Thursday, 7 April 2016

Senyum Batizado di Bukit Seruling


Setiap perjalanan mendaki tergores sejuta kenangan. Karena puncak tertinggi bukanlah gunung. Puncak kebahagiaan yg hakiki adalah saat syukur selalu ada dalam hati. Kemana pun kaki melangkah. Bukankah kita sdh sering diingatkan. Bahkan ditegaskan dengan pertanyaan yg terulang 31 kali. Fabiayyi aalaai robbikumaa tukadziban? Maka, nikmat Tuhanmu yg manakah yang kamu dustakan? Begitulah kata-kata ini menjadi pembuka yang aku sampaikan kepada anak-anak sesaat sebelum berangkat dalam perjalanan untuk mendaki bukit seruling.

Jadi kemana pun kalian menjejakkan kaki selanjutnya, baik di Indonesia hingga belahan bumi mana pun tancapkanlah syukur itu. Temani dengan sabar saat rintangan menghadang. Dan yg utama pelihara baik-baik bekalmu itu. Sebaik-baik bekal adalah takwa. Karena setiap ending fase kehidupan, selalu melahirkan opening babak baru. Seperti yang baru saja kalian alami. UN telah usai bukan berarti sudah selesai perjuangannya. Sudah ada fase kehidupan baru yg menanti di depan mata. SNMPTN, SBMPTN atau ujian-ujian masuk kampus yg lainnya. Perlu dan harus diperjuangkan.

Perjalanan hidup kalian seperti halnya saat kita berjalan untuk menuju bukit yang kelihatan menjulang tinggi jika dilihat dari asrama sekolah kita. Tak terasa 3 tahun kalian berada di sekolah ini (ada yang 1 tahun dan 2 tahun). Untuk menuju hingga puncak tentu banyak rintangan yang menghadang. Jalanan yang terjal, licin, curam dan aneka jenis tantangan lainnya. Ditambah lagi lelah, capek dan lapar-dahaga sudah pasti. Itulah bagian dari rute perjalanan yang harus dihadapi. Tapi, jika semua halangan dan rintangan itu dihadapi secara bersama tentu pasti akan lebih ringan beban yang kita emban tersebut. Persis seperti yang kalian hadapi dalam kehidupan selama bersekolah di SMA boarding school ini. Dan pastinya lika-liku kehidupan ada fasenya masing-masing. Bagaimana endingnya? Tergantung dengan proses yang kita lalui. Hasil yang akan kita raih tentunya bergantung dengan jerih payah proses yang kita perjuangkan.

Tapi lihatlah perjuangan setelah melewati jalan terjal yang menanjak tadi. Bukit ini masih rendah, tak seberapa tingginya. Tapi lihatlah setelah kalian berjalan melintasi semua lika-likunya. Puncak bukit ini sudah berhasil kita daki, apa yang kita dapatkan di puncak bukit ini? Pemandangan alam yang indah, gunung Salak yang tampak gagah, udara yang segar dan terik mentari pagi yang sangat cerah serta semua ekspresi rasa yang kalian rasakan. Itulah yang terlihat oleh mata kita di puncak bukit ini. Semoga senyum batizado ini juga akan terus terawat. Seperti nama yg kalian buat sendiri yaitu "batizado" persahabatan sejati. Senyum setia kawan ini telah tergores seperti saat kita melewati rute pendakian pagi ini. Lelah bersama. Capek juga bersama. Hingga senang pun bersama saat menikmati sarapan pagi ini.

Teruslah jaga selalu jargon kita ‪#‎KeepSpiritDoTheBest.

Setelah ini, selamat berbirul walidain. Salam buat orangtua dan keluarga di rumah.

Asrama Bilik Bambu, 8 April 2016



0 comments: