Welcome Reader

Selamat Datang di blognya Kang Amroelz (Iin Amrullah Aldjaisya)

Menulis itu sehangat secangkir kopi

Hidup punya banyak varian rasa. Rasa suka, bahagia, semangat, gembira, sedih, lelah, bosan, bête, galau dan sebagainya. Tapi, yang terpenting adalah jadikanlah hari-hari yang kita lewati menjadi hari yang terbaik dan teruslah bertumbuh dalam hal kebaikan.Menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, berbagi inspirasi, dan menyebar motivasi kepada orang lain. So, menulislah!

Sepasang Kuntum Motivasi

Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan (Nasihat Kiai Rais, dalam Novel Rantau 1 Muara - karya Ahmad Fuadi)

Berawal dari selembar mimpi

#Karena mimpi itu energi. Teruslah bermimpi yang tinggi, raih yang terbaik. Jangan lupa sediakan juga senjatanya: “berikhtiar, bersabar, dan bersyukur”. Dimanapun berada.

Hadapi masalah dengan bijak

Kun 'aaliman takun 'aarifan. Ketahuilah lebih banyak, maka akan menjadi lebih bijak. Karena setiap masalah punya solusi. Dibalik satu kesulitan, ada dua kemudahan.

Wednesday, 19 April 2017

“Kenali Diri, Temukan Solusi” dengan Coaching

Peserta Training "Coaching for Teacher"

Menjadi pembelajar adalah suatu keharusan yang harus dilakukan setiap diri pribadi. Dimana pun berada, seorang pembelajar punya tekad tak kenal henti untuk terus memperbaiki diri. Meski medan hidup yang dilalui penuh dengan lika-liku yang menantang, seorang pembelajar akan terus berbenah, terus belajar dan terus mencari ilmu. Saat melewati lintasan kehidupan yang terkadang mirip seperti roda yang kerap kali berputar. Sama halnya dengan yang dihadapi tiap manusia, tidak selamanya berjalan dengan mulus. Pasti ada saja kerikil masalah yang menghadang. Bagi pembelajar, semua hambatan dan tantangan itu akan dilaluinya dengan mencari solusi yang jitu. Seorang pembelajar adalah problem solver juga.

Setiap manusia pasti punya masalah atau problem yang dihadapinya. Pertanyaannya, apa sih “masalah” itu? Mungkin tiap orang berbeda-beda cara pandangnya dalam menilai suatu kejadian yang dialaminya, apakah itu masalah atau bukan? Sebagai contoh: kemacetan, masalah atau bukan? Persepsi orang berbeda-beda. Ada yang bilang kemacetan itu masalah. Ada yang bilang bukan masalah. Bagi pedagang asongan atau pengamen kemacetan menjadi kesempatan sekaligus peluang untuk mencari nafkah. Lain halnya bagi pengendara mobil yang mau berangkat ke kantor, tiba-tiba dihadang kemacetan, tentu ini menjadi masalah besar yang menghadang. Ini hanya contoh sederhana saja tentang kemacetan, bisa jadi masalah, akan tetapi di sisi lain bisa menjadi peluang atau kesempatan. Jadi, apa sebenarnya masalah itu?

Masalah adalah gap antara keinginan dengan kenyataan.  Suatu kejadian atau peristiwa yang kita alami, misalnya dalam kejadian kemacetan tadi. Bagi seorang pengendara mobil yang hendak berangkat kerja, keinginannya adalah perjalanan lancar dan sampai di kantor tepat waktu. Tapi, ketika kenyataan di lapangan yang terjadi adalah kemacetan yang mengular panjang, maka kondisi ini tak seperti yang diinginkan. Maka, kemacetan menjadi masalah bagi orang tersebut. Begitu juga dengan kejadian atau kegiatan lain yang sehari-hari kita alami seringkali tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka sesuatu itu menjadi masalah. Lalu bagaimana cara kita menyikapi atau menghadapi masalah-masalah yang kita alami? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui teknik coaching.

Itulah pemaparan singkat dari Coach Iis Susilawati dalam Pelatihan “Coaching for Teacher” yang diadakan oleh Maxima. Acara yang berlangsung pada hari Sabtu, 28 Januari 2017 diikuti oleh guru-guru hebat, dosen, praktisi dan para pendidik pembelajar sejati. Suatu kesempatan menarik bisa mengikuti acara spektakuler ini. Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa (Mas Shirly dan Bu Rina) yang telah memfasilitasi saya untuk ikut acara yang spesial ini. Disini saya jadi banyak belajar menjadi coach, coachee dan observer bersama rekan-rekan guru pembelajar yang dipandu oleh Coach Iis. Terima kasih juga buat para panitia dari Maxima selaku penyelenggara event hebat ini.
Apa itu coaching? Bagaimana caranya? Seberapa pentingkah metode coaching itu? Dalam moment ini dikupas tuntas dalam Maxima Training, workshop sekaligus praktek langsung tentang metode coaching tersebut. Pada sesi pertama, Coach Iis memaparkan materi tentang “dasar-dasar coaching untuk guru dan kehidupan sehari-hari”. Meskipun dalam training ini didominasi oleh guru-guru dari sekolah, namun metode coaching ini kata Coach Iis bisa diterapkan juga oleh siapapun, baik untuk coaching diri sendiri (self-coaching), coaching teman, coaching suami/istri dan sebagainya. Berikut ini saya tuliskan resume hasil training tersebut:

Coaching adalah proses memfasilitasi coachee/klien/audience untuk mencapai tujuannya dan bisa mengendalikan hidupnya dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang memberdayakan. Ada dua jenis coaching yaitu coaching performance dan coaching transformational. Coaching performance dilakukan untuk merubah skill atau keterampilan (dari gak bisa menjadi bisa). Sedangkan coaching transformational adalah merubah kondisi menjadi lebih baik (misal dari B ke A atau dari A ke A’). Coaching berbeda dengan teaching, training, mentoring maupun konsulting. Metode coaching lebih menekankan pada memfasilitasi audiens (cochee) untuk menemukan tujuannya sehingga dapat mengendalikan hidupnya. Selain itu, coaching juga lebih fokus tujuan ke depan (solution future) atas masalah yang dihadapinya.

Bagaimana caranya untuk melakukan coaching? Menurut Coach Iis ada 4 hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan coaching, yaitu:
1.     Coach Position
Sebelum melakukan coaching, posisi duduk juga harus diperhatikan. Antara coach dengan caochee (klient) duduknya bersebelahan. Selain itu, seorang coach juga harus memperhatikan beberapa poin berikut ini:
§  Everybody is okay (tidak menilai orang, netral)
§  Change is inevitable (perubahan dari setiap orang tidak dapat dihindarkan dan memungkinkan terjadi)
§  Every behavior has positive intention (setiap perilaku memiliki niat dan tujuan yang baik)
§  Best decision (setiap keputusan yang diambil adalah keputusan terbaik pada saat waktu diambilnya keputusan tersebut)
§  Everybody is resourceful (setiap orang memiliki potensi yang sama)

2.     Building Trust (Membangun Kepercayaan)
Hal kedua yang harus dilakukan lagi adalah membangun kepercayaan (building trust) antara coach dengan coachee. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
§  Adanya tujuan yang diinginkan (naming the outcome)
§  Mendengarkan kata kunci yang sering disebutkan oleh coachee (speak the outcome)
§  Adanya softener (pembukaan salam perkenalan)
§  Bertanya sesuai dengan kata-kata / kalimat dari klient
§  Backtracking (mengulangi pertanyaan klient)

3.     Mempersiapkan contract dari klient
Tahap ketiga yang harus dilakukan adalah mempersiapkan contract dari coachee (klient). Tahap ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh tentang coachee dan bagi seorang coach harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
§  In control (hal yang bisa menjadi object coaching adalah sesuatu yang bisa dicontrol / internal control). Sesuatu masalah yang ada dalam diri sendiri, bukan dari pengaruh luar (eksternal)
§  Visual auditory kinestetik (VAK) ; terbayang bagaimana rasanya
§  Ecological check : tidak merugikan lingkungan luar
§  Harus terukur dengan SMART: Specific, Measurable, Achievable, Reliable, Timetable)
§  Positive sentence:  fokus pada apa yang diinginkan, bukan pada yang tidak diinginkan

4.     Tone (suara)
Hal yang tak kalah penting lagi saat melakukan coaching adalah perhatikan tone (suara) kita. Ada 4 jenis suara yaitu suara yang bersifat menyerang, suara bersahabat, suara centil dan suara bijak. Keberhasilan sebuah coaching salah satunya juga memainkan peran suara kita saat berhadapan dengan coachee (klient).

            Setelah Coach Iis menyampaikan materi tersebut, para peserta training dikelompokkan (3 orang per kelompok) untuk melakukan praktek coaching.  Saya satu kelompok dengan Pak Sony (dosen Manajemen, Binus University) dan Mba Dini (Biblioterapy Dompet Dhuafa). Dalam praktek coaching tersebut, kami bertiga berbagi peran sebagai coach, coachee dan observer. Secara bergantian kami memerankan ketiga peran tersebut. Hal yang harus diperhatikan lagi  selain harus memahami keempat poin di atas, ada beberapa pertanyaan dasar yang dapat digunakan dalam coaching. Berikut ini ada 4 pertanyaan paling dasar dan global adalah:
1.      Apa yang Anda inginkan?
2.      Bagaimana cara Anda untuk meraihnya?
3.      Mengapa hal itu penting?
4.      Bagaimana Anda tahu bahwa Anda bisa mencapainya?


Demikian sedikit resume dan sharing materi tentang coaching yang saya dapatkan dalam mengikuti kegiatan training “Coaching for Teacher” yang diselenggarakan oleh Maxima. Menurut saya materi tersebut sangat bermanfaat bagi guru dalam mendidik dan membimbing siswa-siswinya dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapinya. Pada prinsipnya dengan Coaching ini membantu seorang coachee/klient (bisa siswa, teman atau siapa saja yang kita coaching) menemukan solusi atas kendala atau masalah yang dihadapinya. Kenali diri, temukan solusi dengan coaching. Semoga bermanfaat...!!

Tuesday, 11 April 2017

Gigih Pangkal Juara

TOP 25 Finalis Literacy Awards Baznas-Republika

Menyemai Gigih pada Siswa

Setiap impian butuh usaha, kerja keras dan perjuangan untuk meraihnya. Karena setiap hasil tak kan pernah mengkhianati proses. Maka, saat melewati lika-liku proses itu perlu kegigihan dan tekad yang membara. Itulah yang telah dilalui oleh kedua siswaku ini.
Setiap kali saya menginformasikan tentang info lomba, kompetisi atau sejenisnya kedua siswaku ini paling antusias bertanya. Seperti dalam event Forum Pelajar Indonesia ini. Salah satu persyaratannya adalah bikin 3 essay dan 1 video. Kedua siswaku ini pun mau berproses membuat tantangan ini. Untuk essai saya yang membimbing, sedangkan untuk video bagian Mas @hakkinnizar yang membimbingnya.
Ada 3 esai yang harus mereka buat. Esai pertama tentang siapa diriku dan aktivitasku saat ini. Esai kedua tentang motivasiku mengikuti acara FOR 9 dan esai ketiga bertemakan "Sinergi Pelajar Indonesia". Mereka berdua adalah siswa yg gigih dan mau belajar. Ketiga esai tersebut pun diketik, lalu diprint dan diserahkan kepadaku. Saya koreksi, corat coret pada tulisan yang salah dan kasih masukan tentang kekurangan esai tersebut. Rofik dan Khalid pun kembali memperbaikinya.

Pengumuman Finalis FOR 9
Di tengah kesibukan di boardingschool, mereka berdua terus gigih bersemangat memperbaiki esainya. Revisi, print lalu dikasih lagi kepadaku. Lalu saya corat coret lagi yang salah dan yang masih kurang. Kurang lebih sampai 5x revisi. Akhirnya setelah oke, barulah dikirim ke panitia. Khalid lebih dulu sekitar 5 hari sebelum DL. Sedangkan Rofik baru terkirim tepat dateline. Tepatnya sekitar 2 jam sebelum pendaftaran ditutup.
Nah, disitulah letak kegigihan mereka dalam berjuang. Menjelang pengumuman tiba, panitia lewat akun instagramnya menginformasikan bahwa total pesertanya ada 1327 pendaftar yang berasal dari 317 SMA/MA/SMK/Sederajat dari 32 provinsi se-Indonesia. Peserta yang lolos hanya dipilih 220 peserta. Wow.

Akhir kata, SELAMAT & Barokallahu lakumaa untuk Rofik @rofiqaulia04 (kls XI) dan Khalid @alid_az (kls X) yang lolos seleksi Forum Pelajar Indonesia ke-9 yang diadakan oleh Indonesian Student & Youth Forum (ISYF). Selamat berjuang dan bersinergi dengan pelajar se-Indonesia pada tgl 23-27 Juli 2017 mendatang. Pasti Bisa...!!!


Kegigihan Guru, Teladan bagi Siswa

Jika kemarin kedua siswa kami yang lolos finalis IYSF 2017 lantaran kegigihan daya juangnya. Kini giliran gurunya pun dapat kabar bahagia. Seperti pepatah: "sebuah hasil, tergantung usahanya". Dalam prosesnya perlu kegigihan. Bukankah man jadda wajada? Seperti itulah buah dari kegigihan. Tak bisa digambarkan dengan untaian kata, tapi energinya menggetarkan asa.

Kabar baiknya teman saya juga Mas @hakkinnizar mendapat sms yang sama. Alhamdulillah, kita berdua diberi kesempatan lolos dalam Literacy Award yang diadakan oleh Baznas bekerjasama dgn Republika ini. Program bagi guru/ustadz di sekolah/pesantren ini diharuskan meresensi buku "Ayah...Kisah Buya Hamka" dan membuat rancangan program inspiratif utk sekolah/pesantren.

Sms dari panitia tentang Finalis Literacy Award

Untungnya waktu itu ada salah satu siswa kami yang punya buku tersebut. Di tengah kesibukan yg ada di boardingschool, saya dan mas hakkin gantian baca bukunya. Saya lebih dulu. H-2 DL pendaftaran baru kelar resensinya, sementara mas Hakkin belum selesai baca bukunya. H-1 sudah selesai resensi dan sudah diposting di website pribadi. Tinggal program yg belum??? Seminggu sebelum DL harus selesaiin dulu koreksian USBN, Ujian Praktek & UTS.

Tepat hari terakhir pendaftaran, penuh dag dig dug. Kita berdua sama-sama dateliners, hehehttps://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v8/f53/1/16/1f605.png😅. Hari itu juga DL siswa kami daftar IYSF. Jadi double genting. Klo saya ditambah 1 lagi, hari itu juga ternyta masa tenggang websiteku berakhir. Sore hari saat mau kirim ke panitia, ternyata link website tidak bisa diakses. Harus perpanjang dulu. Saat itu juga langsung pergi ke ATM utk bayar. Cobain 2 atm gak bisa transfer. Kok bisa? Wah ternyata salah tekan tombol. Oke. Kelar urusan perpanjang website. 

Malam hari sekitar 4 jam sbelum ditutup pendaftaran akhirnya terkirim juga resensi dan programnya. Selesai itu baru siswaku juga berhasil terkirim aplikasinya. Sementara mas Hakkin baru beres sekitar 2 jam sebelum DL. Hari yg luar biasa waktu itu. Demikian singkat cerita proses perjalanan kami.

Karena gigih itu ibarat ungkapan berikut:

Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya
(Michael Crichton, penulis novel “Jurassic Park”)

Iya, betul sekali kalimat Crichton ini. Maka, teruslah berkarya. Teruslah melaju hingga injure time. Sebelum peluit akhir dibunyikan, tak ada kata menyerah jika berteman akrab dengan "kegigihan". Karena dalam melakukan segala hal perlu energi juang bernama kegigihan ini. Bagaimana caranya agar bisa terus berkarya? Bertemanlah dengan literasi. Membaca dan menulis, keduanya harus berjalan seiringan. Membaca dan menulis ibarat sepasang suami-istri yang saling melengkapi. Membaca ibarat bahan bakar bagi motor, sementara menulis adalah kelajuan dari motor tersebut. Ini hanya analogi sederhana saja, hehe.

"Banyak membaca, itulah jalan yg baik utk menambah pengetahuan dan mengasah kecerdasan" pesan H. Agus Salim kepada Bung Hatta. Sementara kata Sahabat Ali bin Abi Thalib "ikatlah ilmu dengan menulis". So, teruslah berkarya!

Kombinasi antara impian, kemauan dan perjuangan, itulah KEGIGIHAN. Faidza azamta fatawakkal 'alallah. Bismillah, let's prepare to final Literacy Award Baznas-Republika in Bogor and Jakarta. Berjuanglah dengan gigih...! Ganbareba, zettai dekiru...!

Thursday, 30 March 2017

Meneladani “Ayah Bangsa” Bernama Buya Hamka

Cover Buku "Ayah... Kisah Buya Hamka"

Dibalik keluarga yang hebat, ada sosok ayah tangguh yang menjadi aktor utamanya. Kepemimpinan ayah selaku imam rumah tangga menjadi garda terdepan dalam membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Ayah dan ibu merupakan madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Ayah sebagai kepala sekolahnya dan ibu sebagai gurunya. Keberhasilan pembelajaran di rumah tersebut tergantung pimpinannya, yaitu ayah. Selain itu, ayah juga merupakan ayah pejuang, kharismatik, cerdik, bersahaja, berjiwa besar dan pemimpin bagi masyarakat sekitarnya. Jiwa patriot dan kegigihannya memegang tauhid mengantarkan sosok ayah ini juga menjadi “ayah bangsa” yang patut menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia. Ketahuilah, sosok teladan ayah bangsa ini bernama Buya Hamka.  

Tokoh kharismatik yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini lebih akrab dikenal dengan sebutan “Buya Hamka”. Beliau merupakan pribadi yang multitalenta. Ketokohan beliau bukan hanya dikenal sebagai ulama besar, melainkan juga sebagai sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, pejuang dan pemimpin umat. Keteladanan hidup beliau dimulai dari membangun pondasi terkecil, yaitu keluarganya. Beliau menjadi sosok panutan bagi istri dan anak-anaknya. Hal itulah yang sangat dirasakan oleh Irfan Hamka (anak kelima Buya Hamka) yang dipaparkan sangat gamblang dalam bukunya yang berjudul “Ayah.... Kisah Buya Hamka”. Melalui buku tersebut, Irfan menceritakan serangkaian kisah ayahnya tersebut yang dikenangnya sejak Irfan berusia 5 tahun (1948, saat agresi II) hingga Buya Hamka wafat (24 Juli 1981).

Buku yang berbentuk novel biografi ini ditulis dengan gaya bahasa menarik, mudah dipahami dan sarat akan nasihat yang bisa kita jadikan teladan dalam kehidupan sekarang ini. Bagian pertama bercerita tentang tiga nasihat Buya Hamka, yaitu nasihat bagi rumah tangga, nasihat bagi tetangga dan nasihat untuk pembohong. Walaupun kejadian kisah tersebut sudah lampau terjadinya, namun ketiga nasihat tersebut masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini. Dalam keluarga, Buya Hamka juga menjadi sosok ayah teladan bagi kedua belas putra-putrinya, menjadi guru mengaji, guru silat (bela diri) hingga menjadi suami yang bijak. Akhlak Buya Hamka tercermin juga dalam diri akhlak Hajah Siti Raham Rasul (istrinya) yang cinta silaturahim dan bersosialisasi dengan masyarakat.

Buya Hamka merupakan tokoh Indonesia pertama yang menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar. Beliau termasuk manusia pembelajar sejati, rajin membaca buku dan tekun dalam menulis. Dunia literasi sangat melekat dalam karakter pribadi beliau. Meski tidak tamat pendidikan formal, kegigihan semangat belajar Buya Hamka tak pernah pudar. Belajar secara otodidak ditekuninya dengan banyak membaca buku. Lalu belajar dengan tokoh dan ulama baik saat di Sumatera, Jawa hingga sampai ke Mekkah, Saudia Arabia. Kecintaannya beliau dalam menulis menghasilkan puluhan bahkan ratusan karya tulis baik dalam bentuk majalah, surat kabar hingga buku. Selain itu, ada lagi karya paling fenomenalnya yaitu tafsir Al-Qur’an 30 juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar yang dibuatnya saat beliau dalam penjara karena difitnah.

            Dalam buku ini juga diceritakan tentang kisah Buya Hamka berdamai dengan jin, kisah Si Kuning (kucing kesayangan beliau yang selalu mengikutinya), perjalanan haji ke Mekkah dengan Kapal Mae Abeto, perjalanan maut saat berada di Saudi Arabia, hasil karya dan beberapa kisah hingga kejadian wafatnya Buya Hamka. Semua itu penuh dengan hikmah dan nasihat.


*Resensi ini diikutsertakan dalam Literasi Award 2017 yang diadakan oleh BAZNAS dengan Republika.

Sunday, 12 March 2017

Antara Leuwiliang & Pasar Senen: “Ada Hikmah Dibalik Masalah”



Hari ini penuh dengan kejutan. Kaget bercampur was-was. Ketar ketir mengejar waktu. Berpacu dengan sepeda motor. Antara dag dig dug bercampur dengan aneka rasa yang lainnya. Berbaur menjadi satu. Mungkin jika ada kolam atau sungai yang jernih, ingin rasanya menceburkan diri ke dalamnya. Biar adem, hehe. Apalagi kalau ada air terjun yang bening airnya atau laut yang tenang ombaknya, maka sudah dipastikan aku ingin menyelamnya. Tapi aku yakin dibalik semua hambatan itu ada hikmah yang bisa dipetik. Setiap masalah yang menimpa diri kita, pasti ada pelajaran berharga yang bisa kita jadikan refleksi diri. Emang ada hambatan apa? Ada masalah apa? Tidak ada. Ini hanya sepenggal kisah yang terjadi antara Leuwiliang hingga Pasar Senen, hehe
Singkat cerita begini kisahnya:
Tepat jam 7.40 WIB aku sudah berangkat dari Leuwiliang. Selepas nyuci pakaian, lalu sarapan pagi aku langsung berkemas-kemas meninggalkan asrama sekolahku, SMA Plus Liwaul Furqon Bogor. Rencana kepergianku hari ini sudah aku persiapkan sejak kemarin sore. Semalam sudah memesan tiket kereta juga untuk tujuan Pasar Senen ke Tegal. Jadwal kereta di Stasiun Senin jam 12.00. Kalau sesuai perhitungan jarak dan waktu, diperkirakan sampai lokasi bisa tepat waktu. Bahkan bisa lebih awal 1 jam dari waktu yang tertera di tiket tersebut. Aku pun mengendarai motor agak santai. Tidak terlalu terburu-buru.
Cuaca hari ini cukup bersahabat. Langitnya cerah dan matahari pun tampak cerah memancarkan senyum manisnya. Perjalanan dengan motor plat G pun aku nikmati dengan sepenuh hati, hehe. Di tengah perjalanan tiba-tiba rantai motor putus. Tepatnya di daerah Dramaga. Mau gak mau harus dorong motor sembari mencari bengkel. Tak jauh dari lokasi, aku temukan bengkel yang masih sepi itu. Aku pikir gak lama, rupanya lewat 1 jam lebih motor baru normal kembali. Karena pikirku memasang rantai cuma sebentar, lepas rantainya, lalu pasang, beres! Tapi ternyata nggak. Rantai sepeda motorku ini sepertinya sudah usang dan ada yang peot (bengkok), akhirnya mau gak mau harus ganti yang baru. Pas mau dipasang ternyata kurang panjang, akhirnya tukang bengkel tersebut harus menambahnya dengan tambahan rantai. Setelah dipasang, ternyata malah kepanjangan rantainya. Harus bongkar lagi, diputus (dipendekin) lagi. Nah, ini yang berlangsung lama. Karena ternyata peralatan di bengkel kecil tersebut juga tidak lengkap. Nah, yang sempet bikin kesel juga, di saat motorku tersebut belum beres, tiba-tiba ada pasien lain yang mau menambal ban. Motorku sempat ditinggal sebentar, tukang bengkel tersebut mengerjakan motor pasien yang baru datang tersebut. Aku sempat protes dan menegur tukang bengkel tersebut. tapi rupanya pasien yang baru datang tersebut tidak lama, Cuma tambah angin karena tidak bocor.
Detik demi detik berlalu. Menit demi menit pun terlewati. Hingga hitungan sejam lebih pun berlalu pergi. Sudah hampir jam 10 rantai motorku sudah beres. Saat mau membayar ongkos jasa tersebut, muncul masalah baru. Uang yang aku bayarkan tidak ada kembaliannnya. Mau gak mau harus menukar uang tersebut. Agak lama, gak ketemu juga. Sepertinya si abang tukang bengkel tersebut harus mencari ke komplek warung sebelah naik ke atas. Begitu beres, aku pun langsung capcus menyalakan starter motorku dan melaju dengan kecepatan tinggi. Awalnya masih optimis bakalan terkejar waktunya. Sampai depan IPB seperti biasa macet berkepanjangan. Jalannya selangkah demi selangkah melewati jalan super macet tersebut. Mulai khawatir terlambat.
Aku lanjutkan perjalananku menuju Ciomas untuk menitipkan motorku di rumah Pak Febi. Jalanan yang macet tak bisa membuatku melaju cepat, harus pelan menyalip satu per satu mobil atau kendaraan yang ada di depanku itu. Ada perasaan lega saat sudah tiba di lokasi. Usai menitipkan motorku tersebut, aku langsung bergegas keluar dari komplek perumahan Bukit Asri Ciomas tersebut. Aku pun berjalan cepat menuju jalan raya. Sambil buka hp mencari aplikasi gojek. Kok gak ada? Wah, sepertinya terhapus. Aku mulai panik. Berjalan terburu-buru berharap ada ojek pangkalan. Sampai pertigaan rupanya gak ada. Mau naik angkot, tapi di daerah Ciomas sedang macet. Apalagi hari libur. Aku pun akhirnya download lagi aplikasi gojek. Dengan wajah berkeringat aku utak atik aplikasi tersebut. Sudah terdownload, kini giliran sinyal yang naik turun. Karena panik, sampai-sampai 2x salah mengorder gojek. Sudah ditelpon sama drivernya tapi ternyata salah lokasi. Baru ketiga kalinya berhasil. Sudah hampir jam 11. Gojek yang aku order pun datang. Terdengar nada telepon dari 2 orderan gojek sebelumnya yang belum sempat aku cancel. Akhirnya aku matikan HP sejenak. Gojek melaju melewati kemacetan dan akhirnya memotong jalan lewat jalan pintas. Melewati gang kecil. Melewati lorong demi lorong, karena saat melewati jalan pintas ternyata ada pemilihan kepala desa di daerah tersebut. Sang driver pun mengambil jalan yang lebih kecil.
Singkat cerita sampailah di stasiun bogor jam 11 setelah melewati jalanan yang macet. Si driver gojek cukup lincah menyalip. Aku berpamitan dengan abang tersebut saat aku tiba di stasiun. Kepanikan tidak sampai disitu, saat masuk stasiun aku harus antri juga untuk memesan tiket KRL. Antrian cukup panjang akhirnya terlewati juga. Sejak sampai di stasiun ini aku sudah menduga, gak bakalan terkejar waktunya. Saat sudah menempelkan kartu KRL dalam mesin pintu masuk, aku langsung berlari mencari kereta. Akhirnya aku sampai juga di dalam Commuter Line. Terdengar suara pemberitahuan kalau KRL ini baru akan berangkat tepat jam 11.32. Waktu tinggal setengah jam lagi. Jam 12 harus sampai di Senin? Wah kayaknya gak mungkin. Alhasil tiket di pasar senen pun sudah hangus. Selamat tinggal tiket yang sudah kadaluarsa tersebut. Aku masih dalam perjalanan KRL dari Bogor menuju Jakarta.
Terus melaju hingga titik akhir perjuangan. Karena sudah tahu tiket hangus, aku tak berubah pikiran untuk balik langkah. Aku tetap melaju hingga menuju Senen. Saat itu juga aku coba searching tiket yang lain lewat aplikasi KAI Acces. Masih ada beberapa kursi yang tersedia. Tapi ternyata kuota yang masih ada di hari ini sudah tidak bisa dipesan lagi lewat aplikasi tersebut. Reservasi tiket bisa dilakukan maksimal 10 jam sebelum kereta itu berangkat. Mau gak mau harus pesan di stasiun keberangkatan yaitu Senen. Tertera di kuota yang tersedia, ada yang jam 14.00 hingga pukul 23.00.  Kuota tersisa tinggal beberapa kursi lagi, kecuali yang jadwal malam yang masih agak banyak.
Saat sampai Stasiun Manggarai, aku putuskan turun disini untuk transit sejenak ambil jalur tercepat yaitu lewat jatinegara lalu ambil yang arah senen. Rupanya kesabaranku kembali diuji, saat tiba di manggarai, selang beberapa menit aku berdiri hujan lebat disertai angin kencang tiba-tiba turun. Kereta arah Jatinegara belum juga datang. Sementara hujan lebat terus mengguyur. Karena disertai angin kencang, para penumpang pun banyak yang basah kuyup. Hampir 25 menit lebih diPHPin oleh KRL yang tak kunjung datang juga. Sementara para penumpang sudah pada gelisah. Salah seorang bapak yang sudah tua usianya tampak masuk angin, duduk lemas di bawah. Sepertinya bapak tua tersebut kelelahan. Terlihat istrinya mengoleskan minyak angin di seluruh tubuh bapak tua tersebut. Sang istri begitu perhatian dengan bapak tua tersebut. Kedatangan kereta membuat semua orang bahagia.
Aku terus melaju hingga Jatinegara, awalnya sempat mau balik arah. Tapi pikirku terus melaju, mudah-mudahan keburu tiket yang jam 2 siang. Saat tiba di stasiun jatinegara, aku turun dan coba mau pesen tiket lewat alfamart. Aku cek sendiri di mesin e-tiket alfamart tapi tidak bisa juga. Kata petugas alfamart untuk tiket hari ini harus pesen di stasiun keberangkatannya, yaitu di Senen. Aku tiba stasiun Senen jam 13.50. Kayaknya gak bisa terkejar untuk tiket yang jam 14.00. Apalagi banyak penumpang lain yang cukup padat, jadi tidak bisa lari untuk menyalip.
Setelah berpikir panjang sembari minum teh dingin dan makan roti, akhirmnya aku putuskan pesen tiket yang jam 23.00 biar bisa istirahat dulu. Setelah pesan tiket di loket otomatis tersebut, aku lanjutkan perjalanan KRL lagi menuju stasiun pasar minggu untuk istirahat dulu di tempat teman. Alhamdulillah, ada banyak pelajaran berharga hari ini. Perjalanan kesabaran dan ujian mengelola emosi dan menata hati. Perjalanan penuh makna antara Leuwiliang hingga Pasar Senen. Kini perjalanku berlanjut dari Pasar Senen menuju kampung halamanku. Bismillah, subhanalladzi sakhoro lanaa hadza wamaa kunnaa lahu muqrinin. Wainnaa ila robbinaa lamunqolibun. Lelah itu hanyalah siklus, laluilah dengan segenap keikhlasan. Karena dibalik masalah, pasti ada hikmah. Maka teruslah mengambil pelajaran, dari setiap lika-liku perjalanan.

                                                           
Perjalanan Jakarta - Tegal
KA Tawang Jaya, 12 Maret 2017
Pukul 23.45 WIB


Monday, 2 January 2017

Habis Refleksi, Terbitlah Resolusi


Mimpi itu energi. Sepotong kekuatan yang mampu menguatkan visi, menajamkan misi dan mempersemangat aksi. Energi yang mampu membangkitkan spirit dari sesuatu yang tak mungkin menjadi kenyataan. Mimpi itu tertuang dalam deretan resolusi yang telah ku tulis dalam bingkai buku agendaku. Satu per satu list mimpi itu tercoret karena sudah tercapai. Keberhasilannya tergantung energi tekad yang dilakukan. Take action with your passion. Maka, teruslah bermimpi. Evaluasi, refleksi dan siapkan lagi resolusi 2017 nanti.

Mimpi dan resolusi itu sepaket. Siklusnya meliputi plan, do, evaluation (reflection). Persis seperti siklus PTK. Atau manajemen dlm organisasi yaitu POACE. Baik atau buruknya tergantung diri kita masing-masing. Saat kita memiliki serangkaian mimpi dan resolusi yang sudah pernah kita susun sebelumnya, bagaimana capaiannya? Tentu ada yang berhasil atau mungkin juga ada yang belum tercapai. Maka, disitulah kita untuk melakukan refleksi. Mengevaluasi diri atas perbuatan, tindakan, dan aktivitas kita selama ini. Apakah sudah sesuai dengan yang kita rencanakan atau melenceng jauh dari rencana awal? Maka, refleksikanlah. Karena hal itu akan membuat kita mawas diri.

Ketika perjalanan hidup kita menemui aral yang menghadang, jangan berdiam diri. Segera cari jalan alternatif. Evaluasi diri, tajamkan kembali misi strategis yang hendak dilalui. Karena terkadang bukan kegagalan yang membuat kita putus asa, tapi justru disitulah kepekaan hati kita dituntut untuk bersabar dan aktif mencari jalan keluar. Refleksi diri itu tak harus dilakukan dalam rentang 1 tahun sekali. Bisa 1 bulan sekali, 1 minggu sekali atau bahkan tiap hari. Alangkah baiknya refleksi dan evaluasi itu bisa dilakukan setiap saat. Maka, teruslah melakukan refleksi diri secara berkala. Refleksi atas semua yang telah kita lakukan, kita perbuat dan kita laksanakan selama ini.

Setahun lebih moto "berbagi inspirasi, menebar manfaat" pasca kepulangan dari penempatan Maluku Utara. Apakah cukup ilmu dan pengalaman yang didapat disana? Tidak. Banyak sekali pembelajaran hidup yang dapat digali dan ku temukan pasca itu. Seperti yang tergambar pada beberapa foto pilihan instagram best nine in 2016 ini. Walau secara random, setidaknya sebagian ada yang mewakili. Banyak sekali pembelajaran hidup yang dapat saya ambil hikmahnya dalam perjalanan ini.



Sepanjang tahun 2016, aku yang secara domisili mendapatkan amanah sebagai guru boarding school di SMA Plus Liwaul Furqon. Tentu, waktuku lebih banyak berada di tempat ini sepanjang hari. Dari pagi hingga malam dan kembali ke pagi lagi. Begitulah rutinitas yang paling banyak aku lalui sebagai guru biologi, guru PLH, wali kelas XII sekaligus wali asrama, musyrif dan pembina KIR. Aktivitas dan dinamika yang terjadi di sekolah telah banyak memberiku wawasan, kematangan berpikir dan kejernihan melihat situasi dan kondisi yang ada. Semua itu adalah pembelajaran berharga. Sepanjang masa itu, banyak sekali hikmah, petuah, ibroh, pelajaran dan cara pandang yang aku dapatkan. Sudahkah aku melakukan yang terbaik atas semua itu? Sudahkah aku menjalankan semua amanah itu dengan baik?


Di luar tugas utamaku tersebut, ternyata banyak juga hal-hal lain yang bisa aku lakukan dan aku perbuat. Mungkin disini hanya bisa aku sebutkan beberapa hal yang pernah membersamaiku sepanjang tahun 2016. Kegiatan tersebut diantaranya adalah Talkshow "Bangga Jadi Guru" dalam acara IBF Jogja, Pelatihan Volunteer Rumah Harapan dan Rumbel Kids IPB, Talkshow inspiratif menjadi pelajar KISS Iqro Club Banyumas, Seminar Leadership BEM Fakultas Biologi Unsoed, talkshow IYD Camp di Yogyakarta hingga ekspedisi ke Pulau Sebira dalam Ekspedisi Nusantara Jaya adalah beberapa kegiatan yang mewarnai perjalananku sepanjang 2016.

Kado terakhir di penghujung tahun 2016 yang cukup membuatku terkaget sekaligus bahagia adalah saat mampu mengantarkan siswaku ke puncak prestasinya. Salah satu siswaku yang bernama M. Dzaky Al-Murtadho berhasil menjadi Juara Harapan II dalam Lomba Menulis Artikel Populer Hukum dan HAM yang diselenggarakan oleh Balitbang Kemenkumham RI. Prestasi tersebut juga merupakan penghargaan pertama bagi sekolahku yang baru mau memasuki usia 5 tahun ini. Awalnya ada 9 orang siswa yang aku bimbing, tapi hanya satu yang berhasil hingga meraih juara tersebut. alhamdulillah, semoga tahun 2017 ada yang bisa meraih jejak juara lagi.

Terus berjalan dan bergerak. Berbagi inspirasi, menebar manfaat dimana pun berada. Syukuri setiap jejak langkah yang ditempuh. Belajar saja tak cukup, tapi jadilah pembelajar. Terus tumbuh dan berkembanglah. Ketika menjadi biasa saja, mungkin cukup melakukan hal-hal yang biasa-biasa saja. Tapi jika ingin menjadi lebih bermanfaat, maka harus lebih berbuat banyak lagi. More effort. More action. Bismillah. Take action with your passion to get your dreams in 2017. Sekali bertekad, pantang surut ke belakang. Teruslah melaju. Faidza 'azamta farawakkal 'alallah.

Resolusi 2017 è melanjutkan resolusi tahun sebelumnya yang sudah tertulis sejak 2012 dulu dalam buku “Resolusi hebatku” dan beberapa capaian lain hasil refleksi yang ingin diraih (detailnya ada alam buku diariku, hehe)

Tegal, 2 Januari 2017

Monday, 26 December 2016

Temani Siswa Meraih Juara


Setiap pencapaian berawal dari proses. Serangkain proses yang mengharuskan kita untuk terus berikhtiar dan berusaha semaksimal mungkin. Adapun juara atau prestasi adalah bonusnya. Penghargaan adalah apresiasi atas jerih payah yang telah dilakukan.

Karena bermimpi saja tak cukup. Memang, niat dan kemauan adalah modal awal untuk sebuah langkah. Karenanya teruslah berkarya, berkontribusi dan mengukir prestasi. Sebuah hasil tak kan pernah lepas dari proses yang telah dilalui. Teruslah berteman dengan sabar dan sungguh-sungguh, karena itulah salah satu kuncinya.

Terbangkan cita-cita. Kobarkan terus kicauan semangat yang kan menemani jejak langkah berikutnya. Bentangkanlah spirit itu seperti saat kita berdiri di atas podium ini. Jangan lupa yang paling utama adalah SYUKURI atas torehan ini. Bersyukur dengan sepenuh hati. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan...???

Tetap pegang erat ilmu padi. Jadilah pembelajar sejati. Semoga teman-teman yang lain juga ikut tersengat motivasinya. Satu lagi yang harus diingat, faidza 'azamta fatawakkal 'alallah. Keep spirit do the best....!!!

Hotel Aryaduta Jakarta Pusat, 21 Desember 2016
(dikutip dari status Fbku)

Prosesi penyerahan hadiah oleh Sekjend Kemenkumham RI

Alhamdulillah, ikut bahagia rasanya. Akhirnya bisa mendampingi dan mengantarkan siswaku hingga ke moment spesial ini. Saya sebagai guru pembimbingnya juga turut senang dan bahagia yang berlipat. Karena ini adalah prestasi pertama bagi sekolah yang baru memasuki 5 tahun sejak berdirinya. Penghargaan pertama yang ditoreh Dzaki semoga menjadi pemicu bagi Dzaki sendiri (khususnya), bagi teman-temannya dan seluruh civitas akademika sekolah. Wahhh, pokoknya saya tidak bisa menggambarkan hadiah terindah ini bagi sekolah. Bisa jadi mirip dengan Film Laskar Pelangi.

Alhamdulillah wasyukurillah. Saya juga bisa hadir bersama Dzaki dalam puncak acara penganugerahan bagi para pemenang lomba. Manisnya prestasi terasa nikmat setelah kita melewati lika-likunya perjuangan hingga sampai titik puncak ini. Dalam kegiatan ini, saya juga bertemu dengan para guru pendamping yang siswa/siswinya meraih juara dalam lomba ini. Singkat cerita kami pun sempat bercerita dan bertanya-tanya tentang perjalanan mengikuti lomba ini.

"Guru Bahasa Indonesia yah pak?" tanya salah satu guru pendamping.
"Bukan pak, saya guru Biologi" jawabku sambil bercerita dan ngobrol dengan beliau yang siswanya menjadi juara 1 dalam lomba ini.
"Kok bisa? Baru kali ini saya ketemu guru sains yang menjadi pembimbing menulis" ujar guru Bahasa Indonesia SMAS Ehipassiko School Serpong Tangerang ini.
Kenapa? Karena rata-rata yang sampai juara disini dibimbing oleh guru Bahasa Indonesia. Karena biasanya dan memang rata-rata kalau lomba tentang menulis selalu guru Bahasa Indonesia yang ditunjuk sebagai pembimbingnya, tambahnya.
“Walau saya guru biologi, tapi saya suka dengan tulis menulis Pak” jawabku dengan mantap. Itulah alasanya hingga bisa hadir dalam kegiatan penganugerahan pemenang lomba ini.

===========================

Tiba-tiba saya jadi teringat dengan perjalanan dari memulai persiapan mengikuti lomba ini hingga akhirnya bisa berada di babak pemberian hadiah yang istimewa ini.

Semai Literasi, Raih Prestasi

Yeaahhh, akhirnya kelar juga. Enam naskah berhasil terkirim. Detik-detik injure time selalu ketar-ketir. Penuh menegangkan. Tepat dateline tinggal hitungan jam. Wajar aja ribuan pengakses di website yang sama. Badha isya baru terkirim nomor peserta sudah 2000an. Wuidih... Tiba-tiba laptop ngeheng, tak bisa digunakan. Padahal baru satu yang terkirim. Mungkin yang antri dan ngakses banyak pikirku

Laptop beberapa kali tak bisa diutak-utak. Giliran sudah normal, kini giliran sinyal yang menghilang entah kemana. Sudah jam 22.00 lebih. Akhirnya keluar cari sinyal depan sekolah. Mungkin karena banyaknya pengakses hingga panitia memutuskan memperpanjang DL hingga 1 Desember 2016. Alhamdulillah sedikit lagi. Tapi tanggung sudah dapat sinyal. 2 orang lagi berhasil terkirim urutan nomor peserta sudah 7000an. Wuidih... mantap...!!! Dan kini alhamdulillah keenamnya sudah terkirim. Ada rasa lega di dada. Setelah berkutat mengoreksi dan mencorat-corat naskah anak-anak. Awalnya ada sekitar 30an siswa yang mau ikut. Mereka semangat sekali walau DL pengiriman waktu itu tinggal 2 minggu lagi saat membaca info pengumuman depan mading sekolah. "Bagi yang mau ikut silahkan buat dulu di buku tulis, ntar kasih ke ustadz" tuturku kepada mereka.

Satu demi satu siswa mulai berkonsultasi menanyakan tips-tipsnya dalam menulis artikel. Padahal 2 minggu kemarin juga aku sempat ada acara di Purwokerto dan Yogyakarta. Tak masalah. Usai corat-coret naskah mereka. Tahap kedua pengetikkan, lalu print. Aku pun kembali mencorat-coret naskah mereka. Sembari menandai kesalahan, kekurangan dan saran-saran perbaikan dariku. Seperti biasa dalam kompetisi ada yang terseleksi. 

Struggle for life. Tapi kali ini struggle for competition. Dari 30an tadi hingga menjelang DL tersisa 6 siswa yang masih bertahan hingga selesai. Walau jadwal padat, harus bagi waktu, sampai-sampai jam istirahatlah waktu mereka untuk mengetik dan perbaiki naskah yang aku corat coret tadi. 
Selamat kepada 6 siswa tersebut yg mau belajar dan berproses dalam tahap demi tahapnya. Setelah berikhtiar, kini tinggal kita berdoa dan menunggu pengumuman dari panitia. Terus belajar dan jadilah pembelajar...! Oke, keenam naskah tersebut pun sudah terkirim ke panitia. Karena terburu-buru mengejar waktu DL pengiriman, ternyata ada yang kurang yaitu foto diri peserta belum sempat dimasukkan dalam lampiran naskah.

Daftar 6 siswa pengirim pertama

Karena mengetahui ada pengunduran batas pengiriman naskah, maka saya pun membuat pengumuman di mading. Bagi anak-anak yang masih mau ikut lomba ini masih ada waktu 1 pekan lagi untuk mengikutsertakan diri dalam lomba tersebut. Silahkan bagi yang mau ikut segera bikin naskahnya dan kasihkan ke ustadz (saya) jika mau dikoreksi dan bimbingan lebih lanjut. Akhirnya nambah ada 3 orang lagi yang ikut dalam lomba ini. Jadi totalnya ada 9 siswaku yang ikut serta dalam kegiatan lomba ini.

===========================

Baarokallahu fiikum. Mabruk ‘alan najah. Selamat atas prestasi yang diraih oleh Muhammad Dzaky Al-Murtadho (siswa kelas X asal Lampung) yang telah meraih prestasi gemilangnya sebagai JUARA HARAPAN II dalam Lomba Menulis Artikel Populer yang diadakan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI 2016. Tulisan karya Dzaky yang memenangkan lomba ini berjudul “Lilin Literasi: Menerangi Pelajar, Menghalau Narkoba” yang telah bersaing ketat dengan ratusan peserta lain yang mengikuti kegiatan perlombaan ini.

Para pemenang lomba menulis artikel Kemenkumham RI 2016

Kegiatan lomba menulis artikel populer tersebut diselenggarakan oleh Badan Penelitian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kemenkumham RI yang diikuti oleh siswa-siswi SMA/MA/SMK/sederajat se-Jabodetabek. Para pemenang lomba ini diundang oleh panitia untuk penyerahan hadiah dan penghargaan pada Rabu, 21 Desember 2016. Kegiatan penganugerahan tersebut berlangsung di Hotel Aryaduta Jakarta Pusat (Mezzanine Ballroom). Dzaki yang didampingi oleh saya sendiri selaku guru pembimbingnya turut serta menghadiri acara tersebut. Penyerahan penghargaan bagi para pemenang lomba juga dirangkaikan dengan acara Seminar Hukum dan HAM bertema “Revitalisasi dan Reformasi Hukum dalam Perspektif Penghormatan, Perlindungan dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia”.
Menurut laporan panitia dalam sambutannya mengatakan bahwa lomba menulis artikel populer Hukum dan HAM tahun 2016 ini diikuti oleh 836 orang pelajar SMA/sederajat se-Jabodetabek. Ada dua tema yang diangkat pada lomba menulis artikel tahun ini yaitu:Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Pelajar”, dan Tolak Perilaku Seks Bebas di Kalangan Pelajar”. Seluruh artikel tersebut dinilai oleh tim penilai yang berasal dari Balitbang Hukum dan HAM Kemenkumham RI dan tim penilai independen yaitu Prof. Harkristuti Harkrisnowo (Guru Besar FH Universitas Indonesia), Prof. Arief Rahman (Pemerhati Pendidikan) dan Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), hingga terpilih 6 artikel terbaik untuk masing-masing tema.
Dzaky dan kesebelas orang pemenang lainnya hadir dalam acara penghargaan ini. Pemberian penghargaan dan plakat pemenang dilakukan oleh Sekjend Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Masing-masing pemenang tersebut mendapat apresiasi dan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan yang hadir dalam acara ini. Usai pemberian penghargaan, perwakilan pemenang lomba memberikan sepatah kata tentang tulisan yang telah dibuatnya. Dalam hal ini sambutan pemenang lomba diwakili oleh juara 1 dari kedua tema lomba tersebut.

           




Sunday, 27 November 2016

Memahat Passion Menjadi Action


Setelah sekian lama meninggalkan kampus ini, hari ini bisa bernostalgia mengenang jejak-jejak perjuangan selama berada di kampus ini. Terima kasih kepada BEM Fabio Unsoed yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi dan sharing dalam seminar kepemimpinan hari ini (12/11/2016). Bicara kepemimpinan memang menarik. Terlebih dalam diri setiap manusia sudah tertanam benih leadership itu. Hanya saja butuh pengelolaan diri dan pengaturan dalam memanage leadership tersebut. Kepempinan diri dalam memahat passion menjadi action. Mengasah leadership diri dalam menyeimbangkan antara hardskill dan softskill. Melalui tulisan ini saya coba ingin berbagi materi yang saya sampaikan dalam seminar tersebut.

"Alhamdulillah, luar biasa, dahsyat, wow...wow... kerren..." jawab peserta seminar saat saya tanya kabar mereka. Kalau jawabannya baik, itu sudah biasa. Maka, jawablah dengan kata-kata kreatif tersebut, tegasku pada peserta. Jawablah dengan sesuatu yang berbeda, istimewa. Kata-kata itu mempengaruhi perilaku kita. Perilaku dan kebiasaan kita akan membentuk karakter kita. So, bangun karakter kita mulai dari kata-kata yang positif, right? Yuph, berpikirlah dengan otak kanan saat ditanya kabar kita. Begitu prolog pembuka saat saya memulai menyampaikan materi kepada para peserta mahasiswa yang rata-rata masih tingkat semester 1 hingga 6 ini.

Seperti ekspresi sosok pemuda yang penuh energik dan semangatnya berapi-api. Itulah pemuda yang diharapkan dalam tema Hari Sumpah Pemuda kemarin (2016) "Pemuda Indonesia, Menatap Dunia". Bagaimana caranya? Ada 3 hal yang harus dimiliki sosok pemuda untuk mencapai visi HSP tersebut. Apa saja? Pertama, kualitas integritas yang tinggi. Ketiga, kapasitas keahlian dan intelektual yang mumpuni. Ketiga, karakter kepemimpinan yang peduli dan profesional. Dalam seminar ini saya lebih banyak mengulas poin yang ketiga, yaitu KEPEMIMPINAN. Nah, poin ketiga inilah yang menjadi titik poin dalam pemaparan saya kali ini.

Pada tahap apersepsi (sesi pendahuluan), wah kayak pembelajaran ajah ada apersepsi segala, hehe. Apersepsi yang saya lakukan adalah dengan tanya jawab dan memutarkan video singkat tentang 17 tipe mahasiswa. Lalu saya ajak mereka untuk berpikir tentang dimanakah posisi mereka? Karena peserta seminar kali ini adalah mahasiswa biologi, maka saya pun memfokuskan karakter dan kebiasaan orang biologi sesuai dengan pengalaman saya sebelumnya juga. Sebagaimana kita ketahui, mahasiswa BIOLOGI adalah paling sibuk sedunia, bahkan kesibukannya mengalahkan mahasiswa kedokteran. Mengapa? Selain kuliah, juga disibukkan dengan praktikum, laporan, pengamatan, praktikum, laporan, pengamatan, tugas terstruktur, dan tugas-tugas lainnya.

“Kamu termasuk tipe mahasiswa yang mana?” tanyaku memancing rasa penasaran mereka. Berikut ini adalah beberapa tipe mahasiswa, mau pilih yang mana? Itu pilihan.
1.      Mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang - kuliah pulang)
2.      Mahasiswa kunang-kunang laboratorium (asisten)
3.      Mahasiswa kura-kura (aktivis)
4.      Mahasiswa  3 K (Kuliah – Kantin – Kos-kosan)
5.      Atau tipe lainnya......???

Mau pilih yang mana? Itu hak kalian. Mau kuliah saja, silahkan. Tapi kalau bisa selain kuliah, juga aktif di organisasi bisa ikut di UKM/BEM atau menjadi asisten. Kalau mau idealnya ikuti semuanya. Idealnya mahasiswa pemimpin adalah kuliah OK, IPK OK, organisasi OK, asisten OK dan kegiatan tambahan yang menjadi “passion” juga OK. Emang bisa meraih itu semua? Iya, sangat bisa. Gimana caranya? Manajemen leadership, itulah kuncinya.

            Karena pada dasarnya setiap diri kita sebenarnya punya jiwa leadership, tinggal bagaimana mengelolanya. Salah satu cara mengasah skill leadership dalam diri kita adalah dengan jalan ikut berorganisasi. Karena lewat organisasi itulah jiwa kepemimpinan kita akan terasah. Oya sebelumnya saya juga memberikan 4 pernyataan kepada para peserta terkait hardskill dan softskill. Saat kita kuliah, buatlah empat pernyataan berikut:
1.      Hardskill biasa saja, softskill juga biasa saja
2.      Hardskill bagus, tapi softskill biasa saja
3.      Hardskill biasa saja, tapi softkill yang bagus
4.      Hardskill bagus dan softskill juga bagus

Pilih yang mana dari keempat pernyataan tersebut? Kalau mau jadi biasa-biasa saja berarti cukup pilih nomor 1. Tentunya kalian pasti ingin yang keempat kan? Yaitu ingin hardskill bagus dan softskill juga bagus? Karena itulah kondisi idealnya. Dalam artian jika menjadi mahasiswa pemimpin yang ideal antara hardskill dan softskillnya bagus. Antara akademik (kuliah dan praktikum OK), organisasi OK, asisten OK dan aktivitas lainnya (yang sesuai passion) juga OK. Dalam artian meski kesibukan seabrek, tapi ke semuanya harus seimbang. Lalu bagaimana caranya untuk meraih itu semua? Manajemen leadership, adalah kuncinya.
           
            Apa itu manajemen leadership? Kemampuan mengelola dan mengatur kepemimpinan dalam diri. Untuk mengelola manajemen ini rumusnya adalah dengan 3 M. Apa itu 3 M...??? 3 M itu maksudnya adalah 3 Manajemen, yang meliputi Manajemen Diri, Manajemen Waktu dan Manajemen Waktu. Ketiga manajemen ini harus dikelola secara bersamaan, jangan terpisah. Manajemen diri kaitannya dengan bagaimana mengelola kepribadian diri, mengelola emosi dan menata semua seluk beluk yang berkaitan dengan diri pribadinya. Manajemen waktu berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi penggunaan waktu dalam setiap aktivitasnya sehari-hari. Yang ketiga adalah manajemen hati, ini terkait dengan mengelola hati baik hubungan dengan manusia lain (hablumminannas) maupun hubungan kita dengan Sang Pencipta (hablumminallah). Kenapa hati juga harus dikelola? Karena hati bukan hanya organ detoksifikasi, tapi ia adalah pengendali utama dalam tubuh. Jika organ itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuh yang lainnya. Begitu juga sebaliknya jika organ hati tersebut buruk, maka buruk pula seluruh tubuh itu. Begitu sabda Rasul dalam haditsnya. Karena hati ibarat raja bagi tubuh. Maka sudah sepatutnya juga harus dimanajemen.

Akhir kata untuk catatan singkat ini, terima kasih kepada para peserta yang sangat antusias. Pertanyaan demi pertanyaan yang menarik untuk dikaji dan diulas dalam seminar ini. Semoga sedikit sharing tersebut bermanfaat dan menginspirasi kalian semua. Sampai jumpa di lain kesempatan. Sebenarnya masih banyak yang belum tertulis terkait materi tersebut. Ada bahasan menarik terkait pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta. Semoga catatn singkat ini bisa berguna dan bermanfaat bagi yang ingin mengembangkan diri. Bagi yang berminat untuk diskusi lebih lanjut bisa menghubungi saya langsung atau lewat media website ini.

Sebagai pamungkas, tak ketinggalan pula buat adik-adikku para pengurus BEM Fabio Unsoed atas semuanya. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Terus tumbuh dan berkembang memantaskan diri serta menguatkan potensi diri lewat jalan organisasi tersebut. Jadilah generasi yang tidak hanya pandai dalam bermimpi, tapi juga menjadi generasi yang berbuat nyata dengan aksi, berkarya dengan inovasi dan bermanfaat dengan kontribusi. 



Purwokerto, 12 November 2016