. Perjalanan jarak jauh terasa dekat saat bersamamu. Perjalanan Tegal-Purwokerto-Cilacap adalah perjalanan romantis kita di atas kendaraan saat seminggu pertama setelah kita menikah. Bahagianya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Inikah yang dinamakan nikmatnya pacaran setelah menikah? Pacaran yang halal antara suami-istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Ya, seperti inilah kebahagiaan penganten baru terpancar. Bahagia ini tak hanya milik kita tapi dirasakan juga oleh sahabat, kerabat dan keluarga besar kita. Alhamdulillah wasyukurillah. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Melalui postingan ini pula kami ingin mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan doanya rekan-rekan sahabat, kolega, keluarga dan semua yang tak bisa disebutkan satu per satu.



0 comments: