Saturday, 22 March 2014

Resensi Buku “Beta Guru Sudah”


A. 
Identitas Buku
Judul buku              : “Beta Guru Sudah”
Penulis                    : Sekolah Guru Indonesia
Tahun terbit            : 2013
Penerbit                  : Dompet Dhuafa - Sekolah Guru Indonesia
Kota Terbit             : Bogor
Cetakan ke-             : II (September 2013)
Tebal buku              : 248 + xviii halaman

B.  Sinopsis
Menjadi guru di daerah pelosok nusantara adalah sebuah perjuangan mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tantangan dan rintangan yang menghadang tak menjadi hambatan yang menyurutkan semangat juang para pejuang muda ini. Melupakan kenyamanan dan memilih mengabdi di pelosok-pelosok negeri, seperti yang ditempuh Haryati dan puluhan guru muda Sekolah Guru Indonesia (SGI) III ini, bukanlah ajang mencari sensasi apalagi publikasi. Sebagaimana diceritakan dalam buku ini, laku sepi di lokasi-lokasi penempatan menempa kedewasaan mereka. Mereka menempa dengan jalan berbagi kepada anak bangsa yang kerap luput kita perhatikan adanya. Melalui pendidikan, guru muda SGI ini menebalkan optimisme hidup di berbagai penjuru daerah Indonesia dan saat yang sama mereka menguatkan kepercayaan diri bahwa mereka adalah pendidik sejati. Ya, bahwa mereka berhak berkata, “beta guru sudah!”.

Mengajar di daerah terpencil Indonesia merupakan perjuangan yang butuh banyak pengorbanan. Para pejuang muda SGI ini berangkat atas dasar panggilan hati dan cinta yang tulus dalam mendidik dan mencerdaskan anak-anak hebat mutiara bangsa. Itulah cerita menarik yang disampaikan dalam buku berjudul “Beta Guru Sudah”. Buku ini menceritakan tentang kisah-kisah inspiratif dari para guru teladan yang telah mengabdi di daerah penjuru Indonesia. Haryati adalah salah satu guru muda yang ditempatkan bertugas di SDN 29 Manggar, Pulau Buku Limau, Kepulauan Bangka Belitung. Haryati berbagi cerita tentang semangat anak-anak didiknya yang juga menjadi spiritnya dalam mendidik mereka. Cerita menariknya adalah saat menghadapi malam di lautan, tiba-tiba saja perahu yang ditumpanginya mati dan hampir setengah jam terombang ambing gelombang lautan. Yang tak kalah serunya lagi adalah saat dia mengantarkan anak-anaknya untuk berkemah juga harus menggunakan perahu karena lokasinya berada di seberang daerah yang harus dilalui dengan perahu. Meski fasilitas yang jauh dari kata mewah, anak-anak didiknya sangat antusias dalam mengikuti semua aktivitas pembelajaran.

Buku ini memberikan banyak hikmah dan pelajaran penting, baik dari gurunya (pejuang muda SGI) maupun dari anak-anak didiknya. Antologi buku ini terbagi dalam 3 bab utama yaitu Anak Pun Mengajari Kita Hikmah, Tiada Letih untuk Mencoba, dan Abadilah Jejak-Jejak Pengabdian. Ketika membaca buku ini, kita akan disuguhkan banyak pelajaran berharga dari anak-anak didik guru SGI. Pada bagian prolog buku ini terdapat sebuah ungkapan rasa yang diucapkan oleh Torey Hayden, seorang guru anak berkebutuhan khusus penulis buku "Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil (One Child)". Torey berkata, Aku belajar dari murid-muridku, kekinianlah yang terpenting. Pada zaman modern, kita cenderung berorientasi pada tujuan. Masalahnya, tujuan itu ada di masa depan. Dan tak satu pun dari kita hidup di masa depan. Kita hidup sekarang. Sekaranglah prosesnya. Aku hanya punya sekarang, jadi ketika bekerja dengan mereka, aku harus hadir sepenuhnya, sadar sepenuhnya, dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Ternyata dengan begitu, aku menemukan sesuatu yang kaya. Dalam segala keburukan, kecantikan, tragedi, humor, di tengah semua itu, ada CINTA”. Iya, hanya "cinta"lah yang membuat Torey bisa menghadapi semua tantangan itu. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh para guru SGI dalam menjalankan misi pengabdiannya di daerah penempatan.

Dalam bab “Anak Pun Mengajari Kita Hikmah” terdapat 14 kisah inspiratif. Dalam bab ini kita akan menemukan kehebatan anak-anak didik yang penuh dengan talenta. Seperti Era Fajira (Siswa SDN 15 Woja, Dompu, NTB) yang rajin belajar dan suka membantu orangtuanya, ada juga anak-anak pengukir prestasi di tengah keterbatasan, anak-anak yang memiliki jiwa pemimpin (mampu mengayomi teman-temannya) dan anak-anak  lainnya yang tak kalah hebatnya lagi. Dibalik anak-anak hebat itu ada guru muda yang berperan dalam mendidik dan membimbing mereka. Dalam bab “Tiada Letih untuk Mencoba” terdapat  15 kisah anak-anak yang tak kenal letih dalam berlatih, selalu berusaha untuk mencoba dan meraih prestasi terbaiknya. Ditengah-tengah keterbatasan yang ada, mereka tak pernah surut semangatnya dan selalu ada guru hebat yang bisa membuatnya seperti itu.

Selain mendidik anak-anak didik yang luar biasa antusias belajarnya, para guru muda SGI ini juga melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dimana tempat mereka tinggal. Kisah-kisah mereka diceritakan dalam bab “Abadilah Jejak-Jejak Pengabdian” yang terbagi dalam 12 kisah. Salah satunya adalah kegiatan baca tulis yang diikuti oleh Miharsih (seorang ibu rumah tangga Kampung Tambleg, Lebak, Banten). Di tengah kesibukan bertani atau terkadang sebagai pengasuh, Miharsih mau belajar baca tulis bersama tim SGI. Langkahnya diikuti oleh suaminya, yang juga tak bisa membaca dan menulis. Dengan semangat menggebu, mereka berdua rela mengalokasikan sebagian waktu beristirahat di malam hari untuk ikut belajar membaca dan menulis yang dilakukan oleh pengajar muda SGI. Itulah jejak-jejak pengabdian mereka yang mampu menghidupkan semangat masyarakat sekitar, mengobarkan tekad para guru dimana mereka mengajar dan menginspirasi anak-anak didiknya dalam menggapai mimpi dan cita-citanya.

C. Kelebihan Buku
            Buku ini memiliki banyak kelebihan yang dapat kita ambil, karena buku ini bersumber langsung dari kisah-kisah pejuang muda yang didapatnya saat pengabdiannya di daerah-daerah penjuru nusantara, diantaranya adalah:
1.    Memberikan inspirasi bagi kita tentang perjuangan guru muda SGI dalam mendidik anak bangsa di berbagai pelosok Indonesia.
2.    Menampilkan banyak hikmah dan pelajaran penting dari anak-anak didik kita yang bisa diambil maknanya untuk diaplikasikan dalam hidup kita.
3.    Memberikan pencerahan bagi kita bahwa jangan pernah letih untuk mencoba dan belajar dalam segala hal kehidupan ini.
4.    Menampilkan contoh jejak-jejak pengabdian kepada masyarakat dan semangat juang untuk berbagi manfaat kepada sesama.

D. Kekurangan Buku
1.    Ada beberapa kisah yang kurang sesuai dengan judul bab
2.    Masih dijumpai beberapa naskah yang diksi (pemilihan katanya) kurang menarik dan terkesan monoton
3.    Jumlah halaman masing-masing kisah beragam (ada yang hanya 2 halaman, ada juga yang sampai 5 halaman), jadi ceritanya masih mengambang dan belum tergambarkan secara jelas.



Peresensi,

In Amullah, S.Si
Presiden KM Hexagonal

 SGI VI Dompet Dhuafa

0 comments: