Friday, 19 December 2014

Berburu Batu Kramat di Pantai Guwawe


Guwawe dalam bahasa Loloda Kepulauan berarti mangga. Istilah ini digunakan menjadi daerah yang bernama Pantai Guwawe. Pantai ini dikenal dengan nama Guwawe karena dulunya banyak pohon mangga di sekitar pantai ini. Pantai Guwawe adalah pantai berpasir hitam yang terletak di Desa Fitako, Kecamatan Loloda Kepulauan. Pantai ini terbilang unik, karena di tepi pantai ini terdapat banyak batu-batuan besar. Jika diibaratkan seperti sistem pencernaan manusia, Pantai Guwawe bagaikan anus atau tempat pembuangan akhir. Hal ini terjadi bila musim angin selatan tiba. Pantai ini menjadi tempat berkumpulnya sampah-sampah organik maupun anorganik. Hingga oleh warga setempat daerah tersebut juga dijuluki dengan Pasar Guwawe, karena banyak barang-barang bekas yang bermuara kesini seperti bola plastik, botol, tas, sepatu dan barang-barang bekas lainnya yang berserakan di sepanjang pantai. Hal tersebut dimanfaatkan oleh anak-anak Fitako dengan mengambil mainan bekas yang terdampar tersebut. 

      Daerah pantai ini juga dikenal dengan daerah kramat, karena di tepi pantai (tanjung) terdapat makam kramat yang konon kata warga setempat adalah makam penemu desa ini. Sehingga daerah tersebut jarang dikunjungi warga, kecuali kalau mereka untuk pergi ke kebun saja. Dulunya sepi, sekarang ramai dikunjungi. Dimana ada gula, disitu ada semut. Pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan Pantai Guwawe yang kini menjadi ramai dikunjungi oleh orang-orang dan warga desa setempat. Mereka bukan untuk bertamasya atau piknik. Akan tetapi mereka adalah berburu batu hitam, yang dikenal dengan nama “Batu Kramat” oleh warga Desa Fitako dan dikenal dengan nama “Batu Jahanam” oleh warga Desa Dedeta. Kedua desa ini terletak bersebelahan yang masih berada dalam satu pulau yaitu Pulau Panjang. Sehingga orang Dedeta pun datang ke Guwawe untuk mencari batu hitam tersebut.

      Batu hitam yang bernama batu Kramat atau lebih familiar dikenal dengan batu jahanam, kini menjadi bahan perbincangan warga Loloda Kepulauan, bahkan hingga provinsi Maluku Utara pada umumnya. Hal ini terjadi setelah batu hitam ini sempat menjadi primadona saat Festival Batu Alam Mulia tingkat Provinsi Maluku Utara yang digelar oleh Pemda Halmahera Utara. Batu hitam ini konon katanya memiliki khasiat lebih dan warnanya yang menarik yaitu hitam pekat. Pantai Guwawe yang merupakan tempat batu hitam ini ditemukan, kini ramai dikunjungi warga. Setiap hari banyak orang yang berburu batu hitam ke tempat ini. Tidak hanya warga Fitako saja, warga dari desa lain yang ada di Kecamatan Loloda Kepulauan juga ramai berdatangan ke Fitako untuk mencari batu hitam tersebut.

      Walaupun di Pantai Guwawe terdapat banyak batu-batuan, tapi kita harus sabar mencari batu hitam yang memiliki keunikan tersendiri. Ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak para pemburu batu hitam pun harus membawa martir atau palu untuk menemukan batu hitam tersebut. Pasalnya untuk menentukan jenis batuan yang termasuk batu kramat atau bukan, batu harus dipecah terlebh dahulu kulitnya. Jika terlihat hitam sesuai dengan cirri yang dimaksud, maka baru diambillah batu tersebut. Alhasil warga pun tidak hanya mencarinya di tepi pantai Guwawe saja, akan tetapi mereka juga mencari hingga ke bukit kebun sekitar pantai tersebut. Jerih payah mereka pun patut diacungi jempol, karena berkat kerja keras para pemburu batu hitam tersebut berhasil ditemukan batu hitamdi tempat yang lain. Hingga saat ini di Desa Fitako, keberadaan batu hitam ini ternyata tidak hanya di pantai Guwawe saja, sekarang ada 3 lokasi yang terdapat adanya batu hitam ini, yaitu di Pantai Guwawe, Kebun dekat Guwawe dan Hate (daerah dekat Jobubu Desa Fitako)

*termuat dalam: http://malutpost.co.id/2014/10/22/berburu-batu-kramat-di-pantai-guwawe/

0 comments: