Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 29 April 2013

Menikah Pun Perlu Ilmu


Tiba-tiba saja tergerak untuk menulis tentang  ‘menikah’. Sebuah ikatan yang lebih besar energinya dari pada ikatan elektron. Lebih kuat ikatannya dibandingkan ikatan simpul pangkal atau pun simpul mati dalam tali temali. Walau saya sendiri belum merasakannya dan pengetahuanku pun masih sangat dangkal tentang hal ini, tapi rasanya ingin berbagi walau hanya sedikit berdasarkan buku yang pernah saya baca. Khusushon (spesial) tulisan ini saya berikan kepada teman-temanku yang mau menikah dalam waktu dekat dimanapun berada (karena akhir-akhir ini lagi banyak undangan walimahan yang datang) serta buat semuanya saja deh yang masih dalam proses untuk menikah. Ikhtiar itu harus. Persiapan juga perlu. Yang terpenting adalah harus siap bekalnya (lahir batin) dan yang lebih penting lagi mengetahui ilmunya. Karena menikah pun perlu ilmu dan harus dipersiapkan dengan matang, mantap, dan semangat ’45, hehe.

Sebelumnya saya ucapkan selamat menempuh hidup baru
bagi yang dalam waktu dekat ini akan melangsungkan atau yang baru saja
telah melangsungkan proses pernikahan. 
Teriring lantunan sebait do’a yang sering diucapkan dalam pernikahan:
Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir  
(mudah-mudahan Allah memberkahi untukmu, mencurahkan keberkahan atasmu
dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan).
Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah (samara).

“Setidaknya ada 3 bekal utama untuk mencapai kebahagiaan setiap pasangan (baca: suami-isteri), seperti yang diisyaratkan dalam Al-qur’an yaitu: membangun jiwa yang sakinah (tenang), menghidupkan semangat mawadah (cinta) dan mempertahankan spirit rahmah (kasih sayang)” begitu kata Asma Nadia dalam bukunya yang berjudul ‘Sakinah Bersamamu’. Cerita selengkapnya bisa dibaca sendiri yah dalam buku tersebut. Lika liku kehidupan berumah tangga, pahit manisnya, dan beragam jenis cerita inspiratif lainnya seputar permasalahan dalam rumah tangga ada dalam buku tersebut. Kalau diceritain disini tidak cukup waktunya.

Oke, kembali ke judul. “Menikah Pun Perlu Ilmu” begitu kata Ustadz Salim A. Fillah. Lebih detailnya tentang judul ini bisa dibaca selengkapnya di halaman 222-229 dalam buku beliau yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna”. Oleh karena itu, disini saya hanya akan mengulas point-point penting (intinya) yang disampaikan beliau, walau sebenarnya penting semua sih. Kata beliau, dalam isyarat Nabi tentang menikah ialah sunnah teranjur yang memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka menikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Sedikit menyebutkan bahwa kata beliau dalam buku tersebut persiapan menikah itu terbagi dalam 5 ranah: ruuhiyyah (spriritual), ‘ilmiyyah (pengetahuan), jasadiyyah (fisik), maaliyah (finansial) dan ijtimaa’iyyah (sosial). Oke, saya jelaskan sekilas tentang kelima ranah tersebut.

1.      Ruuhiyyah (spriritual)
Persiapan ini ialah yang paling mendasar. Segala persiapan nikah lainnya berpijak pada yang satu ini. Persiapan ruuhiyah (spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggung jawab hidup yang berlipat, berkelindan. Surat Ali Imran ayat 14: sebelum nikah ujian kita linear, pasangan hidup. Begitu nikah berjejalin; pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.

Sebelum nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitude kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH. Maka termakna jua dalam persiapan ruuhiyah (spiritual) terkait nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu. Sabar dan syukur itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih dan kurangnya.

Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, dan mendukung penuh perjuangan. Tetapi tak semua lelaki mampu beristri jauh lebih tua. Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tetapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya yang sampai banting piring di depan tamu.

Persiapan ruuhiyah nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa yang diperoleh, menuju apa yang akan dibaktikan. Jika nikah masih terbayang, lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, dan tukang cuci. Berobsesilah dalam nikah. “Apa obsesimu?”

Obsesi sebagai persiapan ruuhiyah nikah semisal: bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/istri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu? Usai itu, diantara persiapan ruuhiyah nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuan-Nya dalam rumah tangga dan masalah-masalahnya.

2.      ‘Ilmiyyah (pengetahuan)
Persiapan ‘ilmiyyah tsaqofiyyah (pengetahuan) nikah, meliput banyak hal semisal fikih, komunikasi pasangan, parenting, manajemen, dan lainnya. Bukan ustadz pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal ilmu syar’I yang dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumah tangga bukan karena ada maksud jahat, melainkan maksud baik yang kurang ilmu nikah.

Sungguh harus diilmui bahwa lelaki dan perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami dan bersinergi. Contoh beda hadapi masalah dan tekanan, wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi. Bayangkan jika pernedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi; “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai”. Konflik pasti meraja. Suami pulang dengan masalah berat disambut istri yang memaksa ingin tahu dan dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri dan bersolusi. BEDA. Bagi suami masalah harus disederhanakan (spiral ke dalam). Bagi istri, tiap detail dan keterkaitan sangat penting (spiral keluar). Dan banyak lagi BEDA yang jika tak diilmui potensial jadi masalah serius. Lengkapnya bisa disaksikan dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta.

Parenting. Waktu kita sempit, belum puas belajar jadi suami/istri, tiba-tiba sudah jadi ayah/ibu. Maka segeralah belajar jadi orangtua. Anak adalah karunia yang hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian). Maka mengilmui hingga detail-detal kecil soal parenting adalah niscaya. Hadits: renggutan kasar pada bayi membekas di jiwa.

3.      Jasadiyyah (fisik)
Kita masuk persiapan jasadiyyah (fisik) untuk nikah. Ini juga perkara penting, sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, dan ketenangan. Awal-awal, periksa dan konsultasilah ke dokter atas termungkinnya segala penyakit tubuh, lebih-lebih yang terkait kesehatan reproduksi. Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi dan rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah juga hal yang utama.

Fisik kita dan pasangan bertanggung jawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya dan staminanya sejak sekarang. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tanggung jawab jajan sembarangan, jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah menikah. Jadi, target persiapan fisik menikah itu 3 tingkatan, PRIMER: sehat dan aman penyakit, SEKUNDER: bugar dan tangkas, TERSIER: beauty dan charm.

4.      Maaliyah (finansial)
Selanjutnya persiapan maaliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui dan membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. Konsep awal, tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan dan penegasan kepemimpinan suami. Ingat dan catat. Persiapan finansial menikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah dan kendaraan yang harus Anda punya. Persiapan finansial menikah bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, dan kemampuan kelola sejumlah apa pun ia. Maka memulai pernikahan, BUKAN soal apa Anda sudah punya tabungan, rumah, dan kendaraan. Ia soal kompetensi dan kehendak baik menafkahi.

Ali bin Abi Thalib memulai nikah bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain sebagainya dari sumbangan kawan dihitung utang oleh Nabi. Tetapi Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten, dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma. Maka sesudah kompetensi dan kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja—apa pun ia—iman menuntun: nikah itu buat kaya (Surat An-Nuur ayat 32). Kata ustadz Salim, beliau juga minus saat nikah, utang yang terencanakan terbayar 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. Tetapi Allah Mahakaya, dan nikah menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya istri menjadi penyemangat, utang itu selesai dalam 2 bulan.

Buatlah proyeksi nafkah menikah secara ilmiah dan executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutan-Nya. Kemapanan itu tidak abadi. Saya (ustadz Salim) memilih nikah di usia 20 tahun saat belum mapan agar tersiapkan istri untuk hadapi lapang maupun sempitnya. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta.

5.      Iijtimaa’iyyah (sosial).
Persiapan menikah yang sering terabai ialah yang kelima ini: ijtimaa’iyyah (sosial). Pernikahan adalah peristiwa yang kompleks secara sosial. Sebuah pernikahan yang utuh mempunyai visi dan misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan. Untuk itu, mereka yang akan menikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan. Membiasakan mengomunikasikan prinsip-prinsip yang diyakini terkait pernikahan dan kehidupan kepada orangtua bisa jadi bagian dari latihan.

Prinsip Al-qur’an tentang hubungan dengan orangtua ialah “persahabatan”, wa shaahibhumaa (Surat Luqman ayat 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. Maka kadang ustadz Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin menikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada orangtua secara makruf. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dan seterusnya.

Pernikahan kita harus hadir sebagai pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor. Mulailah dengan perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti, tetangga rumah tinggal setelah nikah adalah yang paling berhak diundang. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jaga dengan perkenalan. Para tokoh: datangi, silaturahimi. Masyarakat umum: undang tasyakuran.

Setelah itu, target besarnya adalah menjadikan pintu rumah kita sebagai yang paling pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. Tentu berat menopangnya sendiri. Maka yang harus kita punya bukan hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan saling menguatkan. Ilmuilah bagaimana cara menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis dan lainnya DEMI TETANGGA KITA.

Tampillah sebagai yang penting dan bermanfaat dalam hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. Tampillah sebagai yang terbaik sejangkau sesuai kemampuan; imam masjid, muadzin, guru TPA, bendahara RT, ketua RW, pendoa jenazah, dst. Tampillah sebagai yang paling besar kontribusi dalam kebaikan-kebaikan sosial: agustusan, syawalan, kerja bakti, arisan, pengajian, dst. Ringkas kata untuk persiapan sosial nikah ini adalah bermampu diri untuk menjadi pribadi dan keluarga yang AMAN, RAMAH, dan BERMANFAAT.

Demikian sekilas sedikit (tapi banyak) tentang ilmu dalam menikah beserta langkah-langkah persiapan yang harus dipersiapkan semuanya. Sekali lagi jika ingin mengetahui lebih lengkapnya bisa membaca buku Ustadz Salim A. Fillah yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna” halaman 222-229 atau buku beliau yang lain berjudul “Bahagianya Merayakan Cinta”. Bisa juga untuk mengetahui proses seputar lika-liku kehidupan berumah tangga dalam bentuk cerita, yang tentunya banyak makna yang bisa kita ambil ada di bukunya mba Asma Nadia yang berjudul ‘Sakinah Bersamamu’. Dan pastinya masih banyak referensi yang lain yang bisa digunakan (sesuai selera yang kita sukai), karena menikah pun memang perlu mengetahui ilmu-ilmunya. Wallahu a’lam bishowab.

Masyarakat Menanti-mu!



Memahami lebih mudah daripada mencerdaskan (masyarakat). Karena berbeda itu pelangi. Mewarnai jauh lebih bermakna. Butuh waktu. Perlu proses. Semakin banyak mengetahui (harusnya) menjadi semakin lebih bijak. Begitu kata pepatah “Kun ‘aaliman, takun ‘aarifan”

#menyalakan lilin memang lebih sulit dibandingkan dengan meniupnya.

Merintis yang tak terjangkau? Sakit memang menyehatkan syukur. Karena sehat itu murah. Tapi bagi masyarakat, sakit menjadi beban tersendiri. Mahal biayanya. Padahal untuk biaya hidup juga pas-pasan. Biaya dari mana? Jamkesmas? Dipandang sebelah mata, katanya. Kok bisa?

#Lembaga kesehatan yang murah bagi masyarakat, ramah, dengan tenaga medis yang handal, pelayanan cepat, sarana prasarana lengkap, dan obat yang cukup mewadai. Itulah idealnya yang dibutuhkan masyarakat.

Kata Nena Fauzia “karena mindset mayoritas masyarakat (termasuk pemerintah) Indonesia masih menitikberatkan pada aspek kuratif (pengobatan), bukan preventif (pencegahan). Jawab kang Amroelz “ itulah yang harus dicerdaskan kepada masyarakat”.

            Penyakit yang kronis. Susah disembuhkan. Menjangkit di masyarakat. Mudah menyebar. Berbahaya. Iya, itulah penyakit ghibah (baca: ngerasani wong atau ngerumpi).

#Sebenarnya obatnya simple yaitu diam. “Falyaqul khoiron au liyasmut” hendaklah berbicara baik, atau lebih baik diam. “Falyukrim jaarohu” hendaklah menghormati tetangganya.

            Kasih ibu selalu berlebih. Jerih payah ayah tak kenal lelah. Kakek-nenek yang visioner penuh perhatian. Paman-bibi yang selalu mendukung. Segenap keluarga besar dengan support besar. Masyarakat yang senantiasa ramah dengan senyum penuh harap. Semuanya menanti kiprahmu! Budi balasmu ditunggu oleh mereka!

#bismillah, bersama-Nya tak ada jalan buntu. Ganbareba, zettai dekiru! (Berjuanglah, pasti bisa!)

Thursday, 25 April 2013

Kepada, Ayah #3 (Antologi buku-ku yang ke-7 dan kado spesial untuk Ayah)



-Sosok sedikit bicara, banyak bekerja- itulah Ayah

Jerih (P) Ayah Tak Kenal Lelah, itulah judul tulisanku yang lolos dalam event menulis Flash True Story (FTS) “Ayah” yang diadakan oleh Penerbit Harfeey Yogyakarta. Alhamdulillah, tulisanku lolos dan kini sudah terbit April 2013 (sekaligus menjadi buku antologiku yang ke-7). Berikut ini sedikit ulasan sekilas tentang tulisanku dalam buku “Kepada Ayah #3” tersebut:

“Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini. Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan. Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari, kini kurus dan terbungkus. Namun semangat tak pernah pudar, meski langkahmu kadang gemetar, kau tetap setia. Ayah, dalam hening sedih ku rindu” petikan lagu “Titip Rindu Buat Ayah” karya Ebiet G. Ade ini selalu membuatku rindu dengan ayah. Aku dan ayah jarang bertemu, karena ayah bekerja merantau di Cirebon dan pulangnya 2-3 bulan sekali. Sementara aku semenjak SMA merantau ke Pemalang dan melanjutkan kuliah di Purwokerto. Seandainya saja ayah punya handphone pasti aku akan sering menelepon atau minimal sms ayah walau hanya sekedar menanyakan kabar.

Liburan semester 4 aku putuskan untuk berkunjung ke tempat kerja ayah. Inilah pertama kalinya aku ikut menemani ayah berdagang di sudut perempatan kota Cirebon. Aku merenung sejenak melihat ayah yang sedang membuat martabak. “Semangatnya selalu terpahat setiap saat. Karirnya terukir jelas dalam keistiqomahan menafkahi keluarga. Kerasnya perantauan tak pernah menggoyahkan jiwa tangguhnya. Sabarnya selalu berkobar walau harus mendorong gerobak setiap hari. Ikhlasnya selalu terhias dalam setiap kelelahan yang menghampirinya”. Sejak aku masih dalam kandungan ibu hingga aku menjadi mahasiswa sampai saat ini, ayah masih senantiasa tekun dengan usahanya tersebut, yaitu menjadi seorang pedagang martabak dan kue pukis. Ayah sudah menekuni usaha tersebut hingga puluhan tahun. Tak pernah ada kata menyerah dalam hidup ayah. Itulah jerih payah ayah yang tak kenal lelah. (Tulisan selengkapnya ada di buku antologi “Kepada Ayah #3”). Berikut ini sekilas tentang info buku tersebut yang saya dapatkan dari penerbit Harfeey:


Genre : Kumpulan FTS
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin
Layout : Boneka Lilin
Design Cover : BoLin & Ary
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-7876-44-6
Tebal : 145 Hlm, 14, 8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp37.000,- (Harga kontributor Rp31.000,- setiap pembelian bukunya)


Sinopsis:

Kepada, Ayah...
Yang sebagian diriku berasal darinya.
Kepada, Ayah...
Yang rela merendahkan diri demi meninggikanku, anaknya.
Kepada, Ayah...
Yang dalam diamnya terdapat banyak cerita.
Kepada, Ayah...
Yang menghidupiku dari perahan peluh dan airmata.
Kepada, Ayah...
Ku tulis kisah untuk mengabadikannya.
Hanya kepada, Ayah...
^^^

Kontributor :
Boneka Lilin, Ary Hansamu Harfeey, Rezita Agnesi Siregar, Wahidiah, Anisa Sholihat, Alifatul Mastikha, Fauzia Aurero, Nurhidayah, Hafni_Smile, Nia Dwi Retnowati, Laraswati, Ainun Nisa Nadhifah, Ika Hikmatilah, Nur Arifah, Nenny Makmun, Hasna Sabrina Munazkia, Ayu Uswah Munjiah, Tyffah Annur, Irna Khairunnisa, Naelil, Murti Handayani, Lula Melinda Yasmin, Ari Ika Wati, Zuchri Lubis, Mery Eldiandra, Regina Mega Pratiwi, Erwin Setiawan, Nur Dwi Ratnasari Ningtyas, Arfi Noor, Eni N.N, In Amullah, Dian Eka Putri Mangedong, Liliani Suciasih, Rizki Amalia Oktisah, Nitha Ayesha, Hardiatun Nida.

Ada banyak kisah nyata inspiratif dan mengharukan seputar sosok yang mayoritas tak banyak bicara tapi banyak bekerja; Ayah. Grab it! Sms 081904162092

Dekan Baru, Sambut Tahun Emas Fakultas Biologi Unsoed


Dekan Baru, Sambut Tahun Emas Fakultas Biologi Unsoed
(Sebuah Harapan: Dari Mahasiswa Untuk Dekan Fakultas Biologi Unsoed 2013-2018)



Sebelumnya, saya ucapkan SELAMAT & SUKSES kepada:
ibu Dra.Hj.Yulia Sistina, M.Sc. Stud., Ph.D.
yang terpilih menjadi Dekan Fakultas Biologi Unsoed periode 2013-2017
           
Tulisan ini sebelumnya pernah diposting di grup civitas akademika Fabio Unsoed beberapa waktu yang lalu saat menjelang proses pemilihan Dekan Fakultas Biologi Unsoed. Waktu itu diposting oleh Pak Hendro, karena waktu itu sesuai dengan ketentuan yang diminta oleh beliau. Sumber tulisan ini saya dapatkan dari beberapa teman mahasiswa dan alumni yang saya sms, kemudian saya himpun menjadi 10 point seperti yang tertulis di bawah ini. Semoga tulisan ini bisa menjadi masukan sekaligus saran bagi dekan terpilih (ibu Yulia), walau waktu itu saya juga sempat diskusi (ngobrol-ngobrol) dengan bu Yulia, beberapa hari sebelum pemilihan dekan oleh senat fakultas.

Dekan baru, harapan baru bagi seluruh warga civitas akademika Fakultas Biologi Unsoed. Dekan baru semangat baru menyambut dan menyongsong tahun emas kampus biru ini. Walau mahasiswa tidak dilibatkan dalam proses pemilihan dekan baru, semoga melalui tulisan ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan masukan bagi dekan terpilih. Siapapun nanti yang terpilih semoga bisa memimpin kampus ini semakin berkembang dan maju. Menjadi nahkoda dalam membawa kampus biru ini menjadi kampus yang semakin “Semper Excelcius Pro Proximo Nostro”. Berikut ini adalah masukan, saran, dan harapan (dari beberapa mahasiswa dan alumni yang saya hubungi) bagi dekan terpilih semoga bisa menjadi bahan pertimbangan demi kemajuan kampus kita ini:

1.      Perlunya penambahan matakuliah tentang wirausaha (tentang biopreneurship) guna menunjang mahasiswa (khususnya yang tertarik dengan dunia wirausaha) sekaligus bisa menjadi bekal bagi mahasiswa setelah lulus kuliah, karena walaupun beberapa MKP sudah ada yang menerapkan tapi masih kurang maksimal. Harapannya juga bisa ada praktek langsung atau magang tentang biopreneurship.

2.      Perlunya penambahan matakuliah tentang “karya ilmiah” guna meningkatkan pemahaman mahasiswa dan meningkatkan atmosfir ilmiah di lingkungan kampus untuk lebih tertarik dengan budaya ilmiah seperti LKTI, Olimpiade Biologi, PKM, penulisan jurnal ilmiah, dan kegiatan2 yang lainnya.

3.      Terkait jam kuliah, terkadang memakai waktu Sabtu-Minggu, padahal waktu ini biasanya digunakan untuk agenda UKM (bagi aktivis), sehingga minat mahasiswa untuk berorganisasi menjadi berkurang karena padatnya akademik.

4.      Terkait jadwal tes TOEFL, selama ini seringnya mahasiswa Fabio yang jarang lolos ujian TOEFL langsung lulus. Dulunya ujian TOEFL dilakukan selama 2 kali sebulan tapi sekarang sebulan sekali, jadi semakin mempersulit mahasiswa yang mau lulus wisuda (terutama bagi mahasiswa yang tidak langsung bisa lulus ujian TOEFL karena harus mengikuti ujian lagi bulan depannya)

5.      Desa binaan Fabio: hendaknya mahasiswa atau UKM juga dilibatkan dalam pengelolaan desa binaan, jadi bukan hanya dosen saja yang mengelola. Agar mahasiswa juga mendapat bekal ilmu tentang kegiatan pengelolaan masyarakat

6.      Dekan baru harapannya bisa lebih dekat dengan mahasiswa dengan mengadakan gathering mahasiswa se-Fakultas Biologi Unsoed

7.      Perlunya dibentuk BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) atau HIMA (Himpunan Mahasiswa) yang merupakan wadah bagi seluruh aspirasi mahasiswa Fabio, karena selama ini hanya ada UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).
-          Beberapa upaya dari mahasiswa sudah pernah dilakukan terkait pembentukan kembali BEM Fabio, akan tetapi usaha yang pernah dilakukan belum membuahkan hasil, sehingga harapannya dekan baru bisa menjadi fasilitator terkait pembentukan BEM Fabio.

-          Saat ini (tahun 2013) sebagian mahasiswa sedang menkonsep dan merumuskan  KBM Fabio (Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Biologi) Unsoed. Harapannya dekan yang baru bisa mensupport dan mendukung penuh dengan tindakan yang nyata

8.      Perlunya pendirian masjid / mushola, karena bangunan mushola yang sekarang kurang besar dan kurang representatif. Selama ini ketika mau sholat harus ngantri padahal biasanya mahasiswa ada yang mau kuliah atau praktikum pada jam-jam memasuki waktu sholat (khususnya sholat dhuhur dan ashar).

9.      Perlunya pengoptimalan Forum alumni atau keluarga alumni Fabio, karena pendapat dari salah seorang alumni mengatakan forum alumni yang sekarang sudah ada masih kurang aktif dan kurang diminati sama teman-teman alumni, karena programnya kurang menarik. Selama ini juga sepertinya belum pernah terlihat kegiatan dari forum tersebut. padahal jika forum tersebut dioptimalkan dengan maksimal bisa buat sharing-sharing mahasiswa yang mau PKL atau penelitian ke luar kampus ataupun mencari link pekerjaan, mengadakan softskill tentang bio-entrepreneurship, mengadakan program beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu, memberi masukan dan saran bagi fakultas, dan sebagainya.

10.  Kerjasama dengan instansi atau perusahaan tertentu untuk menjalin kerja sama di bidang lowongan pekerjaan (khusunya di bidang biologi)

Berikut ini adalah visi misi dari ibu Dra.Hj.Yulia Sistina, M.Sc. Stud., Ph.D. (Dekan Fakultas Biologi Unsoed periode 2013-2017). Visi misi ini juga pernah diposting di website Fabio dan dipasang juga dalam baner di lobi depan dan lobi tengah Fabio. Mari kita dukung bersama seluruh warga civitas akademika Fabio Unsoed. Bergerak bersama dan saling bersinergi membangun kampus baru semakin maju dan jaya. Maju Terus Pantang Menyerah seperti semangatnya sang Jenderal Soedirman yang tak pernah redup.

Visi :
“Toward internationally recognized Faculty of Biology based on rural resources empowerment and local wisdom”
“Menuju internasionalisasi Fakultas Biologi berbasis pemberdayaan sumberdaya perdesaan dan kearifan lokal”

Misi :
1. Membangun budaya academic excelency melalui pelaksanaan tri dharma PT dengan penerapan sistem penjaminan mutu
2. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (human resources empowering) melalui penerapan merit system
3. Mempertahankan dan/atau meningkatkan akreditasi program studi
4. Meningkatkan daya saing lulusan dengan pengembangan co-kurikuler dan ekstrakurikuler
5. Meningkatkan efisiensi penggunaan aset melalui resource sharing
6. Meningkatkan citra fakultas melalui kerjasama kemitraan nasional dan internasional

Dasar penyusunan Program 4 tahun untuk mewujudkan visi melalui 6 misi adalah :
§ Renstra Fakultas Biologi 2015
§ Renstra universitas Visi Misi Unsoed 2020
§ Dokumen Evaluasi Diri Fakultas Biologi 2011
§ Data SDM awal Maret 2013
§ UU no 12 tahun 2012 tentang PT
§ Draf Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi

Program untuk dilaksanakaan dalam 4 tahun (2013-2017) :
Strategi pencapaian misi :
1. Peningkatan Kinerja Dosen
2. Peningkatan Kinerja Tenaga Kependidikan
3. Peningkatan sarana pembelajaran KBK berkualitas
4. Peningkatan atmosfer akademik berfokus pada mahasiswa
5. Peningkatan networking dengan institusi dalam dan luar

Program dijabarkan dalam kegiatan berikut.
1. Kegiatan program peningkatan kinerja dosen :
§ Meningkatkan kinerja dosen dengan menyediakan peer review untuk penyusunan usul penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi ilmiah
§ Mengembangkan budaya kerja berbasis teknologi informasi komunikasi (ICT)
§ Optimalisasi sarana prasarana untuk peningkatan kinerja
§ Penerapan merit system

2. Kegiatan program peningkatan kinerja Tenaga Kependidikan :
§ Analisis kebutuhan (need assessment) kondisi yang dibutuhkan tenaga kependidikan untuk meningkatkan professionalisme menuju era merit system (remunerasi)
§ Evaluasi prosedur untuk implementasi kebijakan merit system bagi staf penunjang

3. Kegiatan untuk program peningkatan sarana pembelajaran KBK:
§ Evaluasi daya tampung menuju pembelajaran KBK efisien produktif, minimal memenuhi standar nasional menuju standar internasional
§ Peningkatan efisiensi pemanfaatan asset melalui penerapan resource sharing berkearifan

4. Kegiatan program peningkatan atmosfer akademik berfokus pada mahasiswa :
§ Peningkatan keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan kegiatan akademik dosen yang lain
§ Pembentukan pusat pembelajran mahasiswa (student learning centre) untuk pemberdayaan mahasiswa yang mendidik, santun, dan bertanggungjawab menuju manusia madani.

5. Kegiatan Program Peningkatan networking dengan institusi luar :
§ Improving program networking
§ Improving institution networking
§ Peningkatan Peran alumni
§ Peningkatan citra fakultas melalui pelibatan mahasiswa dalam pengabdian masyarakat dosen ke instutusi pendidikan menengah dan masyarakat pendidikan lain yang membutuhkan.
§ Recognition international activity/ies

Monday, 22 April 2013

Sakit itu Menyehatkan Syukur


Datang tak diundang. Pulang tak diantar. Muncul secara dan dengan tiba-tiba. Tak kasih kabar dulu. Tak ada kode apa pun. Tiada angin, serasah daun itu pun berguguran dengan sendirinya. Itulah sakit. Menjadi pengingat bagi hidup kita. Atau mungkin sebelumnya sudah kasih tanda kepada kita, hanya saja kita tidak mengetahui alarm itu berbunyi. Sebesar apa pun cobaan itu, itulah sebuah nikmat yang harus disyukuri dan dihadapi dengan ikhlas. Sepahit apapun rasanya, hadapilah dengan sabar. Fabiayyi aalaa’i robbikumaa tukadzibaan??? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan??? Ayat ini pun diulang-ulang sebanyak 31 kali dalam Surat Ar-Rahman. Dibalik sakit tersebut pasti ada hikmah yang bisa kita petik darinya. Tak terasa 11 hari sudah berlalu bersama rasa yang begitu nikmat ini. Rasa yang datang secara tiba-tiba siang hari itu, Senin, 8 April 2013. Padahal pagi harinya baru saja mendaftar seminar hasil penelitian ke Komisi. Siang harinya rasa itu mulai datang. Sore harinya rasa itu benar-benar merasuki tubuhku, hingga sempat membuatku untuk tidur sejenak di laboratorium mikrobiologi dan akhirnya aku putuskan menghentikan aktivitasku sore itu juga. Pulang dan istirahat total di kosan.

Padahal siang harinya juga aku baru saja meng’iya’kan untuk menjadi juri LKTI di kwarcab Banyumas. Tapi apa boleh buat, kondisi berkata lain. Esok harinya aku batalkan niatku menjadi juri. Istirahat total. Padahal hari itu juga pengumuman jadwal semhasku sudah keluar. Acara MTQ juga sudah semakin dekat. Apa boleh buat, aku harus membalas sms-sms dari para peserta yang hendak mendaftar. Harus professional. Malam harinya aku pun periksa ke dokter. Karena kondisinya semakin memburuk. Tiga hari berlalu. Obat yang dikasih dokter juga sudah hampir habis, namun sakitku tak kunjung sembuh. Demam, panas, dingin, mual-mual, pening dan pusing datang secara bersamaan. Menyatu menjadi rasa yang begitu terasa sekali nikmatnya. Harus istirahat total. Makan tak enak. Seenak apapun makanannya, perutku menolak. Semua terasa pahit. Sepahit suasana yang sedang aku alami ini, terbaring di dalam kamar kosan berukuran 2 x 3 meter ini. Apakah aku akan terus lanjut untuk semhas senen depan? Apakah harus meninggalkan panitia MTQ Unsoed?

Periksa lagi untuk kedua kalinya. Karena sudah 3 hari ini belum ada tanda-tanda kesembuhan. Rasanya masih sama seperti kemarin. Setelah diperiksa oleh dokter ternyata aku terindikasi gejala typus, tapi rasanya masih saja komplikasi rasa yang bersatu padu. Sebenarnya dokter menyarankanku untuk dirawat inap di rumah sakit. Akan tetapi aku lebih memilih dirawat di kosan sendiri saja dengan alasan aku harus menyiapkan untuk semhas, seperti menemui semua dosen  (penelaah, pembimbing, pengamat, notulis dan moderator) serta memastikan semuanya hadir, membagi undangan ke mereka, ngprint paper skripsi dan paper of research result seminar. Akhirnya dokter pun memberikanku 7 buah macam obat yang harus diminum dan dihabiskan. Kembali aku harus istirahat total. Inilah nikmat yang harus aku syukuri. Walau kondisinya belum mengenakan, tapi sebagai panitia MTQ pun aku sempatkan datang dalam acara tersebut. Walau harus bolak balik ke kosan juga karena kondisi yang tidak memungkinkan. Istirahat lagi di kosan lumayan lama, baru sore hari kembali lagi ke lokasi acara MTQ di gedung rektorat ketika menjelang akhir acara. Alhamdulillah, akhirnya usai juga acara MTQ, aku kembali pulang ke kosan dan istirahat di kosan dengan tenang.

            Hingga akhirnya waktu semhas itu pun datang. Walau kondisi belum fit, aku harus tetap berangkat karena sudah memfix-an kalau hari itu semhas. Jika diundur, nanti akan ribet lagi prosesnya. Bisa dibilang semhas yang kurang persiapan, karena kondisi badan yang tidak bersahabat untuk belajar, H-1 baru bikin slide presentasi, dan hanya baca materi yang ada di naskah skripsi. Bersyukur, semua dosen penguji hadir semua dan teman-teman pun banyak yang datang hingga sebagian ada yang tidak bisa masuk karena sudah penuh ruangannya. Di tengah-tengah berlangsungnya semhas badanku kembali ngedrop, bibir dan tenggorokanku menjadi kering kerontang, lupa tidak membawa air banyak. Hanya 1 gelar air mineral, itu pun sudah habis saat menjelang semhas berlangsung. Walau belum maksimal dalam semhas, tapi aku harus bersyukur telah bisa melaluinya. Pasca semhas aku langsung pulang ke kosan dan langsung istirahat total lagi. Sungguh nikmat rasanya. Rasa ini semakin membuatku bersyukur. Sudah seminggu ini berteman dengannya dalam suka maupun duka.

            Sudah 11 hari rasa sakit ini menjadi teman sekaligus pengingat bagiku. Sakit yang telah membuatku semakin menambah rasa syukur kepada-Nya. Inilah nikmat yang tiada tara. Tak bisa kemana-mana, tak bisa banyak melakukan banyak aktivitas, tak bisa berbuat banyak, tapi satu hal yang terpenting adalah sakit ini telah membuatku semakin dekat untuk mengingat-Nya, berintrospeksi diri, muhasabah diri, merenungi diri, dan mensyukuri atas nikmat yang begitu agung ini. Alhamdulillah wasyukurillah, meski di tengah-tengah rasa sakit yang begitu menggebu, Allah masih memberiku kekuatan untuk melangkahkan kaki ini menuju masjid. Walau harus sambil duduk dan mengenakan jaket tebal, tapi sungguh luar biasa rasanya. Laa haula walaa quwwata illa billahil’aliyyil ‘adhim.

Sakit itu zikrullah. Sakit itu muhasabah. Sakit itu nasihat. Sakit itu belajar. Sakit itu gugur dosa. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis. Begitulah hakikat sakit papar ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna”. Sakit, sebagaimana tiap ujian, bukan menguji kemampuan sebab telah ditakar sesuai daya tahan. Ia menguji kemauan memberi makna. Maka dia yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yang selalu sehat itu tertakjub. Sungguh memesona Mas Pepeng Soebardi, yang pernah memaknai sakit dan musibah: “Tugas kita meng-HADAP-I, biar Allah yang meng-ATAS-i!”. Sakit itu membaca, menulis, berkarya. Berbaring setengah duduk memungkinkan tekun cerap ilmu lewat buku, kalimat terucap, maupun gambar gerak. Habiburrahman El-Shirazy goreskan Ayat-Ayat Cinta saat terbaring patah kakinya. Sakit itu dijamin cinta Allah dalam sabarnya; sabar tetap ibadah, sabar tak bermaksiat, sabar tahan derita dan sabar menunda capaian. Demikian tambah ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya tersebut.

Sunday, 7 April 2013

Merajut Benang Cinta Hingga ke Surga

Awali dengan basmalah, akhiri dengan hamdalah. Kalau sudah lampu hijau, baru boleh lanjut. Eits, sebelumnya ada iklan mau lewat dulu nih sebentar. Warning…!!! Bagi yang belum
cukup umur dilarang membaca tulisan ini yah, hehe.

Ada “rasa” yang berbeda ketika kita menjadi panitia, pembicara, atau peserta dalam sebuah event tertentu. Sungguh, sangat berbeda nyata “rasa”nya. Hanya hati yang tahu. Edisi kali ini saya berperan sebagai peserta. Lebih tepatnya adalah peserta Talk show time Half Dien yang bertemakan “Merajut Benang Cinta Hingga ke Surga” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Muslim Kedokteran (HMMK) Unsoed. Bertempat di Aula Dekanat Lantai 3 FKIK Unsoed, ratusan peserta berjumlah ± 70% akhwat (perempuan) dan 30% ikhwan (laki-laki) turut serta menghadiri acara ini yang dilaksanakan pada hari Ahad, 7 April 2013. Acara ini diisi oleh 3 narasumber yang sangat kompeten yaitu Ustadz Moh. Fauzil Adhim (sesi: “Kiat Menjemput Jodoh-Nya”),  dr. Hilma Paramitha, SpKJ (sesi: “Aspek Psikologis Jenjang Pernikahan”), dan Ustadz Salim A. Fillah (sesi: “Ada Keluarga di Surgaku”).

Apa itu Half Dien? Kata kedua MC yang modern ini (karena membawa gadget atau tablet berisi susunan acara, bukan kertas yang dilipat seperti biasanya MC). Half Dien secara bahasa artinya setengah agama. Maksudnya apa? “Menikah” papar sang MC. Karena menikah merupakan setengah agama. “Siapa yang mau menikah?” tanyanya. Sontak para peserta yang hadir pun mengacungkan tangan termasuk saya, hehe. Iya, semua orang pasti ingin menikah, maka dari itu harus disiapkan karena hidup itu bukan sekedar memilih atau pilihan tapi yang lebih penting adalah proses untuk menyiapkan menjemput tulang rusuk kita (baca: menikah) dan tentunya untuk menggapai ridho-Nya. Sepertinya para peserta yang hadir dalam acara ini pun sangat antusias sekali. Pokoknya cetar menggelegar deh suasananya.

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum: 21). Lantunan ayat ini begitu syahdu dan menentramkan hati yang dibacakan oleh petugas tilawah. Ayat ini pula yang menjadi pokok bahasan dalam talkshow ini. Ayat ini juga biasanya tertera dalam undangan walimahan (pernikahan) papar Ustadz Salim A. Fillah. Dalam acara akad pernikahan juga pasti ayat ini sering dilantunkan.

Sesi pertama diisi oleh Ustadz Moh. Fauzil Adhim tentang “Kiat Menjemput Jodoh-Nya”. Jodoh itu tidak terkait dengan penampilannya, bukan pula melihat siapa orangnya, akan tetapi bagaimana langkah-langkah  kita untuk menuju ridho-Nya, demikian jelas ustadz Fauzil adhim yang menceritakan juga tentang pengalaman beliau yang sudah menikah ketika masih menjadi mahasiswa. Penulis buku “Ku Pinang Kau Dengan Hamdalah” ini menambahkan bahwa jodoh itu apakah datang di dunia atau di akhirat. Sejauh mana ikhtiar kita sesuai dengan tuntunan yang diridhoi-Nya. Dalam urusan jodoh yang paling pokok kata beliau ada tiga: a).menjaga usaha dan ikhtiar kita sesuai dengan ridho-Nya, b).bersungguh-sungguh dengan niat, dan c).mensyukuri apa yang Allah tetapkan kepada kita. Yang paling utama dalam memilih adalah dzat dien’nya (agamanya), tambah beliau. Banyak berdo’a boleh tapi jangan berlebih-lebihan dalam berdo’a. “Sesungguhnya bersama sunah ada barokah, maka temukanlah sunah itu” papar beliau mengakhiri sesi pertama.

Sesi kedua diisi oleh seorang dokter psikologi kesehatan RSUD Margono Banyumas, yaitu dr. Hilma Paramitha, SpKJ yang membahas tentang “Aspek Psikologis Pernikahan”. Kata dr. Hilma, pernikahan adalah sebuah perjanjian besar (mitsaqon gholizan) antara dua insan yang berbeda dalam sebuah ikatan. Menikah merupakan kebutuhan setiap individu (kebutuhan biologis, psikologis, dan sosial). Secara psikologis ketika akan menikah harus benar-benar siap lahir batin dan memiliki kematangan dalam pemikiran, papar beliau yang juga menjelaskan tentang teori-teori psikologi (maaf bahasanya agak berat dan terlalu tinggi, sehingga saya tidak mencatat semua, hehe). Untuk menuju keluarga yang sakinah dalam pasangan suami istri itu harus saling pengertian (memahami satu sama lain), kebersamaan, memberikan penghargaan, komunikasi yang intens dan kematangan dalam emosi, demikian papar dr. Hilma mengakhiri sesi kedua ini.

Sesi ketiga adalah tentang “Ada Keluarga di Surgaku” oleh Ustadz Salim A. Fillah. Setelah membacakan mukadimah yang sangat panjang, ustadz salim membawakan suasana menjadi semakin hidup. Sebenarnya kalau saya ringkas, ustadz Salim menjelaskan tentang 1 ayat (surat Ar-Ruum ayat 21) dan 1 buah hadist (tentang do’a) menikah yang paling baik yaitu Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir (mudah-mudahan Allah memberkahi untukmu, mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan). Begitulah inti yang disampaikan beliau, akan tetapi penjelasannya begitu detail, kompleks, disertai dengan tafsir, kutipan, pendapat, dan cerita-cerita yang mudah dipahami oleh para peserta. Itulah ciri khas beliau, seperti gaya beliau juga dalam menulis buku. Jadi, sebenarnya saya ingin tanya “berapa banyak buku atau referensi yang dibaca ustadz dalam tiap harinya?” akan tetapi pertanyaan sudah diborong oleh 2 penanya dan waktunya habis duluan. Tapi terkait tips-tips menulis beliau menyarankan untuk membuka saja catatan beliau di website www.salimafillah.com.

Kembali ke laptop (eh salah, kembali ke pembahasan maksudnya). Sebenarnya agak bingung mau menulis yang mana karena yang disampaikan beliau sangat banyak. Kutipan beliau itu sangat luas seperti profesor pembimbing skripsiku (kok malah jadi curhat, hehe. Maaf, selingan dikit y biar ga kaku membaca release bahasa khas Koran ^,^). “Bahagia dan punya anak” bukanlah puncak kebaikan dari menikah, bukan pula menikah itu biar langgeng sampai akhir hayat saja, tapi bahagia sampai menuju surga-Nya. Beliau sedikit menceritakan tentang pamannya yang menikah di tahun 80-an berawal dari do’a bersin. Suatu ketika lagi naik kereta. Tahun 80-an seorang yang berjilbab pada waktu itu masih sangat langka dan jarang. Laki-laki itu bersin dan mengucapkan “alhamdulillah”, dan tiba-tiba saja terdengar suara dari belakang “yarkhamukallah”, ternyata suara dari wanita yang berjilbab itu. mungkin 1 kerete hanya wanita itu yang berjilbab. Singkat cerita, laki-laki tersebut meminta alamat rumahnya. Tibalah di rumah sesuai dengan alamat yang diterimanya itu. Ditemuilah seorang bapak dan menyatakan maksudnya ingin bersilaturahmi dan ingin belajar bagaimana cara mendidik anak-anaknya. Singkat cerita lagi, laki-laki tersebut menyatakan ingin ta’aruf dengan anaknya. “Anak yang mana, karena anak perempuan saya ada 5” jawab sang ayah. “Dari mana anda tahu kalau saya punya anak perempuan” tanyanya lagi. Laki-laki itu menjawab kemarin waktu saya naik kereta ada perempuan berjilbab yang mendo’akan saya ketika bersin. Terus ditawarin anak yang mana, laki-laki itu hanya menjawab terserah bapak. Owh, yang “itu” saja y. Iya pak, kata laki-laki itu mantap padahal belum tahu sama sekali dan belum pernah bertemu dengan akhwat itu. Akhirnya mereka menikah. Hikmah yang bisa diambil dari cerita ini sangat banyak (silahkan pembaca mengambil sendiri yah hikmahnya).

“Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah” (H.R. Al-Bukhari [3336] secara mu’allaq dari ‘Aisyah, dan Muslim [2638], dari Abu Hurairah) ~ dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang (halaman 237), begitulah yang beliau sempat paparkan di awal memulai materi. Ketika akan menikah harus tahu ilmunya, siap dengan perbedaan juga ada ilmunya, memahami masing-masing karakter juga dengan ilmu. Intinya pelajari ilmunya sebelum menikah, papar beliau. Karena menikah pun perlu ilmu (lebih detailnya tentang hal ini bisa dibaca di halaman 222-230 dalam buku beliau yang baru berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna”). Sedikit menyebutkan bahwa kata beliau dalam buku tersebut persiapan menikah itu terbagi dalam 5 ranah: ruuhiyyah (spriritual), ‘ilmiyyah (pengetahuan), jasadiyyah (fisik), maaliyah (finansial) dan ijtimaa’iyyah (sosial). Masing-masing ada penjelasannya, banyak. Jadi, penjelasan lebih lengkap baca buku tersebut yah. Kalau sudah siap dengan kelima hal tersebut, bolehlah untuk menikah, hehe. Dalam paparannya juga beliau sempat menjelaskan bahwa kalau menikah harus sekufu (selaras). Konsep sekufu dalam pernikahan ditegakkan dengan tujuan memberikan keamanan, kemaslahatan dan kenyamanan dalam pernikahan. Ukuran sekufu dalam Dien  bukan semata soal perbendaharaan ilmu, melainkan juga komitmen keberagamaan (ilmu-amal-akhlak), demikian papar beliau dalam buku tersebut halaman 229 (Jadi, lebih lengkapnya baca bukunya yah…^@^).

            Oke, cukup sampai disini dulu ya cerita tentang “menikah”nya (eits, maksudnya talkshow half dien yang telah saya ikuti). Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian (khusunya yang mau menikah, hehe). Sebenarnya masih banyak yang disampaikan dalam acara tersebut, tapi waktu dan kesempatan juga yang membatasi kita. Akhir kata dari Kang Amroelz. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Monday, 1 April 2013

15 µm: Mikroholic Camp


Semakin banyak hambatan yang menghadang, semakin kokoh pula strategi untuk menghadapinya” (15 µm).


Semakin tinggi tekanannya (kali ini bukan autoklaf), semakin berat tantangan dan hambatannya maka akan semakin kokoh pula strategi untuk menghadapinya. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik ketika salah mengambil jalan di tengah hutan yang gelap, hujan yang terus mengguyur dengan kilatan cahaya putih yang kerap kali menyambar (tapi bukan halilintar, kalau bahasa Tegalnya sih ‘trelep’ namanya). Itulah sedikit oleh-oleh yang didapat oleh tim 15 µm (baca: 15 µikroholic camp) ketika melakukan ekspedisi (baca: camping, hehe) ke daerah Bukit Cendana Ketenger (sebuah daerah yang terletak di lereng selatan Gunung Slamet) pada hari Sabtu-Ahad, 30-31 Maret 2013. Tim 15 µm edisi kali ini terdiri atas 6 orang laki-laki dan 9 orang perempuan.

            Tenda sudah ada 2, tongkat, patok, tali, kompor lapangan, nesting, matras, tikar dan semua peralatan sudah siap. Termasuk kebutuhan logistik seperti nasi, ayam, mie instan, gula, teh, kopi, jagung, terong, minyak, dan kebutuhan lainnya juga sudah berkumpul di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Biologi Unsoed. Meski hujan deras tak ada tanda-tanda untuk reda, akhirnya setelah semua datang keputusannya adalah tetap berangkat. Semua tim 15 µm bersiap sedia di lobi depan untuk melakukan starting up sebelum keberangkatan. Tiba-tiba saja ada yang ketinggalan, yaitu surat izin camping. Lupa, tak terpikirkan sebelumnya. Tak mau panjang lebar, akhirnya salah seorang langsung kembali ke lab untuk membuatnya. Eh, belum 5 menit tiba-tiba saja mati lampu. Surat pun belum sempat diprint dan ternyata mati lampu lumayan lama dan daerah Karangwangkal hingga Pabuaran juga sama, mati lampu. Akhirnya tim yang 11 orang berangkat duluan dan yang 4 orang menyusul, sambil nunggu lampu nyala.

Langit Purwokerto masih saja menangis. Hingga sampai ke tempat penitipan motor di salah satu rumah desa Ketenger, tetesan H2O rupanya belum juga berhenti. Dingin mulai menyelimuti. Jam di HP menunjukkan pukul 17.30 perjalanan kaki menuju ke atas dimulai. Masing-masing menggendong tas dan bekalnya. Pasukan bermantel jas anti air ini berjalan menanjak setapak demi setapak menuju ke arah hutan sebelah atas. Baru sampai di pos 1 terdengar suara adzan Maghrib, karena masih dekat pemukiman warga. Senja semakin gelap, sore pun mulai hilang bersamaan datangnya cahaya gelap. Perjalanan kian menanjak dan terjal. Jalan hanya setapak. Berkelok dan berliku. Senter pun akhirnya terpaksa dikeluarkan cahayanya agar jalannya terlihat. Sawah-sawah sudah terlewati, kini sudah memasuki daerah hutan. Gelap semakin gulita, sesekali trelep menyambar. Harus ekstra waspada, karena kanan-kiri ada jurang. Kurang lebih setengah jam perjalanan berlalu, tiba-tiba saja lupa jalan menuju ke atas ketika dihadapkan 3 jalur percabangan. Kali ini benar-benar lupa arah, karena kondisi yang gelap, hujan, membawa beban berat, ditambah semakin dingin pula.

            Akhirnya dipilihlah jalan yang lurus, ternyata buntu setelah dicek. Balik lagi ke titik percabangan tadi, dipilihlah belok kiri tapi ternyata ada sungai kecil dan dikiranya buntu juga. Akhirnya balik lagi dan dipilihlah jalur yang belok kanan. Awalnya yakin jalan itu adalah benar menuju tempat yang dituju. Jalannya terus menaik ke atas. Ternyata setelah sudah cukup jauh ke atas, ternyata bingung lagi dan merasa jalan tersebut belum pernah dilewati sebelumnya. Lagi-lagi buntu. Setelah mencoba mencari jalan di atas tersebut tidak ketemu juga. Keputusannya turun lagi ke 3 titik percabangan tadi. 3 orang turun duluan mencari jalan yang benar dan sebagian tetap menunggu di atas. Di tengah-tengah pencarian jalan, tiba-tiba 4 orang yang tadinya berangkat menyusul menelepon dan mengabarkan kalau mereka sudah sampai di pos 1 dan minta dijemput di bawah. Padahal kita sendiri yang di atas masih tersesat dan belum menemukan lokasi yang dimaksud. Akhirnya mereka yang dibawah disuruh menunggu dulu di pos 1. Akhirnya setelah cukup lama menelusuri, ketemu juga lokasi yang dituju. Ternyata jalan yang benar adalah yang tadi belok kiri menyeberangi sedikit sungai kecil. Karena sudah ketemu lokasinya, keputusannya adalah sebagian tetap melanjutkan menuju lokasi dan 2 orang harus turun lagi ke bawah untuk menjemput mereka yang ada di pos 1.

            Pukul 20.30 WIB semua tim 15 µm akhirnya sudah berkumpul semua di lokasi yang dimaksud. Lokasinya ga ada nama jalan dan tempatnya. Yang jelas lokasi tersebut berada di tengah-tengah hutan yang gelap dan berada diantara pohon-pohon damar yang menjulang tinggi. Gerimis masih saja berjatuhan dan tenda belum juga berdiri. Setelah berusaha keras, akhirnya tenda pun berhasil didirikan. Kini tinggal membuat api unggun buat penerang malam karena kita hanya bawa 1 buah senter dan sisanya senter HP masing-masing yang agak redup. Kayu pun harus mencari dulu dengan mencari getah damar juga. Lama membuat api, karena semuanya masih basah dan harus sabar berjam-jam sampai api benar-benar jadi. Yang lain ada yang memasak buat makan malam. Malam semakin larut dingin pun semakin menusuk.  (Cerita masih panjang, tapi cukup sampai disini saja yah).

            Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik ketika kita berada di tengah hutan. Menghadapi tantangan dan hambatan. Ada yang terperosok, terpeleset dan terjatuh sepanjang perjalanan tadi. Tapi disitulah kita menemukan rasa persaudaraan untuk saling bahu membahu, saling memotivasi ketika ada yang merasa takut atau sudah kecapekan, dan yang pasti adalah mensyukuri atas nikmat-Nya yang begitu agung ini berupa hamparan alam hutan yang gelap gulita. Oleh karena itu ketika di hutan pun jangan sampai lupa untuk melakukan kewajiban kita kepada-Nya. “Semakin banyak hambatan yang menghadang, semakin kokoh pula strategi untuk menghadapinya” (15 µm). Strategi menghadapi gulitanya hutan, strategi mencari jalan yang benar ketika salah melewati jalan atau tersesat, strategi bertahan hidup di tengah kedinginan yang mencekam, dan strategi melewati lika-liku perjalanan yang berkelok-kelok, terjal, lagi curam.

           
Jadi teringat kisah perjalanan dalam serial “5 cm”. Kata Donny Dhirgantoro dalam novel 5 cm: “Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu…. cuma….. Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdo’a” (~ Novel 5 cm ~).