Thursday, 17 March 2016

Tiga Manajemen Pangkal Keren

koleksi foto pribadi: Maluku Utara

Hari demi hari silih berganti. Bulan demi bulan terus mengalami pergantian. Bahkan menit demi menit, hingga detik demi detik terus berputar tak pernah berbalik. Seiring rotasi waktu tersebut, kesibukan demi kesibukan juga silih berdatangan dalam deretan antrian yang panjang. Semakin banyak kesibukan, harusnya menjadikan kita semakin pandai mengatur waktu. Bukan waktu yang mengatur kita. Bukan kesibukan yang membuat kita lalai dan lupa dengan kewajiban utama kita kepada Sang Pencipta. Bagaimana menyelesaikan kesibukan yang seabrek? Tugas terus menumpuk. Amanah yang semakin bertambah. Jangan stress. Jangan galau dengan kesibukan. Jangan sedih tatkala datang masalah. Hadapilah. Kelola kesibukan itu dengan manajemen.  
   
Dalam menghadapi kesibukan pekerjaan, amanah dalam organisasi atau padatnya aktivitas yang kerap kali menghampiri tentu kita harus menghadapi dan menyelesaikannya. Bukan mengeluh, apalagi bersedih. Itulah konsekuensi atas pilihan yang kita ambil. Agar tetap stabil tentu kita harus punya strategi dalam mengatur semua kesibukan yang ada dalam diri kita. Kita perlu manajemen. Kita perlu mengatur schedule hidup kita. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi? Kalau tak diatur akan amburadul. Kalau tak dikelola, akan berantakan. Karena semua hal butuh pengelolaan dan pengaturan agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Agar hidup kita stabil dalam menghadapi derasnya arus kesibukan, kita perlu manajemen yang jitu. Kita perlu tiga manajemen ini agar tetap konsisten dengan stamina dan spirit yang sama. Tiga manajemen tersebut adalah manajemen waktu, manajemen diri dan manajemen hati. Ketiganya harus kita kelola secara bersamaan. Kenapa harus dikelola? Agar hidup kita tertata. Tugas terselesaikan. Amanah tertunaikan. Tanggung jawab kita terpenuhi. Berikut ini akan saya uraikan singkat tentang ketiga manajemen tersebut.


1.    Manajemen waktu
Kita semua pasti tahu bahwa kita diberi waktu yang sama dalam sehari 24 jam. Dalam perputaran waktu tersebut tiap orang berbeda-beda dalam menggunakan waktu tersebut. Meski diberi waktu yang sama, keberhasilan tiap orang berbeda-beda. Ini tergantung bagaimana orang tersebut memanage (mengelola) waktunya dengan produktif. Dari 24 jam tersebut, coba kita hitung berapa waktu produktif kita? Berapa waktu untuk bekerja? Berapa waktu untuk istirahat? Berapa waktu untuk membaca? Berapa waktu untuk menyelesaikan amanah keseharian kita? Tentunya di tengah-tengah padatnya kesibukan kita sehari-hari, kita sudah diwajibkan untuk beribadah sholat 5 waktu. Itulah tipsnya membagi waktu kesibukan kita. Sesibuk apapun, kelima waktu wajib ini jangan sampai ditinggalkan. Karena itulah bekal kita. Masih ingat kan, bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa. Jadi atur waktu kita, kelola waktu kita dengan baik.


2.   Manajemen diri
Diri kita ibarat kendaraan, kita sendiri juga yang menjadi pengemudinya. Mau dibawa kemana pun. Mau jalan ke mana pun. Mau bekerja dimana saja. Mau tinggal dimana saja. Kita sendirilah pengemudinya. Mau ke jalan yang berliku, berkelok-kelok atau lurus kita pula yang menentukan. Itulah diri kita. Ditengah-tengah kesibukan sehari-hari, maka diri kita juga perlu dikelola. Manajemen diri. Baik kaitannya mengelola sikap dan tindakan kita yang harus diperbaiki, ditingkatkan kualitasnya. Apalagi saat berhadapan dengan orang lain, maka perilaku kita menjadi cermin bagi orang lain. Keseharian kita saat berinteraksi dengan orang lain, akan menentukan keakraban dan keutuhan pertemanan. Belum lagi saat kita menerima sebuah amanah dalam sebuah instansi atau organisasi. Tentu manajemen diri, mengelola diri dan team juga sangat diperlukan. Manajemen diri itu penting dan saling berkait dengan manajemen waktu. Ibarat sekeping koin, sisi depannya manajemen waktu dan sisi belakangnya lagi adalah manajemen diri.


3.   Manajemen hati
Mengelola diri sendiri tak lepas juga dengan mengelola hati. Kenapa hati juga harus dikelola? Hati kaitannya dengan nurani dan mata bathin kita. Kepedulian, jiwa sosial, empati dan sikap-sikap lainnya yang dimunculkan oleh hati kita. Karena katanya hati itu pusatnya rasa yang kita miliki. Tak hanya itu. Hati itu bukan hanya menjadi organ detoksifikasi, atau pun bagian dari sistem ekskresi kita. Jauh lebih dari fungsi biologis itu. Hati menjadi penentu bagi organ tubuh lainnya. Ingatlah bahwa ada segumpal daging dalam tubuh kita, jika segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh tubuh itu. Sebaliknya, jika segumpal daging itu buruk, maka buruk pula seluruh tubuh itu. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. Itulah hati. Perannya sangat penting dalam diri kita. Oleh karenanya harus dikelola, manajemen hati. Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik.



Kota Hujan, 17 Maret 2016

0 comments: