Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bĂȘte, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Monday, 12 November 2018

Cara Urus (Sendiri) Perpanjangan Plat Beda Daerah


            Setiap urusan itu sebenarnya mudah kalau kita tahu caranya. Sama halnya saat kita mengurus perpanjangan STNK maupun perpanjangan plat motor. Banyak yang bilang prosesnya ribet dan lama administrasinya. Apalagi kalau lewat calo, tentu biayanya akan lebih mahal. Apalagi salah satu syarat kalau mau perpanjang plat 5 tahunan adalah harus bawa motornya juga ke samsat. Padahal saat ini domisiliku di Depok dan motornya juga berada di Depok. Sementara plat motorku adalah G (Tegal), apakah harus membawa motorku pulang ke Tegal dan mengurusnya di samsat Tegal?

            Sebelumnya aku sudah tanya-tanya ke teman dan keluargaku yang di Tegal tentang hal ini. Ternyata memang betul jika ingin memperpanjang plat motor 5 tahunan harus membawa motornya ke samsat juga karena ada cek fisik motor. Kalau harus membawa motor pulang ke Tegal tentu akan sangat repot, memakan biaya banyak dan cukup menyita waktu. Terus aku dapat informasi lain dari temanku, jika motor kita berada di daerah (kota) lain maka boleh mengurus cek fisiknya di samsat terdekat. Akan tetapi untuk proses untuk perpanjangannya tetap dilakukan di samsat asal motor kita. Kali ini aku akan berbagi sedikit informasi tentang tata cara pengurusan perpanjangan plat motor beda daerah. 

Langkah pertama, pastinya adalah datang ke kantor samsat terdekat. 

Karena saya saat ini sedang berdomisili di Depok, maka saya mengurus untuk cek fisik motor saya di Samsat Kota Depok. Berikut ini adalah langkah-langkah saat kita sudah tiba di samsat:

1.      Cek Fisik Motor



Saat masuk ke gerbang samsat, bertanyalah ke petugas loket untuk cek fisik berada di sebelah mana. Karena biasanya loket untuk cek fisik berbeda dengan loket perpanjangan SIM ataupun STNK. Kalau di Samsat Depok setelah pintu masuk, lurus sedikit lalu belok kanan. Setelah tiba di lokasi, petugas akan mengecek fisik motor kita yaitu nomor rangka dan nomor mesin motor dengan kertas yang sudah disediakan oleh petugas.

2.      Daftar ke Loket Pendaftaran



Setelah cek fisik motor, langsung menuju ke loket pendaftaran. Syarat yang harus dipersiapkan adalah STNK asli dan kertas cek nomor rangka dan nomor mesin yang sudah dilakukan sebelumnya oleh petugas di bagian cek fisik motor. Sebelumnya info dari teman katanya harus membawa BPKB asli dan KTP asli. Akan tetapi kalau di Samsat Depok cukup melampirkan STNK asli saja. Berkas tersebut dimasukkan ke dalam map. Setelah itu tunggu panggilan selanjutnya. Prosesnya tersebut kurang lebih hanya sekitar 5 menit.

3.      Pembayaran dan Terima Berkas



Setelah nama kita dipanggil kita akan menerima berkas pengesahan bukti cek fisik motor tersebut dan kalau di Samsat Depok dikenakan biaya Rp. 50.000,- untuk pengurusan hal tersebut. Setelah kita bayar, baru kita terima berkas tersebut yang selanjutnya akan kita gunakan untuk pengurusan perpanjangan plat di samsat asal daerah motor kita. Berkas inilah yang nantinya akan saya lampirkan saat pengurusan di Samsat Tegal


Langkah Kedua, Pengurusan di Samsat Tegal

Sebelum datang ke samsat, pastikan kita bawa persyaratan yang harus dibawa. Seperti berkas hasil gesek mesin yang sudah distempel (berkas yang diurus di Samsat Depok), BPKB asli dan KTP asli. Semua persyaratan dimasukkan ke dalam map.


Berikut tahapan saat di Samsat Kab. Tegal (seperti tertera di foto):

1. Legalisir berkas cek fisik mesin yang dari Samsat Depok

    Langsung saja datang ke loket ini untuk minta stempel legalisir berkas yang sudah kita bawa sebelumnya, yaitu berkas cek fisik yang dari Samsat Depok

2. Daftar di loket 1 & menyerahkan semua berkas persyaratan

Loket 1 yang pojok kanan untuk pendafatran dan menyerahkan berkas persyaratan

3. Pembayaran di loket 2 dan tunggu namanya dipanggil

Loket 2 yang sebelah kiri dari foto ini (loket untuk pembayaran)


4. Pengambilan STNK yang baru

Loket pengambilan STNK yang baru. Tunggu sampai nama kita dipanggil

5. Pengambilan plat yg baru

Loket pengambilan plat yang baru

6. Plat baru siap dipakai



Thursday, 1 November 2018

Tiga Manajemen Pangkal Keren



Hari demi hari silih berganti. Bulan demi bulan terus berjalan. Bahkan menit demi menit, hingga detik demi detik terus berputar tak pernah berbalik. Seiring rotasi waktu tersebut, kesibukan demi kesibukan juga silih berdatangan dalam deretan antrian yang panjang. Semakin banyak kesibukan, harusnya menjadikan kita semakin pandai mengatur waktu. Bukan waktu yang mengatur kita. Bukan kesibukan yang membuat kita lalai dan lupa dengan kewajiban utama kita kepada Sang Pencipta. Bagaimana menyelesaikan kesibukan yang seabrek? Tugas terus menumpuk. Amanah yang semakin bertambah. Jangan stress. Jangan galau dengan kesibukan. Jangan sedih tatkala datang masalah. Hadapilah. Kelola kesibukan itu dengan manajemen yang baik.

Dalam menghadapi kesibukan pekerjaan, amanah dalam sekolah atau padatnya aktivitas di boarding school yang kerap kali menghampiri tentu kita kita tak boleh berdiam diri tapi kita harus menghadapi dan menyelesaikannya. Bukan mengeluh, apalagi bersedih. Itulah konsekuensi atas pilihan yang kita ambil. Agar tetap stabil tentu kita harus punya strategi dalam mengatur semua kesibukan yang ada dalam diri kita. Kita perlu mengatur schedule hidup kita. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi? Kalau tak diatur akan amburadul. Kalau tak dikelola, akan berantakan. Karena semua hal butuh pengelolaan dan pengaturan agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Bicara pengeloaan diri atau manajemen kesibukan sebenarnya kita bisa belajar dengan sistem organ yang ada dalam diri kita sendiri. Seandainya diri kita bisa melihat ke dalam sistem yang ada di tubuh kita pasti kita akan terampil menghadapi semua kesibukan yang ada. Karena Allah SWT telah menciptakan sistem regulasi tubuh manusia dengan begitu detailnya. Mulai dari sistem syaraf, sistem pencernaan, sistem respirasi (pernafasan), hingga sistem reproduksi semua sangat rapi, detail dan teratur. Semua sistem tersebut bekerja dengan kompak setiap harinya. Seandainya kita diberi kemampuan untuk melihat kinerja semua sistem yang ada di tubuh kita, pasti kita akan senantiasa bersyukur atas nikmat yang begitu agung tersebut. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Agar hidup kita stabil dalam menghadapi derasnya arus kesibukan, kita perlu manajemen yang jitu. Kita perlu tiga manajemen ini agar tetap konsisten dengan stamina dan spirit yang sama. Tiga manajemen tersebut adalah manajemen waktu, manajemen diri dan manajemen hati. Ketiganya harus kita kelola secara bersamaan. Kenapa harus dikelola? Agar hidup kita tertata. Agar semua tugas terselesaikan. Agar semua amanah tertunaikan. Agar semua tanggung jawab kita terpenuhi. Berikut ini uraikan singkat tentang ketiga manajemen tersebut.

1.      Manajemen waktu

Kita semua pasti tahu bahwa kita diberi waktu yang sama dalam sehari 24 jam. Dalam perputaran waktu tersebut tiap orang berbeda-beda dalam menggunakan waktu tersebut. Meski diberi waktu yang sama, keberhasilan tiap orang berbeda-beda. Ini tergantung bagaimana orang tersebut memanage (mengelola) waktunya dengan produktif. Dari 24 jam tersebut, coba kita hitung berapa waktu produktif kita? Berapa waktu kita untuk beribadah? Berapa waktu untuk bekerja? Berapa waktu untuk belajar? Berapa waktu untuk istirahat? Berapa waktu untuk membaca? Berapa waktu untuk menyelesaikan amanah keseharian kita?

Apa yang membedakan orang sukses dengan orang gagal? Orang yang berhasil dengan yang kurang beruntung? Padahal sama-sama diberi waktu yang sama. Bahkan semua manusia di dunia ini diberi waktu yang sama dalam sehari 24 jam. Lantas, apa yang menjadikannya berbeda? Sama halnya dengan siswa dalam sebuah kelas. Katakanlah satu kelas ada 30 orang siswa. Satu atap, satu kelas, satu perjuangan dalam menuntut ilmu. Guru yang mengajar dan mendidik pun sama. Proses pembelajaran yang dilakukan pun sama. Metode yang dilakukan guru dalam satu kelas itu pun sama. Tapi kenapa hasil pembelajaran yang didapat masing-masing siswa berbeda?

Pertama adalah semua anak memiliki potensi yang unik. Mereka punya bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Selain itu yang kedua adalah kemauan dan keuletannya dalam berjuang mencari ilmu. Ketiga, potensi dan kemauannya itu teratur dengan baik dalam mengelola waktunya. Ya, dibalik semua itu ada manajemen waktu yang menjadi pembeda dari semua orang. Kondisi ini tidak hanya berlaku bagi siswa saja, tapi berlaku bagi semua orang. Karena kita diberi waktu yang sama, yang menjadikan berbeda dan membuatnya sukses meraih keberhasilan adalah kemampuan manajemen waktunya. Keempat, yang tak kalah pentingnya adalah istiqomah. Konsisten. Kontinuitas. Melakukan hal tersebut secara tetap, itulah istiqomah. Walau sedikit, walau sebentar tapi rutin dilakukan setiap hari.

2.      Manajemen diri

Diri kita ibarat kendaraan, kita sendiri juga yang menjadi pengemudinya. Mau dibawa kemana pun. Mau jalan ke mana pun. Mau bekerja dimana saja. Mau tinggal dimana saja. Kita sendirilah pengemudinya. Mau ke jalan yang berliku, berkelok-kelok atau lurus kita pula yang menentukan. Itulah diri kita. Ditengah-tengah kesibukan sehari-hari, maka diri kita juga perlu dikelola. Manajemen diri. Baik kaitannya mengelola sikap dan tindakan kita yang harus diperbaiki, ditingkatkan kualitasnya. Apalagi saat berhadapan dengan orang lain, maka perilaku kita menjadi cermin bagi orang lain. Keseharian kita saat berinteraksi dengan orang lain, akan menentukan keakraban dan keutuhan pertemanan. Manajemen diri agar hidup kita bisa bertahan dan beradaptasi dimanapun kita tinggal. Tentu manajemen diri, mengelola diri dan team juga sangat diperlukan. Manajemen diri itu penting dan saling berkait dengan manajemen waktu. Ibarat sekeping koin, sisi depannya manajemen waktu dan sisi belakangnya lagi adalah manajemen diri.

3.      Manajemen hati

Mengelola diri sendiri tak lepas juga dengan mengelola hati. Kenapa hati juga harus dikelola? Hati kaitannya dengan nurani dan mata batin kita. Kepedulian, jiwa sosial, empati dan sikap-sikap lainnya yang dimunculkan oleh hati kita. Karena katanya hati itu pusatnya rasa yang kita miliki. Tak hanya itu. Hati itu bukan hanya menjadi organ detoksifikasi, atau pun bagian dari sistem ekskresi kita. Jauh lebih dari fungsi biologis itu. Hati menjadi penentu bagi organ tubuh lainnya. Ingatlah bahwa ada segumpal daging dalam tubuh kita, jika segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh tubuh itu. Sebaliknya, jika segumpal daging itu buruk, maka buruk pula seluruh tubuh itu. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. Itulah hati. Perannya sangat penting dalam diri kita. Oleh karenanya harus dikelola, manajemen hati. Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik.

*Tulisan ini dimuat juga dalam IHBS Magazine edisi September 2018

Thursday, 2 August 2018

Saat Aku dan Kamu Menjadi Kita



Masa laluku milikku, masa lalumu juga milikmu,
tapi hari esok dan masa depan adalah milik kita
Melangkah bersama merajut rumah tangga
yang bertabur sakinah mawaddah warohmah

Saat akad telah terucap rasanya begitu bahagia hati ini. Saat pertama kali kita berjabat tangan rasanya masih canggung bercampur deg-degan. Sampai-sampai sang penghulu bilang bahwa kita sudah sah. Dengan hati bergetar dan rona wajah berbinar-binar aku pegang tanganmu dan kamu pun mencium tanganku untuk pertama kali. Detak jantungku berdebar-debar. Begitu juga detak jantungmu, merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Bahagia bercampur haru menghiasi aura wajah kita yang berbunga-bunga memancarkan syukur penuh cinta.

Moment sakral bernama ijab qobul terasa istimewa sekali. Prosesnya tak lama tak sampai 5 menit. Saat ayahmu (selaku wali) mengucapkan kalimat ijab tersebut. Lalu dibalas pernyataan qobul olehku dengan penuh kemantapan. Saat itulah secara resmi amanah sang ayah atas anaknya diserahkan kepadaku selaku suamimu. Sejak detik itu pula aku dan kamu resmi menjadi kita (sepasang suami-istri). Sebuah prosesi yang dikenal juga dengan mitsaqon gholidon (perjanjian yang amat kokoh) ini disaksikan juga oleh ratusan pasang mata keluargaku, keluargamu, sanak famili, sahabat serta para tamu undangan yang hadir. Mereka turut serta mendoakan dan menampilkan wajah bahagianya saat prosesi penting tersebut berlangsung.

Saat aku dan kamu menjadi kita, hidup ini terasa damai dan penuh ketenangan. Setiap hari rasanya bertabur aroma bahagia yang berlipat. Bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi mungkin sedikit bisa dilukiskan dengan ekspresi perumpaan berikut. Rasanya seperti berada di tepi pantai berpasir putih yang diiringi dengan dawai ombak yang berhembus. Tenang, sunyi, indah, sejuk dan damai di hati. Aku dan kamu seakan-akan berada persis di tepi pantai tersebut sembari menyaksikan puluhan ikan lumba-lumba yang berlompatan dan burung-burung pantai saling bercengkrama di atas pohon mangrove. Ah, indah sekali pokoknya.

Saat aku dan kamu resmi menjadi kita rasanya dunia ini hanya milik kita berdua, hehe. Kemana-mana bersama. Mulai dari makan sepiring berdua hingga berkunjung ke sanak famili keluarga besar kita masing-masing. Kini ayahmu adalah ayahku, ibumu juga ibuku dan semua keluargamu adalah keluargaku juga. Perjalanan jarak jauh terasa dekat saat bersamamu. Perjalanan Tegal-Purwokerto-Cilacap adalah perjalanan romantis kita di atas kendaraan saat seminggu pertama setelah kita menikah. Bahagianya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Inikah yang dinamakan nikmatnya pacaran setelah menikah? Pacaran yang halal antara suami-istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Ya, seperti inilah kebahagiaan penganten baru terpancar. Bahagia ini tak hanya milik kita tapi dirasakan juga oleh sahabat, kerabat dan keluarga besar kita. Alhamdulillah wasyukurillah. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Melalui postingan ini pula kami ingin mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan doanya rekan-rekan sahabat, kolega, keluarga dan semua yang tak bisa disebutkan satu per satu.



Hujan Bahagia di Bulan Juni



Asam di gunung garam di laut
Bertemu dalam satu belanga
Kalau sudah jodoh dimanapun berada (berjauhan)
Pasti akan tetap bertemu juga

Pepatah tersebut memang benar adanya. Kalau sudah berjodoh memang tak akan lari kemana-mana. Begitulah uniknya jodoh. Sama seperti antara aku dan kamu. Meski sudah berteman lama, lalu terpisahkan tempat yang berbeda kalau jodoh akhirnya bertemu juga dalam pelaminan. Pertemuan dua insan sejoli yang diawali dengan ta'aruf, dikuatkan dengan khitbah dan disempurnakan dengan menikah. Tidak dengan pacaran, karena pacaran sejati adalah setelah resmi diikat oleh akad pernikahan. Itulah kisah yang kita alami.

Padahal dua insan ini (aku dan kamu) sudah lama berteman sejak tahun 2008 silam. Masuk di kampus yang sama, teman seangkatan, satu jurusan, teman sekelompok ospek, satu asisten laboratorium, satu organisasi hingga lulus wisuda pun bersamaan. Namun setelah wisuda kita berpisah hingga 4 tahun dan tak pernah berkomunikasi secara langsung maupun lewat telepon, tapi akhirnya kita dipertemukan dalam ikatan yang suci. Gimana ceritanya? Panjang alurnya kalau diceritakan, hehe. Begitulah uniknya jodoh.

Sebuah proses ikatan suci yang tak sampai 5 menit bernama ijab qobul telah kita ikrarkan di bulan Juni 2018. Sebuah hari bahagia yang telah kita rindukan selama ini, akhirnya bisa kita rasakan juga. Yang jelas Juni ini bukan hanya milikmu, tapi milik kita. 23 Juni 2008 (wisuda SMA-mu), 25 Juni 2013 (wisuda S1 kita) dan 24 Juni 2018 (kita menikah). Juni bertaburan rasa bahagia yang tak terlupakan. Juni yang penuh dengan memori indah momen penting dalam hidupmu, kini menjadi bagian penting dalam hidupku juga.

Bahagianya Juni ini seperti bait-bait puisinya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni berikut ini:
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi tersebut juga mewakili perasaanku kepadamu. Rasa cinta yang menggelora bertabur asmara yang berkibar penuh haru tawa bahagia. Nikmat sekali rasanya. Itulah gambaran hatiku dan hatimu di tanggal 24 Juni 2018 saat akad terucap hingga prosesi pernikahan berlangsung. Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena begitu syahdunya sampai-sampai aku dan kamu merasakan tetesan hujan bahagia yang nikmat sekali. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?



Tuesday, 31 July 2018

Kualitas (Pasti) Bertemu Kualitas



At-thoyyibaatu litthoyyibiina. Watthoyyibuuna litthoyyibaati. Begitulah salah satu firman-Nya dalam Surat An-Nur ayat 26. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Pun sebaliknya sama. Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Tak kan tertukar. Sama halnya seperti Adenin berpasangan dengan Timin. Sitosin berpasangan dengan Guanin. Begitu juga dengan jodoh. Pasti ketemu. Tak kan tertukar.

Karena kualitas (pasti akan) bertemu dengan kualitas (pula). Saling melengkapi satu sama lain. Kuncinya niat, yakin, ikhtiar, perbaiki diri, tingkatkan kualitas diri, tekad, dan tentunya sekufu. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya: “ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah” (H.R. Al-Bukhari [3336] secara mu’allaq dari ‘Aisyah, dan Muslim [2638], dari Abu Hurairah).

Bismillah walhamdulillah. Laa khaula walaa quwwata illa billah. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan berjuta-juta kenikmatan yang tidak bisa kita hitung banyaknya. Melalui tulisan ini perkenankan diri yang dhaif ini ingin mengutarakan sepatah demi patah kata, sebait kalimat dan sederet goresan aksara tentang diri pembelajar yang masih haus akan pembelajaran menghadapi kehidupan ini. Seorang lelaki muda yang saat ini menekuni profesi sebagai guru ini bermaksud memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan niat terbaiknya yang selama ini telah dipersiapkan. Mungkin tak panjang lebar, saya mulai saja perkenalan singkat dengan sosok yang juga menyukai dunia literasi ini. Pemuda yang satu ini selain menyukai dunia pendidikan, suka dunia anak-anak, bertualang dengan alam, juga suka bereksperimen dengan sains. Semua yang telah diraih dan dicapainya hingga saat ini merupakan hasil didikan kedua orangtua yang telah mendidiknya dengan sepenuh hati.

Kurang lebih seperti itu rangkaian kalimat pembuka saat pertama kali memulai proses ta’aruf dengan bertukar CV (curicullum vitae) dengan seorang yang kini telah menjadi istriku. Sebuah proses memantapkan diri dan memantaskan diri saat masih jomblo telah aku lewati dengan tekad kuat kala itu “kualitas (akan) bertemu kualitas”. Jargon tersebut tak hanya  tertuang dalam profil whatsapp pribadiku, tapi tertancap dalam relung hatiku yang paling dalam. Kini kata-kata akan dalam jargon tersebut sudah ku hapus dan aku ganti dengan “kualitas bertemu kualitas”. Jargon ini tak semata-mata jargon belaka, tapi makna yang terkandung di dalamnya merupakan makna yang sepadan dengan firman Allah SWT dalam Surat An-Nur ayat 26 sebagaimana disebutkan di atas.

Bicara kualitas diri yang kita miliki tak hanya berkaitan dengan urusan jodoh. Tapi juga berkaitan erat dengan urusan lain seperti karir, pekerjaan, teman maupun organisasi atau instansi tempat kita bekerja. Kualitas diri yang kita miliki akan bertemu dengan kualitas pula. Kini, aku pun merasakan akan jargon tersebut. Kalau jodoh itu pasti akan bertemu dengan yang sekufu. Dan setelah melewati pernikahan ternyata banyak yang bilang kalau pasangan kita itu pasti ada kemiripan karakter dan ada yang bilang juga kemiripan wajah. Apakah seperti itu? Coba lihatlah pasanganmu (bagi yang sudah menikah), hehe. Bagi yang masih single (jomblo) harap bersabar, teruslah tingkatkan kualitas diri kalian dan teruslah mantapkan hati serta pantaskan diri untuk menjemput jodoh terbaikmu.


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir
(Q.S. Ar-Rum: 29)


Seperti halnya basa-basa DNA (Deoxyribonucleic Acid) telah ditetapkan saling berpasangan. Adenin (A) berpasangan dengan Timin (T). Sitosin (S) berpasangan dengan Guanin (G). Basa nitrogen jenis purin selalu berpasangan pirimidin. Keduanya dihubungkan oleh ikatan hidrogen yang menghasilkan untaian indah bernama struktur double helik. Pun sama dengan jodoh. Pasti ketemu. Karena kualitas akan bertemu dengan kualitas. Maka, saat dua insan (laki-laki dan perempuan) sudah saling tertaut hatinya, maka pernikahan adalah ikatan suci untuk menyatukannya.

Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Ya Allah, dengan memohon ridho-Mu, perkenankanlah pernikahan putra putri kami:


ROSI ISTIQOMAH
(Putri Pertama Bapak Sochibun dan Ibu Siti Rochayati)

Dengan

IIN AMRULLAH
(Putra Pertama Bapak Djazuli dan Ibu Aisyah)

Akad Nikah:
Ahad, 24 Juni 2018 M / 10 Syawal 1439 H
Pukul 10.00 WIB
Tempat: kediaman mempelai putri
Jl. Samparangin RT 02 RW 01, Teluk, Purwokerto Selatan, Banyumas Jawa Tengah


Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan Resepsi Pernikahan putra-putri kami yang insya Allah akan dilaksanakan pada:

Ahad, 24 Juni 2018 M / 10 Syawal 1439 H
Pukul 10.30 – 13.00 WIB
Tempat: kediaman mempelai putri
Jl. Samparangin RT 02 RW 01, Teluk,
Purwokerto Selatan, Banyumas Jawa Tengah


Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i
berkenan hadir memberikan doa restunya kepada kedua mempelai

Atas kehadiran dan do’a restu Bapak/Ibu/Saudara/i kami ucapkan terima kasih

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Kami yang berbahagia

            Keluarga Bapak Sochibun                                          Keluarga Bapak Djazuli
     & Ibu Siti Rochayati                                                        & Ibu Aisyah

Sunday, 25 March 2018

Mengapa Guru Harus Menulis...???


§  Prolog: Awal Mula Menulis


Menulis itu mudah tapi susah. Dibilang mudah tapi terkadang susah untuk mengawalinya. Tapi kalau sudah berani mengawali kata pertama yang ditulis, maka akan terasa mudahnya. Akan tetapi dibilang susah juga sebenarnya itu salah karena dikatakan susah karena tidak mau mengawali dan mencoba untuk menulis kata pertama. Karena kata-kata pertama yang kita tulis sebenarnya itulah yang menjadi pemicu dan inisiator yang akan meningkatkan langkah kita untuk meneruskan kata-kata selanjutnya. Mungkin menulis sama halnya dengan sebuah presentasi. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan dan suksesnya presentasi berada di 5-7 detik pertama. Sama halnya dengan menulis yang terletak juga di kata pertama yang ditulis. Kata-kata pertama itulah kunci utama yang akan membuka, menerobos dan menembus rangkaian kata-kata, kalimat, hingga paragraf selanjutnya.

Tapi bagaimana mau mulai menulis, kalau sama sekali tidak punya ide untuk memunculkan kata-kata pertama itu, sudah bingung, dicampur lagi dengan adanya kebuntuan berpikir di jalan yang buntu. Selain itu, terkadang juga muncul rasa bingung tidak bisa membuat kata-kata yang indah, putus asa di tengah jalan lantaran pikirannya mentok, gagasannya kurang bermutu, tidak mampu mencairkan suasana yang enak dibaca dan tidak percaya diri dengan apa yang dituliskannya. Itulah sekelumit permasalahan yang terjadi dan dirasakan oleh penulis pemula. Hal ini juga seperti yang aku rasakan juga tatkala mau memulai untuk menulis dan menjadi penulis pemula.

Pada awal sebelum aku menyukai dunia tulis menulis, aku hanya bisa bermimpi dan menganggap menulis itu sesuatu yang sebenarnya mudah tapi juga susah. Padahal sudah ada ide-ide yang bagus dan cemerlang menurutku tapi aku bingung dari mana aku memulai menulisnya. Akhirnya aku hanya bisa bermimpi dan bermimpi ingin menulis tapi tak pernah terlaksana. Aku bermimpi tulisanku dimuat di suatu majalah tertentu atau memenangkan suatu ajang perlombaan hasil karya menulisku. Ternyata waktu itu aku hanya bisa bermimpi tanpa ada aksi. Tanpa mau mencoba dan berusaha untuk memulai menulis apa yang sebenarnya sudah ada dalam benakku waktu itu.

Ditambah lagi kesibukan aktivitasku yang tak kunjung henti (kuliah, praktikum dan kegiatan organisasi) telah menidurkanku dari mimpi-mimpi untuk menulis itu. Sejak pertama kali aku menjadi mahasiswa, aku memimpikan akan menjadi seorang penulis terutama menulis sebuah karya tulis ilmiah dan menjadi juara dalam ajang tersebut. Itulah impianku sejak pertama kali menjadi mahasiswa dan sebenarnya juga sudah sejak dari SMA tapi belum pernah terlaksana sama sekali. Hingga aku sudah duduk di semester 4 pun belum terealisasikan sama sekali. “Bagaimana Aku bisa menulis kalau tidak mau mencobanya sama sekali?” Itulah pertanyaan besar yang aku lontarkan ke diriku sendiri.


§  Kekuatan Menulis Dan Sejarah Orang-Orang Besar Karena Menulis

          “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer, Novelis Indonesia)

Ungkapan pepatah fenomenal dari Pramoedya Ananta Toer tersebut tentu sudah sangat sering kita dengar. Jika kita cermati maknanya memang ada benarnya juga. Kata-katanya tentu membuat kita tersentak dan tersengat untuk melakukan aktivitas yang bernama “menulis”. Pastinya kata-kata tersebut bukan asal kata, tapi memang sudah mewakili perasaan dari pembuatan ungkapan tersebut. Mungkin tidak hanya beliau yang merasakan betapa dahsyatnya manfaat dari menulis. Manfaat yang dirasakan tidak hanya bagi penulis semata tapi juga pembaca seantero jagat raya yang membaca tulisan tersebut pasti akan merasakan buah hasil dari apa yang kita baca tersebut.

Kenapa sih kita harus menulis? Mengapa orang-orang besar yang terkenal juga rata-rata melahirkan karya terbaiknya. Tentunya masing-masing punya “strong reason” tersendiri. Kenapa mereka menulis? Apa yang menyebabkan Ahmad Fuadi terkenal dengan karya Man Jadda wajada dalam bukunya “Negeri 5 Menara”?  Kenal  dengan Inspirator Sukses Mulia? Penulis buku berjudul “ON”, “Kubik Leadership” dan buku-buku best seller lainnya. Iya, betul Pak Jamil Azzaeni namanya. Beliau adalah motivator, trainer, sekligus penulis buku juga. Tahukah kalian dengan Novelis No. 1 Indonesia? Beliau sudah menerbitkan puluhan novel Bestseller dan sudah difilmkan juga, salah satunya “Ketika Cinta Bertasbih”. Betul, Kang Abik atau nama lengkapnya Habiburrahman El-Shirazy. 

Siapakah  tokoh  ustadz yang terkenal dengan Spiritual Entrepreneur dengan konsep sedekah? Betul, beliau adalah Ustadz Yusuf Mansur, juga telah menulis dan menerbitkan puluhan buku. Tahukah kalian dengan penulis buku-buku parenting dan urusan rumah tangga? Benar, Asma Nadia namanya. Beliau juga telah menerbitkan puluhan buku. Begitu juga dengan Helvy Tiana Rosa, sastrawan dan penulis novel inspiratif. Dua penulis hebat yang kakak-beradik (Helvy dan Asma) ini telah melahirkan puluhan buku best seller dan beberapa diantaranya sudah difilmkan seperti Ketika Mas Gagah Pergi, Assalamualaikum Beijing, Duka Sedalam Cinta dan sebagainya.

Menulis juga menjadi senjata ampuh bagi para pencari ilmu, sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan “ikatlah ilmu dengan menulis”. Menulis telah menjadi mesin penyimpan ilmu yang tak pernah hilang ditelan zaman, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Imam Ghozali, Ibnu Taimiyyah, Imam Syafi’i, dan para cendekiawan muslim lainnya. Walaupun orangnya telah tiada tapi karya-karya para tokoh ulama tersebut sampai sekarang menjadi referensi dan rujukan bagi umat manusia. Apa yang mereka (para cendekiawan muslim dan tokoh-tokoh ilmuwan lainnya) wariskan kepada generasi zaman ini? Iya, betul sekali. Mereka mewariskan ilmu-ilmu pengetahuan lewat karya-karya tulisan mereka berupa buku. Sebagai penyemangat cermati kata-kata dahsyat ini: “Satu peluru hanya menembus satu kepala, namun satu TULISAN mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala” (Sayyid Quthb). Itulah alasan mereka menulis.

§  Mengapa Guru Harus Menulis...???

Belajar dari orang-orang besar seperti disebutkan di atas, maka bagi seorang guru pun bisa mengikuti jejak seperti mereka. Lalu pertanyaannya, mengapa guru harus menulis? Tentunya menulis disini bukan hanya menulis RPP, silabus maupun perangkat pembelajaran lainnya. Kalau menulis perangkat tersebut merupakan tugas (sudah menjadi keharusan bagi guru). Ada beberapa alasan kenapa guru harus menulis, diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.    Sebagai bahan refleksi guru pembelajar
    Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa mengupgrade diri, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik yang profesional. Sebagai guru pembelajar, tak ada kata berhenti dalam belajar. Guru bisa merefleksikan dirinya melalui goresan tulisan tentang kegiatan pembelajarannya yang telah dilakukan, bisa harian maupun mingguan. Refleksi diri sebagai ulasan tentang apa yang telah dilakukannya dalam proses kegiatan belajar mengajar dan menulis rencana pembelajaran ke depannya. Menulis bisa menjadi terapi diri untuk memperbaiki kualitas guru tersebut.
2.    Berkarya lewat tulisan
     Selain sebagai bahan refleksi, menulis bagi guru merupakan kesempatan untuk berkarya dan berkreatifitas di dalam membuat media pembelajaran maupun best practice lainnya. Guru yang berkarya lewat tulisan akan menjadikan dirinya untuk terus berinovasi mencari terobosan baru di dalam pembelajaran yang dia lakukan. Kemudian dari pembelajaran tersebut bisa menjadi bahan tulisan baginya. Bisa juga bersumber dari masalah maupun kendala yang dihadapi selama menjadi guru dan problematika kehidupan sekolah lainnya juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi guru tersebut untuk berkarya menghasilkan tulisan yang menginspirasi orang lain.
3.    Mengikat ilmu dan pengalaman
    Setiap guru pasti memiliki pengalaman dan pastinya selalu haus dengan ilmu pengetahuan agar produktifitasnya tetap terjaga. Maka salah satu cara untuk mengikat ilmu dan pengalaman tersebut adalah dengan menulis. Seperti yang pernah disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib “ikatlah ilmu dengan menulis”. Disinilah pentingnya menulis bagi guru akan mampu mengikat ilmu dan pengalaman yang pernah diraih oleh guru tersebut. Pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi ilmu baru yang bisa diabadikan melalui tulisan yang bermakna dan berbobot.
4.    Menjadi teladan bagi siswa
     Guru yang rajin menulis dan menghasilkan karya tulis terbaiknya akan menjadi inspirasi dan teladan bagi para peserta didiknya. Goresan pena yang dihasilkan oleh guru tersebut bisa memotivasi siswa untuk ikut berkarya dan mengikuti jejak guru tersebut. Karena dengan tulisan tersebut siswa bisa tersengat motivasinya untuk melakukan suatu hal yang bisa dilakukan oleh siswa tersebut. Tidak hanya siswa saja, tulisan yang dibuat oleh guru juga bisa menjadi contoh bagi guru-guru lainnya di dalam mengelola dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan berdasarkan tulisan yang dibuat guru.
5.    Sebagai inovasi pembelajaran
     Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan semata, tapi seorang guru juga dituntut harus bisa berinovasi di dalam pembelajarannya. Salah satu cara yang harus ditempuh adalah melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang mana diawali dengan membuat rencana PTK tersebut yang dituangkan dalam tulisan. Membuat inovasi pembelajaran melalui PTK maupun metode yang lainnya akan sangat berguna jika bisa didokumentasikan juga lewat tulisan. Nantinya tulisan hasil best practice tersebut juga bisa menjadi rujukan bagi guru-guru yang lainnya.

§  Keterkaitan Menulis Dan Membaca.
  Menulis dan membaca ibarat dua sahabat sejati yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Kedua hal tersebut ibarat sekeping logam yang selalu beriringan kemanapun berada. Mari sejenak kita cermati ungkapan berikut:

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru, membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin ku jumpai sambil bermain di lengkung pelangi.”
(Abdurrahman Faiz, putra Helvy Tiana Rosa, remaja yang begitu
mencintai membaca dan sudah menulis buku sejak kanak-kanak).

Ungkapan tersebut memang benar sekali. Bahwa membaca itu banyak sekali manfaatnya. Dan membaca ini merupakan amunisi bagi para penulis. Begitu juga yang aku rasakan hingga saat ini. Kalau ditanya sejak kapan Aku suka dengan buku? Mungkin jawabannya adalah sejak masih duduk di tingkat dasar yaitu Madrasah Ibtidaiyyah (MI). Bukankah ada pepatah Arab yang mengatakan juga “Khoiru jaliisin fii zamani, kitaabun” (Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah BUKU). Sejak saat itulah pertemuanku dimulai. Bahkan hobi ini pun berlangsung hingga duduk di bangku SMA. Seringkali pinjam buku di perpustakaan sekolah hampir tiap minggu pasti pinjam 1-3 buku. Walaupun gak dibaca semua, tapi setidaknya bisa menambah referensi. Selain di perpustakaan sekolah, waktu itu juga sering meminjam buku di perpustakaan daerah.

Iya, kalau diceritain pasti akan panjang jalan ceritanya. Yang jelas banyak sekali manfaat yang aku dapatkan setelah membaca buku-buku tersebut. Singkat cerita, kembali ke buku pertamaku yang terbit itu membuatku semakin PeDe untuk mengikuti kompetisi menulis lainnya. Satu demi satu karya buku antologiku pun juga bertambah. Ternyata menulis itu memang mudah. Dan menulis tak kan bisa mengalir indah tanpa adanya banyak membaca. Kalau kurang membaca, maka kita akan menjadi miskin ilmu. Sebaliknya kalau kita banyak membaca, tentu kita akan bertambah wawasan dan pengetahuan kita. Itulah sepenggal pengalaman yang aku rasakan bahwa membaca dan menulis keduanya merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.



Epilog: Teruslah Menulis!

"Jika aku adalah MEMBACA, dan kamu adalah MENULIS. Maka, kita adalah LITERASI". Dua sejoli (membaca dan menulis) adalah senjata ampuh yang bisa merubah sumber daya manusia, menajamkan pengetahuan dan meraih kesuksesan.

  Habis membaca terbitlah menulis. Tulisan itu pun akan senantiasa bersinar menerangi bacaan. Begitulah pepatah yang tepat bagi kedua pasangan sejati (membaca dan menulis) yang tak bisa dipisahkan karena keduanya selalu beriringan.

    Kekuatan membaca yang telah kita serap akan meningkatkan keterampilan dalam menulis. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu juga dengan menulis, tulisan yang kita tulis tak lepas dari bacaan yang telah kita baca sebelumnya.
   
    Jenis atau genre buku yang kita baca pun akan mempengaruhi cita rasa tulisan yang kita hasilkan. Menulis dengan hati akan sangat berarti dibandingkan hanya menulis dengan emosi.  “Scripta manent, verba volent” yang berarti apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Pepatah latin ini pun menjadi visi bagi sebuah tulisan yang telah tergoreskan pena.

  “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya” (Michael Crichton, penulis novel “Jurassic Park”)

     Jika ingin umur panjang, menulislah!
     
      Salam Literasi

      Iin Amrullah
      #EduWriter

* Resume materi kuliah SGI Online (Selasa, 27 Februari 2018)