Monday, 3 June 2013

Baca Bukunya, Tonton Filmnya: Hadratussyaikh “Sang Kyai” (Part I)

Baca bukunya, tonton filmnya”, kalimat yang terpampang di depan pintu masuk Gramedia ini  cukup memprovokatori para pengunjung yang datang, termasuk diriku ini untuk berburu buku tersebut. Persis di sebelah kalimat tersebut ada gambar buku berjudul Hadratussyaikh “Sang Kyai”. Baru beberapa melangkah, terlihat buku Sang Kyai tersebut berada dalam daftar buku baru. Setelah membaca sekilas buku tersebut, sore harinya langsung aku putuskan untuk berkunjung ke Rajawali, yang merupakan kali keduanya singgah ke bioskop ini (dulu pertama masuk ke sini saat nonton film Habibie & Ainun).

Rupanya pengunjung bioskop jauh lebih ramai dibandingkan pengunjung Gramedia, begitu hipotesisku menganalisa bahwa kebanyakan orang “lebih suka menonton dibandingkan membaca” pikirku sesaat. Semoga yang ditonton mereka adalah bukan sekedar hiburan belaka tapi tontonan yang bisa dijadikan tuntunan dalam hidupnya. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan tiket film Sang Kyai di Studio 1 karena tidak ada antrian. Berbeda dengan antrian tiket untuk studio 2 dan 3 yang mengantri panjang dan sepertinya kebanyakan muda-mudi yang rela menunggu lama pada Studio 2 (film Fast & Furious 6) dan Studio 3 (film Laura & Marsha). Kalau dicermati sangat nampak berbeda nyata antara penonoton yang mengantri di depan studio 1 dengan penonton studio 2 dan 3. Hal yang paling tampak adalah dari segi pakaiannya. Kebanyakan yang menunggu studio 1 adalah rata-rata mengenakan jilbab mulai dari usia remaja sampai ibu-ibu.

Film “Sang Kyai” merupakan film karya Rako Prijanto yang diproduksi oleh RAPI Film. Film ini mengisahkan tentang perjuangan Hadrotussyaikh Sang Kyai K.H. Hasyim Asy’ari dalam perjuangannya melawan sekutu Jepang dan Belanda hingga menyongsong kemerdekaan Republik Indonesia. Latar film ini bertempat di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur yang kala itu menjadi basis perjuangan para ulama dalam mempertahankan NKRI. Pada awal film ini menceritakan kehidupan di pesantren tersebut yang terdiri atas ribuan santri yang berasal dari Pulau Jawa dan Madura. Bertani dan berdagang merupakan mata pencaharian mereka yang menjadi seting tempat dalam film ini.

Dalam film ini sosok K.H. Hasyim Asy’ari diperankan oleh Ikranagara dan istrinya diperankan oleh Christine Hakim. Sang Kyai Hasyim Asy’ari yang merupakan tokoh pendiri jama’ah Nahdlatul Ulama (NU) ini merupakan tokoh yang kharismatik dan sangat disegani oleh para santri dan masyarakat di sekitar pesantren Tebuireng, bahkan ulama-ulama yang lain pun ta’dhim dengan sang kyai ini. Awal mula film ini mengisahkan kejadian pada tahun 1942, dimana Jepang pada waktu itu datang ke Indonesia dan mengatakan sebagai saudara tua yang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Belanda pun mengakui kedaulatan Jepang waktu itu. Akan tetapi lama kelamaan ternyata Jepang hanya manis di mulutnya saja, karena ternyata Jepang pun memiliki misi yang sama seperti Belanda yaitu menjajah bumi pertiwi ini. Jepang mulai melakukan tindakan kejamnya dengan menangkap ulama-ulama yang dianggap berpengaruh bagi rakyat Indonesia dan dipaksa untuk mengikuti semua yang diperintahkannya. Jepang meminta rakyat Indonesia untuk mengikuti ajarannya yaitu “Sikerei”. Sikerei merupakan bentuk upacara tentara Jepang untuk menyembah dewa matahari yang dilakukan dengan gerakan merunduk membungkukkan badan. Tentu hal ini mendapat reaksi keras dari masyarakat dan para ulama kala itu, karena bertolak belakang dengan agama Islam yang selama ini telah mendarah daging di hari mereka.

Hingga akhirnya pasukan Jepang pun datang ke pesantren Tebuireng untuk menangkap K.H. Hasyim Asy’ari. Jepang menuduh sang kyai telah melakukan tindakan pemberontakan kepada Jepang dan memaksa sang kyai untuk ditangkap. Awalnya para santri sangat marah dengan tentara Jepang dan melindungi sang kyai agar tidak ditangkap. Jepang pun menggertak mereka dengan tembakan yang bertubi-tubi. Salah seorang santri pun naik ke atas dengan membawa bendera merah putih dan meneriakkan jihad dan bertakbir. Akan tetapi usahanya ini malah membuat tentara Jepang semakin Gerang dan kembali mengeluarkan tembakannya, hingga sang komandan meminta untuk menyirami para santri yang sedang melindungi sang kyai itu disiram dengan minyak tanah dan hendak akan dibakar. Akhirnya sang kyai pun rela ditangkap demi kemaslahatan dan keselamatan para santrinya.

Sesampainya di markas Jepang, K.H. Hasyim Asy’ari dipaksa untuk menandatangani kesepakatan oleh pihak Jepang untuk menyepakati dan mengikuti Sikerei. Akan tetapi sang kyai menolaknya dengan tegas dan menyatakan bahwa sikerei itu hukumnya haram. Sang komandan Jepang ini pun marah besar mendengar jawaban dari sang kyai, dia terus membujuk dan merayu sang kyai melalui penerjemahnya agar menandatangani kesepakatan itu. Aqidah tak bisa ditawar dengan apapun. Lebih baik dipenjara dan nyawa menjadi taruhannya daripada harus mengikuti Sikerei oleh sekutu Jepang, begitu sikap yang dilakukan oleh sang kyai. Di tengah-tengah perdebatannya ini tiba-tiba terdengar suara adzan dan sang kyai pun langsung bergegas berdiri untuk melaksanakan sholat. Sang kyai meminta izin kepada penerjemah itu untuk memberinya kesempatan untuk sholat, jika mau menghukumnya silahkan tapi nanti setelah usai melaksanakan kewajibannya itu.

Berita penangkapan sang kyai pun terdengar oleh semua masyarakat dan mendapat reaksi yang sangat geram dari para santri serta masyarakat. Mereka beramai-ramai mendatangi markas Jepang untuk meminta kebebasan bagi sang kyai. Rakyat semakin geram dan memberontak ketika mendengar jeritan suara sang kyai yang sedang disiksa oleh tentara Jepang. Kelima jari sang kyai dijatuhi palu bertubi-tubi oleh Jepang hingga berdarah-darah. Sang kyai masih tetap teguh dengan mempertahankan akidahnya. Para santri dan rakyat pun semakin keras meneriakkan kebebasan untuk sang kyai, akan tetapi pasukan Jepang malah semakin geram pula dengan melayangkan tembakan kepada mereka. Untuk mengantisipasi pemberontakan yang lebih besar oleh para santri dan rakyat setempat, penerjemah tentara Jepang pun meminta kepada sang kapten agar mengakhiri pertikaian ini akan tetapi sang kapten menolaknya dan marah besar kepada penerjemah tersebut.  Kemudian Jepang pun akhirnya memutuskan sang kyai untuk dipindah dari Jombang dipindahkan ke Mojokerto.

......……………..cerita masih panjang, bersambung sampai disini dulu…………………

Bila ada sumur di ladang, kapan-kapan numpang mandi.
Jika ada waktu luang, kapan-kapan disambung lagi


Gema takbir “Allahu Akbar….. Allahu Akbar….. Allahu Akbar….. “ kerap kali ikut membahana seisi ruangan bioskop ini. Hingga anak kecil (berusia sekitar 7 tahun) yang sedang menonton film ini juga ikut meneriakkan takbir dengan nada agak cadel khas anak kecil. Sepertinya anak tersebut juga ikut tersengat hatinya saat tentara Hisbullah melawan sekutu Jepang dalam film “Sang Kyai” ini. To be continued.

0 comments: