Monday, 29 April 2013

Menikah Pun Perlu Ilmu


Tiba-tiba saja tergerak untuk menulis tentang  ‘menikah’. Sebuah ikatan yang lebih besar energinya dari pada ikatan elektron. Lebih kuat ikatannya dibandingkan ikatan simpul pangkal atau pun simpul mati dalam tali temali. Walau saya sendiri belum merasakannya dan pengetahuanku pun masih sangat dangkal tentang hal ini, tapi rasanya ingin berbagi walau hanya sedikit berdasarkan buku yang pernah saya baca. Khusushon (spesial) tulisan ini saya berikan kepada teman-temanku yang mau menikah dalam waktu dekat dimanapun berada (karena akhir-akhir ini lagi banyak undangan walimahan yang datang) serta buat semuanya saja deh yang masih dalam proses untuk menikah. Ikhtiar itu harus. Persiapan juga perlu. Yang terpenting adalah harus siap bekalnya (lahir batin) dan yang lebih penting lagi mengetahui ilmunya. Karena menikah pun perlu ilmu dan harus dipersiapkan dengan matang, mantap, dan semangat ’45, hehe.

Sebelumnya saya ucapkan selamat menempuh hidup baru
bagi yang dalam waktu dekat ini akan melangsungkan atau yang baru saja
telah melangsungkan proses pernikahan. 
Teriring lantunan sebait do’a yang sering diucapkan dalam pernikahan:
Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir  
(mudah-mudahan Allah memberkahi untukmu, mencurahkan keberkahan atasmu
dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan).
Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah (samara).

“Setidaknya ada 3 bekal utama untuk mencapai kebahagiaan setiap pasangan (baca: suami-isteri), seperti yang diisyaratkan dalam Al-qur’an yaitu: membangun jiwa yang sakinah (tenang), menghidupkan semangat mawadah (cinta) dan mempertahankan spirit rahmah (kasih sayang)” begitu kata Asma Nadia dalam bukunya yang berjudul ‘Sakinah Bersamamu’. Cerita selengkapnya bisa dibaca sendiri yah dalam buku tersebut. Lika liku kehidupan berumah tangga, pahit manisnya, dan beragam jenis cerita inspiratif lainnya seputar permasalahan dalam rumah tangga ada dalam buku tersebut. Kalau diceritain disini tidak cukup waktunya.

Oke, kembali ke judul. “Menikah Pun Perlu Ilmu” begitu kata Ustadz Salim A. Fillah. Lebih detailnya tentang judul ini bisa dibaca selengkapnya di halaman 222-229 dalam buku beliau yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna”. Oleh karena itu, disini saya hanya akan mengulas point-point penting (intinya) yang disampaikan beliau, walau sebenarnya penting semua sih. Kata beliau, dalam isyarat Nabi tentang menikah ialah sunnah teranjur yang memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka menikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Sedikit menyebutkan bahwa kata beliau dalam buku tersebut persiapan menikah itu terbagi dalam 5 ranah: ruuhiyyah (spriritual), ‘ilmiyyah (pengetahuan), jasadiyyah (fisik), maaliyah (finansial) dan ijtimaa’iyyah (sosial). Oke, saya jelaskan sekilas tentang kelima ranah tersebut.

1.      Ruuhiyyah (spriritual)
Persiapan ini ialah yang paling mendasar. Segala persiapan nikah lainnya berpijak pada yang satu ini. Persiapan ruuhiyah (spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggung jawab hidup yang berlipat, berkelindan. Surat Ali Imran ayat 14: sebelum nikah ujian kita linear, pasangan hidup. Begitu nikah berjejalin; pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.

Sebelum nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitude kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH. Maka termakna jua dalam persiapan ruuhiyah (spiritual) terkait nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu. Sabar dan syukur itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih dan kurangnya.

Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, dan mendukung penuh perjuangan. Tetapi tak semua lelaki mampu beristri jauh lebih tua. Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tetapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya yang sampai banting piring di depan tamu.

Persiapan ruuhiyah nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa yang diperoleh, menuju apa yang akan dibaktikan. Jika nikah masih terbayang, lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, dan tukang cuci. Berobsesilah dalam nikah. “Apa obsesimu?”

Obsesi sebagai persiapan ruuhiyah nikah semisal: bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/istri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu? Usai itu, diantara persiapan ruuhiyah nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuan-Nya dalam rumah tangga dan masalah-masalahnya.

2.      ‘Ilmiyyah (pengetahuan)
Persiapan ‘ilmiyyah tsaqofiyyah (pengetahuan) nikah, meliput banyak hal semisal fikih, komunikasi pasangan, parenting, manajemen, dan lainnya. Bukan ustadz pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal ilmu syar’I yang dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumah tangga bukan karena ada maksud jahat, melainkan maksud baik yang kurang ilmu nikah.

Sungguh harus diilmui bahwa lelaki dan perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami dan bersinergi. Contoh beda hadapi masalah dan tekanan, wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi. Bayangkan jika pernedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi; “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai”. Konflik pasti meraja. Suami pulang dengan masalah berat disambut istri yang memaksa ingin tahu dan dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri dan bersolusi. BEDA. Bagi suami masalah harus disederhanakan (spiral ke dalam). Bagi istri, tiap detail dan keterkaitan sangat penting (spiral keluar). Dan banyak lagi BEDA yang jika tak diilmui potensial jadi masalah serius. Lengkapnya bisa disaksikan dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta.

Parenting. Waktu kita sempit, belum puas belajar jadi suami/istri, tiba-tiba sudah jadi ayah/ibu. Maka segeralah belajar jadi orangtua. Anak adalah karunia yang hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian). Maka mengilmui hingga detail-detal kecil soal parenting adalah niscaya. Hadits: renggutan kasar pada bayi membekas di jiwa.

3.      Jasadiyyah (fisik)
Kita masuk persiapan jasadiyyah (fisik) untuk nikah. Ini juga perkara penting, sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, dan ketenangan. Awal-awal, periksa dan konsultasilah ke dokter atas termungkinnya segala penyakit tubuh, lebih-lebih yang terkait kesehatan reproduksi. Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi dan rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah juga hal yang utama.

Fisik kita dan pasangan bertanggung jawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya dan staminanya sejak sekarang. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tanggung jawab jajan sembarangan, jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah menikah. Jadi, target persiapan fisik menikah itu 3 tingkatan, PRIMER: sehat dan aman penyakit, SEKUNDER: bugar dan tangkas, TERSIER: beauty dan charm.

4.      Maaliyah (finansial)
Selanjutnya persiapan maaliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui dan membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. Konsep awal, tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan dan penegasan kepemimpinan suami. Ingat dan catat. Persiapan finansial menikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah dan kendaraan yang harus Anda punya. Persiapan finansial menikah bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, dan kemampuan kelola sejumlah apa pun ia. Maka memulai pernikahan, BUKAN soal apa Anda sudah punya tabungan, rumah, dan kendaraan. Ia soal kompetensi dan kehendak baik menafkahi.

Ali bin Abi Thalib memulai nikah bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain sebagainya dari sumbangan kawan dihitung utang oleh Nabi. Tetapi Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten, dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma. Maka sesudah kompetensi dan kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja—apa pun ia—iman menuntun: nikah itu buat kaya (Surat An-Nuur ayat 32). Kata ustadz Salim, beliau juga minus saat nikah, utang yang terencanakan terbayar 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. Tetapi Allah Mahakaya, dan nikah menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya istri menjadi penyemangat, utang itu selesai dalam 2 bulan.

Buatlah proyeksi nafkah menikah secara ilmiah dan executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutan-Nya. Kemapanan itu tidak abadi. Saya (ustadz Salim) memilih nikah di usia 20 tahun saat belum mapan agar tersiapkan istri untuk hadapi lapang maupun sempitnya. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta.

5.      Iijtimaa’iyyah (sosial).
Persiapan menikah yang sering terabai ialah yang kelima ini: ijtimaa’iyyah (sosial). Pernikahan adalah peristiwa yang kompleks secara sosial. Sebuah pernikahan yang utuh mempunyai visi dan misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan. Untuk itu, mereka yang akan menikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan. Membiasakan mengomunikasikan prinsip-prinsip yang diyakini terkait pernikahan dan kehidupan kepada orangtua bisa jadi bagian dari latihan.

Prinsip Al-qur’an tentang hubungan dengan orangtua ialah “persahabatan”, wa shaahibhumaa (Surat Luqman ayat 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. Maka kadang ustadz Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin menikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada orangtua secara makruf. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dan seterusnya.

Pernikahan kita harus hadir sebagai pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor. Mulailah dengan perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti, tetangga rumah tinggal setelah nikah adalah yang paling berhak diundang. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jaga dengan perkenalan. Para tokoh: datangi, silaturahimi. Masyarakat umum: undang tasyakuran.

Setelah itu, target besarnya adalah menjadikan pintu rumah kita sebagai yang paling pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. Tentu berat menopangnya sendiri. Maka yang harus kita punya bukan hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan saling menguatkan. Ilmuilah bagaimana cara menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis dan lainnya DEMI TETANGGA KITA.

Tampillah sebagai yang penting dan bermanfaat dalam hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. Tampillah sebagai yang terbaik sejangkau sesuai kemampuan; imam masjid, muadzin, guru TPA, bendahara RT, ketua RW, pendoa jenazah, dst. Tampillah sebagai yang paling besar kontribusi dalam kebaikan-kebaikan sosial: agustusan, syawalan, kerja bakti, arisan, pengajian, dst. Ringkas kata untuk persiapan sosial nikah ini adalah bermampu diri untuk menjadi pribadi dan keluarga yang AMAN, RAMAH, dan BERMANFAAT.

Demikian sekilas sedikit (tapi banyak) tentang ilmu dalam menikah beserta langkah-langkah persiapan yang harus dipersiapkan semuanya. Sekali lagi jika ingin mengetahui lebih lengkapnya bisa membaca buku Ustadz Salim A. Fillah yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna” halaman 222-229 atau buku beliau yang lain berjudul “Bahagianya Merayakan Cinta”. Bisa juga untuk mengetahui proses seputar lika-liku kehidupan berumah tangga dalam bentuk cerita, yang tentunya banyak makna yang bisa kita ambil ada di bukunya mba Asma Nadia yang berjudul ‘Sakinah Bersamamu’. Dan pastinya masih banyak referensi yang lain yang bisa digunakan (sesuai selera yang kita sukai), karena menikah pun memang perlu mengetahui ilmu-ilmunya. Wallahu a’lam bishowab.

0 comments: